Akhirnya chapter 2 update!
Saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua yang sudah membaca dan meriview fic-ku ini.

Happy reading!
Suka nggak suka, tetep boleh baca!

Disclaimer: Eiichiro Oda

Ringkasan cerita sebelumnya:
Dua orang bertopeng dan berjubah hitam merebut kalung yang dimiliki oleh Zoro ketika ia masih kecil. Mereka juga menghancurkan desa Zoro dengan meledakkan desa tersebut, tapi Zoro berhasil selamat. Tujuh belas tahun kemudian, Zoro menjadi seorang pedekar pedang dan bertemu dengan Luffy, yang ternyata mempunyai tujuan yang sama dengannya. Mereka sempat bertemu dan bertarung dengan dua orang yang merebut kalung milik zoro, tapi mereka kalah. Setelah itu, mereka memutuskan untuk bersama-sama memburu orang-orang berjubah hitam itu dan memulai perjalanan mereka.

The Dark Organization

Chapter 2: About The Organization

"Thunderbolt tempo!"

Sebuah petir menyambar seorang pria dengan wujud seperti badut, seorang gadis berambut oranye sedang berdiri di hadapannya dengan memegang sebuah tongkat panjang.

"Apa-apaan kau ini? Kenapa tiba-tiba menyerangku?" pria itu terlihat sangat marah.

Gadis itu segera mengeluarkan serangannya lagi, tapi tiba-tiba sebuah tangan meraih dan merebut clima-tactnya, dan sebuah tangan lain melemparinya dengan pisau, untunglah dia sempat menghindar.

"Tanpa tongkatmu ini, kau tidak bisa apa-apa lagi!"

Gadis itu terkejut melihat pria itu, pria yang tubuhnya dapat terpisah-pisah sesuai keinginannya.

"Siapa... siapa kau sebenarnya?"

"Namaku Buggy, aku bukan siapa-siapa, aku bukan orang yang terkenal, tapi kalau ada yang macam-macam denganku, aku tidak akan segan-segan!"

Buggy kemudian melemparkan pisaunya lagi, tapi meleset dan menancap di pohon yang berada di belakang gadis itu.

"Karena kau seorang wanita, aku mema'afkanmu, tapi aku akan membawa tongkat ini."

Buggy kemudian pergi meminggalkan gadis itu sendirian di sana. Gadis itu tampaknya masih shock dengan apa yang ia lihat.

"Dia bukan manusia, siapa dia sebenarnya?"

Sementara itu di tempat lain...

"Wah, kota ini ramai sekali ya!"

Luffy dan Zoro tiba di sebuah kota yang cukup ramai.

"Wah, ada restaurant!" seru Luffy.

"Hei Luffy, sekarang kita harus ke arah mana?" Zoro bertanya tanpa menoleh kepada Luffy, tapi tak ada jawaban.

"Luffy, kau mendengarku tidak?"

Masih tak ada jawaban. Zoro kemudian menoleh dan mendapati Luffy sudah tidak ada, dia menghilang entah ke mana.

"Sial, ke mana dia pergi?"

Scene beralih ke sebuah pasar, seorang gadis berambut oranye sedang berjalan-jalan di tempat itu, wajahnya tampak murung, ia baru saja mengalami nasib yang sial, tiba-tiba ia melirik kepada salah seorang penjual, dan melihat benda yang sudan tidak asing lagi baginya, sebuah clima-tact miliknya.

"Hei, itu clima-tactku!" serunya sambil berlari menghampiri penjual itu dan mengambil clima-tactnya.

"Kau mau membelinya, nona?" tanya penjual itu.

"Membeli? Ini milikku!"

"Milikmu? Bagaimana bisa kau mengatakan kalau itu milikmu, aku tadi membelinya dari seorang badut, kalau nona ingin memilikinya, nona harus membelinya seharga 100.000 berry!"

"Apa? 100.000 berry? Tidak bisa, itu terlalu mahal!"

