Haai minna-san, saya kembali dengan fict Villa. Untuk yang udah ngereview, arigatou gozaimasu ^^.
Tanpa banyak kata lagi, happy reading for chapter 3 ~~ ^3^)
Disclaimer: Masashi Kishimoto-san
Warning: seperti sebelum-sebelumnya masih gaje, typo, horror gak dapet dan teman-temannya. XD
.
.
.
Kiba P.O.V.
Aku terkejut saat melihat Sakura yang berlumur darah terkulai lemas dalam gendongan Naruto dengan kamera digital yang masih digenggam Sakura ditangannya,apa yang terjadi padanya?
"Apa yang terjadi?" tanyaku, segera menghampiri Naruto.
"Aku menemukannya tergeletak disemak belukar, kepalanya mengeluarkan darah. Sepertinya terbentur sesuatu." kata Naruto.
"Kita harus segera kembali ke villa. Kabuto, kau tahu jalan pintas ke villa kami?" tanyaku.
"Aku tahu, ikuti aku." kata Kabuto.
Kami segera beranjak dari tempat itu, melewati hutan dan hujan kemudian turun dengan derasnya. Membuat tanah menjadi basah dan lengket, sehingga menyulitkan kami untuk melangkah.
"Apa masih jauh!?" tanya Naruto dengan sedikit berteriak.
"Sedikit lagi!" jawab Kabuto.
Kurang lebih setengah jam kami berjalan kaki, terlihat cahaya diantara pepohonan.
"Itu dia!" teriak Kabuto dengan menunjuk kearah sebuah rumah besar, itu adalah villa kami.
Naruto dengan setengah berlari segera menghampiri villa, kemudian berteriak untuk dibukakan pintu.
Saat pintu terbuka, Ten Ten berdiri disana. Dan segera memperlihatkan raut wajah cemas dan panik.
"Apa yang terjadi?" tanya Shikamaru saat melihat Naruto menerobos masuk dengan menggendong Sakura yang berlumuran darah dikepala.
"Aku juga tidak tahu, tadi dia meminjam kamera Sasuke dan pergi untuk memotret, kemudian saat kami akan kembali, dia menghilang, kami berusaha mencarinya dan kemudian Naruto menemukannya diantara semak belukar dengan keadaan tidak sadarkan diri." jelasku.
"Apa?! Apa yang kalian lakukan? Kenapa hal ini bisa terjadi? Apa kalian tidak mengawasinya?" tanya Shikamaru.
"Aku sudah mengawasinya, saat aku mengalihkan perhatianku sebentar, dia menghilang, kemudian kami menemukannya seperti itu." kataku membela diri.
"Sudahlah, sekarang lebih baik kalian melihat keadaan teman kalian." lerai Kabuto. Shikamaru mendelik kearahnya.
"Siapa dia?" tanya Shika.
"Dia Kabuto, yang menunjukkan arah ke danau tadi." kataku.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Sakura, aku dan Naruto pasti akan dijadikan santapan hiu oleh ayahnya." gumam Shikamaru.
"Jangan lupakan aku." gumam Sasuke.
Kami segera beranjak ke lantai dua, kekamar Sakura.
Dikamar...
"Hey, ayolah! Kalian harus keluar dari sini, biar kami yang merawat Sakura." kata Temari dengan nada jengkel.
"Apa kau bisa merawatnya? Saat pelajaran PMR, cara melilit perban yang benar saja kau tidak bisa." ejek Shika.
"Hey! Sekarang kami harus menukar baju Sakura dulu, dia kebasahan, kau ingin dia demam ha?" bentak Ino.
"Lebih baik sekarang kalian semua keluar, disini biar kami yang atasi." kata Ten Ten, mendorong anak-anak cowok keluar kamar.
"Dan ganti baju kalian." tambah Hinata.
Dan akhirnya pintu tertutup. Anak-anak cowok semuanya termangu didepan pintu.
"Sepertinya kita harus menuruti mereka." kata Sasuke.
"Aku akan mengganti bajuku dulu." kata Kiba.
"Bolehkah aku meminjam baju salah satu dari kalian? aku kedinginan."tanya Kabuto.
"Tentu, kau bisa meminjam bajuku. Kemarilah." kata Naruto beranjak dari sana.
Sambil menunggu mereka berganti pakaian kita flashback kesaat Sakura sedang sendirian.^_^v
Flash Back On
Sakura P.O.V.
Aku berdiri didekat sungai sambil terus memotret pemandangan danau yang indah. Yah, walaupun agak sedikit mendung. Saat aku mengarahkan kamera ke arah hutan, disana, diantara pepohonan berdiri seorang gadis kecil yang manis. Dia melihat kearahku dan tersenyum. Melihat senyum polosnya akupun membalas senyumannya.
