Happy New Year semuanya ~ maaf telat ^0^
terima kasih untuk yg sudah mereview chapter 1, untuk selanjutnya juga mohon dukungannya :)
Chapter 2
Moodku berantakan. Aku sengaja untuk tidak pergi ke ruang guru pada saat istirahat, menghindar dari dampratan . Tapi ternyata aku salah. Jika aku yang tidak menghampirinya, maka dialah yang menghampiriku. Saat tengah pelajaran, datang dan memanggilku keluar dari kelas. Ia berkata ia harus pergi ke yayasan sehingga ia terpaksa memarahiku sekarang. Aku hanya mengangguk-angguk tanda aku tidak mengerti ucapannya. Inti yang kudapat dari percakapan satu arah ini adalah gajiku akan dipotong jika satu kali lagi terlambat. Benar-benar mimpi buruk.
Aku masuk kembali ke kelasku sambil menghela nafas panjang. Anak-anak kelasku sedang membentuk lingkaran sambil terus bernyanyi dan bermain. Rekan kerjaku, Miri, memanggilku agar cepat membantunya mengatur anak-anak.
"Apa ancamannya kali ini?" Tanya Miri saat anak-anak tidak banyak mengeluarkan suara.
"Potong gaji" jawabku singkat, "lagi" aku meneruskan
Miri mengangkat satu alisnya, "Dia tidak pernah menemukan cara yang lebih baik dari itu" ujarnya, "pantas saja ia belum menikah sampai sekarang"
Anak-anak kembali membuat teriakan tajam sehingga kami memutuskan untuk mengakhiri percakapan ini. Terkadang anak-anak ini menyita seluruh tenaga kami. Mereka berteriak, berlari, dan merusak barang dengan sesuka hati. Tapi kami hanya bisa tertawa. Bagaimanapun kami menyukai mereka.
Kelas usai sebelum tengah hari. Jika tadi pagi para guru menjemput, sekarang mereka mengantarkan anak-anak ini ke depan pintu gerbang. Mengucapkan sampai jumpa dan berbincang-bincang dengan orangtua. Hal yang paling menyebalkan adalah ketika salah satu orangtua murid marah-marah kepadaku karena baju anaknya terlipat. Sungguh menggelikan.
Seseorang menarik rokku dari bawah. Aku menoleh ke bawah dan menemukan Alex. Aku tersenyum kemudian menunduk sehingga tinggiku sejajar dengannya.
"Ada apa Alex?" kataku lembut
"Mama tidak akan menjemputku hari ini" katanya dengan muka datar, "supir yang akan melakukannya"
Aku tersenyum mengerti dan membawa dia ke dalam pelukanku sebelum akhirnya aku mengangkatnya lalu tas sekolahnya.
"Miri, aku antar Alex ke mobilnya dulu" kataku kepada Mir. Ia tampak keberatan.
"Kau tidak akan meninggalkanku menghadapi ini sendirian seperti tadi pagi kan?" matanya menunjuk ke arah para orangtua murid.
"Tidak" jawabku cepat, "aku hanya mengantar Alex sebentar"
Aku tidak menunggu jawaban dari Miri lagi dan langsung berjalan kea rah parkiran. Sebagai anak dari orang terkaya di dunia, supir serta mobil yang dipakai Alex berbeda-beda. Dari pengalaman selama ini, yang aku butuhkan adalah menemukan seorang supir dengan pakaian formal dan plat mobilnya membentuk sebuah nama Zala.
Aku menemukan mobil tersebut tidak jauh dari gerbang sekolah. Supirnya kali ini tidak kukenal sama sekali, entah dia supir keberapa yang ada di Zala Corp. Ia terlihat masih sangat muda, barangkali berumur 20-an tahun. Rambutnya hitam lebat dan panjang. Matanya berwarna merah mengingatkanku pada tokoh-tokoh jahat yang ada di movie. Tapi ia mempunyai senyum yang menawan dan menghapus semua pandangan jelekku tentang matanya.
"Selamat siang" sapanya sambil tersenyum lebar, ia berjalan mendekati kami
"Apakah Anda berasal dari Zala Corp?" tanyaku basa basi. Beginilah caraku berkenalan dengan para supir Alex
Ia menggangguk, "Benar. Saya ditugaskan untuk menjemput " jawabnya formal
Mr. Alex, julukan yang berat untuk seorang anak berumur 5 tahun. Aku lalu beralih ke Alex yang ada di dalam pelukanku
"Alex, kita menemukan jemputanmu" kataku dengan nada senang. Ia tertawa kecil lalu turun dari pelukanku. Aku memberikan tas sekolahnya dan ia langsung menggantungkannya di lengan atasnya.
