[2]

"Hai!"

Sapa Luhan, sambil mencium pipi kiri Sehun. Satu tindakan reflek yang Luhan yakini akan ia sesali nantinya. Tapi sudah kepalang basah, meskipun wajahnya memerah ia tetap mencoba bersikap biasa saja. Lalu tanpa dipersilahkan lebih dulu, ia langsung duduk di kursi kosong disebelah Sehun yang masih tampak syok dengan kehadiran Luhan sekaligus ciumanya.

Luhan akui, penguasaan diri Sehun sangat baik karena dengan mudah ia bisa kembali bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya tatapannya yang kini tak lepas dari Luhan yang tak sudi menatap balik. Bukannya tidak mau, Luhan hanya takut ia akan goyah. Tatapan Sehun seperti mata pedang yang bisa melumpuhkan lawan sekali tebas dan ia tidak boleh sampai kalah, setidaknya untuk saat ini.

"Hai Luhan…"

Kali ini Luhan yang dibuat terkejut oleh sapaan dari wanita cantik yang duduk didepan Sehun. Luhan yakin wanita itu mengenalnya, bahkan sok akrab menyapanya duluan, parahnya itu dilakukan dengan senyum manis dan tampang tanpa dosa sama sekali. Luhan sangat benci tipe yang seperti ini, terlalu berani dan pecaya diri, seperti tidak punya malu.

"Anda siapa?" tanya Luhan tanpa basa-basi, tak peduli pilihan kata dan nada bicara yang kurang sopan atau lirikan tajam Sehun yang masih diam. Pria itu sudah kembali pada mode normalnya, kaku dan sinis.

"Ah, perkenalkan… Saya Song Ji Hyo, rekan kerja Sehun di rumah sakit."

Jihyo mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan. Luhan sendiri masih menimbang-nimbang untuk menjabat tangan itu atau tidak, tapi akhirnya disambut juga.

"Luhan, kekasih Sehun" jawab Luhan, lagi-lagi reflek. Ia dan Sehun sebelumnya tidak pernah 'pamer hubungan' seperti ini, biasanya mereka akan membiarkan orang-orang menyimpulkan sendiri berdasarkan interaksi keduanya. Jadi ia cukup kaget dengan sikap spontannya yang mulai susah dikendalikan.

Wanita itu tersenyum lagi, dan Luhan akui itu adalah salah satu senyum paling manis yang pernah dilihatnya. Itu membuatnya sedikit goyah, teringat Sehun yang mungkin saja sudah jatuh pada senyum manis itu.

"Saya tahu. Kamu salah satu mantan pasien paling favorit yang kerap dibicarakan dirumah sakit. Apalagi fakta bahwa kamu adalah kekasih dokter Oh, membuat siapapun penasaran ingin tahu seperti apa pria beruntung itu."

Kalimat Ji Hyo membuat pikiran Luhan dengan cepat kembali pada kenangan buruk saat ia masuk rumah sakit dulu. Saat itu, ia juga heran mengapa banyak sekali perawat yang bolak-balik keruangannya dengan berbagai macam alasan. Belakangan ia tahu, Oh Sehun tanpa malu-malu mengakui bahwa pasien penderita penyakit—yang sama sekali tidak keren—'alergi akut' itu adalah kekasihnya. Itulah mengapa perawat, bahkan beberapa dokter mau repot-repot menjenguknya. Predikat kekasih dokter idola seperti Sehun membuat banyak orang yang penasaran seperti apa rupanya. Untung saja Luhan tampan, jadi ia tidak perlu malu menunjukan wajah.

Awalnya Luhan merasa cukup risih. Ia selalu mejadi pusat perhatian setiap menginjakkan kakinya dirumah sakit itu, banyak yang memandangnya dengan tatapan iri, memuja, bahkan ada yang menggoda. Tapi lama-lama Luhan terbiasa dengan semua itu, apalagi Sehun juga menyikapinya biasa saja selama tidak mengganggu privasi mereka.

.

