Disclaimer: One Piece bukan punya saya
Ringkasan cerita sebelumnya : Luffy Dan Zoro bertemu dengan Nami dan mengetahui sedikit tentang orang-orang berjubah hitam itu. Kemudian Nami bergabung dengan mereka dan mereka bertemu dengan dua orang berjubah hitam. Kemudian mereka bertarung tetapi mereka kalah, mereka dilontarkan hingga akhirnya jatuh ke laut.
The Dark Organization
Chapter 3 : The Golden Island
Seorang wanita memakai jubah hitam berlari menyusuri jalanan kota yang sepi malam itu. Dia terus berlari sekencang-kencangnya mencoba meloloskan diri dari sesuatu yang mengejarnya. Dia mencoba menengokkan kepalanya ke belakang. Tidak ada. Tidak ada apapun di belakangnya. Sosok yang mengejarnya sudah tidak terlihat. Wanita itu merasa sedikit lega. Tapi dia masih terus memacu larinya tanpa sedikitpun mengurangi kecepatannya, sampai tiba-tiba langkahnya terhenti. Seorang pria berjubah hitam berdiri dihadapannya. Pria itu menyeringai.
"Kau tidak bisa ke mana-mana lagi, Nico Robin."
Wanita itu, Nico Robin, masih terlihat tenang dan biasa-biasa saja, walaupun masih ada sedikit rasa takut di hatinya.
"Kau telah menghianati organisasi, kau tidak bisa dibiarkan hidup." kata pria itu lagi.
"Aku tahu siapa kau, Aokiji." kata Robin dengan tenang, "Aku tahu tujuanmu yang sebenarnya masuk ke dalam organisasi, apa kau mulai menyukai organisasi ini dan melupakan tugasmu?" lanjut Robin dengan seringai di wajahnya.
Pria itu, Aokiji, tidak berkata apa-apa, dia terdiam, tampak merenung dan memikirkan sesuatu. Keheningan menyelimuti mereka berdua. Cukup lama hingga akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh suara Robin.
"Apa kau tetap akan menangkapku dan menyerahkanku pada organisasi?"
Aokiji masih terdiam, tampak berpikir. Lalu ia berkata, "Pergilah!"
Tanpa basa-basi, Robin langsung berlari melewati Aokiji. Sebentar saja sosoknya sudah menghilang dalam kegelapan. Tak lama kemudian muncul seorang pria yang juga memakai jubah hitam berlari menghampiri Aokiji.
"Di mana dia? Apa kau bertemu dengannya?" tanya pria itu.
"Tidak, dia tidak lewat sini."
"Tidak mungkin! Seharusnya dia lewat sini, apa kau sengaja membiarkannya pergi?"
Tenangkan dirimu Teach, kita bisa menangkapnya lain kali. Sekarang lebih baik kita melanjutkan tugas kita yang biasanya." kata Aokiji sambil memakai topengnya.
"Heh, sialan!" umpat pria itu. Ia lalu memakai topengnya.
-xxx-
Siang yang cerah, di atas laut yang terbentang luas, sebuah kapal tipe caravel berlayar dengan tenang. Kapal tersebut memiliki haluan yang berbentuk seperti kepala domba. Di atas kapal tersebut, seorang gadis berambut oranye sedang memandangi lautan dengan wajah yang kusut, ia tampak frustasi. Ia lalu membenamkan wajahnya ke dalam tangannya.
"Kau tidak apa-apa Nami?"
Suara seseorang tiba-tiba mengagetkannya, ia lalu menoleh ke belakang dan menemukan Luffy sedang berjalan menghampirinya dengan seorang pria lagi, Zoro.
"Kita tidak bisa begini terus, kita tidak bisa menghentikan mereka, kemampuan mereka jauh melebihi kita." kata Nami frustasi.
Luffy melangkah kedepan, ia berdiri sejajar dengan Nami sambil menghadap ke lautan.
"Mereka memang lebih kuat dari kita, tapi kita tidak boleh menyerah!" kata Luffy dengan wajah serius.
"Ya, lagipula aku tidak bisa memaafkan mereka." sambung Zoro.
Nami tersenyum mendengar perkataan kedua temannya itu. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"Mutiara selanjutnya masih berada cukup jauh dari sini." kata Nami sambil melihat radar yang baru saja diambilnya dari sakunya itu. "Kalian istirahatlah, akan kuberitahu kalau kita sudah dekat." lanjutnya.
"Hei, kalian sedang apa?" sebuah suara lain tiba-tiba memotong pembicaraan mereka. Mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara, dan didapatinya seorang pria berambut keriting dan berhidung panjang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
"Oh, hai Usopp!" sapa Luffy
"Kalian tidak lapar? Aku sudah menyiapkan makanan." kata Usopp lagi.
