Ting!
Pintu tertutup. Dan segera melaju cepat ke atas seolah tertarik tiba-tiba oleh raksasa atau mungkin kaum Titan.
Wonwoo menutup matanya rapat-rapat, sedangkan tangan kanannya menggandeng tangan kiri Jeonghan, dan tangan kirinya memeluk lengan Mingyu yang berdiri di sebelahnya.
Selama beberapa menit mereka merasakan lift itu terguncang hebat dan beberapa menit setelahnya, lift itu berhenti.
Wonwoo membuka matanya perlahan, merasakan tangan Jeonghan dalam genggamannya terasa dingin. Ketika ia menoleh, yang di dapatinya adalah wajah pucat Jeonghan. Dan itu membuatnya panik.
Ting!
Pintu lift terbuka lebar-lebar. Mingyu segera menarik Wonwoo keluar dan secara tidak langsung menarik Jeonghan bersama nya.
Begitu kaki mereka menapak basement, lift itu kembali tertutup. Wonwoo menatap khawatir Jeonghan di sebelahnya.
"Hyung, kau tidak apa-apa?" Tanya Wonwoo, tangannya terulur mengusap pelipis Jeonghan yang penuh peluh.
Jeonghan menggeleng cepat. "Aku tak apa-apa." Berusaha menyembunyikan pusing yang luar biasa melandanya.
"Kau tampak pucat, Hyung!" Sergah Wonwoo.
Jeonghan kembali menggeleng pelan. "Aku tak apa, aku pulang dulu." Ucapnya, melepas pegangan Wonwoo di tangan nya. Jeonghan benar-benar ingin segera pergi dari tempat itu, dan berjanji tidak akan pernah kembali lagi.
Sebelum melangkah pergi, Jeonghan melepas jam tangan yang melingkari tangan nya. Mengembalikan jam vintage itu pada Wonwoo.
"Ini jam tangan mu, maaf aku memakai nya. Aku permisi!" Pamit Jeonghan, buru-buru pergi dari situ meski langkah nya terhuyung-huyung.
"Tapi, hyung-" Wonwoo tidak dapat mencegah ketika Jeonghan sudah keluar basement dan menyetop taksi di jalan raya. Ia hanya bisa mengawasi pemuda itu dibawa pergi oleh taksi. Wonwoo menarik nafas panjang. Menatap jam tangan itu.
"Aku tidak mengerti, tapi semua ini dimulai sejak jam tangan ini muncul." Gumamnya. Memasukan jam tangan itu kedalam kantong celananya.
Wonwoo mengalihkan pandangannya ke arah Mingyu yang berdiri di sebelahnya. Mengamati pemuda itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan Wonwoo menyadari satu hal, alasan kenapa kemarin orang-orang menatapnya heran di sepanjang jalan.
Bukan hanya karena Wonwoo yang menyeret-nyeret Mingyu, tapi karena pakaian Mingyu yang terlalu mencolok. Dia tampak seperti orang yang pulang dari festival cosplay dengan pakaian seperti itu.
Mari kita jelaskan. Mingyu mengenakan pakaian berbahan rajutan yang aneh dengan luaran rompi kulit yang tampak terbuat dari binatang asli. Ditambah celana hitam nya yang tampak mengkilap dan sepatu anehnya yang berbahan kulit binatang dengan alas papan kayu dan di lilit oleh tali dari kulit pohon. Jangan lupakan jubah hitamnya yang menggantung di punggungnya.
Wonwoo menghela nafas. "Kau tampak seperti warga Narnia yang tersesat di Seoul." Ucap Wonwoo putus asa. Mau tidak mau, Wonwoo harus membawa Mingyu ke apartemen nya. Agar ia bisa mengganti pakaian Mingyu dengan yang lebih normal.
Wonwoo meraih tangan Mingyu, membawanya menuju tangga ke lantai atas. Dia trauma naik lift.
"Kita akan kemana, Wonwoo?" Tanya Mingyu dalam genggamannya.
"Apartemen ku." Ucap Wonwoo pendek.
Berselang seperempat jam kemudian, mereka sampai di apartemen Wonwoo. Sebenarnya ini pertama kalinya membawa seseorang ke apartemen, selain Jeonghan. Lingkaran pertemanan Wonwoo sempit, dan dia baru pindah ke Seoul beberapa bulan lalu. Untuk seseorang yang pendiam seperti Wonwoo, punya dua orang teman dekat dalam waktu singkat adalah keajaiban. Karena biasanya Wonwoo butuh bertahun-tahun.
Dan kali ini, dia membawa seseorang yang baru seminggu lebih di kenalnya.
