Sebelum kechapter selanjutnya, sun minta waktu ya buat balesin rivewan kalian dulu yach, ^^
Balesan riview chapter 2
Cha2luvGaga
Haha.. Ya! Semangat! ^^/
Makasih ya dah rivew. Udah update nih, riview lagi ya.
Ren-Mi3 Novanta
Jiah, malah mikirin adzan maghrib, haha..
Iya, disini Tobi keliatan imut. Dan disini dia bukan Madara, kelak kan akan tau jawabannya, *kenapa kayak tebe ya?*
Crimson Fruit
Ia, disini Tobi gak pake topeng. Bayangin aja mukanya yang bullet kayak permen lolipop, matanya yang besar, dan idungnya yang mungil. Kayak apa tuh?
Arigatou
Yo! Dah update nih. Riview lagi ya,
Tsubaki Audhi
Waalaikumsalam.
Emang sok tau tuh Pein segala bilang "Allah gak bakal ngadu ke kak Konan," ujung-ujung nya ketauan juga, ckckck
Shogai Karin
Awalnya pengen Sun bikin "basuh muka kalian," tapi berhubung cuaca yang panas, sekalian aja jadi sun bikin "Basuh kepala kalian,"
Haha.. Sungak nyangka ternyata banyak yang suka pas bagian Pein bilang itu ya, haha..
Makasih ya dah riview. ^^
Hatakehanahungry
Iya, di chapter ini Sun banyakin Itachi nya, makasih ya dah riview, ^^
Dimitri Watson
Maklum, Kalau orang laper pikirannya emang makanan terus, makannya Pein inget semua jenis olahan ayam, haha.
Miki Yuiki Vessalius
Emang paling tuh bandel si Pein, tapi yang lain juga gak kalah bandel lho. Dichapter ini ada kenakalan-kenakalan yang pernah mereka lakuin sama mereka, walaupun gak semuanya.
Ai No Utsukushi Hikari
Makasih ya al dah riview, ^^
The Jammers C-ban.
Oke, bro.. *balesan apaan nih? =.='*
Risuki Taka
Kalau mau liat Akatsuki yang unyu-unyu ini silahkan search di google, 'Chibi Akatsuki,' lucu-lucu lho, ^^
Tiffany90
Makasih ya dah rivew dan jadiin sun sebagai author favorite kamu, ^^
DeiDei Rinnepero13
DeiDei! Lama gak berjumpa! *cipika-cipiki*digampar*
Tapi sayang sekali, di chapter ini Dei-chan akan menderita, fufufu *dibantai DeiDei*
DeiDei Rinnepero13
Iya, sun ini cowok, tapi kecewek-cewekan, *plak
Ambil aja Deidara nya, bilangin supaya gak nakal lagi, xp
Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura
Gak boleh! Sasorinya buat Sun! *tarik Sasori dari yuki*
Yup, susah ngilangin kesan cool dari Itachi, apalagi karena di manganya dia sering muncul.
Kurousa Hime
Oh.. begitu ya. Iya deh, ntar sun tulis pesan moral di chapter kemarin. Makasih ya sarannya.
Oke, sun akan membuat chapter ini lebih panjang dari sebelumnya, dan di chapter terakhir ini, sun akan membuat kalian semua para readers banjir air mata-mata, *yakin*
L-The-Mysterious
Typo lagi typo lagi, gara-gara si komo lewat, *plak.
Hah~ typo selalu jadi kekurangan Sun dalam membuat fic, ada yang bisa ngasih saran? Mudah-mudahan di chapter ini bisa di kurangin typonya.
Hikaru Kin
Haha.. namanya juga masih anak-anak, masih mudah terpengaruh sama bisikan Pein yang terkutuk-?-
Makasih ya dah fave, riview lagi ya,^^
Haru no Yuuchan999
Akhirnya kamu muncul juga yuu-chan! *ngelemparin C1 sebagai ucapan selamat datang, xp*
Oke, di chapter ini ka sun banyakin bagian Itachi nya. Semua demi kamu, halah.
