DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO SENSEI

WARNING: OOC, KURANG SEREM, TYPO, DLL DSB

Mereka masih terduduk dilantai kamar mandi, dan mereka mencoba menormalkan nafas mereka yang tersengal-sengal. Setelah beberapa saat yang menegangkan bagi mereka, Hinata akhirnya berbicara.

"Ap..apa itu tadi?" Sakura menggelengkan kepala pelan, jantungnya masih berdegup kencang dan tubuhnya agak gemetar.

"Pergi..." gumam Ino, dengan tubuh bergetar. "..kita harus segera pergi dari tempat ini." kata Ino, kemudian dia berdiri dan menuju pintu.

"Tidak bisa." kata Sakura. Ino dan Hinata melihat kearahnya.

"Kita tidak bisa pergi begitu saja, di luar badai dan lagi ini sudah malam, kita tidak akan bisa melihat dalam gelap." jelas Sakura.

Ino berdiri kaku, kedua tangannya terkepal menahan amarah sekaligus rasa takut yang di rasakannya.

"Tapi Sakura, kalau kita nggak pergi sekarang kita bisa terjebak di sini." kata Hinata.

Sakura berdiri dari duduknya dan menghembuskan nafas panjang, mencoba menghilangkan suaranya yang bergetar.

"Kita memang sudah terjebak di sini." ujarnya kemudian. "Dia sudah mengawasi kita sejak kita datang ke Villa ini dan Dia ingin kita bersamanya di sini, mengikuti permainannya." Hinata dan Ino saling berpandangan heran.

"Dia? Dia siapa maksudmu? Apa kau tahu sesuatu?" tanya Ino. Saat Sakura akan menjawab, ia merasakan sesuatu mencengkeram kakinya kuat, dan saat itu juga Hinata berteriak kencang, matanya mengarah pada sebuah tangan yang menyembul dari dasar lantai.

Naruto meringis saat merasakan sakit di lengan kirinya. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati cahaya lampu yang menyilaukan mata.

"Uugh." gumamnya.

Setelah kedua matanya terbiasa dengan cahaya, ia pun bangun perlahan. Ia melihat kesekeliling ruangan dan mendapati kedua temannya tertidur di sebelahnya. Ia kemudian mengulurkan tangan kanannya yang tidak terluka dan mengguncang-guncang tubuh Shikamaru yang lebih dekat dengannya.

"Shika, bangun." suara Naruto terdengar serak, tenggorokannya terasa sangat kering. Ia terus berusaha membangunkan kedua temannya itu.

"Ng...h..." akhirnya Shikamaru dan Sasuke memberikan respon dan menggerakkan tubuhnya. Mereka membuka mata perlahan dan meringis saat merasakan pedih di sekujur tubuh mereka.

"Jangan cengeng, lukaku lebih parah dari kalian tahu." ujar Naruto ketus saat melihat kedua temannya itu bangun dan sibuk meringis karena luka-luka yang terasa pedih. Shikamaru dan Sasuke melirik tajam ke arah Naruto, mereka sedikit kesal dengan perkataannya.

"Iya, aku tahu kalau lukamu lebih parah, tapi itu karena kau ceroboh dan tidak bisa menghindari serangan aneh itu, Dobe." kata Sasuke.

"Apa katamu !? Aku ceroboh !? Kalau aku ceroboh, pecahan itu sudah pasti berada di punggungku sekarang bukannya di lenganku, Teme!" teriak Naruto emosi. Shikamaru yang melihat pertengkaran itu berusaha menengahi kedua temannya itu.

"Hentikan kalian berdua! Sekarang bukan saatnya berkelahi, sekarang yang penting di mana teman-teman yang lain?" Naruto dan Sasuke saling membuang muka dan Naruto mencoba berdiri sambil menahan sakit. Shikamaru yang melihat kelakuan kedua temannya itu hanya menghela nafas, "mendokusai", dan akhirnya berdiri untuk membantu Naruto.

