"Aku takut sekali. Ini pertama kalinya ada yang tertangkap oleh petugas Choi, namanya Jeonghan, Wonwoo." Ucap Mingyu akhirnya.
Wonwoo menegang. Dengan cepat dia melepas pelukan mereka. Lalu menatap Mingyu dengan pandangan terbelalak kaget.
"Apa? Jeonghan Hyung tertangkap?" Ulangnya tak percaya.
Dan Mingyu mengangguk kaku.
Wonwoo dengan cepat meraih tangan Mingyu, menyeretnya masuk kedalam lift sialan itu. Dia tak bisa memikirkan apapun, otaknya serasa keruh. Berbagai pertanyaan memenuhi otaknya.
Bagaimana kalau Jeonghan tidak bisa kembali?
Bagaimana kalau Jeonghan dihukum?
Bagaimana kalau petugas Choi melaporkan Jeonghan pada raja Kim Jong-un yang sangat kejam itu?
Bagaimana kalau Jeonghan tidak selamat?
Dan ada berbagai macam bagaimana lainnya yang berputar memenuhi otaknya.
Mingyu yang berdiri di sebelahnya, menatap Wonwoo lamat-lamat. Dia tahu kalau pemuda manis itu khawatir, terlihat jelas dari wajahnya yang terlihat panik. Maka dari itu, Mingyu berusaha menenangkannya.
Mingyu meraih kedua bahu Wonwoo, membuat pemuda itu menghadap kearah nya. Mingyu mempertemukan pandangan mereka berdua.
"Wonwoo, tenanglah. Kau tidak perlu sepanik itu. Aku disini bersama mu." Ucap Mingyu. Sorot matanya memancarkan keseriusan yang entah kenapa membuat hati Wonwoo serasa damai.
Wonwoo balas menatap Mingyu. Dahinya mengkerut. "Tapi Jeonghan Hyung-" ucapan Wonwoo terputus.
Mingyu menaruh jari telunjuknya di permukaan belah bibir Wonwoo, mengisyaratkan untuk diam.
"Sst. . . Kita cari jalan keluarnya sama-sama ya."
Wonwoo mengangguk. Sementara Mingyu menatap bergilir tombol lift aneh itu.
"Kau yakin akan pergi ke dunia ku lagi? Ini berbahaya, Wonwoo." Ucap Mingyu, merasa menyesal karena telah menyampaikan berita itu dengan sembrono.
Wonwoo mengangguk, "Aku harus melakukan sesuatu untuk Jeonghan Hyung, dia pasti takut sekali."
Seungcheol duduk sambil memandangi pemuda yang di temukan nya tergeletak di jalan. Dia yakin betul kalau pemuda di depannya ini adalah manusia, terbukti dari aroma nya yang khas dan wajahnya yang asing.
Seungcheol menghela nafas, pemuda itu masih juga tak sadarkan diri di ranjangnya. Ini pertama kalinya dia membawa orang lain-terlebih manusia- kerumahnya, biasanya kalau ada apa-apa ia akan langsung menghubungi petugas kerajaan.
Seungcheol tidak ingin melalaikan kewajiban nya sebagai petugas keamanan setempat, tapi dia merasa tak tega juga kalau pemuda itu di serahkan pada prajurit raja Kim Jong-un.
Karena sudah menjadi hukum, kalau ada manusia yang menyusup mereka harus dimusnahkan dengan cara di masukan kedalam wajan raksasa berisi timah mendidih yang dengan sekejap dapat menghancurkan tubuh.
Seungcheol menatap lamat-lamat wajah yang tak sadarkan diri itu. Diam-diam dia bergumam,
"Cantik." Tanpa sadar tangannya terulur untuk mengusap surai panjang pemuda itu.
Wonwoo keluar dari lift neraka itu dengan keadaan sempoyongan. Meski ini bukan pertama kalinya, tetap saja ia tak bisa menahan mual yang menyerang perutnya karena benturan saat di dalam lift.
Ketika Wonwoo hampir jatuh terhuyung, Mingyu menangkapnya dengan sigap. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kapsul herbal berwarna hijau tua yang pekat.
