Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning! Cerita gaje, horror tak terasa, OOC, cerita 3S(Suka-suka saya), TYPO, dll, dsb,dst
Happy reading minna~
.
.
.
"…dak…" gumam Ino gemetar "…tidak mau…"
"Ino, tenanglah." Kata Shikamaru, mencoba menenangkan Ino yang mulai panik.
Tapi, seakan tidak mendengar apapun, Ino terus bergumam tidak jelas.
"…pergi..kita harus per..pergi.." Ino memeluk tubuhnya sendiri. Kiba mendekat ke arahnya.
"Hei, Ino tenanglah, kita tidak bisa pergi, di luar badai dan.."
"AKU TIDAK PERDULI! KALAU AKU TERUS DISINI, AKULAH YANG AKAN MATI!" teriak Ino dan mendorong tubuh Kiba keras dan berlari keluar kamar.
"INO!" jerit mereka. Kiba segera bangun dan berlari menyusul Ino.
"Dasar bodoh." Geram Shikamaru.
"He..hei..apa nggak apa-apa kalau kita terus di villa ini? Ba..bagaimana kalau kita ikuti saja Ino dan keluar dari sini?" kata Hinata.
"Dengan hujan sederas itu? yang benar saja." Kata Temari.
"Tapi, ada benarnya juga. Kalau kita terus di sini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Kata Naruto.
"Bagaimana menurutmu Shika?" tanya Sasuke.
Shikamaru menghela nafas lelah dan berkata "Aku ikut kalian saja, tapi jangan lupa. Walaupun kita keluar dari villa ini, belum tentu makhluk itu akan melepaskan kita. Dan kita juga tidak tahu apa yang menunggu kita di luar sana, bisa jadi hal yang lebih buruk akan menimpa kita."
Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Naruto menatap cermin di depannya dengan mata memicing marah, dia sudah kehilangan dua orang temannya. Ia merasa sangat tidak berguna dengan kondisi tubuhnya saat ini, luka di lengannya kembali terbuka dan darah merembes keluar. Ia benar-benar marah, marah kepada dirinya sendiri yang tidak bisa menyelamatkan teman-temannya.
Setelah hening yang cukup lama, mereka di kagetkan dengan suara deringan ponsel di saku Sasuke. Sasuke segera mengangkat ponselnya dan menekan tombol speaker saat melihat nama Itachi tertera di sana.
"Halo! Aniki! Aniki tolong kami! Jemput kami sekarang!" teriak Sasuke agak panik. Ia takut kalau sambungan ponselnya tiba-tiba terputus tanpa ia sempat meminta pertolongan.
Itachi yang mendengar suara Sasuke yang tidak seperti biasanya mengerutkan kening heran.
"Ada apa denganmu Sasuke? Kenapa kau sepertinya panik begitu? Menjemputmu? Bukannya kau sedang liburan bersama Naruto dan temanmu yang lain? Dan.."
"Berhenti bertanya Baka Aniki! Aku serius! Jemput kami dengan apa saja! Helikopter, bus, pesawat jet apa saja yang penting kami bisa keluar dari Villa terkutuk ini!"
"Villa terkutuk? Apa maksudnya Sasuke?" Itachi masih bingung dengan adiknya satu itu.
"Berikan padaku Sasuke." Kata Shikamaru dan mengambil alih ponsel Sasuke.
"Halo Itachi-san, ini Shikamaru. Tolong segera jemput kami di Oto, kami terjebak disini."
"Apa maksudmu terjebak? Bukannya kalian sedang liburan disana?" tanya Itachi heran.
"Mungkin apa yang kukatakan ini akan sulit di terima Itachi-san, tapi sepertinya Villa ini di huni oleh makhluk dari dunia lain. Yaa..h kau pasti mengerti yang ku maksud itachi-san."
Itachi terdiam sebentar.
"Maksudmu.. hantu?" kata Itachi ragu.
"Ya." Kata Shikamaru yakin.
Sunyi sesaat sampai terdengar suara tawa Itachi di seberang sana.
"Hahaha…kalian ini, ada-ada saja, kalian ingin mengerjai ku ya? Bilang saja kalau kalian ingin aku ikut berlibur bersama kalian."