"Makasih." kata Naruto. "Hmm." jawab Shikamaru.

Mereka pun keluar dari ruangan itu, mencari keberadaan teman mereka yang lain. Mereka memutuskan ke lantai dua, tapi mengurungkannya saat mendengar suara ribut-ribut dari arah toilet belakang dan memutuskan untuk memeriksanya. Mereka membatu saat melihat tangan dengan kulit yang sudah mengelupas dan dipenuhi lumpur menyembul dari dasar lantai. Sakura berusaha menarik kakinya yang di cengkeram tangan itu dan melarang mereka mendekat. "Shikamaru, Sasuke! Pergi ke lantai dua! Pastikan mereka bertiga baik-baik saja!" perintah Sakura tiba-tiba.

"Kau gila ya!? Mana bisa kami meninggalkanmu!" kata Sasuke.

"Berisik! Naruto! Bawa Hinata, Ino, dan semuanya pergi dari sini sekarang! Kalian harus pergi dari Villa ini dan jangan kembali sebelum mendapatkan cara untuk melenyapkan setan itu. Dan kalau sampai terjadi sesuatu dengan yang lainnya itu menjadi tanggung jawabmu, Naruto!" perintahnya lagi, tidak mendengarkan teriakan protes teman-temannya.

Entah kenapa secara tiba-tiba mereka semua kecuali Sakura merasakan sesuatu menyeret mereka keluar dari toilet dan membanting mereka keras ke tembok di sertai pintu yang terbanting menutup. Menyisa-kan Sakura seorang diri, terkurung di dalam toilet.

"AAARRRGGGHHH!" teriakan yang memekakkan telinga terdengar dari dalam toilet. Itu suara Sakura.

"SAKURA!" teriakan Sakura dari dalam toilet membuat teman-temannya panik dan langsung bangkit berdiri. Anak-anak cowok bangun dan berusaha untuk membuka pintu itu dan setelah pintu terbuka, tidak ada siapapun di sana. Sakura telah lenyap...

Ten Ten memilih-milih baju yang sekiranya muat untuk dipakai oleh Shion. Ia mengeluarkan sebuah baju tidur bergambar kucing berwarna biru dari lemari.

"Lihat, lucu kan?" tanyanya. "Pakailah baju ini, kakak akan menunggu di luar."

Shion hanya tersenyum dan mengambil baju itu. Ten Ten berjalan menuju pintu kamar, tetapi suara Shion menginterupsinya.

"Kakak." Ten Ten membalikkan badannya.

"Ya?"

"Kakak di sini aja temenin Shion, Shion kesepian di sini." kata Shion dengan wajah memelas.

Ten Ten merasa sedikit kasihan dengan Shion, jadi dia memutuskan untuk tinggal menemani Shion. Ten Ten sedikit menghela nafas.

"Baiklah." Hening selama beberapa saat karena Ten Ten sedang sibuk membantu Shion untuk berpakaian, sedangkan Shion hanya diam. Tidak berapa lama pintu kamar terbuka, Temari dan Kiba berdiri di sana.

"Ng? Ada apa?" tanya Ten Ten. Temari menggelengkan kepala.

"Nggak ada, cuma agak nggak tenang aja ninggalin kamu sendiri."

"Kalian pikir aku ini anak-anak apa? Sampe harus di temenin gitu?" kata Ten Ten agak jengkel.

"Kita nggak tahu apa yang bakal terjadi. Kau tahu sendiri bukan? Hari ini banyak kejadian aneh." kata Kiba.

Ten Ten hanya mendengus tidak suka. Ia kembali memandang Shion, Ia terdiam saat melihat tatapan kosong Shion. "Shion? Kau kenapa?" tanya Ten Ten. Ia mengelus pipi Shion dan merasakan sensasi dingin di telapak tangannya saat bersentuhan denga kulit Shion. Tubuh Ten Ten langsung membatu seketika, entah kenapa perasaannya tidak enak. Kiba dan Temari yang melihat gelagat aneh Shion segera bersiaga, tubuh mereka menegang dan hawa dingin menghampiri tengkuk mereka.

