Happier

.

.

[3]

Jalan yang dilintasi mobil Sehun bukan jalan menuju rumah Luhan maupun apartemen Sehun, tapi Luhan tidak cukup peduli untuk bertanya.

Sepuluh menit kemudian mobil itu berbelok kesebuah kawasan hutan buatan ditengah kota yang cukup sepi. Ada danau kecil ditengah-tengahnya, dan Luhan bertanya-tanya kenapa tempat seindah ini bisa luput dari radarnya selama ini.

"Tunggu disana."

Tunjuk Sehun pada salah satu bangku dibawah pohon rindang yang menghadap ke danau. Setelahnya Sehun pergi, dan Luhan tidak tertarik untuk tahu kemana pria itu pergi.

Ia melangkah menuju bangku yang dimaksud, lalu duduk disana. Udara sore dengan bias matahari jingga, dan suasana sepi yang jauh dari bising kota seperti ini benar-benar favoritnya. Seketika penat ditubuh dan kepalanya seakan menguap. Luhan menutup mata lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil menikmati sunyi yang menenangkan.

Ia hampir terlena jika saja sesuatu yang dingin tidak secara tiba-tiba menyapa pipi mulusnya. Luhan menoleh kaget, dan menemukan segelas Americano dingin tepat didepan wajahnya. Ia mengambil gelas itu dan menatap kesal pada Sehun.

Meski kesal, kopi favoritnya itu tetap ditelan juga. Keberadaan Sehun diacuhkan, ia berniat untuk diam saja. Sehun yang membawanya kesini, jadi harus Sehun juga yang bicara lebih dulu. Lagipula duduk permasalahan ada pada pria itu.

.

"Kenapa gak nyariin saya dua minggu ini?"

Kalimat pertama Sehun yang sukses membuat Luhan menoleh padanya dengan mulut menganga. Kopi dimulutnya yang sudah akan ditelan kini sukses keluar lagi. Sehun tersenyum melihat tampang kekasihnya yang begitu lucu. Ia mengambil sapu tangan dari kantong celananya, dan membersihkan sisa kopi di dagu Luhan.

"Jorok."candanya pelan.

Luhan hanya menatapnya dengan tatapan tak percaya,

'apa yang salah dengan otak manusia ini? Sebegitu percaya dirinya-kah dia, sampai-sampai mengira aku akan repot-repot mencarinya? Padalah yang salah disini siapa? Apa dia pikir aku sebodoh itu untuk datang mengemis-ngemis padanya? Yang benar saja! Otak dokter ini benar-benar perlu diuji kelayakan.', batinnya.

Luhan merampas sapu tangan Sehun dan berinisiatif membersihkan wajahnya sendiri. Ia masih menolak bicara, mungkin efek syok mendengar pertanyaan Sehun barusan.

"Kamu kayaknya having fun banget ya, selama dua minggu ini?"

Pertanyaan selanjutnya yang hampir sukses melumpuhkan kerja otak Luhan. Sehun sedang mengajaknya bercanda atau bagaimana? Karena jujur saja ini sama sekali tidak lucu. Dalam dua minggu ini, ia mencoba mati-matian berdamai dengan beban pikiran yang terus mengusiknya, hingga jatah istirahat dan tidur malamnya berkurang jauh. Bahkan wajahnya nyaris seperti mumi kurang pengawet setiap pagi, dan Sehun bilang ia bersenang-senang?

'Dasar pria kaku tak berperasaan!' Ingin rasanya Luhan meneriakan itu didepan wajahnya.

"Nggak perlu basa-basi deh. Langsung aja ke intinya, jangan cari-cari alasan bodoh buat nyalah-nyalahin saya."

Luhan yang sudah bertekat untuk tetap tenang menghadapi apapun yang akan terjadi, terpaksa kalah pada emosinya sendiri. Oh Sehun benar-benar jago pancing emosi.

"Ini saya langsung ke intinya. Saya nggak lagi cari-cari alasan, dan sama sekali nggak berpikir apa yang kamu lakuin itu salah. Saya pengen tahu dulu cerita versi kamu kayak gimana."

Jika Luhan sudah bicara dengan emosi menggebu-gebu, berbanding terbalik dengan Sehun yang masih telihat begitu tenang.

"Kamu ngomong apa sih? Yang seharunya menjelaskan 'tuh kamu. Kenapa saya yang disuruh bicara?"

