Happier

.

.

[4]

Luhan kehilangan kecakapannya untuk bicara. Seingatnya, mereka ada disini untuk membahas tentang 'perselingkuhan' Sehun. Lalu kenapa semakin kesini justru dirinya yang semakin disudutkan?

Entah dimulai dari mana, tapi tentunya ada yang salah dengan situasi ini. Luhan berpikir keras, sebenarnya apa yang terlewatkan.

Ia ingat jelas bahwa dua minggu ini, kepalanya dibuat pusing memikirkan hubungannya dengan Sehun. Apalagi setahunya Sehun tidak punya niat untuk menyelesaikan masalah diantara mereka. Membuatnya frustasi dan ekstra sensitif. Sulit baginya untuk membangun komunikasi dengan siapa saja, tanpa marah-marah. Bahkan atasannya-pun hampir dibentak, untung saja saat itu ia bisa dengan cepat mengendalikan diri. Jika tidak, saat ini mungkin ia sedang sibuk mencari lowongan pekerjaan.

Ia bukan dengan sengaja menghindari Sehun hanya karena ingin balas dendam atau merajuk, pikirannya tidak sedangkal itu. Seperti kata Sehun, ia memang perlu waktu untuk berpikir tentang hubungan keduanya. Mereka memulai segala sesuatu dengan instan, tapi tidak bisa selamanya dibiarkan seperti itu.

Apapun 'gelombang' yang sedang mereka lalui ini, mungkin adalah kesempatan untuk mereka mempelajari perasaan masing-masing.

.

Setelah terdiam cukup lama. Luhan akhirnya memutuskan untuk menyampaikan isi kepalanya,

"Kalau aja malam itu kamu langsung bicara baik-baik ke saya, mungkin semuanya gak akan sampai seperti ini. Tapi kamu tahu gak, saya justru bersyukur kamu gak jelasin apa-apa malam itu. Karena akhirnya saya jadi punya waktu untuk mikirin lagi hubungan kita." Katanya sambil menatap Sehun.

"Maksud kamu?" tanya Sehun tak mengerti.

"Kamu merasa gak sih, kalau apa yang kita jalani ini terlalu buru-buru? Maksudku, kita baru kenal dan tiba-tiba saja semua orang sudah tahu kalo kita lebih dari sekedar teman, padahal mungkin saja kita cuma terlalu nyaman dengan keadaan. Kamu yang butuh teman berbagi di sela-sela kesibukan kamu, dan saya yang… mungkin kesepian…" jelas Luhan.

Sebenarnya ia juga merasa tak yakin dengan apa yang baru saja diucapkan. Tapi mungkin inilah satu-satunya kesempatan untuknya 'mempertanyakan' hubungan mereka pada Sehun.

"Kamu ngomong apa sih, Lu?" tanya Sehun yang semakin kebingungan.

"Ya… Maksudku… apa kamu gak merasa aneh dengan hubungan seperti ini? Kita bahkan memulai semuanya tanpa tahu perasaan masing-masing, dan—"

"Kenapa tiba-tiba membahas soal itu? Kenapa gak dari awal kamu tanya itu ke saya? Kenapa baru sekarang?" Potong Sehun.

Luhan terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Selama ini ia memang tak pernah mempermasalahkan soal 'perasaan' dalam hubungan mereka. Setengah tahun ini, rasanya Sehun mampu membuat hidupnya nyaman dan itu dirasa cukup. Meskipun terkadang ia juga sering dibuat jengkel dengan sikap Sehun yang terlalu kaku dan terkesan otoriter, tapi pada akhirnya ia selalu bisa memakluminya. Lalu kenapa sekarang ia bertingkah seperti remaja yang selalu menuntut kepastian dari pasangannya. Ini tidak seperti apa yang dibayangkannya.

Melihat Luhan yang terdiam, Sehun tiba-tiba terpikirkan satu kesimpulan yang sangat tidak disukainya,

"Kenapa diam? Kamu tiba-tiba jadi begini bukan karena mau balikan sama mantan kamu itu kan?" tanya Sehun curiga.