Rhintan Prameswari
Siip, chapter ini adalah chapter terakhir yang di dalamnya ada hari lebarannya,
Okeh, itu tadi adalah balesan dari riview-riview kalian di chapter sebelumnya. Mohon maaf jika ada jawaban yang kurang puas dan penulisan nama yang salah. Buat yang minta pesan moral di chapter kemarin, berikut pesan-pesannya:
1. sesama teman harus saling menasihati dan mengingatkan, seperti yang dilakukan ketika Pein mau ke dapur untuk mencari-cari makanan
2. Jangan suka sok tau tentang kekuasaan Allah. Meskipun Allah gak bisa 'ngadu' ke manusia, tapi Allah punya cara untuk memberitahukannya. Seperti Konan yang pulang lebih cepat dari biasanya, siapa yang mengira kan?
Disclaimer Naruto : Masashi Kishimoto
Judul Fic: Chibi Akatsuki, Puasa
Author : Sun Setsuna
Warning : Typo(s), AU (setting kayak di indonesia), ada bahasa gak baku, sedikit OOC
Summary: Mau tau kisah Akatsuki kecil yang masih pada unyu unyu dalam menjalankan puasa? Cekidot.
Chapter 3: Hari Kemenangan
Panti asuhan Akatsuki. Jam 4 sore.
Tampak seorang anak dengan gaya rambut ngejabrik berwarna orange sedang duduk tenang sambil menikmati angin sepoi-sepoi di teras belakang rumah. Tapi ketenangannya itu tidaklah lama karena muncul seorang bocah polos nan lugu, tapi sangat menyebalkan baginya.
"Yei! Besok udah gak puasa! Gak terasa ya Pein sekarang udah hari terakhir puasa," ucap Tobi dengan perasaan senang sambil menghampiri Pein.
"Ya iyalah gak terasa, kau kan gak puasa, Tobi," ucap Pein dengan nada sinis.
"Enak aja, Tobi puasa juga tauk, Tobi kan anak baik," balas Tobi sambil menjulurkan lidahnya.
"Tapi kau cuma puasa setengah hari kan? Itu sama aja gak puasa!" balas Pein jengkel.
"Puasa!"
"Enggak!"
"Puasaaaaaaaa!"
"Enggaaaaak!"
Keduanya terus beradu mulut sampai Konan datang melerai mereka. "Sudah-sudah jangan bertengkar. Kalian lagi ngeributin apaan sih?"
"Ini kak, masa Pein bilang aku ini gak puasa. Aku kan puasa ya kak?" ngadu Tobi ke Konan sambil bermanja-manja ria ke Konan. Sun juga mau~ *plak
"Cih," dengus Pein tidak suka melihat tingkah si bocah loli tadi.
"Iya-iya, Tobi puasa kok," jawab Konan supaya mereka gak terus-terusan adu mulut. "Tobi mau ikut kakak gak?" Tanya Konan ke Tobi.
"Kemana kak?" Tanya Tobi dengan antusias.
"Kita kepasar yuk, cari kue-kue buat lebaran besok,"
"Mau mau mau." Jawabnya semangat kayak iklan operator seluler. "Tapi nanti belikan permen ya?" jiah, ternyata ada maunya.
"Iya iya, nanti kakak belikan,"
"Asik!"
Mereka berdua pun pergi kepasar untuk membeli kue-kue untuk lebaran esok.
.
.
.
"Pein, kita kelapangan yuk," ajak Sasori ke Pein yang kini sedang tidur-tiduran, masih di teras belakang, tempat favoritnya.
"Hoam.. Mau main apa?" tanyanya rada mengantuk.
"Kita mau main bulu tangkis, tapi gak seru kalu cuma bertiga," jawab Sasori sambil melirik ke Deidara dan Itachi yang ada disebelahnya. Tampak ketiganya telah siap dengan raket masing-masing.
"Iya Pein, gak seru kalau cuma bertiga," tambah Deidara.
"Kenapa tidak mengajak Hidan?"
