Waahhh.. long time no see :D

laptopku baru kembali jadi baru bisa ngeupdate ceritanya sekarang. terima kasih untuk yang sudah ngereview ^0^

untuk hiru-chan dan juga rizacaga, scene asucaganya sudah sy banyakin, maaf ya terkesan lama karena sy maunya mereka nggak buru-buru tapi melewati beberapa tahapan :p chapter ini juga jauh lebih banyak dibandingin chapter sebelumnya. Makasih atas dukungannya :)

untuk ofiai17 terima kasih juga :D

dan untuk semuanya, terima kasih mau membaca tp tolong direview juga yaaahh

selamat membaca


Chapter 5

Aku tetap bekerja seperti biasa. Aku ingin mengambil cuti, tapi ayahku yang sudah sadar, melarangku untuk melakukannya. Ia tidak ingin menjadi penghalang untuk semua aktivitasku, meskipun aku tidak pernah keberatan untuk terus berada di sisinya. DI TK aku melihat Alex lebih banyak tersenyum daripada biasanya. Teman-temannya yang lain berkumpul di dekatnya untuk melihat mainan baru yang ia bawa. Sepertinya kepulangan kakaknya membawa berkah sendiri.

Aku bertemu lagi dengan Shinn sepulang sekolah. Alex masih sibuk memamerkan mainan barunya sehingga kami bisa mengobrol lebih banyak.

"Magang?"

Shinn mengangguk, "Bisa dikatakan seperti itu. Aku hanya mencari pengalaman dengan pekerjaan ini. Sebelumnya aku menjadi pelayan restoran, resepsionis hotel, dan musisi jalanan"

Aku menatapnya tidak percaya. Bagaimananpun alasannya tidak masuk akal bagiku. Bagaimana orang berganti-ganti pekerjaan begitu banyak hanya untuk mencari pengalaman. Shinn tampak tertawa melihat ekspresiku.

"Tapi pekerjaan-pekerjaan itu hanya berlangsung paling lama 3 bulan" ia melanjutkan.

"dan pekerjaan supirmu ini sudah berlangsung selama?" tanyaku penasaran

"3 bulan. Sebelumnya aku menjadi supir di kantor distribusi sebelum dipindahkan menjadi supir pribadi Alex"

"Ahhh.. Kalau begitu sebentar lagi kau akan mencari pengalaman baru yang lain"

Shinn menatap ke depan sebentar, pandangannya kosong sebelum menjawab, "Sejak beberapa hari lalu aku kehilangan mood untuk berhenti dari pekerjaan ini" setelah berbicara itu, ia kemudian ternyum kepadaku.

"Berarti kau sudah mencintai pekerjaan ini"

"Sepertinya…" Shinn menjawab sekenanya, "aku rasa ada hal lain, tapi aku belum begitu yakin"

"Kak Shinn ayo pulang…" tiba-tiba Alex suda berada di antara kami, ia menarik-narik celana Shinn dengan muka memelas. Sepertinya ia kecapaian.

Shinn mengangguk sambil tersenyum. Ia menggendong Alex ke pelukannya sambil mengambil tas dan mainannya. Sepertinya aku mengetahui alasan ia betah di pekerjaan ini.

"Baiklah bu guru, kami pamit dulu" Shinn berkata dengan nada bercanda, "ayo Alex, ucapkan sampai jumpa kepada bu guru"

"Sampai jumpa besok, Miss Cagalli" Alex berkata dengan lirih.

"Sampai jumpa besok, Alex. Selamat tidur" aku mengatakan itu karena aku yakin Alex akan tidur di mobil. Alex hanya mengangguk sambil memeluk leher Shinn.

Shinn tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya memberi isyarat dengan mata sebelum pergi meninggalkan TK. Begitu mereka tak terlihat lagi, aku kembali ke ruang guru dan menemukan Miri duduk di kursiku dengan muka sumringah.

