Hello hello c:
ujung"nya lanjut juga gara" dipaksa kanjeng ratu ayu 6996MC -_-;
sama den Black134 yang bakal injek" harga diri Rasiel [author RPer Rasiel] saya lagi kalo nggak lanjut OTL;;
Oya, お誕生日お目でと、雲雀さん!
tak relain (?) update cepet" HAHAHAHA spesial buat hibakyun~ /tonfa'ed
Beta'ed by 6996MC hoho 8'D
ini chapter 3nyaaaaaa :3
chapter yg ini rada" gitu deh— tapi nggak sampe parah banget! =))
enjoy aja yah wwww
disclaimer udah di chapter 1 =..= moso di sini ditulis juga?
yaudah deh tulis—
KHR belongs to Akira Amano. If I am to own KHR I would make 6918 & 8059 a canon pairing, or even worse HAHAHAHA
VOCALOID belongs to Crypton. Himitsu ~Kuro no Chikai~ by Hitoshizuku-P「ひとしずくP」
~秘密の誘惑:風紀委員長と堕天使の誓い~
Apa yang telahku lakukan?
Mengapa ini semua terjadi dengan sangat tiba-tiba?
Padahal aku tidak yakin atas perasaanku kepadanya.
Mengapa?
Mungkin perasaan itu benar, mungkin juga tidak.
x*x*x*x
Sejak hari itu, setiap jam istirahat siang aku pergi ke atap sekolah untuk merentangkan sayapku. Walaupun aku mempunyai sayap, aku tidak bisa terbang karena kekuatanku untuk terbang telah dicabut. Hibari Kyouya yang biasa tiduran di atap sekolah sudah terbiasa melihat sayapku.
Beberapa hari telah terlewatkan sejak aku menyatakan perasaanku pada Hibari dan hubunganku dengannya semakin erat dari hari ke hari. Terkadang, ketika aku duduk di lantai atap sambil melihat pemandangan kota Namimori, dia datang dan duduk di sebelahku sambil menyenderkan kepalanya ke pundakku. Aku sih tidak apa-apa, bahkan aku merasa senang karena dia lebih dekat denganku dibanding orang lain. Dia berhenti memanggilku 'herbivore' dan memanggil namaku secara langsung. Dia juga sering bercerita tentang kehidupannya selama menjadi pemimpin komite kedisiplinan Namimori-chuu, dia bercerita dia sering sekali menumpahkan kekesalannya kepada seorang murid berambut silver yang tidak pernah memakai seragamnya dengan baik dan benar, sesuai dengan kehendak Hibari. Ingin sekali Hibari menggigit murid itu sampai mati.
"Ah, tapi Hibari! Aku juga jarang memakai seragam dengan baik dan benar…"
"Kamu pengecualian, nanas."
Ah senangnya, aku adalah pengecualian dari kedisplinannya. Aku tertawa mendengar perkataan Hibari yang terdengar seperti ingin melindungiku dari 'sisi gelap'nya. Tiba-tiba aku teringat ingin menanyakan Hibari tentang sesuatu.
"Oh iya, rumahmu di mana?"
Hibari sedang bersenderan di pundakku dan sayap kiriku menyelimutinya dari belakang. Ia langsung menoleh menatapku. Aku dapat merasakan pipiku mulai memanas.
"Aku jarang pulang. Kamu mau apa?"
"Jarang pulang? Oya oya, kamu ke mana saja sampai-sampai jarang pulang?
"Di sini. Sekali lagi aku bertanya, kamu mau apa, Rokudo Mukuro?"
"Aku ingin main ke rumahmu sekali-sekali. Boleh ya? Kufufu~"
Hibari kemudian terdiam. Ujung jari telunjuk tangan kanannya menyentuh bibirnya dan kedua pupil matanya tertuju pada sudut kanan matanya. Pemandangan yang sungguh manis. Aku suka—bukan, sangat suka ketika Hibari membuat ekspresi imut seperti itu. Kemudian matanya kembali menatapku.
"Boleh. Ini alamatnya," Hibari memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat rumahnya kepadaku.
~What he sought, was the forbidden fruit hidden behind their smiles.~
"Err—Hibari? Bolehkah aku pergi ke rumahmu malam minggu ini? Apakah kau sibuk?"
"Boleh. Tidak, aku tidak sibuk. Aku bebas pada hari libur untuk minggu ini,"
Aku tersenyum menyeringai, lalu aku berpindah posisi ke depan Hibari.
