Mingyu melotot mendengar nya. "Apa? Hukum gantung?" Ulang Mingyu dengan suara bergetar.
Dan Junhui mengangguk putus asa.
"Bagaimana bisa?" Tanya Mingyu masih dengan raut terkejutnya.
Junhui menarik nafas. "Kalian ketahuan, dan masalahnya, Seungcheol juga hampir membunuh Dongho dengan liur beracun nya. Kau tahu sendiri kalau dalam klan serigala itu loyalitas adalah segalanya. Pengkhianatan berarti hukuman mati." Sahut Junhui menjelaskan.
Mingyu paham. Terakhir yang diingatnya adalah Seungcheol memang shift menjadi serigala dan bertarung dengan Dongho. Sebagai alpha biru, wajar Seungcheol mengandalkan liur beracun nya untuk melindungi diri.
Tapi yang Mingyu tidak paham adalah, bagaimana caranya iblis tampan di depannya ini sampai ke dunia manusia?
"Junhui, bagaimana caranya kau bisa tiba-tiba ada disini?" Tanya Mingyu kemudian.
"Aku teleportasi menggunakan keberadaan mu. Tadinya aku mencari-cari mu untuk menyampaikan berita hukuman Seungcheol. Tapi kau tidak di rumah. Lalu aku menyusul mu dengan teleportasi." Sahut Junhui enteng.
Mingyu mengernyit. "Jadi kau tidak naik lift sialan itu?"
Junhui justru balik bertanya dengan wajah bingung. "Apa itu lift?"
Mingyu mengusak rambut nya kasar.
"Sudahlah lupakan saja. Yang terpenting sekarang kita harus memikirkan cara untuk menyelamatkan Seungcheol." Ucap Mingyu, gusar.
Junhui mengernyit. "Kenapa juga kita harus menyelamatkan Seungcheol?" Tanya nya remeh.
Mingyu memutar bola matanya. "Ya lalu kau akan membiarkan si Seungcheol itu di gantung di alun-alun istana, lalu mayatnya di lemparkan pada segerombolan burung gagak hitam peliharaan bajingan bermahkota itu?" Tanya Mingyu balik.
Junhui menggaruk pelipisnya, nyengir. "Ya tidak begitu juga, sih." Sahutnya pelan.
Mingyu mencibir. "Bagus, sekarang kita harus kembali."
Mingyu berjalan mendahului Junhui menuju pintu keluar. Sebelum kalimat Junhui menginterupsi langkahnya.
"Bagaimana dengan Wonwoo?" Tanya Junhui, menggerling kearah pintu kamar Wonwoo yang tertutup rapat.
Mingyu menggeleng cepat. "Wonwoo tidak boleh terlibat lagi, ini terlalu bahaya. Lagi pula, dia butuh istirahat."
Junhui hanya mengangguk mengiyakan.
Mereka meninggalkan apartemen Wonwoo dan berjalan menuju basement. Tempat lift neraka itu berada.
Selangkah sebelum masuk kedalam lift, Junhui menahan lengan Mingyu. Membuat pemuda itu menoleh dan menaikkan sebelah alisnya,
"Apa?"
"Dari tadi aku mencium wangi Wonwoo di tubuhmu. Kalian bercinta?" Tanya Junhui, frontal. Dilengkapi senyum mesum menggelikan.
Mingyu melotot mendengar nya. "Tidak." Sahutnya cepat.
"Lalu?" Tanya Junhui lagi. Tiba-tiba iblis tampan itu menyeringai jahil.
"Kau meng-klaim nya?" Tanya Junhui lagi, kali ini dengan senyum yang lebih mesum dari sebelumnya.
Mingyu menghela nafas. Junhui tidak akan pernah berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawaban menyeluruh.
"Aku tadi hampir mati karena belum makan sejak kemarin. Biasanya aku tahan sampai tiga hari, tapi tadi itu aku benar-benar merasa sekarat. Wonwoo sudah mencarikan darah binatang untuk ku, tapi entah kenapa tubuhku tidak bisa menerimanya. Akhirnya, dengan panik Wonwoo melukai tangannya dan membiarkan ku menghisap darah nya dalam keadaan setengah sadar." Jelas Mingyu panjang lebar.
