Junhui menatap pemuda itu dari atas ke bawah, ia lalu tersenyum cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.

"Kau bisa melihat ku?" Tanyanya kemudian.

Pemuda yang di depannya itu menghela nafas. "Tentu saja aku bisa. Ini bukan kali pertama aku melihat makhluk kurang kerjaan seperti mu menjahili kucing-kucing itu."

Junhui menghampiri pemuda itu, ia melebur kedalam wujud asapnya, dan mengelilingi pemuda itu.

"Sial! Menyingkir dariku!" Bentak pemuda itu.

Junhui kembali lagi ke wujud nya, ia menyembunyikan tangan di balik punggungnya.

"Namaku Wen Junhui, siapa namamu, manis?" Junhui dengan penuh percaya diri mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan.

"Bukan urusanmu. Lagi pula aku tidak mau kenalan dengan iblis!" Pemuda itu dengan santai mengibaskan tangannya, lalu berjalan menjauhi Junhui,menyusuri gang gelap menuju sebuah flat yang berbaris sepanjang gang itu.

Meskipun ditolak terang-terangan, Junhui tidak putus asa. Dia membuntuti pemuda itu karena wangi tubuhnya yang terasa berbeda dari kebanyakan manusia.

"Ck, kubilang menyingkir. Kenapa kau malah mengikuti ku?" Tanya pemuda itu, sambil menutup pintu flatnya dengan wajah lelah.

Junhui kembali cengengesan. "Beritahu dulu namamu, maka aku akan pergi." Balasnya tak mau kalah.

Pemuda itu menarik nafas panjang. Ia melepas parka nya, lalu melepas celana panjangnya. Menyisakan sehelai kaos tipis berwarna putih dengan sablon tulisan dan celana pendek di atas pahanya. Memamerkan kaki jenjangnya yang mulus.

Membuat Junhui salah fokus, mau tak mau mereguk paksa ludahnya sendiri.

"Kau sengaja, ya?" Protes Junhui, masalahnya sekarang Junhui jadi sulit mengatur fokus nya. Matanya tidak bisa berhenti menatap paha mulus itu.

Pemuda itu tertawa. "Dasar iblis mesum kurang kerjaan."

Junhui tidak peduli sekarang sebutannya bertambah panjang. Ia justru berucap kurang ajar, "kau tidak takut diperkosa apa?" Tanya Junhui.

Dan dihadiahi lemparan sepatu kekepalanya.

"Dasar brengsek, pergi sana!" Usir pemuda itu lagi. Ia bergerak kedapur kecilnya, menyalakan kompor dan menyeduh mie instan.

Sambil menunggu, ia juga mengeluarkan sekaleng bir dan kimchi dari dalam kulkas.

Sementara Junhui, duduk menonton apa yang dilakukan pemuda itu. Tepatnya, memperhatikan pahanya dengan liur hampir menetes. Dasar mesum.

Sekitar sepuluh menit, pemuda itu sibuk mengunyah makanan nya.

"Hei, kau belum memberitahu ku siapa namamu!" Tegur Junhui lagi.

Pemuda itu mengerang kesal. "Namaku Xu Minghao, puas?!"

Junhui nyengir. "Belum tuh, kan belum melakukan apa-apa." Junhui menyahut sambil menaik turunkan alisnya dan mengedip jahil.

Membuat Minghao lagi-lagi melemparnya, kali ini dengan serbet meja.

"Pergi sana! Bajingan mesum!"

Junhui baru pulang ketika fajar mulai beranjak terbit dan ia sudah puas semalaman memandangi wajah manis Minghao, ia berkelebatan dengan kurang ajar di depan unit apartemen, membuat Mingyu melemparinya dengan mantra pengikat karena menganggu tidur Wonwoo.

Junhui cengengesan, dan muncul di hadapan Mingyu yang berbaring sambil memeluk Wonwoo yang tertidur lelap. Mereka ada di kamar Wonwoo.

"Hei Mingyu, memang kau tahan dengan jarak sedekat itu tanpa mengigit nya?" Tanya Junhui iseng. Ia bergelantungan di kusen jendela Wonwoo. Membuatnya benar-benar terlihat seperti iblis kurang kerjaan, seperti sebutan Minghao baginya.

