Disclaimer : One Piece bukan punya saya

Ringkasan cerita sebelumnya : Luffy, Zoro, dan Nami yang jatuh ke laut akibat jurus milik Kuma diselamatkan oleh Usopp. Usopp yang kembali ke desanya dan menemukan desanya sudah dihancurkan oleh dua orang berjubah hitam akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Luffy dan yang lain. Mereka pergi ke sebuah pulau misterius yang menyimpan banyak sekali emas. Di sana, mereka bertemu dengan dua orang berjubah hitam yang dulu pernah menghancurkan desa Zoro, dan mereka berhasil mengalahkannya.

The Dark Organization

Chapter 4 : Bara Bara

Latar menunjukkan sebuah hutan dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Terdengar langkah sepasang kaki seseorang yang sedang menjelajahi hutan itu. Tiba-tiba ia berhenti. Ia menemukan sesosok mayat tergeletak bersimbah darah. Mayat itu mempunyai hidung panjang berbentuk persegi.

"Kenapa aku kembali lagi ke tempat ini?"

Begitulah, Zoro mendapati dirinya berputar-putar di hutan itu, dan mendapati dirinya kembali lagi ke tempat semula.

Sementara itu di tempat Nami dan Usopp, mereka berdua berada di dalam sebuah rumah yang berada di pemukiman penduduk. Mereka berdua duduk di kursi ruang tamu. Laki telah selesai mengobati luka Wiper dan anak buahnya. Ia lalu menghampiri Nami dan Usopp, kemudian duduk di depan mereka.

"Tolong, jangan katakan pada siapapun mengenai apa yang ada di pulau ini." pinta Laki.

"Baiklah, kami mengerti." kata Nami.

"Tapi bisa kau jelaskan pada kami, kenapa bisa ada emas sebanyak itu?" tanya Usopp penasaran.

"Dulu pulau ini berada di langit."

"Di langit? Apa maksudmu?" potong Nami.

"Ya, di langit, benar-benar di langit. Emas-emas itu dulunya merupakan bangunan yang dijaga oleh suku kami dari generasi ke generasi. Pulau ini menjadi rebutan selama beratus-ratus tahun. Bukan karena emas yang ada di pulau ini, tapi karena pulau ini satu-satunya yang terbuat dari tanah. Semua pulau langit terbuat dari awan." kata Laki. Ia berhenti sejenak untuk mengambil jeda, lalu melanjutkan lagi, "Ada dua dewa yang memperebutkan pulau ini. Sementara pihak kami mempertahankan diri. Kemudian, sekitar lima ratus tahun yang lalu, pertempuran mencapai puncaknya. Dan karena kerusakan-kerusakan yang parah, pulau ini akhirnya jatuh ke bumi. Itu mengakibatkan runtuhnya bangunan emas tersebut. Untungnya masih ada sebagian orang yang hidup. Sisi baiknya, pulau ini sudah tidak menjadi rebutan lagi. Walau begitu, kami masih akan tetap berjuang mempertahankan pulau ini dan juga emas peninggalan leluhur kami itu. Jadi kuharap kalian bisa menjaga rahasia ini." kata Laki mengakhiri ceritanya.

"Lalu, apa yang terjadi dengan kedua dewa itu?" tanya Usopp.

"Kedua dewa itu menyadari pulau ini menghilang dari pulau langit. Kemudian mereka mencarinya sampai ke mari. Menurut cerita, saat itu bumi ini sedang dikuasai oleh para iblis. Lalu kedua dewa itu berhasil mengusir iblis-iblis itu dari bumi ini." kata Laki.

"Apa itu kisah nyata?" tanya Usopp.

"Entahlah. Itu hanya kisah yang diceritakan turun-temurun." jawab Laki.

"Oh ya, kami harus mencari teman kami. Kami permisi dulu." kata Nami. Ia dan Usopp lalu bergegas keluar untuk mencari Luffy dan Zoro.

-xxx-

"Aku rasa mereka bertarung di sekitar sini." kata Nami.

"Lihat itu!"

Mereka berdua menemukan mayat pria berjubah hitam tergeletak bersimbah darah.

"Ini kan orang yang bertarung dengan Zoro."

"Lalu, kemana dia pergi?"