Mendengar kata makanan, Luffy langsung merespon.
"Makanan? Ya, aku sangat lapar!" kata Luffy, ia langsung melesat ke dalam.
"Kalian tidak mau ikut?" tanya Usopp pada Zoro dan Nami.
"Tidak, terima kasih. Kami tidak lapar." kata mereka berdua.
"Ya sudah kalau begitu." Usopp lalu masuk ke dalam.
Di dalam, Luffy sedang menyantap semua makanan yang ada di atas meja dengan ganas. Usopp memandanginya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak, entah itu heran, bingung, atau takjub.
"Ah, kenyang...!" kata Luffy setelah menghabiskan semua makanan sambil menepuk-nepuk perutnya yang membesar. Usopp mendekati Luffy dengan sedikit ragu, lalu mencubit perut yang besar itu dan menariknya.
"Kau ini sebenarnya apa? Kenapa tubuhmu lentur sekali?" tanya Usopp pada Luffy.
"Aku ini manusia karet."
"Manusia karet? Bagaimana bisa?" tanya Usopp bingung.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku jadi seperti ini sudah sejak lahir. Tapi aku beruntung tubuhku seperti karet. Jadi ketika aku bertarung, jangkauan pukulanku jadi lebih jauh."
"Oh begitu. Tapi kenapa kalian jatuh dari langit? Memangnya apa yang terjadi?"
"Itu ceritanya panjang, nanti saja kuceritakan, oh ya, terimakasih telah menolong kami." kata Luffy.
"Sama-sama, itu tidak masalah, kebetulan aku melintas di sini, lalu tiba-tiba aku melihat kalian bertiga jatuh dari langit." kata Usopp menjelaskan.
"Hei Luffy, Zoro, kemari!" tiba-tiba sebuah suara berteriak dari luar.
"Itu suara Nami!" seru Luffy. Ia lalu keluar menghampiri Nami. Sementara Usopp sedang membereskan piring-piring sisa makanan.
"Ada apa Nami?" tanya Luffy setelah sampai diluar.
"Kita sudah dekat, mutiaranya ada di pulau itu." kata Nami sambil menunjuk pulau di kejauhan.
"Benarkah? Kalau begitu, ayo kita ke sana!" kata Luffy.
"Hei, ada masalah apa?" tanya Usopp yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.
"Usopp, apa kau bisa mengantarkan kami ke pulau itu?" pinta Nami sambil menunjuk pulau tersebut.
"Tidak masalah, jadi itu pulau tempat tinggal kalian ya?" tanya Usopp.
"Ya." jawab Nami asal saja.
"Baiklah." kata Usopp lagi.
Sementara itu di tempat lain,
Di depan sebuah rumah mewah, dua orang berjubah hitam dan bertopeng sedang berdiri di sana. Mereka sepertinya ingin masuk, tapi gerbangnya terkunci. Lalu salah satu dari mereka menyentuh gerbang itu, dan tiba-tiba gerbang itu berubah menjadi es dan dengan mudah dihancurkannya.
"Hei, apa yang kalian lakukan!" teriak orang-orang yang melihatnya.
"Kau saja yang masuk, akan kutunggu kau di sini." kata pria berjubah hitam yang satunya.
Tanpa berkata apa-apa, pria berjubah hitam yang tadi menghancurkan gerbang langsung masuk ke rumah itu. Orang-orang yang melihatnya hanya diam saja, mereka tidak berani berbuat apa-apa.
"Mereka bukan orang-orang biasa, mereka punya kekuatan iblis." pikir salah satu dari orang-orang itu. Kemudian terdengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah tersebut. Dan tak lama kemudian, pria berjubah hitam yang tadi masuk pun keluar.
"Aku sudah mendapatkannya." katanya sambil menunjukkan mutiara kecil berwarna putih yang dipegangnya. "Ayo kita pergi!" lanjutnya.
"Tunggu dulu, jangan terburu-buru. Aku ingin sedikit bersenang-senang dulu di sini." kata pria yang satunya. Dan tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan sesuatu seperti gas yang berwarna hitam. Orang-orang yang melihatnya jadi ketakutan.
"Apa itu?" kata mereka.
"Aku akan menunjukkan pada kalian, kekuatan kegelapan." kata pria itu.
Kembali ke kapal Usopp, mereka telah sampai di pulau itu. Luffy melompat turun dari kapal kemudian disusul oleh Nami yang turun lewat tangga.
"Terimakasih atas semuanya, Usopp." ucap Luffy.
"Ya, sama-sama. Senang bisa membantu. Sekarang aku mau melanjutkan perjalananku untuk pulang, sampai jumpa lagi!"
