Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
Warning : OOC, Cerita 3S (suka suka saya), tidak sesuai EYD, Typo, dsb,dst
HAPPY READING~~~
Itachi menghela nafasnya, ia baru saja menghubungi tim penyelamat dan menyewa helikopter untuk menjemput Sasuke dan teman-temannya.
"Kalau sampai anak itu berani mengerjaiku, dia akan tau akibatnya." Gumam Itachi dengan aura hitam di sekelilingnya dan sebuah seringaian aneh.
Suara ketukan pintu menyadarkan Itachi dari kegiatannya. Itachi membetulan posisi duduknya dan bergumam rendah sebagai pertanda kalau sang pengetuk pintu boleh masuk. Pintu berderit terbuka dan memperlihatkan sesosok pemuda yang sepertinya seumuran Itachi dengan rambut sebahu berwarna pirang kemerahan yang diikat rendah seperti rambut Itachi.
"Tumben kau kemari, Kurama." Kata Itachi.
"Hmm." Gumam Kurama dan berjalan mendekati meja Itachi lalu duduk di depan Itachi-menduduki mejanya lebih tepatnya-.
"Tidak bisakah kau berlaku sopan sedikit di kantorku?" tanya Itachi dengan urat-urat kecil di pelipisnya.
"Aku sudah sopan dengan mengetuk pintu sebelum masuk tadi." Jawab Kurama santai.
Itachi menghela nafas dan memijat pelipisnya. "Lebih baik kau jangan macam-macam sekarang Kurama, aku sudah cukup di pusingkan oleh Sasuke dan adikmu itu." kata Itachi.
"Naruto? Ada apa dengannya?" tanya Kurama cepat saat mendengar nama adik bungsunya di sebut-sebut.
"Tadi aku iseng menelpon mereka, dan saat di angkat mereka malah berteriak-teriak minta di jemput."
"Jemput? Bukannya mereka sedang liburan di Oto?" tanya Kurama.
"Begitulah, mereka juga menyebut-nyebut soal villa terkutuklah, hantulah, Haruno menghilang lah." Kata Itachi santai.
Kurama tiba-tiba membeku saat mendengar penuturan Itachi tadi.
"Kau kenapa, Kurama?" tanya Itachi.
"Itachi…katakan padaku. Mereka liburan di Oto, lebih tepatnya DI MANA?" tanya Kurama dengan penekanan di akhir kalimat.
(OoO)
Krieeet…
Suara deritan pintu mengalihkan pandangan mereka. Saat ini Temari, Hinata, Shikamaru, Sasuke, dan Naruto memutuskan untuk berkumpul di lantai satu atas usulan Shikamaru.
Naruto dan Sasuke segera berdiri saat merasakan hawa dingin menyentuh tengkuk mereka. Temari dan Hinata yang masih duduk di sofa hanya menatap cemas ke arah pintu itu. mereka berharap semoga tidak ada sesuatu yang aneh muncul.
Semakin lama pintu itu terbuka semakin lebar secara perlahan. Suara decitan pintu itu menambah perasaan takut mereka. Pintu itu terbuka semakin lebar kemudian menampilkan sosok seorang pemuda berambut putih berkacamata yang mereka kenal.
"Kabuto-san." Seru Naruto, merasa lega karena yang muncul kali ini bukan hantu.
Shikamaru mengerutkan keningnya, ia benar-benar lupa akan keberadaan pemuda satu itu. Sejak ia bangun tadi, seingatnya ia tidak melihat Kabuto di mana pun. Kemana perginya Kabuto tadi? Dan lagi, kenapa dia basah kuyup begitu?
"Kemana saja kau, Kabuto-san?" tanya Sasuke yang sepertinya berpikiran sama dengan Shikamaru.
"Saat aku terbangun tadi, aku melihat luka kalian cukup parah jadi aku berinisiatif untuk memanggil tabib desa untuk memeriksa kalian." Jelas Kabuto.
"Tabib? Lalu, mana tabib yang kau maksud?" tanya Shikamaru.
Kabuto menggelengkan kepala, "Aku tidak membawanya, karena aku tidak pernah sampai ke desa." Jawab Kabuto.
Semua orang di ruangan itu berpandangan heran.
"Apa maksudmu?" tanya Shika.
"Aku sudah sangat hapal dengan jalan gunung ini karena aku sudah tinggal di Oto sejak lahir. Akan tetapi, selama perjalanan menuju desa aku merasa ada yang aneh." Kata Kabuto.
"Ap..apa maksudmu, Kabuto-san?" tanya Hinata.
"Aku merasa kalau aku hanya berputar-putar saja saat menuju desa tadi, karena selama apapun aku berjalan menyusuri hutan, aku selalu kembali ke villa ini." jelas Kabuto.
"Aku sudah berkali-kali menyusuri hutan dan hasil akhirnya tetap sama, aku kembali ke villa ini." lanjutnya.
Hening… tidak ada seorang pun yang bersuara.
CTAAARRR!
Patz
"Kyaaa!" teriak Hinata dan Temari saat tiba-tiba halilintar menyambar dan lampu padam saat itu juga, membuat ruangan itu menjadi gelap gulita.
(/^0^)/
Itachi dan Kurama berlari menuju helikopter yang sudah di pesan sebelumnya. Di lapangan udara itu sudah menunggu juga satuan tim SAR yang di hubungi oleh Itachi.
