"Ta-tapi kau jadi tidak bisa kembali, Mingyu!"
Mingyu terhenyak mendengar nya.
Sementara Wonwoo sudah menahan tangisnya, merasa bersalah.
Mingyu terdiam. Dia tiba-tiba merasa buntu. Tapi dari pada memikirkan cara pulang, Mingyu lebih memilih untuk bagaimana caranya menenangkan Wonwoo. Tanpa aba-aba, Mingyu meraih Wonwoo kedalam pelukannya.
"Sst, tenanglah. Kita bisa fikirkan itu nanti." Ucap Mingyu menenangkan.
Wonwoo terdiam. Ia melepas pelukan mereka lalu menatap sekelilingnya. Ini sudah siang, beberapa jam lebih maju dari pada di dunia Mingyu tadi. Wonwoo menatap jam tangannya yang masih melingkar, menunjukkan pukul sebelas siang. Tiba-tiba ia melotot kaget.
Lalu merogoh-rogoh sakunya, dan menemukan ponselnya yang sekarat dengan baterai beberapa persen. Dengan cepat Wonwoo memeriksa kalender dan agenda harian nya. Lalu tiba-tiba berseru panik.
"Mingyu, gawat!" Ucapnya sambil mengigiti bibir bawahnya panik.
Mingyu mengernyit heran. "Apa yang gawat?" Mingyu justru balik bertanya.
"Aku terlambat!"
Lalu tanpa berkata sepatah katapun lagi, Wonwoo menyeret Mingyu, membawanya pergi meninggalkan basement apartemen itu.
Wonwoo menarik-narik tangan Mingyu di sepanjang jalan, membuat orang-orang di sekitar mereka menatap heran.
Sementara Mingyu yang berada dalam genggamannya, justru sibuk mengamati sekitarnya. Menatap takjub gedung-gedung pencakar langit yang berjajar di sepanjang jalan dan toko-toko juga restoran yang memenuhi tiap sudut jalan. Apalagi kendaraan yang lalu lalang. Ini pertama kalinya Mingyu melihat hal-hal seperti itu.
Wonwoo mengernyit saat merasakan tarikannya terlepas. Lalu ia menoleh, dan mendapati Mingyu yang berdiri takjub di depan sebuah restoran cepat saji dengan sebuah patung maskot yang dapat menggerakkan tangan nya.
"Wonwoo, ini apa?" Tunjuknya dengan wajah polos pada patung itu.
Wonwoo menarik napas. "Kita buru-buru, Mingyu!" Ucap Wonwoo, alih-alih menjawab ia justru menyeret Mingyu lagi.
Kali ini mereka berlari, menuju halte terdekat yang berjarak seratus meter di depan mereka. Wonwoo melihat bus yang akan mereka tumpangi sudah menepi dan sedang menaikkan penumpang. Tapi dari pada itu, Mingyu lebih peduli pada tangan mereka yang bertaut.
Mingyu menyukainya, entah kenapa ia merasa kalau tangan Wonwoo sangat pas di genggamannya dan mereka terlihat serasi. Mingyu tersenyum, diam-diam dia merasakan sebuah perasaan aneh yang menjalar di dalam dirinya.
"Mingyu, ayo cepat naik!" Seruan Wonwoo menyadarkan nya, Mingyu menoleh dan mendapati Wonwoo yang sudah di pintu bus. Maka cepat-cepat ia naik.
Setelah mereka duduk di kursi kosong terdekat, pintu bus tertutup dan bus mulai melaju.
Sepanjang jalan tak hentinya Mingyu menatap jalan raya dan lalu lintas yang ada dengan tatapan takjubnya seperti anak kecil yang di bawa ke taman bermain.
Wonwoo merasa risih dengan penumpang lain yang tampak menertawakan Mingyu, tapi dia tak tega untuk menegur Mingyu. Wonwoo tak tega membuat senyum lebar yang melengkung di sudut-sudut bibir pemuda itu luntur. Jadi dia memilih diam dan mencoba maklum, karena ini perjalanan bus pertama Mingyu. Meski mereka hanya akan berada di bus selama dua puluh menit.
