Ryn : a..aku baru muncul.. Naka-sama, ternyata ada juga yang mau membaca fic kita. *nangis bombay*
Akane : *liat repiu list* hiks.. iya Ryn-chan *peluk-peluk Ryn*
Ryn : NGAPAIN PELUK-PELUK? *Deathglare*
Akane : eh... *Speechlessss*
Ryn : mari abaikan makhluk tadi ! Minna-san, balasan repiu kalian...
Akane : *pundung*
Uzura Norayuki : makasih sudah me review! Updateeeee...
Ezami tsukuba : makasih ah jadi malu (?) .. update yo ^^
SilverBullet : benarkah? Aku gak jitak kok. Aku kan baik hati *ditendang* ^^ here i come..
Deidei Rinnepero13 : hmm.. ayo lihat dugaan kamu bener atau tidak *gaya Holmes* *ditendang* eh? Maaf kalo rush ya. Masa? Ada kok typo nya.. ok ok ini update ya
Akane + Ryn : minna.. enjoy reading!~ *tebar bunga*
A Detective Conan fanfiction...
Case Closed belong's to Aoyama-sama *bow*
Memory © RynAkane Darkberry
warn(s) : typo bertebaran , ooc, gaje, de el el...
rated: T
genre: angst/romance
Ran Mouri and Shinichi Kudo
Chapter 3
DONT LIKE DONT READ!
I don't know all the painful. but i act just like i know how it feels
Mereka melakukan transaksi narkoba. Shinichi yang diam-diam mengawasi mengambil handphone nya. Ditekannya speed dial pertama. Shinichi hendak memberitahu seseorang tentang apa yang dilihatnya sebelum suara langkah terdengar dari belakang Shinichi. Dan, ketika ia berbalik seseorang sudah siap dengan moncong senapan terarah pada Shinichi.
Shinichi terbelalak melihat seseorang berdiri dihadapannya Laki-laki itu berpakaian serba hitam, rambut perak panjangnya tergerai dan mata raven nya memandang kearah Shinichi. Tangan kirinya memegang senapan dengan moncong senapan yang tepat terarah ke wajah Shinichi.
"Selesai bermain detektif-detektifan nya, bocah?" laki-laki itu bertanya dengan seringai disudut bibir nya.
Keringat dingin mengalir dari pelipis Shinichi. Ia menelan ludah nya. Lelaki tadi menurunkan moncong senapan nya ke dada Shinichi. Tepat pada posisi jantung pemuda berjulukan Holmes era Heisei itu.
"Halo... halo.." suara diseberang telpon terdengar. Rupanya Shinichi menghubungi partner sekaligus rival nya dalam dunia detective. Heiji Hatori sang detective dari barat.
"Hei Shinichi !" Heiji hendak menutup hubungan telpon sebelum ia mendengar suara Shinichi.
"Bermain katamu?" Shinichi tersenyum mengejek.
"Hey, Shinichi!" Heiji kembali memanggil Shinichi
"Diam dan dengarkan aku!" Shinichi melanjutkan. Ia memasukkan telpon genggamnya kedalam saku jeans nya.
"Apa yang harus kudengar, Holmes era Heisei?" lelaki tadi tampak tidak mengetahui jika telpon genggam Shinichi dalam keadaan tersambung.
"Kalau kau berfikir detektif adalah permainan, ayo kita mainkan!" tantang Shinichi
"Fufu.. aku terima tantanganmu bocah!" seringai kembali tampak di sudut bibir lelaki berambut perak tadi. Alih-alih menerima tantangan Shinichi, laki-laki itu mengokang senapannya.
Heiji mendengar suara senapan yang terkokang dari seberang telpon.
"Shinichi ! " Heiji berteriak namun Shinichi tak dapat mendengarnya.
"Hei bocah, urusanku masih banyak! Sampai disini permainan kita!" lelaki itu berkata sembari menarik pelatuk senapannya..
DOR!
"Uuuhh.. pe..pengecut! " Shinichi memegang dada nya yang terus mengeluarkan darah dari luka tembakan pria tadi. Laki-laki itu hanya tersenyum mengejek dan pergi meninggalkan Shinichi yang terjatuh ketanah.
"Shinichi!" suara Heiji yang terdengar cemas memanggil Shinichi karena sejak beberapa detik yang lalu Heiji tidak mendengar suara apapun.
Shinichi mengambil handphone nya dan dengan nafas tersengal-sengal ia mencoba berbicara pada Heiji.
"He..Heiji.."
"Shinichi! Kau tidak apa? Apa yang terjadi? Katakan!" Heiji mencecar Shinichi dengan pertanyaan-pertanyaannya. Suara Heiji menandakan ia khawatir, penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi pada sahabat sekaligus rival nya itu.
"A..aku.. tertembak." Jawab Shinichi dengan nafas memburu.
"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Siapa yang melaku.."
"Diam!" Shinichi berkata agak keras. Membuat Heiji menghentikan rentetan pertanyaannya.