"Tadi kami sudah mengajak Hidan, tapi dia lagi sibuk bersemedi di bawah pohon mangga tuan Hashirama, gak mau diganggu katanya," jawab Deidara dan bikin Pein sweatdrop.
'Kebanyakan nonton ki joko bodo kayaknya tuh anak,' batin Pein. "Zetsu kemana?"
"Zetsu lagi ngawasin Hidan, takun Kalau Hidan ngambil mangga milik tuan Hashirama," jawab Itachi.
"Oh.. kalau Kakuzu?"
"Dia lagi sibuk ibadah," jawab Sasori dan bikin Pein sedikit terkejut.
"Wuidih.. hebat juga tuh Kakuzu," ucap Pein kagum. "Emang dia ibadah apaan?" Tanya Pein penasaran.
"Ibadah tidur,"
Gubrak!
"Se-sejak kapan tidur jadi ibadah?" Tanya Pein bingung.
""Di bulan ramadhan, tidur adalah ibadah". Begitu kata Kakuzu."
'Bah.. kayak gak ada ibadah yang laen aja,' batin Pein sweatdrop.
"Gimana, ikut main gak?" Tanya Itachi.
"Iya dah, aku ikut," jawabnya lalu bangun dari tidurnya dan mengambil raket miliknya dikamar.
-Sun setsuna-
"Sepertinya kak Konan belum pulang," ucap Itachi pelan. Tampak dia sedang mengintip dari pintu belakang, kemudian membuka pintu tersebut dengan perlahan-lahan.
"Pelan-pelan bukanya Itachi, jangan sampai ketahuan," ucap Pein pelan.
"Iya, jangan sampai ketahuan," tambah Sasori.
"Iya un, pelan-pelan bukanya un,"
"Berisik! aku juga mengerti!" jawab Itachi rada sewot.
Tampak mereka berempat sedang masuk kerumah (baca: panti) dengan gelagat layaknya gerombolan pencuri.
"Apanya yang gak ketauan, hah?" tanya Konan yang suaranya berasal dari dapur. Pasti ketahuan karena suara Itachi tadi.
'Gawat.' Batin mereka berempat.
"Ya ampun Pein!" teriak Konan kaget begitu melihat keadaan Pein. Wajah anak tersebut babak belur, bibirnya berdarah, dan bajunya kotor dengan debu. "Apa yang kau laukan Pein? Kau pasti habis berkelahi ya?" Tanya Konan dengan nada marah.
"…." Yang ditanya hanya diam saja dan malah membuang muka, sedangkan yang lain cuma bisa bergedik ngeri.
"Jawab kakak Pein!" bentak Konan kesal. "Kau kan sudah janji untuk tidak berkelahi!"
"Aku tidak berkelahi," jawab Pein pelan.
"Mana mungkin kau bisa babak belur kalau tidak berkelahi!"
"Aku tidak berkelahi!" balas Pein berteriak.
"Jangan bohong Pein!"
"Aku tidak bohong!"
"Pein!"
"Aku tidak berkelahi!"
Plak!
Saking kesalnya, tangan kanan Konan melayang dan mendarat tepat diwajah Peinmenamparnya.
Suasana hening, Itachi, Sasori, dan Deidara yang menyaksikan hanya bisa terkejut. 'Baru kali ini kak Konan menampar di wajah, biasanya kan hanya di pantat,' batin mereka.
"Aku benci kakak!" teriak Pein dan langsung berlari kekamar.
Brak!
Terdengar suara pintu kamar tersebut ditutup dengan sangat keras.
"Dasar kau anak nakal!" balas Konan berteriak.
"Kak," panggil Sasori pelan.
"Apa!" bentak Konan yang masih emosi dan bikin Sasori jadi takut dan berlindung dibalik Deidara.
"Kau saja Dei yangbilang," bisik Sasori dari balik punggung Deidara.
"Itu.. umm… un…un… un…." ucap Deidara gemeteran.
"Apa! Kalau ngomong yang jelas! An un an un!" bentak Konan lagi.
