Terima kasih buat yang udah pada riview di chapter sebelumnya, ini balasan riview kalian.

Dari avamura.

Haha... iya, Hidan nya udah insyaf, tapi ya begitu, imannya masih lemah.

Kitsune murasaki have a poker.

Sun-chan? Aku kan cowo =.='. Tapi kayaknya bagus juga, jadi kedengeran lebih imut, *plak

Iya, udah mulai puasa tanggal 1 Agustus lalu. Maksaih ya ucapannya, ^^

Just g' login.

Iya, ada kesalah tulis, hehe.. udah kuperbaiki. Makasih ya udah ngingetin. Riview lagi ya, xp

Kurousa Hime

Mereka alim-alim, tapi tetep aja pada bandel.

Nilai moralnya ya? sebenernya ada dichapter kemarin, tapi cuma tersirat aja. Misalnya, jangan makan didepan orang yang lagi puasa. Makasih sarannya, mudah-mudahan dichapter ini ada nilai moralnya lagi tapi hanya tersirat aja, karena takutnya malah dibilang menceramahi, hehehe..

Shogai karin

Makasih ya dah riview.

Insyaallah chapter terakhir nanti kubuat tentang lebaran, ^^

Pein nya sengaja aku bikin lebih muda dari Konan, supaya bisa mengimbangi anak-anak Akatsuki yang lain.

Sebenernya dichapter kemarin ada adegan PeinKonan lho, yaitu pas Pein ngiri sama perlakuan lembut yang ditunjukan Konan ke Tobi. Nanti sun tambah deh adegan mereka berdua, tapi cuma sebatas adegan anak-anak ya, kan Pein masih kecil, *ngusap-ngusap pala Pein*digigit Pein.

Hatakehanahungry

Makasih ya dah riview.

Wah, kamu pernah puasa kayak Tobi juga ya, sun juga perna, hhahaha..

Arigatou

Waduh, sampe ketawa guling-guling begitu, Ntar malah tambah laper tuh, Haha,..

Makasih ya dah riview,

Matsushita ninchan

Alhamdulillah kalau bisa bisa bikin lupa sama laper dan haus kamu.

Salam kenal juga, ^^

Ren-Mi3 Novanta.

Selamat menjalankan ibadah puasa juga. Makasih ya dah riview, ^^

Ai No Utsukushi Hikari.

Tau tuh, marah-marah mulu neng Konan.

Konan: "Marah! Siapa yang marah-marah, hah!"

Gubrak,

Makasih ya al dah riview. Riview lagi ya,

HakuZuka

Si Tobi emang imut-imut karena dia yang paling kecil. Aku ngebayanginnya dia itu pake baju yang kegedean sampe nutupin dengkul, kayak kartun alfin and the chipmunk.

Ya begitulah, emang susah ngurusin anak-anak bandel kayak Pein dan yang lainnya, mangkanya jad sering marah-marah saking setressnya, hehe..

Tsubaki Audhi

Akatsuki chibi emang ngegemesin banget. Bahkan Pein yang buruk rupa*dibantai* juga keliatan imut. Sun terinspirasi setelah liat gambar mereka yang unyu-unyu~. Buat yang belum ngeliat, silahkan di search di mbah google.

Makasih ya dah riview, salam kenal juga.

Crimson Fruit

Tobi bukan cuma polos, tapi juga ngeselin bagi Pein, haha..

Udah update nih, riview lagi ya, ^^

Halo-Daus-Salam

Disini Peinnya gak mesum, soalnya masih kecil. Lagipula ceritanya tentang ramadhan, takut reader jadi mikir mesum juga, hehe..

Oh-chan is Nanda

Masih ada misstypo ya? padahal dah ka sun cek berulang-ulang, maklum lagi laper, hehe.. (padahal gak laper aj juga typo terus, xp)

Yuzura koyuki kagene

Iya gak papa. Makasih ya dah riview, ^^

Yup, itu tadi balesan dari riview-riview kalian. Mohon maaf jika ada penulisan nama yang salah dan jawaban yang kurang memuaskan. Makasih ya dah pada riview, riview lagi ya, hihihi...

