Pertama2, sy ingin mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah membaca dan mensupport fanfic ini ^0^

maaf kalau saya ngeupdatenya lama dan melebihi janji saya. tapi jujur, semester ini membuatku gila. Penuh dengan laporan, tugas, presentasi, dan bolak balik ke pabrik. Sy tidak yakin dengan chapter ini mengingat sy membuatnya di sela-sela presentasi (stlh saya maju dan giliran kelompok lain yang maju,lol) dan di sela2 menunggu kelas. Chapter ini singkat dan terkesan buru2 karena saya ingin mengupdate secepatnya. setelah semester ini selesai, saya akan mencoba mereview lagi dan mengupdate ^0^


Chapter 7

Semalaman aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku berbaring di tempat tidur, mata tertutup, tapi pikiranku mencoba untuk memikirkan hal terburuk yang bisa terjadi besok. Diantara beberapa kesalahan teknis yang bisa terjadi, hal yang terburuk yang bisa kupikirkan adalah jika Athrun tidak datang. Setiap kali aku memikirkan hal itu, tanganku langsung meraih handphone, membuka lagi saved messages yang telah kubuat berulang kali, dan setiap kali pula aku langsung mengurungkan niatku sambil menghela nafas.

Mrs. Murrue terus menerus mengatakan kepadaku untuk tetap tenang, tapi beliau sendiri yang tampak tidak tenang dan membongkar semua baju yang ada di lemariku. Kenyataan aku akan pergi bersama anak terkaya di dunia membuatnya sedikit cemas bahwa aku mungkin kurang pantas untuk pergi dengannya. Merasa putus asa melihat kondisi baju di lemariku, beliau memaksaku untuk pergi membeli baju yang pantas, dalam hal ini, dress…

Aku langsung menolak dan mengeluarkan baju yang telah kupersiapkan untuk pergi hari ini. Tentu saja ada perdebatan dan pertentangan keras dari Mrs. Murrue tapi tidak ada yang dapat memaksaku untuk memakai dress, meskipun aku akan pergi dengan Athrun. Pada akhirnya, Mrs. Murrue menyerah dan cukup menyukai pakaian pilihanku setelah aku memakai dan memperagakannya di depan beliau. Sebelum aku pergi, Mrs. Murrue mencoba untuk sedikit mendadani rambutku dengan menguncirnya seperti buntut kuda sehingga rambutku terlihat lebih rapi dari biasanya.

Aku meninggalkan sepedaku dan memilih untuk naik bus. Begitu masuk ke dalam bus aku menemukan wajah familiar, "Shinn?"

"Cagalli!" ia membalas, terdengar sama terkejutnya denganku. Kemudian ia menunjuk kursi kosong disampingnya, aku mengangguk lalu duduk disebelahnya.

"Mau kemana, Cagalli?" tanyanya ceria.

"Ada janji dengan teman," jawabku, "kalau kamu?"

"Ada sedikit kerjaan," balasnya cepat, "temanmu itu laki-laki atau perempuan?"

Haruskah aku mengatakan kalau aku ada janji dengan bossnya, "Hmmm… Laki-laki…" aku sedikit segan untuk menjawabnya.

Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku saja atau bukan, tapi aku bisa melihat ekspresi mukanya yang langsung berubah, "Kau mau kencan ya?"

Aku langsung merasa bersalah, "Tidak, hanya janji biasa. Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"

"Kau beda dari yang biasanya," ia menjawab sambil melihat keluar jendela.

"Hanya perasaanmu saja," aku lalu tertawa pahit, berusaha untuk menutupi kenyataan.

Kemudian ia berpaling dari jendela dan menatapku dalam, aku sedikit mundur karena merasakan tatapannya yang tajam, "Tidak, kau cantik sekali hari ini"

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya membalas dengan sedikit terbata-bata, "Kau pintar bercanda," aku tertawa lagi. Tapi tatapan seriusnya membuatku berhenti, lalu aku langsung membuang mukaku.

Sepertinya ia menyadari ketidaknyamanku, ia juga ikut membuang muka, menatap jendela lagi. Kami saling berdiam diri sampai akhirnya konduktor bus menyelamatkanku.

"Saint Eustache!"

Aku langsung mengambil tasku dan berdiri, "aku turun dulu," kataku sambil menatapnya sekilas.

"Have fun, Cagalli"

Aku mengangguk dan bergegas turun. Begitu bus berjalan menjauh, aku merasakan kelegaan yang sangat mendalam.