"Telan ini, Wonwoo. Ini akan mengurangi mual dan pening mu." Ucap Mingyu.
Wonwoo meraih kapsul itu, lalu dengan cepat meminumnya. Sementara Mingyu membisikkan sebuah mantra yang membuat secangkir air muncul di telapak tangannya. Memberikan air itu pada Wonwoo untuk diminum.
"Kita harus buru-buru. Kemungkinan berita tentang Jeonghan sudah tersebar, karena banyak warga yang melihat Petugas Choi membawanya. Jadi, sore ini para prajurit kerajaan pasti akan datang." Ucap Mingyu, menjelaskan.
Wonwoo mengangguk. Meskipun kapsul pemberian Mingyu cukup manjur, ia masih sedikit pening.
Mingyu menatap Wonwoo khawatir, lalu tanpa sepatah katapun, dia menggendong Wonwoo ala bridal.
Wonwoo terkejut. "Mingyu, turunkan aku!" Serunya kaget.
"Tidak Wonwoo, kita tak punya banyak waktu.
Mingyu mengucap mantranya lagi, dan sebuah papan menghampiri mereka. Melayang-layang di depan mereka dengan ketinggian dua kaki.
Mingyu melompat ke atas papan itu, membuat Wonwoo mengeratkan pelukannya di leher Mingyu.
Mingyu kembali bergumam, dan papan itu mulai melaju.
"Petugas Choi! Petugas Choi!"
Suara panggilan keras dan pintu di gedor membuat Seungcheol mau tak mau meninggalkan pemuda yang tergeletak tak sadarkan diri.
Seungcheol sudah tahu kalau yang datang itu adalah Prajurit kerajaan, tapi entah kenapa dia merasa kasihan pada pemuda tadi. Ada semacam rasa iba yang menyuruhnya untuk menyembunyikan pemuda itu.
Maka Seungcheol menutup pintu kamarnya sambil menggumamkan beberapa mantra. Dia bahkan menambahkan ramuan khusus di sekeliling ruangan, untuk menyamarkan bau manusia pemuda itu.
"Ya, aku datang!" Sahut Seungcheol. Kaki-kakinya yang panjang dan tegap menghampiri pintu utama lalu membukanya. Mempersilahkan para prajurit kerajaan itu masuk kedalam rumahnya.
"Celaka." Gumam Mingyu. Ia berdecih saat menyadari prajurit kerajaan datang lebih awal dari pada dirinya.
Sementara Wonwoo yang berdiri di belakangnya menatapnya harap-harap cemas.
"A-ada apa?" Gugup Wonwoo.
Mingyu menarik nafas dalam-dalam. Lalu menatap Wonwoo penuh penyesalan.
"Kita terlambat, Wonwoo." Ucap Mingyu putus asa.
Wonwoo terbelalak mendengar nya.
"Ja-jadi Jeonghan Hyung tidak bisa ditolong?" Ucap Wonwoo terbata-bata.
"Maafkan aku-"
Ucapan Mingyu terputus saat ia mendengar suara ribut-ribut dan bentakan kasar yang berasal dari rumah Seungcheol.
Mingyu dengan cepat memeluk Wonwoo, menyembunyikan nya dalam jubahnya yang lebar dan hitam. Membuat nya terlihat samar di kegelapan.
Mereka melihat beberapa prajurit kerajaan yang keluar dari rumah Seungcheol sambil marah-marah dan membentak-bentak kasar.
"Jangan berbohong, Choi Seungcheol! Cepat katakan dimana orang asing itu?!" Bentak salah satu yang sepertinya berpangkat paling tinggi.
Seungcheol tampak membungkuk dalam-dalam meminta maaf, tapi ia tidak terlihat gentar sedikitpun.
"Saya tidak tahu, Tuan." Ucap Seungcheol tanpa ragu.
"Halah! Sudah banyak warga yang mengadu kalau kau menangkap orang asing dan membawanya ke rumah mu, itu lah sebabnya aku kesini!" Balas orang itu lagi.
"Mungkin Anda mendapat laporan keliru, Tuan." Sahut Seungcheol lagi.
Prajurit kerajaan itu tampak berang. Menatap Seungcheol jengkel.