"Cepat! Kita tidak punya banyak waktu!" perintah Kurama dan langsung melompat memasuki heli.
"Tidak di beritahu aku juga sudah tahu, Kyuu." Kata Itachi dengan nada jengkel.
Setelah duduk di tempat masing-masing, pilot segera menghidupkan helikopter dan terbang menuju Oto.
\(^0^\)
"Hinata! Temari! Kalian baik-baik saja?!" panggil Naruto di tengah kegelapan.
"I..iya, aku baik-baik saja." Jawab Hinata.
"A..aku juga." Jawab Temari.
"Sial! Kenapa lampunya padam disaat begini." Kata Shikamaru.
\(^0^)/
Kurama duduk di belakang pilot dengan gelisah. Ia menghentak-hentakkan kakinya dan menggigiti kuku jempol kanannya. Matanya terlihat penuh amarah
"Hei, Kyuu. Kenapa kau panik sekali? Mereka pasti baik-baik saja, apalagi ada Sasuke dan Naruto di sana." Kata Itachi.
Kurama menatap Itachi nyalang. "Kau bisa mengatakan hal itu karena kau tidak tahu apa-apa!" bentak Kurama.
Itachi mengerutkan kening tidak suka. Ia merasa kesal di bentak seperti itu.
"Apa maksudmu? Memang ada apa di villa itu? Bukankah beberapa tahun lalu kau juga pernah menginap di sana bersama dengan Shisui, Nagato, Konan, dan Karin?" tanya Itachi.
Kurama terlihat sangat frustasi sekarang. "Apa kau lupa dengan apa yang terjadi dengan Shisui dan yang lainnya saat kami pergi ke sana?" tanya Kurama.
Itachi berpikir sejenak. "Mereka meninggal, kalian mengalami kecelakaan saat hendak menuruni gunung dengan mobil yang di bawa Nagato dan hanya kau yang selamat. Itu yang ku tahu." Jawab Itachi.
"Apa kecelakaan bisa membuat jasad mereka tergantung di pohon? Tenggelam di danau yang jaraknya satu kilometer dari tempat kecelakaan? Terbenam di dalam kubangan lumpur hisap?" tanya Kurama.
"Apa maksudmu Kyuu? Aku tidak pernah mendengar tentang hal itu." tanya Itachi, tidak paham dengan apa yang Kurama katakan.
Kurama terlihat ragu-ragu. "Sebenarnya, beberapa tahun yang lalu..."
(-_-)
Shikamaru meraba-raba dinding di sebelah kanannya sambil menyinari jalan di depannya dengan sinar ponsel. Sebenarnya berpisah dari rombongan seperti ini memiliki resiko yang besar. Bisa saja ia yang menjadi korban selanjutnya, tapi ia tidak bisa membiarkan para anak perempuan tanpa penjagaan. Ia masih tidak mempercayai orang yang bernama Kabuto itu.
Sampai di pintu dapur, Shikamaru diam sejenak. Ia bergidik ngeri, teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu yang membuat kondisi dapur seperti terkena gelombang pasang. Pecahan beling di mana-mana, meja yang terbalik dan kursi yang hancur memenuhi dapur itu.
Ia mengarahkan cahaya ponsel ke arah lemari di dekat kompor. Ia berjalan dengan hati-hati agar tidak tersandung, ia membuka laci pertama dari atas dan mencari lilin dan pematik api.
"Hiks..hiks..."
DEGH!
Shikamaru terdiam.
SSRREEEEKKKK...
Suara tangisan dan suara sesuatu di seret di lantai membuatnya berkeringat dingin.
SSRREEEEKKKK...
Ia dapat mendengar suara itu semakin dekat di belakangnya. 'Tenanglah, Shikamaru.' Batinnya, ia menutup rapat matanya.
SSRREEEEKKKK...
Tubuh Shikamaru menegang saat merasakan hembusan nafas di sebelah kirinya. Sangat dekat dengan wajahnya. Ia dapat mencium bau anyir darah.
'Sial! Jangan bilang kalau hantu itu ada di sampingku sekarang!' batinnya panik.
'Apa!? Apa yang harus kulakukan sekarang!?'
"Shikamaru? Kau sedang apa?" Shikamaru membuka matanya seketika. 'Mustahil.' Pikirnya.
Ia melihat ke sekelilingnya. Ruangan itu menjadi terang benderang dan bersih.
Tidak ada meja dan kursi yang rusak. Tidak ada pecahan beling. Ia melihat ke belakang punggungnya. Sakura dan Ino berdiri di ambang pintu.
"Sa..Sakura? Ino?" Shikamaru menatap tidak percaya.
TBC...
A/N:
Gantung lagi! Mwahahahaha! XD /dihajarreaders
Gomen..gomen.. (^0^)a
Sebenernya Ryu mau bikin chap ini chap terakhir. Tapi entah kenapa tambah Ryu bikin, malah tambah panjang ini fict (-,-)
Untuk chap selanjutnya akan Ryu publish secepatnya, di Wattpad & di juga (^0^)/
Ryu juga lagi ngerjain seri horror yang lain XD Rencananya Ryu mau pake char KnB sama OC Ryu :3
Jangan Lupa add ID Wattpad Ryu ya jiuyuu
Thanks For Reading Guys~~~ XD
*kabur