"Kalau tidak mau ya sudah!"

"Heh, sial! Ya sudahlah, aku beli!"

Gadis itu terpaksa memberikan uangnya sebesar 100.000 berry demi mendapatkan kembali clima-tactnya, dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

"Aku tidak akan mema'afkan badut itu!" gumamnya. Tiba-tiba dia menyadari dua orang sedang mengikutinya, dua orang berjubah hitam dan memakai topeng.

"Orang-orang organisasi itu!"

Dia berpura-pura tidak menyadari mereka dan terus melanjutkan langkahnya, dan ketika mereka tiba di tempat yang sepi...

"Thunderbolt tempo!" gadis itu menyerang dua orang tersebut, tapi mereka dapat menghindar dengan mudah.

"Aku tahu tentang kalian, organisasi kalian, dan apa yang kalian cari!"

"Jadi kau tahu? Baguslah kalau kau tahu, kau memiliki mutiara itu kan? Cepat serahkan pada kami!"

Seseorang dari mereka mendekati gadis itu, gadis itu bersiap menyerang lagi.

"Aku tidak akan menyerahkannya pada kalian!"

"Kalau begitu akan kami rebut!"

Tanpa mereka sadari, seorang pria sedang mengawasi mereka dari balik pohon.

"Coba saja kalau kalian bisa!"

Gadis itu sudah bersiap-siap mengeluarkan serangannya, tiba-tiba sebuah tebasan pedang mengarah ke pria berjubah itu, dia berhasil menghindar, tapi itu membuat radar yang dipegangnya terjatuh. Pria yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon, seorang pria berambut hijau dengan dua pedang di tangannya dan satu pedang lagi di mulutnya, Zoro.

"Ini kesempatan bagus, Thunderbolt Tempo!"

Gadis itu mengeluarkan petirnya dan menghancurkan radar tersebut, ia lalu membuat kabut dengan clima-tactnya yang bisa memanipulasi cuaca itu, dan kemudian ia menyeret Zoro pergi meninggalkan dua orang berjubah hitam itu, ketika kabut menghilang, Zoro dan gadis itu sudah menghilang entah ke mana.

"Sial! Dia menghancurkan radar kita, bagaimana kita melacaknya?"

"Tenang saja, mereka pasti belum jauh, ayo kita telusuri kota ini!"

Sementara itu...

"Hei, lepaskan tanganku! Kenapa kau tiba-tiba menyeretku, hah?"

Gadis itu berhenti dan melepaskan tangan Zoro.

"Aku menolongmu, tahu! Kita bukan tandingan mereka, kalau kau tetap di sana kau bisa mati!"

"Memangnya siapa yang butuh ditolong? Aku sudah susah payah mencari mereka, dan saat aku menemukannya, kau malah seenaknya menyeretku pergi dari mereka!"

"Dasar tidak tahu terima kasih!" gadis itu menjitak kepala Zoro.

"Hei, jangan menjitakku!" Zoro mengelus-elus kepalanya yang benjol.

"Hei Zoro!" tiba-tiba Luffy datang menghampiri mereka.

"Ke mana saja kau? Aku mencarimu ke mana-mana." kata Luffy.

"Dasar bodoh! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, kau yang ke mana? Tiba-tiba menghilang begitu saja!" Zoro marah-marah pada Luffy.

"Ma'af, aku tadi ke restaurant, aku kan lapar, tidak apa-apa kan? Eh, ngomong-ngomong siapa dia?" tanya Luffy sambil menunjuk gadis berambut oranye itu.

"Aku bukan siapa-siapa, aku tidak ada urusan dengan kalian." gadis itu hendak pergi tapi ditahan oleh Zoro.

"Tunggu dulu!"

"Ada apa lagi?"

"Aku tadi mendengar percakapanmu dengan mereka, tolong beritahu padaku semua yang kau ketahui tentang orang-orang berjubah hitam itu!"

"Eh, mereka? Orang-orang berjubah hitam itu ya? Apa kau tadi bertemu dengan mereka Zoro?"