Junhui terdiam. Lalu menepuk-nepuk pundak Mingyu.
"Tetap saja, dengan begitu darah kalian sudah menyatu dan kau tahu sendiri resiko nya, Mingyu." Ucap Junhui prihatin.
Mingyu menghela nafas lesu. "Kita fikirkan itu nanti."
Mingyu menarik Junhui masuk kedalam lift, menekan tombol merah darah yang menyala di ujung deretan tombol, seperti yang Wonwoo lakukan sebelumnya.
Ketika lift itu melayang jatuh, waktu tepat menunjukkan tengah malam. Masa di mana distorsi ruang dan waktu antara dunia bawah dan dunia atas saling terhubung.
Ruangan itu remang-remang, hanya di terangi oleh obor-obor berukuran kecil yang di pasang di dinding-dinding tanah.
Sekilas, tempat itu seperti gua karena letaknya di bawah tanah. Kenyataan nya, tempat itu adalah penjara istana yang dipakai untuk menyiksa para tahanan sebelum menerima hukuman akhir.
Di salah satu sudut, Seungcheol terlihat berdiri membungkuk dengan kepala yang nyaris menyentuh lutut nya. Tangan-tangan nya di rantai dan diikat ke dinding gua yang terdiri atas batuan dan tanah. Begitu pun kakinya.
Tepat di bawah kepalanya yang merunduk itu, darah berceceran dan tampak masih baru, berasal dari wajahnya yang babak belur dengan mulut penuh darah yang masih menetes ke tanah.
Sebagai manusia serigala, apalagi Seungcheol adalah alpha biru, dia memiliki kekuatan regenerasi yang cepat, dan lukanya bisa segera sembuh dengan sendirinya. Tapi nyatanya, dia sudah sekarat karena rantai-rantai yang melilit tubuhnya di bubuhi mantra khusus yang melemahkan kekuatan nya.
Sekitar setengah jam yang lalu, dia baru saja di pukuli bergilir oleh algojo istana. Seungcheol sendiri tak paham kenapa ia harus di hajar sampai semaput begini, padahal besok pagi dia sudah mati di tiang gantungan.
Tapi otaknya tak lagi ingin memikirkan itu. Dia lelah fisik dan mental. Dua hari dia di tahan, dan selama itu pula yang di dapat nya hanya siksaan.
Sayangnya, Seungcheol yang terlalu patuh menerima siksaan itu sebagai balasan setimpal atas pengkhianatan yang dilakukan nya-- dia membela manusia dan hampir membunuh rekan satu klan nya.
Di saat Seungcheol kelelahan mengambil nafas putus-putus, ia mendengar suara gemerisik yang menghampiri sel nya yang dilapisi jeruji besi dengan mantra yang kuat.
Seungcheol meringis, ia mengira itu gerombolan algojo yang akan menghajarnya lagi. Seungcheol mengangkat kepalanya dengan lambat dan seketika pening menyerang nya, seakan bagian belakang kepala nya di tiban oleh batu sebesar sapi.
Tapi kemudian, apa yang dilihatnya membuatnya membelalak.
Ya, itu adalah iblis tampan putera kesayangan Tuan Wen, salah satu bangsawan terhormat di dunia bawah.
Dengan temannya, Kim Mingyu. Keponakan yang mulia raja Kim Jong-un, si pemberontak.
"Min-gyu . . .Jun-hui- kalian. . . hah, sedang. . . apa?" Tanya Seungcheol tersengal-sengal, dengan napas putus-putus. Peluh mengucur deras menyatu dengan tetesan darah. Membuatnya terlihat makin memprihatinkan.
Mingyu berbisik, "Pssts, kami akan membawamu kabur. Tidak seharusnya kau pasrah pada bajingan bermahkota itu."
Seungcheol melotot. Lalu dia menggeleng keras sekuat tenaga. "Ti-dak, Mingyu. Ja-jangan macam. . .-macam." tolaknya, bahkan ketika sekarat, Seungcheol masih saja menjunjung tinggi loyalitas nya terhadap peraturan.
Junhui mendelik. "Kau diam saja, petugas kaku. Cukup aku dan Mingyu yang melakukan nya."