"Baiklah, ku pegang kata-kata mu itu karena kau orang kepercayaan ku. Beruntunglah raja belum mendengar hal ini sama sekali." Ucap prajurit itu.
"Dan kalau sampai ucapanmu itu dusta, ku pastikan kau akan menggantung di tiang gantungan." Lanjut prajurit itu, mengancam dengan penuh penekanan.
Seungcheol tersenyum tanpa ragu. "Bukan menggantung, Tuan. Tapi di gantung." Balas Seungcheol, mengoreksi kalimat orang itu.
Sang prajurit merasa kian jengkel. "Cih, sombongnya!" Decihnya sebelum meninggalkan teras rumah Seungcheol sambil memaki-maki tanpa henti. Di ikuti oleh serombongan kecil pasukannya yang membentuk iring-iringan kecil. Berlalu meninggalkan rumah kokoh itu.
Meninggalkan Seungcheol yang kembali masuk kerumahnya dan menutup pintu rapat-rapat.
Di tempat persembunyian nya, yang berada di balik pohon ek besar, Mingyu mengerutkan keningnya bingung. Jelas-jelas tadi dia melihat Seungcheol membawa Jeonghan, dia bahkan sempat menyelinap ke kamar Seungcheol untuk memastikan nya.
"Ba-bagaiman, Mingyu?" Tanya Wonwoo yang masih berada dalam pelukan Mingyu.
Mingyu menggeleng bingung. Ia menurunkan jubahnya dan melepaskan pelukan mereka.
"Ini aneh." Gumam Mingyu.
Sekali lagi vampir tampan itu melongokan kepalanya, memastikan iring-iringan prajurit kerajaan itu sudah menjauh.
Setelah semua nya tampak aman, Mingyu menarik Wonwoo. Mereka mengendap-endap ke samping rumah Seungcheol, dan berhenti di pintu belakang nya.
Mingyu mengetuk pintu itu dengan amat pelan. Setelah beberapa ketukan, ia mendengar suara derap kaki yang menghampiri pintu kayu itu.
Pintu berderit, dan Seungcheol menampakkan dirinya. Wajahnya tampak tegas dan kaku seperti biasanya.
"Ada apa?" Tanya Seungcheol ketus.
Tapi tiba-tiba dia mundur beberapa langkah sambil menutup hidungnya.
"Oh astaga Kim Mingyu, siapa yang kau bawa itu, kenapa baunya menusuk penciuman ku?" Tanya Seungcheol dengan kening berkerut.
Wonwoo cemberut, ini bukan yang pertama seseorang bereaksi seperti itu dengan kehadirannya. Waktu itu Mingyu yang mengeluhkan bau tubuhnya. Dan sekarang Seungcheol.
"Aku tidak sebau itu!" Protes Wonwoo sebal. Melipat tangannya dan cemberut.
Mingyu tertawa. "Seharusnya kau bangga, Wonwoo."
Wonwoo mendelik. "Apa yang bisa dibanggakan dari hal itu?" Ketus Wonwoo.
"Kau tahu? Bau mu itu benar-benar kuat, dan memabukkan. Kau bisa saja di kejar oleh seluruh warga negeri ini, kalau kau sembarangan keluyuran." Jelas Mingyu kemudian.
Tapi Wonwoo tetap tidak mengerti maksudnya. Ia memiringkan kepalanya, kembali bertanya. "Apa maksudnya?" Tanya Wonwoo lagi.
Mingyu gemas. Tanpa sadar tangannya bergerak mengusap kepala Wonwoo. "Itu artinya kau santapan yang lezat." Sahutnya, menggoda Wonwoo.
Wonwoo kembali cemberut. "Yak!"
Seungcheol mendengus melihat dua orang di depannya. "Kalau kalian hanya ingin pamer kemesraan, menyingkir lah dari hadapanku." Ucap Seungcheol dengan nada dingin.
Mingyu berdehem. "Sebenarnya kami ingin menjemput orang yang tadi sore kau bawa pulang." Ucap Mingyu akhirnya.
Seungcheol terdiam. "O-orang siapa?" Gugupnya.