Kita lanjut ke chapter selanjutnya.

Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto

Judul Fic: Chibi Akatsuki, Puasa

Author : Sun Setsuna

Warning : Typo(s), AU, bahasa gak baku, sedikit OOC

Summary: Mau tau kisah Akatsuki kecil yang masih pada unyu unyu dalam menjalankan puasa? Cekidot.

Chapter 2 : tambah laper~

Puasa hari ke 8.

Jam 12:15 siang.

"Assalamualaikum~ kami pulang~," ucap anak-anak Akatsuki yang baru pada pulang dari sekolah. Suara mereka terdengar sangat memperihatinkan seperti orang yang belum makan dari pagi.

(Akatsuki : Emang belum makan!)

Maklum saja, ini kan hari pertama mereka sekolah di bulan ramadhan, pasti rasanya berbeda dengan puasa dirumah.

Setelah mengucapkan salam, mereka lalu masuk ke dalam rumah dan membuang tas yang mereka kenakan ke sembarang arah.

"Panasnya~," keluh Kisame sambil berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi.

"Capeknya~," keluh Hidan sambil membuka baju dan pamer badannya yang katanya sexy kayak aming wati -?-.

"Iya un, lebih enak puasa dirumah daripada disekolah un," timpal Deidara sambil merebahkan dirinya di lantai.

"Arrgh~ nyamannya~," ucap Sasori yang juga ikut merebahkan dirinya disamping Deidara.

"Kalian sudah pulang ya?" tanya Tobi yang baru keluar dari dapur. Karena dia masih kelas satu, jadi dia sudah pulang sejak jam 11 tadi.

"Eh Tobi, kau habis makan ya?" tanya Hidan sambil memperhatikan sisa makanan dimulut Tobi.

"Eh, Iya," jawabnya sambil mengusap sisa makanan dimulutnya dengan lengan baju .

"Tobi, masih ada makanan gak di dapur?" tanya Pein to the point.

"Aku gak tau kalau soal itu," Jawab Tobi.

"Dei, kita kedapur yuk," ajak Pein sambil tersenyum menyeringai.

"Iya, aku mengerti," balas Deidara yang mengerti maksud dari senyuman Pein barusan.

"Kalian mau kemana?" tanya Sasori penasaran.

"Ke dapur," jawab Pein sambil memberikan kode-kode ke Sasori.

"Gak boleh tau, kita kan lagi puasa," ucap Sasori berusaha mencegah apa yang akan dilakukan oleh Pein dan Deidara.

"Ayo ikut aja, mumpung kak Konan belum pulang nih, jadi gak bakal ketahuan, hehehe.." ajak Deidara pula.

"Tapi Allah pasti tau," celetuk Itachi.

Glek,

Deidara yang tadinya semangat, kini jadi gemeter setelah mendengar perkataan Itachi.

"Tenang dei, Allah gak bakal ngadu sama kak Konan," ucap Pein berusaha meyakinkan Deidara. Dasar sok tau.

"Oh.. begitu ya," ucap Deidara yang kini kembali tegar dengan pendiriannya, untuk ikut ke dapur. =.='

"Kau benar juga Pein, aku ikut juga deh, hehe.." ucap Sasori yang terpengaruh sama ucapan terakhir Pein. Sasori danna! Jangan ikutin kata-kata Pein!

"Nah, ayo kita mulai misi kita!" teriak Pein bersemangat.

"Ya!" jawab Deidara dan Sasori.

Mereka bertigapun langsung menuju kedapur untuk 'berburu' makanan.

"Sasori, kau cari disebelah sana. Dei, kau cari disebelah sana, dan aku akan mencari disebelah sini." Instruksi Pein sambil menunjukkan tempat-tempat yang dimaksud.

"Baik!" jawab mereka bedua.

Cklek! Kreek! Bruk! Brak! Prang! Sret! Gret!

Suara mereka bertiga yang sibuk mencari-cari makanan di setiap lokasi yang ada di dalam dapur.

"Sasori, kamu nemu apa?" tanya Pein ke Sasori.