"Apa?"

Sehun enggan mengulang pertanyaannya, tapi Luhan perlu membuktikan bahwa pendengarannya berfungsi baik.

"Balikan sama Kai?" tanya Luhan memastikan.

"Kai?" tentu saja Sehun merasa asing dengan satu nama yang baru pernah didengarnya itu.

"Ya, Kai. Teman SMA-ku itu… Bukannya kamu ngikutin kami terus? Masa gak tau namanya?"

"Saya ngikutin kalian bukan karena saya tertarik dan ingin tahu tentang dia. Sudah saya jelasin kan, saya cuma mau memastikan kamu baik-baik saja selama lagi sama dia." Tegas Sehun.

Lagi-lagi satu keadaan yang tidak menguntungkan bagi Luhan. Harusnya ini kesempatannya membela diri. Tapi kenapa selalu saja ada 'serangan balik' dari Sehun, yang langsung tepat sasaran dan membuatnya kehabisan bahan pertahanan diri? Ini pertama kalinya ia bertengkar hebat dengan Sehun, dan kalau saja Luhan tahu akan serunyam ini jadinya ia tidak akan pernah memulai apapun yang bisa memancing emosi keduanya. Atau bahkan seharusnya ia tidak memulai apapun dengan Sehun.

"Oke! Dengar Oh Sehun, aku sudah terlalu lelah untuk melanjutkan ini. Kalau kamu lupa, hari bahkan sudah gelap dan kita masih disini-disini saja. Saya hanya akan menjelaskan ini sekali saja, dan kumohon tolong jangan menjeda penjelasanku. Aku ingin semuanya selesai"

Sehun sebenarnya masih ingin bicara, tapi ia sadar keadaan saat ini sudah sangat tidak memungkinkan untuk keduanya bicara 'baik-baik'. Lagipula seperti kata Luhan, ia juga baru sadar bahwa matahari sudah tidak terlihat lagi, hanya ada lampu-lampu taman yang bisa membantunya melihat wajah Luhan dengan jelas. Luhan juga sepertinya sudah sangat lelah, jadi kali ini benar-benar diberikannya kesempatan untuk Luhan bicara, tanpa niat menjeda.

"Aku memang sempat punya hubungan dengan Kai, tapi gak lama. Setelah lulus SMA, dia pindah ke State dan kami putus komunikasi sampai dua minggu lalu. Sudah hampir tiga tahun sejak dia balik, tapi baru belakangan ini punya waktu untuk nyariin aku.

Alasan kenapa belakangan aku sering jalan sama dia juga karena kamu! Bukan karena mau balas dendam, ya! Dari dulu Kai memang selalu bisa ngasih solusi untuk semua masalah-masalahku, jadi kukipir gak ada salahnya cerita ke dia. Siapa tahu dia bisa bikin aku berhenti kepikiran kamu yang diam-diam jalan sama wanita lain."

Sampai disini, Sehun sudah benar-benar ingin mengatakan sesuatu. Tapi melihat ekspresi Luhan, ia kembali menahannya.

Kami bertemu hanya sebagai teman lama, dan bisa ku jamin gak ada niat sama sekali untuk balik lagi jadi couple atau semacamnya. Kai sudah punya kehidupanya sendiri, begitupun saya. Jadi kamu gak perlu nuduh aku aneh-aneh."

Luhan seperti habis berlari ketika akhirnya mampu mengeluarkan semua yang terus menggangu pikirannya sejak tadi. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menenangkan diri. Rasanya begitu lega, seperti baru saja melunasi hutang yang sudah lama ia tunggak.

"Oke, saya paham. Tapi perlu saya koreksi soal dr. Song—"

"NO! Sekarang aku gak mau dengar apapun dulu dari kamu. I've had enough. Aku mau pulang, mandi, makan, tidur, aku capek!" sanggah Luhan.

