Arigatou untuk yang sudah review ^w^/

Lanjutannya udah muncul kepermukaan nih XD

Thanks to: Uzumaki-Namikaze Serizawa, TheUzumakiAkbar, sherry dark jewel, sasusakulovers, & para silent readers yang udah nyempetin baca :)

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: agak gaje, horror gak kerasa, typo(s), etc.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam,waktu dimana harusnya orang-orang sudah tertidur tetapi karena keributan yang terjadi sejak beberapa jam yang lalu, membuat Kiba, Temari, Ten Ten, dan Ino tetap terjaga. ini mereka berada di ruang tamu lantai satu.

Karena Kiba berpendapat lebih baik mereka berada di satu ruangan, agar lebih mudah untuk mengobati luka-luka mereka. Oleh karena itulah, para anak perempuan menggelar selimut agar bisa dijadikan alas tidur, Kiba juga memindahkan ,karena khawatir kalau-kalau orang yang menyerang teman-temannya masih ada di villa ini, bersembunyi di salah satu sudut ruangan. Itulah yang ada di pikiran Kiba saat ini.

"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Temari.
"Sudah nggak apa-apa, tapi sepertinya mereka masih perlu istirahat." ujar Kiba.
"Aku penasaran,apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa mereka bisa luka-luka begini? Apa ada orang asing yang masuk ke villa ini?" kata Ten Ten.
"Kupikir begitu, dilihat dari luka-lukanya, mereka diserang dengan senjata, banyak sekali goresan-goresan." kata Kiba sambil mengangkat satu tangan Sasuke yang masih belum sadarkan diri.

Tidak berapa lama Ino masuk ke kamar dengan membawa sebaskom air.

"Ini air dan handuknya." kata Ino dan menyerahkan barang yang dibawanya.
"Terima kasih." jawab Temari, mengambil baskom air dan handuk kemudian mulai memeras air dan mengelap luka-luka Naruto, yang sepertinya paling parah. Karena darah di lengan kirinya sejak tadi sulit dihentikan. Walaupun sudah diikat kuat dengan kain, tetapi darahnya dengan cepat merembes dan membasahi kain yang melilitnya.
"Bagaimana ini? Wajah Naruto semakin pucat, apa kita masih belum bisa menghubungi rumah sakit?" tanya Hinata, wajahnya penuh kekhawatiran.

Kiba menggelengkan kepala.

"Sejak tadi Temari dan Ten Ten sudah mencoba untuk menghubungi rumah karena badai ini, sambungan telpon masih belum bisa tersambung, dan juga untuk hp, sambungannya benar-benar kacau." kata Kiba sedikit jengkel dengan situasi saat ini.

"Sial! Kita seperti sedang berada didalam kandang, tidak bisa menghubungi dunia luar dengan telpon dan hp." ujar Ten Ten kesal.

"Dan jangan lupa, kita juga tidak bisa keluar karena badai." tambah Temari.

Tok tok tok

Kiba mengerutkan keningnya.
"Suara apa itu?" tanyanya.
"Sepertinya ada seseorang yang mengetuk diluar." ujar Hinata. "Biar kuperikasa dulu." kemudian Hinata beranjak dari ruang tamu menuju pintu depan.

"Orang gila seperti apa yang datang ditengah badai begini?" tanya Ten Ten.
Ino mengangkat bahu.
"Mungkin ada yang tersesat dihutan dan meminta pertolongan." kata Temari.

Tidak berapa lama, Hinata datang dengan seorang gadis kecil dengan baju yang basah kuyup.

"Siapa anak itu?" tanya Kiba mengernyitkan dahinya.
"Katanya dia terpisah dengan orang tuanya saat badai muncul tadi." kata Hinata, Ten Ten mendekati mereka.
"Adik kecil,namamu siapa?" tanya Ten Ten, anak kecil itu tersenyum.
"Shion." kata gadis kecil itu.
"Ne, Shion, kau ikut dengan kakak sebentar ya, kakak akan mencarikan baju yang bagus untukmu. Kau bisa sakit flu kalau basah-basah begini." ujar Ten Ten dan menggandeng tangan Shion untuk mengikutinya.

Shion mengangguk senang dan pergi mengikuti Ten Ten. Sedangkan Ino yang merasa gelisah sejak melihat Shion datang, hanya diam mematung dan keringat dingin muncul di pelipisnya.
Kiba yang merasa aneh dengan kondisi Ino mulai bertanya.

"Kau kenapa?"

Hening, Ino masih mematung.

"Hei, Ino." Kiba menggenggam lengan Ino, ia merasakan tubuh Ino bergetar.
"Hei, kau kenapa Ino?" tanya Hinata yang mulai khawatir dengan temannya itu.