Seungcheol lagi-lagi menggeleng, dia bahkan menepis tangan Mingyu saat pemuda itu akan melepas rantainya.
Junhui kesal, dengan sebelah tangan, ia memukul tengkuk Seungcheol. Membuat petugas keamanan itu kehilangan kesadaran. Padahal pukulan Junhui tak seberapa.
Mingyu melotot "Kau gila?!" Makinya pada Junhui.
Junhui mendecakkan lidahnya. "Habisnya dia berisik. Sudah cepat buka rantainya. Ini mantra kaum vampir, aku tidak bisa membukanya." Sahutnya enteng.
"Kalau dia mati, bagaimana?!" Mingyu masih tak terima dengan kelakuan Junhui yang seenaknya. Hei, mereka susah-susah datang kesini untuk menyelamatkan Seungcheol, bukan membunuhnya.
Lagi-lagi Junhui mendecakkan lidahnya. "Berisik. Dia takkan mati semudah itu. Sudah cepat lepaskan!" Kata Junhui seenaknya, dengan nada memerintah.
Mingyu merenggut tapi tetap merapalkan mantra nya. Mencoba membuka rantai-rantai itu.
Untuk masalah mantra, bangsa vampir memang memiliki sihir yang paling kuat.
Tapi Mingyu tiba-tiba saja mengumpat. "Sial! Aku belum tamat kitab yang ini!" Kesalnya, saat sadar hafalan mantra untuk rantai-rantai itu belum selesai di rampungkan nya.
Junhui mendelik. "Kubilang juga apa, hafalan yang benar, jangan hanya memainkan papan kayu mu itu!" Ejeknya.
Mingyu balas menatap sinis Junhui. "Kau bahkan belum hafal kitab jilid dua." Balas Mingyu tak mau kalah.
Junhui hanya menggendikkan bahunya.
Mingyu kembali mencoba fokus. Ia mulai merapalkan mantra-mantra lagi, sampai kemudian suara gemerincing besi terdengar, rantai-rantai yang mengukung Seungcheol lepas dan jatuh ke lantai.
Dengan sigap, Junhui memapah tubuh lemah Seungcheol, Mingyu membantu nya memapah bahu lainnya. Lalu kemudian, mereka lenyap dalam sepersekian detik. Melakukan teleportasi.
Mingyu dan Junhui membawa Seungcheol ke tempat lift yang terhubung dengan dunia manusia itu. Menimbang-nimbang apakah mereka harus kabur lagi ke dunia atas?
"Mingyu, seharusnya kita membawa dia ke Surga. Kita bisa menemui Tabib Zhang di sana." Ucap Junhui.
"Tapi itu terlalu jauh, Junhui. Bisa-bisa Seungcheol keburu mati." Sergah Mingyu.
"Lalu kau akan membawa nya ke mana? Jelas-jelas kita akan tertangkap sebentar lagi!" Dengus Junhui. Sebenarnya ia tak mau repot-repot mempertaruhkan dirinya untuk orang lain begini.
Toh bagi Junhui, Seungcheol hanyalah petugas keamanan sialan yang sering meneriakinya saat ia mengerjai rusa-rusa yang sedang berjemur.
Mingyu kembali berfikir. Menurutnya, untuk sementara ada baiknya mereka membawa Seungcheol ke dunia atas, untuk menyembunyikan nya.
Kalau mereka membawa Seungcheol ke tanah seberang-surga-, kemungkinan besar mereka akan tertangkap sebelum sampai menemui tabib Zhang. Karena sudah jelas bajingan bermahkota itu pasti akan memerintahkan bala tentaranya untuk mengejar mereka meski sampai ke ujung dunia bawah.
Mingyu mengusap wajahnya kasar. Tapi kemudian ia memapah Seungcheol masuk kedalam lift. Seungcheol itu wolves, dia akan cepat sembuh hanya dengan menutup lukanya dan beristirahat sampai regenerasi sel nya selesai. Asalkan di beri banyak daging, Seungcheol bisa cepat sembuh.
Setelah keadaan nya membaik dan para pasukan itu berhenti mengejar, barulah mereka pergi ke rumah tabib Zhang di surga, untuk memeriksa luka dalamnya. Begitu fikir Mingyu kira-kira, di sisi lain, Mingyu juga setidaknya bisa mengobati Seungcheol sedikit-sedikit.
