Ryn : Happy Birthday Shinichi Kudo! Maaf membuatmu tersiksa di fic ini
Shin : damn! Terkutuk dikau makhluk gaje
Ryn : *tendang Shin* Yosh minna update! Final chapter of Memory! Gomen kalo gaje saya ngetik ini Cuma 2 JAM doang! *aura horor*
Akane : WAW! HEBAT RYN! #dor
Ryn : #sweetdrop asal lo tau aje, gue horor ngetiknya bolak balik liat jam belom jam 7 malem. Mana besok ada peer.
Akane : sabar cin! Ok Minna! Enjoy reading!

A Detective Conan fanfiction...

Disc : Case Closed bukan punya saya. Mau ngemis juga mana dikasih saya.
Case Closed belongs to Aoyama Gosho

Memory © RynAkane Darkberry

warn(s) : typo bertebaran , ooc, gaje, de el el...

rated: T

genre: angst/romance

Ran Mouri and Shinichi Kudo

Chapter 3

DONT LIKE DONT READ!

KLIK THE " X " BUTTON ON THE TOP LEFT OR Alt+F4 from ur keyboard

"Ada apa Ran? Apa yang terjadi? Mengapa kau diluar?" Yukiko mencecar Ran dengan pertanyaan.

"Tadi Shinichi..."

"Shinichi kenapa?"

Tiba-tiba tubuh Ran terhempas kelantai, Yukiko dengan sigap menahannya.

"A..apa yang terjadi pada Shinichi?"

_~Akane Theresia_*~

Wanita berambut hitam panjang itu membuka matanya perlahan. Samar-samar dilihatnya langit-langit kamar perawatan ber-cat putih itu. Seorang gadis berambut blonde duduk dikursi disisi tempat tidurnya.

"Shin.." ia menggumam perlahan.

"Ran! Kau sudah sadar?" wanita disebelahnya mendengar suara gadis itu.

"SHINICHI ! MANA SHINICHI? " gadis berambut hitam tadi mendadak menjerit histeris. Seakan mendapat kekuatan, ia berlari meninggalkan gadis blonde tadi yang hanya diam mematung. Tanpa sempat mencegah.

Sementara gadis berambut hitam tadi –Ran- kini berlari, menyusuri lorong rumah sakit. Ia menuju kamar tempat orang yang paling disayangi nya berada. Derap langkahnya terhenti tepat dikamar bernomor 4. Perlahan, dengan tangan yang bergetar ia membuka pintu kamar tersebut.

Didalam ruangan, terdapat seorang wanita tengah menangis, seorang lelaki yang mirip Shin tengah menenangkan wanita tadi. Sementara itu, seorang pemuda berkulit gelap dan seorang laki-laki yang telah cukup berumur, diam mematung disudut ruangan.

"He..hei ! kenapa? Kenapa ini?" gadis tadi bertanya.

"..."

Hening. Tak ada seorang pun yang berbicara, kecuali isak tangis kehilangan milik Yukiko.

Perlahan, Ran mendekati tempat tidur dikamar itu. Tampak sesosok tubuh diselimuti kain putih. Tangan nya gemetar menarik perlahan selimut yang menutup tubuh orang itu. Selimut itu terbuka menampakkan sesosok wajah tampan nan pucat.

Ran terdiam, mendadak ia tersenyum dengan air mata membentuk sungai kecil mengalir di pipinya.

"Hei bodoh! Bangun! Kau tau, tidak lucu bercanda seperti ini !" ia menggoyangkan tubuh yang mulai mendingin itu.

"..."

Tentu tidak ada respon. Karena, bagaimana mungkin orang yang sudah tidak bernyawa bisa menggerakkan tubuhnya. Suasana tetap hening. Tak seorang pun mau membuka mulutnya dan berbicara. Sekadar mencairkan kebekuan. Yukiko meninggalkan ruangan, bersama suaminya yang setia menggenggam tangan menguatkan dirinya.

"Hei ! ayolah! " Ran kembali menggoyangkan tubuh Shinichi.

"Katamu kau tidak akan meninggalkan ku!" ia berkata dengan suara parau. Kristal bening tetap berjatuhan dari dua bola mata indahnya.

"Ran.." pemuda berkulit gelap disudut ruangan itu kini mendekat kearah gadis yang menangis disisi Shin. Mencengkram erat pundak Ran, seolah dengan tidak langsung menyuruh gadis itu berhenti.

Kakek berambut putih –Prof. Agasa- mendekat, menarik tangan Heiji. Menggelengkan kepalanya perlahan. Heiji berhenti mencengkram pundak Ran.

"Shin, katamu kau tidak akan meninggalkanku." Ran berucap perlahan.

"Kau pembohong Kudo!" ia melanjutkan, kali ini ia mendekatkan wajahnya ke wajah orang yang paling disayangi nya itu. Hingga jarak diantara mereka hanya tersisa beberapa centi meter. Beberapa detik kemudian jarak itu hilang.

"Aishiteru.. Kudo!" Ran tersenyum sesaat setelah mengecup bibir yang mendingin itu kemudian berlalu meninggalkan ruangan tadi.