Mingyu mendelik. "Kau lupa kalau kemarin aku menghabiskan darah seekor celeng seorang diri?" Tanyanya malas.

Junhui mengangguk. "Jadi?" Junhui justru balik bertanya.

Mingyu mendengus. "Ya, kemungkinan aku tidak akan tahan kalau perutku tidak kenyang." Sahut Mingyu cuek.

Junhui lagi-lagi mengangguk. "Kapan kita akan ke surga?" Tanya Junhui lagi.

"Mungkin besok, lagi pula keadaan Seungcheol sudah cukup baik." Sahut Mingyu. Sebenarnya dia ingin mengusir Junhui, karena iblis itu tidak berhenti melempar tanya sejak tadi.

"Tapi dia baru sadar, Mingyu." Protes Junhui.

Mingyu menarik nafas dalam-dalam. Junhui ini tidak mengerti apa-apa tapi tidak juga berhenti bertanya. Bikin sebal saja.

"Justru kita harus segera membawanya, agar Tabib Zhang bisa segera memeriksa luka-lukanya sebelum bertambah parah." Sahut Mingyu menjelaskan.

Junhui mengangguk paham kali ini. Dia tidak bertanya lagi, melainkan turun dari kegiatan bergelantungan di kusen jendela dan keluar dari kamar Wonwoo dengan cara menembus pintu nya, iblis itu terlalu terang-terangan.

Dan, ketika dia sampai di ruang tamu, dia mendapati Seungcheol yang terbaring di sofa dengan Jeonghan yang tertidur dalam keadaan duduk di karpet beludru, dan kepalanya menyandar pada lengan sofa, bersebelahan dengan kepala Seungcheol.

Junhui terdiam sesaat. Kemudian merasa miris karena dia satu-satunya yang sendirian disini. Akhirnya, tidak mau ambil pusing, Junhui memutuskan untuk tidur di sofa lainnya yang kosong. Sofa single sempit yang membuatnya mau tak mau membiarkan kaki-kaki panjang nya menjuntai ke bawah.

Hari berlalu dengan cepat, ketika jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan Wonwoo mengucek matanya menahan kantuk, Mingyu berpamitan.

Jeonghan yang malam itu menginap, melepas tak rela genggaman tangan Seungcheol. Namun ia tahu kalau harus membiarkan tiga pemuda dari dunia bawah itu pergi.

"Mingyu, hati-hati. Pastikan kau pulang dengan selamat." Ucap Wonwoo, wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang jelas.

Mingyu tersenyum. Tangannya menyibak poni Wonwoo, lalu mengusap sisi wajahnya dengan lembut. Menatap lekat sepasang mata rubah yang beberapa waktu ini membayangi benaknya.

"Aku janji, Wonwoo. Kau juga harus menjaga dirimu dengan baik di sini." Balas Mingyu. Tanpa sadar, ia mengecup lembut kening Wonwoo. Menyalurkan afeksi lewat kecupan manis itu.

Wonwoo tersenyum, hatinya menghangat. Senang rasanya melihat mengetahui kalau perasaannya takkan bertepuk sebelah tangan.

"Ekhem! Tapi kita harus segera berangkat kufikir." Deheman Junhui membuyarkan suasana romantis itu.

Menyisakan kuluman tawa bagi Jeonghan dan Seungcheol. Mereka tahu kalau dua orang itu saling mengasihi, hanya saja tidak pernah terungkap dalam lisan.

"Ayo, Mingyu." Ajak Seungcheol, Mingyu mengangguk, lalu dengan berat hati meninggalkan Wonwoo.

Pemuda manis itu masih menatap Mingyu bahkan ketika pandangan nya terhalang oleh pintu lift yang menutup.

Wonwoo menunduk, kemudian Jeonghan menggiringnya menuju unit apartemen nya kembali.

Mingyu dan kawan-kawannya memang sengaja berangkat tengah malam. Mereka berencana melakukan perjalanan dini hari agar tiba di tepi sungai Kematian saat menjelang fajar, dan bisa berlayar dari siang hari.