"Ya, sampai ketemu lagi, Usopp."
Setelah itu, Usopp pun kembali berlayar.
"Ayo, kita mulai pencarian!" kata Luffy dengan semangat seperti biasanya.
-xxx-
Setelah berjalan cukup lama mereka masih belum menemukan apa-apa, bahkan mereka tidak menemukan seorang manusiapun yang ada di pulau tersebut. Yang bisa mereka lihat hanyalah pohon-pohon raksasa yang tumbuh di sekitar mereka. Pohon-pohon itu seperti tumbuh dengan tidak normal karena ukurannya yang terlalu besar. Mereka terus berjalan mengikuti petunjuk yang ada pada radar. Mereka mengira pulau tersebut tidak berpenghuni, tapi tanpa mereka sadari, mereka sedang diawasi. Tidak hanya satu orang, tapi oleh beberapa orang. Orang-orang itu bersembunyi di balik pohon. Tiba-tiba saja mereka keluar dari tempat persembunyiannya dan menyerang Luffy dan Nami. Mereka berhasil menghindar.
"Siapa kalian? Kenapa menyerang kami?" tanya Luffy.
Orang-orang itu, yang tadi menyerang Luffy dan Nami, memakai pakaian seperti suku pedalaman. Salah seorang dari mereka, yaitu pemimpin mereka, hanya memiliki rambut ditengah-tengah kepala dan dia membawa basoka.
"Justru kami yang seharusnya bertanya, siapa kalian berdua? Berani-beraninya masuk ke pulau ini!" kata pria pembawa basoka itu.
'berdua?' pikir Nami, ia baru menyadari. "Luffy, mana Zoro?" tanya Nami.
"Aku tidak tahu." jawab Luffy enteng.
"Jangan-jangan, dia tertinggal di kapal Usopp." kata Nami.
"Katakan, apa tujuan kalian datang ke pulau ini?" kata pria pembawa basoka itu lagi dengan nada suara yang lebih tinggi.
"Kami hanya mau mencari apa yang ingin kami cari, setelah itu, kami akan pergi." jawab Nami.
"Memangnya ada apa dengan pulau ini? Kenapa kami tidak boleh masuk?" tanya Luffy penasaran.
"Siapapun tidak boleh masuk ke pulau ini!" jawab pria pembawa basoka itu. Dan dengan tiba-tiba, dia menembakkan basokanya ke arah Luffy dan Nami.
"Gomu-gomu... Fusen!" dengan cepat Luffy menggembungkan tubuhnya lalu mementalkan peluru basoka itu hingga meletakkan sebuah pohon.
"Sial!" geram pria pembawa basoka itu, dia dan anak buahnya sedikit kaget melihat Luffy yang bisa menahan peluru basoka itu. Tapi mereka tidak tinggal diam, mereka lalu menyerang Luffy secara bersama-sama.
"Mau main keroyokan ya? Baiklah, akan aku layani." kata Luffy sambil bersiap-siap mengeluarkan jurusnya.
"Gomu-gomu... Gatling gun!" Luffy melancarkan pukulannya dengan kecepatan tinggi hingga terlihat seakan dia memiliki banyak tangan. Orang-orang itu pun terlempar terkena pukulan Luffy. Hanya pria pembawa basoka itu yang masih berdiri.
"Sial!" geramnya lagi. "Akan kuhadapi kau dengan sungguh-sungguh!"
"Aku tidak takut!" kata Luffy dengan nada serius. Mereka bertatapan untuk beberapa saat. Mereka nampaknya ajan bertarung satu lawan satu. Tiba-tiba...
"Thunderbolt Tempo!"
Nami mengeluarkan petirnya dan menyerang pria itu.
"Luffy, ayo pergi!" ajak Nami pada Luffy. Ia lalu berlari meninggalkan tempat itu. Walau masih bingung, Luffy akhirnya berlari mengikuti Nami.
"Nami, kenapa kita lari?" tanya Luffy saat dia sudah mengejar Nami.
"Kita harus menemukan mutiara itu secepatnya. Orang-orang organisasi itu pasti juga sedang menuju ke sini. Jadi kita harus mendahului mereka!" jawab Nami.
"Jadi begitu. Baiklah, ayo kita temukan mutiara itu!" kata Luffy penuh semangat.
Sementara itu di kapal Usopp, di sebuah dek rumput di kapal tersebut,
"Zzzt... Zzzt..." seorang pria berambut hijau tampak sedang tidur sambil memeluk ketiga pedangnya.
Sementara itu di ruang kemudi, Usopp sedang mengemudikan kapal.
