.

Wonwoo terbelalak kaget.

"Kau tak seharusnya bertemu dengan ku. Aku ini seorang vampire. Dan sekarang, kau sedang terjebak di neraka, dalam konteks yang berbeda."

Wonwoo merasa kepalanya pusing, mungkin dia akan pingsan.

Untuk yang kedua kalinya.

Tapi Wonwoo masih bisa menahan kesadarannya. Otaknya bekerja dengan keras mencerna ucapan Mingyu.

"Ne-neraka?" Ulang Wonwoo tidak percaya. Kalau di ilustrasi kan, kepala Wonwoo sudah berasap sekarang karena berfikir terlalu berat.

Mingyu masih mematung di tempatnya. Perlahan-lahan dia mundur. Aroma Wonwoo -lebih tepatnya aroma darah nya- begitu memguar di hidungnya dan benar-benar memabukkan.

Wonwoo menggeleng. "Bohong. Ini sama sekali tak lucu. Sungguh tidak masuk akal." Ucap Wonwoo, menolak penjelasan Mingyu.

"Aku tidak berbohong, Wonwoo. Sebaiknya kau cepat pergi." Sahut Mingyu dingin. Dia merasa tubuhnya memanas saat berdekatan Wonwoo. Aromanya begitu memabukkan. Mingyu tak tahan.

Wonwoo kembali menggeleng. "Aku tahu kau berbohong, sekarang kenapa kau terus-terusan berjalan mundur begitu?" Wonwoo melangkah maju menghampiri Mingyu.

Sedangkan Mingyu terlihat panik. Dia takut tidak bisa menahan dirinya. Mingyu dapat merasakannya dengan jelas bagaimana jantungnya berpacu dan taringnya yang perlahan semakin menyembul. Juga suhu tubuhnya yang terasa makin panas.

"Jangan mendekat Wonwoo, kau bisa celaka." Ucap Mingyu dengan sekuat tenaga menahan dirinya sendiri.

Wonwoo yang tidak percaya akan semua kalimat Mingyu, menganggap nya hanya gurauan. Jadi dia tetap melangkah maju.

"Jangan bercanda lagi, Mingyu. Ini tidak lucu."

Mingyu merasa tubuhnya menabrak dinding sedangkan Wonwoo dua langkah di depannya.

"Ughh-" Mingyu menutup hidungnya rapat-rapat. Dia tidak pernah bertemu manusia sebelumnya, dan Mingyu benar-benar tidak siap. Mingyu takut dia lepas kendali dan berakhir dengan 'memakan' Wonwoo.

"Mingyu, kau tak apa?" Wonwoo kelihatan bingung.

"Argh-" Mingyu mencengkeram bahu Wonwoo tiba-tiba.

Mereka bertatapan dan Wonwoo melihat dengan jelas mata Mingyu yang memerah dan berkilatan mengerikan. Dengan dua taring runcing yang menonjol di sudut bibirnya.

"Mi-mingyu. . ." baiklah, Wonwoo percaya sekarang. Dia menyesal tidak menuruti ucapan Mingyu. Dia berusaha mengelak dari cengkeraman Mingyu, tapi pemuda itu terlalu kuat.

Mingyu terlihat benar-benar mengerikan sekarang.

"Le-lepaskan aku, Mingyu." Wonwoo mulai berkeringat ketika Mingyu mendekatkan wajah ke lehernya. Wonwoo dapat merasakan nafas panas Mingyu yang memburu.

Wonwoo menutup matanya. Dia percaya sekarang, bahwa Mingyu adalah vampir dan sebentar lagi akan menghisap habis darahnya.

Keadaan begitu mencekam. Wonwoo masih berusaha menjauhkan wajah Mingyu dari lehernya, namun sia-sia.

Sret!

BRUKK!

Hening.

Wonwoo perlahan membuka matanya, dan mendapati Mingyu yang tersungkur dengan seorang pemuda berjongkok di dekatnya.

"Hei Kim Mingyu bodoh, kau itu sudah gila, apa?" tanya pemuda itu. Dia memanggul sesuatu di bahunya.

Pemuda itu melempar panggulannya, dan Wonwoo sadar kalau itu adalah seekor rusa yang-entah pingsan atau mati- dengan semua kaki terikat serabut pepohonan.

"Argh-" Mingyu menggeram. Dia masih tergeletak di lantai.

Sementara Wonwoo berjalan mundur menjauhi dua pemuda itu.

"Kau tak apa-apa?" pemuda asing itu menoleh ke Wonwoo. Dia mengamati Wonwoo dari atas ke bawah dengan intens. Wonwoo sampai malu karenanya.