"Aku nemu mi instan nih," jawabnya sambil menunjukkan tiga bungkus mie instan yang ditemukannya didalam lemari.

"Dei, kau nemu apa?"

"Aku dapat telur un," jawab dei sambil menunjukan dua butir telur yang dipegangnya. "Kalau kau dapat apa Pein?"

"Kalau aku dapat ini," ucap Pein sambil menunjukan sebotol besar minuman bersoda.

"Wah..." ucap Sasori dan Deidara dengan berliur.

Mereka bertiga lalu berkumpul sambil berjongkok dan tersenyum-senyum gaje.

"Rencana kita berhasil, hihihi..." ucap Pein sambil ketawa cekikikan.

"Hari ini kita akan makan tanpa diketahui kak Konan, kau hebat Pein," puji Deidara.

"Kenapa tidak ketahuan?"

"Tentu saja tidak ketahuan, kak Konan kan pulangnya masih satu jam lagi. Kau lupa ya sas?" tanya Pein ke Sasori.

"Aku gak lupa kok, aku ingat," sanggah Sasori.

"Lah, bukannya tadi kamu yang bertanya, "kenapa tidak ketahuan?" begitu kan?" tanya Pein sambil menirukan suara tadi.

"He? Aku gak bilang begitu kok," sangkal Sasori lagi.

"Tapi sepertinya aku kenal sama suara itu, siapa ya?" tanya Deidara sambil memasang pose berpikir.

"Iya, aku juga merasa tidak asing dengan suara tadi. Suaranya seperti, nenek sihir," tanggap Pein sambil memberikan efek horror pada kata nenek sihir.

"Nenek sihir ya?" ucap suara horror dari belakang mereka.

Kretek kretek

"Pe-Pein, pe-perasaan gue gak enak nih," ucap Sasori gemeteran sambil memutar kepalanya ke arah belakang, begitu juga dengan Pein, dan Deidara.

Begitu mereka melihat kebelakang, dilihatnya sesosok wanita berambut biru yang sedang melotot ke arah mereka sambil meremas-remas kedua tangannya.

"Ka-kak Konan," ucap mereka bertiga sambil ngeluarin keringet dinginn.

"DASAR ANAK-ANAK NAKAL!"

Plak! Plok! Plak!

Sebuah 'cap tangan' berhasil mendarat di masing-masing pantat mereka sebagai hukuman karena perbuatan mereka tadi.

"Sakit~," ringis Sasori sambil memegangi pantatnya.

"Pantatku terasa seperti terbakar un," ringis Deidara sambil memegangi pantatnya juga. Tampak matanya agak berair, sepertinya dia menangis.

"Dasar cengeng," ejek Pein dengan wajah biasa aja. Dia memang tidak pernah menangis, apalagi cuma karena sebuah 'tepukan kecil', jagoan gitu loh.

"Sakit tau," jawab Deidara sambul menahan tangis.

"Sudah-sudah, jangan menangis, nanti kau malah semakin lapar dei," nasihat Konan dan menggiring mereka ke kamar mandi.

"Hiks.. hiks..,"

"Loh kok terkunci?" pikir Konan saat pintu kamar mandinya tidak bisa dibuka. "Siapa di dalam?" tanyanya.

"Aku, Kisame?"

"Kau sedang apa? Cepat buka pintunya?"

"Lagi mandi kak, sebentar lagi!" jawabnya.

"Jangan lama-lama woi mandinya! Makruh!" teriak Pein sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.

"Tumben kau pintar Pein," ledek Konan sambil tersenyum jahil.

"Cih," ucap Pein sambil membuang muka.

"Woo segitu aja ngambek~," ejek Konan sambil toel-toel pundah Pein.

"Ngapain sih toel-toel? Suka ya?" ejek Pein kali ini.

"Suka denganmu? Kau ini masih anak kecil, tauk!" jawab Konan sambil membandingkan tingginya dengan Pein yang hanya setinggi dagunya. Itu pun sudah dihitung sama tinggi rambut Pein yang jabrik.

"Aku bukan anak kecil! Kakak ini menyebalkan!" teriak Pein sambil menatap kesal ke Konan.