Mereka berdua mengamati keadaan sekitar, keadaannya benar-benar rusak parah. Pohon-pohon tumbang di mana-mana.

"Sebaiknya kita mencari lagi."

Mereka berdua kembali menyusuri hutan itu dan tak lama kemudian mereka menemukan Luffy tergeletak dengan nafas ngos-ngosan, masih sadarkan diri.

"Luffy, kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa, kalian sendiri bagaimana?" Luffy bertanya balik.

"Kami juga tidak apa-apa, kami kan tidak ikut bertarung." jawab Nami.

"Syukurlah." kata Luffy. "Lalu di mana Zoro?" tanyanya kemudian.

"Kami sedang mencarinya. Dia juga berhasil mengalahkan pria berjubah hitam itu. Mungkin sekarang, dia juga sedang mencari kita." jawab Nami.

"Baguslah kalau begitu." kata Luffy dengan cengiran lebarnya.

Nami mengamati keadaan sekitar. Kerusakannya bahkan lebih parah daripada kerusakan yang diakibatkan oleh pertarungan Zoro. Tak jauh dari mereka bertiga, terdapat mayat seorang pria berjubah hitam yang telah dikalahkan Luffy. Nami kemudian melihat radarnya.

"Ayo kita lanjutkan mencari Zoro." ajak Usopp sambil membopong Luffy.

"Tunggu, aku mau mengambil mutiaranya dulu." kata Nami. Ia lalu menghampiri mayat pria berjubah hitam yang telah dikalahkan Luffy itu dan mencari mutiaranya.

"Oh ternyata kalian di sini."

Usopp menoleh dan mendapati Zoro sudah ada di belakangnya.

"Susah sekali mencari kalian." kata Zoro.

"Justru kami yang susah mencarimu!" balas Usopp.

"Hei, aku sudah menemukannya!" seru Nami tiba-tiba. "Ayo kita segera pergi dari pulau ini dan mencari mutiara selanjutnya."

"Baiklah."

Mereka lalu bergegas menuju kapal dan melanjutkan perjalanan.

-xxx-

"Haaah... Membosankan sekali, dari tadi kita cuma berlayar terus, kapan kita akan sampai ke pulau?" keluh Luffy. Ia terus-terusan memandangi lautan, berharap ada pulau yang terlihat di kejauhan. Ia merasa bosan karena seharian mereka cuma berlayar dan tidak melakukan apa-apa.

"Jangan mengeluh Luffy, sebentar lagi juga sampai." kata Nami. Ia sedang duduk santai sambil memperhatikan radar di tangannya. Sementara Zoro, seperti biasa, ia sedang tidur.

"Hei, Nami. Dari tadi kuperhatikan, kau terus-menerus memandangi radar itu. Memangnya ada apa?" tanya Usopp yang datang menghampiri Nami.

"Tiba-tiba saja dua mutiara menghilang dari radar ini. Berarti mereka sudah mendapatkannya." jawab Nami.

"Memangnya masih ada berapa mutiara lagi?" tanya Usopp lagi.

"Masih ada tujuh mutiara lagi. Dan kita sudah mendapatkan satu, berarti masih ada enam mutiara lagi di luar sana." jawab Nami.

"Lihat, ada pulau!" teriak Luffy tiba-tiba. Nami dan Usopp pun menghampirinya. Mereka melihat ada sebuah pulau di kejauhan.

"Nami, apa mutiaranya ada di pulau itu?" tanya Luffy.

"Ya. Sebaiknya kita ke sana." jawab Nami.

Tak lama kemudian, mereka telah sampai di pulau tersebut. Berbeda dengan pulau yang sebelumnya mereka kunjungi, pulau itu tampak ramai.

"Ada dua mutiara di pulau ini." kata Nami sambil melihat radarnya.

"Kalau begitu, ayo kita ke sana!" ajak Luffy semangat.

"Zoro, kau tidak ikut?" tanya Nami pada Zoro yang masih bersandar di dinding.

"Tidak, aku di sini saja. Kalau kalian butuh bantuan, panggil saja aku kemari." jawab Zoro.

Akhirnya Luffy, Nami, dan Usopp turun dari kapal dan pergi ke pulau tersebut. Sementara Zoro tinggal di kapal.

