A/N
UP!
Akhirnya saya melanjutkan cerita ini juga XD
Terima Kasih bagi yang sudah setia membaca fict villa ini. Untuk chapter selanjutnya saya nggak tau kapan bisa up lagi.
Bisa cepat. Bisa juga lamban.
Sekali lagi. Terima kasih untuk pembaca setia villa. Selamat membaca~
.
Disclaimer : Chara milik Masashi Kishimoto
Danger! Typo, OC, OOC, Cerita 3S(Suka Suka Saya)
.
.
.
"Kau sedang apa, Shikamaru? Kami menunggumu sejak tadi." Ujar Ino.
Shikamaru kebingungan.
"Ada apa Shikamaru? Kenapa kau kebingungan seperti itu?" tanya Sakura
"Kalian...apa kalian benar-benar Sakura dan Ino?" tanya Shikamaru. Shikamaru meraba-raba laci di belakang tubuhnya. Ia mengambil sebilah pisau dan menyelipkannya di celana bagian belakang dan menutupinya dengan baju.
Sakura dan Ino saling berpandangan dan mengangkat bahu. "Apa kepalamu baru terbentur sesuatu? Cepat ambil kartunya dan kita mulai main." Kata Ino dan berjalan mendekati Shikamaru.
Shikamaru refleks melangkah mundur dan menabrak lemari di belakangnya hingga bergetar.
"Hati-hati, Shikamaru!" peringat Sakura.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau gugup begitu?" Shikamaru menatap kedua temannya tajam.
"Ino, apa yang biasa kulakukan sepulang sekolah?" tanya Shikamaru tiba-tiba.
"Ha?" Ino bingung.
"Jawab saja pertanyaanku!" bentak Shikamaru.
Ino dan Sakura saling berpandangan, dan tersenyum aneh.
Entah kenapa, atmosfer di antara mereka berubah menjadi kelam.
'Ap..apa ini?' Pikir Shikamaru.
Ruangan itu kembali seperti semula, gelap dan berantakan.
"Shikamaru, ayo ikut denganku."
Entah sejak kapan, Ino menempel di bahu Shikamaru dan berbisik di telinganya.
Shikamaru menjerit kaget dan berusaha berlari menjauh dari Ino. Karena cahaya yang minim, Shikamaru tersandung sesuatu dan terjatuh. Ia segera mendudukkan dirinya dan akan bangun saat sebuah tangan basah mencengkeram kakinya.
"Shikamaru...ayo...ikut kami..." ujar sosok itu dan Shikamaru menjerit ngeri.
Wajah Ino hancur seperti tercabik-cabik dengan sebelah bola mata menggantung di pipi kanannya. Pakaiannya terkoyak di sana sini dan di penuhi lumpur. Ia mencengkeram kaki Shikamaru dengan kuat, berusaha menariknya ke sisi lain ruangan. Shikamaru menendang-nendang dengan brutal dan panik. Berusaha melepaskan tangan basah Ino dari kakinya.
"Shikamaru!"
Shikamaru menoleh, Kiba berdiri di ambang pintu dengan baju di penuhi lumpur.
"Kiba! Tolong aku!" Jerit Shikamaru.
Kiba berlari mendekati Shikamaru dan melemparkan kursi yang tergeletak tak jauh darinya berdiri, membuat Ino melepaskan cengkeramannya.
Kiba segera menarik Shikamaru menjauhi Ino.
Ino menatap mereka dengan wajah hancurnya.
"Kau baik-baik saja Shika?" Tanya Kiba yang berdiri di belakang Shikamaru.
"Ya, terima kasih, Kiba. Kita harus segera pergi dari rumah ini." Ujar Shikamaru dan berbalik menuju pintu yang ada di belakangnya.
Shikamaru membatu di tempat kala melihat wajah Kiba dengan rongga mata kosong yang di penuhi cacing muncul tepat beberapa centi di depan wajahnya.
Sebelum Shikamaru sempat berteriak, Kiba mencekik lehernya dan membantingnya ke lantai.
Hal terakhir yang diingatnya adalah wajah mengerikan Ino dan Kiba yang tersenyum lebar dan suara tawa gadis kecil yang memenuhi pendengarannya.
.
"Kenapa Shika lama sekali?" tanya Naruto.
Sudah lima belas menit berlalu sejak Shikamaru pergi untuk mengambil lilin.
"Na..Naruto." panggil Hinata.
Naruto menoleh.
"Ada apa, Hinata?"
"Ap..apa tidak lebih ba..baik kalau kita me..menyusul Shikamaru?" Tanya Hinata.