"Wonwoo, kita akan pergi kemana? Dan apa nama benda ini?" Bisik Mingyu, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Wonwoo. Membuat sosok manis itu merasakan hawa merinding dan geli.
Maklum saja, Wonwoo tak pernah dibisiki oleh vampir sebelumnya.
"Kita akan pergi ke Kafe tempat ku bekerja. Dan sekarang kita sedang naik bus, kendaraan umum." Sahut Wonwoo menjelaskan.
Mingyu mengangguk paham tapi dia ingin bertanya lagi, apa itu kafe. Sebelum Wonwoo menekan tombol di bus dan membuat bus berhenti. Akhirnya, Mingyu menyimpan pertanyaan nya dan memilih melihat sendiri kafe itu.
Wonwoo lagi-lagi menarik tangan Mingyu, dia terlihat seperti seorang kakak yang khawatir adiknya akan hilang di kedamaian. Kenyataan nya, Mingyu lebih tua beratus-ratus tahun darinya.
"Kita sudah sampai~" Ucap Wonwoo. Mingyu yang berdiri di sebelah nya mengamati bangunan di depannya. Lalu dia mengangguk.
Dalam hati Mingyu bergumam, "jadi ini yang di sebut kafe?"
Wonwoo mengernyit saat menyadari bahwa kafe itu kosong dan sebuah plang 'close' menggantung di pintu nya.
Wonwoo cepat-cepat berjalan ke gang samping kafe itu, menuju ke pintu belakang kafe. Sedang Mingyu mengekorinya di belakang.
Di dekat pintu belakang kafe Wonwoo melihat Jeonghan, yang sepertinya baru selesai membuang sampah.
"Jeonghan Hyung! Ada apa?" Tanya Wonwoo sambil menghampiri nya.
Jeonghan menoleh. "Oh, Wonwoo-ya bukannya kau ada kuliah siang ini?" Tanya Jeonghan balik.
"Iya, nanti pukul satu." Jawab Wonwoo. "Lalu, kenapa kafe nya tutup?" Tanya Wonwoo lagi.
"Saluran air nya rusak, jadi Tuan Yoo menyuruh tukang ledeng untuk memperbaiki pipa nya. Jadi kita akan libur sampai dua hari." Sahut Jeonghan menjelaskan.
Wonwoo mengangguk paham. Dia sudah panik dikiranya terjadi sesuatu.
"Oh ya, ayo kau masuk makan dulu. Minghao sedang menyiapkan nasi goreng Beijing buatannya untuk makan siang. Dan, ajak juga pacar mu!" Ucap Jeonghan, menunjuk Mingyu lalu berlalu masuk kedalam.
Mingyu yang tidak mengerti hanya menatap dengan pandangan bingung. Sedang Wonwoo sudah memerah sampai ke telinganya.
Cepat-cepat Wonwoo masuk kedalam, mengejar Jeonghan.
"Hyung, dia bukan pacarku!" Protes Wonwoo.
Jeonghan tertawa sambil menata piring di meja. "Kenapa? Kalian tampak serasi, tuh." Sahut Jeonghan ringan.
Lagi-lagi Jeonghan melirik Mingyu yang berdiri di belakang Wonwoo.
"Hai Wonwoo-ya! Oh, kau membawa pacar mu, ya?" Minghao muncul dari konter dapur sambil membawa mangkuk besar berisi nasi goreng buatan nya yang masih mengepulkan asap.
Wonwoo cemberut. "Sudah kubilang dia bukan pacarku, kami ini hanya teman. Iya, kan Mingyu?" Tanya Wonwoo, meminta dukungan Mingyu atas protes nya.
Mingyu tersenyum. "Iya, Wonwoo." Sahutnya, meski sama sekali tak mengerti, Mingyu hanya tak ingin melihat Wonwoo cemberut.
Jeonghan dan Minghao saling lirik lalu mengulum senyum mereka.
"Ya sudah, sekarang ayo kita makan!" Seru Minghao.
Mereka akhirnya duduk saling berhadapan di sebuah meja persegi yang tidak terlalu lebar. Dan sudah pasti, Mingyu duduk di sebelah Wonwoo.