"Saya akan menjelaskan apapun yang kamu ingin tahu. Tapi kamu nggak pernah tanya apa-apa kan, selama ini? Jadi ya saya diam saja, saya pikir kamu paham semuanya"

"Nggak pernah nanya? Aku udah minta kamu jelasin semuanya malam itu, tapi kamu bilang nggak bisa karena harus balik lagi kerumah sakit buat minta maaf sama selingkuhan kamu itu kan? Kamu lupa!?"

Gelas plastik ditangan Luhan remuk akibat diremas terlampau kencang. Wajahnya memerah menahan marah, dan ia menatap Sehun seolah-olah tatapannya bisa menguliti lawan bicara.

"Selingkuhan, ya... Bukannya yang lagi selingkuh itu kamu?"

Nada bicara Sehun memang terdengar santai, tapi ia tampak sudah mulai tidak tenang. Ia balas menatap dingin pada Luhan. Gelas kopinya sendiri ia letakan di celah kosong antara dirinya dan Luhan.

"Sehun please, jangan lempar kesalahan kamu ke saya"

"Kamu beneran nggak mau cerita, atau nggak peka dengan apa yang saya maksud sekarang?"

Kerutan di dahi Luhan membuat Sehun yakin, pernyataan kedua dari kalimatnya yang paling benar. Luhan belum paham, apa yang sedang mereka bahas saat ini. Ia mengambil jeda, sebelum melanjutkan.

"Berarti selama ini kamu memang tidak pernah benar-benar memikirkan saya.."

.

Keduanya terdiam. Pandangan mereka terkunci pada lawan bicara masing-masing. Banyak hal yang terlintas disana, bingung, marah, dan kecewa bercampur jadi satu.

Hingga akhirnya Sehun yang lebih dulu memutuskan untuk bicara,

"Apapun yang kamu ingin tahu tentang saya silahkan tanya. Saya akan menjelaskan semuanya, jadi kamu tidak perlu menebak aneh-aneh atau terhasut informasi miring dari orang lain tentang saya.

Saya tahu kamu dan Baekhyun sering berbagi cerita tentang apa saja, termasuk tentang saya. Terkadang dia juga sering ceritain kamu dikantor tanpa saya tanya, sejujurnya saya lebih senang dengarnya dari kamu. Lagipula, semua informasi darinya tidak bisa saya telan bulat-bulat, karena saya kenal betul Baekhyun yang punya bakat jadi wartawan gosip. Dan saya yakin alasan kenapa kamu muncul tiba-tiba di kafe sore itu juga karena Baekhyun kan?"

Luhan akui, itu kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari Sehun.

"Kamu flashback-nya gak perlu jauh-jauh. Gak penting aku tahu dari siapa kalau kamu lagi dekat sama orang lain. Cukup jelasin kenapa— jelasin aja pokoknya!"

"Waktu itu saya bilang kita bicara nanti, karena memang apa yang akan kita bicarakan itu bukan soal sepele yang bisa dibahas didepan rumah, apa lagi dengan emosi yang tidak stabil. Saya gak bilang kamu saja ya, jujur waktu itu saya juga cukup emosi dan—"

"Nanti kapan? Pernah kamu hubungi atau datengin saya setelah malam itu?" Potong Luhan.

"Kamu yakin nunggu saya datengin kamu?" tanya Sehun.

"Maksud kamu?"

Sehun diam sesaat, memilih informasi mana dulu yang harus ia sampaikan.

.

"Sehari setelah malam itu, saya gak nyari kamu karena saya pikir kamu perlu waku berpikir. Baekhyun bilang kamu cukup sewot dikantor, seperti sedang banyak pikiran dan agak susah diajak ngobrol, jadi dia menyarankan saya untuk gak nyari kamu dulu hari itu. Tapi saya juga tidak bisa membiarkan kamu salah paham lama-lama, makanya malam selepas dinas saya langsung kerumah kamu untuk bikin clear semuanya. Tapi mama kamu bilang kamu lagi jalan sama teman SMA kamu, jadi saya pamit setelah puas main catur empat babak sama papa kamu."

Luhan bungkam, sepertinya ada hal-hal yang ia lewatkan selama dua minggu ini, Ia bahkan tidak tahu Sehun pernah mencarinya kerumah.

.