"Aku melihatnya, Cagalli!" Ia berkata dengan semangat, "ceritakan padaku apa yang kalian bicarakan tadi"

Aku hanya bisa menghela nafas.


Rekan satu shiftku di toko bunga, Stellar, hari ini memutuskan untuk mengambil cuti selama dua minggu. Stellar sering melakukannya ketika ia sedang menghadapi ujian di universitasnya. Madame Jasmine biasanya menawarkan untuk mencari seorang lagi untuk membantuku, tapi aku menolaknya. Aku sudah mengerjakan pekerjaan ini selama lebih dari 10 tahun, aku bisa mengatasinya sendirian.

Aku sedang berada di belakang meja kasir sambil membaca buku ketika lonceng pintu masuk berbunyi. Aku langsung mengucapkan selamat datang dan menutup buku yang sedang kubaca dan menaruhnya disebelah mesin kasir. Aku baru saja ingin menghampiri orang yang baru masuk itu, tapi dengan cepat laki-laki itu mengambil bouquet mawar merah yang dipajang di etalase dan langsung berjalan menuju meja kasir.

Aku berusaha untuk tidak tampak terkejut dan menahan emosiku. Laki-laki itu tampak sedikit terkejut melihatku tapi raut mukanya tidak berubah, sama seperti jumat malam ketika aku bertemu dengannya di perpustakaan. Athrun Zala, kenapa aku harus bertemu dengan orang ini lagi. Ia menaruh bouquet di meja kasir tanpa berkata apa-apa.

"Apa ada lagi yang bisa saya bantu, Sir?" tanyaku sambil menatap mukanya lekat-lekat. Laki-laki ini begitu tampan dan mempesona, seandainya, andai saja kelakuannya tidak semenyebalkan ini, mungkin aku bisa jatuh cinta karna kharismanya.

Selanjutnya ia melakukan sesuatu yang tidak kupikirkan, ia tersenyum mengejek, "Apa aku harus membuat kartu belanja?"

Aku memolototinya, "Menurut Anda, sir?" aku tidak mau menjawab ejekannya

"Kau tampak begitu sabar, tapi nyatanya begitu cepat marah" ia kembali berkomentar tentang kepribadianku.

"Kau tampak begitu tenang, tapi nyatanya begitu menyebalkan" aku menirunya

Ia tersenyum mengejek lagi, "Kau tidak mempunyai kemampuan untuk menilai orang"

"dan kau pikir kau memilikinya?"

"Itu keahlianku"

"Benar, aku bisa melihat keahlianmu dari pembicaraan kita" aku membalas dengan nada sarkasme.

Tiba-tiba ia menaruh tangannya di atas meja dan menopang dagunya sambil menatapku, "Kau menarik. Siapa namamu kemarin? Kagari?"

Tindakannya membuatku mundur selangkah dari tempatku berdiri semula, "Cagalli, bukan Kagari"

"Baiklah Miss Cagalli, bisakah kita melakukan transaksi sekarang? Aku tidak punya banyak waktu"

Dia sendiri yang mengulur-ulur waktu. Aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya lagi dan dengan secepat yang aku bisa menyelesaikan transaksi jual-beli dengannya. Ia membeli bunga mawar merah, sepertinya orang yang akan ia temui sangat berarti untuknya. Mungkin kekasihnya.

"Terima kasih. Silahkan datang kembali" aku mengatakannya dengan setengah hati, "di jam yang lain" aku menambahkan pelan-pelan. Tapi sepertinya ia mendengarnya.

"Jika aku kesini lagi" ia berkata sambil mengejek sebelum pergi menjauh, "aku akan datang di jam yang sama"

Ketika pintu tertutup, aku benar-benar berharap ia hanya bercanda.


Mobil Audi R8 Athrun berhenti di depan rumah mewah yang tak jauh dari tempat ia membeli bunga tadi. Ia turun dengan membawa bouquet bunga mawarnya dan langsung diantar menuju ruang tamu oleh salah satu pelayan senior disitu. Ia sudah tidak familiar lagi dengan suasana rumah yang sering ia kunjungi waktu kecil ini. Semua yang ia tahu sudah berubah.

