Waaahhh... tidak terasa sudah 2011 dan terakhir sy update cerita ini tahun 2010 =='
sy harap masih ada yang mau baca cerita ini :):)
Terima kasih untuk yang sudah kasih support selama ini
Selamat membaca :D
Chapter 6
"Jadi bagaimana kau bisa sampai ke rumah?" Tanya Miri dengan nada penasaran. Sekolah telah usai tapi Miri berhasil mencegahku pergi sebelum ia mendapatkan cerita lengkap tentang kejadian semalam.
Aku memasukkan beberapa buku ke dalam tas dan membalas Miri dengan nada sedatar mungkin, "Mr. Mwu bertemu dengannya di depan jalan rumah sehingga ia tidak perlu berkeliling mencari rumahku"
"Ia berjalan 5 blok menuju rumahmu,Cagalli" Miri berkata seolah aku adalah orang yang tidak berperasaan.
"Aku tahu" aku menghela nafas. Kejadian ini menjadi bahan pikiranku sejak bangun sampai sekarang. Bahkan aku merasa tidak enak bertemu dengan Alex, aku merasa telah berbuat jahat kepada kakaknya, "aku bahkan tidak tahu apa yang harus kuperbuat setelah kejadian semalam"
"Bagaimana ia membawamu?" ia bertanya lagi.
"Jangan tanya"
"Kenapa?" aku salah menjawab, Miri tambah penasaran
"Well… Ia membopongku di punggungnya sambil mendorong sepedaku" aku menjawab pasrah
Mata Miri membulat dan bersinar, bibirnya mulai mengembangkan senyum yang paling tidak aku suka, "Dia sweet sekali, Cagalli! Ia bahkan rela membopongmu tanpa meninggalkan sepeda kesayanganmu, berjalan sejauh 5 blok sendirian supaya kau tidak terbangun" ia berkata dengan penuh kagum
"Sehebat itukah?" aku masih tidak percaya Athrun melakukan semua itu untukku.
"Tentu saja!" Miri membalas dengan cepat, "sebaiknya kau cepat berterima kasih kepadanya, Cagalli"
Aku kembali duduk di kursi, badanku tiba-tiba lemas, "Itu yang dari tadi kupikirkan. Bagaimana cara berterimakasih kepadanya? Aku tidak mungkin hanya bertemu dan mengucapkan terima kasih lalu pulang. Ia—ia sudah banyak menolongku semalam"
Miri tampak berpikir sebentar, "Kau bisa membelikannya hadiah" ujarnya setelah beberapa saat.
"Hadiah apa yang harus kuberikan kepada anak dari keluarga terkaya di dunia?" aku berkata dengan nada sarkasme. Memikirkannya saja sudah membuatku pusing
"Oh!" Miri menepuk tangannya, "bagaimana jika kau mentraktirnya makan malam. Ingat café yang pernah kita kunjungi di ujung jalan sana? Makanan Italia, tak terlalu mahal, enak, dan aku rasa ia masih mau memakannya"
"Ide bagus, Mir," aku berkata jujur, ide Miri sangat bagus.
Miri tertawa, "Kau sangat beruntung berteman denganku, Cagalli" ia berkata dengan bangga. Aku hanya menatapnya penasaran, "Dearka memberitahuku bahwa Athrun Zala adalah temannya semasa SMP sebelum akhirnya Dearka pindah sekolah"
"Benarkah?" balasku tidak percaya.
"Awalnya aku juga tidak percaya. Tapi sebelum Dearka pindah kesekolahku, ia memang mantan murid SMP swasta. Aku hanya tidak menyangka ia satu sekolah bahkan satu kelas dengan Athrun Zala"
"Jadi apa yang Dearka bisa lakukan?"
"Ia masih berkomunikasi dengan beberapa temannya di sekolah dulu. Aku akan memintanya untuk mencari nomor Athrun Zala"
Aku tersenyum. Masalahku selesai, sebagian…
"Terima kasih, Mir!" aku menggengam tangannya, Miri adalah pahlawanku dalam masalah ini
"Sama-sama, Cagalli. Mulai sekarang jangan pelit berbagi cerita denganku, aku bisa membantumu" jawab Miri dengan nada menggoda.
Aku hanya tertawa.