"Hei idiot, cepat bangun. Kau itu gila ya, makhluk semanis ini mau kau makan?" tanya pemuda itu, dengan ujung kaki mengguncang bahu Mingyu.

Wonwoo masih membisu. Dia hanya berusaha menjauh.

Perlahan, Mingyu bangkit. Matanya sudah tidak Semerah tadi. Dan taringnya juga sudah tidak kelihatan.

"Maafkan aku, Wonwoo. Sudah kubilang seharusnya kau menjauh. Aroma tubuhmu benar-benar memabukkan." Ucap Mingyu, menunduk dalam-dalam dengan raut menyesal.

Wonwoo masih diam. Entah dia harus tersanjung atau ketakutan di bilang begitu.

"Ck, memang benar sih. Aroma nya terlalu sayang untuk dilewatkan." Sahut pemuda itu. Mengiyakan kalimat Mingyu.

"Sialan. Sejak kapan kau ada disini?" tanya Mingyu setelah sadar kalau ada orang lain selain ia dan Wonwoo.

Pemuda itu memukul belakang kepala Mingyu cukup keras. "Brengsek. Sejak kau mulai berfikir untuk memangsa pemuda manis itu!" pemuda itu menunjuk Wonwoo yang hanya berkedip di tempatnya.

"Ck. Kau masuk tanpa izin lagi." Gerutu Mingyu. Sebal.

"Cih, kalau aku bisa masuk tanpa harus lewat pintu, kenapa harus repot-repot izin?" tanya pemuda itu balik.

"Terserah, dasar iblis!" rutuk Mingyu.

"Aku memang iblis." Sahutnya enteng.

Wonwoo hanya diam menyimak percakapan dua pemuda di depannya. Diam-diam ia merasa takut.

Tiba-tiba, pemuda itu menoleh ke arah Wonwoo.

"Kenalkan, namaku Wen Junhui. Aku adalah iblis paling tampan di negeri ini!" Ucap Junhui, penuh percaya diri. Mengulurkan tangannya ke depan Wonwoo.

Wonwoo hanya menatapnya ragu dengan tangan gemetar.

Junhui tertawa. "Astaga kau menggemaskan sekali, tidak perlu takut begitu. Aku tak akan menelanmu!" Ucap Junhui, meraih tangan Wonwoo lalu mereka berjabat tangan.

Junhui terpaku ketika menyadari tangan Wonwoo yang terasa lembut dan hangat.

"Sudah, sudah!" tiba-tiba saja Mingyu melepas jabatan tangan Wonwoo dan Junhui. Lalu menarik Junhui menjauh.

"Yak! Tidak usah begitu!" Ucap Junhui kesal.

"Sudahlah, lagi pula mau apa kau kesini?" tanya Mingyu, mengalihkan pembicaraan.

Junhui menepuk keningnya. "Oh, ini aku habis berburu dengan Paman Han, kau lihat, aku dapat seekor rusa. Kita bisa memakan nya bersama." Kata Junhui panjang lebar sambil menunjukkan rusa yang tadi dipanggulnya.

"Tumben sekali kau mengajak ku makan bersama." Komentar Mingyu.

"Ck, kau boleh minum darahnya dan aku akan makan dagingnya."

Mereka asik bercakap-cakap, melupakan Wonwoo yang sudah merinding dan berkeringat dingin mendengar percakapan yang terdengar mengerikan di telinganya.

Tiba-tiba Junhui menoleh ke arah Wonwoo,menunjuknya dengan jari telunjuknya.

Dalam hati Wonwoo bergumam. "Kumohon biarkan aku hidup." Oh ayolah, siapa yang tidak ketakutan berada di dekat iblis dan vampir begini?

"Kau sudah makan?" tanya Junhui.

Wonwoo menggeleng. "Tidak, terima kasih."

"Haish, terima kasih apanya. Omong-omong, apa yang dimakan para manusia?" Junhui bertanya pada Mingyu.

Sementara yang ditanya itu menggeleng. "Apa ya. Mungkin sama saja." Ucap Mingyu. Ia jadi teringat nasi yang di masaknya.

"Oh! Aku tadi menanak nasi, sepertinya sudah matang." Ucapnya lagi. Mingyu lalu menoleh ke arah Wonwoo.

"Wonwoo, kau makan nasi, kan?" tanya nya polos.

Junhui tertawa. "Untuk apa kau menanak nasi, dasar vampir idiot. Memangnya kau ini goblin, apa?" tanya Junhui balik.

Mingyu menggendik. "Tadi kan aku pulang bersama Wonwoo, karena itu lah aku menanak nasi. Karena ia belum makan. Iya kan, Wonwoo?" tanya Mingyu.

