Memory
A Detective Conan fanfiction...
Case Closed belong's to Aoyama-sama *bow*
Memory © RynAkane Darkberry
warn(s) : typo bertebaran , ooc, gaje, de el el...
rated: T
genre: angst/romance
Ran Mouri and Shinichi Kudo
Chapter 2
DONT LIKE DONT READ!
Akane : Yo, Minna, akhirnya bisa juga update fic gaje ini. Sempat kehilangan ide, karena itu lama update..
Yosh, balasan review...
HikariHime : Nee-san arigatou sudah me-review. Makasih. Ah iya akan kuperbaiki sebisaku..
Namiko CherryRan Mieko-chan : ah, maaf membuat mu penasaran *bows* aku udah update. Thanks for review nya.
Edogawafirli : arigatou.. gomennasai sudah membuat bingung
Nabila: thanks ya
uchihyuu nagisa: arigatou sudah men support yaa.. ^^
I don't know all the painful. but i act just like i know how it feels
..."Sebenarnya, apa yang terjadi 2 tahun lalu?" tanya Kazuha. "Jadi...
~*_Akane Theresia_*~
Flashback 2 years ago~
Raungan sirine mobil polisi terdengar saling bersahutan. Rupanya, mereka tengah mengejar pelaku pemasok opium. Seorang pemuda berusia 16 tahun tengah berdiri di balkon rumahnya. Desir angin menerpa wajahnya, memainkan helai demi helai rambutnya. Matanya tajam. Perawakan nya tegap. Satu tangannya ia masukkan ke saku celananya. Ditatapnya iringan mobil polisi, lalu ia beranjak pergi.
Alunan musik klasik terdengar di sebuah perpustakaan bawah tanah.
"Oh come on! where is it dad?" seorang pemuda menggerutu karena tak bisa menemukan salah satu buku yang disimpan sang ayah.
"Ingat quotes detektive favorite mu itu?" sebuah suara muncul dari tangga. Seseorang berambut putih, nampak sudah cukup berumur muncul.
"Ya Profesor, tentu aku ingat. Teliti, tidak terburu-buru dan sabar, bukan? huh!" ia mendengus kesal.
"Well, Shinichi, apa yang kau cari?"
"Hanya mencari jurnal ayahku Prof. Aku mendengar ada sekelompok penjual senjata api di Black Market aku ingin tahu apakah ayah memiliki file tentang mereka atau tidak." pemuda itu menjawab tanpa mengalihkan pandangan nya dari tumpukan buku-buku tua milik ayahnya.
"Sesekali, lepaskan kasus dan pergilah berdua dengan Ran. Nanti kau botak seperti aku." Profesor itu tersenyum kecil.
"Ah, aku sudah punya renca..." kalimatnya terputus, pipi pemuda itu sedikit merah.
"Wah, Kudo malu rupanya!"
"Diam Prof!"
Jumat,3 Mei, dua hari sebelum segalanya dimulai. Sebelum semua kekacauan itu terjadi. Seorang pemuda berseragam sekolah berjalan di trotoar. Melewati Poirot Cafe, ia tiba di sebuah kantor detektif. Ia tidak masuk kedalam ataupun menekan bel. Ia bersandar di dinding dengan tangan kirinya memegang tas sekolah. Seorang gadis remaja keluar dari kantor itu. Ia berlari dan ketika membuka pintu dilihatnya seseorang yang sangat familiar tengah menunggu nya.
"Maaf, menunggu lama ya?" gadis itu bertanya pelan.
"Setahun pun aku akan menunggumu Ran." diusapnya lembut rambut gadis yang kini tengah tersipu malu itu.
Teitan High School~
"Wah.. pagi-pagi sudah mesra!" salah seorang murid 12 Ipa 1 menggoda Ran dan Shinichi.
"Hm.." Shinichi hanya membalas dengan tatapan dingin.