"Baiklah," sayapku kemudian menutupi tubuhku dan Hibari. Aku mencondongkan kepalaku mendekati mukanya yang imut itu. "Terima kasih, Hibari Kyouya." Aku mengecup bibirnya untuk kedua kalinya. Tangannya perlahan meraih kepalaku dan dia membalas kecupanku.
x*x*x*x
Aku mengenakan kaos hitam, jaket berwarna putih dengan celana jeans biru. Sepatu converse berwarna indigo, dan headphone berwarna hitam-ungu yang mengelilingi leherku. Kabel headphone tersambung kepada iPod indigo-ku. Aku menginjakkan kaki keluar dari ruangan apartamentku dan menguncinya dari luar. Headphone kupasang dan aku berjalan pergi menuju ke rumah sang carnivore tercinta.
"Ha-halo Mukuro-senpai!" seorang anak laki-laki berambut coklat menyapa diriku ketika kami berpas-pasan di jalan secara tidak sengaja.
"Oya oya, Tsunayoshi-kun! Ha—" belum sempat selesai aku mengucapkan 'halo', tiba-tiba temannya yang berambut silver memotong perkataanku.
"OI NANAS! Jangan sentuh Jyuudaime! Pergi kau dari hadapan Jyuudaime sebelum aku meledakkan kepala nanasmu!"
"Oya?"
A-apa sih… dasar adik kelas yang menyebalkan. Aku hanya mengatakan 'halo'! Hanya itu! Apa masalahnya sih?
"Go…Gokudera-kun! Hentikan! Aku hanya mengatakan 'halo' kepadanya kok! A-ayo pergi saja! Jaa ne, Mukuro-senpai!"
"Baik Jyuudaime! Kita tinggalkan saja si kepala nanas ini!" Gokudera pergi berlari sambil menyeret Tsunayoshi-kun.
"Jaa, Tsunayoshi-kun," kataku sambil melambaikan tangan ke Tsunayoshi-kun.
Gokudera Hayato adalah… adik kelas yang sangat nyolot. Tidak punya rasa hormat pada kakak kelas. Dasar, kepala gurita. 'Kau seharusnya berkaca dahulu sebelum mengatai orang lain. Sendirinya juga punya bentuk rambut yang aneh. Ah, biarkan saja. Tidak penting'.
Now playing, Your Guardian Angel – The Red Jumpsuit Apparatus. Aku suka sekali pada lagu ini. Iringan gitar akustik pada awal lagu dan aransemen lagunya yang sangat bagus membuatku merasa sangat dekat dengan orang yang kucintai. Akhir-akhir ini aku sering mendengarkan lagu ini. Entah mengapa lagu ini selalu mengingatkan diriku pada Hibari.
Ah ya! ngomong-ngomong, rumahnya Hibari…
x*x*x*x
Aku berdiri di depan sebuah mansion besar yang tidak lain dan tidak bukan adalah milik Hibari. Mansion yang berpagar besi hitam dan tinggi. Bentuk bangunan yang besar membuat mansion ini terlihat seperti istana. Halaman yang sangat luas dengan jalan setapak yang terbuat dari batu-batu berbentuk persegi panjang berwarna coklat muda yang tersusun dengan rapi. Di kanan dan kiri jalan, terdapat taman hijau dengan pohon-pohon yang tersusun rapi dan di tengah-tengah jalan setapak terdapat sebuah air mancur yang membuat halaman rumah Hibari terkesan mewah. Mansion Hibari berwarna coklat-krem dan bernuansa sangat mewah. Sungguh, aku tidak menyangka seorang Hibari Kyouya mempunyai rumah sebesar dan semewah ini.
Aku berjalan ke pintu masuk rumah dan tepat sebelum aku menekan bel rumah seseorang telah membukakan pintu dari dalam.
"Lama sekali."
"Kufufu~ Maaf. Tadi aku berpas-pasan dengan Tsunayoshi-kun dan- si kepala gurita saat berjalan ke sini,"
"Oh. Ya sudah. Yang penting kau datang,"
"Oya oya…" Hibari pun mempersilahkan aku masuk ke mansionnya dan tanpa ragu-ragu aku segera masuk.
Dari luar mansion itu sudah terlihat mewah, di dalam, mansion itu terlihat lebih mewah lagi. Karpet berwarna merah tergelar di sepanjang lantai koridor yang luas. Hibari mengantarku ke ruang tengah yang terletak di sebelah ruang depan.
"Duduk di sini," kata Hibari memperintahku untuk duduk di sofa yang ada di depan televisi. "Aku akan segera kembali," Hibari pergi ke arah belakang.
"Oya? Kamu mau ke mana?"
Hibari tidak menghiraukanku, dia terus berjalan ke belakang tanpa menjawab pertanyaanku. Hm, Hibari banget. Aku sih tidak marah karena aku tahu Hibari orangnya seperti ini.