"Sebentar lagi aku akan sampai, aku sudah terlalu lama meninggalkan desa, aku sangat merindukanmu, Kaya. Tunggu aku!" katanya berbicara sendiri. Ketika sedang asyik berbicara sendiri, ia melihat dua orang yang menaiki perahu sedang berlayar dari arah yang berlawanan. Kedua orang itu memakai jubah hitam dan mengenakan topeng. Mereka melintas dan melewati Usopp.
'Orang-orang yang aneh.' pikir Usopp. Tak lama kemudian terlihat pulau di kejauhan. Usopp merasa senang karena ia sudah hampir sampai di desanya. Tapi, ketika ia telah sampai, betapa kagetnya ia karena yang dilihatnya bukanlah desa yang indah dan damai seperti yang ditempatinya selama ini, tapi sebuah desa yang telah porak-poranda. Rumah-rumah telah hancur dan mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Tak ada satupun penduduk yang masih hidup, semua telah mati.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi? Padahal aku baru meninggalkan desa beberapa hari, tapi kenapa semua bisa jadi seperti ini?"
Usopp tak percaya dengan apa yang ia lihat, ia seakan tidak berada di desanya, tapi di sebuah tempat lain yang sangat asing baginya. Ia lalu memeriksa setiap orang yang tergeletak di sana. Ia berharap masih ada yang hidup dan menanyakan apa yang telah terjadi. Harapannya terkabul, di antara mereka, masih ada seseorang yang bergerak-gerak. Usopp lalu menghampirinya.
Pria itu sekarat, tubuhnya berlumuran darah, ia mencoba mengatakan sesuatu pada Usopp, "Mereka... mereka yang telah menghancurkan tempat ini... memakai jubah hitam... dan... topeng..." setelah mengatakan hal tersebut, pria itu langsung meninggal.
'Memakai jubah hitam dan topeng?' pikir Usopp, ia lalu teringat pada dua orang yang dijumpainya sewaktu dalam perjalanan. "Tidak salah lagi, pasti mereka!"
Usopp hendak kempali ke kapal dan ingin mengejar dua orang berjubah hitam yang pernah dijumpainya, sampai tiba-tiba ia teringat sesuatu,
'Kaya!'
Usopp kemudian berlari ke suatu tempat, ia mencemaskan gadis yang dicintainya itu, dan berharap dia masih hidup. Usopp terus berdo'a dalam hati. Tak lama kemudian, ia sampai di depan sebuah rumah yang telah rata dengan tanah. Melihat rumah yang telah rata dengan tanah itu, Usopp semakin cemas, harapannya seakan semakin menjauh. Ia lalu berjalan mendekat, dan menemukan seorang gadis berambut pirang yang tertimpa reruntuhan.
"Kaya!" teriaknya. Ia lalu mengeluarkan gadis itu dari reruntuhan dan memeriksanya. Ia mencoba merasakan denyut nadinya dan mendengarkan detak jantungnya, berharap masih ada sisa kehidupan di sana. Tapi, ia tidak merasakan apapun. Gadis itu telah meninggal. Usopp terlambat.
Hening. Usopp tak mampu berkata apa-apa, juga tak mampu berbuat apa-apa. Ia sudah tak kuat lagi menahan air matanya. Air matanya mulai menetes, membasahi wajah gadis itu. Usopp menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja ia tidak meninggalkan desa, mungkin ia bisa menyelamatkan Kaya. Kalaupun ia tidak bisa mengalahkan dua orang berjubah hitam itu, tapi paling tidak ia bisa mengajak Kaya untuk melarikan diri, ia punya bakat dalam hal itu. Tapi semua itu sudah terlambat. Sekarang tidak ada lagi yang bisa dilakukan, kecuali hanya balas dendam. Tapi itu jelas mustahil. Dua orang itu mampu memporak-porandakan desa, sudah pasti kemampuan mereka jauh melebihi Usopp. Hal terakhir yang bisa ia lakukan terhadap Kaya hanyalah mengurus jenazahnya.
"Apa yang terjadi di sini?"
Suara seseorang tiba-tiba mengagetkannya. Ia melihat ke depan dan mendapati Zoro sedang berdiri tak jauh darinya. Ia kemudian kembali menatap Kaya.
Zoro hendak menghampiri Usopp, tapi mendadak ia berhenti. Ia melihat di depannya sebuah kotak musik yang telah hancur. Ia lalu berjongkok dan mengamatinya.
"Hei, itu kotak musik milikku yang aku berikan pada Kaya!" kata Usopp mengenali kotak musik yang telah hancur itu. "Tapi itu sudah tidak penting lagi sekarang." lanjutnya.
Zoro masih mengamati kotak musik itu, lalu ia berganti mengamati sekitar.
"Orang-orang berjubah hitam itu pasti baru saja datang ke sini. Sial, aku terlambat!" katanya kemudian.