Omong-omong soal surga, itu adalah tanah yang jauh dari negeri neraka. Letaknya di seberang sungai Kematian yang mencekam. Sungai itu sangat panjang dan luas jarak tepi ke tepian lainnya. Setidaknya membutuhkan perjalanan hampir sebulan. Dan, tidak bisa di tempuh dengan teleportasi.
Dan bagian terburuknya, ketika akan menyeberang mereka harus berhadapan dengan pemilik bahtera, yang akan menanyai mereka dengan beberapa pertanyaan sulit, dan hanya orang yang rajin mempelajari kitab sihirlah yang mampu menjawab.
Sekalipun mereka berhasil mendapatkan pinjaman bahtera, isi sungai itu lebih menyeramkan. Ikan-ikan disana suka sekali melompat-lompat keluar air sungai yang berwarna hitam kelam itu.
Tidak, jangan berfikir kalau ikan-ikan itu hanyalah ikan sungai biasa. Ikan itu adalah hewan bersisik dari duri dan memiliki barisan gigi runcing yang mampu memutuskan lengan hanya dengan sekali gigit. Di tambah lagi, ikan-ikan itu sangat sensitif, mereka akan menyerang kedalam bahtera jika penumpang nya berisik.
Bahkan, di dalam sungai itu juga terdapat siluman kepiting raksasa, sang pemilik sungai.
Kalau sedang beruntung, akan sampai di tepian menuju surga tanpa menemui raja kepiting itu. Kalau sedang sial, kalian harus mempersembahkan hal yang diminta raja kepiting itu. Apapun itu, bahkan nyawa teman sekalipun, kalau tidak mau bahtera itu dibuat terbalik dan karam di dasar sungai.
Tapi begitu kalian sampai di surga, semua kengerian itu terasa setimpal. Karena surga adalah daratan yang indah, dengan langit cerah berwarna biru dan awan-awan yang berarak. Daratannya ditumbuhi rumput hijau segar dan bunga tumbuh bersemak-semak bersama buah berry. Belum lagi warga surga yang begitu ramah dan baik hati. Maklum, karena mereka adalah para malaikat dan bidadari.
Mingyu menggendikkan bahunya setelah selesai mengingat-ngingat cerita tentang berbagai perjalanan ke surga. Dulu dia pernah pergi sekali, saat ibunya masih hidup. Dan itu sudah lama sekali.
"Heh, iblis! Kau akan ikut masuk tidak?" Tanya Mingyu.
Junhui yang masih berdiri di depan lift menatap heran. "Jadi kau pergi menemui Wonwoo lewat ruang besi sempit ini?" Tanya Junhui, sambil kakinya melangkah masuk kedalam lift.
"Sudah jangan banyak bicara-" ucapan Mingyu terputus ketika samar-samar ia mendengar seruan dari jauh.
"CEPAT CARI KEMANA PENGKHIANAT ITU KABUR!"
"Sial!" Umpat Mingyu, buru-buru menekan tombol lift itu.
Dan detik berikutnya ia merasakan lift itu merosot jatuh dengan Junhui yang berteriak nyaring di sebelahnya. Serta Seungcheol yang tiba-tiba kejang dan memuntahkan darah.
Mingyu panik, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Yang dilakukannya hanya mengucapkan beberapa mantra agar dapat memberi energi bagi Seungcheol.
Setelah sekitar dua puluh menit, lift itu akhirnya terbuka. Mereka keluar masih dengan keadaan memapah Seungcheol, membawanya ke lantai atas.
"Mingyu, berhenti. Ini akan membuang-buang waktu. Kenapa kita tidak teleportasi saja sih?" Tanya Junhui.
"Kau benar."
Dan detik berikutnya, mereka sudah menghilang.
Sedangkan Wonwoo yang terlelap sejak beberapa jam lalu, mau tak mau harus bangun ketika pintu depannya di gedor dengan tidak manusiawi. Mungkin besok Wonwoo akan kena tegur oleh tetangganya.
Wonwoo bangkit, meski ia merasa lemas, menghampiri pintu depan.