Wonwoo menekan password apartemen nya, lalu pintu terbuka. Mempersilakan Mingyu masuk dan pergi ke kamarnya sendiri.
Mingyu sendiri hanya duduk di sofa butut yang ada di ruang duduk Wonwoo. Mengamati sekitarnya dengan mata teliti nya.
Apartemen Wonwoo sempit. Itu yang Mingyu simpulkan. Tempat tinggal itu hanya terdiri dari tiga ruangan, menurut Mingyu. Dengan luas yang jauh lebih kecil dari ruangan-ruangan yang ada di rumah Mingyu.
Beberapa menit kemudian, Wonwoo kembali dengan pakaian di tangan.
"Ini, Mingyu. Pergi lah mandi. Aku akan masak sesuatu untuk di makan." Wonwoo memberikan pakaian itu pada Mingyu. Tapi kemudian dia terdiam. Terlihat berfikir keras.
"Hmm, Mingyu apa kau bisa makan sesuatu selain darah?" Tanya Wonwoo. Seingatnya, vampir di tv hanya makan darah dan tidak pernah makan yang lain. Tapi, Mingyu kan vampir sungguhan, mungkin dia-
"Tubuhku hanya menerima darah, Wonwoo." Sahut Mingyu seadanya.
Dan lenyap sudah dugaan Wonwoo. Pemuda manis itu menghela nafas.
"Baiklah, sekarang kau mandi dulu. Aku akan memasak ramyeon dan makan. Setelah itu kita pergi untuk mencari makanan mu." Ucap Wonwoo akhirnya.
Sementara di lain tempat, Seungcheol dan Dongho masih bertarung. Entah untuk keberapa kalinya mereka saling serang dengan kuku dan taring mereka.
Terlihat beberapa luka cabik di tubuh Seungcheol, sedang moncongnya penuh darah bekas mengigit Dongho.
Sedangkan serigala besar di depannya itu, tidak tampak lebih baik dari Seungcheol, ia juga mengalami luka-luka di tubuhnya. Bahkan bola matanya mulai menggelap. Menandakan energinya mulai habis dan waktu shiftnya tinggal sebentar.
"Ketua Kang, Yang Mulai Panglima Kim meminta kita bergegas kembali!" Teriak seseorang yang menghampiri tempat itu dengan menaiki sapu terbang yang masih melayang-layang di udara.
"Grrrr!" Dongho menggeram, seakan memberi isyarat kalau pertandingan itu belum berakhir. Mundur dengan langkah teratur dan pergi meninggalkan tempat itu. Masih dengan wujud serigala nya, bersama pasukannya.
Seungcheol menatap nyalang sekumpulan orang itu. Dia mendecih. Membuang ludah birunya yang berlumuran darah. Seungcheol mencari tempat yang agak tersembunyi karena mentari mulai naik dan jalan itu mulai ramai di lalui.
Di balik semak belukar, perlahan-lahan wujud manusia Seungcheol kembali. Dia mengucap kan beberapa mantra dan mengubah sebuah daun pisang menjadi jubahnya. Memakainya, lalu buru-buru pergi kembali kerumahnya.
Wonwoo sudah selesai dengan makan ramyeon nya. Tepat ketika Mingyu keluar dalam balutan pakaian yang tadi Wonwoo berikan. Sebuah celana training hitam dengan kaos polos berwarna putih. Mingyu terlihat seperti manusia pada umumnya sekarang. Bukan seperti orang yang tersesat dari Narnia lagi.
"Wonwoo." Panggil Mingyu, sambil tersenyum. Seolah memamerkan kalau dia cocok dengan pakaian yang Wonwoo berikan.
Wonwoo merapihkan bekas makannya.
"Hm, baiklah. Sekarang giliran aku yang mandi. Kau duduklah di situ." Wonwoo menunjuk sofa butut nya dengan dagu. Dan Mingyu menurutinya.
Wonwoo menyalakan tv empat belas inci itu, dan membiarkan Mingyu menonton selagi menunggu nya mandi. Sekilas sebelum masuk kamar mandi, Wonwoo dapat melihat Mingyu yang berbinar-binar menatap layar tv.
Wonwoo diam-diam tersenyum sebelum menutup pintu kamar mandi.
Sekitar lima belas menit kemudian, Wonwoo sudah keluar kamar mandi dengan pakaian ganti. Dia tampak lebih segar dari sebelumnya. Wonwoo menghampiri Mingyu yang tampak ketiduran di Sofanya.
Perlahan Wonwoo mengguncang tubuh Mingyu. Mereka harus pergi mencari makan untuk Mingyu sekarang. Tapi pemuda jangkung itu tak juga membuka matanya.