"Apa kau tahu mengenai orang-orang berjubah hitam itu?" tanya Usopp pada Zoro.
"Ya, aku sedang mencari mereka. Apa kau tadi melihatnya?"
"Ya, aku melihat mereka ketika sedang dalam perjalanan tadi. Siapa mereka sebenarnya?"
"Ceritanya panjang, nanti saja kuceritakan. Mereka pasti belum jauh, maukah jau membantuku untuk mengejar mereka?"
"Ya, aku mau. Tapi sebelum itu, aku mau mengurus jenazah Kaya dulu."
"Baiklah. Tapi jangan lama-lama. Aku tunggu kau di kapal."
-xxx-
Setelah cukup lama mengurus jenazah Kaya, Usopp kemudian menyusul Zoro ke kapal.
"Apa kau tahu di mana Luffy dan Nami?" tanya Zoro pada Usopp.
"Luffy dan Nami? Mmm, Benar juga ya, waktu turun dari kapal, mereka cuma berdua. Jadi kau ketinggalan ya?" kata Usopp sambil mengingat-ingat.
"Jadi mereka sudah pergi?"
"Ya, begitulah."
"Ke mana?"
"Ke sebuah pulau. Apa kau mau kita ke sana?"
"Mereka pasti sedang mencari mutiara itu. Kita harus ke sana, mungkin kita bisa bertemu dengan orang-orang berjubah hitam itu."
"Mutiara? Mutiara apa?"
"Ceritanya panjang, nanti saja kuceritakan, sekarang lebih baik kita pergi menyusul mereka."
"Baiklah."
Sementara itu di pulau tempat Luffy dan Nami berada, di tempat orang-orang yang baru saja di kalahkan mereka.
"Bagaimana ini, Wiper?" tanya salah seorang kepada pria pembawa basoka yang bernama Wiper itu.
"Mereka bilang, mereka akan mencari sesuatu di pulau ini. Tidak salah lagi, mereka pasti mencari 'itu'. Kita harus hentikan mereka!" jawab Wiper.
Sementara Luffy dan Nami masih terus berjalan mengikuti arah yang terdapat pada radar. Tiba-tiba mereka melihat kilauan dari balik pohon-pohon yang berada di hadapan mereka. Mereka mendekat, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat apa yang ada di balik pohon-pohon itu. Sebuah reruntuhan emas. Banyak sekali emas yang berbentuk bongkahan bertumpuk di sana. Dan yang menjadi pusat perhatian mereka adalah sebuah lonceng raksasa yang juga terbuat dari emas yang berdiri tegak di tengah-tengah tumpukan emas tersebut. Mereka tercengang untuk beberapa saat.
"Jadi ini sebabnya tidak ada orang luar yang diperbolehkan masuk ke pulau ini." kata Nami.
Tiba-tiba sebuah pohon besar tumbang dan hampir menimpa mereka. Untunglah mereka sempat menghindar.
"Ada apa dengan pohon ini? Kenapa tiba-tiba tumbang?" tanya Nami kebingungan.
Tiba-tiba seekor ular raksasa berwarna biru muncul di hadapan mereka.
"Sepertinya ular itu yang menjaga emas-emas tersebut." kata Nami.
"Kalau begitu, hanya tinggal mengalahkan ular itu kan?" kata Luffy penuh percaya diri.
-xxx-
"Sebentar lagi sampai, aku harap mereka masih belum menemukannya, reruntuhan kuno, kota emas Shandora." kata Wiper sambil terus berlari bersama gerombolannya.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai. Di depan mereka, terdapat sebuah pohon besar yang telah tumbang, dan tampaklah di hadapan mereka sebuah reruntuhan emas.
"Apa mereka belum sampai sini?" kata salah seorang dari mereka. "Tapi kenapa pohon ini roboh?" lanjutnya.
Tiba-tiba seekor burung merpati berwarna putih melintas dan hinggap di atas lonceng emas raksasa itu. Burung merpati itu memakai dasi berwarna merah.
"Burung merpati?" kata Wiper, ia tampak heran. "Setahuku tidak ada burung merpati di pulau ini." lanjutnya.
Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki, dan suara itu berhenti tepat di belakang mereka. Mereka menoleh ke belakang, dan mendapati dua orang berjubah hitam dan mereka mengenakan topeng.
-xxx-
"Gomu-gomu... Pistol!"
"Thunderbolt tempo!"
Luffy dan Nami telah mengeluarkan banyak serangan. Tapi tampaknya, serangan-serangan itu tak berarti apa-apa bagi ular raksasa itu. Mereka terus dipukul mundur.