"Aku sependapat dengan temanmu itu. Ini sudah terlalu lama kalau hanya untuk mengambil lilin. Bagaimana kalau kita pergi bersama untuk memeriksa keadaannya?" Ujar Kabuto.
Naruto menatap Sasuke, dan Sasuke mengangguk.
"Baiklah, kita akan menyusul Shikamaru. Aku akan berjalan paling depan, Sasuke dan Kabuto-san berjalan paling belakang dan anak perempuan di tengah." Ujar Naruto.
Mereka semua mengangguk dan Naruto membuka pintu. Menjulurkan tangannya yang memegang ponsel terlebih dahulu untuk menerangi koridor, memastikan tidak ada yang mencurigakan di sana.
"Baiklah, sepertinya aman. Ayo." Ujar Naruto dan mulai melangkah keluar.
.
.
.
"Kami sama sekali tidak tahu apa yang kami lakukan saat itu." Ujar Kurama.
"Awalnya kami hanya berkemah di dekat sungai. Karin dan Konan menyiapkan makanan. Nagato dan Shisui masuk ke dalam sungai dan menangkap beberapa ikan. Dan aku mencari kayu bakar untuk membuat api unggun."
Kurama menatap Itachi.
"Saat aku mencari kayu bakar, aku mendengar teriakan Karin dan Konan. Jadi aku langsung berlari kembali ke kemah. Saat aku sampai, aku melihat Shisui membawa sesuatu. Sebuah tengkorak dan kerangka tubuh anak kecil yang utuh."
Itachi terkejut.
"Apa..."
"Aku langsung berlari berkumpul dengan mereka. Mereka bilang kalau menemukan kerangka itu tersangkut di sela batu saat menangkap ikan. Aku dan Konan berinisiatif untuk melaporkan penemuan itu ke polisi. Tapi Nagato menahan kami."
"Apa? Kenapa dia menghentikan kalian?" tanya Itachi.
Kurama terdiam.
"Hei, Kyuu. Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Itachi lagi.
"Kami kembali ke villa. Aku, Konan dan Karin duduk menunggu di kamar Shisui. Nagato dan Shisui menyembunyikan tulang itu di suatu tempat di dalam villa." Lanjut Kurama.
.
"Apa yang ada di dalam pikiran kalian berdua?! Kita harus melaporkan tentang penemuan tulang itu dan membiarkan polisi mengurusnya!"
Kurama membentak Nagato dan Shisui saat mereka memasuki kamar Shisui.
"Tenanglah, Kurama." Ujar Shisui.
"Tenang katamu!? Kalian baru saja menyembunyikan kerangka manusia! Bagaimana aku bisa tenang sekarang!"
"Kurama benar, apa yang kalian rencanakan sebenarnya? Untuk apa kalian menyembunyikan kerangka itu?" Tanya Konan.
Nagato dan Shisui saling melirik satu sama lain.
"Permainan." Ujar Nagato.
Karin, Konan, dan Kurama melihat mereka bingung.
"Permainan? Apa maksudmu, Nagato?" Tanya Karin.
"Benar, permainan. Kita akan bermain dengan menggunakan tulang itu." Ujar Shisui.
Kurama menatap Shisui dan Nagato bergantian dengan tatapan tidak percaya.
"Gila.." ujar Kurama.
"Kalian berdua sudah gila! Permainan apa yang kalian mainkan dengan menggunakan kerangka manusia!? Di mana nurani kalian, huh!"
Konan memijat pelipisnya. Ia merasa lelah sekarang.
"Kalian sudah keterlaluan, hentikan semua ini. Aku akan menghubungi..." ujar Konan, melangkah menuju pintu dan memegang gagang pintu.
Pintu itu terkunci.
Nagato memperlihatkan kunci yang di pegangnya.
"Tidak ada siapapun di ruangan ini yang boleh menghubungi siapapun di luar sana." Ujar Nagato.
"Baiklah, akan kujelaskan cara mainnya." Ujar Shisui tenang dan mengeluarkan sebuah papan dari dalam lemari dan membentangkan papan itu di lantai.
Papan itu berbentuk persegi dengan diameter lima puluh centi. Sebuah bintang segi delapan dan lingkaran yang terbuat dari huruf-huruf kuno memenuhi dasar papan itu.
"Ayo, semua duduk dan kita mulai bermain." Ajak Nagato dan duduk di hadapan Shisui.
Kurama memperhatikan kunci yang di masukkan Nagato ke kantung sebelah kiri jaketnya.
Karin menghela nafas.