"Kau itu yang meyebalkan!" balas Konan sambil memberikan deathglare ke Pein.

"Aku selesai," ucap Kisame yang baru keluar dari kamar mandi.

"Apa!" teriak Pein dan Konan sambil memberikan deathglare ke Kisame.

"A-aku salah apa?" tanya Kisame yang gak tau apa-apa.

"Eh? Maafkan kakak Kisame," ucap Konan yang tersadar setelah melihat Kisame yang lagi memasang muka ketakutan.

"Huh," dengus Pein.

"Basuh kepala kalian dan segera tidur!" Peintah Konan kepada tiga orang tadi.

"Iya kak,"

Setelah mendinginkan kepala, Pein, Sasori, dan Deidara langsung masuk kekamar untuk tidur siang. Sedangkan anak-anak yang lain sudah pada tertidur diruang tengah.

"Hah~ Hari ini benar-benar panas. Belum lagi ditambah sama kelakuan tiga anak itu," keluh Konan sambil menyeka keringatnya. "Kalau saja tadi aku tidak pulang cepat karena kakashi sensei tidak masuk, pasti mereka sudah makan secara diam-diam. Dasar anak-anak nakal,"

Konan lalu juga membasuh kepalanya untuk mendinginkan kepalanya yang panas karena sengatan matahari, dan karena kelakuan anak-anak asuhnya tadi. Setelah itu, dia lalu menuju dikamarnya untuk beristirahat.

Pukul 4:00 sore

"Hei Itachi, kau lagi baca buku apa?" tanya Pein sambil memperhatikan Itachi yang sedang asik membaca sebuah buku.

"Baca komik," jawab Itachi singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

"Komik apa?"

"Detectif conan," jawab Itachi sambil menunjukan cover komik yang dibacanya.

"Haha... namanya seperti kak Konan ya."

"Hn,"

"Kau punya komik yang lain tidak?"

Itachi lalu menutup komiknya. "Coba kau cari saja disana," ucapnya sambil menunjuk ke sebuah kardus tempat dia menyimpan komik-komiknya.

Pein lalu mencari-cari komik yang ingin dibacanya.

"Aku pinjam yang ini ya?" tanya Pein sambil menunjukkan sebuah komik berjudul One Piece.

Itachi melirik singkat kearah Pein, "Iya, bawa saja," dan kembali meneruskan membaca komiknya.

Setelah mendapat izin dari si pemilik komik, Pein lalu menuju kehalaman belakang, tempat favoritnya.

.

.

.

"Selesai juga," ucap Pein dan menutup komik yang tadi di bacanya. Dia lalu melongok kedalam untuk melihat jam dinding.

Krucuk krucuk,

Terdengar suara perut Pein yang kelaparan. "Masih satu jam lagi, enaknya ngapain ya?" tanyanya seorang diri.

"Pein, Pein, temani aku main yuk," disaat Pein sedang sibuk berpikir, muncul Tobi dibelakangnya sambil membawa sebuah kotak besar yang penuh dengan mainan-mainan miliknya. Tobi menyebutnya sebagai 'kotak ajaib'

"Ga mau," ucap Pein acuh. Dia memang ingin mengisi waktu sebelum adzan maghrib, tapi bukan dengan menemani bocah menyebalkan seperti si Tobi ini.

"Sebentar saja deh~," pintanya dengan nada memelas.

"Biasanya kan kau main sama kak Konan. Sana, main dengannya saja." Ucap Pein sambil mengibas-ngibaskan tangannya kayak lagi ngusir ayam.

"Kak Konan lagi membantu nenek memasak didapur, dan dia memintaku untuk main denganmu. Ayolah Pein~," kali ini sibocah loli mengeluarkan tampang puppies eye terimutnya yang bahkan bisa membuat ibu-ibu tetangga pada berebut untuk memeluknya. Tapi berhubung Pein bukan ibu-ibu, dia cuma memutar bola matanya dengan tampang bosan. 'Kenapa harus aku sih,' batin nya. "Mau main apa?" tanyanya datar.