Jodie Santemillion, guru bahasa Inggris kelas 12 Ipa 1 masuk. "Morning guys." seperti biasa ia menyapa para murid nya. Hari itu semua berjalan normal seperti biasanya tanpa ada yang menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhir mereka bersama Shinichi.
Hari terakhir mereka melihat wajah Shin, hari terakhir mereka belajar bersama dan melakukan segala sesuatu nya dengan Shin. Sebelum pemuda itu mebghilang dan pergi untuk selama-lamanya. Bunyi lonceng berdentang 3x menadakan waktu belajar telah usai dan para siswa diperkenankan kembali kerumah.
Sabtu, 22 September. It's Saturday night. Dan seperti kebanyakan remaja lainnya yang menghabiskan waktu dengan pergi kencan, Shinichi dan Ran juga akan pergi. Mereka tidak menamakan ini kencan tapi, begitulah yang terlihat. Tropical Land menjadi pilihan mereka dalam menghabiskan akhir pekan ini.
Tropical Land~
"Shinichi cepatlah!" Ran menarik lengan Shinichi. Membuat pemuda itu setengah berlari.
Mereka mengantri untuk naik ke sebuah bianglala. Giliran mereka naik telah tiba. Satu ruang bianglala diperuntukkan untuk 2 orang. Setelah semua tempat terisi, bianglala itu perlahan bergerak naik dan naik. Di dalam satu ruang bianglala itu ada sepasang kekasih yang terdiam dalam keheningan
Dalam keheningan pasangan kekasih itu diam. Tak ada percakapan. Masing-masing diantara mereka hanya memandang keluar jendela gondola, mengagumi lukisan alam karya sang Maha Pencipta.
"Ne, Shinichi..." sang gadis mencoba memecah keheningan.
"Ya?" sang pemuda menanggapi, dipalingkannya tatapannya. Kini ia menatap wajah gadis dihadapannya.
"Maukah kau berjanji satu hal?"
"Apa itu Ran?" sang pemuda bertanya.
"Berjanjilah, kau takkan pernah meninggalkanku, selamanya bersamaku." ucap sang gadis dengan suara parau, tampak ia seperti menahan tangis.
"Ran, maafkan aku. Aku, sesungguhnya sangat ingin berjanji tetapi aku takut jikalau aku tidak dapat memenuhi janjiku itu." sang pemuda menjawab.
Sinar mentari menembus kaca gondola. Membuat air mata yang terjatuh dari pipi gadis tadi terlihat berkilauan.
"Begitu ya?" gadis itu tersenyum kecil dengan mata yang masih mengalirkan butiran kristal. Tanpa berkata-kata lagi sang pemuda memeluk tubuh gadis itu. Dikecupnya kening kekasihnya itu.
"Aku menyayangimu Ran Mouri. Aku tidak akan meninggalkanmu kecuali itu takdir yang tak bisa kuubah lagi." ucap sang pemuda.
Gadis tadi tersenyum kecil berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah, ditenggelamkannya wajahnya ke dada bidang kekasihnya itu.
Gondola itu berhenti bergerak dan seluruh penumpang turun. Seorang gadis remaja menggenggam erat tangan pemuda disampingnya. Rona wajahnya menandakan ia amat bahagia. Mereka berjalan mengelilingi taman bermain. Bingung memutuskan akan mencoba permainan apa.
Pagi berganti siang, siang berganti sore dan sore berganti malam. Sepasang kekasih itu pergi ke sebuah jembatan di dekat Claire Lake. Claire Lake adalah sebuah danau yang menjadi tempat strategis bagi mereka yang ingin menonton pertunjukan kembang api.
Dua tangan yang saling bertautan seolah menandakan ikatan emosi yang kuat diantara keduanya. Waktu menunjukkan pukul 19.33,dua menit lagi pertunjukan akan dimulai. Tepat 2 menit kemudian pesta kembang api itu dimulai.
Bunyi kembang api saling bersahutan, seakan saling bersaing mereka membentuk pola-pola yang begitu indah.