Sementara itu di tempat lain di pulau tersebut, di sebuah bekas reruntuhan rumah tak berpenghuni, terdapat seorang pria berwajah seperti badut. Ia membawa bungkusan besar di punggungnya. Ia lalu meletakkan bungkusan itu di tanah dan membukanya.

"Lihat semua ini, emas, berlian, uang, aku akan kaya!" seru pria yang bernama Buggy itu.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat. Lalu muncul dua orang di hadapan Buggy. Dua orang itu mengenakan jubah hitam dan memakai topeng.

"Mau apa kalian?" tanya Buggy.

"Serahkan berlian itu!" kata pria berjubah hitam itu.

Buggy memandangi hartanya, dan menemukan sebuah berlian besar, sebesar kepalan tangan.

"Yang ini?" tanya Buggy sambil menunjukkan berlian itu.

"Ya, yang itu." jawab pria berjubah hitam itu.

Buggy lalu meletakkan kembali berlian itu, dan kembali membungkus semua hartanya. Ia lalu berdiri.

"Aku tak akan menyerahkannya. Enak saja kalian memintanya begitu saja. Kalau kalian mau, kalian harus beli padaku." kata Buggy.

"Jadi begitu. Apa kau tahu, apa yang akan terjadi padamu setelah ini?" kata pria berjubah hitam itu mengancam. Buggy sedikit merasa takut mendengarnya.

"Coba saja, kalau kalian bisa merebutnya dariku!" kata Buggy. Dalam sekejap ia sudah berlari meninggalkan mereka.

"Ayo kejar!" kata pria berjubah hitam itu.

"Dia tak akan bisa lari dari kita selama kita punya ini." kata pria berjubah hitam yang satunya sambil menunjukkan radar di tangannya.

Sementara itu di tempat lain, di depan sebuah rumah besar nan mewah, beberapa orang sedang berkerumun. Tampak beberapa dari mereka memakai seragam. Mereka adalah petugas keamanan di kota itu.

"Jadi, kau habis kecurian?" tanya kepala petugas keamanan itu. Ia berambut putih dan menghisap dua batang cerutu sekaligus.

"Ya." jawab seorang wanita pemilik rumah tersebut.

"Kau melihat orangnya?" tanya petugas keamanan itu lagi.

"Ya." jawab wanita itu lagi.

"Seperti apa dia?"

"Dia mempunyai hidung berwarna merah, dan wajahnya seperti badut." jawab wanita itu.

"Apakah seperti itu?" tanya salah seorang warga sambil menunjuk seseorang yang baru saja melintas di depan mereka dengan membawa bungkusan besar di punggungnya.

"Ya, itu orangnya!" jawab wanita itu.

"Tunggu apa lagi, kejar dia!" perintah kepala petugas keamanan itu.

Merekapun mengejar pencuri itu dan mulai menembakinya. Menyadari ada banyak orang yang mengejar dan menembakinya, Buggy berbelok menuju gang kecil. Ia terus berlari, memanjat dinding dan melewati gang-gang kecil lainnya.

"Sial, banyak sekali yang mengejarku!" umpatnya. Sementara para petugas keamanan mulai kehilangan jejaknya.

"Ayo kejar terus! Jangan sampai kita kehilangan dia!" perintah pemimpin mereka.

Sementara itu, dua orang berjubah hitam yang sedang mengejar Buggy tampaknya sudah tertinggal jauh. Tapi mereka terus mengejar sambil melihat radar.

"Belok sini!" kata salah seorang yang memegang radar. Merekapun berbelok ke arah kiri. Kemudian mereka berhenti.

"Ada di sekitar sini." katanya.

"Tapi aku tidak melihat si badut itu." kata yang satunya.

Pria berjubah hitam yang membawa radar itu memandang sekeliling. Matanya menelusuri jalanan kota yang ramai saat itu. Lalu pandangannya tertuju pada seorang gadis berambut oranye. Pria berjubah hitam itu melihat radarnya dan kembali melihat gadis itu lagi.

"Gadis itu..."

Sementara di sisi lain, Nami segera menyadari kehadiran dua orang berjubah hitam itu.

