Summary: "Kau...!" Sasuke sudah meraih kerah baju pemuda itu dalam genggamannya. "Tak berhak atas dirinya! Dia milikku!" CHAP 2 is UP! Sasunaru fic, yaoi inside, RnR please...
Disclaimer: Masashi Kishimoto
My Feeling
By: Black Capxa
Genre: Drama/Hurt/Comfort
Rated: T
Pairing: SasuNaru and GaaNaru, slight the others...
Warning: AU, yaoi inside, typo(s), gaje, dll..
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Chapter 2: Autumn
.
.
.
Sept, 16 2009.
Pagi ini matahari bersinar dengan cerah seperti biasa. Aktivitas penduduk kota Konoha pun sudah mulai menampakkan kesibukannya. Tapi, di pagi hari yang penuh keceriaan ini, tak semua orang merasa bersemangat. Lihat saja salah satu penghuni kamar apartemen bernomor 230. Di dalam sana kita bisa melihat seorang pemuda berambut pirang cerah dan berkulit tan eksotis sedang menggulung dirinya di dalam balutan selimut tebalnya yang hangat.
Dan hanya ada keheningan.
...
KRIIIIIIIIIING...
"Berisik!"
KRIIIIIIIIIIIING...PRAK!
"Begitu lebih baik!"
Sekarang kita bisa melihat serpihan sebuah jam weker telah memenuhi sebagian lantai apartemen itu.
Hening lagi...
...
...
...
"AHHHH, AKU TERLAMBAT!"
Dan mulailah terdengar kerusuhan kecil di kamar tersebut.
"Hosh...hosh...hosh..."
Naruto berlari secepat yang ia bisa dengan peluh yang mengalir deras di punggung dan pelipisnya. Nafasnya pun sudah memburu untuk mencari pasokan oksigen lebih banyak lagi. Berlari demi mengejar waktu yang sudah mendesaknya dalam menit yang menyiksa. Ah, seandainya saja jam weker itu membangunkannya lebih awal, tentu hari ini ia tak perlu berlari marathon seperti ini.
"Sial! Tinggal 5 menit lagi! Yosh, semangat Naruto..."
Ia terus mempercepat laju larinya hingga pintu gerbang sekolahnya mulai terlihat di kejauhan. Naruto semakin tersenyum lebar saat beberapa orang siswa sepertinya juga datang dengan keadaan yang kurang lebih sama dengannya. Naruto tahu persis siapa orang-orang itu.
"Hoi, Kiba, Shikamaru..." Teriak Naruto sambil melambaikan tangannya penuh semangat saat kedua orang yang ia maksud sudah berada pada jarak yang lumayan dekat dengannya.
"Tunggu kami, Naruto..."
Kiba dan Shikamaru mulai berlari (lebih tepatnya lagi, Kiba yang menyeret paksa Shikamaru) menyongsong sang sahabat yang sudah berada di depan pintu gerbang KHS. Ketika mereka bertiga sudah berkumpul, hanya ada canda dan tawa yang menghiasi hari-hari mereka.
"Woi, Kiba. Untung hari ini kau tidak terlambat. Apa si pangeran tidur terbangun lebih awal?" Tanya Naruto seraya meninju pelan lengan pemuda pemilik tato segitiga terbalik dipipinya tersebut. Sementara Kiba hanya mendengus pelan.
"Yeah, kau bisa lihat sendiri. Aku sungguh bosan kalau setiap hari mesti terlambat karena harus menunggunya bangun. Jadi, kuberi saja dia bonus."
Naruto nampak mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
Kiba terkekeh pelan. "Yah, kau tanya saja dia sendiri!"
Naruto kini mulai mengalihkan perhatiannya ke arah pemuda yang memiliki rambut hitam yang dikuncir tinggi keatas. "Apa bonusnya, Shikamaru?"
Sedangkan yang ditanya hanya bisa melirik sebal pada Kiba yang merupakan rekan sekaligus kekasihnya tersebut. "Huh! Kalau kau mau tahu bonus apa yang dia berikan, lihat saja tanganku!"