"Sial! Kalau begini terus, kita takkan bisa mengalahkannya." kata Nami.
"Aku tak akan kalah." kata Luffy masih belum mau menyerah.
"Gear third... Bone fusen!" Luffy meniup jarinya hingga tangannya menjadi sangat besar, menyamai besarnya tubuh ular raksasa itu.
"Gomu-gomu... Gigan pistol!" Luffy memukul ular itu dengan tinjunya yang super besar hingga ular itu terlempar bermeter-meter ke belakang, pohon-pohon tumbang dan debu bertebaran akibat efek dari serangan Luffy tersebut. Ular itu kini sudah tak sadarkan diri. Kemudian Luffy melayang-layang di udara akibat udara yang sangat banyak keluar dari mulutnya. Adegan itu diakhiri dengan jatuhnya ia ke tanah. Luffy kemudian bangun dengan wujud berubah menjadi anak kecil.
"Inilah akibatnya jika aku menggunakan jurus itu." keluh Lu
-xxx-
DHUARR...!
Suara ledakan berasal dari basoka yang ditembakkan oleh Wiper kepada pria berjubah hitam itu. Tapi gerakan pria itu sangat cepat, dalam sekejap ia sudah berada di depan Wiper. Pria itu lalu menusukkan jari telunjuknya ke dada Wiper hingga ia terlempar ke belakang.
"Wiper!" teriak para anak buahnya. Mereka lalu menghampirinya. Dari dadanya keluar darah dan juga dari mulutnya.
"Ma... mana mungkin, hanya dengan satu jari telunjuk bisa menembus tubuh seseorang." kata anak buah Wiper tak percaya.
"Luccy, lebih baik kau cari mutiara itu, biar aku yang tangani mereka." kata pria berjubah hitam yang satunya.
Tanpa berkata apa-apa pria itu lalu menghilang secepat kilat. Kini ia sudah berada di depan lonceng emas raksasa itu. Burung merpati yang semula hinggap di lonceng itu terbang dan hinggap di pundak pria itu.
"Takkan kami biarkan!" kata anak buah Wiper hendak mengejar pria itu. Tapi tiba-tiba pria berjubah hitam yang satunya sudah berada di hadapan mereka sambil memegang dua pedang di tangannya.
"Lawan kalian adalah aku."
-xxx-
Luffy dan Nami masih menyusuri hutan yang ada di pulau itu. Luffy telah kembali ke wujud normalnya. Mereka hendak kembali ke reruntuhan emas tersebut. Karena menurut radar, mutiara itu berada di sekitar sana. Nami juga berniat mengambil sebagian dari emas-emas tersebut. Tiba-tiba Nami berhenti.
"Ada apa Nami?" tanya Luffy.
"Lihatlah!" kata Nami. Luffy kemudian melihat ke depan. Lalu wajahnya berubah menjadi serius. Ternyata di hadapan mereka, kini berdiri orang-orang yang selama ini mereka cari. Dua orang berjubah hitam. Dan salah satu dari mereka memiliki burung merpati yang hinggap di pundaknya.
"Lagi-lagi kau, bocah bertopi jerami." kata pria berjubah hitam itu.
"Apa mau kalian?" kata yang satunya lagi.
"Kau bertanya apa mau kami? Mau kami adalah, mengalahkan orang-orang seperti kalian!" kata Luffy. Ia langsung maju dan hendak menyerang, tapi pria berjubah hitam itu benar-benar sangat cepat. Dengan gerakan yang sangat cepat ia menghilang. Ia sudah berada di hadapan Luffy dan melancarkan pukulannya. Tapi Luffy berhasil menghindar, kelihatannya ia lebih waspada kali ini. Lalu luffy balas melancarkan pukulannya dan menghantam topeng pria itu hingga pria itu terlempar ke belakang. Topengnya pecah dan tampaklah wajah dengan alis dan jenggot yang aneh itu.
"Kau hebat juga ya. Kalau begitu aku akan memperkenalkan diri, namaku Rob Luccy, dan burung ini bernama Hattori." kata pria itu memperkenalkan diri. Burung itu lalu terbang menjauh. Lalu pria itu mengeluarkan sebuah topi dan memakainya.
"Kalau begitu aku juga akan memperkenalkan diri. Lagi pula, kalian sudah pernah melihat wajahku kan." kata pria yang satunya. Ia melepas topengnya dan tampaklah wajah dengan hidung panjang berbentuk persegi itu. "Namaku Kaku." katanya. Lalu ia mengeluarkan sebuah topi dan memakainya, tapi topinya berbeda dengan topi milik Luccy.
"Kalau begitu, aku juga akan memperkenalkan diri. Namaku Monkey D Luffy, dan dia Nami." kata Luffy. Tapi tiba-tiba Luccy sudah ada di depannya dan langsung memukulnya hingga ia terlempar jauh ke belakang.
