Hari sudah mulai gelap. Pada umumnya anak-anak sudah pulang ke rumah, namun kali ini di sebuah taman ada seorang anak laki-laki duduk sendiri di sebuah ayunan, termenung. Anak itu adalah Fuji Shusuke.

Dia hanya duduk diam saja disana, sambil sesekali menghela napas, memikirkan kejadian tadi siang. Dia sedikit bertengkar dengan adiknya, Yuuta. Memang bukan hal yang luar biasa, sih, tapi kali ini berbeda.

Kenapa sekarang jadi begini? Padahal waktu kecil dulu kami akrab sekali, tapi kenapa sekarang rasanya hubungan kami sedikit merenggang? Apakah karena aku dan Yuuta sudah mulai dewasa? Ah, aku bingung.

Pindah sekolah sih bukan masalah, tapi apa itu benar-benar pilihan yang tepat? Apa Yuuta sudah memikirkannya dengan sungguh-sungguh?

Shusuke melihat jamnya. Sudah pukul 7. Harusnya aku segera pulang, tapi mungkin Yuuta masih kesal.

Di tengah kebingungan itu, Shusuke disadarkan oleh kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia menoleh ke atas dan dilihatnya Fuji Yuuta, adiknya.

"Kakak," katanya, "Kucari kemana-mana, ternyata disini."

"Yu... Yuuta..." Shusuke masih sedikit gugup untuk berbicara dengannya. "Ayo kita pulang." sahut Yuuta lagi.

"Tunggu," panggil Shusuke, "Ada yang ingin kubicarakan, di sini saja." akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. Yuuta mengerti maksudnya. "Baiklah."

"A... apa keputusanmu untuk masuk ke St. Rudolph benar-benar tepat? Waktu itu sudah kau pikirkan matang-matang? Aku ingin jawaban yang pasti." tanya Shusuke dengan masih agak ragu-ragu.

Yuuta hanya menjawab, "Ya." Sudah kuduga, pertanyaan yang bodoh, pikir Shusuke.

"Kakak sudah tahu alasannya, kan?" lanjutnya.

"Ya, tapi setelah kau keluar dari Seigaku, dan setelah kau bertanding melawan Echizen, kupikir mereka sudah melihatmu sebagai Yuuta, anak kelas 2 SMP, bukan sebagai adikku. Tapi..." Shusuke tidak melanjutkan kalimatnya.

"Aku sudah menyadari hal itu." sela Yuuta.

"Kalau begitu bisakah kau..."

"Aku masih ingin tetap disana." tegasnya.

"Tapi aku sedikit khawatir kalau-kalau hal semacam waktu itu terjadi lagi," lanjut Shusuke, "Aku tidak ingin kau dipermainkan oleh si Mizuki Hajime itu lagi."

Yuuta hanya terdiam. "Aku tahu," katanya kemudian, "Tapi aku masih sedikit kagum padanya, waktu ia mengalahkanku. Sekarang aku sudah tahu sifat aslinya, dan aku tidak akan tertipu lagi untuk kedua kalinya."

"Dan aku masih punya satu ambisi lagi," kata Yuuta lagi, "Yaitu mengalahkan satu-satunya kakak laki-lakiku, Fuji Shusuke, dengan tenis."

Shusuke tersenyum. "Hm, baiklah. Akan kutunggu sampai saat itu tiba."

"Oh, iya, aku belum bilang pada kakak, ya," sahut Yuuta tiba-tiba, "Selamat ulang tahun."

Shusuke terdiam. Dia benar-benar lupa akan hari ulang tahunnya sendiri. Dan Yuuta yang mengingatkannya. Ternyata Yuuta tidak benar-benar marah padanya...

"Terima kasih...!!" karena terlalu senang, ia langsung memeluk Yuuta.

"Kakak...!! Sudah, lepaskan, malu kalau ada yang lihat!" kata Yuuta, mukanya sedikit memerah. "Ayo kita pulang, semua sudah menyiapkan pesta untukmu, tuh."

"Ayo," sahut Shusuke. Ia mulai menyadari, bahwa inilah Yuuta, rivalnya sekaligus adik yang disayanginya.