"Mereka. Kenapa di saat seperti ini aku malah terpisah dari Luffy dan yang lainnya?" katanya pada dirinya sendiri. Ia melihat dua orang berjubah hitam itu mulai mendekat ke arahnya. Ia segera menyiapkan tongkatnya.

"Kita bertemu lagi. Rupanya kau masih memiliki mutiara itu. Serahkan pada kami!" kata pria berjubah hitam itu tanpa basa basi.

"Tidak akan!" kata Nami.

"Terserah kalau kau tidak mau menyerahkannya. Tapi perlu kau ketahui, bahwa kami akan dapat merebutnya dengan mudah darimu." kata pria berjubah hitam itu sambil bersiap-siap menyerang.

"Hei kalian!"

Suara seseorang tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka. Mereka melihat seorang pemuda berambut pirang datang dan berdiri di depan Nami, menghadang dua pria berjubah hitam tersebut.

"Jangan terlalu kasar pada wanita!" kata pemuda itu sambil menghembuskan asap rokoknya.

Aku tidak mungkin mengalahkan mereka, aku harus cari bantuan. Pikir Nami. Ia lalu bergegas meninggalkan tempat itu.

"Sial, gadis itu lari!" geram pria berjubah hitam itu. Ia lalu melihat radarnya. Tampak sebuah titik putih kecil di radar itu, tidak bergerak sama sekali. Ia kembali memandang pemuda berambut pirang yang ada di depannya.

"Rupanya kau juga memiliki mutiara itu." katanya kemudian.

"Mutiara? Apa maksudmu?" tanya pemuda itu tak mengerti.

Sementara itu, Nami yang sedang menuju kapal untuk meminta bantuan Zoro, tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Ia lalu melihat radarnya dan berpikir sejenak.

"Sepertinya aku harus mencari mutiaranya dulu."

-xxx-

"Hah... Hah..."

Pria berwajah badut itu tampak kelelahan setelah dikejar-kejar oleh segerombolan petugas keamanan dan dua orang aneh berjubah hitam.

"Sepertinya aku berhasil lolos." gumam Buggy sambil melihat ke belakang. Orang-orang yang mengejarnya sudah tidak terlihat lagi. Ia sekarang berada di sebuah gang kecil yang sempit dan sepi. Ia melanjutkan langkahnya pelan-pelan sambil mengatur nafas.

"Aku harus segera pergi dari pulau ini. Aku sudah mendapatkan yang ku inginkan. Aku akan menjual semua harta ini di pulau lain. Sekarang yang terpenting adalah aku harus cepat-cepat meninggalkan pulau ini." gumamnya. Ia lalu mempercepat langkahnya dan bergegas menuju pantai.

Setibanya di pantai, ia melihat sekeliling. Pantai itu sepi, tak ada seorangpun di sana. Lalu matanya menangkap sesuatu.

"Kapal? Kebetulan sekali." ujarnya. Ia lalu berjalan mendekati kapal tersebut.

"Bagus, aku akan menyusup ke kapal ini. Dan setelah kapal ini berlayar menuju pulau lain dan tiba di sana, aku akan merebutnya dari pemiliknya. Lalu aku akan menjualnya. Aku pasti akan jadi lebih kaya." gumam Buggy mulai menyusun rencananya. Ia dengan segera menaiki kapal tersebut dan mulai mengendap-endap mencari tempat persembunyian yang aman.

"Ngomong-ngomong, sepi sekali kapal ini?" gumamnya menyadari tidak ada seorangpun di kapal tersebut. "Mungkin pemiliknya sedang pergi. Baguslah kalau begitu, aku jadi bisa menyusup dengan mudah." lanjutnya.

Tiba-tiba ia mendengar sesuatu, seperti suara dengkuran. Ia lalu mengikuti suara itu, dan tak lama kemudian sampailah ia di dek rumput. Di sana ia melihat seorang pria berambut hijau sedang tidur sambil bersandar di dinding. Dan suara dengkuran itu berasal darinya. Buggy mencoba mengabaikannya. Ia lalu melanjutkan mencari tempat persembunyian.

Sementari itu di sisi lain, Zoro tiba-tiba saja membuka matanya. Ia memandang sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tapi ia merasakan ada orang lain yang hadir di kapal itu selain dirinya. Sedangkan ia tahu teman-temannya sedang pergi. Apa mungkin mereka sudah kembali? Pikirnya.