"Seorang laki-laki bermabut perak panjang, mata raven yang memancarkan kebencian, kidal, dan ka akan mencium aroma Gin* dari tubuhnya." Shinichi mendeskripsikan semampunya.
"He..Heiji aku ti..tidak kuat lagi.." Suara Shinichi menghilang.
Intuisi detektif Heiji bekerja, ia menghubungi Inspektur Megure agar mencari tahu keberadaan Shinichi. Heiji sendiri langsung terbang dari Osaka menuju Tokyo.
Kogoro Moouri's office~
Seorang gadis remaja tengah memainkan gantungan kunci handphone nya. Sesekali ia melirik keluar jendela kamarnya. Kemudian ia berjalan menuju jendela, kembali ke ranjang nya dan duduk ditepi ranjang. Kemudian ia berdiri. Terus seperti itu. Ia terlihat tidak tenang. Raut wajahnya seolah ia mengkhawatirkan sesuatu.
Ran's POV~
Tuhan, ada apa sebenarnya? Mengapa sedari tadi perasaan ku tidak bisa tenang? Ada apa ini? Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada orang itu?
Saat tadi aku malihat ia berlari dengan punggung membelakangiku, aku merasa seolah ia takkan pernah kembali. Ia takkan berlari menghadapku. Apakah yang aku rasakan ini?
Tali sepatuku yang mendadak terlepas, apakah ini pertanda buruk? Tuhan, aku mohon lindungi orang itu. Dia orang yang paling kusayang.
Tunggu, kenapa justru aku berpikiran negatif seperti ini? Aku harus berpikir positif! Shinichi pasti kembali. Dia kan sudah berjanji padaku. Lagipula, bukan tipe Shinichi mengingkari janji.
Normal POV~
Gadis itu duduk dimeja belajarnya sembari menyenandungkan sebuah lagu. Dilain tempat seorang pemuda terbaring ditanah dengan darah mengalir.
Belasan personil kepolisian diturunkan mengikuti instruksi Heiji untuk mencari Shinichi.
*~_Akane Theresia_*~
"Inspektur!" seorang pemuda berambut coklat pendek berlari kecil kearah sosok yang ia panggil inspektur.
"Ada apa Takagi?" inspektur itu menjawab.
"Ka..kami menemukan Kudo!" pemuda bernama Takagi berkata dengan wajah menampakkan kekhawatiran.
"Berita bagus!" sahut seseorang berkulit hitam mengenakan topi terbalik yang tiba-tiba muncul.
"Heiji!" Polisi bernama Takagi itu tampak terkejut. "Tetapi, kondisinya..."
"ADA APA?" bola mata Heiji membesar. Sedetik kemudian mereka berlari menuju lokasi ditemukannya Shinichi.
"Shinichi! Bertahanlah!" Heiji menggenggam tangan Shinchi yang sedang diangkat menuju ambulans.
*~_Akane Theresia_~*
Suara raungan ambulans terdengar memecah heningnya malam. Seorang pemuda berusaha bertahan hidup dengan masker oksigen menutupi mulut dan hidungnya. Disisinya seorang pemuda sebaya Shinichi mengeluarkan handphone dari saku celananya. Jemari tangannya terampil mengetik sebuah pesan singkat dan dikirim ke salah satu kontak di handphone nya.
"Shin.." Heiji membatin.
Beberapa saat kemudian ambulans yang mereka tumpangi tiba di Beika Hospital. Shinichi langsung dilarikan ke UGD. Seorang kakek berambut putih berlari kecil mendekati Heiji. Wajahnya menampakkan kecemasan.
"Ba..bagaimana Shinichi?" ia berkata sembari mengatur nafasnya. Yang ditanya hanya diam dan menatap pintu ruang UGD yang tertutup rapat.
Tidak lama kemudian datang seorang wanita berambut blonde dengan seorang pria bersamanya. Raut wajah mereka tak jauh berbeda dengan kakek sebelumnya.
"Yu..Yusaku? Yukiko? Bukankah kalian berada di luar negeri?" kakek tadi tampak terkejut dengan kedatangan mereka berdua.
"Heiji menghubungi kami. Lalu, dimana Shinichi? Dimana anakku?" wanita bernama Yukiko itu mulai menitikkan air mata. Lelaki disebelahnya yang mirip dengan Shinichi hanya terdiam. Heiji memainkan keypad handphone nya, ia mengetik pesan singkat yang dikirim ke beberapa nama di kontak nya.
Kogoro Mouri's office~
".. already, im so lone some i could die.." seorang gadis remaja menyenandungkan sebuah lagu**. Drt..drt.. handphone gadis itu bergetar. Sebuah pesan singkat. Ia membuka handphone nya dan membaca pesan masuk. "Heiji." Ia membatin.
"A..apa maksudnya ini?" gadis itu terkejut lalu menjatuhkan handphone nya. Dengan air mata mengalir ia berlari keluar rumah. Gadis itu berlari dan terus berlari ia tidak peduli berapa orang yang ia tabrak. Yang ia tau hanya satu, secepat mungkin sampai di tempat kekasih nya berada.