Tidak mudah untuk meyakinkan Mrs. Murrue mengenai Athrun. Mrs. Murrue memang sudah menjadi pengganti ibuku, ia selalu banyak bertanya jika ada laki-laki yang sedang dekat denganku. Setiap beliau bertanya siapa Athrun, aku bingung untuk menjawabnya. Jika aku menjawab Athrun hanyalah lelaki yang baru aku kenal, beliau pasti marah. Jika aku menjawab aku sedang dekat dengannya—padahal tidak—makin banyak pertanyaan lainnya muncul. Karena itu aku hanya menjawabnya dengan satu kata, teman. Tapi tetap banyak pertanyaan yang muncul. Apalagi setelah ia tahu bahwa Athrun adalah anak keluarga Zala. Matanya langsung melotot dan mulutnya terbuka lebar. Siapa yang akan percaya bahwa aku berteman dengan orang paling kaya di dunia?
Mr. Mwu hanya tersenyum melihatku. Aku yakin senyumnya mengandung suatu arti lain. Suatu pagi ia menjelaskan secara rinci padaku bagaimana ia bertemu dengan Athrun pada malam itu. Ia mengatakan Athrun tidak mempercayainya pada awalnya. Bahkan Athrun menolak ketika Mr. Mwu menawarkan untuk membantu membopongku.
"Seperti tidak mau melepaskanmu," ujar Mr. Mwu sambil tertawa. Aku hanya tersenyum kecut, berusaha untuk tidak mempercayainya.
"Jangan katakan kepada Mrs. Murrue tapi aku benar-benar baru tiga kali bertemu dengannya," aku menjawab dengan seyakin-yakinnya.
Mr. Mwu hanya melihatku dengan tatapan yang tidak kumengerti, "Andai saja kau terbangun pada saat itu"
Dan pembicaraan kami terhenti sampai disitu karena Mrs. Murrue tiba-tiba datang dan mengajak suaminya pulang. Malamnya, aku mendapatkan SMS dari Miri. Setelah tiga hari mencari, Dearka berhasil menemukan nomor Athrun Zala. Ia berjanji untuk memberikannya kepadaku besok di sekolah. Sebelum tidur, aku menemukan satu SMS baru.
"Selamat malam, Cagalli. Have a nice dream :)
Shinn"
Aku sudah mendapatkan nomor Athrun Zala. Miri memberikannya kepadaku sebelum bel sekolah berbunyi. Ia memberikannya dengan senyum dan menyuruhku untuk segera menelponnya. Tapi aku sudah memutuskan untuk menelponnya setelah sekolah usai.
Di kelas, entah mengapa perhatianku terpusat pada Alex. Hari ini Alex sangat hiperaktif. Dia tampak senang dan sibuk berlarian sana-sini. Ketika Miri bertanya apa yang membuatnya cerah hari ini, Alex hanya tertawa kemudian berlari lagi. Miri menggodaku dengan mengatakan kemungkinan Athrun akan menjemputnya hari ini karena selama ini Alex selalu gembira jika berkaitan dengan kakak laki-lakinya. Saat itu Aku seharusnya tidak meremehkan kemampuan meramal Miri.
Miri selalu mengatakan bahwa ia mempunyai kemampuan untuk menebak chemistry dan peruntungan orang. Walaupun selama hidupnya dia baru bisa menebak 2 kejadian yang benar,ia tetap percaya diri dengan kemampuannya. Dan kejadian siang ini tentu akan membuatnya semakin besar kepala. Ia tersenyum senang dan puas sambil melirikku dengan tatapan menggoda. Sedangkan aku,aku hanya berdiri di sampingnya dengan muka pucat dan serba salah.
"Mungkin Athrun akan menjemputnya siang ini"
Miri menyenggolku lagi. Aku balik menatapnya dengan tatapan tajam. Aku butuh waktu untuk berpikir. Ketika kembali pada posisi tatapanku semula,mataku beradu dengan mata emerald Athrun. Ia tidak tampak terkejut melihatku,wajahnya tetap tenang dan tanpa emosi.
"Kau sungguh bekerja dimana-mana," tiba2 ia berkata.
Aku hanya mengangguk-angguk, aku tidak tahu harus menjawab apa. Kemudian aku melihat Alex yang tertawa cekikikan di pelukan Athrun. Dia tidak tahu permasalahanku bukan?