"E..eh? Ap..apa?" jawab Ino gagap, tersadar dari lamunannya.
"Kau kenapa? kenapa gemetaran begini?" tanya Kiba yang masih memegang lengan Ino.
"E..eh..it..itu."
"Apa ada sesuatu yang kau tahu atau yang kau sadari? kalau ada katakanlah, jangan sampai ada korban lagi." kata Temari.
"Tid..tidak, hanya saja.."
"Apa?" tanya Hinata, mulai merasa hawa dingin menyelimutinya.
"Tadi, sesaat sebelum pingsan, Shikamaru seperti meracau sesuatu." ujar Ino akhirnya.
"Apa itu?" tanya Kiba dengan mata sedikit menyipit.
"Katanya, 'anak kecil, berhati-hatilah kepada anak kecil itu', itu yang dikatakannya sebelum pingsan." kata Ino, dia mendekap dirinya sendiri saat pemikirannya tentang anak kecil itu terlintas gemetar hebat.

"Anak kecil? Apa maksudmu anak kecil itu? Dia sepertinya hanya anak kecil biasa." kata Hinata.

"Aku merasa ada yang aneh."ujar Temari, semua orang melihat kearahnya.

"Badai sudah muncul sejak sore tadi. Mana ada orang berjalan ditengah badai ini selama berjam-jam tanpa ada sedikitpun tanah atau lumpur di sekujur tubuhnya. Apalagi ini anak kecil." tutur Temari.

Mereka terdiam sebentar, memang benar yang dikatakan Temari. Saat Hinata membawa Shion, walaupun anak itu kebasahan tetapi tidak ada bekas tanah atau lumpur sama sekali di kakinya.

"Aku ketempat Ten Ten dulu." sergah Temari, entah kenapa wajahnya menampakkan kekhawatiran.

"Aku ikut, Hinata, Ino tolong kalian jaga disini sebentar." ujar Kiba dan meninggalkan ruang tamu.

"Aku ke toilet dulu sebentar." sergah Ino, mengikuti kedua temannya, meninggalkan Hinata seorang diri disana...

Sakura P.O.V.

Gelap...kenapa gelap sekali disini?

"...ngun..."

Sayup-sayup, aku seperti mendengar suara.

"Hei...ngun"

Lagi, dan sekarang sepertinya semakin jelas.

"Bangun woi!" sebuah teriakan menyentakkanku, dan aku pun terbangun.

Aku membuka mataku, Naruto berdiri didepanku.

"Mau tidur sampai kapan? Sekarang sudah jam pelajaran IPA kita harus ke labor." ujarnya dengan menenteng beberapa buku di bahu kanannya.

"Aku..ketiduran lagi ya?" tanyaku sambil mengusap mataku.

"Ya iyalah, kapan sih kau nggak tidur dikelas? Ambil bukumu, kita ke labor sekarang." katanya sambil berjalan keluar kelas.

Aku mengambil buku dari dalam tas, kemudian menyusul Naruto.

Masih setengah mengantuk, aku menuruni anak tangga dengan sedikit kami berada di lantai tiga, sehingga kami harus berjalan melewati tangga untuk ke labor yang terletak di lantai satu.

"Ayo cepat! Nanti kita bisa dihukum." teriak Naruto berdiri didasar anak tangga.

"Kau lari duluan saja kalau begitu." ujarku sedikit mendengus.

"Ogah, entar kau kabur lagi." aku mengerutkan kening.

"Sejak kapan aku pernah bolos pelajaran?"

"Yaah, kalo-kalo aja kan? Sudahlah, ayo cepat."

Tidak lama berjalan, aku merasakan ada sesuatu yang aneh, sekolah ini terlalu sepi.

"Hei Naruto."

"Hmm?"

"Apa kau tidak merasa ada yang aneh?" tanyaku, dia menatapku heran.

"Apa?"

"Aku merasa sekolah ini terlalu sunyi, tidak seperti biasanya, entah kenapa perasaanku jadi nggak enak." ujarku, sambil mengelus tengkukku.

"Oh ya?"

Mendapat respon dengan nada cuek seperti itu membuatku sedikit jengkel. Aku melangkah sedikit lebih cepat dan meninggalkan Naruto berjalan dibelakangku.

Sesampainya dilantai satu, aku segera berjalan menuju labor dan membuka melihat kedalam dan tidak ada siapa-siapa disana.

'Apa Naruto mengerjaiku lagi?' aku pun menengok kebelakang, bersiap memarahi Naruto.

"Hei, Na..." tidak ada siapapun disana.