"Ten ten, menjauh dari anak itu!" perintah Kiba saat merasakan hawa dingin semakin menusuk, Akamaru mulai menggong-gong keras. Ten Ten masih terdiam, tubuhnya sangat kaku, tidak dapat di gerakkan sama sekali. Posisinya saat ini sedang membelakangi lemari baju yang di pintu luarnya di pasangi cermin sehingga memperlihatkan sosoknya saat ini, setengah berjongkok dengan satu lutut kaki menempel di lantai dan tangannya masih menempel di pipi Shion. "Hei, Ten Ten! Menjauh dari anak itu!" kata Temari mulai panik.

"Tu..tubuhku kaku! Nggak bisa di gerakin!" teriak Ten Ten panik, keringat mulai muncul di pelipisnya.

"Hihihi." Shion tertawa, ia mengangkat sedikit wajahnya dan menatap Ten Ten. Sebelah tangannya menyentuh tangan Ten Ten yang masih menempel di pipinya. "Kakak kan tadi sudah janji mau nemenin Shion, jadi kakak nggak boleh pergi."

"Ap..apa maksudmu?" tanya Ten Ten. Dia benar-benar takut sekarang, ia merasakan suhu kamar menurun semakin drastis.

"Sial!" umpat Kiba. Kiba merasakan adanya bahaya dan langsung maju untuk menarik Ten Ten keluar dari tempat itu. Tapi, belum sempat tangannya menyentuh Ten Ten, sepasang tangan berlumpur dan hampir seperti tengkorak muncul dari dalam cermin dan menarik tubuh Ten Ten dari belakang. Saat itu juga Ten ten menjerit histeris merasakan tubuhnya ditarik dan perlahan masuk ke dalam cermin. Kiba menatap tidak percaya dengan yang ada di hadapannya saat ini dan berdiri mematung, begitu juga Temari dengan kedua tangan menutup mulutnya syok.

Hinata, Shikamaru, Naruto, Ino, dan Sasuke segera berlari menuju lantai dua untuk memastikan ketiga teman mereka yang lain tidak bernasib sama seperti Sakura. Mereka tidak memiliki waktu untuk merenung ataupun berduka untuk saat ini, yang ada di pikiran mereka adalah bagaimana caranya untuk segera keluar dari mimpi buruk yang menimpa mereka saat ini. Untuk Sakura, mereka bisa mencari solusinya nanti dengan meminta pertolongan orang dewasa setelah mereka berhasil keluar dari villa ini. Sesampainya mereka di lantai dua, mereka melihat Temari yang berjalan mundur dari arah kamar Ten Ten. Wajah Temari terlihat sangat ketakutan dan keringat dingin membasahi wajahnya.

"Temari, ada ap.." pertanyaan Sasuke terhenti saat matanya melirik ke arah kamar Ten Ten dan terbelalak kaget. Naruto yang berada di belakang Sasuke langsung berlari masuk ke kamar dan mendapati Ten Ten yang tengah meronta-ronta. Shikamaru dan Sasuke juga tidak tinggal diam dan langsung menerjang masuk, membantu Naruto menarik Ten Ten. Akan tetapi percuma, tangan-tangan itu lebih kuat dari mereka dan akhirnya Ten Ten hilang di telan cermin.

"Aaaarrrggghhh!" suara jeritan yang memilukan terdengar memenuhi kamar itu bersamaan dengan jendela kamar terbuka keras membuat angin kencang dan air hujan masuk ke kamar. Hening selama beberapa menit, tidak ada yang berani membuka suara setelah melihat kejadian mengerikan itu. Dua teman mereka telah lenyap...