Wonwoo mengangguk. "Hngg, iya." Sahutnya.

"Ya sudah, kalau begitu kau siapkan dulu makan malamnya. Aku akan menunggu." Ucap Junhui seenaknya.

Mingyu merenggut. Tapi ia menurutinya.

Sekitar setengah jam kemudian, mereka bertiga duduk mengelilingi sebuah meja makan bundar berukuran sedang. Di atas meja itu sudah disiapkan makanan untuk masing-masing.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Wonwoo merasa kalau itu adalah makan malam paling mengerikan baginya. Bukan, bukan. Bukan karena dia makan malam bersama iblis dan vampir seperti Junhui dan Mingyu.

Tapi karena hidangan yang disajikan. Memang, di depan Wonwoo yang tersedia adalah makanan yang lumrah. Dia disuguhi sepiring nasi, semangkuk sup hangat, dan beberapa potong daging goreng.

Yang menurut Wonwoo mengerikan adalah, makanan yang ada di depan Mingyu dan Junhui. Wonwoo yakin bet kalau yang ada di gelas besar Mingyu adalah darah segar, tercium dari baunya yang anyir. Sedangkan di sisi lain, Junhui bersiap menyantap sebongkah daging mentah, bagian paha. Sepertinya rusa yang tadi ia bawa.

Wonwoo tidak pernah membayangkan akan makan malam dengan bau anyir dan amis menguar disekelilingnya seperti ini.

Bukan jijik. Wonwoo hanya tidak terbiasa.

Mingyu yang menyadari arti tatapan Wonwoo, berinisiatif memberinya saran. "Wonwoo, kalau kau merasa terganggu, kau boleh makan di ruang tamu. Tidak apa-apa. Kami cukup mengerti."

Wonwoo tergagap. Ucapan Mingyu tepat sasaran. Ia jadi merasa tak enak. "Tidak, Mingyu. Aku baik-baik saja." Elak nya.

Junhui menengadah. Menghentikan kunyahannya sejenak. "Benar, Wonwoo. Aku tahu kau merasa terganggu. Baunya pasti tidak nyaman. Maafkan aku."

Wonwoo menggeleng. "Ti-tidak-"

Mingyu bangkit, meraih nampan makanan Wonwoo lalu membawanya ke ruang tamu. Mau tidak mau Wonwoo mengekorinya.

Mingyu menaruhnya di meja depan sofa tempat Wonwoo berbaring tadi. "Nah, makanlah dengan lahap." Ucap Mingyu, tanpa sadar tangannya mengusap kepala Wonwoo dan mengulas sebuah senyuman manis.

Wonwoo merona. Ia tidak tahu mengapa sentuhan Mingyu membuatnya berdebar. "Baiklah." Wonwoo mendudukkan dirinya. Sedangkan Mingyu kembali ke ruang makan.

Wonwoo meraih sendoknya, lalu mencicipi sup buatan Mingyu. Ketika kuah sup itu menyentuh lidahnya, Wonwoo terhenyak. Rasanya di lua ekspektasi nya.

"Enak." Gumam Wonwoo, mulai menyantap makan malam nya dengan lahap. Wonwoo baru sadar, kalau perutnya kelaparan.

Sedangkan di ruang makan, Junhui dan Mingyu duduk berhadapan. Mereka makan dalam diam. Sampai kemudian Junhui bersuara.

"Dimana kau bertemu dengannya? Ini sudah lama sekali sejak ada manusia yang tersesat di dunia kita." Ucap Junhui serius.

"Aku menemukan nya tergeletak pingsan di tepi jalan. Aku tidak menyangka kalau dia manusia. Karena aku sedang buru-buru." Sahut Mingyu menjelaskan, kembali mereguk gelas besar berisi cairan merah pekat dan anyir.

"Aku dengar kau menyembunyikan nya dari Petugas Choi Seungcheol?" tanya Junhui lagi.

"Ya, kau tahu sendiri dia seperti apa orangnya. Aku fikir Wonwoo hanya tersesat. Jadi aku berencana mengantar nya pulang sebelum fajar." Sahut Mingyu lagi.

"Omong-omong Mingyu, kau kabur lagi dari rencana perjodohan mu dengan Puteri Kim Sohye. Kau itu kenapa?" Akhirnya Junhui selesai menghabiskan makanan nya. Kali ini ia menatap Mingyu serius.

"Ck, aku benci perjodohan sialan itu. Aku tidak tertarik padanya." Mingyu berdecak sebal sambil membereskan bekas makannya.