Setelah keluar dari lift, mereka bertiga mengenakan jubah tembus pandang, dan menyatu dalam gelapnya malam sambil memikul perbekalan.

Perjalanan menuju tepi sungai Kematian itu sangat jauh. Melewati hutan belantara yang lebih luas dari hutan di belakang rumah Seungcheol tempo hari, dan juga harus melalui berbagai jalan setapak yang menanjak dan menurun.

Meskipun mereka sesekali teleportasi untuk mempercepat perjalanan, mereka baru sampai saat langit di timur mulai memunculkan semburat merah muda dan memutih, yang menandakan mentari akan segera terbit.

Mereka berjalan di antara lumpur itu. Lima ratus meter di depan, ada sebuah gubuk dengan jembatan kecil yang menjadi patokan sebuah bahtera di ikat.

Beruntung, bahtera itu tidak sedang di pakai orang. Ya meskipun sebenarnya, memang sangat jarang ada warga setempat yang meminjam nya.

"Wah lihat sungai itu, bahkan dari jauh sudah tampak mengerikan." Komentar Junhui, bahkan iblis saja menganggap sungai itu mengerikan.

Tidak ada yang membalas komentar nya, mereka lanjut sampai di ujung jembatan kecil itu.

Ketika kaki-kaki mereka mulai melangkah di atas jembatan kayu yang berderak-derak itu, sebuah suara terdengar.

"Diam di sana!"

Mereka mengerutkan kening, dan langkah mereka terhenti. Yak seberapa lama, terdengar pintu berderit dan seorang pemuda dari dalam gubuk itu keluar.

Ah, Seungcheol mengenalnya. Itu adalah Park Woojin, anak dari pemilik bahtera itu, Park Chanyeol.

"Ada apa kalian kesini?" Woojin bertanya ketus sambil melipat tangannya.

Mingyu membuka tudung jubahnya, lalu tersenyum. Memamerkan taringnya. "Kami bermaksud meminjam bahtera, untuk menyeberang." Sahutnya kemudian.

"Ayahku sedang sakit." Balas Woojin kemudian.

Junhui memutar bola matanya malas. Ia tidak peduli sebenarnya. "Lalu?" Sergahnya asal.

Woojin menyeringai. Rupanya ia juga punya taring menonjol seperti Mingyu.

"Karena ayah sedang sakit, jadi aku yang akan memberikan pertanyaan untuk kalian." Ucap pemuda itu.

Entah kenapa Seungcheol merasa tak enak. Ia tau betul reputasi pemuda itu, Woojin dikenal sebagai ahli teka-teki yang pertanyaan dan jawaban nya benar-benar konyol dan bikin senewen. Berbeda dengan ayahnya yang akan menguji kemampuan hafalan kitab sihir.

Mingyu dan Junhui menghela nafas. "Terserah lah." Sahut dua pemuda itu berbarengan.

Woojin lagi-lagi menyeringai lebar, dan Seungcheol semakin was-was karena nya.

"Kalian lihat gunung ke putus asaan itu?" Woojin menunjuk sebuah bukit yang menjulang tinggi di belakang mereka. Gunung yang tadi sempat mereka lalui sebelum ke tepi sungai Kematian.

Mingyu dan Junhui mengangguk bersamaan. Sementara Seungcheol masih terdiam.

"Bagaimana caranya agar kita bisa melompat lebih tinggi dari gunung itu?" Lanjut Woojin, memberikan pertanyaan nya.

Kernyitan secara otomatis muncul di kening tiga pemuda itu. Mingyu yang pintar saja bingung menjawabnya.

Hei, gunung itu tingginya beribu-ribu meter. Makhluk sesakti apapun tidak akan ada yang bisa melompat lebih tinggi dari gunung itu.

"Kau gila? Mana ada yang bisa!" Protes Junhui, pertanyaan Woojin benar-benar di luar nalar.

Woojin tertawa terbahak-bahak mendengar protesan itu.

Tapi Seungcheol merasa tidak asing dengan teka-teki itu.

"Aku tahu." Gumam Seungcheol ragu. Membuat tiga orang di depannya itu menatapnya terkejut.