Melihat Luhan tak merespon, Sehun merasa bahwa ini kesempatannya untuk merinci satu-persatu masalah diantara mereka.

"Besoknya saya jemput kamu ke kantor, orang kantor kamu bilang kamu sudah balik duluan sama teman SMA kamu, lagi. Saya telepon, dan nomor kamu masih tidak aktif bahkan sejak malam kita terakhir bertemu. Jadi saya mengalah lagi hari itu. Untuk hari-hari selanjutnya saya tidak sempat ketempat kamu karena memang saya gak bisa terus-terusan meninggalkan dinas. Untungnya mama kamu masih mau jawab telepon saya yang selalu nanyain anaknya lagi apa, dimana, sama siapa. Well, saya gak punya pilihan lain. Ponsel kamu kayaknya rusak." Sindir Sehun halus.

"Minggu lalu Baekhyun sama dr. Park main ke apartemen saya. Saya tanya keadaan kamu gimana dikantor, masih keliatan banyak pikiran kah? Tapi dia justru bilang kalo kamu lagi banyak jadwal sama teman SMA kamu itu ya?"

Luhan tentu saja kaget, ternyata sudah cukup banyak informasi yang Sehun dapat. Baekhyun memang tidak bisa dipercaya. Tapi egonya kembali bicara, Sehun saja bisa punya 'teman jalan' lain tanpa sepengetahuannya, jadi mengapa ia tidak bisa? Pria ini perlu disadarkan sekali-sekali.

"Saya sih, tidak masalah. Kamu mungkin butuh refreshing. Saya sadar, sangat jarang mengajak kamu date keluar dengan alasan basi seperti sibuk. Lagi pula kata Baekhyun, ini pertama kalinya kamu dan teman kamu itu bertemu lagi sejak hampir belasan tahun kan? Pasti butuh lebih dari sehari-dua hari untuk nostalgia."

Luhan masih diam. Pikirannya kembali pada beberapa hari terakhir. Ia memang cukup 'sibuk' dengan temannya, bahkan mungkin terlalu sibuk sampai-sampai ia tidak sadar bahwa Sehun ternyata mencarinya. Parahnya ia yang awalnya sengaja mengabaikan ponselnya, malah jadi benar-benar lupa menyimpannya dimana. Pantas saja Sehun tidak bisa menghubunginya, ia juga menolak bicara tentang Sehun dengan siapapun termasuk mamanya.

Ternyata sudah sejauh itu aksi 'protesnya'. Luhan jadi merasa bersalah.

"It's okay. Who's not excited about reunion with their old friend, right

Yang saya tidak paham, harus tiap hari-kah ketemunya? Sudah seminggu ini saya selalu keduluan dia terus buat jemput kamu, dirumah, dikantor. Saya juga baru tahu kamu suka jauh-jauhan ke luar kota cuma buat makan sushi, abis itu pulang. Apalagi nonton street dance, sampai lewat tengah malam pula—"

"Dari mana kamu tahu?" Sela Luhan,

"Baekhyun cerita apa aja? Kamu bilang lebih suka denger langsung dari saya, kenapa jadi nanya-nanya ke Beakhyun sekarang? Kamu suruh dia mata-matain saya ya!?" cecarnya.

"Gimana mau nanya kamu, kalau ponsel kamu aja susah dihubungi. Lagipula saya gak dengar ini dari siapa-siapa, semuanya saya lihat langsung. Saya tidak se-gila itu minta tolong orang buat mata-matain kamu. Saya lebih suka bikin kesimpulan dari apa yang saya liat sendiri.

Oke, ngikutin kamu diam-diam itu salah… but looks like you and your friend had a lot of things to surpised me. Dan meskipun dia teman kamu, dia tetap masuk daftar orang yang perlu saya awasin pas lagi jalan sama kamu. Saya tidak kenal dia, dan kayaknya kamu juga gak ada niat ngenalin. Jadi saya tidak bisa menilai seperti apa teman kamu ini. Nomor kamu tidak bisa dihubungi, jadi satu-satunya cara menjaga kamu ya diawasi secara langsung." Jelas Sehun, berharap Luhan mengerti alasannya menjadi stalker dadakan selama hampir dua minggu ini.

"Temanku bukan psycopat yang bisa lepas kontrol kapan aja. Kamu gak perlu se-posesif itu sama saya" Sanggah Luhan, jelas sekali ia tersinggung. Tidak terima temannya dicurigai bukan orang baik-baik, dan menurutnya Sehun sudah keterlaluan. Ia bukan lagi anak kecil yang perlu dijaga dan diawasi setiap saat.