Naruto pun menuruti perintah Shikamaru. Dan...gotcha! Di atas pergelangan tangan Shikamaru terdapat bercak kemerahan yang sangat kentara sekali. Seperti bekas...
"Hoi, Kiba. Kau menggigit tangan pacarmu sendiri?"
Kiba tertawa semakin keras. "Hebat kan karyaku?"
Shikamaru mendelik kesal ke arah kekasihnya tersebut. "Ya! Kau dan Akamaru sama saja!"
Mereka bertiga pun tertawa bersama sambil menyusuri koridor sekolah yang akan membawa mereka ke kelas.
In the Head Master's room.
Seorang pemuda berambut hitam kebiruan tengah duduk berhadapan dengan seorang pria berumur sekitar 50 tahunan. Pemuda bermata Onyx itu hanya diam sambil menatap pria berambut putih panjang didepannya dengan raut wajah yang dingin tanpa ekspresi.
"Selamat datang di Konoha High School. Apa yang membuat anda tertarik untuk pindah ke sekolah kami yang biasa ini?" Pria bergelar 'Head Master' itu bertanya dengan nada sesopan dan semenyenangkan mungkin. Walaupun ia tahu bahwa mata onyx itu tidak berubah sedikitpun. Tetap memandangnya dengan dingin dan angkuh.
"Hanya ingin mencari kepingan yang hilang."
Sebuah jawaban yang sangat singkat dan membingungkan.
"Maksud anda?"
Pemuda itu semakin memandang sekitarnya dingin. "Bukan urusanmu, Jiraiya-san."
Pria bernama Jiraiya itupun hanya bisa diam sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Asalkan jangan menatap lurus ke sepasang mata onyx itu.
"Baiklah," Jiraiya akhirnya menemukan kembali keberaniannya. "Kelas anda di_..."
"Dimana saja. Asalkan aku bisa sekelas dengan Uzumaki Naruto."
Pemuda itu dengan cepat memotong kalimatnya. Jiraiya hanya bisa menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara kembali.
"Baiklah kalau begitu. Mulai saat ini anda akan belajar di kelas 2-B. Kakashi sudah menunggu disana"
"Hn."
Tanpa berbasa-basi lagi ataupun sekedar mengucapkan terimakasih, pemuda itu segera berlalu dari hadapan Jiraiya. Sedangkan sang kepala sekolah hanya bisa menatap kepergian pemuda itu dengan seulas senyum di bibirnya.
'Sepertinya akan ada drama percintaan yang menarik'
Suasana kelas 2-B begitu hening, lantaran Kakashi-sensei sedang mengajar pelajaran Matematika. Deretan rumus-rumus hitungan trigonometri kini sudah memenuhi seluruh area papan tulis. Membuat seluruh siswa dan siswi di kelas tersebut menatapnya horror dengan berbagai keluh kesah dibenak mereka masing-masing. Coba kita tengok Uzumaki Naruto. Pemilik mata beriris safir itu hanya duduk tenang di kursinya, sambil menggerakkan penanya di atas buku catatannya. Sikap yang sangat baik dan patut diteladani. Kelihatannya begitu kan? Coba kita dengar secara seksama isi hatinya.
Inner Naruto:
'Sialan...! Rumus apaan tuh? Bikin otakku berpusing ria saja! Tak tahu apa kalau mataku sudah berkunang-kunang melihat tulisan aneh itu! Huh...#$*&%^?~&%^$#^..."
Sepertinya kalau terus didengarkan, umpatannya akan semakin menjadi-jadi deh.
"Sssttt, Naruto."
Yang dipanggil merasa sedikit terusik. "Ada apa, Kiba? Kau tahu sendiri kalau aku sedang berusaha berkonsentrasi!" Bisik Naruto kesal pada Kiba yang duduk di belakangnya.
Kiba kini tersenyum meremehkan. "Halah...baru juga berusaha. Biasanya kan hanya masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri. Alias nggak ada yang nyangkut di otakmu." Kiba mulai terkekeh pelan agar suaranya tak terdengar sampai di telinga Kakashi sensei.
Naruto mendelik kesal. "Kalau kau memanggilku hanya untuk ini, sebaiknya jangan menggangguku lagi!"