Terlebih-lebih Woojin, karena ia merasa belum pernah mengungkapkan teka-teki itu.

"Bagaimana?" Tanya Woojin serak. Kalau sampai jawaban Seungcheol benar, ia akan di hukum menghafal kitab lagi oleh ayahnya.

Atau di suruh menggembala domba-domba berkaki delapan milik ibunya. Woojin tidak mau, domba-domba itu sangat menyusahkan karena larinya yang luar biasa cepat.

"Ya. . . Tinggal lompat biasa saja, kan gunung itu tidak bisa melompat." Sahut Seungcheol kemudian. Sebenarnya ia pernah mendengar lelucon tak masuk akal ini dari ayahnya, dulu.

Wajah Woojin memucat. Jawaban Seungcheol benar. Mau tak mau, ia berjalan mendekati ujung jembatan itu, dan membuka tali pengikat bahtera.

"Ka-kalian boleh menyebrang." Ucap pemuda itu terbata-bata.

Seungcheol mengulum senyum. Sementara Mingyu dan Junhui masih mencerna jawaban Seungcheol tadi dengan mulut menganga.

"Tidak apa-apa, kau sudah berusaha yang terbaik." Seungcheol menepuk-nepuk bahu Woojin, dan kemudian menyeret dua temannya naik ke atas bahtera.

Saat pagi mulai menyingsing, mereka mulai bersama-sama mendayung bahtera itu.

Sekitar berjam-jam kemudian, mereka duduk melingkar di dalam saung yang ada di bahtera itu. Di bawah atap anyaman daun pandan yang tampak teduh dan menutupi hampir seluruh bagian bahtera. Selain itu, bahtera itu juga memiliki dak bearatap rendah di bagian bawah, tempat mereka tidur saat malam.

Mereka mengeluarkan makan siang. Dan mulai berbincang.

Mingyu sebisa mungkin menutup rapat tutup tabung bambu berisi darah rusa itu, agar ikan-ikan buas di sungai itu tidak terpancing karena baunya.

Sedangkan Junhui dan Seungcheol, tampak santai. Meskipun mereka makan daging mentah, tapi daging-daging itu sudah di bumbui terlebih dahulu, sehingga yang tercium bau rempah-rempah bukan bau amis.

"Aku masih tidak terima dengan jawaban teka-teki sialan tadi." Bisik Junhui, merendahkan suaranya beberapa desibel karena mereka harus menjaga keheningan sungai itu.

Seungcheol tersenyum lalu menggeleng pelan. "Ayahku yang pernah menyebrang menceritakan teka-teki itu. Tak kusangka akan menerima pertanyaan yang sama." Jawab Seungcheol, menjelaskan asal muasal dia tahu jawaban teka-teki itu.

Tapi Junhui tampak tidak puas. Ia masih tak habis fikir bagaimana bisa ada pertanyaan sekonyol itu.

Mingyu diam saja. Dia menghela nafas berat. Tiba-tiba dia merindukan Wonwoo, padahal mereka baru tidak bertemu beberapa jam yang lalu.

Rindunya semakin menyeruak kala ingat perjalanan yang di tempuhnya memakan waktu lama, bahkan sampai sebulan. Belum lagi dia akan berada di tanah seberang selama pengobatan Seungcheol sekaligus kabur dari kejaran Raja Kim Jong-un, pamannya.

Omong-omong, para pasukan kerajaan tidak tahu kalau Seungcheol kabur atas bantuan Mingyu dan Junhui, mereka masih menyelidiki nya.

"Hahhh. . . Kita akan berada di sungai mengerikan ini selama sebulan?" Keluh Junhui, mewakili pemikiran Mingyu.

Tiba-tiba, Seungcheol menyemat sebuah seringai. Membuat Mingyu dan Junhui penasaran.

"Tenang, tidak akan selama itu." Sahut Seungcheol santai. Mengunyah paha rusanya dengan seringai yang kian lebar.

Mingyu dan Junhui mengerutkan kening. Tidak paham.