"Wonwoo kau akan berangkat kuliah sekarang?" Tanya Jeonghan.
"Iya!" Sahut Wonwoo yang berada di ruang loker karyawan, mengganti pakaiannya dan memasukkan beberapa buku kuliah nya ke tas.
Sementara Jeonghan menghampiri Mingyu yang duduk di kursi tempat mereka makan tadi.
Jeonghan duduk di hadapan Mingyu. Dia begitu penasaran pada pemuda itu, karena ini pertama kalinya Wonwoo membawa seseorang ke Kafe.
"Mingyu, ini untukmu." Jeonghan mengulurkan sebuah milkshake cappucino ke hadapan Mingyu.
Mingyu yang baru pertama kali melihatnya merasa takjub. "Terima kasih~" ucapnya ceria.
Jeonghan tersenyum. Sebenarnya dia memberikan itu sebagai sogokan agar bisa menanyai Mingyu.
"Oh ya, omong-omong kapan kau mulai mengenal Wonwoo?" Tanya Jeonghan kemudian.
Mingyu terlihat berfikir sejenak. "Hngg, kemarin?" Sahutnya menggantung.
Jeonghan terbelalak mendengar nya. "Jadi kalian baru saling kenal kemarin dan Wonwoo sudah membawamu kesini?" Tanya Jeonghan refleks. Ia benar-benar tampak terkejut.
Mingyu mengangguk. "Memang nya kenapa?" Tanya Mingyu bingung.
Tapi baru saja Jeonghan akan bicara lagi, Wonwoo sudah muncul menghampiri mereka.
"Yak, Hyung! Apa yang sedang kau bicarakan sih?" Tanya Wonwoo heran. Dari tadi Jeonghan tampak ingin tahu sekali tentang hubungannya dengan Mingyu.
Jeonghan tersenyum. "Oh, kau sudah selesai? Berangkat sekarang?" Tanya Jeonghan, mengalihkan pembicaraan.
Wonwoo mencebik kan bibirnya. "Iya, kami akan pergi sekarang." Sahutnya.
"Baiklah, bawa ini!" Jeonghan memberikan milkshake cappucino lainnya ke Wonwoo.
"Baiklah Hyung, kami pergi dulu!" Pamit Wonwoo. Tangan kanannya kembali menarik tangan kiri Mingyu, sementara Mingyu sendiri, sibuk menyedot minuman di tangannya.
Wonwoo melirik Mingyu yang duduk dengan wajah bosan di sebelahnya. Saat ini Wonwoo sedang ada kelas, mau tak mau Mingyu mengikutinya dan ikut mengikuti pelajaran. Padahal Mingyu sama sekali tak paham apa yang sedang di pelajari nya.
Tadinya, Wonwoo berencana menitipkan Mingyu pada teman-temannya, tapi dia lupa satu hal. Kalau dia tak punya teman akrab di kampus. Jadi akhirnya, Mingyu pun di bawanya kekelas. Teman-teman sekelasnya tak ada yang sadar, mereka menganggap Mingyu adalah mahasiswa angkatan kemarin yang ikut mengambil kelas itu karena tertinggal. Beruntung, dosen mata kuliah itu adalah seorang pria tua yang cuek dan sudah agak pikun dengan mata astigmatisma yang agak parah--bahkan nyaris buta, kalau ia tak mengenakan kacamata nya.
Wonwoo mencolek tangan Mingyu yang sedang merebahkan kepalanya di meja. Membuat pemuda itu mengangkat kepalanya dan menoleh dengan satu alis terangkat.
"Pulang kuliah nanti kuajak kau jalan-jalan. Sekarang, bersabar lah dulu." Bisik Wonwoo di telinga Mingyu.
Pemuda itu balas menatap Wonwoo dengan mata berbinar-binar senang, lalu mengangguk semangat.
Wonwoo tersenyum, kemudian tanpa sadar tangannya mengusak rambut Mingyu. Tanpa sadar, kalau perbuatan nya itu membuat jantung Mingyu berdebar lebih cepat.
"Wonwoo, kita akan pergi kemana?" Tanya Mingyu sambil mengekori Wonwoo yang berjalan di depannya.