Mingyu tertawa kecil. "Kau tidak perlu khawatir, Petugas Choi. Wonwoo ini temannya Jeonghan, orang yang kau bawa tadi." Balas Mingyu.
Seungcheol kembali terdiam. Menelisik Wonwoo dari atas ke bawah.
"Baiklah, masuklah dulu." Ucap Seungcheol akhirnya.
Seungcheol membawa dua pemuda yang mengekorinya itu menuju kamarnya. Sekitar lima langkah di depan pintu, Seungcheol berhenti. Membuat dua orang yang mengikutinya juga menghentikan langkah mereka.
Seungcheol menggumamkan beberapa mantra dan kemudian melanjutkan langkah. Mingyu yang menyadari apa yang dilakukan Seungcheol, diam-diam mengulum senyum. Sepertinya ia paham apa yang terjadi dengan petugas muda yang tegas dan patuh aturan itu.
Seungcheol membuka pintu, dan membiarkan Wonwoo dan Mingyu masuk.
Wonwoo dengan cepat menghambur mendekati ranjang saat mendapati Jeonghan yang terbaring di sana.
"Dia masih belum sadar sejak siang tadi." Gumam Seungcheol.
"Hyung, bagaimana bisa kau ikut tersesat kesini?" Gumam Wonwoo, menatap prihatin Jeonghan yang tergolek lemah.
"Aku pergi sebentar untuk mengambil minum. Dan apakah kalian sudah makan malam?" Tanya Seungcheol, wajahnya terlihat lelah.
"Kami sudah makan, Petugas Choi." Sahut Wonwoo cepat, mendahului Mingyu.
Membuat pemuda vampir di sebelahnya itu keheranan. Dia tahu betul kalau Wonwoo belum makan, dan ia juga yakin kalau dirinya sendiri belum makan.
Wonwoo menyikut pelan Mingyu, memberinya tanda untuk diam.
Seungcheol mengangguk. "Baiklah, aku pergi kebelakang untuk membuat teh herbal dan bubur dahulu." Ucap Seungcheol lagi, hendak berlalu menuju dapur.
Tapi sebelum benar-benar pergi, Seungcheol kembali menoleh kearah Wonwoo dan Mingyu.
"Hngg, kau bilang dia temanmu, kan?" Tanya Seungcheol, menatap bergilir Wonwoo dan Jeonghan yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang nya.
"Iya, petugas Choi." Sahut Wonwoo kalem.
"Jadi, siapa namanya kalau begitu?" Seungcheol kembali bertanya.
"Namanya Jeonghan, Yoon Jeonghan." Sahut Wonwoo cepat.
Seungcheol mengangguk mengerti lalu segera pergi. "Jeonghan ya." Gumamnya.
Tapi kemudian lagi-lagi Wonwoo dan Mingyu mendapati Seungcheol menyembulkan kepalanya dari pintu kamar.
"Panggil saja aku Seungcheol, dan tidak perlu setakut itu padaku, aku tidak menggigit seperti Mingyu." Ucap Seungcheol, memamerkan senyumnya yang manis. Dan segera menghilang.
Mingyu membelalakkan matanya mendengar kalimat terakhir Seungcheol. Sementara Wonwoo di sebelahnya tertawa kecil.
"Kau kan memang menggigit, Mingyu." Sela Wonwoo di antara tawanya.
Mingyu mendengus kesal.
"Oh, Hyung! Kau sudah sadar? Syukurlah." Wonwoo menghampiri Jeonghan yang terlihat kebingungan di tempat nya.
"Wonwoo-ya, ini dimana?" Jeonghan justru balik bertanya sambil mengamati sekelilingnya.
Wonwoo tersenyum. "Aku akan jelaskan nanti kalau kita sudah pulang, Hyung." Sahut Wonwoo.
Jeonghan mengangguk. Memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Hyung, ini kau makan dulu. Tadi kau pingsan sangat lama." Wonwoo menyodorkan sebuah mangkuk keramik berisi bubur itu.
Jeonghan menerimanya dengan perlahan. "Terima kasih." Dan mulai memakan makanan nya.
Wonwoo menghampiri jendela, mengintip keluar. Dan menyadari kalau sekarang sudah hampir fajar. Itu artinya Jeonghan pingsan selama delapan jam.