"Naru?" panggilku dengan nada heran. Aku melihat kesekeliling, tidak ada siapapun disana. Entah sejak kapan, saat aku sadar sepenuhnya dari kantukku kabut berwarna putih sudah menyelimutiku, membuatku tidak bisa melihat sekeliling.

"Naruto!" teriakku...

Normal

Sakura mulai berjalan dalam kabut, dia berjalan tidak tentu. Kabut ini menghalangi jarak pandangnya.

'Ada apa ini? Kenapa ada kabut setebal ini disekolah?' pikirnya

Untuk sesaat, Sakura berhenti, ia merasa ada sesuatu yang janggal.

"Tunggu dulu...sekolah?" ia berpikir sejenak.

"Harusnya aku berada di villa, kenapa sekarang disekolah?" ujarnya pada diri sendiri.

Ia kembali melihat kesekeliling, kabut yang menutupinya perlahan-lahan mulai menghilang dan mulai memperlihatkan sebuah pemandangan yang mengejutkannya.

"Naruto! Shikamaru! Sasuke!" teriaknya.

Pemandangan yang Sakura lihat saat ini adalah teman-temannya yang sedang diserang oleh pecahan-pecahan seperti kaca. Pecahan itu melayang dan terus menyerang mereka, membuat mereka terluka disana-sini.

"Naruto! Awas!" teriaknya saat melihat sebuah pisau melayang menuju kearah Naruto dan akan menusuk tepat di punggungnya, untungnya Naruto menyadarinya dan menghindari pisau itu, tetapi sebagai gantinya pisau itu menggores lengan kirinya. Membuatnya meringis kesakitan.

"Sial! Sebenarnya ada apa dengan rumah ini!?" teriak Shikamaru yang masih menghindari pecahan-pecahan itu.

"Kita harus keluar dari sini!" kata Sasuke dan berlari menuju pintu, akan tetapi pintu itu tiba-tiba terbanting dan terkunci dengan sendirinya.

"Cepat! Buka pintunya!" teriak Shikamaru.

"Tidak bisa! Pintunya terkunci!" jawab Sasuke yang saat ini sedang menggedor-gedor pintu dan menabrakkan dirinya kepintu guna membuka pintu secara paksa.

"Biar kubantu!" sergah Shikamaru, ia membalikkan meja kayu yang terletak di pojok dapur dan menjadikannya penghalang agar pecahan-pecahan itu tidak dapat melukai mereka.

"Terlalu lama! Pecahkan saja kaca jendelanya!" teriak Sakura saat melihat sebuah jendela besar yang terkunci yang mengarah ke halaman belakang, tetapi tidak ada yang menghiraukannya.

"Hei! Kalian dengar nggak!? Pecahin kaca jendelanya dan keluar!" teriak Sakura lagi, tetapi tetap tidak dihiraukan.

Karena kesal dia menghampiri teman-temannya dan akan menarik kerah baju Shikamaru.

"Hei! Dengar nggak sih!? Kubilang..." kata-kata Sakura terputus saat Naruto mulai terhuyung dan terjatuh menimpanya, atau lebih tepatnya melewati tubuhnya yang entah sejak kapan berubah menjadi tembus pandang dan terjatuh ke lantai dengan memegang lengannya.

"Ap...apa..?" ujar Sakura, matanya membelalak dan tubuhnya mulai bergetar.

"Naruto!" teriak Sasuke dan menghampiri Naruto yang terjatuh, dia melewati tubuh Sakura begitu saja.

"Mus..mustahil...ada apa ini?" gumam Sakura, ia menatap kedua tangannya dengan tatapan tidak percaya.

"Hei! Kau nggak apa-apa?" tanya Sasuke.

"Ukh..lenganku, sakit sekali." ujar Naruto.

Sakura mengalihkan pandangan matanya, menatap Naruto yang terduduk dilantai dengan darah di lengannya.

Kabut kembali mengelilinginya, membuat pandangannya kembali terjebak kedalam kabut.

'Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi?' Sakura terdiam beberapa saat karena shock.

"Hahaha.."

Sebuah suara menghentikan lamunannya, ia melihat kesekeliling mencari sumber suara. Kabut yang mengelilinginya perlahan memudar dan digantikan dengan pemandangan hutan yang rindang.

"Ahahaha..."

Suara itu lagi, Sakura melihat kesekeliling dan menangkap sosok anak-anak yang sedang bermain dibawah pohon didekat danau duduk membelakanginya, salah seorang adalah anak kecil berambut panjang sepinggang dengan menggunakan baju dress panjang, dua orang lainnya memakai baju kaos dan celana biasa, mereka sepertinya laki-laki. Sakura berjalan mendekati anak-anak itu. Anak kecil berambut pajang itu berdiri.