"Its beautifull, isn't it?" tanya sang gadis kepada kekasihnya.
"Yeah, tetapi kau lebih cantik dari kembang api itu!" jawab sang pemuda. Dipeluknya tubuh sang gadis kemudian dikecupnya kening kekasihnya dengan lembut dan penuh kasih.
"Ran, aishiteru.."
Gadis itu terdiam sejenak. "Aishiteru yo Shin."
Claire's Lake menjadi saksi bisu ikatan dua remaja itu.
"Ran, ayo pulang!" ajak pemuda bernama Shinichi itu.
"Sekarang?"
"Tidak, tahun depan!" ekspresi kesal tampak di wajah Shinichi.
"Hahaha.. Shin, kau jangan marah. Wajahmu lucu." Gadis itu tertawa.
"Huh! Come on Ran!" ditarik nya tangan kekasihnya itu dan mereka berjalan pulang.
Jemari tangan mereka kembali saling merajut satu sama lain. Bergandengan tangan mereka berjalan pulang. Sekilas Shinichi melihat seorang laki-laki yang meneteng koper berwarna hitam. Tingkahnya yang berulang-ulang melihat jam tangan membuat Shinichi tahu dia tengah menunggu seseorang.
Awalnya Shinichi hanya mengabaikan hal itu. Dan kembali berjalan pulang bersama Ran. Sudut matanya menangkap dibalik saku jas pria itu terdapat Barreta* buatan Italia.
"Ran, kau pulang duluan saja ya!" ucap Shinichi pada kekasihnya.
"Tapi Shin..."
" Jaa-nee Ran, mata ashita!" Shinichi berlari meninggalkan Ran.
Ran's pov~
"Ran, kau pulang duluan saja ya!"
"Tapi Shin..."
" Jaa-nee Ran, mata ashita!"
Belum sempat aku mencegahnya dia telah berlari meninggalkanku. Aku ingin mengejarnya saat kulihat tali sepatuku terlepas, aku menunduk dan saat aku berdiri ia telah menghilang. Aku tidak lagi melihatnya. Saat aku melihat punggungnya menjauh aku mendapat firasat, seolah punggung itu akan menjauh dan terus menjauh.
Tuhan, apa yang kurasakan ini? Kumohon, lindungilah Shinichi. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ah, bodoh! Kenapa aku berfikiran seperti ini? Shinichi itu bukanlah laki-laki yang lemah!
~Normal pov
Seorang pemuda berjalan mengendap-endap. Tampak seperti singa yang mengincar mangsa nya. Sepasang mata nya bergerak mengawasi keadaan layaknya elang. Nafasnya memburu. Jantungnya berdegup lebih cepat dan keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Dua orang laki-laki tengah berdiri berhadapan. Masing-masing diantara mereka membawa koper. Disaat yang bersamaan kedua orang itu saling membuka koper mereka. Satu diantara dua koper itu berisi heroin dan sisanya berisi uang.
Mereka melakukan transaksi narkoba. Shinichi yang diam-diam mengawasi mengambil handphone nya. Ditekannya speed dial pertama. Shinichi hendak memberitahu seseorang tentang apa yang dilihatnya sebelum suara langkah terdengar dari belakang Shinichi. Dan, ketika ia berbalik seseorang sudah siap dengan moncong senapan terarah pada Shininichi.
~TO BE CONTINUED
Akane : Ah cepet banget udah to be continued lagi. Sejujurnya, besok ulangan sejarah dan... belum sempat belajar sama sekali (author curhat) ditambah ada pr #lemes. Minna.. hiks hiks.. (author stress) mungkin chap 3 nya saya gak bisa update cepat. Terakhir, mohon REVIEW nya please.
Minna please KLIK SOMETHING DIBAWAH INI !
YANG REVIEW DIKASIH MANGKOK CANTIK (?)
.
.
.
.
.