"Maaf deh..." ujar Jiba memelas. "Aku cuma ingin tanya. Dimana si red head itu sekarang? Belakangan ini dia sering sekali terlambat sekolah."
Naruto diam sesaat. Ia kemudian melirik bangku kosong yang ada di sampingnya dengan tatapan sendu. "Aku tidak tahu."
Sayangnya Kiba tak melihat ekspresi terluka Naruto.
"Naruto, kau baik-baik saja kan? Oi, Naru_"
"Ehem...ehm..."
Kiba menatap horror pemandangannya yang ada di hadapannya. Kakashi sensei saat ini sedang berdiri di depannya dengan tangan kanan menggenggam sebuah paser yang ujungnya berkilauan tanda runcing dan dalam penglihatan Kiba itu seperti sebuah samurai yang tajam. Sedangkan tangan kirinya memegang sebuah buku tebal yang diartikan Kiba sebagai kitab kematian. Dengan tambahan aura neraka plus senyum devilnya. Fantasi Kiba mulai menari-nari dengan bebas di pikirannya.
"Inuzuka Kiba..."
Yang dipanggil hanya bisa mematung ditempat. "I..i..iya, Ka..kashi sensei?"
Kakashi tersenyum sangat manis yang dalam penglihatan Kiba seperti sebuah seringaian yang tajam. "Maukah kau mengerjakan beberapa soal dipapan dengan rumus yang benar?"
'Tamatlah dirimu, Kiba...khukhukhu...' inner Naruto.
'Kau pasti sedang menertawakanku kan, Naruto? Awas saja kau nanti!' inner Kiba.
"B..baik, sensei."
Dengan langkah gontai, Kiba mulai berjalan ke depan dimana soal-soal Matematika sudah menunggu untuk diselesaikan. Di depan papan tulis ia hanya bisa termangu dengan mulut yang terbuka lebar. Oh, ayolah Kiba. Soal limit fungsi trigonometri yang jumlahnya hanya 10 itu tidak akan membuatmu pingsan kan?
BRUK
'Lebih baik berpura-pura pingsan saja daripada dipermalukan didepan kelas, kan?'
Oh, betapa Shikamaru ingin sekali menyeret keluar kekasihnya saat itu juga.
"Shikamaru, tolong bawa rekanmu ini ke UKS." Perintah Kakashi sambil memandang prihatin sosok Kiba yang terbaring pingsan di lantai kelasnya.
"Haahh...mendokusei."
Dan keluarlah dua orang itu dengan Kiba dalam gendongan Shikamaru yang membawanya ala bridal-style. Membuat para fujoshi yang melihatnya menjadi berseri-seri.
Yare-yare...
"Baiklah, anak-anak. Mari kita lanjutkan lagi pelajaran yang sempat tertunda."
Kakashi baru saja akan mengoceh lagi tapi niatnya tak terlaksana saat sebuah suara ketukan pintu menginterupsi kegiatannya.
"Sebentar."
Kakashi pun keluar kelas dengan meninggalkan tanda tanya bagi siswa-siswi yang ada di kelas tersebut. Beberapa saat kemudian, ia pun kembali lagi dengan pemandangan yang berbeda. Berbeda? Bukanlah Kakashi, melainkan sosok pemuda yang kini berdiri di sampingnya. Seluruh siswi serentak menjerit histeris, sedangkan para siswa lainnya hanya menatap sinis sosok itu. Naruto yang mulanya sedang mengembara di alam khayalnya, kini mulai menolehkan kepalanya ke depan saat suara ribut-ribut di kelasnya memecah fantasinya.
Mereka bertemu pandang.
Onyx
Safir
Waktu seolah berhenti saat itu juga. Memberikan mereka kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati.
'Teme, kaukah itu?'
'Hn. Dobe.'
'Kau benar-benar kembali? Aku tidak sedang bermimpi, kan?'
'Aku sudah kembali, dobe. Untukmu...'
Seulas senyum tulus terpahat diwajah tampan pemuda berkulit putih bagai porselen itu. Senyum yang hanya ditujukan untuk satu orang saja. Uzumaki Naruto, miliknya.
