JEALOUSY

"Diantara sahabat tidak boleh ada rahasia"

Kalimat itu seolah sudah menjadi perjanjian tak kasat mata yang memang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang saling menamai diri mereka sebagai sahabat. Hal itu juga berlaku pada Lucas, Haechan dan Jaemin, tetapi tanpa mereka sadari sejak sma banyak rahasia yang mereka simpan.

Semakin banyak rahasia yang terus dipendam maka hanya akan menimbulkan kekecewaan pihak lain saat dirinya baru saja menemukan rahasia tersebut. Sama seperti yang Jaemin rasakan saat ini, sungguh Haechan sangat membuatnya kecewa.

Taruhan antara Jisung dan Chenle pun dimenangkan oleh Chenle. Sebenarnya dia tidak ingin Haechan dan Jaemin perang dingin seperti ini tetapi menurut firasatnya sendiri memang kedua orang ini hubungannya akan berada dititik terburuk seperti sekarang ini.

Semalam setelah Mark dan Jeno pulang dengan raut wajah yang begitu berbeda, Jeno dengan senyuman penuh kemenangan dan Mark yang terkejut dan kebingungan. Haechan datang menghadang Jaemin yang hendak masuk kedalam rumahnya seolah tidak mempedulikan apa yang telah ia lakukan pada Mark.

"Jadi beginikah caramu Jaemin? aku tidak tau ternyata sahabatku ini sangat kejam"

Jaemin mengerutkan dahinya, kenapa Haechan harus semarah ini. Seharusnya lelaki mungil itu senang karena dia sudah memberikan kesempatan agar Mark dan dirinya menjadi lebih dekat.

"Sudah ku bilang kan aku tidak menyukai Mark" nada suara Jaemin mulai meninggi bahkan terdengar seperti membentak Haechan, Lucas yang mulai khawatir segera menyusul kedua sahabatnya itu. Ini sangat mengejutkan Jaemin yang sangat menyayangi Haechan malah kini membentaknya.

"Haruskah kau membentak ku Jaemin-ah?! Dan kenapa tidak bilang kalau kau menemui Jeno!" Haechan juga tidak mau kalah pun balas membentak Jaemin tetapi air matanya ikut mengalir. Bahkan rasa sakit hatinya belum sembuh sekarang Jaemin membuat rasanya lebih sakit.

"Memangnya aku harus melapor padamu selama 24 jam apa yang aku lakukan hah?!"

"Na Jaemin pelankan suaramu" Lucas datang mencoba menenangkan kedua orang tersebut dengan nada yang cukup memelas, sungguh ia tidak suka melihat mereka saling menyakiti seperti ini. Tolong ingatkan Lucas untuk memukul Mark karena lelaki itu menjadi sumber masalah.

"T-tapi kenapa kau tidak langsung menolak Mark tadi, kau membuatnya berharap padamu Na" ucap Haechan yang terisak tidak dapat menahan tangisannya lagi. Hati Jaemin tergerak untuk memeluk sosok itu, tetapi ego nya berkata apa yang ia lakukan sudah benar.

"Asal kau tau saja Mark memaksa untuk tetap mendekatiku!"

"Apa?! Jangan bohong Na, Mark sendiri bilang kalau kau sendiri bilang tidak masalah dia menyukaimu dan meminta waktu agar terbiasa"

hell, apa-apaan ini Mark Lee, aku bahkan tidak meminta waktu. Sialan

Jaemin mengumpat dalam hatinya ingin rasanya dia berteriak meluapkan semua emosinya. Ketika ia hendak berbicara lagi, Haechan langsung memberikan pertanyaan yang semakin membuatnya kesal.

"Lalu kenapa harus Lee Jeno?! Kenapa kau harus berlari dengan terburu-buru meninggalkanku demi Jeno? Apa Jeno lebih penting daripada diriku?"

"Cih, sekarang kau mempermasalahkan Jeno? Yaampun demi apapun Lee Haechan aku benar-benar kecewa padamu"

"Aku hanya bertanya dan kau kecewa apa-apaan ini?"

"Tentu saja aku kecewa. Kau cemburu aku menemui Jeno kan? Aku tau dulu kau dan Jeno pernah pacaran, sialan"

Setelah mengucapkan hal itu Jaemin segera masuk kembali ke dalam rumah ia benar-benar sudah lelah dengan semua ini rasanya ia ingin pergi jauh dari sosok Haechan.

Lucas yang sedari tadi setia untuk diam membiarkan sahabatnya berdebat kini wajahnya berubah kebingungan, ada apa lagi dengan Lee Jeno? Sungguh kalo membicarakan kecewa dan sakit hati sesungguhnya Lucas yang harusnya berada dalam perasaan itu. Dia bahkan tidak tau soal Jeno atau pun Mark, Haechan dan Jaemin tidak mencoba berdiskusi dengannya atau sekedar memberitahukannya.

"Lee Haechan, sekarang jelaskan padaku" ucap Lucas dengan nada yang sangat dingin.

.

.

.

Suasana kelas Haechan hari ini sangat tenang tanpa keributan seperti biasanya dilakukan oleh trio sahabat itu, anak-anak yang lain sebenarnya penasaran tapi tidak berani bertanya.

Bagaimana tidak berani, lihat saja ekspresi wajah Jaemin yang penuh rasa emosi dan sejak pagi dirinya berbicara sangat irit namun kalimat yang ia keluarkan selalu terselip kata umpatan, Haechan sendiri terlihat mengenaskan dengan mata yang membengkak dan setiap kali diajak bicara anak itu hanya tersenyum tipis, sementara itu Lucas sendiri asik dengan handphone nya dan ekspresinya sangat dingin berbeda dengan kepribadiannya yang selama ini terkenal sangat lucu serta absurd.