"Baiklah. Aku punya permainan bagus kali ini." kata anak yang memakai dress itu, suaranya terdengar seperti suara perempuan.

"Eh? permainan apa?" tanya salah seorang anak.

"Kalian harus berlomba, siapa yang bisa lebih dulu sampai ke seberang danau, dia yang menang dan akan mendapatkan hadiah dariku." ujar anak perempuan itu.

"Eh? Bagaimana caranya agar bisa sampai ke seberang danau?" tanya seorang anak yang berdiri disebelah kirinya.

"Tentu saja berenang." ujar anak perempuan itu, dia membalikkan badannya sehingga Sakura dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Sakura terkejut saat melihat anak perempuan itu. Dia adalah anak yang berada dihutan waktu itu, yang memperdayanya dan membuatnya terjatuh dari pohon. Ia menatap anak itu yang dia tahu bernama Shion dengan tatapan marah.

"Anak kecil! Apa yang sudah kau lakukan padaku!" teriak Sakura, tetapi anak-anak itu tidak menghiraukannya seakan dia tidak ada.

"Berenang? Tapi para orang tua tidak memperbolehkan kita kalau nanti ada yang tenggelam?" kata seorang anak lainnya.

"Hei, ayolah, apa kalian berdua pengecut? Masa begitu saja nggak berani, bukannya kalian bisa berenang?" ujar Shion dengan nada meremehkan. Salah seorang anak mengerutkan keningnya, tidak suka diremehkan.

"Enak saja! Siapa bilang aku nggak berani? Ayo kita lomba Juugo!" kata anak itu dan menarik temannya yang dia panggil Juugo.

"Ng..nggak ah, nanti kalau ada apa-apa gimana? Akukan nggak bisa berenang."ujar anak itu.

"Cepetan! Berani nggak sih?" desak Shion.

"Ya berani lah, kalo kau nggak mau biar aku aja yang yang berenang sampe seberang." ujar anak itu dan meninggalkan temannya dibelakangnya.

"Hei Shion! Cepat hentikan Suigetsu, gimana kalau dia sampai tenggelam!" kata Juugo, berusaha mengurungkan niat temannya itu. Shion melihat kepergian Suigetsu dengan senyum mengembang dibibirnya, membuat Juugo merinding, ia merasakan hawa dingin disekitarnya.

"Hei! Lihat ini! Aku bukan pengecut!" kata Suigetsu yang sudah berada di dalam air, kepalanya menyembul keluar dari air.

"Sui! Kembali kemari, kau tidak perlu berenang kesana, kau sudah hebat kok!" ujar Juugo membujuk temannya.

"Huh! Apanya yang hebat? Kalau cuma begitu sih aku juga bisa, masa kalah sama cewek?" ujar Shion memanas-manasi Suigetsu.

"Oke! Lihat ya! Aku bakal berenang keseberang!" teriak Suigetsu kesal, dia mengayunkan kedua tangannya untuk berenang menuju keseberang danau.

"Shion! Kau apa-apaan sih? Kalau ada apa-apa dengannya gimana?" kata Juugo memarahi Shion.

"Hihihi, biarin aja, aku malah ngarepin dia tenggelam." ujar Shion dengan senyuman, bukan, lebih tepatnya seringaian diwajahnya.

"Apa?" gumam Juugo tidak percaya.

"Ka..kau gila ya?" tanya Juugo gugup.

"Tidak, aku tidak gila, tapi...entah kenapa saat melihat orang lain terluka, itu sangat menyenangkan buatku, apalagi kalau aku menyentuh darah mereka dan menjilatnya atau meminumnya, kau tahu? Rasanya benar-benar manis."ujar Shion, Juugo membelalakkan matanya tidak percaya begitu juga dengan Sakura yang berdiri dibelakang mereka.

'Apa-apaan anak ini? Apa dia gila?' pikir Sakura.

"Juugo!" teriak Juuo.

Mereka segera menoleh dan mendapati Suigetsu yang berada ditengah danau, meminta pertolongan. Dia seperti akan tenggelam.

"Sui!"teriak Juugo.

"Tolong! Ada yang menarik kakiku!" teriak Suigetsu panik, tubuhnya keluar masuk air berusaha untuk tetap mengambang.

"Bertahanlah! Aku akan mencari pertolongan!" teriak Juugo dan berlari menuju desa.

Suigetsu terus berusaha untuk keluar dari danau, sesaat dia melihat kearah Shion yang melihatnya layaknya tontonan. Ia melihat Ayu tersenyum,dan berkata sesuatu sebelum akhirnya dia kehabisan tenaga dan tenggelam kedasar danau...

Matilah...

TBC

R & R ?