_~Akane Theresia_*~

Tepat selang satu hari setelahnya pemakaman Shinichi. Sosok Holmes era Heisei itu terbaring dalam peti mati. Tidak peduli ratapan orang-orang yang menyayanginya, ia tidak bangun. Tetap tertidur, untuk selamanya.

Saat peti mati diturunkan keliang lahat, beberapa orang mulai tidak dapat membendung aliran sungai kecil di pipi mereka. Semakin peti tersebut turun, hingga menyentuh tanah beberapa orang pun mulai memalingkan wajahnya dari liang lahat.

Bukan karena mereka tidak peduli, namun mereka tidak kuat jika harus melihat orang yang disayanginya terbaring sendirian dalam tanah. Sedikit demi sedikit tanah mulai diuruk. Seorang gadis berusia kira-kira 16th tampak berdiri mematung melihat kearah peti yang mulai tertutup tanah.

Desir angin menerpa menerbangkan dedaunan kering dari pepohonan. Mempermainkan dedaunan itu lalu menghempaskannya ke tanah.

Beberapa orang meletakkan rangkaian bunga tepat dipusara berukir nama Shinichi Kudo itu. Perlahan, sembari menyeka air mata yang bahkan sudah mengering, mereka berjalan perlahan. Meninggalkan area pemakaman.

"Selamat tinggal anakku." Seorang wanita berambut pirang meletakkan rangkaian iris di pusara anak satu-satunya itu.

"Selamat jalan detektif muda." Kini giliran sang ayah mengucapkan kata perpisahan. Mengait lengan sang istri mereka meninggalkan area pemakaman.

Beberapa orang masih disana. Masih berdiri. Diam. Mematung. Mereka enggan, berat untuk meninggalkan pemakaman itu. Seorang pemuda berkulit hitam berdiri di sisi makam. Berlutut, ia berdoa sejenak. Menaruh rangkaian red rose.

"Selamat jalan wahai Detektif hebat dari timur!" ia berucap perlahan. Seorang gadis berkuncir tampak mengait lengan pemuda tadi.

"Ayo Heiji." Gadis tadi mengajak laki-laki itu pergi. Laki-laki itu mengangguk perlahan dan meninggalkan pemakaman.

Setangkai white rose jatuh dari langit tepat diatas pusara Shinichi. Hang glider putih itu terbang dan kemudian menghilang.

"Kid!" Heiji membatin.

Kini, seorang kakek berambut putih, dan beberapa rekan menaruh rangkaian bunga diatas pusara. Berdoa sejenak mengucapkan salam perpisahan yang terakhir dan mereka pergi. Kini, hanya ada sesosok gadis berambut panjang berdiri agak jauh dari pusara. Perlahan berjalan mendekat.

Meletakkan white lily, ia berlutut disisi pusara. Rambut hitam panjangnya dimainkan angin yang berhembus perlahan. Matanya sembab. Kebanyakan menangis barangkali. Raut wajahnya menyiratkan kedukaan yang teramat sangat.

"Wahai detektif hebat, aku tau adalah takdir setiap manusia untuk mati." Ia menggumam perlahan.

"Tetapi..." air matanya mengalir kembali.

"Kurasa, aku belum siap jika tanpa kau disisiku." Ia melanjutkan.

Sebelah tangannya ia masukkan kedalam tas. Mengambil sebuah benda bulat. Cincin. Itu cincin yang pernah diberikan Shinichi belum lama ini. Dipakainya cincin itu dijemari manis tangan kirinya. Ia tersenyum miris.

"Kenapa Tuhan tidak adil padaku?" ia berteriak.

"Karena, Tuhan tau ini yang terbaik bagi kau dan dia." Sebuah suara mengagetkan Ran. Karena, seharusnya tidak ada orang lagi disana.

Ran membalikkan tubuhnya, posisinya masih berlutut disisi pusara orang terkasih nya itu. Sebelah tangannya digunakan menghalau sinar matahari yang tepat mengenai wajanya. Sesosok wanita seumuran dengan dirinya dan Shinichi berdiri. Bersandar pada salah satu batang pohon tak jauh dari tempatya berlutut. Rambut coklatnya tampak berkilauan terkena sinar mentari.

"Shiho. Apa yang kau lakukan?" Ran bertanya

"Kenapa? Tidak boleh? Menghadiri pemakaman orang yang pernah mengisi hatiku?" Shiho Miyano –Haibara- memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.

Shiho maju mendekati pusara Shinichi, ia tidak meletakkan bunga, melainkan meletakkan sebotol Gin* disana.

"Akan kubalas kau nanti!" ia berucap dalam hati.

Shiho menarik lengan Ran, membuat gadis itu kini berdiri. Ia memeluk Ran sesaat. Mengusap lembut rambut gadis rapuh itu.

"Akan kubalas mereka. Aku berjanji." Shiho berbisik. Entah apa maksudnya Ran Mouri tidak mengerti.

Pukul 4 sore mereka meninggalkan pemakaman. Berjalan pulang dengan langkah gontai dan hati yang menentu.

-End of Flashback-

Càfe de Noir~

Sesosok laki-laki berkulit hitam menyeruput Italian coffe yang ia pesan. Dua wanita dihadapannya hanya terdiam.