"Athrun!" seorang perempuan muda berlari menghampiri Athrun. Ia berwajah manis dan berambut merah. Bibirnya memperlihatkan senyum bahagianya dan ia langsung memeluk Athrun, "Aku kangen sekali, sudah lama kau tidak pulang"

Athrun hanya tersenyum, "Sepertinya kau baik-baik saja Meyrin"

Meyrin melepas pelukannya dan mendongak untuk melihat wajah Athrun, tangannya tetap tidak lepas dari Athrun, "Kenapa baru sekarang kau kesini? Jika mama tidak menelpon, kami tidak akan tahu kau sudah pulang"

"Maaf, aku lupa" jawab Athrun simple, "ini untukmu" ia memberikan bouquet mawar merah kepada Meyrin. Tentu saja Meyrin senang akan hal ini.

"Terima kasih" ujarnya senang, "wanginya enak sekali"

"Selamat datang, Athrun" seorang perempuan setengah baya dan berambu coklat menyapa Athrun. Ia datang bersama beberapa pelayan yang membawakan minuman dan kue-kue kecil, "Meyrin, biarkan Athrun duduk"

Meyrin mengangguk kemudian membawa Athrun untuk duduk di sampingnya. Perempuan setengah baya itu duduk di seberang mereka.

"Senang sekali melihatmu kembali, Athrun. Mamamu sangat merindukanmu" Perempuan itu berkata.

"Terima kasih, Mrs. Via. Terima kasih juga Anda telah menemani mama selama ini" Athrun membalas dengan sopan

"Tidak apa-apa" Via tertawa kecil, "Tentu saja kau sibuk, papamu ingin kau meneruskan perusahaannya"

Athrun hanya mengangguk kecil.

"Silahkan dinikmati Athrun. Sepertinya Meyrin sudah tak sabar lagi untuk mengobrol denganmu" Via melanjutkan.

"Benar-benar!" Meyrin menyambung dengan semangat, "cepat habiskan makananmu, Athrun. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan di kamarku"

Athrun mengganguk lagi tanpa berkata apa-apa. Ia tidak bisa menolak permintaan teman kecilnya. Sebenarnya mamanya dan Mrs. Via bersahabat yang pada akhirnya membuat Athrun dan Meyrin saling kenal. Athrun sebenarnya menyayangi gadis ini, namun ia tidak terlalu suka dengan gadis cerewet. Ia hanya menghela nafas diam-diam saat Meyrin menyeretnya keluar dari ruang tamu.


Aku hanya bisa menggerutu dalam hati begitu melihat rantai sepedaku patah. Aku harus membawanya ketempat Miguel yang mungkin dapat membantuku. Aku sama sekali tidak mengerti tentang sepeda. Tapi, aku akan lebih senang jika rantai ini putus tepat ketika aku sampai dirumah, tidak seperti sekarang. Aku baru saja jalan beberapa meter dari toko bunga ketika aku mendengar bunyi keras dari sepeda yang kukendarai dan otomatis membuatku terjatuh. Ada beberapa luka gores di kedua kaki dan tangan kiriku dan sedikit mengeluarkan darah. Setelah aku bersihkan lukaku dengan tissue, aku berjalan sambil mendorong sepeda secara manual.

"Sepertinya kau asyik sekali"

Aku menoleh kearah sumber suara dan menemukan Athrun Zala. Ia berbicara melalui kaca jendela mobilnya, aku masih bisa mendengar sayup-sayup suara musik yang berdetum keras. Jujur saja aku sedikit terpana melihat mobil yang dikendarainya. Ia kemudian tersenyum seperti sudah membaca pikiranku.

"Warna mobilku tidak sebagus warna sepedamu" nadanya kembali mengejek.