"Kenapa? Kau pasti kena masalah lagi. Raja Kim Jong-un pasti tidak akan memaafkan mu."

"Sudahlah! Aku tidak peduli! Persetan dengan adat kerajaan! Lagi pula Ayahku hanya putera kedua, Pangeran yang tak dianggap. Jadi tidak ada hubungannya lagi denganku." Ucap Mingyu jengkel.

Junhui terdiam. "Ayahmu sudah meninggal, Mingyu." Ucap Junhui dengan nada yang dalam.

"Kau benar, Ayahku Kim Jongin sudah mati, dan bahkan saat pemakaman nya tidak ada yang datang! Dan setelah ini dengan seenaknya raja ingin menjodohkan ku pada anaknya, dengan alasan silsilah keluarga? Cih. Keluarga macam apa." Umpat Mingyu. Kesal bukan main.

"Kau itu satu-satunya penerus keluarga bangsawan vampir, Mingyu." Ucap Junhui mengingatkan.

"Bangsawan macam apa yang hidup belangsak seperti ini?" Mingyu lagi-lagi berdecih.

Junhui terdiam. Dia mencari topik pembicaraan lain yang sekiranya bisa meredakan kekesalan Mingyu.

Ya, menurut garis keturunan, Mingyu adalah bangsawan. Ayahnya adalah adik dari Raja Kim Jong-un yang saat ini memerintah, dan menurut adat kerajaan sudah seharusnya Mingyu di jodohkan dengan saudara sepupunya, Kim Sohye. Untuk menjaga kemurnian keturunan keluarga kerajaan.

Tapi Mingyu tak peduli. Dia sudah menggapai dirinya bukanlah bagian dari keluarga kerajaan. Toh, sejak kecil ia dan Ayahnya dibuang. Hanya karena Ayahnya menikahi koki istana.

Mingyu sudah tidak mau ada sangkut pautnya dengan keluarga kerajaan.

"Oh ya Mingyu, bukankah Wonwoo itu manis? Aku suka sekali melihat ekspresi nya. Dia terlihat lucu saat kebingungan." Ucap Junhui kemudian. Mengalihkan pembicaraan.

Mingyu terdiam. Dia setuju dengan ucapan Junhui bahwa Wonwoo itu manis. Tapi ia tak suka saat Junhui yang mengatakan nya. Entahlah.

"Ya. Baru kali ini aku bertemu orang sepolos dia. Wonwoo bahkan hampir pingsan saat aku tahu kalau aku ini vampir dan dia sedang tersesat di neraka." Sahut Mingyu.

"Hei, berhenti mengatai negeri mu sendiri neraka, Mingyu." Tegur Junhui.

"Memang benar neraka, kan? Tempat macam apa yang dihuni oleh iblis, goblin, manusia srigala, dan vampir kalau bukan neraka?" tanya Mingyu balik.

Junhui tertawa. "Ya, ya, ya. Terserah saja."

Percakapan mereka terhenti ketika mendengar kalimat Wonwoo menyela.

"Ekhem, tadi aku mendengar namaku disebut, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Wonwoo, nampan piring kotor di tangan nya.

Mingyu dan Junhui saling pandang. Mingyu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia merasa kepergok.

"Tidak apa-apa, kami hanya berfikir bagaimana caranya kau bisa sampai disini?" Sahut Junhui. Beruntunglah Junhui sangat pandai mencari alibi.

Wonwoo menghampiri mereka berdua, ikut duduk di kursi meja makan. Dia menaruh nampan nya di meja. Lalu menarik nafas.

"Oh itu, aku bisa jelaskan pada kalian."

Mingyu membenarkan posisi duduknya. Menghadap Wonwoo. "Bagaimana?" tanyanya penasaran. Junhui juga ikut menatap Wonwoo.

Wonwoo menarik nafas lalu mulai bercerita. "Sebenarnya aku tidak tahu pasti apa penyebabnya. Aku berjalan pulang menuju apartemen ku sepulang bekerja di kafe. Kemudian ketika aku sampai di basement, aku menaiki sebuah lift. Biasanya, tidak ada hal aneh dengan lift itu. Tapi malam itu, entah bagaimana, ada tombol merah bertuliskan 'hell' karena penasaran, akupun menekannya. Dan tak kusangka. Itu membuatku berakhir disini. Ketika keluar, aku sudah ada di sini dan kepalaku terasa pening sehingga akhirnya aku pingsan dan saat bangun, aku menemukan diriku di sini." Ucap Wonwoo, menjelaskan panjang lebar kejadian yang dialaminya.

Mingyu dan Junhui saling pandang. Mereka asing dengan beberapa kosa kata yang dipakai Wonwoo.