Aku memasuki restoran dengan was-was. Mataku menyapu seluruh ruangan, mencari wajah Athrun yang mungkin saja datang lebih dulu. Tapi tentu saja itu tidak mungkin terjadi. Aku duduk di salah satu meja dekat jendela dan menghadap pintu masuk agar aku bisa melihat Athrun jika dia datang.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit berlalu, aku belum begitu khawatir. Tapi setelah tiga puluh menit, aku mulai cemas scenario terburukku akan menjadi kenyataan. Seorang pelayan datang ke meja, menanyakan pesananku. Karena tidak enak, akhirnya aku memesan minuman. Setelah minumanku datang, Athrun tetap belum datang. Aku melihat jam sambil menghela nafas. Di luar tidak ada tanda-tanda mobil sport Athrun datang, aku menghela nafas lagi.

Aku menopang wajahku sambil menatap keluar jendela. Langit hari ini sangat cerah, mungkin aku bisa pulang berjalan kaki ketimbang naik bus, aku bisa menikmati pemandangan langit dan kota sekaligus. Mrs. Murrue banyak membantuku hari ini, meskipun sepertinya usaha beliau sia-sia, tapi aku berencana untuk membelikannya sesuatu pada saat aku pulang nanti.

Aku sibuk dengan pikiranku sendiri saat se-bouquet bunga mawar merah tiba-tiba ada di depan wajahku. Aku mengedipkan mata, mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Wajah tampan Athrun muncul dari balik bouquet, ia tersenyum simple.

"Maaf, aku terlambat," ujarnya pelan.

"Ahh…" otakku menjadi kosong seketika, "—kau datang," balasku sedikit terbata-bata.

Ia tertawa kecil, "Untukmu," tangannya menyodorkan bouquet lagi ke arahku.

Aku mengangguk lalu mengambil bouquet yang diberikannya. Mawar merahnya benar-benar indah, aku bisa mencium wanginya meskipun masih berada di tangan Athrun.

"Terima kasih," ujarku tulus. Ia hanya mengangguk singkat, tanpa jawaban seperti biasa.

Athrun kemudian duduk di depanku dengan gerakan yang cukup anggun dan cepat. Ia memandangku sekilas lalu pandangannya menyapu seluruh ruangan seperti aku tadi. Tapi bedanya, jika aku menyapu seluruh ruangan demi mencarinya, ia tampak menyapu seluruh ruangan untuk menjelajah lebih dalam restoran yang baru ia masuki. Aku tidak akan terkejut kalau dia tiba2 menolak untuk makan disini.

Setelah ia tampak puas matanya beralih kepadaku. Aku sedikit tertegun, mempersiapakan diri dengan perkataannya selanjutnya

"Ada yang aneh?" ia malah bertanya.

"Ehh? Apa?" balasku dengan bodohnya.

"Kau terus melihatku dari tadi. Apa kau marah karena aku datang terlambat?"

Wow. Kalimat yang cukup panjang dari seorang Athrun Zala.

"Tidak," aku hanya gila karena aku tidak mengerti apa yang ada dipikiranmu,"aku senang kau datang"

Dia tersenyum lagi. Makhluk ini memang benar-benar tampan.

"Err- Bunganya cantik sekali, terima kasih," ujarku masih sedikit terbuai dengan wajahnya.

Ia melihat ke bunganya,menggangguk pelan, lalu menatapku lagi.

"Aku tidak salah memilih bunga," sahutnya.

"Kenapa?"

"Kau sama cantiknya," ia menjawab dengan santai.

Aku langsung merasakan aliran darahku naik dan pipiku terasa panas. Ada apa dengan orang-orang hari ini, semuanya sukses membuatku malu setengah mati. Jantungku berdegup dengan kencang dan aku benar-benar tidak tahu harus membalas apa. Aku langsung menutup wajahku yang bersemu merah lalu memandang Athrun sekilas, ia sedang tersenyum puas. Melihat senyumnya, aku ingin sekali mengutuk laki-laki ini menjadi kodok, kodok yang tampan. Seorang kodok yang bisa membuat hatiku kacau.

"Wajahmu merah," ia berkomentar seakan tidak terjadi apa-apa.

Aku sedikit membuka wajahku, memandangnya dengan tatapan tajam dan ia tetap bersikap seperti biasa. Laki-laki sialan,ternyata aku sendiri yang kacau.

"Apakah kau malu karena kupuji cantik?" Athrun bertanya lagi.

"Menurutmu?" aku balik bertanya.

"Kau memang cantik," ia menjawab.

"Kau gila," aku membalas, ketus.

"Aku gila jika tidak menyebutmu cantik,"

Aku terdiam. Wajah merah padam. Aku akan membalas jika saja aku tidak melihat matanya. Ia duduk di depanku, dari postur tubuhnya aku tahu Ia sangat santai dan relax. Punggungnya bersandar di sandaran kursi, tangannya berlipat dan diletakkan di depan dadanya. Tapi yang membuatku terpana bukanlah postur tubuhnya, melainkan tatapan matanya yang lurus dan tajam seakan dia bisa menembus pikiranku.