Aku melihat-lihat sekeliling ruang tengah di rumah Hibari. Ada sebuah lampu chandelier yang tergantung di tengah ruangan dan tepat di bawahnya terdapat sebuah meja kecil yang diselimuti oleh kain berwarna ungu dengan corak-corak yang dijahit oleh benang berwarna emas. Di depan meja itu terdapat televisi LCD berukuran lumayan besar dengan speaker besar di sebelah kiri dan kanan televisi sehingga menyerupai satu set home theatre. Aku melihat ke tembok sebelah kanan dan melihat sebuah lukisan. Itu adalah sebuah lukisan seorang wanita berambut hitam panjang dengan kimono berwarna ungu. Bentuk hidung dan bibirnya mirip sekali dengan Hibari punya. Wanita yang sangat cantik. Lalu aku melihat di sebelah kiri lukisan wanita itu ada sebuah lukisan seorang pria yang mempunyai rambut hitam yang pendek. Model rambutnya, bentuk matanya dan tatapan matanya mirip sekali dengan Hibari punya. Sepertinya dia orangnya juga tegas seperti Hibari.
Kemudian Hibari datang membawa dua gelas minuman dan meletakkannya di atas meja yang ada di depan sofa.
"Oya oya? Tumben kau seperti ini,"
Hibari menatapku dengan tajam sambil menggerutu dan kemudian duduk di sebelahku.
"…"
Aku menunjuk lukisan yang di sebelah kanan.
"Itu— ibumu?"
"Ya,"
Lalu aku menunjuk lukisan yang di sebelah kiri.
"Dan itu Ayahmu?"
"Ya,"
"Sekarang mereka sedang di mana?"
"Otousan dinas ke luar negri dan Kaasan dinas juga tetapi ke luar kota. Mereka pulang minimal dua tahun sekali," Hibari membuang mukanya berusaha menyembunyikan muka sedihnya, ia mengira aku tidak mengetahuinya. Aku merasa sedikit bersalah karena bertanya tentang orang tuanya
"Oh, maaf." Jawabku singkat, dan seperti biasanya dia menjawab dengan singkat juga.
"Tidak apa-apa," suaranya terdengar sedikit gemetar dan aku mulai merasa sangat bersalah. Kemudian aku merangkul pundaknya dari samping, mencoba untuk menghiburnya.
"Tidak apa-apa, Kyouya. Kau tidak sendirian, kok. Kufufu~" kataku sambil mengusap lembut kepalanya.
"Siapa yang memperbolehkan kau untuk memanggilku Kyouya, hm?"
"…err—"
"Terserah lah."
Aku tediam. raut muka Hibari tampak seperti biasa lagi, tetapi matanya menunjukkan kesedihan. Aku tidak tahu bagaimana cara menghiburnya dengan tepat, tetapi hanya ada satu cara yang aku pikirkan.
"Kyouya…"
Hibari dengan spontan menoleh kepadaku dan tanpa sadar jarak antara muka kami hanya tersisa berberapa sentimeter.
"Apa yang ka—"
To grant an unforgivable love between a human and an angel,~
Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, aku mencium bibirnya dengan lembut. Ketika merasakan sesuatu yang basah dan hangat berada di atas bibirnya, matanya membelak kaget. Ciuman yang tadinya hanya sekilas berubah menjadi ciuman yang panas dan mendominasi. Lidahku menjilat bibir bawahnya meminta untuk dapat masuk ke dalam. Karena merasa kehabisan nafas, ia mencoba untuk membuka mulutnya untuk mengambil nafas, tetapi tergantikan dengan lidahku yang menjulur masuk. Lidahku langsung menelusuri setiap sudut gua panas itu, mengambil semua pasokan oksigen yang ada di dalam mulutnya dan mengajak lidahnya untuk mengikuti alur mainku. Perlahan aku melepaskan bibirku dari bibirnya dan mengambil nafas dalam-dalam. Muka Kyouya merah padam dan dia tampak kelelahan. Mungkin dia kaget dengan tindakanku yang sangat tiba-tiba itu.
"Kau manis. Kufufu~"
Kyouya melirik ke arah bawah kanan. Sepertinya dia malu.
"Kyouya?"
"Hn…"
"Kamarmu di mana?"
Kyouya langsung menatap diriku dengan tatapan tajam dan sepertinya curiga dengan pertanyaan yang baru saja kulontarkan.
"Mengapa kau bertanya?"
"Hanya bertanya. Aku penasaran."
Kyouya terdiam. Mukanya yang merah dan nafasnya sedikit tidak teratur karena kegiatan yang baru saja kami lakukan.
"Naik tangga yang di sebelah kanan, pintu kedua. Ada tulisan 'dilarang masuk atau kugigit kau sampai mati' di depan pintunya. Aku serius tentang tulisan itu. Kau mau apa?"