"Er. . . Lift itu yang seperti apa?" tanya Junhui akhirnya. Mingyu menendang kakinya di bawah meja. Merasa malu dan bingung di saat bersamaan.

Wonwoo mengernyit. "Kau tidak tahu lift?" tanya Wonwoo.

Junhui mengangguk.

"Disini tidak ada lift, apartemen, dan kafe . . . Seperti yang kau bilang." Mingyu menimpali.

Wonwoo tercengang mendengarnya. Tapi kemudian ia teringat sesuatu. Bahwa negeri ini belum semaju tempat asalnya. Di sini bahkan masih menggunakan kayu bakar dan tidak ada listrik, tentu saja mereka tidak tahu. Fikir Wonwoo.

"Hngg bagaimana ya aku menjelaskan nya. Ini akan rumit untuk di mengerti. Tapi akan lebih mudah kalau kalian melihat langsung benda-benda itu."

Mingyu kembali melirik Junhui. Masih tidak paham.

Wonwoo mendengus. "Begini saja, lift itu alat untuk membawamu ke lantai yang lebih tinggi, lalu apartemen itu tempat tinggal ku dan kafe adalah tempat aku bekerja. Kalian paham?" tanya Wonwoo akhirnya.

Mingyu terlihat berbinar. "Sepertinya tempat tinggal mu menarik, Wonwoo. Aku ingin pergi kesana." Ucapnya semangat.

Wonwoo terlihat berfikir sejenak. Boleh tidak ya, dia mengajak Mingyu yang seorang vampir ke tempat tinggalnya, para manusia?

"Mungkin sekali-kali tidak apa-apa." Sahut Wonwoo mengambang.

Junhui tiba-tiba saja berdiri. "Hngg, aku pulang dulu. Ada keperluan. Besok-besok aku datang lagi." Ucapnya berpamitan.

Mingyu berdecih. "Tidak usah datang lagi juga tak apa-apa." Sahutnya Ketus.

Junhui tertawa. "Ya sudah, sampai nanti." Junhui melambai, perlahan tubuhnya mulai berubah menjadi asap hitam kemerahan yang pekat dan perlahan-lahan menghilang hingga tak berbekas.

Wonwoo menatapnya takjub sampai tak berkedip. "Ba-bagaimana bisa dia menghilang dengan cara begitu?" Ucap nya kaget.

Mingyu tertawa. "Semua iblis memang begitu, Wonwoo. Mereka bisa berpindah tempat."

"Teleportasi?" tanya Wonwoo.

Mingyu mengernyit. "Istilah mu terlalu rumit, Wonwoo."

Gantian Wonwoo yang mengernyit heran.

"Oh ya, akan kuantar kau pagi nanti untuk pulang. Sebelum matahari terbit, ya?" tanya Mingyu, sambil membereskan meja makan yang berserakan.

Wonwoo mengangguk. "Tapi apa tidak terlalu pagi?" tanya Wonwoo balik.

"Kita harus pergi sebelum petugas Choi Seungcheol menangkapmu! Dia pasti mengadu dan urusannya jadi runyam." Ucap Mingyu menjelaskan.

Wonwoo menunduk mencerna kata-kata Mingyu.

"Kita?"

Wonwoo menatap tak nyaman ke arah Mingyu.

"Seharusnya kau tak perlu begitu, Mingyu. Di luar hujan deras dan kau memilih tidur di lantai. Kau bisa sakit." Ucap Wonwoo.

Mingyu tersenyum. "Tidak apa-apa, Wonwoo. Aku harus menghormati tamuku. Lagi pula aku akan tidur di depan perapian sehingga tubuhku tidak kedinginan." Sahutnya, dengan sebuah senyuman manis. Bohong, faktanya, Mingyu takut dia tak dapat mengontrol dirinya lagi seperti tadi.

Wonwoo menggeleng, "Kita bisa berbagi ranjang ini, Mingyu. Aku merasa tak enak hati padamu." Sahutnya pula.

Mingyu tertawa. "Ranjang itu hanya cukup untuk satu orang, Wonwoo. Lagi pula memangnya kau tak takut aku mengigit mu saat kau tidur?" tanya Mingyu kemudian.

Wonwoo terdiam sejenak. Terlihat berfikir. Tapi kemudian dia menjawab dengan polos sambil memiringkan kepalanya.

"Tidak, aku tahu kau orang yang baik, Mingyu." Ucapnya yakin. Ia kemudian turun dari kasur sambil menyeret selimutnya, menghampiri Mingyu yang duduk di depan perapian.