"Kau pasti kakaknya Alex?," Miri tiba-tiba bertanya kepada Athrun. Aku yakin dia hanya basa-basi, bagaimanapun ia sudah tahu tentang Athrun dariku dan juga pasti dari Dearka.
Athrun hanya mengangguk.
"Aku sudah mendengar tentangmu dari Cagalli!," seru Miri dengan nada yang sangat riang.
Aku merasa nafasku tercekik begitu mendengar ucapan Miri dan seketika aku merasa tatapan Athrun. Aku membalas tatapannya sambil menggeleng-gelengkan kepala, sekarang ia akan bertambah yakin kalau aku adalah wanita cerewet. Tapi Athrun malah tersenyum, walaupun senyumnya mengandung ejekan secara tidak langsung.
Miri tampak terpana sesaat melihat senyum Athrun kemudian ia langsung menendang keras kakiku sambil tersenyum-senyum. Aku memekik pelan.
"Apa yang kau lakukan?," bisikku.
"Tidak akan kubiarkan kau melewatkan laki-laki tampan ini, Cagalli," ia membalas berbisik juga,
"cepat ajak dia pergi"
"Aku belum siap, Miri," balasku lagi.
"Apa yang harus kau siapkan, orangnya sudah ada didepanmu"
"Karena itu—," tiba-tiba aku mendengar suara batuk dari samping. Baik aku maupun Miri langsung melihat ke arah sumber suara, Athrun melihat kami dengan alis terangkat.
"Maaf…" ujarku seraya kembali ke posisiku semula.
Ia tampak tidak perduli dengan ucapan maafku,aku sudah mulai terbiasa, "Kami pamit dulu"
Miri melirikku, "Baiklah, hati-hati di jalan, jangan lupa kerjakan PRnya ya Alex,"suara Miri kembali menjadi suara seorang guru TK.
"Dadahh Miss Cagalli, Miss Miri,"Alex melambai-lambaikan tangannya dengan lucu.
Aku sedikit menunduk agar sejajar dengan Alex, "Hati-hati Alex, jangan nakal sama kakak ya"
Alex mengangguk-angguk lalu tertawa lagi. Aku harap ia tidak menertawakan kebodohanku. Athrun menatapku sebentar kemudian berbalik dan berjalan pergi.
Miri mendorongku, "kau akan menyesal," bisiknya dengan nada serius.
Apakah benar aku akan menyesal? Sepertinya benar.
"Athrun," aku mencoba memanggilnya dengan nada pelan, sedikit berharap ia tidak mendengarku. Tapi ternyata telinganya lebih hebat dari dugaanku. Ia berhenti berjalan dan berbalik menatapku.
Aku mengambil nafas sebelum mengambil langkah mendekat.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih," suaraku terasa bergetar, "aku banyak merepotkanmu malam itu"
Athrun mengangguk, "Kau lebih berat daripada dugaanku," tiba-tiba ia berkata dengan nada usil. Alex tertawa mendengar ucapan kakaknya. Ia benar-benar mengerti apa yang kami bicarakan.
"Kalau begitu maafkan aku," aku membalas dengan nada malas. Kenapa dia harus bersikap menyebalkan sekarang, "Hhhmmm… Apa kau punya waktu sabtu besok?"
Ia mengangkat alisnya, merasa aneh dengan pertanyaanku.
"Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu," aku cepat menimpal sebelum ia salah sangka, "jika kau tidak keberatan, ada café italia di ujung jalan yang cukup enak"
"Kau.. Mentraktirku makan?" ia bertanya seakan itu adalah hal terakhir yang bisa dia pikirkan.
"Jika kau mau," aku menambahkan, "aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau," aku mengerti jika dia tidak mau menyantap makanan di restoran kecil dan murah.
Athrun kemudian tersenyum, bukan senyum jahil atau mengejek yang selama ini aku lihat, tapi senyum tulus, senyum tulus pertama yang aku lihat. Aku terpaku sesaat, mustahil laki-laki ini terlihat begitu tampan.
"Sampai jumpa sabtu nanti," ia berkata. Tanpa menunggu jawabku, ia berpaling, lalu berjalan menjauh. Miri langsung menghampiriku, ia tidak berkata apa-apa, ia sudah mengetahui jawabannya dari wajahku.
"Wajahmu merah, Cagalli," Miri berkata dengan senang, "selamat! Kencan pertamamu dengan anak terkaya di dunia,"
