My feeling

By Divinne Oxalyth

Bleach © Tite Kubo

Karin mengikat rambut hitamnya yang mulai memanjang dengan ikat rambut yang berwarna senada dengan rambutnya. Kedua kakinya melangkah mendekati cermin dan bibirnya mulai tersenyum. "Yosh, aku akan pergi sekarang." Kini kakinya melangkah keluar rumah dengan diiringi senandung kecil. Kedua tangannya yang bergetar karena kedinginan di masukkan ke dalam saku jaket tebal yang ia pakai. Sedangkan dagunya di rapatkan ke syal yang mengalungi lehernya.

Kepingan-kepingan salju jatuh di puncak kepala Karin sehingga Karin menggigil pelan. "Kenapa sekarang harus turun salju?" Karin mengusap-usap rambutnya sehingga semua salju yang ada di kepalanya terjatuh. "Padahal hari ini aku ingin bermain sepak bola. Tapi kalau turun salju pasti semua anggota timku tidak akan tahan untuk bermain."

Sepasang kaki berjalan mendekati Karin yang sedang masih berbicara dengan dirinya sendiri. Bibir orang yang berada di belakang Karin tersenyum dan tertawa kecil. "Berbicara dengan angin itu tidak normal," ucap Hitsugaya yang tadi ada di belakang Karin.

Karin berhenti berbicara pada dirinya sendiri dan menatap Hitsugaya yang berjalan di sampingnya. "Anak KECIL berambut putih itu tidak normal." Karin melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum penuh kemenangan.

"Aku bukan anak kecil!" Muka Hitsugaya memerah sehingga Karin menyeringai lebar.

"Lalu kenapa kamu pendek?" Karin berkacak pinggang dan mencondongkan badannya sehingga dahi mereka bersentuhan.

"Terserah!" Hitsugaya menarik kepalanya dan membuang muka.

"Satu poin untuk Kurosaki Karin!" Karin menaruh tangan kirinya di pinggang dan tangan kanannya mengacungkan jari telunjuknya.

Hitsugaya mengangkat kepalanya dan menatap langit yang menurunkan banyak salju. Tangannya dia ulurkan sehingga kepingan-kepingan salju jatuh di telapak tangannya. "Kenapa aku merasa seseorang mengetahui rahasiaku?" gumam Hitsugaya dengan sangat kecil.

Karin mendekati kursi yang berada di dekatnya dan duduk di kursi itu setelah membersihkan salju yang ada. Mata hitamnya memperhatikan Hitsugaya yang menatap salju yang ada di tangannya sendiri. Dengan perlahan, Karin menelan ludahnya dan mulutnya terbuka untuk berbicara. "Toushiro, siapa perempuan yang kamu bicarakan dengan Ichi-nii?"

Kedua bola mata emerald Hitsugaya melebar dan salju yang ada di tangannya terjatuh. Mata emeraldnya kini menatap gadis berambut hitam itu.

"Gomen, waktu itu aku mendengar sedikit pembicaraan kalian." Karin menggosok kedua telapak tangannya dan meniup-niupnya untuk membuat kehangatan di tangannya.

"Tidak apa-apa." Hitsugaya berjalan mendekati Karin dan duduk di sebelahnya. "Perempuan itu sudah membuatku selalu ingin melindunginya dan aku selalu ingin ada di sebelahnya. Lebih tepatnya dia membuatku jatuh cinta. Dan perempuan itu sekarang sedang duduk di sampingku."

Karin menatap Hitsugaya dengan kaget. Mulutnya yang terbuka mengeluarkan suara yang sangat pelan. "Aku?" Hitsugaya tersenyum dan mengangguk. Kedua pipi Karin merona dan jari-jarinya bergerak dengan asal. "Ah, aku belum tau perasaanku." Karin membuang muka dan kembali menggosok-gosok telapak tangannya.

"Kamu tidak perlu menjawabnya." Hitsugaya bangkit dari duduknya dan pergi menjauhi Karin. "Kalau kamu mencariku, aku ada di bukit yang seperti biasa."