Mereka bertatapan. "Kenapa kau seyakin itu?" tanya Mingyu heran.

Wonwoo berjongkok di depan perapian setelah membalut bahunya dengan selimut. Mengulurkan tangannya mendekat ke arah perapian, menghangatkan tubuhnya.

Sejenak Wonwoo mengambil nafas. Lalu berucap dengan suara yang agak serak karena kantuk. Menoleh ke Mingyu, menatapnya dalam.

"Karena kau adalah orang yang sudah menyelamatkan ku. Terima kasih, Mingyu." Wonwoo mengakhiri kalimatnya dengan senyuman manis yang tulus.

Mingyu terpaku melihatnya. Tubuhnya terasa kaku tapi perasaan nya menghangat. Ia merasa dadanya sesak karena perasaan manis yang aneh. Tanpa sadar Mingyu terpesona pada Wonwoo.

"Kau manis, Wonwoo." Gumam Mingyu tanpa sadar, sayangnya Wonwoo sudah kembali sibuk menggosok-gosok telapak tangannya sehingga tidak mendengar ucapan Mingyu.

Mingyu membangunkan Wonwoo tepat ketika mentari baru mulai membiasakan samar-samar di ufuk timur. Sekitar setengah jam dari waktu mentari terbit.

Ia memanggil-manggil nama pemuda itu. Namun Wonwoo hanya bergumam dengan mata terpejam, sepertinya dia kelelahan sampai tidur senyenyak itu.

"Wonwoo, bangunlah. Aku akan mengantar mu kembali ke tempat kemarin." Ucap Mingyu, kali ini ia mengguncang tangan Wonwoo perlahan.

Wonwoo membuka matanya, menjawab dengan suara serak. "Baiklah, tapi aku ingin membasuh wajah terlebih dulu." Sahut Wonwoo, ia turun dari kasurnya dan pergi menuju kamar mandi.

Sementara Mingyu sedang membuka-buka lemari pakaian nya, mencari jubah yang hangat untuk Wonwoo kenakan.

Mingyu memang termasuk orang yang baik, ia gemar menolong orang dan bersikap ramah kepada anak-anak. Itu yang membuatnya disukai banyak orang, sampai-sampai Puteri bungsu raja Kim Jong-un begitu tergila-gila padanya. Tapi meskipun begitu, Mingyu bukanlah seseorang yang mudah jatuh cinta. Dia hanya menganggap bahwa ia harus berbuat baik terhadap sesama, bukan karena tertarik pada seseorang.

Mingyu menarik sebuah mantel dengan tudung yang terbuat dari bulu beruang. Mantel itu tebal dan berwarna cokelat. Mingyu tersenyum. Ini yang ia cari.

"Mingyu, ayo kita pergi." Ajak Wonwoo, dia sudah membasuh wajahnya dan terlihat lebih segar.

"Wonwoo, coba kau kenakan ini. Udaranya masih dingin." Ucap Mingyu, menyodorkan mantel tadi kearah Wonwoo.

Wonwoo meraihnya. Lalu memakainya. "Terima kasih, ini hangat sekali." Wonwoo tersenyum, sampai hidungnya mengkerut lucu.

Mingyu ikut tersenyum melihatnya. Wonwoo terlihat lucu dengan mantel kebesaran itu, tubuhnya tenggelam dalam mantel itu.

"Baiklah, kita pergi sekarang." Mingyu menghampiri Wonwoo, meraih hoodienya, lalu memakaikan nya di kepala Wonwoo. Mereka bertatapan.

Detik berikutnya sama-sama tersenyum.

Mingyu menggenggam tangan Wonwoo, "Ayo. Kita harus cepat."

Tap tap tap.

Mereka mengendap-ngendap menyusuri jalan setapak yang ada di belakang rumah Mingyu. Mereka sengaja mengambil jalan belakang, selain menghindari warga yang lain, juga karena jalan itu lebih dekat dengan tujuan mereka.

Mingyu menghentikan langkahnya. Ia kemudian meraih sebatang sapu lidi bergagang panjang.

"Kau tahu ini, kan?" tanya Mingyu.

Wonwoo mengangguk ragu. "Sapu lidi?" lirih Wonwoo. Dia masih serasa mimpi tersesat di dunia yang dipenuhi makhluk asing dan mereka menggunakan sihir.

Mingyu naik ke atas sapu tadi, memegang gagang nya erat.

"Naik kebelakang ku, Wonwoo. Kita harus cepat sebelum matahari terbit." Bisik Mingyu.