Aku cukup sabar menahan ejekannya hari ini, "Dengar, jika kau berhenti hanya untuk mengejekku, lebih baik kau segera pergi dari sini" nada suaraku sedikit meninggi

"Apa itu kalimat yang pantas diucapkan kepada seseorang yang berniat menolongmu?" ia membalas.

Aku tidak merasakan secuilpun keinginannya untuk menolongku, "Tidak usah, terima kasih. Aku bisa sendiri"

"Baiklah" balasnya cuek. Ia langsung menutup kaca jendelanya dan melaju mobilnya dengan kencang.

Aku menatap kepergiannya tiba-tiba dengan mulut yang menganga. Dia tidak berniat menolongku sama sekali dan kepergiannya begitu menyebalkan dan sok keren. Sambil tetap menggerutu aku berjalan lagi sambil mendorong sepedaku. Luka di kakiku semakin perih seiring aku mempercepat langkah. Aku ingin cepat sampai di rumah dan mengakhiri semua ini.

Rumahku masih berblok-blok dari sini. Mendorong sepeda sambil berjalan kaki mungkin merupakan ide buruk disaat hari sudah gelap dan kakiku perih. Aku tidak mungkin meninggalkan sepeda ini di tengah jalan dan naik bus bukan. Namun Tuhan sedang berbaik hati kepadaku, aku mendapatkan kejutan yang tak terduga saat berbelok di perempatan lampu merah.

"Kau lagi?" tanganku tanpa sadar menunjuk ke arah laki-laki yang sedang menyender di mobilnya, "Bukannya kau tadi suda—"

"Aku tidak setega itu" ia memotong kalimatku. Aku hanya menatapnya dengan bingung.

Athrun kemudian mengambil sesuatu dari balik kaca jendela mobilnya yang terbuka, sebuah bungkusan, dan melemparkannya ke arahku. Aku menangkapnya dan membaca nama sebuah toko farmasi yang ada di sekitar sini. Aku menoleh ke arahnya sekilas sebelum membuka bungkusan, isinya adalah peralatan p3k.

"Darimana kau tahu kakiku terluka?" aku sedikit tersentuh dengan kebaikannya. Mungkin ia tidak sejelek dari yang kupikirkan selama ini.

"Aku melihatmu berjalan seperti penguin dari belakang"

Ternyata ia tetap menyebalkan, "Terima kasih," ucapanku terdengar seperti tidak tulus. Aku mengamankan sepedaku agar tidak terjatuh dan duduk di dinding pendek yang membatasi jalan dengan taman kecil. Lukaku sendiri tidak separah rasa perihnya. Aku jadi enggan memperlihatkan lukaku kepadanya, ia akan berpikir kalau aku sangat lemah.

"Rantainya lepas?" Athrun tiba-tiba bertanya sambil mengintropeksi sepedaku.

"Sepertinya.." jawabku singkat.

"Sepedamu sudah terlalu tua, banyak besi yang berkarat" ia berkomentar.

"Aku tahu tapi paling tidak aku membelinya dengan harga yang sangat murah"

Ia menoleh kepadaku, "kalau begitu si penjual menyimpan dendam kepadamu. Siapa yang menjualnya?"

"Salah satu tetanggaku, ia teman bermainku waktu kecil" jawabku ragu-ragu. Aku tidak percaya dengan perkataannya yang menuduh Miguel. Miguel menjualnya karena ia ingin membantuku dengan memberikan kendaraan, "Miguel tidak mungkin melakukannya, ia temanku. Lagipula aku yang memaksanya untuk menjual sepeda itu kepadaku sebelum ia berniat membuangnya"

Athrun menaikkan salah satu alisnya dan pandangan matanya mencemooh, "dia seharusnya memperbaiki sepeda ini sebelum dijual kepadamu. Ia hanya menutupinya dengan cat yang menyilaukan"

Aku baru saja ingin membalasnya, tapi ia sudah memotong lagi.

"Jika tidak percaya, kau lihat sendiri" ia menantang.