"Jadi, begitu." Seseorang diantara mereka membuka suara.

"Ya." pemuda berkulit hitam itu berbicara dengan logat kansai yang kental.

"Namun, yang tidak kumengerti adalah soal Gin* itu." Ia melanjutkan.

"Aku juga sama bingung nya saat mendengar cerita itu." Gadis bernama Kazuha angkat bicara.

"Kata Ran, paman Kogoro berkata itu hanya lelucon konyol gadis yang patah hati." Sonoko berkata.

"Entahlah." Heiji berkomentar seraya mengambil cangkirnya dan menyeruput Italian coffe-nya.

Lonceng di pintu cafe pertanda ada tamu berbunyi.

"Kazuha! Sonoko! Heiji! Kalian disini?" tiba-tiba seorang gadis berambut panjang menyapa mereka.

"Ran!" dua gadis disana menyapa. Heiji hanya tersenyum simpul.

"Ah iya! Kalian tau, peristiwa dua tahun lalu, soal Gin* itu?"

"Ya?" semua mengangguk.

"Aku mendapat kabar kalau itu ada hubungannya dengan kematian Shin." Ran menundukkan wajahnya.

"APA?" Heiji tampak tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Lonceng di pintu cafe kembali berbunyi. Kali ini seorang pemuda masuk. Perawakannya tegap, senyum tipis menghias wajahnya saat pelayan membuka pintu. Wajahnya amat familiar. Ran memandanginya. Begitu pun ke-2 gadis lainnya dan Heiji.

"Shin.." Ran berbisik.

Laki-laki tadi merasa tatapan-tapan yang terarah padanya. Sontak ia mendatangi meja tempat Ran dan kawannya berada.

"Hei, apa aku mengenal kalian? Mengapa menatapku seperti itu?" pemuda itu bertanya.

"Kau.. mirip seseorang." Heiji menjawab.

"wah? Siapa? Baiklah, perkenalkan aku Kuroba." Ia mengulurkan tangan.

"Hattori." Heiji membalas uluran tangan itu.

"Ayolah Ran. Dia bukan Shinichi. Memang wajahnya mirip. Namun mereka berbeda." Ran berucap dalam hati.

Esok hari~

"RAN! CEPAT KEMARI!" Kogoro Mouri ayah Ran yang juga seorang detektif swasta berteriak.

"Ya! Ada apa ayah?" Ran berlari menuju ruang kerja ayahnya.

"I..ini.."

Kogoro menunjukkan halaman pertama sebuah koran. Dimana terpampang foto seorang laki-laki berambut perak panjang tewas dengan luka tusukan di dadanya. Sebuah botol Gin* terletak disana. Isinya sudah kosong dan posisi botolnya jatuh terbaring di lantai. Berdiri tegak disebelahnya adalah sebotol sherry* dengan isi yang penuh.

Disisi kanan mayat laki-laki yang tewas dengan posisi duduk itu ada sebuah kalimat yang ditulis dengan darah.

"DENDAM TERBALASKAN!"

~*_OWARI_*~

OMAKE :

Gadis berambut coklat keemasan itu berjalan perlahan, menuju sebuah kursi dimana sesosok laki-laki berambut perak duduk dalam keadaan terikat.

"Kau tau Jin**, rasanya sakit?" gadis itu bertanya sembari memegang sebilah belati.

"Mau apa kau gadis pengkhianat?" laki-laki tadi memasang tampang datar, bertanya sembari menatap tajam bola mata sang gadis.

"REVENGE!" Shiho berkata lalu dengan tanpa belas kasihan menusuk dada bidang laki-laki dihadapannya dengan belati. Ia lumuri ujung telunjuknya –yang terbalut sarung tangan- dengan darah laki-laki tadi lalu menulis.

"DENDAM TERBALASKAN!" kemudian menaruh botol ?Gin* & Sherry* yang telah diperisiapkannya.

Saat yang bersamaan seorang wanita menulis dalam buku diary nya.

"Bahwasanya setiap manusia memiliki takdir. Semua hanya masalah waktu sampai kau menemui yang namanya kematian. Bahwa tiap takdir adalah satu keputusan yang dibuat hakim yang paling adil yaitu Tuhan. Dimanapun, kapanpun, saat bagaimanapun, bersiaplah hal itu akan datang. Kau tidak bisa lari dari kematian."

~Fin~

*Gin : salah satu merk minuman beralkohol. Di DC menjadi code name salah satu anggota jubah hitam. Gin.

*Sherry : kurang lebih sama seperti Gin, merk minuman. Di DC menjadi code name salah satu anggota jubah hitam. Shiho Miyano

**Jin : nama sandi dari anggota jubah hitam. Gin.

Dooooor! Minna endingnya gaje ya?

Maafkan saya! Saya Cuma asal ngetik. Ini juga Cuma 2 jam selesai.

Jadi, 100% ide spontan.

Please review nya untuk kritik dan saran.

Tidak menerima flame yah, saya serem sama flame.

Kritik dan saran diterima.

Just klik something dibawah ini.

.

.

,