"Baiklah, perkenalkan dirimu." Ujar Kakashi sensei.
"Hn. Uchiha Sasuke, pindahan dari London."
Para siswi semakin berteriak histeris saat melihat sikap dingin pemuda Uchiha itu.
"Hanya itu saja?" Tanya guru berambut silver itu keheranan.
Sasuke menjawabnya dengan nada yang lebih dingin lagi. "Hn."
"Haahhh, sudahlah. Sekarang kau duduk di_"
"Aku ingin tempat kosong di samping Uzumaki, sensei." potong Sasuke cepat sambil mencuri pandang kearah Naruto. Sementara pemuda blonde itu hanya menatap Sasuke sekilas dengan pandangan yang sayu, kemudian menundukkan kepalanya ke bawah.
Sasuke sangat menyadari perubahan itu.
"Tapi_"
"Aku tetap ingin duduk disana!"
Kakashi berusaha untuk menjelaskannya. "Tempat itu..."
.
BRAAKK
"Tempat itu milikku, Uchiha!"
Semua pasang mata tanpa terkecuali kini mengalihkan pandangannya ke arah pintu kelas yang sudah didobrak secara paksa. Disana, di hadapan semua manusia yang memandangnya, berdirilah seorang pemuda berambut merah dengan mata beriris jade yang menatap tajam sekitarnya. Penampilannya yang berantakan membuat seluruh siswa dan siswi yang berada di kelas tersebut-minus Sasuke- merasa takut untuk sekedar menatap matanya langsung. Pemuda dengan tato 'Ai' di jidatnya itu mulai memasuki kelas dengan aura yang begitu pekat. Langkahnya yang pelan kemudian berhenti di satu titik. Berdiri dengan angkuhnya tepat di hadapan Sasuke yang memandangnya sinis.
Dua pemuda rupawan itu saling berdiri tegak.
Seakan menantang lawan di depan.
Sasuke bisa melihat dengan jelas kilat kebencian di mata beriris jade itu.
"Jangan pernah..." Pemuda berambut semerah darah itu mendesis padanya. "Menyentuh milikku!"
Sasuke tak bisa mengendalikan emosinya saat ini. Pemuda ini, secara terang-terangan, sudah mengklaim apa yang menjadi miliknya seorang. Milik Uchiha Sasuke!
"Kau!" Sasuke sudah meraih kerah baju pemuda itu dalam genggamannya. "Tak berhak atas dirinya! Dia milikku!"
GREB
"Berpikirlah sebelum kau berbicara, Uchiha!" Pemuda itu kini sudah mencengkram leher Sasuke erat. Membuat nafas Sasuke sedikit tercekat. Kedua pemuda itu saling beradu dalam sebuah pandangan yang mematikan. Saling menusuk lewat tatapan tajam masing-masing.
Sasuke semakin merasa sesak karena cengkraman tangan di lehernya semakin menguat. Sepertinya, pemuda itu benar-benar ingin membunuhnya.
"HENTIKAN!"
Naruto kini bangkit dari tempat duduknya dengan genangan air mata dipelupuk safirnya yang berkabut. "Hentikan kalian berdua!"
Sontak kedua pemuda itu langsung melepaskan diri masing-masing.
Sasuke mulai gusar dengan segala sandiwara ini.
"Naruto, apa yang terjadi? Jelaskan padanya kalau kau itu hanya milikku seorang!" Suara baritone Sasuke terdengar begitu keras di seluruh penjuru kelas. Sementara Naruto hanya bisa menguatkan kepalan tangannya. Berusaha menahan segala bentuk perasaannya. Mengabaikan jeritan hatinya yang berteriak pilu.
Mengabaikan seluruh rasa yang tersimpan rapi didasar hatinya.
"Maafkan aku...Sasuke," Naruto menundukkan kepalanya semakin kebawah. "Aku sudah bukan milikmu lagi."
...
Kau percaya Sasuke?
"TIDAK!" Ia berusaha menahan perasaan yang sudah ingin membunuhnya. "Selamanya kau tetap milikku!"