Seungcheol memang lebih tua dari dua pemuda itu, dan dia memiliki pengalaman lebih banyak di banding dua pemuda itu. Karena ia di besarkan dengan cara yang berbeda. Dia sudah sering berkelana di negeri itu, terutama saat menjalani pelatihan untuk menjadi pasukan kerajaan.

Ya, sebenarnya Seungcheol itu adalah pasukan kerajaan, hanya saja karena suatu hal membuat nya di turunkan dari jabatannya, dan berakhir sebagai petugas keamanan biasa.

"Apa maksudmu?" Junhui tidak sabaran bertanya.

Seungcheol tersenyum lagi. Lalu berisik sangat pelan melalui desiran angin yang berhembus, "Aku tahu jalan pintas."

Meski bisikan itu luar biasa pelan, tapi berhasil membuat dua pasang mata di depannya terbelalak kaget, dan berbinar-binar pada detik berikutnya.

Sedangkan Wonwoo dan Jeonghan, menjalani hari seperti biasanya. Wonwoo pergi ke kampus pada pagi harinya, dan sekitar pukul tiga sore, ia pergi ke Kafe.

Bekerja seperti biasa nya.

Tapi, Jeonghan tidak demikian. Beberapa kali Wonwoo mendapati pemuda bersurai panjang itu melamun sambil menghela nafas panjang.

Jeonghan bahkan sempat salah memasukkan topping kedalam minuman pesanan. Membuatnya kena tegur Kihyun, pemilik kafe itu.

Merasa ada yang salah dengan pemuda itu, membuat Wonwoo membuntutinya ke gudang belakang, saat pemuda itu bertugas mengambil kotak roti yang habis untuk di pajang di etalase.

"Hyung!" Tegur Wonwoo.

Jeonghan melonjak kaget dan nyaris menjatuhkan kardus roti di tangan nya, beruntung Wonwoo segera membantu nya menahan kardus itu.

"Kau mengagetkan ku, Wonwoo." Protes Jeonghan.

Wonwoo mendengus. "Kau sakit?" Dan berbalik menanyai pemuda yang lebih tua darinya itu.

Jeonghan menggeleng. "Aku hanya merasa bersalah, pada Seungcheol." Sahut Jeonghan akhirnya, dia merasa Wonwoo adalah orang yang tepat untuk berterus terang.

Wonwoo tersenyum, mengerti perasaan hyungnya itu. Lalu menepuk-nepuk pundak Jeonghan.

"Tidak perlu begitu, Hyung. Seungcheol menolong mu karena kau memang layak mendapatkan pertolongan." Ucap Wonwoo, membalas kalimat Jeonghan dengan kata-kata yang sekiranya bisa menenangkan pemuda itu.

"Tapi, karena aku dia sampai terluka begitu. Bagaimana kalau dia tidak selamat? Aku pasti akan dirundung sesal seumur hidupku." Balas Jeonghan lagi, menatap Wonwoo lemas.

Wonwoo tersenyum. "Kau lupa, kalau Seungcheol itu wolves yang regenerasi nya sangat cepat? Dia takkan mati semudah itu."

Jeonghan mengangguk pelan. "Kuharap mereka berhasil menyebrang dengan selamat." Lirih Jeonghan.

Wonwoo mengangguk. "Tenang saja, mereka adalah wolves, vampir dan iblis paling tangguh yang pernah ada." Wonwoo menggerling dan itu membuat Jeonghan tertawa kecil.

Pemuda bersurai panjang itu merasa beban yang menggelayut di pundaknya cukup menguar. Dan ia merasa lebih baik.

Tanpa mereka sadar, Minghao menguping pembicaraan mereka. Meski tidak sengaja, pemuda Chinese itu di suruh Tuan Yoo untuk menyusul Jeonghan dan Wonwoo yang tidak segera kembali, padahal kafe sedang ramai.

"Kalian lihat barisan karang itu?" Tanya Seungcheol, menunjuk batu-batu karang besar berwarna kehitaman yang berada beberapa ratus meter di depan mereka.

Mingyu dan Junhui mengangguk.

"Itu karang bencana, kan?" Tanya Mingyu. Ia masih tak habis fikir kenapa yang berhubungan dengan sungai itu semuanya terasa mengerikan.