Aku mendekatinya dan jongkok tepat disampingnya. Ia kemudian mengelupas cat di salah satu bagian dan menunjukkan bagian berkarat dan kerusakannya. Kemudian ia melakukannya lagi dan lagi sampai akhirnya aku menyuruhnya berhenti sebelum seluruh cat sepedaku habis.

Aku teringat ketika aku ingin membeli sepeda ini, aku ingin membawanya ke toko sepeda dulu untuk diperbaiki. Tapi Miguel mencegahnya dan mengatakan biar dia yang menangani masalah ini. Beberapa hari kemudian, dia datang dengan membawa sepeda yang sudah dicat. Aku percaya kepada Miguel sehingga aku tidak terlalu memusingkan masalah kerusakan. Aku ingin mempercayainya lagi tapi Athrun sudah membuktikan ada sesuatu yang tidak beres. Apa memang benar ia punya dendam kepadaku?

Aku menarik nafas panjang kemudian berdiri. Athrun juga ikut berdiri. Ia tampak menungguku untuk mengatakan sesuatu, tapi aku tidak tahu harus mengatakan apa.

"Terima kasih, kau menyadarkanku" hanya kalimat itu yang terlintas.

"Sudah kau obati lukamu?"

Aku menggangguk kecil, "Terima kasih"

Akhirnya Athrun membalas ucapan terima kasihku walaupun Cuma dengan anggukan kecil.

"Dimana rumahmu?" ia bertanya.

"Tidak jauh dari sini, blok 10"

"Ini blok 3"

"Aku tahu" jawabku keras kepala

"Masuk ke mobil" perintahnya

"Apa? Tidak, aku tidak akan meninggalkan sepedaku disini"

"Akan kusuruh seseorang untuk mengantarnya ke rumahmu"

"Dan selama seseorang itu datang, tidak ada yang menjaga sepedaku"

"Tidak ada orang yang berniat mengambil sepedamu"

Aku memelototinya. Aku tidak akan melepas sepedaku, sepeda ini adalah barang termahal yang kubeli dengan uangku sendiri.

"Kau sangat keras kepala" ia berkata lagi

"Sepeda ini kubeli dengan jerih payahku sendiri. Aku tidak akan membuangnya" biar saja ia mengatakan aku keras kepala. Lebih baik aku pulang berjalan kaki dibandingkan harus naik mobilnya dan meninggalkan sepedaku disini.

Ia menghela nafas, "Jadi apa rencanamu sekarang?"

"Errrr…. Jalan kaki?" jawabku ragu-ragu. Aku takut orang kaya ini akan menertawakan ide konyolku. Tidak kusangka dia akan mengangguk begitu cepat. Ia mematikan mesin mobil, mengambil kunci, lalu mengunci mobilnya.

"Aku antar" ujarnya santai.

Aku diam beberapa saat lalu tertawa, "Kau antar aku?" tanyaku tak percaya

Ia mengangguk lagi, "Ada yang aneh?"

Tawaku berhenti, "Kau serius?"

Ia tidak menjawab. Ia berjalan melewatiku dengan santai lalu memegang sepedaku bersiap untuk berjalan. Aku langsung berlari mendekatinya dan menahannya.

"Tunggu dulu. Kau benar-benar serius? Bagaimana dengan mobilmu disini?"

Ia melihat mobilnya sekilas lalu kembali menatapku, "Kutinggal"

Mataku terbelak, "Rumahku berblok-blok dari sini dan kau meninggalkan mobil.. mobilmu disini" nada bicaraku tiba-tiba naik. Mobil yang dia miliki adalah mobil impian setiap orang dan ia mau meninggalkannya disini.

"Apa tidak takut diambil orang…?" aku merasa pertanyaanku bodoh sekali. Dan ia benar-benar merespon pertanyaan bodohku itu dengan senyuman mengejek. Sepertinya ia lebih senang menjawab pernyataan-pernyataan anehku dibandingkan pernyataan serius.