Zoro tidak menghiraukan pertanyaan Luffy, dia menunggu jawaban dari gadis itu.

"Mereka sepertinya bukan orang jahat, dan sepertinya dapat diandalkan, tidak ada salahnya jika memberitahu tentang organisasi itu pada mereka." pikir gadis itu dalam hati.

"Baiklah, aku akan memberitahu kepada kalian semua yang kuketahui mengenai orang-orang berjubah hitam itu, ikuti aku!" gadis itu melangjah pergi diikuti oleh Luffy dan Zoro.

"Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Luffy.

"Namaku Nami."

"Oh Nami, aku Luffy dan dia Zoro, salam kenal!"

Mereka tiba di sebuah rumah kecil yang sederhana, namu di sekelilingnya terdapat pohon-pohon yang rindang, sepertinya rumah itu sangat sejuk.

"Apa ini rumahmu?" tanya Luffy.

"Ya benar, ini rumahku." Nami kemudian membuka pintu dan mempersilahkan Luffy dan Zoro untuk masuk.

"Duduklah!" Nami mempersilahkan mereka untuk duduk, ia kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari dalam sakunya yang berisi mutiara-mutiara kecil berwarna putih dan memperlihatkannya pada mereka.

"Apa ini?" tanya Luffy dan Zoro.

"Ini adalah benda yang mereka cari."

"Eh? Tapi kalungku yang mereka rebut tidak berbentuk seperti ini!" kata Zoro sambil mengambil salah satu dari mutiara-mutiara itu dan memperhatikannya.

"Ya, yang mereka rebut dariku juga bukan benda seperti ini, tapi sebuah arloji tua peninggalan kakekku." Luffy menambahkan.

"Itu bisa dijelaskan, kalau mereka memang merebut kalung dan arloji kalian, berarti di dalam kalung dan arloji kalian terdapat mutiara seperti ini, itu artinya, mutiara-mutiara ini memang disembunyikan di dalam suatu benda, jadi lebih sulit untuk ditemukan."

"jadi begitu ya, lalu bagaimana kau bisa memiliki mutiara sebanyak ini?"

"Aku sudah berkelana ke berbagai tempat untuk mencari mutiara-mutiara ini dengan menggunakan radar ini, tapi entah mengapa aku rindu kampung halaman, aku baru kembali ke kota ini tiga hari yang lalu." Nami berbicara sambi menunjukkan radar yang dimilikinya.

"Eh, radar itu, aku juga memilikinya!" Luffy menunjukkan radar miliknya.

"Dari mana kau memdapatkannya?" tanya Nami.

"Aku merebutnya dari mereka, memangnya kenapa? Kau sendiri, dari mana kau mendapatkan radar itu?"

"Radarku ini berbeda, temanku yang menciptakannya."

"Eh, memangnya apa bedanya?"

"Milikmu dan juga milik mereka cuma bisa melacak satu mutiara yang terdekat, tapi milikku bisa melacak semua mutiara yang ada."

"Wah, hebat! Lalu, di mana temanmu itu sekarang?"

"Dia sudah meninggal dibunuh oleh orang-orang itu!"

"Begitu ya, mereka memang orang-orang jahat!"

"Tapi, bukankah berbahaya memgumpulkan mutiara sebanyak ini? Kalau mereka berhasil melacakmu, mereka bisa mendapatkan banyak mutiara dalam sekali rebut, itu malah akan memudahkan mereka, dan itu sama artinya kau membantu mereka." Zoro yang sedari tadi diam tiba-tiba angkat bicara.

"Tadi aku sudah bilang kan, kalau radar mereka cuma bisa melacak satu mutiara yang terdekat, jadi kalau mereka melacakku, mereka akan mengira kalau aku cuma mempunyai satu mutiara."

"Begitu ya, tadi kau bilang radar milikmu itu bisa melacak semua mutiara yang ada ya?"