Karin manatap punggung Hitsugaya dan mengulang ucapan Hitsugaya tentang perempuan yang telah membuat Hitsugaya jatuh cinta yang ternyata adalah dirinya di dalam pikirannya sehingga kedua pipi Karin merona lagi. Karin menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan ucapan Hitsugaya yang bersarang di pikirannya.

Karin mengambil ponselnya dan mengetik tombol-tombolnya. Setelah memastikan angka yang tertampang di layar ponselnya benar, Karin menekan tombol yang berwarna hijau dan merapatkan layar ponselnya dengan telinganya.

Setelah beberapa menit, suara sambungan di ponsel Karin berhenti. Karin membuka mulutnya dan berbicara. "Ah, Ichi-nii boleh aku mengganggumu?"

"Tentu saja. Ada apa?" Jawaban dari Ichigo membuat Karin tesenyum senang.

"Ichi-nii pernah jatuh cinta?" Gigi atas dan gigi bawahnya bergesekan, Karin menunggu jawaban dari kakaknya dengan diam.

"Pernah." Tidak melihat saja, Karin yakin sekarang warna wajah kakak laki-lakinya telah menjadi merah dan kakaknya sedang membayangkan wajah perempuan yang disukainya.

"Uh, bagaimana caranya Ichi-nii tau kalau Ichi-nii jatuh cinta?" Karin mengetuk-ngetuk jalan yang ada di bawahnya menggunakan ujung sepatunya.

"Saat aku berada di dekatnya, jantungku berdegup kencang dan mukaku memanas dan aku merasakan bahwa aku selalu ingin melindunginya." Karin tersenyum lagi setelah mendengar ucapan Ichigo.

"Arigatou, Ichi-nii. Semoga beruntung dengan-entahlah-itu-Rukia-nee-atau-Tatsuki-nee." Karin menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menunggu Ichigo mengeluarkan kata-kata.

"Tunggu dulu, kenapa kamu bisa tau? Hei?" Karin menekan tombol berwarna merah dan menaruh kembali ponselnya di saku celananya.

Karin tersenyum kecil dan berlari. "Aku tahu jawabanku." Langkah Karin terhenti setelah sampai di bukit. Kedua tangannya memegang lututnya dan Karin mengatur napasnya.

Hitsugaya melihat Karin sejenak lalu Hitsugaya menggerakan tangan kirinya ke arah Karin, Hitsugaya menunjukan boneka salju berbentuk dirinya yang dia buat setelah meninggalkan Karin. Karin mengangkat kepalanya dan kedua matanya bertemu dengan boneka salju yang ada di tangan Hitsugaya. "Imut." Hitsugaya tersenyum kecil melihat Karin yang terpesona dengan boneka salju buatannya. "Ini Toushiro salju?" Karin mengambil boneka salju itu dari tangan Hitsugaya dan duduk di sebelahnya.

"Kamu boleh memilikinya kalau mau. Besok pasti sudah mencair." Hitsugaya memasukkan tangan kirinya di saku celana jeansnya. "Cukup sulit untuk membuat bentuk rambutnya. Ternyata aku tidak bisa membuat diriku sendiri."

Karin masih menatap boneka salju itu dengan berkaca-kaca. Oke, ini sangatlah aneh jika seorang Kurosaki Karin yang diketahui sangat tomboy dan juga tangan dan kakinya yang tidak ragu untuk memukul dan menendang semua orang yang membuatnya kesal-terutama-ayahnya-yang-sangat-sering-terkena-siksaan-darinya telah menyukai boneka salju. "Boneka ini lucu. Sedangkan contoh aslinya sangat seram dan berbeda dengan boneka buatannya sendiri." Karin meledek Hitsugaya tanpa ragu hingga sebuah urat kemarahan kembali menunjukkan dirinya di dahi Hitsugaya. "Sepertinya yang membuat boneka ini ingin menjadi selucu boneka ini-meskipun-dia-tahu-kalau-itu-sangat-mustahil."

"Kamu datang ke sini hanya untuk membuat masalah?" Hitsugaya tersenyum dengan sangat dipaksakan meskipun terlihat dari raut mukanya bahwa ia tidak benar-benar tersenyum. Dan senyuman itu membuat Hitsugaya terlihat lebih menyeramkan dari biasanya.