"Aku bisa beli lagi dan…" ia tampak berpikir sejenak, "akan aku cari warna yang sama dengan sepedamu"

Aku memasang senyum pahit, "Saya sangat tersanjung,tuan muda" balasku dengan nada sarkasme, "tapi lebih baik aku yang membawa sepedanya. Aku sudah cukup terbantu kau mau menemaniku pulang"

"Biar aku saja" ia tidak menunggu jawabanku dan langsung berjalan.

Aku mengambil langkah yang jauh lebih lebar dari langkahku biasa agar bisa berjalan sejajar dengannya. Apa dia lupa kalau kakiku terluka? Aku berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakitku dan terus berjalan se-"manusia" mungkin baginya. Kami tidak banyak berbicara, ia hanya berbicara sepatah dua patah kata jika kami berhenti sambil menunggu lampu pengguna jalan berwarna hijau. Akhirnya setelah separuh jalan, aku benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit kakiku.

Aku melihat ada sebuah mini market kecil tidak jauh dari posisi kami, aku baru saja mau menawarkan untuk beristirahat sebentar disana jika ia tidak menawarkannya lebih dulu.

"Kau duduk saja disini, istirahatkan kakimu" ia berkata sambil menunjuk kursi di depan mini market. Ternyata ia masih ingat dengan luka di kakiku. Aku mengangguk sedikit lalu sambil tertatih-tatih duduk di kursi yang ia tunjuk. Athrun meletakkan sepeda tepat di depanku sambil tersenyum sedikit. Aku tahu apa yang ada dipikirannya, tentu saja mengenai keposesifanku terhadap satu-satunya kendaraan yang kumiliki. Tapi aku tidak mengutarakan pikiranku itu karena ia sudah masuk ke dalam mini market.

Tak lama Athrun keluar dari minimarket sambil membawa dua botol minum dingin dan dua buah roti. Ia duduk di sampingku sambil memberikan masing-masing satu dari barang yang ia beli. Aku mengucapkan terima kasih dengan lirih, sepertinya tenagaku sudah habis terkuras disini. Aku merasakan tatapan Athrun sebelum dia membuka pembicaraan

"Dimana rumahmu?" Ia bertanya

"Hmmm…" aku menelan rotiku dulu sebelum menjawabnya, "Blok 10 nomor 12. Rumahku mudah ditemukan, nanti akan kutunjukkan kepadamu"

Ia tidak menjawab lagi. Kami tidak berbicara lagi setelah itu dan keheningan ini membuat mataku benar-benar berat. Tanpa kompromi, dunia bawah sadarku mengambil alih semua kesadaran yang kupunya.


Athrun merasakan beban pada bahu kanannya. Tanpa melihat, ia sudah tahu wanita yang daritadi bersamanya tertidur dan kepalanya menyender di bahunya. Ia sama sekali tidak keberatan. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi melihat raut wajah Cagalli yang letih dan semangat berargumennya berkurang. Untuk berjaga-jaga ia bertanya dimana alamat lengkapnya sehingga ia bisa tetap mengantarkannya pulang jika Cagalli tertidur.

Ia memutuskan untuk melihat wajah sleeping beauty disebelahnya. Athrun tidak tahu apa yang dipikirkannya sampai memutuskan untuk menemani wanita ini sampai di rumah. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu padanya, apalagi kakinya sedang terluka. Ia bisa mendengar rintihan kecil yang dikeluarkan Cagalli saat berjalan.

Athrun mengalihkan pandangannya ke sepeda Cagalli. Ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Baru kali ini ia mengalami pengalaman seperti ini. Ia kemudian diam memikirkan bagaimana cara membawa Cagalli dan sepedanya pulang.


DONE!

please direview.

Jika banyak kesalahan disana sini, maaf yah. Saya ngepost cerita ini buru2 karena mungkin saya bakal lama buka fanfiction lagi (ssttt... mau liburan ^0^). tapi tetep saya tunggu dukungannya. Makasih.