"Baiklah, aku tahu ini gila. Tapi kalian berdua harus berjanji. Setelah kita selesai bermain, kalian akan melaporkan penemuan kerangka itu kepada polisi." Ujar Karin dan duduk di sebelah Shisui.
"Apa!? Karin! Kau tahu apa yang kau lakukan?" Protes Konan.
"Lalu apa?! Apa menurutmu kedua orang sinting ini akan melepaskan kita begitu saja? Kau lihat mereka mengunci kita dan mereka tidak akan melepas kita begitu saja sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, kau tahu itu kan?" Ujar Karin.
Konan menatap Kurama. Meminta pertolongan.
Kurama menghela nafas kesal.
"Baiklah!" Ujarnya.
"Kita akan lakukan ini. Cepat selesaikan dan serahkan kerangka itu ke pihak berwajib setelahnya." Lanjutnya dan duduk di sebelah kiri Nagato.
Shisui menatap ke arah Konan.
"Jadi? Kau mau ikut atau tidak?" Tanya Shisui.
Konan menghentakkan kakinya kesal dan akhirnya duduk di sebelah Kurama.
Shisui dan Nagato tersenyum penuh kemenangan.
.
.
.
"Kau sudah gila Kyuu! Bagaimana mungkin kau menyimpan rahasia ini! Karena ulahmu dan Nagato, adik kita dan teman-temannya bisa mati!"
"Kau pikir aku menginginkan hal itu?!" teriak Kurama.
Itachi terdiam, ia menatap Kurama kesal.
"Aku sudah berusaha menghentikan mereka! Tapi kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya mereka. Mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kau tahu itu Itachi."
"Apa bukan karena kau juga tertarik?" Ujar Itachi dengan nada datar.
Kurama menatap tidak percaya.
"Apa maksudmu?"
"Kau tertarik bukan? Kau terlihat sangat antusias saat itu." Ujar Itachi dengan senyum di wajahnya.
Kurama mengernyitkan alis kesal.
"Tidak. Apa maksudmu Itachi?"
"Oh ayolah, kau yang paling menghayati saat membaca mantra pemanggil hantu itu. Kau terlihat saaaangat antusias dan penasaran. Apakah hantu itu akan datang atau tidak."
"Kau...kau bercanda bukan, Itachi? Apa maksud perkataanmu?"
Itachi menghela nafas lelah.
"Baiklah, bagaimana kalau begini?"
Kurama bingung. Ada apa dengan Itachi? Apa maksud perkataan Itachi sejak tadi?
Kurama tersentak kaget saat melihat mata Itachi berubah menjadi hitam seluruhnya.
Itachi mengedipkan mata sekilas dan matanya kembali normal.
"Ka...kau..." ujar Kurama gemetar ketakutan.
"Sudah mengerti?" Tanya Itachi.
"Asal kau tahu saja. Sebenarnya sejak kalian memasuki kawasan Oto tadi aku sudah merasakan keberadaan kalian. Dan, tubuh ini sepertinya membutuhkan sedikit istirahat. Bahuku sedikit kaku." Ujar Itachi sambil menepuk bahunya seperti orang tua.
Kurama memundurkan tubuhnya, menempel disisi pesawat.
"Ap...kau..." ujar Kurama terbata.
"Lama tidak bertemu nii-chan. Mau bermain lagi denganku?" ujar Itachi dengan senyum lebar.
.
.
.
Naruto dan teman-temannya yang tersisa sudah mencari Shikamaru ke sekeliling rumah. Akan tetapi hasilnya nihil. Shikamaru tidak dapat di temukan.
"Bagaimana ini? Shikamaru juga menghilang. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?" ujar Temari panik.
"Na..Naruto." Hinata menatap Naruto khawatir.
Naruto mengepalkan tangannya erat.
"Naruto." Panggil Sasuke.
"Kabuto, menghilang." Ujar Sasuke.
.
.
.
Kabuto membuka pintu tua itu dan suara berderit menggema memenuhi ruangan gelap itu.
Ia menyalakan senter yang di bawanya dan berjalan memasuki ruangan gelap yang di penuhi debu dan sarang laba-laba itu.
Kabuto berjalan menghampiri sebuah kotak di sudut ruangan dan membukanya. Kotak itu berisi sebuah gundukan kecil yang tertutup kain kusam kotor.
Ia membuka kain itu dan debu yang menutupinya seketika bertebaran membuat Kabuto sedikit terbatuk. Ia menatap isi kain itu dan menyeringai mengerikan.
"Akhirnya aku menemukanmu." Ujarnya dan membungkus kembali kain itu dan membawa benda itu keluar dari sana.
.
.
.
(To Be Continued)