"Ya benar, memangnya kenapa?"

"Itu artinya kita bisa melacak mutiara yang dimiliki oleh orang-orang itu dan memgetahui markas mereka, itu benar kan?"

"Awalnya aku juga berpikir seperti itu, tapi entah mengapa semua mutiara yang sudah mereka miliki tidak bisa dilacak oleh radar."

"Kenapa bisa begitu?"

"Aku juga tidak tahu, semua mutiara ada 99, dan yang terlacak oleh radar ini cuma 29, berarti mereka sudah memiliki 70 mutiara, dan yang ada padaku ini ada 20 mutiara, berarti masih ada 9 mutiara lagi yang ada di tempat lain."

"Memangnya apa kegunaan mutiara-mutiara ini? Kenapa mereka menginginkannya? Apa tujuan mereka?" Zoro memborong tiga pertanyaan sekaligus.

"Entahlah, aku tidak tahu mengenai hal itu, tapi yang jelas, mereka pasti punya tujuan yang tidak baik!"

"Lalu sebenarnya siapa orang-orang itu?"

"Mereka adalah anggota sebuah organisasi yang bernama 'The Dark Organization', mereka terdiri dari sepuluh orang, cuma itu yang aku tahu."

"Sepuluh orang? Aku sudah membunuhnya satu, berarti sekarang tinggal sembilan orang dong!"

"Kau sudah membunuhnya satu?"

"Ya benar, tapi dia sangat hebat, aku sempat kuwalahan menghadapinya, tubuhnya bisa berubah menjadi pasir, lalu yang satunya lagi seorang wanita, tapi dia berhasil kabur."

"Begitu ya, sepertinya kalian orang-orang yang bisa diandalkan."

"Ya begitulah!" Luffy berkata sambil nyengir lebar.

"Baiklah, hari sudah malam, malam ini kalian boleh tidur di sini, tapi di ruang tamu saja, ingat jangan macam-macam, jangan sekali-kali kalian masuk ke kamarku, ingat itu!" ancam Nami.

"Ya baiklah, tapi ngomong-ngomong, mana keluargamu?" tanya Zoro.

"Aku tidak punya keluarga, aku sendirian, memangnya kenapa?"

"Wah, kalau begitu kebetulan!"

Nami dan Zoro sontak kaget mendengar perkataan Luffy barusan.

"Apanya yang kebetulan, Luffy?" tanya Zoro.

"Ya kebetulan dia tidak punya keluarga, jadi dia bisa ikut bergabung dengan kita untuk memberantas orang-orang itu, kau mau kan, Nami?"

Nami tampak berpikir sejenak, lalu berkata, "Ya baiklah, aku mau, kita bisa memulai perjalanan kita besok, tapi sekarang aku mau tidur dulu, aku sudah ngantuk." katanya sambil masuk ke dalam kamar.

Malam itu Zoro tidak bisa tidur, Zoro yang biasanya tukang tidur entah mengapa tidak bisa tidur malam itu, dia berpikir bahwa dua orang berjubah hitam itu masih ada di kota itu dan bisa menyerang mereka kapan saja. Dia berjaga di depan rumah Nami semalaman, hingga pagipun tiba...

"Baiklah, hari ini kita akan melanjutkan perjalanan kita!" kata Luffy sambil keluar dari rumah Nami dengan semangat seperti biasanya.

"Sebaiknya kita berangkat sekarang." kata Nami yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah.

"Tunggu dulu, Nami!" kata Luffy.

"Ada apa?"

"Kita kan belum sarapan, aku kan lapar!"

"Baiklah, kita pergi ke restaurant dulu, tapi ingat, bayar sendiri-sendiri ya!"

"Ya!" kata Luffy semangat, dan mereka bertigapun pergi ke restaurant terdekat.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Zoro mencabut pedangnya dan menyerang Luffy, tapi Luffy berhasil menghindar.

"Ada apa Zoro? Kenapa kau menyerangku?"