"Psst, sekarang ini di dekat kampus ku sedang ada festival kuliner, dan kita bisa mencicipi berbagai macam makanan gratis di sana." Jawab Wonwoo dengan suara yang di pelankan.
Mingyu memiringkan kepalanya bingung. "Apa maksudnya gratis?" Tanya Mingyu tak paham.
Wonwoo kembali berucap pelan, "artinya, kita bisa makan tanpa membayar." Sahut Wonwoo. Kali ini Mingyu mengangguk paham.
Lalu mereka kembali berjalan. Tapi tiba-tiba saja, Mingyu meraih tangan Wonwoo dan menggenggam nya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Wonwoo terdiam memandangi tangan mereka yang bertaut. Dengan kening berkerut. Tapi kemudian dia membiarkan nya, dan kembali berjalan.
Ini pertama kalinya Wonwoo berjalan-jalan dengan seseorang sambil saling menggenggam tangan, ia tidak pernah tahu kalau bergandengan tangan bisa senyaman ini.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu masuk dengan sebuah banner di bagian tengahnya dan tiangnya di penuhi dengan dekorasi dari balon-balon berbagai warna. Dari tempat mereka berdiri, tampak tenda-tenda yang berjajar rapi sebagai stall berbagai macam makanan.
Mingyu menatap festival di depannya dengan wajah berbinar dan mulut yang terbuka, takjub. Dia tidak pernah melihat hal-hal semacam ini.
"Siap?" Tanya Wonwoo, melirik Mingyu yang berdiri disebelahnya, masih menganggumi festival itu.
Mingyu menoleh, lalu mengangguk semangat.
Dan mereka mulai berjalan memasuki area festival. Seketika suasana ramai dan samar-samar musik yang di putar dari pengeras suara menyapa pendengaran mereka. Para pedagang sibuk menawarkan jualan nya kepada para pengunjung yang berlalu-lalang.
Wonwoo menarik tangan Mingyu agar dia tidak menghilang di kerumunan. Wonwoo membawanya ke depan sebuah stall makanan yang menjual berbagai makanan ringan.
"Ahjumma, ini untuk di cicipi kan?" Tanya Wonwoo pada pemilik stall makanan ringan itu.
"Ah ya, sosis-sosis itu untuk di cicipi." Sahut pemilik stall yang sedang sibuk melayani pembeli yang mengerumun di tendanya.
Wonwoo meraih dua sosis dari nampan itu, lalu memberikan satu pada Mingyu, dan diam-diam pergi dari stall itu tanpa membeli apapun.
Wonwoo menarik lagi tangan Mingyu, dan mereka segera berlari dari situ. Mingyu yang paham keadaan, tergelak dengan tawanya. Membuat Wonwoo ikut tertawa dan derai tawa masih terdengar bahkan ketika mereka berpindah stall, untuk mencicipi makanan yang lain.
"Hao-ya, aku pergi duluan, ya. Aku harus pulang karena keluarga ku dari kampung datang berkunjung." Pamit Jeonghan, pada Minghao yang masih sibuk menyusun stok roti di etalase.
"Ah iya, Hyung. Sekalian lewat, bisa kah kau mengantarkan jam tangan ini? Sepertinya milik Wonwoo tertinggal." Ucap Minghao, menunjukkan sebuah jam tangan hitam yang di temukan nya tadi di depan loker Wonwoo.
"Oh, baiklah." Jeonghan menerima jam tangan itu lalu segera berlalu meninggalkan kafe.
Jeonghan berjalan menyusuri trotoar, ia berhenti sebentar di halte sebelum naik ke sebuah bus.
Jeonghan mengamati jam tangan di tangannya. Ini pertama kalinya ia melihat jam tangan seperti itu. Entahlah, menurut Jeonghan bentuknya unik dan agak vintage.
"Apa boleh aku memakai nya? Aku ingin sekali mencoba nya." Gumam Jeonghan pada dirinya sendiri. Sampai ia sampai di halte dekat apartemen Wonwoo, ia masih saja sibuk memandangi jam tangan itu.
Jeonghan menyeberang jalan, kemudian langkah nya terhenti di depan basement apartemen Wonwoo. Jeonghan tersenyum kecil.