"Saya gak ada bilang dia psycopat atau sejenisnya—"

"Cara kamu ngomongin dia, seolah-seolah kamu nuduh dia kayak gitu" sela Luhan lagi.

"Saya minta maaf kalo kesannya begitu. Saya hanya mencoba menjaga apa yang sudah seharusnya saya jaga. Tapi sejauh ini sih, kayaknya kamu baik-baik saja. Tidak seperti yang saya khawatirkan. Kamu bahkan punya energi lebih untuk bela teman kamu, tapi diam terus ketika saya tanya…"

.

Kalimat-kalimat Sehun seperti bom waktu bagi Luhan, setiap hal yang didengarnya membuat ia frustasi. Ia tidak ingin disalahkan, tapi juga tidak bisa menyangkal bahwa apa yang Sehun katakan itu benar. Egonya terus berteriak bahwa yang salah disini bukan dirinya, ia diperlakukan tidak adil jadi sudah sepantasnya ia berlaku tidak adil juga. Namun jika mengikuti egonya, sama saja dengan mengakui bahwa ia sedang mencoba berselingkuh demi membalas perlakuan Sehun.

Memikirkannya saja membuat Luhan ingin muntah. Ia tidak serendah dan se-kekanak-kanankan itu, yang dilakukannya selama ini dengan temannya hanya untuk menenangkan diri tanpa maksud tersirat lainnya. Itu yang ingin ia jelaskan saat ini, tapi entah mengapa rasanya begitu sulit menyampaikan isi kepalanya secara verbal.

.

Sehun sendiri sadar bahwa ia sudah kehilangan ketenangannya, ini tidak akan berakhir baik jika ia juga ikut-ikutan emosi. Ia ingin salah paham ini berakhir. Awalnya tidak ada maksud untuk memperkeru keadaan sampai seperti ini, ia hanya perlu menjelaskan beberapa hal pada Luhan dan menanyakan tentang teman yang akhir-akhir ini lebih banyak menyita perhatian Luhan, kemudian selesai. Biarlah apa yang sudah terlanjur ia tahu, menjadi informasi tambahan untuk ia simpan sendiri. Tapi egonya seolah memberontak, melihat Luhan yang terkesan lebih membela temannya dibanding kekasihnya sendiri.

Diraupnya oksigen sebanyak mungkin untuk menenangkan diri. Ini sudah terlalu jauh dari penyelesaian yang sudah ia pikirkan matang-matang. Rasanya semakin banyak ia bicara, maka semakin larut pula mereka dalam kesalah paham. Ini tidak bisa diteruskan.

.

"Maaf Lu, kalau apapun yang saya katakan bikin kamu tidak nyaman." Ucap Sehun. Ia mencoba memilih kata-kata yang tepat agar tidak lagi memancing emosi keduanya.

"Kamu mungkin merasa lebih baik ketika jalan sama teman kamu, tapi apa kamu bener-bener gak ingat saya?... Sadar atau enggak kamu mulai bikin jarak sama saya, dan saya gak mungkin diam saja kan?

Kamu harus tahu kalo saya tidak suka, kita jadi seperti ini. Apalagi kemarin saya liat kamu bawa teman kamu itu ke rumah, dan orang tua kamu sepertinya sudah kenal baik sama dia. Setelah saya tanya Baekhyun—satu-satunya orang yang bisa saya tanya—akhirnya dia jujur kalau kalian ternyata bukan teman SMA biasa. Saat itu saya bikin keputusan, gak akan lagi biarin kamu jalan sama dia.

Setidaknya sebelum apapun yang sedang terjadi antara kamu dan saya, di beresin."

.

.

.

Tbc.

.

.

Note :

Buat teman" yang merasa risih dengan dialog formal di cerita ini, perlu saya jelasin kalau saya memang sengaja menggunakan dialog seperti itu untuk mendukung karakter Sehun yang kaku.

Khusus untuk Luhan yang interaksinya memang paling banyak sama Sehun, akan saya mix penggunaan kata 'saya' dan 'aku' untuk kepentingan cerita kedepannya, jadi mohon dimengerti.

Buat yang sudah mau mampir dan repot-repot meninggalkan jejak, Thanks a lot.