"Kufufu~ oke deh!" Aku menggendong Kyouya dengan gaya bridal style dan dengan sigap Kyouya berusaha memberontak untuk turun. "Up up here we go!"
"Hei! Turunkan aku!"
"Nanti ya kalo sudah sampai di kamarmu. Kufufu~" aku berjalan ke tangga yang ada di sebelah kanan. Kyouya mencoba melompat tetapi aku memeganginya dengan sangat erat sehingga ia tidak akan bisa melepaskan diri dengan mudah. Aku mulai menaiki anak tangga. Ketika sudah separuh jalan ke lantai dua, Kyouya tiba-tiba memberontak dengan sangat keras.
"Nee, Kyouya. Kalau kamu tetap berontak aku akan menjatuhkanmu loh. Kau akan mengglundung ke bawah dan terjadilah insiden pembunuhan seorang fuuki iinchou."
"Kau tidak akan berani dan aku tidak akan mati secepat itu…"
"Kufufu~ aku hanya bercanda." Aku tersenyum kepadanya dan mempercepat langkahku ke lantai dua. Hibari melipat tangannya dan menutup matanya. Sepertinya dia kesal, tapi aku yakin amarahnya akan segera reda.
Ketika aku sampai di lantai dua, aku segera mencari pintu yang ada tulisan 'dilarang masuk atau kugigit kau sampai mati' dan aku menemukannya! Kubuka pintunya menggunakan lenganku. Kyouya masih terdiam. Sepertinya dia menyerah.
Aku berjalan masuk ke dalam kamarnya dan meletakannya pada satu-satunya tempat tidur pada ruangan itu yang berukuran queen-size. Dengan cepat aku memposisikan tanganku di sisi kiri dan kanan kepala Kyouya dan kakiku di sisi-sisi badannya.
"Kau mau apa, Rokudo Mukuro?"
Tanganku meraih dagu Kyouya dan mencium bibirnya. Ia membalas kecupanku dan kita saling berbagi sebuah ciuman yang panas. Kyouya mendesah kaget dan lalu membalas ciumanku. Setelah berberapa detik kita berciuman, aku melepaskan ciuman kita. Segaris saliva menghubungkan bibirku dengan bibirnya. Kemudian aku menciumnya lagi dan lalu aku turun menciumi dagunya dan ke lehernya. Aku menggigit sisi lehernya dan meninggalkan bercak merah. Kyouya terus mendesah.
"Kyouya…"
"h-haah.. a-apa?" muka Kyouya sangat merah dan nafasnya mulai tidak teratur. Aku tersenyum melihatnya.
~the only way was to demolish everything.~
"Aku mencintaimu…"
Aku berpindah dari leher Kyouya ke telinganya. Aku menjilat telinganya dan Kyouya merinding karena sensasi yang kuberikan.
"Boku wa aishite desu ka?" [translate: Do you love me?]
Tangan Kyouya meraih pungungku dan memeluk diriku sehingga aku menimpa Kyouya. Kemudian dia berbisik kepadaku.
"daisuki, nappo-heddo. Iie, Mukuro…" [translate: I love you, pineapple-head. No, Mukuro…"
~秘密の誘惑:風紀委員長と堕天使の誓い~
TERHAROE 8'D
pertamakalinya nulis French kiss UHUHUHU
maap kalo jelek—pertamakalinya nulis pake adegan beginian lol =))
okeh author mau mbalesin reviews yg ga bisa dibales~ o/
Penyet males log in: IH MAKASIH 8'D critanya makin lama makin ngalor ngidul (?) gaje wwww saya juga mau loh ;; tapi sayangnya muku nggak ngijinin orang lain buat megang sayapnya slain hiba 8') /HEH. Tapi nggak dikamikorosu tuh =)) hibarinya nurut (?) awwww makasih reviewnyaa~
Black134: SUKA" GUE KALI =AA= gue yang nulis juga HAHA =3= EH D8 JANGAN HARGA DIRI RASIEL! D8 ANYTHING BUT MY HARGA DIRI OTL;; moso rasiel diinjek" sama tyl!chrome kan LAWAK dri ;; IYA GUE LANJUTIN D"8
Sekian ._. sisanya udah dibales lewat PM jadi yah silahkan liat PM masing" 8)
ngomong" ttg PM jadi keingetan fic oma racooncity- HAHAHAHA kesian =))
Okeh sekian [eh barusan author mau nulis sekian jadi sekihan loh 8D /dzigh] curhat"an author—
Yang mau review ya review aja kalo ga mau gapapa sih ._.
yang ngasih flame tak tebas kamu pake shigure souen c:
See you in chapter 4! Once again, Happy B'day, Hibari Kyouya! Mukuro will always be on your side- *tonfa'ed*