Buggy yang sedang mencari tempat persembunyian, menemukan sebuah ruangan. Ia lalu memasukinya dan mendapati ruangan itu ternyata adalah dapur. Ia lalu memandang sekeliling, matanya menelusuri setiap sudut ruangan itu.

"Ruangan ini tidak cocok untuk dijadikan tempat bersembunyi." gumamnya sesaat kemudian. Ia lalu berbalik hendak mencari ruangan lainnya, tapi tiba-tiba gerakannya terhenti menyadari seseorang muncul di hadapannya. Seorang pria berambut hijau dengan tiga pedang di pinggangnya. Ia menatap heran pada Buggy.

"Siapa kau?" tanya pria itu.

-xxx-

"Mouton Shot!"

Pemuda berambut pirang itu lagi-lagi dijatuhkan dengan mudah. Semua tendangan yang ia lancarkan tak berpengaruh sama sekali pada kedua musuhnya. Kedua pria berjubah hitam itu tampak tak apa-apa, sementara sang pemuda sendiri tampak kelelahan dan babak belur. Orang-orang yang berada di sekitar mereka hanya diam dan menonton saja, tidak berani ikut campur.

"Kasian pemuda itu, apa tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya?" gumam salah seorang warga yang menonton pertarungan itu.

"Bertahanlah anak muda!" teriak warga yang lain menyemangati. Sementara sang pemuda sendiri sedang dihajar habis-habisan oleh pria berjubah hitam itu.

"Kami hanya menginginkan kalungmu itu. Kami akan melepaskanmu jika kau mau menyerahkannya baik-baik." kata pria berjubah hitam itu.

Pemuda berambut pirang itu mencoba bangkit dan berdiri. Para warga hanya bisa melihat. Apa yang akan dilakukan pemuda itu selanjutnya? Pikir mereka.

"Aku tidak peduli dengan apa yang kalian inginkan. Tapi instingku mengatakan, kalian bukan orang baik!"

Bersamaan dengan kata-katanya yang terakhir, pemuda itu berlari ke arah pria berjubah hitam tersebut dan melancarkan tendangannya.

"Jawaban yang salah." kata pria berjubah hitam itu. Sebelum tendangan itu mengenainya, ia sudah lebih dulu menyerang pemuda itu.

"Uagh!" pekik pemuda berambut pirang itu. Ia terlempar ke belakang.

"Kami tidak punya waktu bermain-main denganmu." kata pria berjubah hitam itu sambil berjalan mendekat. "Akan ku akhiri sekarang juga." lanjutnya sambil bersiap-siap membunuh pemuda tersebut. Para warga yang melihatnya hanya bisa bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada pemuda itu.

"Gomu-gomu... Jet Pistol!"

Satu pukulan cepat, tepat menghantam dada pria berjubah hitam tersebut hingga membuatnya terlempar ke belakang. Pria berjubah hitam yang satunya menahan temannya itu agar tidak terlempar terlalu jauh. Mereka menatap pemuda tersebut, pemuda dengan topi jerami di punggungnya, dan sekujur tubuhnya mengeluarkan uap.

"Bocah itu lagi." gumam pria berjubah hitam itu.

"Akhirnya aku menemukan kalian. Kali ini aku tidak akan membiarkan kalian. Gomu-gomu..." Luffy bersiap-siap mengeluarkan jurusnya. Dua pria berjubah hitam itu juga sudah bersiap-siap.

"Hentikan kalian semua!"

Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Mereka melihat beberapa orang berseragam datang ke tempat itu.

"Itu para petugas keamanan! Semua masalah akan segera selesai!" sorak para warga.

"Aku adalah kepala petugas keamanan di kota ini. Aku tidak akan membiarkan kalian seenaknya membuat keributan di sini." ujar kepala petugas keamanan yang berambut putih itu. Ia lalu menoleh kepada dua orang berjubah hitam itu dan menatap tajam pada mereka.

"Heh, muncul lagi sekelompok pengganggu kecil." kata pria berjubah hitam yang tadi terkena pukulan Luffy. "Akan kubereskan sekarang juga." lanjutnya hendak maju ke depan.

"Tunggu!" cegah pria berjubah hitam yang satunya.