Ketika membuka pintu, Wonwoo terkejut. Ternyata yang menggedor nya memang bukan manusia, pantas saja tidak manusiawi.
Tapi, yang membuat Wonwoo memekik kaget adalah keadaan Seungcheol berlumuran darah.
"Lho, ada apa dengan petugas Choi?" Tanya Wonwoo panik, ia segera menyingkir memberi jalan agar tiga orang itu bisa segera masuk.
Mereka merebahkan tubuh lemah Seungcheol di sofa panjang Wonwoo. Sementara sang pemilik rumah mengunci pintu.
Mingyu mulai duduk dan ia mengeluarkan beberapa obat-obatan herbal dari dalam tasnya yang terbuat dari kulit kayu.
Mingyu menjejerkan tumbuh-tumbuhan kering itu di atas meja. Dan meminta Wonwoo untuk mengambilkan handuk serta air hangat.
Setelah di rasa cukup, Mingyu mulai sibuk dengan kegiatannya. Sementara Wonwoo dan Junhui hanya duduk menonton mereka.
Mingyu meremas dan mencampurkan akar-akaran pohon serta daun-daunan itu, kemudian melarutkan nya dalam air hangat. Menggunakan handuk, Mingyu mengompres dan membersihkan luka Seungcheol dengan ramuan itu. Sedangkan mulutnya komat-kamit membaca mantra tiada henti.
Setelah hampir satu jam, Mingyu menyelesaikan kegiatan pengobatan nya. Dan meletakkan beberapa helai kulit pohon untuk menutupi luka yang menganga.
Diam-diam, Wonwoo kagum pada Mingyu yang terlihat seperti tabib dari buku Harry Potter.
Seminggu sudah berlalu, tapi Seungcheol tak juga membuka matanya, terkadang Seungcheol mengigau banyak hal. Mingyu dan Junhui bergantian menjaganya, sementara Wonwoo sibuk dengan pekerjaan dan kuliahnya.
Terkadang, mereka bergiliran kembali ke dunia bawah untuk membawa makanan, karena Mingyu sadar kalau mereka tidak bisa mengkonsumsi makanan di dunia manusia.
Dan malam itu, Wonwoo sedang bekerja di kafe seperti biasa. Ia memandangi Jeonghan lamat-lamat. Sejak kejadian Jeonghan tersasar karena menaiki lift sialan itu, Jeonghan seolah menjaga jarak dengan Wonwoo.
Meskipun mereka masih saling bicara, tapi Wonwoo tahu kalau hubungan pertemanan mereka merenggang.
Maka ketika kafe agak sepi karena setengah jam lagi mereka tutup, Won menghampiri Jeonghan yang sedang memeriksa stok bakery di gudang samping.
"Hyung." Panggil Wonwoo.
Jeonghan menoleh. "Ada apa?" Lalu kembali sibuk memeriksa tumpukan kardus berisi roti-roti yang baru datang tadi sore.
"Kau menghindari ku ya?" Tanya Wonwoo, canggung.
Jeonghan terdiam. Ia menunduk sebentar sambil pura-pura sibuk memeriksa daftar bakery di tangan nya.
"Tidak, tuh." Sahut Jeonghan datar.
Wonwoo menghela nafas. "Kau marah padaku?" Tanyanya lagi.
Jeonghan menghentikan kegiatannya. Menatap Wonwoo yang balas menatapnya.
"Aku hanya takut, Wonwoo. Aku tak menyangka kau menyimpan rahasia sebesar itu. Dan aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Jadi aku memutuskan untuk tidak terlibat." Sahut Jeonghan, menyelesaikan kalimatnya dengan wajah lelah.
"Baiklah, itu pilihan mu. Tapi, bisakah aku meminta tolong terakhir padamu?" Balas Wonwoo.
Jeonghan mengernyit. "Minta tolong apa?"
"Kau ingat orang yang menolongmu waktu itu kan?"
Jeonghan mengangguk. Wonwoo melanjutkan perkataannya.
"Dia hampir di hukum gantung karena menolong mu, sekarang orang itu dalam keadaan sekarat di apartemen ku. Dan terkadang, dia memanggil nama mu dalam tidak sadar nya." Ucap Wonwoo, kalimat nya berubah sendu.