"Aku juga tidak tahu, tubuhku bergerak sendiri, aku tidak bisa mengendalikannya!"

Zoro terus menyerang Luffy secara bertubi-tubi, dan Luffy selalu menghindar.

"Ada apa ini? Ada yang aneh!" pikir Nami.

Tak jauh dari tempat mereka bertiga, Nami melihat dua orang anggota organisasi itu, salah satu dari mereka sedang menggerak-gerakkan jari-jari tangannya seperti sedang mengendalikan boneka tali.

"Apa dia yang melakukannya?" pikir Nami, lalu ia mengeluarkan clima-tactnya.

"Thunderbolt Tempo!" Nami menyerang pria itu tapi berhasil dihindari. Dan tiba-tiba saja Zoro berhenti menyerang Luffy.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Luffy dan Zoro bingung.

"Mereka yang melakukannya!" kata Nami sambil menunjuk dua orang anggota organisasi itu.

Luffy dan Zoro yang sudah mengetahui keberadaan mereka langsung menyerang, salah seorang dari mereka maju dan mementalkan Luffy serta Zoro.

"Kalian bukan tandingan kami, lebih baik serahkan mutiara-mutiara itu!"

"Tidak akan pernah!" Nami bersiap menyerang, tapi tiba-tiba tubuhnya bergerak sendiri, seakan-akan ada yang mengendalikannya, dia maju mendekati mereka berdua, lalu mengambil kotak yang berisi mutiara-mutiara itu dari dalam sakunya dan menyerahkannya pada mereka.

"Bagaimana kau tahu kalau aku menyimpan mutiara-mutiara ini di dalam sakuku?"

"Kami mendengar percakapan kalian tadi malam, lalu kami memutuskan untuk menghadang kalian di sini, rupanya kalian sudah tahu banyak tentang kami." kata pria itu.

Nami yang tubuhnya sudah tidak dikendalikan lagi mundur menjauhi mereka berdua, sementara Luffy dan Zoro yang sudah bangkit lagi memghampiri Nami.

"Kita serang mereka sama-sama!" kata Luffy.

"Menyerang sama-samapun tak akan ada gunanya, kalian bukan tandingan kami, apa kalian tidak tahu siapa kami? Kalau begitu kami akan memperkenalkan diri."

Pria itu membuka topengnya, "Namaku adalah Donquixote Doflamingo, aku bisa mengendalikan siapa saja dengan tanganku seperti mengendalikan boneka."

Pria yang satu lagi juga membuka topengnya, "Dan namaku adalah Bartholomew Kuma." katanya memperkenalkan diri.

"Ayo kita serang mereka!" Luffy memberi aba-aba dan mereka bertiga langsung menyerang, tapi Kuma dengan sigap langsung mementalkan mereka bertiga dengan kekuatan yang dahsyat hingga mereka terpental jauh dan tidak terlihat lagi.

"Kenapa kita tidak bunuh saja mereka?"

"Itu tidak perlu, mereka cuma anak-anak biasa, tidak perlu dikhawatirkan."

"Tapi pemuda bertopi jerami itu telah mengalahkan crocodile, salah satu rekan kita sesama organisasi."

"Crocodile memang lemah, jadi wajar kalau dia dikalahkan."

"Terserah kau saja!"

Mereka lalu memakai kembali topeng mereka dan meninggalkan tempat itu. Sementara Luffy, Zoro dan Nami yang terkena serangan Kuma masih melayang di udara hingga akhirnya mereka terjatuh ke laut.

To be continued.

A/N: Terima kasih buat sweet miracle 'michu, MelzZz, Andara, Fidya Chan, eleamaya,ReadR dan Portgas D Ichimaru yang udah mau mereview fic ku ini, terima kasih atas semua sarannya. Lalu apakah di chapter 2 ini plotnya masih kecepetan dan deskripsinya kurang? Kalau masih mohon maaf yang sebesar-besarnya, namanya juga baru belajar. Untuk itu tolong review ya...