"Yaiii!" Deidara pun jadi takut dan berlindung di balik Itachi, begitu juga dengan Sasori. Konan yang lagi emosi emang bisa bikin nyali anak-anak nakal ini jadi ciut.
"Itachi, kau saja yang bicara," ucap Sasori yang kini sudah berada dibalik punggung Itachi.
"Iya un, kau saja Itachi," ucap Sasori dibelakang Itachi juga.
"Apa!" bentak konan kemereka bertiga.
"I-itu kak. Tadi Pein memang tidak bohong," ucap Itachi mencoba memberanikan diri.
"Kalian ini sedang menutupi kesalahannya ya?" Tanya Konan penuh curiga.
"E-enggak kok kak, Pein memang tidak berkelahi." Jawab Itachi dan mendapat anggukan dari Sasori dan Deidara dibelakngnya.
"Apa maksud kalian? Mana mungkin dia babak belur kalau bukan karena berkelahi?" tanya Konan bingung.
"Jadi ceritanya begini kak."
Flashback.
Tampak Pein, Itachi, Sasori, dan Deidara sedang bermain bulu tangkis dilapangan dekat taman.
"Jadi, kau yang bernama Pein?" Tanya seorang anak berambut hitam gondrong sambil menghampiri Pein dan yang lainnya, tampak disebelah kanannya seorang anak berambut hitam panjang kayak abis di ribonding. Dan disebelah kirinya ada seorang anak berkacamata dengan berambut berwarna putih dan muka yang ngeselin.
"Iya, aku Pein, ada apa?" tanya Pein datar sambil memperhatikan ketiga anak tersebut.
"Namaku Madara. Dan ini teman-temanku, Orochimaru, dan Kabuto."
"Hn," tanggap Pein acuh.
"Kami dengar kau ini paling jago berkelahi," Ucap Orochimaru sambil menjulurkan lidahnya. Ciri khas cuy~.
"Langsung ke intinya saja deh, aku lagi gak punya banyak waktu nih," ucap Pein yang ingin meneruskan bermain bulu tangkis bersama yang lainnya.
"Kami menantangmu untuk berkelahi," jawab Madara.
Siing… efek angin lewat biar tambah seru.
"Hem, Aku sedang tidak ingin berkelahi, lain kali saja," jawab Pein cuek dan memalingkan wajahnya dari mereka.
"Apa kau bilang? Kami ini sudah jauh-jauh datang kemari hanya untuk menantangmu tauk!" teriak Kabuto emosi. Jauh dari hongkong, cuma beda RW doang kok, dasar anak kecil.
"Dibilang gak mau ya gak mau un!" ucap Deidara kesal.
"Diam kau banci!" teriak Kabuto mengatai Deidara.
"Eh, apa-apan kau ngatain temenku!" bela Sasori.
"Jangan ikut campur kau, cebol," ucap Orochimaru ikut-ikutan ngatain Sasori.
"Apa kau bilang!" teriak Sasori ikuran emosi.
"Sudah Sasori, Deidara, jaga emosi kita. Kita ini lagi puasa kan?" ucap Itachi mengingatkan teman-temannya. Cie-cie, lain dah yang pemikirannya dewasa, uhuhui.
"Iya, aku lupa, (un)," jawab Deidara dan Sasori yang mulai tenang.
"Wah wah wah, masih kecil kok bicaranya sok dewasa banget. Pasti karena keriputmu itu kan, hahahaha…" ejek Orochimaru disertai tawa dari mereka bertiga.
"Wuapa! Ngomong apa kau barusan! Ngajakin berantem ya! Hah! Maju kau Kalau berani!" kali ini giliran Itachi yang emosinya kepancing. Jiah, =.='
"Itachi, puasa puasa," ucap Sasori sweatdrop sambil megangin Itachi yang udah ngotot mau berantem.
"Lepasin sas, emang mesti dikasih pelajaran nih si muka uler! Ngomong gak di ayak!" teriak Itachi sambil berusaha melepaskan pegangan Sasori.