"Mungkin tidak apa-apa kalau aku mencoba nya, lagi pula hanya selama di lift." Gumam Jeonghan akhirnya, ia dengan cekatan memakai jam tangan itu di tangannya. Lalu kembali berjalan.
Langkahnya terhenti di depan lift yang menyala. Jari telunjuknya yang panjang menekan tombol lift, lalu menunggunya terbuka.
Ting!
Pintu lift terbuka, dan Jeonghan masuk kedalam nya. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian nya. Sebuah tombol paling atas yang terlihat asing.
Tombol berwarna merah menyala dengan tulisan 'Hell' yang seakan mengeluarkan cahaya merah darah.
Jeonghan mengernyit. Dia bukan tipe orang yang mudah penasaran, tapi entah mengapa tombol itu begitu menarik perhatian nya. Membuat nya mengulurkan tangan dan tanpa sadar menekannya.
Tek!
Beberapa detik, Jeonghan merasa tidak ada yang terjadi, sebelum tiba-tiba saja lift itu serasa merosot jatuh dan dia berteriak histeris.
"AAAAA!!"
"Bagaimana, apa kau kenyang?" Tanya Wonwoo pada Mingyu yang berjalan di sebelahnya.
"Woah, Wonwoo! Yang tadi itu benar-benar menyenangkan. Ya, aku kekenyangan sekarang." Sahut Mingyu antusias.
Wonwoo tersenyum. "Baguslah, ayo kita pulang sekarang." Ajak Wonwoo, lalu mereka meninggalkan pintu masuk festival itu.
Mereka berjalan menuju halte bus. Setibanya di sana, mereka duduk pada kursi-kursi yang ada.
"Mingyu, apa tidak apa-apa kau tak pulang seharian? Bagaimana dengan keluarga mu?" Tanya Wonwoo, membuka percakapan.
Mingyu menoleh, lalu tersenyum. Detik berikutnya ia menggeleng. "Tidak apa-apa." Sahutnya.
"Serius?" Tanya Wonwoo lagi.
Mingyu mengangguk. "Aku hidup seorang diri sejak usiaku lima belas tahun. Ya, itu sudah lama sekali." Ucap Mingyu, ia menatap langit malam, seolah menerawang jauh. Mengingat masa lalu nya.
Wonwoo terdiam, menunggu cerita Mingyu selanjutnya.
"Ayahku adalah adik dari Raja Kim Jong-un, dan dia dibuang dari istana karena menikahi ibuku yang hanya seorang dayang istana. Beberapa tahun berlalu, sampai kemudian sebuah masalah membuat orang tuaku dihukum mati." Mingyu menjeda kalimatnya. Berusaha menahan air mata yang hendak mengalir keluar.
Wonwoo mengigiti bibir bawahnya, merasa tak enak karena membuat Mingyu mengingat masa lalunya.
"Mereka di tuduh mencuri kristal kerajaan yang termasyhur, entah bagaimana caranya tapi kristal itu benar-benar ada di dalam lemari Ayahku. Lalu mereka di bawa ke tiang gantungan. Bukan di gantung, mereka justru di bakar hidup-hidup. Ditonton oleh semua warga." Mingyu mengakhiri ceritanya dengan senyum yang dipaksakan.
Sebenarnya Wonwoo ingin menghentikan kisah yang diceritakan Mingyu, namun bibirnya mengkhianati nya dengan berucap lirih, "Lalu?"
Mingyu menoleh, menatap Wonwoo lurus-lurus tepat di kedua maniknya. "Aku yang masih kecil di bawa oleh tetanggaku, mereka adalah keluarga nya Junhui, dan sejak itulah aku menjadi anak angkat keluarga mereka. Ya, bisa di bilang Junhui adalah kakak angkat ku." Jawab Mingyu, kali ini dia benar-benar menyelesaikan ceritanya.
Wonwoo mengernyit bingung. "Tadi kau bilang kau hidup sendiri sejak usia lima belas tahun?" Tanya Wonwoo tak paham.