Merasa sangat kesal, Naruto merebut ponsel di tangan Shikamaru dan meneriaki Itachi.
"Itachi-nii! Kami tidak sedang bercanda! Sakura dan Ten Ten menghilang, kami melihat dengan mata kepala kami sendiri saat Sakura menghilang di balik pintu dan Ten Ten di tarik tangan-tangan aneh yang muncul dari dalam cermin dan terhisap masuk kedalam cermin!" teriak Naruto frustasi.
Itachi terdiam dan mencerna perkataan Naruto.
'Menghilang? Apa maksudnya?'
"Tolonglah Itachi-nii..kumohon…jemput kami sekarang, dan bantu kami menemukan Ten Ten dan Sakura." Mohon Naruto dengan putus asa.
Menghela nafas, akhirnya Itachi berkata "Baiklah, aku akan segera menjemput kalian dengan membawa tim penolong. Tapi aku ingatkan pada kalian, kalau saat ini kalian sedang bercanda sebaiknya kalian hentikan atau aku akan menghukum kalian nanti." kata Itachi serius.
"Kami serius Itachi-nii, tolong kami." Kata Naruto.
"Baiklah, aku akan menjemput kalian. Akan butuh waktu setidaknya tiga jam untukku sampai kesana."
"Baik Itachi-nii. Kami akan menunggu. Terima kasih." Kata Naruto dan sambungan pun terputus.
"Bagaimana?" tanya Temari.
"Itachi-nii akan kemari dengan tim penolong. Katanya butuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke sini." Jelas Naruto.
Menghela nafas lega, akhirnya mereka bisa mendapatkan pertolongan. Mereka hanya perlu bertahan selama tiga jam ke depan.
"Tunggu dulu, bagaimana dengan Ino dan Kiba?" tanya Temari.
"Benar juga, apa yang dilakukan Kiba? Kenapa mereka belum kembali?" tanya Naruto.
"Ap..apa mungkin, se..sesuatu terjadi pada mereka?" tanya Hinata.
Kiba mengejar Ino yang berlari menuruni tangga dan menuju pintu keluar.
Ino berlari tak tentu arah dan tidak menghiraukan teriakan Kiba yang memintanya untuk berhenti. Ino berlari lurus tanpa melihat ke belakang. Tidak di hiraukannya lumpur yang menempel di kakinya dan air hujan yang membuat bajunya berlari tanpa menghiraukan sekelilingnya dan tidak sadar kalau ia terus berlari menuju hutan, meninggalkan Kiba di belakangnya.
Ino terus berlari sampai sebuah akar membuatnya terjatuh. Ia masih menangis terisak dan mencoba berdiri, menumpukan kedua tangan di tanah dan meringis saat merasakan perih di lututnya. Ia berdiri dengan sebelah tangan menumpu di pohon. Di tengah derasnya hujan Ino berjalan terseok-seok tanpa arah tujuan.
Kurang lebih lima belas menit berjalan, akhirnya Ino memutuskan duduk dan bersandar pada sebuah pohon. Ia memeluk lututnya dan mulai menangis kembali.
"Kenapa..kenapa..hiks.." gumam Ino.
Hujan turun semakin deras, angin berhembus dengan kencang. Ino masih meringkuk di bawah pohon, tidak menyadari saat seseorang berjalan menuju ke arahnya.
Krek
Suara derakan batang pohon membuat Ino tersentak, ia mengangkat wajahnya perlahan. Tidak jauh di depannya, Ino melihat sepasang kaki anak kecil berdiri menghadapnya. Perlahan, tatapan mata Ino menyusuri pemilik kaki itu.
Mulai dari sepasang kaki kecil yang kotor lalu baju terusan putih penuh lumpur dan akhirnya wajah anak kecil itu. Mata Ino melebar ngeri, bukan..bukan karena wajah anak kecil itu yang kotor oleh lumpur melainkan karena terdapat dua lubang kosong di bagian yang harusnya menjadi tempat di mana mata berada dan berakhir dengan jeritan kencang Ino yang tertelan suara hujan…
Kiba terus berjalan mencari Ino, ia kehilangan jejak Ino setelah memasuki hutan.