'Membayar hutang-hutangnya' dirasa cukup untuk Luhan saat ini. Ia tak mau mendengar atau bicara apapun, dengan siapapun lagi terutama Sehun. Mereka akan bicara nanti saat Luhan sudah ingin bicara, atau bisa jadi mereka tidak perlu bicara lagi. Seperti katanya, ia perlu waktu untuk memikirkan apapun yang seharusnya dipikirkan. Mulai dari kelanjutan hubungan mereka, ataupun menyesali semua tindakan yang dilakukannya saat ini dan yang sudah berlalu. Namun hal terpenting yang diinginkannya sekarang adalah pulang. Ia sudah benar-benar lelah.

.

"Lu, mau kemana?" tanya Sehun begitu Luhan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah tempat parkir. Sehun mengikutinya dari belakang, sambil mencoba menahannya.

"Pulang! Aku capek."

"Okay, kita pulang." Sehun akhirnya mengalah, mereka bisa bicara lagi nanti. Yang terpenting sebagian dari kesalah-pahaman yang merenggangkan hubungan mereka sudah terurai. Sehun hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk menyelesaikan sisanya, secepatnya.

.

Begitu sampai di tempat parkir, Luhan tidak langsung menuju mobil Sehun. Ia terus berjalan menuju pintu keluar di dekat jalan utama.

"Mobilnya disini, Lu" Sehun mengingatkan. Ia bingung melihat Luhan yang terus berjalan tanpa meresponnya, membuat ia terpaksa menyusul pria itu lagi.

"Mobilnya disana Luhan" katanya begitu berhasil meraih tangan Luhan dan memaksa pria itu untuk berhenti.

"Kupikir sebaiknya kita pulang sendiri-sendiri dulu. Aku gak mau lanjutin yang tadi, apalagi didalam mobil." Tolak Luhan.

"Saya janji gak akan bicara apa-apa lagi. Kamu boleh langsung tidur di mobil, dan akan saya bangunin kalau sudah sampai."

"Enggak Sehun… Kali ini aja kamu tolong mengerti" pintanya, Luhan benar-benar ingin sendiri sekarang.

"Aku bisa naik Taxi" tambahnya.

"Dari sini ke rumah kamu lumayan jauh Lu—"

"Sehun, please…"

Melihat Luhan yang memohon, Sehun lagi-lagi tak kuasa memaksa. Ia tidak akan suka dengan usul yang akan ia sampaikan ini, tapi menurutnya ini lebih baik dari pada membiarkan Luhan pulang naik Taxi malam-malam seperti ini.

"Oke, kalau kamu gak mau sama saya… Telepon Baekhyun atau… Kai, ya? Minta salah satu dari mereka jemput kamu. Dari pada naik Taxi—"

"Seriously? Kayaknya ada yang gak beres deh sama otak kamu. Mending kamu buru-buru ke rumah sakit sekarang, takutnya kelamaan diluar begini bikin kerja otak kamu menurun." Kata Luhan sarkas, lalu menghempaskan tangan Sehun dan cepat-cepat memberhentikan Taxi kosong yang kebetulan lewat. Begitu duduk didalamnya, ia meminta supir Taxi itu untuk menambah kecepatan. Meninggalkan Sehun yang masih berdiri dipinggir jalan sambil meneriakan namanya.

Luhan benar-benar tidak mengerti cara berpikir Sehun. Meminta orang lain untuk menjemputnya ke tempat sejauh ini, saat malam hari seperti ini? Benar-benar tidak bisa dipercaya. Apalagi dari semua orang, ia memilih Kai. Seolah-olah masalah diantara mereka belum cukup banyak. Sebenarnya apa yang dipikirkan pria itu, Luhan sama sekali tidak bisa menebak. Sehun seperti diciptakan untuk hidup di dunianya sendiri, bukan dengan orang-orang yang lebih suka menikmati hidup seperti Luhan.

.

.