"Mingyu, bangun! Kau lapar kan? Ayo kita cari makanan mu sekarang!" Ucap Mingyu, kali ini mengguncang tubuh Mingyu lebih keras.
Tapi pemuda itu tak juga bergerak sedikitpun.
Wonwoo jadi panik. Dia meraba kening Mingyu, dan merasakan panas di sana. Juga keringat yang mengucur di pelipisnya. Tunggu dulu, Mingyu demam? Sakit? Atau karena dia belum makan dari kemarin?
Perlahan Mingyu membuka matanya, menatap Wonwoo satu seperti orang sekarat. Tangannya meraih tangan Wonwoo di kening nya, meremasnya pelan.
"Wonwoo, tolong aku. Carikan darah. Aku serasa hampir mati. . ." Ucap Mingyu parau sebelum kembali memejamkan matanya.
Wonwoo kalang kabut. Ia buru-buru keluar dari apartemen nya bahkan dengan serampangan memakai tali sepatunya.
Sambil berlari dia berfikir keras, dimana kiranya dia bisa mendapatkan darah binatang. Sampai kemudian Wonwoo ingat rumah jagal tempat pemotongan sapi di belakang apartemen nya.
Maka buru-buru ia kesana. Beruntungnya Wonwoo membawa uang meski sedikit.
Sampai di depan rumah jagal itu, Wonwoo langsung menerobos masuk. Membuat Paman Shin, pemilik rumah jagal itu kebingungan.
Wonwoo memang sudah kenal pemiliknya, karena kafe tempat nya bekerja biasa memasok daging sapi dari tempat ini.
"Oh, pelanggan nya sedang ramai ya? Kau mau beli berapa kilo, Wonwoo?" Tanya Paman Shin ramah.
Wonwoo menggeleng. "Paman, apa kau punya darah sapi?" Tanya Wonwoo, dengan suara tercekat dan napas tersengal-sengal.
Paman Shin menghentikan kegiatannya memotong daging mentah, lalu menatap Wonwoo heran.
"Untuk apa?" Tanya Paman Shin heran.
Wonwoo terdiam memilih jawaban yang masuk akal. "A-aku ada penelitian!" Sahut Wonwoo. Ia berdoa semoga Paman Shin tidak banyak tanya dan mempercayai nya.
Pria tambun itu meski kelihatan bingung, tetap masuk ke bilik lain dari ruang pemotongan itu. Dan tak sampai dua menit, kembali dengan botol plastik berisi darah sapi yang tampak masih baru.
"Hmm, aku tak tau penelitian macam apa yang kau lakukan. Tapi kau beruntung karena aku belum membuang darah sapi-sapi yang kupotong hari ini." Paman Shin menaruh botol itu kedalam kantong plastik hitam dan memberikan nya pada Wonwoo yang berdiri di tempatnya.
"Berapa yang harus ku bayar, Paman?" Tanya Wonwoo sambil merogoh sakunya.
Paman Shin menggeleng. "Bawa saja, tidak toh biasanya darah itu kubuang." Sahut pria itu.
Wonwoo membungkuk beberapa kali sambil mengucapkan terima kasih. Sebelum pergi dari rumah jagal itu.
Buru-buru kembali ke apartemen nya. Dia takut terlambat dan menemukan Mingyu sudah tak bernyawa. Wonwoo bisa gila.
Dengan tergesa-gesa Wonwoo menekan password apartemen nya. Dan berteriak-teriak seperti orang dikejar setan.
"Mingyu! Ini aku bawa darah! Kau tidak apa-apa kan? Kau masih hidup kan?" Teriak Wonwoo sambil masuk ruang tamu. Dan menemukan Mingyu yang tergolek tak berdaya dengan wajah memucat.
Wonwoo pias. Dia belum pernah menghadapi situasi macam ini sebelumnya. Dan Wonwoo benar-benar tidak punya referensi untuk di andalkan.
Wonwoo bergegas menghampiri Mingyu. Memangku kepalanya yang lemah dengan air mata yang mulai bercucuran bercampur dengan peluh di pipinya.
"Min-gyu, maafkan aku hiks." Ucap Wonwoo terisak-isak. Dengan gemetaran di ambil nya botol berisi darah sapi tadi. Lalu membuka tutupnya, menyodorkan nya ke mulut Mingyu yang pucat.
"Mingyu, minumlah. Kumohon bertahanlah. . ." Wonwoo benar-benar terlihat putus asa. Ia tak mungkin membiarkan Mingyu binasa karena kelaparan.