"Itachi, tenangkan dirimu!" perintah Pein sambil menatap tajam ke Itachi dan membuatnya tanang kembali. Wuidih, aura pemimpinnya keluar.
"Ma-maafkan aku," ucap Itachi sambil menunduk.
"Ayo kita pulang saja," ajak Pein sebelum mereka semua terpancing oleh provokasi Madara dan yang lainnya.
"Iya,' jawab ketiganya dan mengikuti langkah Pein.
"Dasar kau pengecut!" teriak Kabuto berusaha memprovokasi, tapi jagoan kita tidak menghiraukannya.
"Biar aku saja," ucap Madara kepada teman-temannya. "Hei kau Pein. Aku dengar kau ini… anak buangan ya?"
Ngek!
Sebuah ucapan pendek dari lidah tak bertulang seorang Madara sepertinya cukup berpengaruh pada Pein. Tampak jagoan kita menghentikan langkahnya, terkejut dengan ucapan dari Madara. Ekspresinya langsung berubah marah begitu mendengar ejekan dari anak berambut gondrong terebut. Memang, menurut desas-desus yang beredar di sekitar panti, Pein ini adalah anak buangan hasil hubungan gelap kedua orang tuanya. Walaupun belum tentu benar, hal tersebut bukanlah menjadi kata yang enak didengar di telinga Pein.
"Pein," ucap Deidara lirih.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Itachi khawatir.
"Kalian pulang saja duluan, biar aku yang menghadapi mereka,"
"Kau yakin?" tanya Sasori.
"Kau lupa ya aku ini siapa?" tanyanya rada kesal.
"Tapi kau kan lagi puasa, pasti tenagamu tidak seperti biasanya,"
"Sudah pergi sana!" teriaknya emosi.
"Iya, kami mengerti." Jawab ketiganya dan mulai menjauhi Pein, tapi mereka tidak langsung pulang tapi bersembunyi dibalik pohon untuk mengawasinya dari jauh.
Pein mulai menghampiri ketiga anak nakal tersebut sambil meregangkan jari-jarinya.
"Tarik ucapanmu yang tadi, atau kau akan menyesal," ucap Pein dengan wajah marah.
"Uuu takut, haha.." ledek Kabuto. Ngeselin kan nih anak.
"Satu lawan tiga, ayo kita mulai," ucap Pein sambil mengambil kuda-kuda berkelahi.
Hiat!
Dengan cepat Madara langsung melancarkan pukulannya kearah Pein, tapi dengan mudah Pein menghindarinya. Orochimaru pun tak mau kalah dengan menendang Pein dari samping, tapi Pein berhasil menangkisnya. Kemudian Kabuto berusaha memukulnya dari belakang, tapi Pein juga dapat menghindarinya dengan mudah.
"Sekarang giliranku!" teriaknya dan mengarahkan pukulannya ke Madara.
Hiat!
Siing,
Sesaat sebelum pukulanya menyentuh wajah Madara, tiba-tiba saja pukulannya terhenti 'A-aku, tidak bisa melakukannya,' batin Pein seperti teringat akan sesuatu.
Madara yang melihat kesempatan tersebut tidak menyia-nyiakannya. Dia langsung memberikan pukulan ke perut Pein.
"Argh!" ringis Pein sambil memegangi perutnya.
"Orochomaru! Kabuto! Pegangi dia!" perintah Madara.
"Siap!" jawab keduanya dan langsung memegangi masing-masing tangan kanan dan kiri Pein.
Buagh! Buagh! Bugh! Buagh!
Madara terus menyerang badan dan wajah Pein secara bertubi-tubi, dan Pein sendiri hanay diam saja saat dipikuli.
"Pein!" teriak Sasori dan yang lain dari kejauahan dan berlari mendekati Pein, berniat untuk membantunya.
"Pergi!" teriak Pein pada ketiga orang temannya tadi.
"Tapi Pein!"
"PERGIII KATAKU!" teriak Pein lebih keras.
Dengan berat hati, ketiga anak tersebut akhirnya menuruti perintah Pein untuk meninggalkannya.
"Berisik!" teriak Madara dan kembali memukuli Pein.