Sendirian tanpa Sehun seperti ini, membuat kemampuan berpikir Luhan jadi lebih baik. Ia sadar, sudah berkontribusi banyak untuk kesalah pahaman yang berlarut-larut diantara mereka. Ia bahkan tidak memberi Sehun kesempatan untuk menjelaskan soal teman wanitanya. Sejujurnya ia gelisah ketika diajak bicara soal wanita itu. Rasanya ia belum siap untuk setiap kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Ia memang tidak sepenuhnya yakin jika Sehun ingin atau pernah terpikirkan untuk menggantikan posisinya dengan orang lain, karena sebelum ini mereka selalu baik-baik saja. Hanya saja, mengingat senyum hangat Sehun ketika bersama wanita itu benar-benar mengusik pikirannya. Seingatnya Sehun belum pernah tersenyum seperti itu ketika bersamanya.

Menerima ajakan Kai untuk pergi kesini dan kesana adalah salah satu upayanya untuk mengalihkan pikiranya dari Sehun dan wanitanya. Meskipun ia akui terkadang ia sampai benar-benar lupa tentang Sehun. Ia lupa mungkin saja Sehun mencarinya, dan ia juga lupa untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan pria itu. Bersama Kai, rasanya seperti kembali pada masa-masa dimana ia hanyalah Luhan yang bebas melakukan apapun yang ia mau, tanpa ada siapapun yang mencegah. Mungkin karena itulah ia jadi benar-benar tidak ingat pada Sehun.

Tapi yang paling membuatnya frustasi adalah, ketika tadi saat ia akhirnya bertemu dengan Sehun lagi setelah dua minggu tidak melihatnya, entah mengapa Luhan seperti ingin memeluknya. Entah apa yang terjadi padanya, disatu sisi ia merasa bebas ketika Sehun tidak berada di sekitarnya tapi disisi lain ia merasa begitu lega ketika melihat pria itu lagi. Ia terus menahan diri sambil mendengarkan pria itu bicara. Hingga akhirnya ia tahu Sehun mengikutinya diam-diam selama ini.

Bukannya marah, sejujurnya ia malah merasa bersalah. Tapi Luhan punya ego dan harga diri tinggi, yang membuatnya merasa tidak adil jika dirinya disalahkan. Yang dilakukanya selama ini hanya upaya untuk menenangkan diri, tidak pernah terpikirkan sesuatu yang lain. Jadi sudah seharusnya ia tidak disalahkan. Ini seperti lingkaran setan yang tiada akhir, dan Luhan benar-benar sudah kehabisan tenaga untuk memikirkannya.

.

Melalui kaca spion, Luhan dapat melihat Audi hitam yang terus bergerak mengikuti Taxi-nya sejak tadi. Tipikal Sehun sekali, selalu berupaya memastikannya selamat sampai tujuan. Ia jadi bertanya-tanya kenapa dua minggu ini ia tidak sadar Sehun selalu mengikutinya? Apa ia se-lupa itu pada Sehun, ketika sedang bersama orang lain?

Luhan segera menghirup lebih banyak oksigen, upaya terakhir untuk 'menghentikan' kerja otaknya. Urusan dengan Sehun bisa dipikirkan lagi nanti. Ia lebih butuh tidur saat ini, tidak peduli dengan supir Taxi yang sesekali juga meliriknya dari kaca spion mobil. Ia yakin tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya, pria pemilik Audi hitam yang setia mengikutinya itu pasti akan memastikan ia sampai dirumah dengan selamat. Jadi yang perlu dilakukannya sekarang hanyalah tidur.

.

.

.

Tbc.

.

.

Note :

For the last time, bagi yang masih kurang nyaman dengan bahasa dalam dialog yang saya gunakan, khusus untuk cerita ini memang saya sengaja menggunakan bahasa seperti itu. Saya tidak sedang mencoba gaya penulisan baru atau semacamnya, hanya memang dari awal saya punya ide/keinginan untuk bikin cerita dengan dialog seperti ini. Mungkin nama Sehun/Luhan rasanya tidak cocok menggunakan bahasa non-bakunya Indonesia, tapi saya juga tidak spesifik menggambarkan kalau cerita ini base-nya harus di suatu tempat (seperti Korea, misalnya). Saya hanya menyalurkan ide lewat tulisan dengan meminjam nama karakter favorit saya dan mempersilahkan yang baca untuk berimajinasi sendiri. Thx.