Perlahan, Mingyu membuka kelopak matanya. Menatap Wonwoo dengan tatapan sayunya dan wajah pucat. Bibir bergetar nya berusaha menenangkan Wonwoo dengan beberapa kalimat baik-baik saja.
"Tidak, Mingyu. Cepat minum darah sapi ini!" Balas Wonwoo.
Mingyu tersenyum, lalu meraih botol plastik berisi cairan merah pekat berbau anyir itu. Mengarahkan nya di belah bibirnya yang kering. Kemudian mereguknya perlahan.
Mingyu merasakan bagaimana cairan itu mengenai kerongkongan nya. Tapi rasanya aneh. Benar-benar tidak seperti darah binatang yang dimakannya. Rasanya aneh dan asing.
Rasa aneh dan asing itu menimbulkan mual di perutnya yang terasa melilit.
"Uhuk! Uhuk!" Mingyu terbatuk-batuk dengan cairan itu memuncrat dari mulutnya.
Buru-buru Wonwoo menarik tisu yang ada di meja tamu, mengelap sudut-sudut bibir vampir tampan itu dengan telaten.
Mingyu menatap Wonwoo. Melihat tatapan penuh harap dari pemuda manis itu, membuat Mingyu mau tak mau menelan darah sapi di mulutnya meski susah payah.
"Bagaimana?" Tanya Wonwoo begitu melihat Mingyu menelan cairan merah pekat itu. Sorot mata putus asa Wonwoo perlahan berganti dengan tatapan berbinar nya.
Mingyu tersenyum. Lalu mengangguk. Berusaha meyakinkan Wonwoo. Tapi hal itu tak bertahan sampai lima menit.
Karena jeda berikutnya Mingyu justru muntah-muntah mengeluarkan semua darah sapi yang baru saja di minumnya. Membuat Wonwoo panik bukan kepalang.
"Mingyu, Mingyu, kau kenapa?" Tanya Wonwoo panik bukan main.
Mingyu menggeleng lemah. "Entahlah. Biasanya aku bisa minum darah apapun. Tapi kali ini, entah kenapa perutku terasa sangat mual. . ." Sahut Mingyu sambil menyeka sudut bibirnya.
Mingyu membenarkan posisi duduknya. Sementara Wonwoo menarik berlembar-lembar tisu untuk mengelap darah yang berceceran di lantai.
"Duh, bagaimana ini?" Gumam Wonwoo, menggigiti bibir bawahnya sendiri.
Mingyu tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Wonwoo-" bohong, karena berikutnya Mingyu justru kembali tak sadarkan diri.
Bruk.
Mingyu ambruk dan terkulai di sofa butut Wonwoo. Membuat pemuda manis yang ada di depannya itu takut setengah mati.
Wonwoo dengan serampangan membuka-buka laci meja ruang tamu nya. Dan menemukan sebuah cutter di laci paling bawah.
Wonwoo menatap bergilir cutter itu dengan Mingyu. Ia dilema. Wonwoo memejamkan matanya perlahan. Menarik napas panjang sebelum mendorong keluar pisau cutter itu dengan telunjuknya.
Perlahan, Wonwoo mengarahkan mata pisau berkilat nan tipis itu kepergelangan tangannya. Dalam hati ia merapalkan doa.
Cresh. . .
Darah segar mulai mengalir dari pergelangan tangan pemuda itu, mengotori kulit nya yang putih pucat. Wonwoo buru-buru menghampiri Mingyu, mengarahkan tetesan darah itu kebelah bibir vampir tampan itu. Sambil kembali menutup mata.
Wonwoo bisa merasakan tangan Mingyu meraih pergelangan tangan nya yang meneteskan darah. Dan bagaimana vampir itu menghisap darah nya. Wonwoo merasa pandangan nya berkabut dan mulai berkunang-kunang. Perlahan ia merasakan tubuhnya limbung.
Saat itu Seungcheol baru selesai merapihkan susunan kayu bakar yang habis di potong nya. Membawa masuk beberapa potong kedalam untuk dibakar di perapian. Tepat ketika segerombolan pasukan kerajaan datang menghampiri nya.
Seungcheol menatap heran sekelompok pasukan itu. Tapi detik berikutnya, ia menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Seungcheol tertawa hambar.
"Kau pasti sudah tahu maksud kedatangan kami!" Seru salah seorang pasukan itu, Park Woojin.
Seungcheol mengangguk. "Ya, aku tahu. Bagaimana keadaan Dongho?" Tanya Seungcheol balik.
Woojin melirik teman-temannya. Kemudian berucap enteng. "Dia masih di rawat tabib di klan nya." Sahut pemuda itu.