Kemudian terdengar derit pintu terbuka, dan masuklah Mingyu dan Seungcheol.
"Oh, dia sudah sadar." Ucap Seungcheol, saat mendapati Jeonghan duduk di kasurnya.
Jeonghan mengernyit. "Lho, bukannya dia pacar mu yang waktu itu kau bawa ke Kafe?" Tanya Jeonghan, menunjuk Mingyu yang berdiri di belakang Seungcheol.
Mingyu tersenyum canggung. Lalu menghampiri Wonwoo.
Seungcheol berjalan mendekati Jeonghan, duduk di kursi yang tadi di tempati Wonwoo.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Seungcheol sejurus kemudian.
Jeonghan tersenyum. "Kau yang menolong ku ya?" Tanyanya dengan senyum yang masih mengembang.
Seungcheol mengangguk canggung dan membalas senyum Jeonghan dengan seulas senyum kaku. Dia merasa ada sesuatu yang terbakar di dalam dirinya saat melihat senyum Jeonghan.
"Terima kasih, ya." Jeonghan kembali tersenyum manis.
"Hyung, sepertinya kita harus segera pulang. Aku khawatir liftnya menghilang lagi." Ucap Wonwoo, memecah obrolan malu-malu Seungcheol dan Jeonghan.
"Makanlah dulu, sehabis itu kalian akan kubantu pulang, aku punya jalan rahasia yang hanya dipakai oleh para petugas keamanan." Ucap Seungcheol, pergi kedapur untuk mengambil makanan.
Mingyu terdiam. Ini pertama kalinya Seungcheol bersikap seperti itu. Seungcheol itu petugas keamanan yang paling menjunjung tinggi peraturan dan sangat mengabdi pada pekerjaan nya. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya Seungcheol mengingkari kepatuhan nya sendiri.
Tapi diam-diam Mingyu tersenyum, dia sudah menarik kesimpulan atas sikap Seungcheol.
Tepat bersamaan itu, Seungcheol masuk dengan nampan berisi semangkuk sup hangat dan segelas teh herbal yang masih mengepulkan asap, sepertinya dia memanaskan nya terlebih dahulu.
"Ini. Sup ini akan memberi mu tenaga, dan teh nya akan menghilangkan pening mu." Ucap Seungcheol, dengan senyum lebar andalan nya.
Jeonghan balas tersenyum manis. "Terima kasih."
Senyum yang membuat Seungcheol berdebar-debar tanpa ia sadari.
Ketika langit di ufuk timur mulai memutih, tapi langit di atas kepala masih dipenuhi taburan bintang, Seungcheol mengajak Mingyu,Wonwoo, dan Jeonghan menyelinap dari balik pintu belakang rumahnya.
Seungcheol memakaikan Jeonghan sebuah jubah hitam bertudung yang panjang, sekilas dia terlihat sama dengan gelapnya fajar.
Sementara Mingyu merangkul Wonwoo, berusaha berbagi jubahnya dengan pemuda manis itu.
Mereka berempat menyusuri jalan menuju hutan belantara yang berada seratus meter di belakang rumah Seungcheol.
"Setelah melewati hutan ini selama setengah jam, kita akan sampai di jalan dekat tempat itu." Ucap Seungcheol menjelaskan.
Setelah seperempat jam berjalan, Wonwoo mulai mengeluh telapak kaki nya pegal dan lututnya terasa gemetar. Sepertinya dia kelelahan.
"Mingyu, apa kau tidak punya sesuatu yang bisa membuat kita sampai lebih cepat? Sihirmu atau semacamnya?" Rengek Wonwoo, menarik-narik ujung jubah Mingyu yang menyampir di bahunya.
Seungcheol menyela, "Sayang sekali, di hutan ini sihir tidak akan berfungsi, karena ini adalah hutan tempat tinggal para leluhur kami." Ucapnya menjelaskan.
Wonwoo cemberut. Kakinya benar-benar terasa kebas dan dia benar-benar lelah.
Mingyu menyusut keringat yang menetes dari pelipis Wonwoo, kemudian tersenyum tipis.