"Ada apa?"

"Dia itu Smoker. Sebelumnya, aku pernah bertemu dan bertarung dengannya. Dia cukup tangguh." jelas pria berjubah hitam itu mengenali kepala petugas keamanan tersebut.

"Apa kau takut?" tanya temannya.

"Tidak juga, hanya saja kondisi kita sedang tidak fit hari ini. Lebih baik kita segera pergi. Masih ada kesempatan lain."

"Kau benar." setuju temannya. Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi.

"Tunggu! Jangan lari!" teriak Luffy. Ia hendak mengejar mereka berdua tapi dicegah oleh smoker.

"Biarkan mereka pergi. Percayalah, kau bukan tandingan mereka." kata smoker mencoba meyakinkan.

"Aku tidak akan membiarkan mereka pergi!" teriak Luffy. Ia tetap bersikeras mengejar dua pria berjubah hitam itu. Tapi apa boleh buat, ia sudah kehilangan jejak dan tak tahu kemana mereka pergi.

-xxx-

Nami masih terus berjalan sambil melihat radar di tangannya. Tak lama kemudian ia sampai di sebuah pantai. Ia masih terus berjalan sambil melihat radar, dan sampailah ia di depan kapalnya.

"Mutiaranya ada di kapal?" tanya Nami tak percaya. "Apa mungkin Luffy dan yang lain sudah mendapatkannya?" lanjutnya.

"Woi, Nami!" panggil Usopp tiba-tiba yang datang dari belakang Nami.

"Usopp, mana Luffy? Bukankah kau tadi bersamanya?" tanya Nami menyadari Usopp hanya sendiri.

"Aku juga tidak tahu, aku terpisah darinya. Jadi, aku memutuskan untuk kembali ke kapal. Ternyata kau ada di sini." jawab Usopp.

"Apa Luffy sudah kembali ya? Menurut radar, mutiaranya ada di kapal. Apa mungkin dia sudah mendapatkannya?" tanya Nami yang lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. "Tapi rasanya itu tidak mungkin." lanjutnya kemudian.

"Lebih baik kita periksa saja ke kapal." usul Usopp yang disambut dengan anggukan oleh Nami. Mereka berdua lalu naik ke kapal.

Setelah sampai di atas kapal, mereka berdua tercengang melihat keadaan kapal yang berantakan. Dua orang sedang bertarung dengan serius. Zoro dengan seorang lagi yang wajahnya mirip badut.

"Hei, jangan rusak kapalku!" teriak Usopp.

"Heh, apa kalian tidak lihat aku sedang bertarung, hah!" kata Zoro sambil terus mengeluarkan serangannya. Tapi semua serangan Zoro tidak berpengaruh apa-apa pada musuhnya yang dapat memisah-misah tubuhnya itu.

"Kau tidak akan bisa melukaiku. Bara-bara...!" ujar Buggy. Ia melayangkan tangannya dan meninju Zoro tepat di wajahnya. Ia lalu melayangkan kakinya dan menendang Zoro, tetapi berhasil ditangkis oleh Zoro dengan menyilangkan kedua pedangnya di depan dada.

"Dia... Yang waktu itu." gumam Nami mengenali pria berwajah badut tersebut. Matanya lalu melihat sebuah bungkusan besar yang tergeletak begitu saja. Ia lalu melihat radarnya.

"Mutiaranya ada dalam bungkusan itu." ujar Nami sambil menghampiri bungkusan itu dan membukanya. Buggy tidak melihatnya karena ia sedang bertarung dengan Zoro. Nami menemukan sebuah berlian besar. Ia lalu menghancurkannya, dan terdapat satu mutiara kecil berwarna putih di dalamnya.

"Aku sudah mendapatkannya." ujar Nami.

"Hei, apa yang kau lakukan? Itu hartaku!" teriak Buggy. "Bara-bara...!" ia melayangkan tangannya hendak menggapai Nami, tapi Nami berhasil menghindar.

"Oni Giri!" Zoro kembali mengeluarkan serangannya, tapi lagi-lagi serangannya itu tidak berpengaruh apa-apa pada Buggy.

"Hei, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Luffy, tiba-tiba ia sudah muncul di kapal bersama seorang pria berambut pirang. "Dan siapa kau? Anggota baru ya?" tanya Luffy pada Buggy.