"Aku di sini karena aku sudah tahu perasaanku kepadamu." Karin menaruh boneka saljunya di atas rumput yang dipenuhi salju dan kedua tangannya ditaruh di pagar besi yang ia duduki. "Aku sadar setiap kali aku melihatmu tersenyum mukaku memanas dan jantungku berdegup kencang."

Kelopak mata Hitsugaya terus terbuka dan tidak bergerak. Matanya melebar saat mendengar tiap kata yang keluar dari mulut Karin. Bola mata emeraldnya tertuju kepada Karin yang sedang menatap salju yang berjatuhan disertai dengan senyuman di bibir tipisnya.

"Perasaanku kepadamu sama seperti perasaanmu kepadaku. Aku juga menyukaimu, Toushiro." Karin tersenyum lembut kepada Hitsugaya dan Hitsugaya membalas senyumannya.

"Bolehkah aku meminta bukti bahwa perkataanmu bukan sebuah candaan?" Hitsugaya menyeringai dan menunjuk pipinya menggunakan jari telunjuknya.

Karin melebarkan matanya. "Eeh?" Karin berpikir sebentar lalu berdiri dan mendekat kepada Hitsugaya yang menutup kedua matanya. Tangan Karin menyentuh kepala Hitsugaya dan menariknya agar mendekat. "Baiklah." Dengan pipi yang sangat memerah, perlahan-lahan Karin mengecup pipi Hitsugaya.

Hitsugaya tersenyum kecil setelah Karin menjauhkan dirinya dari Hitsugaya. Sebenarnya Hitsugaya tidak serius dengan ucapannya. Tapi dia senang telah mengucapkannya.

"Padahal aku cuma bercanda. Tapi sepertinya kamu memang ingin melakukannya." Hitsugaya tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai saat melihat Karin yang wajahnya makin memerah.

"Aku tidak ingin melakukannya, bodoh!"

"Lalu?"

"Aah! Karin-chan sedang bermesraan dengan Hitsugaya-kun!" Karin menoleh ke belakang dan melihat saudara kembarnya yang sedang menunjuknya dengan tangan yang bergetar. Sedangkan tangan lainnya terdapat tas berisi sayur-sayur yang baru di beli.

Karin bangkit dari duduknya dan mengejar Yuzu yang sudah meninggalkannya untuk memberi tahu ayanhnya tentang kejadian yang baru dia lihat.

Karin berhenti berlari dan membalikkan badannya. "Aku melakukannya untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu, Toushiro!" Karin tersenyum kecil dan kembali mengejar Yuzu.

Hitsugaya tersenyum tipis. "Memangnya Shinigami boleh berhubungan spesial dengan manusia?" Hitsugaya berdiri dan berjalan pulang. "Ah sudahlah. Lebih baik aku tidur untuk meninggikan badanku yang-sangat-aku-akui-pendek ini."

"Tunggu dulu, kenapa tadi aku menjadi genit?" Hitsugaya berjongkok dan memegang kepalanya. "Gawat jika ada shinigami yang tahu soal ini. Terutama Matsumoto."

"Taicho~" Tubuh Hitsugaya menegang saat mendengar suara yang sangat familiar untuknya dan juga suara itu semakin dekat dengannya.

"Matsumoto, kamu tidak melihat apa yang tadi terjadi, 'kan?" Matsumoto memiringkan kepalanya dengan bingung. "Jika kau melihatnya aku akan menghukummu! Kamu tidak diizinkan untuk melihatnya!" Hitsugaya berjalan meninggalkan Matsumoto yang masih kebingungan.

"Taicho kenapa ya?"

END

Haha akhirnya selesai juga. Sekarang aku sedang menjalankan Hiatus yang akan cukup lama atau mungkin lama. Haha.

Setelah menerima hasil ujian aku jadi agak patah semangat. Nemnya lumayan besar, tapi ga cukup untuk masuk SMPN cluster satu kesukaan ibu. Haha. Dan aku resmi lulus dari SD! Haha! #malah nulis yang ga penting.

Sekarang aku mau coba buat one shot tentang cerita asli! Haha! Aku minta review-nya ya! Dan terima kasih banyak buat yang sudah mau me-review cerita ini.