Wonwoo menurut. Tiba-tiba saja ia teringat film fantasi yang sering ditonton nya saat kanak-kanak. Tentang para penyihir yang berpergian dengan sapu terbang. Tapi, Wonwoo tidak menyangka kalau sekarang dia akan merasakan sendiri adegan di film itu.

Wonwoo menempatkan dirinya di belakang Mingyu. Berpegangan pada pundaknya.

"Aku akan terbang dengan cepat, jadi tolong kau berpegangan lah yang erat." Ucap Mingyu, dengan seulas senyum diujung kalimat nya.

Wonwoo mengangguk.

Perlahan, sapu itu mulai melayang di langit. Wonwoo memperhatikan ke bawah, dan ia tercengang saat menyadari bahwa dirinya melayang di udara.

Mingyu melajukan sapunya dengan kecepatan penuh, dan membuat Wonwoo mau tak mau memeluknya erat.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengamati mereka.

"Benar dugaan ku. Dia menyembunyikan nya."

Langit masih berwarna kelabu, meski di ujung-ujung cakrawala sudah nampak semburat-semburat merah dan jingga yang menyembul perlahan. Udara masih cukup dingin. Membuat Wonwoo mau tak mau mengeratkan mantel kulit beruang yang di pinjamkan Mingyu padanya.

Meski begitu, dia suka dengan udara kota ini. Udaranya begitu segar membuat paru-paru nya lapang, tidak seperti Seoul yang udaranya sudah mengandung polusi. Selain itu, Wonwoo juga suka saat tangannya melingkari pinggang Mingyu dari belakang, Wonwoo merasa pipinya bersemu. Udara segar pagi hari bercampur dengan bau khas Mingyu yang duduk di depannya.

Ini pertama kalinya Wonwoo terbang. Lebih-lebih menaiki sapu terbang begini.

"Wonwoo?" Mingyu menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke depan.

"Huh?" Sahut Wonwoo. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Mingyu, membuat nafasnya berhembus di dekat telinga Mingyu.

Mingyu merasakan bulu-bulunya yang merinding. Ia juga merasa aneh dengan jantung nya yang berdebar lebih cepat.

"Kita sebentar lagi sampai, berpegangan lah yang erat." Ucap Mingyu gugup.

Wonwoo mengangguk, lalu tangannya memeluk Mingyu tambah erat. Tak tahu kenapa, Wonwoo merasa nyaman.

Diam-diam, Wonwoo melirik kebawah kakinya, dan dia takjub saat melihat kakinya hampir menyentuh awan-awan yang ada di sekelilingnya. Wonwoo tersenyum. Jadi, begini rasanya berada di langit?

Perlahan-lahan, benda yang melayang-layang itu turun ke bawah, dan mendarat di tepi jalan.

Kemudian dua orang yang menaiki nya turun. Itu adalah Mingyu dan Wonwoo.

"Apa ini akan berhasil?" Gumam Wonwoo.

Mingyu tersenyum. "Kalau memang benar kau datang dengan lift itu, harusnya kau bisa kembali dengan lift itu juga." Sahut Mingyu. Ia menepuk-nepuk bahu Wonwoo, menenangkan nya.

Wonwoo menggigiti bibir nya gugup.

"Hei, kita coba saja dulu." Ucap Mingyu akhirnya.

Wonwoo mengangguk.

Entah sengaja atau tidak, tapi Mingyu meraih tangan Wonwoo, lalu menggenggam nya. Mereka berjalan bergandengan menuju lift itu.

Beberapa langkah, dan Wonwoo berhasil menemukan lift itu. Persis seperti kemarin saat ia datang.

Wonwoo melepas genggaman Mingyu, lalu menekan tombol lift yang ada di depan. Dan pintu lift itu terbuka. Dengan ragu Wonwoo melangkah masuk. Sementara Mingyu mengamati nya dari depan lift.

Wonwoo menoleh sekelilingnya. Dan ia mengernyit karena hanya menemukan sebuah tombol di dinding lift itu. Sebuah tombol berwarna biru metalik dengan tulisan 'back' di dekatnya.

Wonwoo tersenyum. Sepertinya dengan tombol itu ia bisa kembali.

"Mingyu, kau benar! Aku bisa kembali!" Ucap Wonwoo semangat.

Mingyu tersenyum. "Benarkah?"

Wonwoo mengangguk antusias. "Ini, ada tombolnya, aku yakin dengan tombol itu aku bisa pulang!"

Mingyu mengangguk. Ia merasa senang mendengarnya. Tapi entah kenapa ada rasa tak rela kalau Wonwoo pergi secepat itu. Terlebih lagi, mereka belum pasti akan bertemu lagi.

"Mingyu? Kenapa diam?" tanya Wonwoo bingung.