Mingyu tersenyum melihat wajah bingung Wonwoo. "Orang tua ku meninggal saat aku masih menyusu, Wonwoo." Sahut Mingyu, dan detik berikutnya Wonwoo tidak bisa menahan air matanya yang mengalir dari sudut matanya.
"Maafkan aku, Mingyu. Tak seharusnya aku bertanya." Ucap Wonwoo menyesal.
Mingyu menggeleng, tangannya mengusap kepala Wonwoo pelan. "Tidak apa-apa, Wonwoo. Lagi pula itu sudah lama sekali." Sahut Mingyu.
Tapi Wonwoo masih terisak dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Oh! Bus nya datang!" Tunjuk Mingyu pada bus yang berhenti di depan mereka.
Wonwoo menyeka air matanya, lalu mereka naik ke bus tersebut.
Mingyu dan Wonwoo turun dari bus, mereka jalan bersebelahan tapi tidak saling menggenggam tangan.
Mingyu mengamati Wonwoo yang beberapa kali menggosok tangannya, nampak kedinginan. Lalu, Mingyu meraih tangan itu, menggenggamnya.
Wonwoo sedikit terkejut dan menoleh dengan wajah bingung nya.
Mingyu tersenyum, "Mulai sekarang, ayo kita saling menggenggam tangan saat berjalan bersama." Ucap Mingyu.
Wonwoo mengalihkan pandangannya. Wajahnya serasa memanas dan samar-samar dia merona. Sementara Mingyu hanya tersenyum melihat tingkah malu-malu Wonwoo.
Mereka berjalan memasuki basement dan Wonwoo terkejut mendapati lift aneh yang membawa nya ke dunia Mingyu tengah terbuka. Wonwoo buru menarik Mingyu dan mengamati nya.
"Mingyu, tombol-tombol nya ada! Kau bisa pulang sekarang!" Ucap Wonwoo semangat.
"Benarkah?" Tanya Mingyu antusias.
"Iya, ayo cepat kau masuk dan segera pulang!" Sahut Wonwoo, mendorong Mingyu masuk kedalam lift tersebut.
Sebelum ia menyadari satu hal dan mereka saling bertatapan.
"Hngg, mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu." Ucap Wonwoo.
"Ya, kita tidak bisa memastikan lift ini akan terhubung setiap hari atau tidak." Sahut Mingyu.
Keduanya terdiam. Sibuk dengan fikiran masing-masing.
"Baiklah Wonwoo, aku pulang sekarang. Kau baik-baik lah disini ya." Mingyu mengusap rambut Wonwoo sekali lagi.
Wonwoo tersenyum. " Iya, kau juga baik-baik di duniamu, ya." Sahut Wonwoo.
"Sampai jumpa!" Wonwoo melambai. Namun Mingyu masih bergeming di tempatnya.
Mingyu menatap Wonwoo tak rela. Lalu, tiba-tiba saja dia maju beberapa langkah, kemudian dengan gerakan yang cepat Mingyu meraih tengkuk Wonwoo. Mendekatkan wajah mereka dan mempertemukan belah bibir mereka.
Wonwoo terkejut tapi dia tidak protes. Di tatapnya Mingyu yang mengecup bibir nya sambil menutup mata. Wonwoo tersenyum di sela ciuman mereka. Lalu ikut menutup matanya.
Detik berikutnya Wonwoo merasakan pemuda itu melumat dan mengulum bibirnya. Lalu ia merasa air mata menetes dan membasahi pipinya, Mingyu menangis.
Mingyu melepas ciuman mereka, lalu mereka bertatapan lagi.
"Akh, maafkan aku. Aku tak pernah begini sebelumnya. Sampai jumpa, Wonwoo." Cepat-cepat Mingyu menekan tombol merah di lift itu, membuat pintu lift tertutup dan membawanya pergi.
Wonwoo masih berdiri di depan lift itu selama beberapa menit, sebelum akhirnya dia menyeka air matanya dan berlalu dari depan lift itu. Naik ke kamarnya menggunakan lift yang lain.
Beberapa hari kemudian.