Seungcheol tersenyum. Racun air liurnya bekerja dengan baik ternyata. Kalau beruntung, Dongho hanya akan berakhir lumpuh selama beberapa bulan.
Kalau tidak, Seungcheol tidak bisa menjamin bagaimana kedepannya.
"Sekarang kau harus ikut kami!" Teriak Woojin kemudian.
Seungcheol mengangguk pasrah. Dari awal dia memang patuh peraturan. Dia sudah ingkar sekali, tak mungkin ingkar lagi.
"Biarkan aku mengunci pintu terlebih dahulu." Kata Seungcheol tenang, ia kemudian berbalik dan menutup pintu. Membacakan beberapa mantra agar pintu itu tak bisa diterobos sembarangan orang.
"Tiang gantungan untukmu sedang disiapkan." Ucap Woojin lagi. Mengisyaratkan pada pasukan nya untuk membawa Seungcheol.
Dua orang maju, lalu memasang rantai di tangan Seungcheol. Menguncinya erat. Sebelum membawa petugas muda itu pergi dari rumahnya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengamati mereka di balik rimbun pepohonan.
Mingyu terbangun dengan kepala yang masih agak pening dan sebuah lengan berdarah menempel di permukaan bibir nya.
Tunggu, lengan?
Mingyu buru-buru bangkit dan menyempurnakan pandangan nya. Dan yang di dapatinya, adalah Wonwoo yang tergeletak lemah di pelukan nya dengan tangan yang terluka.
Mingyu melebarkan pandangan nya saat sadar apa yang terjadi. Tangannya serta merta meraih Wonwoo kedalam rengkuhan nya. Sambil mengguncang nya perlahan.
"Wonwoo bangun! Maafkan aku!" Seru Mingyu, panik. Mengguncang bahu Wonwoo yang menyandar lemah di dadanya sendiri.
Mingyu merasa matanya mulai memanas. Berbagai fikiran buruk berkecamuk di benaknya.
Bagaimana kalau Wonwoo kehabisan darah karena memberikan darahnya untuk Mingyu?
Bagaimana kalau Wonwoo mati?
Bagaimana kalau-
Mingyu tak sanggup lagi memikirkan semua kemungkinan buruk itu. Dengan air mata bercucuran ia semakin mengguncang tubuh lemah Wonwoo.
"Wonwoo sadarlah! Aku mohon!" Teriak Mingyu frustasi dengan suara serak.
Perlahan, Wonwoo dalam dekapannya bergerak. Mingyu buru-buru mengangkat Wonwoo lebih dekat, mendudukkan pemuda manis itu dalam pangkuannya.
"Wonwoo kau tak apa-apa? Mana yang sakit? Maafkan aku!" Ucap Mingyu buru-buru.
Wonwoo menggeleng lemah. "Kau berisik sekali Mingyu. Aku hanya ketiduran. Aku buruh istirahat." Rengek Wonwoo, tanpa sadar memeluk Mingyu dan menyembunyikan wajahnya di pundak Mingyu.
Mingyu menarik napas panjang. Lega.
Mingyu diam-diam menatap Wonwoo yang kembali memejamkan matanya di pelukan nya. Pemuda itu terlihat terlelap dengan wajah memerah.
Perlahan, Mingyu menggendong Wonwoo seperti bayi koala. Membawanya masuk ke kamar tidur Wonwoo yang ada di apartemen itu.
Dengan penuh kelembutan, Mingyu merebahkan Wonwoo di atas kasurnya. Lalu menyelimutinya.
Mingyu merunduk, kemudian mengecup kening Wonwoo pelan.
"Maafkan aku, istirahat lah yang cukup. Dan terima kasih sudah menyelamatkan nyawa ku, Wonwoo." Ucap Mingyu, sebelum keluar dari kamar itu dan tidak pernah masuk lagi.
Belum juga Mingyu menetralkan hatinya atas keadaan Wonwoo tadi, kali ini Junhui tiba-tiba muncul di hadapannya dengan jubah merah darahnya, tepat ketika Mingyu menutup pintu kamar Wonwoo.
Hampir saja membuat jantungnya merosot ke bawah.
"Junhui! Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Mingyu heran.
Junhui tiba-tiba mencengkeram bahu Mingyu. "Celaka! Benar-benar celaka!" Seru Junhui berapi-api.
Mingyu mengernyit heran.
"Ada apa?"
"Petugas Choi sudah di adili, dan dia akan di gantung besok, Mingyu!" Sahut Junhui cepat.
Mingyu melotot mendengar nya. "Apa? Hukum gantung?" Ulang Mingyu dengan suara bergetar.
Dan Junhui mengangguk putus asa.
TBC or END/?