"Luffy, dia musuh. Cepat kalahkan dia!" perintah Nami.

"Oh, begitu. Baiklah. Gomu-gomu..." kata Luffy. Ia melontarkan kedua tangannya ke belakang.

"Hei, apa yang akan kau lakukan?" tanya Buggy menyadari Luffy akan melakukan sesuatu.

"Bazooka!"

Buggy terkena telak jurus Luffy tersebut hingga membuatnya terlempar jauh ke udara.

"Uwaaaaa... Akan kubalas kau nantiiiiii...!" teriak Buggy. Teriakannya menghilang seiring dirinya yang sudah menghilang dari pandangan.

"Shishishishi... Itu mudah kan?" tawa Luffy.

"Mellorine...! Kau cantik sekali nona... Boleh aku tahu siapa namamu...?" rayu pria berambut pirang itu tiba-tiba dengan mata yang sudah berbentuk hati.

"Luffy, siapa orang itu?" tanya Usopp.

"Oh, namanya Sanji, dia teman baru kita. Dia tadi sedang bertarung dengan dua orang berjubah hitam itu, lalu aku menolongnya. Karena dia bilang dia tidak punya rumah dan keluarga, jadi aku ajak saja dia kemari." kata Luffy menjelaskan.

"Jangan seenaknya mengajak orang dong...! Ini kan kapalku!" marah Usopp.

"Itu bagus kan. Jadi tambah ramai." ujar Luffy dengan cengiran khasnya.

"Ya sudah, terserah kau saja."

"Oh ya, Nami. Apa kau mendapatkan mutiaranya?" tanya Luffy.

"Ya, aku mendapatkannya satu." jawab Nami.

"Oh, jadi namamu Nami... Sungguh nama yang cantik...!" kata Sanji sambil berputar-putar. Nami mencoba mengabaikannya.

"Kau bilang tadi, di pulau ini ada dua mutiara. Lalu, yang satu di mana?" tanya Usopp.

"Benar juga, aku hampir lupa." respon Nami baru menyadari. Ia lalu melihat radarnya. Ia tampak kaget. Ia lalu menoleh pada Sanji.

"Kau juga memiliki mutiara itu kan?" tanya Nami pada Sanji.

"Mutiara? Mutiara apa?" tanya Sanji tak mengerti. Nami lalu melihat kalung yang dikenakan Sanji.

"Kalung itu, berikan padaku!" pinta Nami.

Sanji memandangi kalung yang dimaksud oleh Nami. Sedetik kemudian...

"Apapun untukmu... Nami-swaaannn..." kata Sanji sambil berputar-putar dengan mata berbentuk hati. Ia lalu menyerahkan kalung itu pada Nami. Nami menghancurkan kalung itu dan mengambil mutiara kecil berwarna putih yang ada di dalamnya.

"Sebenarnya mutiara apa itu? Kenapa kalian mencarinya?" tanya Sanji.

"Ceritanya panjang. Nanti saja kuceritakan." jawab Usopp.

"Sebaiknya kita segera lanjutkan perjalanan." ujar Nami.

"Baiklah." jawab yang lainnya.

Mereka akhirnya melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju tempat berikutnya.

-To Be Continued-

A/N : Gomen... Updatenya lama... Lagi terkena virus malas nih selama liburan. Ok, gak usah banyak omong, eh, ngetik maksudnya. Langsung saja, saatnya untuk membalas review...

Reviewer : Aku gak marah kok. Lagipula kamu udah baca n review fic ku ini aku sudah senang. Makasih ya... Jangan sungkan untuk review lagi...

Wong edan : Makasih dah baca n review n dah bilang kalo ceritanya menarik...

Neyta Minaira : Salam kenal juga...! Gak ngerti ama ceritanya ya? Ikutin aja sampe akhir, nanti juga mengerti. Ha...ha... XD. Fic kita genrenya sama ya... Aku juga suka ama ficmu kok, keren. Makasih ya udah baca n review... Kalo bersedia, review lagi ya...!

Silahkan sampaikan kritik, saran, tanggapan, atau apa saja yang ada di pikiran anda saat membaca fic ini. Sekali lagi...

Review please...!