"Luffy!" teriak Nami.
"Lawanmu adalah aku." tiba-tiba Kaku sudah berada di hadapan Nami dan hendak menebasnya dengan kedua pedangnya.
"Mati kau!"
TRING!
"Zoro!"
Zoro datang dengan tiba-tiba dan menahan serangan kaku.
"Lagi-lagi kau, pria berambut hijau." kata Kaku. Ia lalu mundur ke belakang.
"Nami, menjauhlah! Biar aku yang hadapi orang ini."
"Baiklah." kata Nami. Ia lalu pergi menjauh. Setelah cukup jauh, ia berbalik dan melihat pertarungan mereka.
TRING TRANG TRING TRING TRANG...
Zoro dan Kaku bertarung dengan sangat cepat. Pohon-pohon di sekeliling mereka tumbang satu persatu akibat efek dari pertarungan mereka.
"Mungkin Luffy dan Zoro bisa mengatasi mereka." pikir Nami. Ia lalu meninggalkan tempat itu dan pergi ke suatu tempat.
"Rankyaku!"
"Hyaku hachi pound huo!"
Zoro dan Kaku sama-sama mengeluarkan jurus mereka.
"Rankyaku hakurai!" Kaku mengeluarkan gelombang rankyaku dengan kekuatan yang lebih besar. Zoro terkena serangan itu.
"Santouryuu ougi : san-zen-se-kai!" Zoro memutar pedangnya dengan cepat dan maju menyerang, dengan cepat ia sudah berada di belakang Kaku. Kaku terluka terkena serangan Zoro.
"Kau lumayan juga ya, kalau begitu akan kutunjukkan yang lebih hebat!" kata Kaku. Ia lalu merubah wujudnya menjadi seekor jerapah.
Sementara itu, Nami ternyata kembali ke tempat reruntuhan emas. Tapi di sana ia malah menemukan orang-orang yang terkapar, tapi mereka belum mati, mereka hanya terluka parah. Kemudian salah satu dari mereka bangkit, ternyata itu Wiper dan dia masih membawa basokanya.
"Apa yang kalian inginkan? Kalian pasti menginginkan emas-emas ini kan? Takkan aku biarkan!" kata Wiper.
"Tidak, kau salah. Kami tidak sedang mencari emas."
"Kalau bukan emas, lalu apa yang kalian cari?"
"Kami hanya mencari... mutiara."
"Kau jangan berbohong!" kata Wiper tak percaya. Lalu ia bersiap menembakkan basokanya.
DHUARR...!
Nami sempat memejamkan matanya. Ia lalu membuka matanya kembali dan melihat apa yang terjadi. Wiper terjatuh dengan asap di sekitarnya.
"Nami, apa kau baik-baik saja?"
"Usopp!"
Ternyata Usopplah yang menembak Wiper dengan peluru ketapelnya.
"Aku telah mendengar semuanya dari Zoro, tentang orang-orang berjubah hitam itu." kata Usopp. "Lalu siapa mereka?" tanyanya kemudian.
"Bukan siapa-siapa, mereka bukan musuh." jawab Nami.
"Kurang ajar kalian!" ternyata Wiper masih bisa bangkit kembali.
"Tunggu, Wiper!"
Seorang wanita tiba-tiba datang dan mencegah Wiper.
"Laki!"
"Mereka tidak bersalah." kata wanita yang bernama Laki itu.
"Dari mana kau tahu?" tanya Wiper.
"Aku pernah mendengar tentang orang-orang berjubah hitam itu, mereka tidak mencari emas. Dan lihatlah, emasnya masih utuh kan? Walaupun lonceng raksasa itu kini telah hancur." kata Laki sambil melihat lonceng raksasa yang telah hancur itu.
"Mungkin kau benar." kata wiper. Ia pun akhirnya roboh kembali.
"Wiper!"
Kembali ke pertarungan Zoro. Ia tampaknya kesulitan menghadapi Kaku dalam wujud jerapahnya. Zoro semakin terdesak.
"Akan kuakhiri sekarang juga!" Kaku melompat ke atas dan bersiap mengeluarkan jurusnya.
"Rankyaku Ran!" Kaku menendang berkali-kali dan menghasilkan ribuan gelombang rankyaku yang lebih kecil, ribuan gelombang rankyaku itu menghantam Zoro dengan sangat cepat.
"Rankyaku Amanedachi!" Kaku mengeluarkan jurusnya lagi. Ia bertumpu pada tangannya, dan berputar berkali-kali hingga menghasilkan gelombang rankyaku yang sangat besar dan menghantam Zoro hingga menimbulkan kepulan debu di sekelilingnya. Tapi tampaknya Zoro masih bertahan.