"Maaf..."
...
Kau dengar Sasuke?
"Aku tak mendengarnya!"
Ia terus menyangkal kenyataan yang ada. Tapi hati tak akan pernah bisa berdusta. Sandiwara macam apa ini? Sasuke tak akan semudah itu percaya pada scenario yang ada. Selama Naruto mengatakan hal itu dengan perasaan yang terluka, ia masih punya harapan untuk bersama dengan malaikat pirangnya.
"Kau sudah mendengarnya, kan?" Pemuda beriris jade itu tersenyum penuh kemenangan. "Biar kuperjelas."
Sasuke berusaha menutup telinganya rapat-rapat.
"Perkenalkan, namaku Sabaku no Gaara. Kekasih dari Uzumaki Naruto."
...
Kau menerimanya Sasuke?
"BULSHIIITTT...!" Sasuke semakin tenggelam dalam dunianya yang semakin terasa menghimpit dadanya.
Pemuda bernama Sabaku no Gaara itu semakin menyeringai pertanda puas.
"Sadarlah Uchiha! Kau terlalu banyak berharap! Naruto bukan milikmu lagi, tapi...dia sekarang MILIKKU! Camkan itu baik-baik!" ancam Gaara sambil mendorong tubuh Sasuke hingga pemuda bermata Onyx itu sedikit terhuyung ke belakang.
Setelah mendeathglare seisi kelas, Gaara kemudian meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di depan kelas menuju ke tempat duduknya yang berada disamping Naruto. Sementara pemuda pirang itu kini tengah berusaha untuk menyambut kehadiran Gaara dengan senyum yang sangat dipaksakan sekali.
"Ohayou, Gaara." Naruto berusaha mati-matian untuk tidak meneteskan cairan beningnya saat kedua safirnya bertemu pandang dengan sepasang jade milik pemuda bermarga Sabaku itu.
Gaara hanya melirik Naruto sekilas. "Hn."
Sementara Sasuke hanya diam membisu melihat mereka.
"Oke anak-anak," Kakashi akhirnya berhasil mencairkan suasana yang tegang itu setelah keberadaannya yang sedikit terlupakan tadi. "Kita lanjutkan saja pelajaran hari ini. Nah, Sasuke sekarang kau bisa duduk di pojok belakang sebelah kiri, tepatnya disamping Lee."
Tak ada penolakan kali ini.
Sasuke kemudian berjalan gontai menuju ke tempat duduknya yang berada sangat jauh dari tempat duduk pemuda pirang kesayangannya. Naruto yang melihatnya hanya bisa tersenyum pahit dalam hatinya.
'Maafkan aku, Sasuke'
Setelah semuanya beres, Kakashi mulai mengoceh lagi sambil menuliskan rumus di papan tulis. Selang beberapa menit kemudian, keadaan kembali sedikit menegang saat Sasuke untuk yang kedua kalinya menginterupsi kegiatan senseinya itu.
"Maaf, sensei. Saya izin ke UKS."
Kakashi nampak menimang-nimang. "Uhm, ya baiklah."
Setelah mendapatkan izin dari Kakashi, Sasuke kemudian segera melangkahkan kakinya keluar kelas. Diiringi dengan tatapan heran dari teman-teman sekelasnya. Dan juga tatapan bersalah dari Naruto.
'Kau kenapa, Sasuke?'
Atap sekolah.
Itulah tujuan sebenarnya dari Sasuke. Ia tak mungkin mengikuti pelajaran dengan pikiran yang terpecah belah. Setidaknya, biarkan ia mempunyai sedikit waktu untuk menenangkan isi kepalanya yang seakan-akan ingin meledak keluar.
BRAKK
Sasuke menendang pintu besi itu dengan sangat keras, tanpa menghiraukan akibat dari perbuatannya. Sesampainya diatap sekolah, angin semilir sudah menyambut kedatangannya.
...
"Dobe."
Sasuke mengeja nama itu dengan nada yang sangat lirih. Nama yang akan selalu menjadi nafas hidupnya sampai kapanpun.
"Naruto..."