"Sepertinya kalian punya janji bertemu hari ini, ya?" Suara Ji Hyo kembali menarik atensi Luhan,

"Maaf saya tidak tahu, dan malah mengajak Sehun mengobrol lama disini"

Luhan sudah hampir menjawab dengan kalimat sindiran tapi Sehun tampaknya lebih awas dan bisa membaca pikirannya.

"Bukan seperti itu, saya yang lupa kalau hari ini Luhan bilang mau menemui saya. Harusnya saya menghubunginya tadi dan memintanya untuk menunggu saja dirumah."

Ia menekankan nada pada kata 'menunggu' sambil melirik ke arah Luhan, dengan maksud mengingatkan pria itu bahwa seharusnya ia mengikuti apa yang diminta Sehun pada pesan terakhirnya.

"Kami memang janjian bertemu hari ini karena belakangan Oh Sehun semakin sibuk, jadi saya pikir lebih baik bertemu disini. Dan ternyata benar, dia sedang sangat sibuk minum kopi dengan rekan kerja wanitanya."

Tak mau kalah, Luhan kembali 'menyerang' dan kali ini sepertinya tepat sasaran karena Sehun langsung terpancing. Ia segera memegang pergelangan tangan kiri Luhan yang bebas, mencoba mengingatkan. Namun hanya ditanggapi Luhan dengan senyum meremehkan.

Song Ji Hyo yang melihat mereka berdua, tak bisa menahan senyumnya. Ia sampai tertawa pelan sambil mengambil gelas kopinya dan menyesap cairan pekat itu sebelum kembali meletakannya dan menatap Luhan—masih dengan senyum cantiknya.

"Maaf Luhan… Saya tidak bermaksud menyela pertemuan kalian. Saya punya hal penting yang perlu dibicarakan dengan dokter Oh. Tapi jika itu mengusik kamu, kami bisa bicara lagi nanti." Kalimat tulus Ji Hyo justru memancing emosi Luhan.

'Apa-apaan ini? Maksudnya wanita ini secara terbuka bilang bahwa mereka berdua berniat bertemu lagi? Dibelakangnya, setelah ini?'

"Gak bisa yabicaranya disini saja? Memangnya kenapa kalau ada saya?" Luhan seketika lupa cara mengontrol emosi. Bayangan tentang pria berpendidikan tinggi yang harusnya bisa lebih dewasa menanggapi segala situasi, perlahan menguap dari pikirannya.

"Lu…" Sehun langsung menegurnya pelan, tapi lagi-lagi Luhan mengabaikannya.

Ji Hyo sendiri masih sangat tenang, tampak tidak terpancing. Ia bisa memaklumi dan tetap mencoba bicara baik-baik pada Luhan.

"Bisa saja sih, kita bicarakan disini. Tapi ada baiknya ini kamu dengar langsung dari Sehun. Saya rasa Sehun punya cara lebih baik untuk menyampaikan ini ke kamu, lagi pula… ada keputusan yang masih saya tunggu dari Sehun. Jadi saya belum bisa bilang apa-apa" jelasnya.

"Maksudnya apa sih? Kayaknya penting banget. Bilang saja disini, saya nggak 'papa kok!"

"Cukup Lu!"

Sehun yang merasa sudah cukup bertoleransi, terpaksa membentak pelan Luhan. Ia tidak bisa membiarkan Luhan lepas kontrol ditempat seperti ini, apalagi didepan wanita ini. Bagaimanapun Song Ji Hyo adalah orang penting yang selalu dihormatinya, dan ia tidak ingin Luhannya dinilai jelek hanya karena tidak bisa menahan emosi dengan alasan cemburu atau apapun yang sedang Luhan perlihatkan sekarang.

.

Sehun berdiri dari kursinya, tangannya masih menggenggam erat pergelangan tangan Luhan, sehingga pria itu terpaksa ikut berdiri.

"Maafkan saya untuk ketidak-nyamanan ini dokter Song. Saya…"

Luhan menatap kesal pada Sehun yang sedang meminta maaf sambil membungkuk. Pria itu terlihat sekali ingin membuat wanita ini tidak salah paham atau marah, tapi justru membentak kekasihnya sendiri.