"Kiki... Kyuutouryuu... Ashura!"
Zoro keluar dari kepulan debu itu dengan berganti wujud, ia memiliki tiga kepala dan enam tangan serta memegang sembilan pedang.
"Ashura Ichibugin!" Zoro melompat dan menebas Kaku dengan kesembilan pedangnya. Kaku terluka parah, tapi ia masih bertahan.
"Bagaimana dia bisa memiliki jurus sehebat itu?" pikir Kaku.
"Ashura Makyuusen!" kali ini Zoro menebasnya dengan berputar hingga Kaku benar-benar kalah. Ia pun kembali ke wujud manusianya.
"Aku... kalah..." kata Kaku sesaat sebelum ia roboh.
Zoro kembali ke wujud normalnya lalu menyarungkan kembali ketiga pedangnya.
Sementara itu di pertarungan Luffy melawan Luccy. Luffy telah mengeluarkan gear second dan Luccy telah berubah wujud menjadi seekor leopard. Mereka bertarung dengan kecepatan tingi. Mereka terus bertarung, hingga akhirnya, dengan seluruh kekuatannya yang tersisa, Luffy mengeluarkan jurusnya yang terakhir,
"Gomu-gomu... Jet... Gatling Gun!" Luffy melancarkan tinjunya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Luccy tak sempat menghindar. Ia terkena telak pukulan Luffy yang datang bertubi-tubi itu. Hingga akhirnya ia pun dikalahkan oleh Luffy.
"Aku... mengalahkannya..." kata Luffy sesaat sebelum ia roboh karena kelelahan.
Hari itu, mereka berhasil mengalahkan dua anggota The Dark Organization.
-xxx-
Di sebuah gedung di suatu tempat, terdapat dua orang berseragam yang sedang memandangi matahari terbenam.
"Apa kau percaya pada mitos itu, Sengoku?" tanya seorang pria tua kepada pria di sampingnya.
"Aku tidak peduli dengan mitos itu, Garp. Tapi organisasi itu telah meresahkan banyak orang. Jadi kita perlu bertindak. Aku telah menempatkan anak buahku untuk menyusup menjadi anggota organisasi itu."
"Tapi sudah lama kita tidak mendapatkan kabar darinya. Aku harap dia baik-baik saja."
"Aku percaya padanya."
-To Be Continued-
A/N: Maaf kalo updetnya lama, semoga kalian masih ingat ama fic ini.
Baiklah, sekarang saatnya membalas review. Karena di chap 2 kmarin saya g' smpat balas review so'alnya saya buru-buru karena publishnya di lab komputer, jadi review yang di chap 1 akan saya balas di sini, g' pa2 kan?
Reviewer: saya emang kasihan, tapi yang penting kan dah ada yang review.
Sweet miracle 'michu 17: wah, makasih dah bilang crita ini keren. Cerita ini terinspirasi dari... Dari mana ya? Gak taulah, idenya muncul begitu aja di otak saya. Kalau pairing, kemungkinan gak ada, soalnya saya gak bisa bikin romance (maklum masih author baru), saya juga gak bisa bikin humor. Maaf. Tapi akan saya coba kapan2.
MelzZz: makasih banyak untuk sarannya, dan juga telah bilang cerita ini menarik. Maaf gak bisa balas banyak2, soalnya gak tau harus nulis apa, jadi saya ucapkan makasih aja ya...
Andara : makasih dah bilang cerita ini keren. Untuk plot, maaf kalo kecepetan. Saya akan berusaha untuk memperbaikinya.
Fidya chan : wah, makasih dah mau baca n review fic saya.
Eleamaya : wah ada Eleamaya! Makasih dah baca n review. Utk sarannya makasih banyak. Ini kru topi jeraminya masih sebelum time skip.
ReadR: wah ada ReadR juga! Saya sangat terbantu dengan sarannya. Maaf kalo deskripsinya kurang, saya akan berusaha memperbaikinya.
Portgas D. Ichimaru : makasih dah mau baca n review fic saya.
Benjiro Hirotaka: wah, makasih dah bilang chap 2 lebih baik. Lalu bagaimana dengan chap 3 ini?
Tare-chan: fic saya menjanjikan? Wah makasih banyak, saya sangat terharu. Makasih juga dah bilang chap 2 lebih baik. Chap 3 ini bagaimana?
KoroCorona: yupz tepat sekali, di sini mereka ketemu Usopp. Makasih dah baca n review n dah bilang klo critanya smakin menarik. Maaf cuma bisa mengucapkan itu saja.
Maaf kalo review replynya telat (banget). Akhir kata, mind to review?