Seseorang menghentikan langkahnya, memegang bahunya dengan kencang, memeluknya dengan hangat. Menghapus air mata nya. Dan dengan lembut membelai rambut hitam panjang nya.
"Ran." Ia berkata dengan lembut, membelai rambut panjang gadis dihadapannya.
"I..ibu Shinichi? Shinichi.. dia.. dia bagaimana?" Ran sedikit terkejut karena bertemu Yukiko.
"Aku datang ingin menjemputmu Ran. Kupikir, dengan ada nya kau disisi Shinichi keadaan akan membaik."
"..."
Tanpa banyak bicara Yukiko mengait lengan Ran dan mengajaknya pergi kerumah sakit. Sesampainya disana, ternyata bukan hanya ada kedua orang tua Shinichi, Ran, Heiji, dan Prof. Agasa. Melainkan, beberapa anggota kepolisian, dan juga kenalan Shinichi –yang di beritahu oleh Heiji- .
Seseorang keluar dari ruang UGD. Ia berbaju putih dan masih mengenakan masker.
"Keluarga pasien?" ia bertanya. Ran, dan Yukiko langsung menghampiri dokter tersebut.
"Saya ibunya!" Yukiko menjawab dengan wajah penuh kecemasan.
"Kondisinya kritis, peluru tepat mengenai organ vital nya. Dan lagi, amunisi sepertinya telah diolesi semacam racun."
Semua yang ada disana terkejut. Mereka hanya terdiam dalam keheningan.
"Suatu keajaiban jika ia mampu bertahan." Dokter itu melanjutkan.
Ran jatuh terduduk. Air matanya kembali mengalir. Yukiko memegang bahu Ran, kembali mengusap rambut gadis yang tampak rapuh itu. Shinichi kini telah dipindahkan ke kamar perawatan. Selang oksigen dan beberapa peralatan lainnya tersambung ketubuh Shinichi.
Kogoro dan Eri yang juga datang hanya bisa terdiam memandang Ran yang menangis di bangku sisi tempat tidur Shinichi.
"Bangunlah bodoh! Kau membuat putri kesayanganku menangis! Akan kuberi pelajaran kau saat sadar nanti!" Kogoro berucap dengan nada kesal.
Pukul 23.00 beberapa kawan Shinichi sudah pulang. Yusaku dan Yukiko tengah mengurus administrasi. Hanya ada Ran yang menunggu Shinichi. Ran merebahkan kepala nya disisi Shin.
"Hey! Sadarlah Shinichi. Semua orang mencemaskanmu. Aku, ibumu, ayahmu. Bahkan Heiji juga." Ran terus berbicara. Meski ia sadar Shinichi belum terbangun untuk mendengar suara nya.
"Shin, bangunlah! Banyak kasus menantimu, Holmes muda!" Ran melanjutkan. Lagi-lagi air matanya mengalir. Digenggamnya tangan Shinichi. Dan tiba-tiba jemari itu bergerak. Ran sedikit terkejut.
Mata yang tertutup itu perlahan terbuka. Menampakkan iris biru yang menawan.
"Ra..n." suara nya pelan, nyaris tak terdengar. Matanya berkedip berusaha mendapatkan fokus penglihatannya.
"Shinichi! Kau sudah sadar!" Ran memeluk tubuh laki-laki dihadapannya.
"Ma..maaf..kan a..aku Ran. Sa..sayona..ra!" beberapa patah kata dan mata itu kembali tertutup. Kali ini untuk selamanya.
"SHIN! BANGUN SHINICHI! DOKTER!" Ran mengguncangkan tubuh Shinichi dan berlari keluar memanggil dokter.
Dokter datang dan memeriksa Shinichi sementara Ran terduduk di bangku tunggu didepan kamar Shinichi. Kedua telapak tangannya menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. Gadis itu terus menangis dan menangis. Mungkin hingga air mata nya habis pun ia takkan berhenti menangis.
Yukiko dan Yusaku datang. Mereka tampak terkejut melihat Ran yang duduk menangis.
"Ada apa Ran? Apa yang terjadi? Mengapa kau diluar?" Yukiko mencecar Ran dengan pertanyaan.
"Tadi Shinichi..."
"Shinichi kenapa?"
Tiba-tiba tubuh Ran terhempas kelantai, Yukiko dengan sigap menahannya.
"A..apa yang terjadi pada Shinichi?"
TO BE CONTINUED~
Ryn: minna.. yah to be continued lagi ==
Akane : kan kau yang buat Ryn!
Ryn : Naka-sama, readers, maaf deh #lemes ini juga ngetik banyak halangannya
Akane : ah, curhat dia ¬_¬
Ryn : yosh! Minna, mohon review nya yaaaa... *tampang malaikat*
Akane : re..review please *puppy eyes*
Minna please KLIK SOMETHING DIBAWAH INI !
Yang nge-repiu bakal dapet . . . pahala *ditendang*
.
.
.
.