Aku memotretnya beberapa kali, foto yang cukup bagus untuk seorang amatir sepertiku. Kemudian dia melambaikan tangannya kepadaku seperti menyuruhku mendekatinya. Aku melihat kearah teman-temanku yang sedang berbincang, kemudian menghampiri gadis kecil itu.
"Adik kecil, kau sedang apa disini?" tanyaku, aku sedikit berjongkok mensejajarkan diriku dengan gadis kecil itu.
"Kakak, kakak mau bantu Shion nggak?" tanya gadis kecil yang ternyata bernama Shion itu.
"Hmm? Bantu? Bantu apa?"
"Tadi waktu Shion main sama teman Shion, teman Shion nyangkutin boneka Shion ke dahan pohon. Shion nggak bisa ngambilnya."
"Hee? Kalau begitu biar kakak panggil teman kakak aja ya, buat ambil bonekanya." ujarku.
Saat aku akan berteriak memanggil Naruto, Shion menarik bajuku.
"Jangan, kakak aja yang ambilin boneka Shion." kata Shion dengan wajah memelas.
"Eh?"
"Kakak aja, ayo kak, Shion kasih lihat tempatnya." katanya dan menarikku untuk mengikutinya. Aku melihat sekilas kearah teman-temanku, dan mereka masih berbicara satu sama lain.
Setelah beberapa saat kami berjalan memasuki hutan, aku merasa tengkukku sedikit merinding. Dan entah kenapa samar-samar seperti tercium bau sesuatu, tapi aku tidak tahu apa itu.
"Itu kak! Ambilin dong." kata Shion saat kami sampai disalah satu pohon yang lumayan lebat.
Aku melihat keatas, di salah satu dahan pohon itu terlihat sesuatu. Seperti kepala boneka beruang.
"Yang itu ya?" tanyaku dengan menunjuk salah satu dahan.
"Iya!" katanya bersemangat. Aku mengalungkan kamera yang kubawa dan mulai memanjat pohon dengan hati-hati.
Setelah memanjat cukup tinggi aku duduk disalah satu dahan yang cukup besar dan mulai meraih-raih boneka beruang itu. Setelah mendapatkan boneka aku menoleh ke bawah.
"Sudah dapat nih." ujarku pada Shion yang berada di bawah pohon. Shion tersenyum.
"Kak, coba kakak lihat baik-baik deh, itu boneka apa bukan." katanya dengan wajah innocent.
"Eh?"
'Apa maksudnya?'
Aku melihat ke boneka yang ada ditanganku. Aku membelalakkan mataku ngeri. Entah sejak kapan boneka yang kupegang telah berubah menjadi kepala manusia.
"Uwaaa!" teriakku dan melempar kepala itu ke sembarang arah.
Aku melihat kebawah, gadis kecil itu hilang. Entah sejak kapan dia pergi. Aku menuruni pohon dengan sedikit tergesa-gesa. Saat akan menumpu kakiku untuk turun, sebuah tangan muncul dari dalam pohon dan memegang kakiku. Membuatku terkejut dan melepaskan pegangan hingga aku terjatuh dengan kepala lebih dulu.
Sakit. Itu yang kurasakan saat ini. Aku memegang kepalaku, kepalaku sakit sekali. Lama kelamaan pandanganku mulai memudar, aku menggenggam kamera yang ada dileherku. Sekilas aku melihat bayangan Shion yang berdiri dibawah pohon bersama seseorang dengan tawa kekanakannya. Aku memotret anak itu untuk yang terakhir kalinya dan menggenggam kamera semakin erat sebelum akhirnya kesadaranku semakin menghilang...
FlashBack Off
.
.
Malam harinya...
Hujan yang turun sejak siang tadi belum juga reda, malah semakin membesar dan berubah menjadi badai. Membuat Naruto dan teman-temannya tidak bisa menghubungi siapapun karena sambungan telpon terputus oleh badai. Bahkan Kabuto sampai harus menginap di villa karena tidak bisa turun gunung ditengah badai ini.
"Bagaimana? Apa dia sudah bangun?" tanya Naruto.
Saat ini mereka semua sedang berkumpul diruang tamu kecuali Temari dan Hinata yang berada dikamar menjaga temannya, dan Sasuke yang entah berada dimana sekarang.
Ino menggeleng lesu. Suasana diruang tamu kembali suram.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Sakura bisa terluka begitu?" tanya Ten Ten.
"Entahlah, kamipun tidak mengerti." kata Kiba lesu.
Praaanggg!
Suara sesuatu yang pecah memecahkan keheningan, membuat kaget semua orang yang ada di tempat itu.
"Apa itu?" tanya Shikamaru waspada. Naruto segera beranjak menuju keasal suara yang berasal dari dapur.
Naruto, Kabuto, dan Shikamaru berjalan dengan waspada. Mereka berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara mencurigakan. Sesampainya di pintu dapur, Shikamaru sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan untuk mengintip ke dalam dapur.