"Um... Mobil-mobilan?" tanya Tobi sambil mengeluarkan mobil-mobilan dari kotak ajaibnya layaknya doraemon.

"Tidak mau, yang lain," Jawab Pein malas.

Tobi pun mulai mencari mainan lainnya yang ada di kotak ajaib.

"Kapal-kapalan?" tanya Tobi lagi sambil menunjukan sebuah kapal-kapalan.

"Tidak seru, yang lain saja,"

"Perahu-perahuan?"

"Yang lain,"

"Boneka-bonekaan?"

"What the hell?" ucap Pein dengan tampang terkejut. 'Kau pikir aku ini cewek, hah?' batinnya gondok.

"Jadi, mau main boneka-bonekaan nih?" tanya Tobi yang gak tau arti dari bahasa inggris yang diucapin Pein barusan.

"Lupakan. Yang lain,"

"Hah~" Tobi pun terus mengacak-acak kotak ajaibnya, berharap dia menemukan mainan yang bisa membuat Pein main mau menamaninya bermain.

"Nah, kalau ini gimana, kau pasti mau kan?" tanyanya sambil menunjukan dua buah tembak-tembakan air.

"Tidak mau, itu akan membuatku tambah lapar," ucapnya sambil memegangi perutnya yang lagi keroncongan. 'Emangnya aku anak TK main tembak-tembakan air. Kalau tembakan beneran aku baru mau main, hahaha.' batinnya si rambut orange membayangkan dirinya yang lagi nembak-nembakin penjahat dengan senapan AK-47. Calon teroris nih kayaknya.

"Huh! Niat nemenin main gak sih?" rungut Tobi yang telah bersusah payah menunjukan mainan-mainan terbaiknya.

"Begini saja, bagaimana kalau kita main pura-pura mati. Kau mau kan?" tanya Pein sambil menyeringai kearah Tobi.

"Pura-pura mati?" tanya Tobi yang baru denger nama permainan yang tadi dibilang Pein. "Bagaiman cara mainnya?" tanyanya penasaran.

"Pertama-tama, aku akan tiduran disini," ucap Pein sambil merebahkan dirinya di balai. "Trus, aku akan menutup mataku dan tidak akan menanggapi semua yang kau katakan," ucapnya dan mulai memejamkan matanya.

"Oh, begitu ya," ucap Tobi paham. "Baiklah,"

1 menit

2 menit

"Pein?" tanya Tobi, tapi Pein tidak merespon. 'Jadi seperti ini ya mainnya,'.

3 menit

5 menit

10 menit

"Pein, terus aku ngapain?" tanya Tobi dengan tampang polos sambil menggoyang-goyangkan badan Pein.

"Ngok~ ngok~. zzzZzzzZZzz" Cuma dengkuran Pein yang menjadi jawaban dari pertanyaan Tobi tadi.

"Pein curang! Pein curang! Ini sih namanya tidur!" teriakanya sambil memukul-mukul kepala Pein.

"Aw aw aw aw," ringis Pein dan terbangun dari tidurnya. "Sakit bodoh!" teriaknya sambil menangkap tangan Tobi yang masih terus saja memukuli kepalanya.

"Ini sih sama aja gak main! Dasar Pein pembohong!"

"Aku bukan pembohong." Ucap Pein sewot. Walaupun dia suka berkelahi, tapi dia tidak suka berbohong.

"Kau pembohong, buktinya kau malah tidur tadi."

"Namanya juga main pura-pura mati, bodoh,"

"Kalau begitu aku gak mau main pura-pura mati," rungut Tobi lagi.

"Ha~," balas Pein bosan. "Sekarang kau mau main apa?"

"Aku tidak mau main lagi denganmu,"

"Baguslah kalau begitu," ucap Pein tersenyum senang. 'Akhirnya anak ini menyerah juga, khu khu khu.'

"Tapi kau harus temani aku ke kandang ayam,"

"Hah? Apa? Untuk apa aku kesana? Aku tidak mau." Tolaknya.

"Kalau begitu akan kulaporkan pada kak Konan kalau kau tidak mau menemaniku main," ancam Tobi.