Jeonghan terdiam. Dia tahu kemana arah pembicaraan mereka.
"Kau ingin aku menjenguknya?" Tanya Jeonghan.
Wonwoo mengangguk, menatap penuh harap.
Jeonghan menarik nafas panjang. Kemudian mengusap wajahnya letih.
"Baiklah, setelah kafe tutup, aku akan ikut dengan mu." Ucap Jeonghan, akhirnya.
Jeonghan benar-benar menepati ucapannya. Pada pukul sebelas malam tepat setelah kafe tutup dan mereka melambai pada Minghao yang berbeda arah, keduanya menaiki bus menuju apartemen Wonwoo.
Sepanjang perjalanan mereka hanya membisu. Suasana canggung menguar tanpa bisa mereka cegah.
Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka turun di halte dekat apartemen Wonwoo. Lalu melanjutkan dengan berjalan kaki.
"Aku pulang~" Ucap Wonwoo, membuka pintu dan mendapati hanya ada Mingyu yang duduk disebelah Seungcheol. Petugas muda itu masih tak sadarkan diri.
"Junhui kemana?" Tanya Wonwoo.
Mingyu menggeleng. "Dia pergi keluyuran."
Wonwoo mempersilahkan Jeonghan untuk mengambil tempat dengan Seungcheol, sementara dirinya dan Mingyu mengikir ke dapur.
Jeonghan duduk dengan canggung. Ditatapnya wajah Seungcheol yang tampak lelah dan menahan sakit. Jeonghan meringis. Ia merasa bersalah pada Seungcheol. Karena dirinya, Seungcheol sampai harus meregang nyawa.
"Seungcheol, lama tidak bertemu." Ucap Jeonghan lirih, ia benar-benar tak tahu harus berkata apa dan bagaimana.
Kemudian tangan Jeonghan meraih telapak tangan kiri Seungcheol, menangkupnya dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku, kau jadi begini karena menolong ku." Lirih Jeonghan lagi. Tanpa sadar matanya memanas merasakan sesak yang mulai menjalar dan rindu yang tak sopan menghampiri nya.
"Tapi aku berterima kasih atas pertolongan mu. Kau benar-benar seorang penyelamat, Seungcheol. Kau petugas yang hebat." Ucap Jeonghan lagi. Suaranya sudah parau dan air matanya menetes keatas telapak tangan Seungcheol yang di genggamnya.
"Kau benar-benar tak ingin membuka mata mu dan melihat ku, ya?"
Pecah sudah. Jeonghan menangis terisak dengan kedua tangannya menangkup erat tangan kiri Seungcheol. Menangisi pemuda itu.
"Maafkan aku karena membuat mu begini." Isak Jeonghan. Ia benar-benar merasa bersalah. Bisa-bisanya dia bersikap seolah tak pernah terjadi apapun sedangkan di sisi lain Seungcheol menderita karena menolong nya. Jeonghan merasa tak tahu diri.
"Hei. . . Ka-u t-tak per-lu. . . Menangis begitu, Jeong-han."
Kalimat terbata-bata itu sukses membuat Jeonghan menghentikan tangisnya dan menatap Seungcheol terbelalak.
"Wonwoo! Mingyu! Seungcheol sadar!" Teriak Jeonghan, membuat kedua orang yang tadi berada di dapur kembali keruang tamu.
Mingyu buru-buru memeriksa keadaan Seungcheol. "Regenerasi tubuhmu bagus, Hyung. Tapi kau harus tetap pergi menemui tabib Zhang di surga." Ucap Mingyu.
Dan lagi-lagi, Wonwoo salah fokus justru mengagumi Mingyu yang tampak menakjubkan.
Sementara itu, Junhui yang sedang iseng mempermainkan anak kucing jalanan, terkejut ketika sebuah suara menginterupsi nya.
"Hei iblis sialan, berhenti mengganggu nya."
Junhui menoleh, dan mendapati sesosok pemuda manis bertubuh kurus dengan rambut mullet hitam membingkai wajahnya. Junhui memegangi dada kirinya. Kenapa tiba-tiba jantungnya serasa melompat-lompat?
Tbc :)
aku tepatin janji kan :)