Tanpa berucap sepatah katapun, Mingyu meraih Wonwoo kedalam pelukannya, menggendong nya ala bridal.
"Mi-mingyu, turunkan aku!" Wonwoo bersemu malu, tapi tangannya melingkari leher vampir tampan itu.
Jeonghan menggeleng pelan sambil tertawa kecil melihat tingkah malu-malu Wonwoo. Jelas sekali dua orang di belakangnya itu saling menyukai.
Lima belas menit berikutnya, mereka sudah bisa melihat jalan raya kemarin dari tepi hutan. Mempercepat langkah, karena fajar mulai menyingsing dan mentari mulai menampakan sinarnya.
Begitu sampai di seberang jalan, Mingyu menurunkan Wonwoo dari gendongan nya. Lalu mengusap kepala nya lembut.
Tapi baru saja mereka akan memasuki bangunan tempat lift sialan itu berada, sekelompok orang berpakaian prajurit kerajaan menghampiri mereka.
"Ha-ha-ha! Sudah kuduga kau akan melakukannya, Seungcheol. Kau tertangkap basah sekarang!" Ucap salah satu yang berpangkat tinggi, Kang Dongho.
Seungcheol menggeram. Sejak dulu Dongho selalu saja menjadi rivalnya.
Harus kalian ketahui, Seungcheol adalah werewolf, begitu pula dengan Dongho. Dan selama ini mereka bersaing untuk mendapatkan gelar tetua klan.
"Dongho sialan." Desis Seungcheol.
"Apa? Kau mau mengelak? Sudah jelas kau melanggar hukum! Ini pemberontakan, kau akan digantung oleh Yang mulia Raja Kim Jong-un!" Seru Dongho semangat, diakhiri dengan tawa yang terdengar menggelegar di telinga Seungcheol.
"Bajingan! Kau selalu saja mengincarku. Apa mau mu sebenarnya?!" Balas Seungcheol, berang. Mungkin sebentar lagi dia akan shift, terlihat dari bola matanya yang mulai berubah biru.
"Mau ku?! Tentu saja melenyapkan mu, bangsat!" Sahut Dongho, dia juga mulai shift.
Di saat keadaan begitu, Mingyu diam-diam menarik Jeonghan dan Wonwoo untuk segera menghampiri lift itu.
Tapi sialnya, Dongho memergoki mereka. Dia berseru nyaring pada pasukan nya. "Kejar tiga orang itu!"
Beberapa prajurit di belakang nya otomatis mengejar ketiga orang yang ditunjuk.
Sebelum dia shift, berubah wujud menjadi serigala setinggi hampir dua meter dengan berat hampir delapan puluh kilogram. Wujud serigala mema cenderung lebih besar dari wujud manusianya. Apalagi, Dongho termasuk tipe tinggi besar. Dengan otot-otot lengan dan kaki yang kekar.
Sementara di depannya, Seungcheol mulai berubah wujudnya menjadi serigala. Tingginya sama dengan Dongho, hanya saja dia tampak lebih ramping. Tapi satu yang harus Dongho waspadai, meskipun Seungcheol tampak lebih kecil, tapi dia memiliki liur beracun. Karena dia adalah alpha biru.
Tidak seperti Dongho yang merupakan alpha pemimpin--karena ini lah dia terobsesi menjadi tetua klan nya.
Ketika dua serigala itu saling bertarung dengan cakar dan taring mereka, Mingyu sudah berhasil membawa Wonwoo dan Jeonghan kedalam lift.
Beberapa langkah di belakang, pasukan Dongho mengejar mereka.
"Cepatlah pergi, Wonwoo-ya. Kalian harus kembali ke dunia kalian. Ini berbahaya." Ucap Mingyu terburu-buru.
Wonwoo menggeleng cepat. "Tidak Mingyu, kau ikut dengan kami!" Wonwoo menarik cepat Mingyu kedalam lift dengan tangan kanannya. Setelah Mingyu masuk, tangan kirinya menekan cepat tombol lift.
Ting!
Pintu tertutup. Dan segera melaju cepat ke atas seolah tertarik tiba-tiba oleh raksasa atau mungkin kaum Titan.
TBC or END/?
REVIEW JUSEYO