"Iya iya, aku temani," ucap Pein malas. 'Bisa panas kuping ku kalau ngedengerin ocahan si nenek sihir itu,'

"YEA!" teriak Tobi puas dan segera menarik tangan Pein, menuju ke kandang ayam disamping rumah.

.

.

.

"Dei, kau sedang apa?" tanya Tobi yang melihat Deidara yang sedang berada didepan kandang ayam. Tampak di sekeliling Deidara ada ayam-ayam lucu yang selama ini dipeliharanya.

"Aku sedang memberi makan ayam, un," jawab Deidara dan memberikan tangannya yang berisi beras ke ayam-ayam tadi. Dengan segera, ayam-ayam tersebut langsung mematuki beras yang ada di tangannya.

"Sepertinya seru," tanggap Tobi dengan wajah antusias.

"Ya begitulah," tanggap Deidara dan melihat kearah Tobi. "Wah wah wah, kayaknya ada pengasuh baru nih, hahaha.." tawa Deidara yang melihat Pein sedang menggandeng tangan Tobi. Sontak Pein langsung melepaskan tangannya dari tangan Tobi dan memberikan deathglare ke Deidara.

"Boleh aku ikut memberi mereka makan?" tanya Tobi ke Deidara. Sepertinya dia sudah tidah perduli sama 'pengasuh barunya', ckckckck

"Boleh saja, nih," Deidara pun memberikan makanan ayam-berupa beras yang dipegangnya (dalam kaleng kecil) ke Tobi. Dituangnya sebagian beras tersebut ketangan kecil si bocah loli agar bisa ikut memberi makan ayam-ayam.

"Kau mau juga Pein?" tanya Deidara sambil menyodorkan kaleng beras ke arah Pein.

"Tidak perlu," jawabnya sinis.

"Ayam manis, ayam manis, kecini, kecini," panggil Tobi ke ayam-ayam didepannya sambil menyodorkan beras ditangannya.

Ayam-ayam tersebut mulai datang menghampiri Tobi dan memakan beras yang ada di tangannya.

"Ahahaha... geli, geli." Tawa Tobi yang mersa kegelian karena terkenan patukan-patukan ayam yang sedang memakan beras di tangannya.

Sementara itu, Pein hanya menyaksikan kelakuan Tobi, ralat ayam-ayam didepan Tobi dan mulai bergumam gak jelas, "Mereka terlihat sangat lezat," ucapnya sambil mengelap air liur dibibirnya.

"He? Maksudmu un?" tanya Deidara yang mendengar gumaman Pein.

"Ayam goreng, ayam bakar, ayam sayur, opor ayam," ucap Pein menyebutkan macam-macam olahan ayam sambil menunjuk ke arah ayam-ayam yang ada didepannya. Nampak air liur dibibirnya semakin meluncur deras kayak air terjun niagara. Lebay~

Deidara yang menyadari gelagat tidak beres dari temannya ini berusaha menyadarkan Pein. Tapi telat, Pein sudah terlanjur melancxarkan serangan ke kerumunan ayam didepannya.

"Akan kumakan kalian semua!" teriaknya heboh.

Petok! Petok! Kok! Petok!

Ayam-ayam pun langsung berhamburan untuk menghindari sergapan Pein yang liar dan membabi buta.

"Hentikan Pein! Jangan!" teriak Deidara yang khawatir atas keselamatan ayam-ayam yang tak berdosa -?- itu.

Pein yang yang sudah terlanjur hilang kendali tidak mendengar teriakan Deidara dan terus mengejar ayam-ayam tersebut. Sampai,

"Hosh hosh hosh..." napasnya tersengal-sengal setelah main kejar-kejaran sama ayam. "Dasar ayam-ayam sial, gara-gara kalian aku jadi tambah lapar!" rutuknya dan melempar sebuah batu ke ayam-ayam tadi, tapi tidak kena.

Bekok! Petok! Bekok! Kok!

Ejek ayam-ayam tersebut sambil menujukan ekor dan pantatnya ke Pein.

"Cih ayo kita pergi dari sini Tobi!"