Mingyu menggeleng. "Tidak apa! Ya sudah, sampai jumpa lagi, ya~" Ucap Mingyu, dengan sebuah senyuman di akhir kalimat.

Wonwoo terdiam. "Oh iya, ini mantelmu!" Ucap Wonwoo, hendak membuka mantel yang dipakainya.

Mingyu menggeleng. Ia lalu memakai kan lagi mantel itu di tubuh Wonwoo.

"Tidak apa-apa. Kau simpan saja. Anggap saja kenang-kenangan dari ku." Sahut Mingyu hangat.

Wonwoo mengangguk. "Terima kasih banyak, Mingyu."

"Baiklah, sampai nanti." Mingyu melambai, lalu hendak berbalik pergi.

Wonwoo menekan tombol biru itu. Lalu pintu lift pun tertutup. Wonwoo memejamkan matanya. Kalau-kalau lift itu akan berguncang hebat seperti kemarin.

Beberapa saat, terjadi keheningan. Sampai tiba pintu lift itu terbuka lagi, dan Mingyu menghambur masuk dengan membawa sapu terbang nya.

"Ada apa, Mingyu?" tanya Wonwoo kaget.

Mingyu menoleh. "Pengawas Seungcheol mengejarku!" jawabnya dengan nafas memburu.

Wonwoo tercengang mendengarnya. Tanpa fikir panjang, cepat-cepat Wonwoo menekan tombol biru itu. Dan seketika pintu lift kembali tertutup.

Lalu, lift itu mulai berguncang. Dan terasa seolah-olah terangkat naik ke atas dengan cepat.

Wonwoo memejamkan matanya. Jantung nya berdebar-debar. Sampai kemudian dia merasakan sebuah tangan menggenggam tangannya. Menyalurkan perasaan takut bersama.

Wonwoo merasakan lantai yang di tapakinya semakin bergetar. Dan ia merasa kepalanya mulai pening. Kemudian ia merasakan dua tangan yang merengkuh nya. Memeluknya erat dari samping.

Wonwoo membuka matanya. Mingyu memeluk nya erat dan membuat Wonwoo membenamkan wajahnya di dada pemuda itu.

"Tidak apa-apa, Wonwoo. Aku disini."

Brugh!

Hening beberapa saat. Kemudian terdengar bunyi nyaring khas suara lift terbuka.

Ting!

Kemudian pintu lift terbuka lebar. Wonwoo melepas pelukan mereka. Lalu dengan buru-buru keluar dari lift itu, meski jalannya terhuyung-huyung. Hampir saja terjatuh, kalau Mingyu tidak sigap menangkap tubuhnya.

"Kau tidak apa-apa, Wonwoo?" tanya Mingyu cemas.

Wonwoo tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati sekelilingnya.

Benar, ini adalah basement flatnya.

"Mingyu, kita berhasil! Aku kembali!" Ucap Wonwoo girang.

Mingyu tersenyum. "Baguslah kalau begitu."

Tapi kemudian Wonwoo menyadari sesuatu. "Tapi Mingyu, kenapa kau ada disini? Kau seharusnya tidak mengikuti ku!" Ucap Wonwoo.

Mingyu tertawa. "Memangnya siapa yang tadi menekan tombol lift nya?" tanya Mingyu.

Wonwoo terdiam. Dia kemudian kembali masuk kedalam lift.

Wonwoo terbelalak. Tombol merah yang kemarin malam di lihatnya tak ada. Hanya ada jajaran tombol seperti lift pada umumnya. Wonwoo kebingungan.

Bagaimana ini? Kalau tombol-tombol itu tak ada. Berarti. . . Mingyu tidak bisa kembali ke dunianya?

Wonwoo menatap Mingyu. Ia merasa bersalah.

"M-mingyu, maafkan aku. Tapi tombol-tombol itu tak ada." Lirihnya.

Mingyu terdiam. Tapi kemudian tangannya terangkat untuk mengelus kepala Wonwoo.

"Tidak apa-apa Wonwoo. Itu bukan masalah besar." Sahutnya menenangkan.

"Ta-tapi kau jadi tidak bisa kembali, Mingyu!"

Mingyu terhenyak mendengar nya.

Sementara Wonwoo sudah menahan tangisnya, merasa bersalah.

TBC OR END/?

REVIEW JUSEYO

Note: holla aku balik lagi~ maaf cuma ff yang ini yg di up :" nanti aku janji up the servant deh :"

btw, chap selanjutnya konfliknya mulai keluar, mau kapel Junhao atau jeongcheol yang jadi second lead nya? komen juseyo~