Wonwoo membalik plang 'open' menjadi 'close' di pintu utama. Ia lalu meregangkan tubuhnya. Rasanya melelahkan karena ini adalah akhir pekan dan kafe benar-benar ramai. Apalagi, dia hanya berdua dengan Minghao saat shift malam, karena Jeonghan tidak datang bekerja selama beberapa hari.
Wonwoo menoleh pada Minghao yang masih sibuk di bagian pastiries menyusun stok yang baru datang ke etalase.
"Hao-ya, apa tidak ada kabar sama sekali dari Jeonghan Hyung?" Tanya Wonwoo pada Minghao.
Minghao menghentikan kegiatannya menyusun pastries di etalase, menatap balik Wonwoo. Sebelum kembali meneruskan kegiatannya.
"Tidak ada, terakhir kali dia bilang harus pulang karena keluarganya berkunjung. Dan tidak ada lagi kabar darinya." Sahut Minghao menjelaskan. Kali ini dia sudah selesai dengan kegiatannya.
Minghao meninggalkan etalase dan menghampiri Wonwoo. Mereka lalu berjalan ke arah ruang loker bersama. Untuk berganti pakaian dan mengambil tas mereka.
"Padahal kafe sedang ramai-ramai nya, tapi kita hanya berdua yang mengurusnya." Keluh Minghao.
"Ya, walaupun Tuan Yoo beberapa kali datang untuk menjaga kasir, tapi tetap saja ini terasa lebih melelahkan." Balas Wonwoo.
Setelah selesai berganti pakaian, mereka keluar lewat pintu belakang, lalu Minghao menguncinya.
"Aku pulang duluan, ya." Pamit Wonwoo, ia benar-benar merasa lelah dan ingin segera tidur di kasur nya.
Minghao mengangguk. "Baiklah, aku akan mengantar kunci terlebih dahulu." Balasnya, melambai pada Wonwoo yang mulai meninggalkan nya.
Wonwoo berjalan menuju halte bus dan menunggu di sana. Beruntung, karena bus segera tiba dan ia pun cepat-cepat naik ke bus.
Tak sampai dua puluh menit, bus nya berhenti, dan Wonwoo segera turun menuju apartemennya.
Wonwoo berjalan menuju basement dengan langkah yang agak cepat.
Tapi kemudian, langkahnya terhenti saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya dengan wajah panik dan penuh peluh.
"Wonwoo!" Panggil orang itu, menghampiri Wonwoo. Serta merta orang itu mengguncang bahu Wonwoo.
"Ke-kenapa kau ada disini, Mingyu?" Tanya Wonwoo kaget.
"Aku akan menjelaskannya nanti, tapi sekarang ada hal yang lebih gawat, teman mu tertangkap petugas Choi, Wonwoo." Ucap Mingyu dengan wajah panik.
Wonwoo mengernyit heran. Dia mengeluarkan sapu tangan nya dan mengusap peluh Mingyu yang mengalir.
"Bicaralah pelan-pelan, Mingyu. Aku tak paham. Teman, temanku siapa, Mingyu?" Wonwoo balik bertanya.
Mingyu terdiam. Membiarkan Wonwoo mengusap peluh nya. Tiba-tiba rasa rindu memenuhinya, dan membuatnya kehilangan kata-kata. Mereka bertatapan. Lalu Wonwoo kembali bertanya.
"Siapa namanya, Mingyu?" Ulang Wonwoo.
Mingyu terdiam sejenak. Berusaha mengingat-ingat.
Beberapa detik berlalu. Tapi Mingyu justru memeluk Wonwoo. Menghirup aroma tubuhnya dengan dalam. Meskipun susah payah Mingyu menahan taringnya agar tidak keluar.
"Aku takut sekali. Ini pertama kalinya ada yang tertangkap oleh petugas Choi, namanya Jeonghan, Wonwoo." Ucap Mingyu akhirnya.
Wonwoo menegang. Dengan cepat dia melepas pelukan mereka. Lalu menatap Mingyu dengan pandangan terbelalak kaget.
"Apa? Jeonghan Hyung tertangkap?" Ulangnya tak percaya.
Dan Mingyu mengangguk kaku.
TBC OR END/?
REVIEW JUSEYO.
ps. Maaf baru update :"))