Pein pun menarik tangan Tobi karena tidak tahan jika harus lama-lama berada disini.

"Tapi aku masih mau disini," ucap Tobi dan mendapatkan deathglare dari Pein. "Kalau begitu ke kolam ikan ya," ucap Tobi sambil menunjukan puppies eye nya lagi.

Tanpa banyak protes, Pein pun menurutinya. Sepertinya dia sudah kelelahan untuk berdebat dengan sibocah keras kepala yang sedang di gandengnya ini.

Begitu sampai dikolam ikan yang letaknya berada didepan rumah, disana sudah ada Kisame yang sedang memeberi makan ikan.

"Kisame, aku boleh ikutan gak?" tanya Tobi ke Kisame.

"Boleh, ini peletnya," jawab Kisame dan memberikan sebagian pelet (baca: makan ikan) yang dipegangnya ke tangan Tobi.

"Bukannya pelet itu yang seperti ini ya?" tanya Tobi sambil menjulurkankan lidahnya.

"Itu melet Tobi~," jawab Kisame sambil tersenyum

"Kau salah Tobi, pelet itu artinya jampi-jampi, hahaha..." ucap Pein ngelantur dan bikin Kisame swetdrop.

"Ayo Tobi, lemparkan peletnya!" seru Kisame memberi instruksi ke Tobi.

"Iya." Tobi lalu melempar atau menyebar pelet yang dipegangnya ke kolam dan langsung dimakan oleh ikan-ikan dengan lahap.

"Hahahaha... ikanya lucu ya," tawa Tobi yang melihat ikan yang monyong-monyong saat sedang memakan pelet-pelet yang dilemparnya tadi.

"Lihat Pein, ikannya monyong-monyong. Seperti ini." Terlihat Tobi mulai memonyong-monyongkan mulutnya seperti ikan-iksn tadi dan menunjukannya ke Pein.

Pein yang melihat aksi monyong-monyongan Tobi terlihat merinding geli. "Hentikan itu Tobi, atau kulempar kau kekolam," ancam Pein.

"Kisame, lihat ini," kini Tobi mengalihkan monyong-monyongan nya ke Kisame dan membuat Kisame jadi tertawa.

"Hahaha... Seperti ini ya," Kisame ikut memonyong-monyongkan mulutnya seperti Tobi dan mereka berduapun tertawa bersama.

'Anak-anak yang aneh,' batin Pein sweatdrop melihat tingkah mereka.

Setelah puas tertawa, Tobi dan Kisame kembali melanjutkan memberi makan ikan. Sementara itu Pein hanya mengamati ikan-ikan yang berada di kolam dan mulai berliur lagi. "Ikan bakar, ikan goreng, ikan asap, ikan pepes," ucapnya dan bersiap masuk kedalam kolam.

"Jangan Pein! Nanti kau tambah lapar!" teriakTobi dan menghentikan aksi brutal yang akan dilakukan Pein.

"Eh," Pein tersadar setelah mendengar suara cempreng Tobi barusan. "Sial! Tadi ayam yang makan, sekarang ikan yang makan. Kapan giliranku makan!" teriaknya frustasi.

Tak tak tak tak dug sug sug.

"Allahuakbar Allahuakbar..."

"Sudah adz-"

"Makan!"

Sebelum Kisame menyelesaikan ucapannya, Pein langsung berlari kedalam layaknya banteng ngamuk.

Kisame dan Tobi pun segera masuk kedalam untuk berbuka puasa, tentunya tidak berlari-lari seperti Pein tadi.

Puasa hari kedelapan, selesai.

TBC

Yea! Akhirnya bisa update dalam waktu seminggu. Gimana, ancur kah? Abal kah? Mudah-mudahan bisa menghibur. Untuk chapter terakhir insyaallah update sebelum lebaran. Sebelum berpisah, sun mau ngasih sedikit pantun.

Bulan ramadhan membawa rahmat

Ayo kita perbanyak mengajii

Daripada numpang lewat

Ayo dong klik yang dibawah ini. (riview)

Wasasalamuailikum.

Jaa minna! ^^/