Pandangannya lalu kembali pada Ji Hyo yang sudah ikut berdiri. Luhan tidak pernah menyangka bahwa wanita ini juga seorang dokter. Melihat penampilannya yang terlalu modis dengan bentuk tubuh dan wajah seperti itu, menurutnya Ji Hyo lebih cocok jadi aktris.

Memangnya dokter apa yang masih sibuk merawat diri ditengah-tengah kesibukan seperti yang dijalani Sehun selama ini? Kecuali kalau ia dokter bedah plastik. Tidak perlu khawatir menjadi gendut atau keriput, Luhan rasa ia bisa dengan mudah menghilangkan itu dari tubuhnya sendiri. Tinggal memotong ini dan itu lalu menempelkan beberapa plastik, dan selesai.

Pikiran dangkalnya terusik saat Sehun sekali lagi membungkuk hormat pada wanita itu, dan berjanji akan segera menemuinya lagi. Ji Hyo berulang kali mengatakan bahwa itu bukan masalah dan malah tersenyum manis, membuat Luhan ingin sekali menjambak rambut hitamnya yang terurai indah. Dan sebelum itu sempat dilakukan, ia sudah lebih dulu dibawa keluar kafe oleh Sehun.

Mereka berjalan cepat menuju tempat mobil Sehun diparkir. Sehun membukakan pintu penumpang disebelah kursi kemudi dan meminta Luhan masuk. Setelahnya ia berjalan memutar, lalu duduk dibelakang kemudi dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas yang biasanya.

.

Jika ditempuh dengan kecepatan normal, membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk mencapai rumah Luhan dari rumah sakit. Malam ini Sehun mencetak rekor baru dengan memperpendek waktu menjadi hanya lima belas menit. Ia benar-benar mengemudi diluar batas safety yang ia ciptakan sendiri jika ada Luhan disampingnya.

Lima menit berlalu sejak mobil itu diparkir, dan tak ada satupun penumpangnya yang beranjak dari sana. Dua orang itu hanya duduk diam menatap lurus kedepan tanpa niat buka mulut.

Lalu seperti tersadar, Sehun lebih dulu membuka seat belt-nya hendak keluar sebelum Luhan menahannya dengan satu kalimat tanya.

"Kamu nggak merasa perlu ngejelasin sesuatu sama saya?"

"Kita bicara nanti."

"Nggak mau nanti, maunya sekarang!" tandas Luhan.

Sehun menarik nafas panjang, lalu perlahan menyandarkan punggungnya lagi ke sandaran kursi.

"Tidak bisa sekarang. Kamu tadi cukup keterlaluan, saya harus minta maaf sama dokter Song. Jadi tolong sekarang turun, saya anterin kamu ke dalam, salam sama papa-mama kamu seperti biasa dan akan langsung balik lagi kerumah sakit." Katanya sambil melepaskan sabuk pengaman Luhan lalu keluar untuk membuka pintu mobil disamping Luhan.

Luhan benar-benar tidak bisa menerima sikap Sehun. Sepenting apa dokter cantik itu sampai Sehun harus bersikap menyebalkan seperti ini? Biasanya memang sudah menyebalkan, tapi malam ini benar-benar tidak bisa ditoleransi. Dengan kesal ia turun dari mobil dan tanpa melihat Sehun, ia memintanya untuk pergi.

"Salamnya biar aku aja yang wakilin. Kamu pergi aja, takutnya selingkuhan kamu kelamaan nunggu."

Katanya ketus lalu masuk kedalam rumah tanpa sudi menoleh. Sehun hanya menggelengkan kepalanya pelan dan langsung pergi dari situ begitu pintu rumah dibanting kasar.

Mengatasi Luhan yang sedang dalam mode cemburu bisa nanti, yang penting sekarang adalah menemui dokter Song lagi. Ini bukan masalah sepele, semua berhubungan dengan masa depannya sebagai dokter dan tentu saja masa depannya dengan Luhan juga. Jadi saat ini minta maaf pada dokter sekaligus salah satu jajaran dewan direksi rumah sakit itu, harus jadi prioritas.

.

.

Luhan benar-benar tidak bisa mentoleransi sikap Sehun malam itu. Ia berniat memberi pelajaran pada pria itu dengan menolak setiap panggilan atau kunjungan dari siapapun yang berhubungan dengan Sehun dan bangsa-bangsanya.