"Ino!" Kiba berjalan semakin masuk ke hutan dan meneriakkan nama Ino berulang kali.
"Sial, ke mana dia?" umpat Kiba kesal. Ia mengibaskan semak-semak yang menghalangi jalannya dengan kasar dan sesekali hampir terjatuh saat kakinya tidak sengaja menginjak genangan lumpur yang cukup dalam.
Langkah Kiba terhenti sesaat, saat ia merasakan sekelebat bayangan dengan surai pirang lewat di depan matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kosong, tidak ada seorang pun di sana.
'Halusinasi?' pikirnya.
Ia melanjutkan langkahnya dan kembali terhenti saat dilihatnya seseorang dengan surai pirang panjang tergerai berdiri membelakanginya di antara semak belukar. Perlahan ia menyingkirkan semak yang menghalangi pandangannya dan mendekati sosok itu.
"Ino?" panggilnya ragu.
Tidak ada jawaban, sosok itu tidak memberikan respon sama sekali.
Hujan turun semakin deras dan angin bertiup semakin kencang. Kiba semakin mendekat ke arah sosok yang ia yakini sebagai Ino itu dan menyentuh bahunya. Perlahan, Kiba membalikkan tubuh Ino agar menghadap kepadanya, dan tepat saat itu petir menyambar hebat, menimbulkan kilatan cahaya terang yang memperlihatkan wajah sosok itu. Wajah berwarna hitam terbakar dengan bola mata yang seperti meleleh keluar dari rongga matanya dan darah yang mengalir di kedua telinga.
Kiba melompat mundur dengan teriakan ngeri, membuat kakinya tergelincir dan terjatuh ke dalam sebuah kubangan lumpur yang entah sejak kapan berada di sana. Ia berusaha untuk keluar dari dalam kubangan itu, namun semakin ia mencoba untuk keluar semakin ia tertarik masuk ke dalam kubangan itu.
'Lumpur hisap!' pikir Kiba, membuat dirinya semakin panik, ia mencoba menggapai apapun yang ada di sekitarnya. Akan tetapi semua usahanya nihil, tidak ada apapun di sana, tidak ada tali, akar, atau apapun yang dapat di jadikannya sebagai pegangan, yang ada hanyalah rumput lebat yang setiap kali terlepas dari akarnya saat Kiba menariknya.
"To..TOLONG! SIAPAPUN! TOLONG AKU!" teriak Kiba.
Perlahan namun pasti, tubuh Kiba semakin menghilang dalam kubangan lumpur itu dan sekarang yang tersisa hanyalah kepala dan kedua tangan yang menggapai tanah, masih berusaha untuk keluar. Kiba terus berteriak meminta pertolongan hingga akhirnya teriakan Kiba terhenti saat seluruh tubuhnya tertelan habis...
a/n
Daaannn... kepotong lagi! XD /dihajarreader
arigatou yang sudah mereview ^^), ini balasan review nya
Blue-Temple-Of-The-King : Yoi, sudah lanjut nih ^o^)/
Yue .aoi : iya, banyak typo, soalnya Ryu kmaren buru-buru (-_-)a
Xiaooo : iya nih, kecil-kecil udah psikopat. Balik gak ya~~~ XD
Aiko Ishikawa : salam kenal juga (^^)/ . Beneran tersesat?(O_o) tau jalan pulang gak? /dor/ udah lanjut nih (^o^)/
Yuka Namikaze : enggak tau, masih hidup gak ya... Sakura~ hiks (T^T)
UzumakiDesy : yep, cerita ini hantunya memang terinsipirasi dari film-film horror yang ryu tonton dari kecil sampe sekarang, arigatou reviewnya XD
alta0sapphire : iya, ryu aja merinding sendiri bikinnya (-w-)b
nopi . miharja : iya nih, keputus lagi (T3T) /dor/
afifmuhammad23 : yosh! sudah nih (^o^)/
Terus buat para silent reader yang sudah baca juga terima kasih karena masih sempat buat baca fict gaje Ryu (^^)/
Sampai jumpa di last chapter XD