Seungcheol mengangguk. "Kau tahu kenapa disebut begitu?"

Mingyu dan Junhui kompak menggeleng. Dan lagi-lagi Seungcheol tersenyum lebar, bangga akan pengetahuan nya.

"Itu karena ombak yang luar biasa kencang di sekitarnya, tapi ketahuilah. Ombak itu hanya buatan. Kalau kau hafal mantera nya, ombak itu akan surut dan kita bisa melewati celah dalam karang itu. Karena sesungguhnya, itu adalah jalan pintas menuju surga yang sengaja di tutup oleh raja Kim Jong-un." Seungcheol mengakhiri penjelasan nya dengan senyum penuh kebanggaan.

Mingyu dan Junhui takjub. Ternyata Seungcheol tidak seburuk yang mereka bayangkan. Selama ini mereka menganggap petugas itu sebagai orang yang kelewat patuh dan kuno.

"Wah, itu terdengar hebat. Lalu, apa kau hafal mantera nya?" Tanya Mingyu kemudian, Junhui mengangguk menimpali.

Seungcheol tersenyum lebih lebar sampai Mingyu merasa bibirnya akan robek.

"Tentu saja. Aku hafal semua rahasia di negeri ini." Sahutnya bangga.

Sebenarnya, Mingyu dan Junhui ingin protes akan keangkuhan Seungcheol. Tapi mau bagaimana lagi, petugas itu memang tahu banyak hal-hal tersembunyi.

Bahtera mereka mendekati barisan karang-karang itu. Sedangkan guncangan mulai terasa dari ombak yang menerpa badan bahtera mereka. Burung-burung gagak hitam berterbangan di atas karang-karang itu.

Mingyu dan Junhui tampak was-was, mereka bersembunyi di balik punggung Seungcheol yang agak merosot karena kondisinya masih lemah.

Petugas itu mulai berkomat-kamit merapal mantra. Ia memejamkan matanya, sedangkan tangannya bergerak di udara, seolah-olah memancarkan magis ke arah karang-karang itu.

Sementara ombak mulai semakin ganas dan goncangan nya terasa akan membuat bahtera mereka terbalik, di tambah burung-burung gagak hitam itu bersuara ribut menambah kengerian yang merayapi suasana.

Beberapa menit keheningan mencekam, Junhui sudah akan teriak kalau saja ia tak ingat bahwa mereka tak boleh berisik, atau ikan-ikan pemangsa di sungai itu akan menerkam mereka.

"Sersaiiii! Buka pintu!" Seungcheol menggeram dan agak berteriak, sambil mendorong tangannya di udara. Dan beberapa saat setelah nya, dua karang yang berdekatan di depan mereka, bergeser menimbulkan bunyi seperti pintu batu yang di dorong.

Junhui dan Mingyu terbelalak dengan mulut menganga, sementara Seungcheol mengulas senyum puas meski dadanya serasa agak sesak setelah membaca mantra pembuka tadi.

"Cepat gerakan dayung nya." Seungcheol berbisik memberi perintah.

Mingyu dan Junhui buru-buru memegang papan kayu bergagang itu, dan mendayung nya sekuat tenaga, mengarahkan bahtera itu untuk lewat ke celah karang yang terbuka.

Seperempat jam setelah kejadian menakjubkan tadi, mereka berhasil melewati karang-karang itu. Dan alangkah terkejutnya mereka, mendapati lautan yang berdebur damai dengan camar berterbangan di atasnya. Ini bukan sungai Kematian tadi!

Seungcheol menyeringai sombong melihat ekspresi Junhui dan Mingyu yang masih terkagum-kagum.

Dua pemuda itu sibuk mengedarkan pandangan akan keindahan yang terbentang di depan mata. Samar-samar mereka melihat tepian dengan pantai putih dan nyiur melambai serta hembusan angin berbau ketenangan yang menerpa wajah dan helaian rambut mereka.

Seungcheol membentang kan tangan, seolah-olah seorang tuan rumah yang menyambut tamunya.

"Selamat datang di surga~"

Dan dua pemuda yang kini berdiri di sebelahnya tidak bisa menahan pekikan gembira.

Tbc :)