Tidak ada siapapun disana, yang ada hanyalah pecahan piring yang berhamburan dilantai.
"Hei, suara apa tadi?" tanya Sasuke yang muncul dibelakang Shikamaru dan kawan-kawan.
"Entahlah, tidak ada apa-apa disini." ujar Shikamaru.
"Kenapa piring-piring ini bisa pecah?" tanya Sasuke saat melihat pecahan piring di lantai. Mereka bertiga mengangkat bahu.
"Sudahlah, kita bereskan saja, mungkin ada kucing yang masuk tadi dan menjatuhkan piring-piring ini." kata Shika dan mulai mengambil pecahan piring di lantai diikuti oleh Naruto.
Saat Sasuke dan Kabuto akan membantu, gerakan mereka terhenti dan mereka mematung.
"Ng? Kalian kenapa?" tanya Shikamaru, melihat tingkah aneh kedua temannya. Kabuto dengan tatapan mata ketakutan menunjuk sesuatu di belakang Shikamaru.
"Pe..pecahannya..." ujar Sasuke. Shikamaru dan Naruto melihat kearah yang di tunjuk oleh Kabuto dan mereka pun memperlihatkan ekspresi yang sama. Terkejut. Takut.
Kembali keruang tamu
"Mereka lama banget sih?" kata Ino yang saat ini sedang mondar mandir kayak setrikaan.
"Apa perlu kita ketempat mereka?" tanya Ten Ten.
"Hmm, iya deh, masa sudah dua puluh menit mereka belum balik juga." kata Ino beranjak keluar ruangan diikuti oleh Kiba dan Ten Ten.
Ino
Sesampainya didepan pintu dapur, aku melihat kedalam dan menemukan sesuatu yang sangat mengerikan disana.
"Kyaaa!"
Aku berteriak sekencang yang kubisa saat melihat dapur yang kini sudah berubah menjadi lautan darah. Shikamaru, Naruto, Kabuto, dan Sasuke terbaring tidak berdaya dengan luka-luka disekujur tubuhnya.
"Ada apa!?" sergah Kiba begitu mendengar teriakanku. Aku menunjuk kearah tubuh-tubuh yang tidak berdaya dihadapanku.
Matanya terbelalak kaget saat melihat Naruto dan yang lain tergelak disana. Kiba segera menghampiri temannya.
"Naruto! Sasuke! Hei! Ada apa dengan kalian!?" teriaknya saat berlutut didekat mereka. Ia memeriksa nadi mereka satu-persatu dan mengangguk, menandakan mereka berempat masih hidup.
"Kabuto! Shikamaru! Shit! Ada apa ini!" umpat Kib.
"Kalian berdua jangan bengong! Bantu aku bawa mereka ke kamar!" perintah Kiba sambil mengangkat Sasuke.
Aku dan Ten Ten segera melakukan apa yang Kiba suruh, kami mengangkat Naruto. Saat kami baru sampai dipintu dapur, Temari datang menghampiri.
"Ada apa? Tadi aku mendengar teriakan." tanya Temari.
"Temari, tolong bantu kami, masih ada dua orang lagi di dapur." kata Ino.
"Eh? Apa yang terjadi? Kenapa mereka berdarah-darah begitu?" tanya Temari heran sekaligus ngeri melihat pemandangan didepannya.
"Nanti kami jelaskan, sekarang tolong bantu kami dulu." kataku.
"I..iya." jawab Temari dan menghampiri Kabuto dan dengan susah payah membawanya keluar.
Waktu akan beranjak dari sana aku mendengar suara gumaman.
"U..ukh."
"Shika?" gumamku.
"Ten Ten, kau bisa membawa Naruto sendiri kan?" tanyaku. Ten Ten mengangguk. Aku menghampiri Shikamaru yang sepertinya masih setengah sadar.
"Hei Shika, kau baik-baik saja?" tanyaku, aku duduk disebelahnya.
"Ukh..anak..ke..cil..itu.." kata Shika, nadanya terputus-putus membuatku sedikit sulit mendengarnya.
"Apa yang kau katakan?"
"A..nak..ke..cil..dia...ukh..ber..hat..i..ha..ti..lah.." setelah itu dia kembali pingsan.
Anak kecil? Apa maksudnya? mana ada anak kecil disini? Apa dia mengigau?
"Hihihi."
DHEG
Aku melihat kebelakang, tidak ada siapapun merasakan udara sekelilingku bertambah dingin
'ada apa ini?'
Samar-samar tercium bau sesuatu, amis, seperti...bangkai?
'Aaah tidak mungkin'
Aku menggelengkan kepalaku, mencoba untuk menghilangkan pikiranku yang macam-macam, dan segera membawa Shikamaru.
TBC
R & R minna?