Tapi yang membuatnya semakin habis akal adalah, bahkan dalam dua minggu ini Sehun yang seharusnya menjadi pihak yang mengemis maaf, justru bertindak sebaliknya. Pria itu seperti tidak punya niat untuk menyelesaikan masalah mereka berdua. Jangankan berkunjung, menghubunginya saja tidak pernah sekalipun. Luhan semakin yakin bahwa Sehun memang sudah berniat berpisah dengannya, mungkin saja saat ini pria itu malah sudah bahagia dengan dokter cantik yang ditemuinya sore itu.

Kini Luhan bahkan hampir kehilangan alasan untuk marah atau sedih. Pantang untuknya meneteskan air mata, apalagi hanya untuk lelaki brengsek model Sehun. Ia juga mulai ragu pada perasaannya sendiri, bagaimana mungkin ia masih bisa bertahan sejauh ini padahal hubungan asmaranya sedang tidak baik-baik saja, nyaris kandas ditengah jalan.

Sesuatu perlahan menyadarkannya. Mulai dari awal pertemuannya dengan Sehun yang diawali oleh ide gila Baekhyun untuk ikut acara kencan buta, yang ternyata sudah diatur sebelumnya.

Mereka mulai sering terlihat bersama dan entah bagaimana, orang-orang mulai menyangka mereka sebagai sepasang kekasih. Anehnya, baik Sehun maupun Luhan tak pernah menyangkal itu, mereka justru terang-terangan bertingkah seperti sepasang kekasih, meski tanpa kesepakatan formalitas apalagi pernyataan cinta.

Ya, Luhan sadar selama ini tak pernah sekalipun mereka mengungkapkan perasaan masing-masing.

Luhan pikir, ia mungkin sinting ketika mengenalkan pria yang baru dikenalnya sebulan lalu sebagai teman dekat pada orangtuanya. Ajaibnya, baik Sehun maupun orangtuanya langsung akrab tanpa canggung sama sekali. Apalagi saat mereka tahu profesi Sehun, katanya mereka memang sudah lama mendambakan punya menantu seorang dokter, mengingat putra tunggal mereka takut darah dan hantu jadi mustahil berharap pada anak sendiri. Padahal saat itu Luhan sama sekali tidak punya angan-angan menikahi dokter apalagi orang asing yang baru dikenalnya.

Waktu itu juga pertama kalinya ia melihat sisi lain Sehun. Ia bisa begitu akrab bicara pada orangtua Luhan, tapi sangat kaku bicara pada pria yang ia akui sebagai kekasihnya sendiri. Awalnya mereka berdua bahkan selalu berkomunikasi dalam bahasa formal, hingga pelan-pelan Luhan merubah itu dan menularkannya pada Sehun sedikit demi sedikit.

Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Luhan sendiri tidak menyadari bahwa hubungannya dengan Sehun sudah sejauh ini. Padahal belum cukup setahun sejak pertemuan pertama mereka.

Enam bulan memang waku yang singkat, tapi apa iya semua yang mereka jalani selama itu tidak punya arti sama sekali? Apa bisa segampang itu Sehun melupakan semuanya? Lalu bagaimana dengan Luhan? Ia bahkan tidak tahu perasaannya sendiri.

Kini ketika akal sehatnya berfungsi baik, Luhan seolah sadar akan satu hal. Mungkin dari awal diantara mereka memang tidak pernah ada sesuatu yang berarti, bisa jadi mereka hanya terlampau nyaman dengan keadaan.

.

Luhan merasa kepalanya hampir pecah memikirkan hubungan 'tanpa arah'-nya dengan Sehun. Lalu seolah pasrah, ia membiarkan semuanya seperti itu saja. Berusaha melupakan dan kembali pada hidupnya yang dulu, seolah-olah ia tidak pernah mengenal seseorang bernama Oh sehun.

Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Luhan tadi malam, sebelum sore itu ia menemukan Sehun berdiri disamping Audi-nya, menunggu jam kerja Luhan selesai.

Apa lagi ini? Batin Luhan.

.

.

.

Tbc.