Semakin siang kelas ini semakin mencekam karena tidak ada yang berusaha membuat keadaan menjadi seperti biasanya bahkan Jisung dan Chenle yang biasanya berisik juga menjadi pendiam, Jeno? jangan ditanya dia sendiri cuek karena dia tidak tau kalau dirinya terlibat dalam perkelahian dua sahabat itu.

Jam istirahat merupakan penyelamat bagi kelas itu, segera mereka kabur untuk mendapatkan udara segar karena tertekan hampir seharian didalam kelas dengan keadaan yang mencekam. Haechan pun segera meninggalkan kelas, sepertinya ia akan duduk dipinggir lapangan seperti biasanya. Jaemin yang melihat Haechan seperti itu pun mengumpat dan menendang mejanya dengan kesal.

"Lucas, ceritakan sesuatu pada kami. Bukankah kita harus membantu mereka? Kami melihat kejadian Jeno dan Mark semalam pasti ada hubungannya dengan mereka kan?" Bisik Jisung dengan sedikit takut karena Lucas hanya menatapnya dengan dingin.

"Baiklah aku akan menceritakannya tapi jangan disini"

.

.

.

Chenle kaget setengah mati, rasanya seolah dia menjadi penyebab dari perkelahian Jaemin dan Haechan. Dia juga merutuki mulut besarnya yang sering jahil menggodai Jeno hingga Jaemin mendengarkan sesuatu yang tidak seharusnya.

Segera ia berlari meninggalkan Lucas dan Jisung yang masih menuntut penjelasan. Kini ia sampai didepan Haechan dengan napas terengah dan rasanya ingin menangis saat itu juga.

"Chenle ada apa denganmu?" Haechan kebingungan.

"Maafkan aku Haechan harusnya aku lebih menjaga mulutku ini. Aku benar-benar minta maaf" Chenle berlutut dan menggosokan kedua tangannya meminta pengampunan dari Haechan, ia sungguh sangat bersalah.

Haechan yang kaget pun segera menarik Chenle karena beberapa siswa dan siswi mulai melirik dan penasaran dengan adegan keduanya. Haechan segera memeluk Chenle dan menenangkan anak itu agar tidak bereaksi berlebihan seperti tadi.

"Ayo ceritakan perlahan padaku"

Chenle menunduk dan memainkan kedua ujung bajunya, mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan segalanya pada Haechan.

"J-jadi... minggu lalu saat aku dan Jeno sedang menghabiskan waktu di ruang kelas dance, aku hanya bercanda menggodai Jeno soal dulu kalian pernah pacaran. Sungguh aku dan Jeno awalnya tidak tau Jaemin juga ada disana, ketika kami sadar awalnya aku sedikit panik karena dulu kau sendiri yang bilang hanya aku dan Jeno yang tau soal itu. Tetapi Jaemin dengan santai datang dan berkata 'aku juga tau jadi tidak perlu terkejut' sambil tertawa seperti biasanya. Sungguh aku tidak tau kalau sebenarnya ia menyukai Jeno"

Haechan terkejut, jadi Jaemin marah padanya karena ia pernah 'pacaran' dengan Jeno itu karena Jaemin menyukai Jeno? Haechan rasanya ingin protes pada Tuhan kenapa masalah hidupnya sesusah ini padahal semuanya hanya salah paham. Serius Haechan ingin menendang bokong Jaemin dan memaki kebodohan temannya itu dan tidak bisa melihat kenyataan bahwa sebenarnya Jeno menyukai Jaemin sejak dulu.

Haechan segera menarik lengan Chenle untuk beranjak dan mencari keberadaan Jaemin untuk meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi, namun tiba-tiba Jaemin datang dan menghadang jalan mereka. Haechan langsung memasang wajah kesalnya yang sama seperti ekspresi Jaemin sekarang ini. Mereka tidak sadar sudah menjadi tontonan murid lain sedari tadi.

"Dasar bodoh Na Jaemin, harusnya kau bilang padaku dan bertanya yang sebenarnya. Jeno juga menyukaimu bodoh"

Wajah Jaemin sedikit terkejut dan kebingungan, kerumitan apalagi yang harus ia lewati? Dirinya berpikir keras haruskah ia jujur pada Haechan sekarang sebelum semuanya terlambat?

Semua orang yang ada disana menantikan apa jawaban dari Jaemin karena ekspresinya yang berubah menjadi sulit ditebak seolah sedang menahan sesuatu. Mungkin menahan rasa ingin ke toilet?

"Hey, kau lebih bodoh Haechan"

Haechan segera mengangkat tangannya ingin memukul kepala Jaemin karena beraninya mengatai Haechan padahal Jaemin sendiri yang bodoh mudah tertipu dengan candaan Chenle dan Jeno.

Namun tangan Haechan tidak sampai pada kepala Jaemin dan hanya menggantung di udara akibat pengakuan Jaemin yang sangat mengejutkan semua orang.

"Bodoh aku menyukaimu dari dulu Lee Haechan"

.

.

.

TBC

Halo semuanya setelah sekian lama akhirnya aku bisa mengupdate cerita ini. aku berterima kasih pada kalian semua yang sudah memfollow, favs dan memberikan review pada cerita ini serta masih setia menunggu kelanjutan.

aku mohon maaf untuk updatean cerita ini yang semakin membingungkan, tidak jelas karena aku sebenarnya tidak percaya diri untuk melanjutkan cerita ini :(

tetapi aku akan berusaha menyelesaikan cerita ini sampai selesai karena aku sendiri kehausan karena kekurangan konten serta ff markhyuck :(

sampai jumpa di chapter selanjutnya yaa. aku sayang markhyuck dan kalian para pembaca cerita ini.