"Permisi,apa Anda sudah siap memesan?" seorang laki-laki muda berparas tinggi menghampiri kami. Ia memberikan menu ke Athrun sambil tersenyum lalu memberikan satu menu lagi kepadaku.

Aku mengambil menu dari pelayan itu dengan cepat lalu menggunakannya untuk menutupi wajahku. Terima kasih Tuhan, Kau menyelamatkanku.

"Menu spesial kami," pelayan itu berkata dengan suara lantang, "Blackpaper wagyu steak with salad and black truffle"

Aku membuka halaman pertama menu lalu menemukan menu spesial yang dikatakan oleh pelayan barusan. Seperti biasa gambar makanan pada menu selalu memikat. Aku melirik Athrun dari balik buku menu. Ia sedang membuka menu halaman demi halaman. Aku semakin cemas. Ternyata membawa orang kaya makan di restoran biasa sungguh membuatku pusing.

Apa sebaiknya aku menawarkan menu spesial ini? Menu spesial biasanya merupakan menu favorit dan enak. Aku segera membalikkan buku menuku ke halaman pertama. Aku rasa menu ini cocok untuk Athrun, terlihat mewah dan elegan.

Tapi… Wagyu itu apa ya?

"Kau sudah memilih?" Athrun tiba-tiba bertanya. Ia sudah menutup buku menunya dan meletakkannya di atas meja.

"Kau dulu saja yang memesan,aku masih melihat-lihat," jawabku sambil berpura-pura membaca. Disaat inilah aku baru membaca enam digit angka yang tertera di bawah gambar wagyu steak. Tulisan angkanya kecil dan luput dari pandangan orang.

Menu spesial yang pelayan itu maksudkan memang spesial dari segi tampilan dan harga. Enam digit angka yang tertera pada menu tertulis belum termasuk pajak dan service. Terlihat jelas restoran ini ingin merampok orang. Jika aku dan Athrun sama-sama memesan hidangan ini, mulai besok aku akan menjadi tukang sapu disini.

"Blackpaper wagyu steak with salad and black truffle," Athrun berkata kepada pelayan sambil memberikan buku menunya.

Aku langsung terbangun dari lamunanku, "Ehh?"

"Jika kau masih bingung," pandangannya beralih kepadaku lagi, "samakan denganku saja. Wagyu steaknya dua" kalimat terakhir ia arahkan kepada pelayan.

Ia masih lanjut berbicara kepada pelayan itu, mungkin Athrun memesan minuman. Tapi aku sama sekali tidak bisa mencerna apa yang mereka bicarakan. Pikiranku hanya berfokus pada satu...

Tukang sapu…


Note :

*Saint Eustache adalah salah satu nama jalan yang ada di Paris. Ketika membuat bagian Cagalli dan Shinn, ada teman yang mengatakan betapa sulitnya menyebut nama jalan di sana dan nama jalan itu adalah Saint Eustache

*Tentang wagyu steak, saya sama sekali tidak mempunyai waktu untuk mencari nama makanan yang sesuai dan yang saat itu terlintas di pikiranku hanya wagyu.

Ini jawaban untuk review yang sudah masuk :) sengaja saya balas disini supaya jika yang laen merasa ada "keanehan" yang sama bisa membacanya

*Cagalli memang mengajak pergi ke restoran italia. di tempat saya tinggal, rest italia juga menyajikan steak tp memang sebagai side dish. di cerita ini saya hrs membuat Cagalli terlihat bangkrut dan saya rasa dua porsi pasta (meskipun yg sgt istimewa) tidak bisa membuatnya terlihat demikian. Dengan pertimbangan itu, akhirnya sy memutuskan utk memakai steak yg biasanya lbh mahal dari pasta. Maaf atas keanehan ini

*Daging wagyu yang saya pake disini adalah daging sapi dari jepang, terkenal dengan kelezatan dan harganya sangat mahal (bagi saya) :p sy juga ga bisa ngejelasin gimana bentuk atopun tekstur dan rasanya, maaf yaa...

*Untuk kekurangan tanda baca, mohon dimaklumi, saya membuat chapter ini bukan dari laptop melainkan dari ipod :D setiap kali selesai baris, saya langsung otomatis enter dan ketika saya balikin lagi ke komputer, itu benar2 luput dari pandangan saya. terima kasih sudah memberitahu.

Saya tahu chapter ini akan banyak kesalahan, karena itu setiap review yg masuk akan sgt saya hargai :)

kesalahan yg saya buat akan saya perbaiki dan jika kesalahannya suda bnar2 parah, saya akan merivisi total chapter ini :)

terima kasih atas support dan dukungannya