Kali ini, ia menyebut nama pemuda itu sambil memejamkan matanya. Membuat kelopak itu meneteskan kristalnya. Sesuatu yang sangat pantang dilakukan oleh Sasuke.
Menangis.
Ya. Dan Sasuke sendiri tak mau membohongi perasaannya yang terasa begitu perih dan sakit.
"Kau akan selalu menjadi kekasihku, Naruto," Ia mencengkram dadanya dengan sangat erat. Tepat dibagian dimana jantungnya berdetak. "Selamanya..."
Angin semilir kembali bertiup, seakan membelai Sasuke dalam perihnya yang tak berkesudahan. Ia kemudian mendongak, menatap langit yang berwarna biru cerah. Seperti warna kesukaannya, biru. Warna iris dari pemuda yang sangat ia cintai.
"Naruto..." Tubuh Sasuke perlahan merosot di dinding tempat ia bersandar. "Aishiteru."
...
"Aishiteru mo, Sasuke"
Sepasang lengan telah memeluk tubuh Sasuke dengan erat. Pemuda Uchiha itu mendongakkan kepalanya dan ia melihat wajah manis Naruto disana. Tersenyum hanya untuknya.
"Kenapa kau bisa berada disini, dobe?" Tanya Sasuke keheranan.
Naruto tersenyum tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Aku tahu alasanmu tadi hanyalah sebuah kebohongan. Aku hanya tak suka melihat raut wajahmu yang seperti itu. Meninggalkan kelas sebentar saja tidak akan membuatku dikeluarkan dari sekolah ini."
"..."
"Aku hanya tak ingin kau pergi jauh lagi dariku."
Dan kedua pasang mata itu saling menatap satu sama lain. Sasuke berusaha mempersempit jarak diantara mereka. Perlahan...dan...
"Tidak, teme." Naruto perlahan menjauh dari tubuh Sasuke yang berusaha mengimpitnya. "Aku tak bisa."
Kepalan tangan Sasuke mulai mengeras, seiring dengan nafasnya yang semakin memburu cepat. "Kenapa?"
"..."
"KENAPA, DOBE!"
"..."
"APA PEMUDA SABAKU ITU TELAH MEMBUATMU BERPALING DARIKU, HAH!"
Naruto berusaha menahan seluruh tangisnya. Berusaha tidak terlihat lemah, walaupun hatinya sendiri sudah sangat sakit.
"Ini masalah yang rumit!" Naruto menundukkan kepalanya ke bawah. "Kau tidak akan mengerti, teme..."
"Apa yang tidak bisa kumengerti, hah? Kau kira dirimu hebat dengan bersandiwara seperti itu? Kedatanganku sepertinya tak diharapkan lagi disini!"
Sasuke sudah ingin menjauh dari hadapan Naruto saat itu juga. Tapi...
"Jadi, percuma aku menantimu selama bertahun-tahun! Semudah inikah kau melepaskanku, teme? Padahal aku sangat mengharapkanmu!"
Langkah Sasuke berhenti ditempat saat itu juga.
"Tolong..." Air mata itu akhirnya turun juga dari kelopak matanya. "Tolong aku, Sasuke...Aku benar-benar sangat menderita."
Hening.
Teriknya sinar mentari, tak menggoyahkan keyakinan mereka.
"Maafkan aku, dobe."
Sasuke pun memeluk dobenya dengan sangat erat. Ia merasakan seperti sebuah de-javu yang sama saat mereka berpelukan seperti ini untuk yang terakhir kalinya.
...
BRAKK
"Kembalikan apa yang menjadi milikku, Uchiha!"
Mata biru Naruto melebar dengan sempurna. Dan Sasuke sudah tak bisa lagi berkrompomi soal emosinya.
"Dia bukan milikmu!"
...
...
Tbc...
A/N: Ini dia kelanjutan ficnya. Semoga tidak mengecewakan para readers.
Ini baru pengenalan saja, cerita lebih lengkapnya ada di chap selanjutnya.
Thanks for:
BlueBlackButterfly
Dae Uchiha
CCloveRuki
Superol
ttixz lone cone bebe
Arigatou...^_^
.
Review please...