"Terima kasih Miss Cagalli. Sampai jumpa besok" ujarnya senang.
AKu tersenyum sambil melambaikan tanganku. Ia berbalik dan berlari menuju mobil. Tapi supirnya masih berada di depanku, ia menatapku seperti ada yang ingin dikatakannya.
"Apakah Anda guru Alex?" tanyanya penasaran
"Benar" jawabku cepat
"Wah… Anda masih sangat muda" nadanya takjub dan aku menyadari mukanya sangatlah ekspresif.
Aku tersenyum, "Anda juga" kataku. Ia malah tertawa.
"Benar, kita masih sangat muda" balasnya, "namaku Shinn Asuka" ia memperkenalkan diri
"Cagalli Yula Attha" aku juga menyebutkan namaku, "Sebaiknya Anda segera pergi, aku bisa melihat Alex menempelkan wajahnya ke kaca depan. Ia lakukan hal itu jika ia lapar"
Shinn tampak terkejut dan langsung menoleh ke belakang untuk memastikan ucapanku salah. Ia nyengir.
"Pikiran anak-anak memang tidak bisa dibaca. Anda hebat" ia memujiku dengan sungguh-sungguh, "kalau begitu saya permisi dulu. Sampai jumpa Miss Attha"
Aku menggangguk, "Sampai jumpa, "
Ia melemparkan senyumnya yang terakhir sebelum berbalik dan masuk ke mobil. Ia lalu menggendong Alex yang masih menempelkan wajahnya untuk duduk di kursi depan dan memakai sabuk pengaman. Tentu saja Alex memberontak. Aku tertawa melihat itu.
Ucapan Miri mengingatkanku aku harus kembali ke gerbang utama. Cepat-cepat aku kembali dan hanya menemukan beberapa orangtua yang terlambat menjemput anaknya. Aku langsung berdiri di samping Miri dan mengambil alih pekerjaannya. Ia tampak lega.
"Tidakkah kau merasa pekerjaan ini semakin menghabiskan tenagamu" ujar Miri saat kami sudah berada di ruang guru. Aku sedang duduk di kursiku sambil minum air putih dingin, "harusnya kita mendapat gaji lebih untuk semua ini, terutama untuk semua dosa yang kita dapat akibat berbohong"
"Kau tidak harus melakukan hal ini, bukan?" aku membantunya mencari pilihan lain, "Dearka bekerja dan aku rasa gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian"
"Memang" Miri menjatuhkan badannya ke sofa, "tapi aku tidak mau hanya berdiam diri di rumah. Hanya pekerjaan ini yang selesai sebelum tengah hari. Aku butuh waktu untuk membereskan seluruh pekerjaan rumah"
Aku tersenyum. Terkadang aku iri dengan kehidupan Miri yang normal. Miri berumur 2 tahun lebih tua dariku, tapi itu hanya membuatnya baru berumur 22 tahun. Tahun lalu ia menikah dengan seorang pekerja swasta bernama Dearka, pacarnya sejak SMP. Miri berkata Dearka bepikiran mesum dan suka menggoda wanita lain. Meskipun begitu, ia percaya Dearka hanya mencintainya dan berani mengambil resiko menikah di usia muda. Aku beberapa kali bertemu dengan Dearka yang meluangkan waktu untuk menjemput istrinya di sini. Ucapan Miri benar, ia tampak seperti orang mesum. Namun ia bisa menunjukkan cintanya kepada Miri. Miri sungguh bahagia.
"Sepertinya tadi aku melihat kau berbicara dengan laki-laki berwajah tampan" kata Miri tiba-tiba. Aku langsung menoleh kepadanya dan ia memasang tampang mengejek, "siapa dia?"
"Supir baru Alex" jawabku singkat. Aku malas dengan topic yang diangkan Miri
"Dia terlalu tampan untuk menjadi seorang supir!" suara Miri terdengar lebih keras daripada seharusnya, "Aku tidak percaya ia tidak menemukan pekerjaan yang lebih baik dari itu"
"Aku tidak tahu Mir" balasku putus asa, "aku baru kenal dengan dia"
Jawabanku membuat Mir tampak senang. Ia senyum semakin lebar, "dan akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya"
Aku memutar bola mataku sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Aku mau kerja dulu. Sampai jumpa besok mir" aku memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini.
Mir tertawa kecil, "kabur lagi, huh? Hati-hati di jalan. Sampai jumpa"
Aku mengangguk pelan sambil mengambil tas dan jaketku dari loker. Aku pulang dari TK lebih cepat dari biasanya, aku bisa santai menuju toko bunga.
Chapter 2 is done!
please review ^0^