"Argh!".
Setelah puas menghajar Pein sampai babak belur, Madara dan dua orang temannya pun melepaskan Pein yang kemudian jatuh tersungkur di tanah.
"Ternyata cuma begini saja, cuih." Ucap Orochimaru sambil meludahi Pein yang sudah tidak berdaya.
"Sekarang akulah anak paling kuat di daerah ini, hahahaha…" ucap Madara sambil tertawa nista. "Ayo teman-teman, kita pergi dari seni," ajak Madara pada yang lainnya dan meninggalkan tempat tersebut.
"Baik," jawab keduanya dan mengikutinya.
"Sial," geram Pein sambil mengepalkan tangannya.
Setelah dirasa cukup aman, Sasori, Deidara, dan Itachi kembali menghampiri Pein. Ternyata mereka tidak benar-benar pergi meninggalkannya tadi.
"Kau tidak apa-apa Pein?" tanya Itachi pada Pein sambil berusaha membantu berdiri Pein yang masih tersungkur di tanah.
"Kau ini bagaimana Itachi, udah tau babak-belur begitu masih ditanya baik-baik saja apa tidak," protes Sasori.
"Terus aku mau tanya apa dong? Udah makan apa belum?" tanya Itachi rada kesal. Malah gak nyambung kalau nanaya begitu.
"Sudah-sudah, aku tidak apa-apa, ukhuk uhuk.." ucap Pein dengan terbatuk-batuk.
"Kau kenapa sih un, kenapa kami tidak boleh membantumu tadi?" Tanya Deidara. "Kami ini kan temanmu,"
"Justru karena kalian temanku aku menyuruh kalian pergi," ucap Pein dan membuat yang lainnya bingung.
"Maksudmu?" Tanya Itachi.
"Mereka bukanlah lawan yang sebanding dengan kalian, aku bisa tahu saat aku menerima pukulannya. Kalau kalian berkelahi dengan mereka, maka kalian hanya akan babak belur. Hanya aku yang bisa melawan mereka."
"Lalu kenapa kau tadi tidak melawan mereka? Tadi kulihat kau sudah hampir berhasil memukul anak yang bernama Madara itu, tapi kau malah berhenti. Kau ini kenapa?"
"Itu karena…." Jawab pein menggantungkan kalimatnya. "Aku sudah berjanji."
Second Flashback (ada di chapter 1)
"Kakak ingin kau berjanji sesuatu," ucap Konan pada Pein.
"Janji apa?" tanya Pein.
"Hari ini kan sudah mulai puasa, kakak minta kau untuk tidak berkelahi, minimal selama bulan puasa,"
"Tidak berkelahi? Yang benar saja!" protes Pein yang merasa keberatan dengan janji yang diminta Konan.
"Kau harus bisa mengendalikan emosimu Pein, masa satu bulan saja tidak bisa. Katanya kau ini jagoan, masa janji begitu saja tidak sanggup. Dasar jagoan payah," ejek Konan memanas-manasi Pein.
"Aku ini bukan jagoan payah tauk!"
"Jagoan payah! Anak ayam!" ledek Konan lagi.
"Baiklah, akan kubuktikan kalau aku bukan jagoan payah!"
"Janji tidak berkelahi?" tanya Konan untuk memastikannya.
"Tapi satu bulan saja,"
"Janji?"
"Iya, aku janji. Janji seorang jagoan!" ucap Pein dengan yakin sambil menunjuk kedirinya.
"Kalau kau melanggarnya?"
"Aku tidak akan melanggarnya!" teriak Pein ngotot.
"Ya ya ya. Baikalah, kakak pegang janjimu."
End of double Flashback
Deg!
Konan sangat tersentak begitu mendengar cerita yang sebenarnya. Cairan bening mulai membasahi kedua bola matanya hingga perlahan-lahan jatuh tanpa dipinta. Badannya bergetar hingga lututnya terasa lemas dan jatuh besimpuh karena tak kuat menahan tangis dan sedih yang di rasakannya.
"Apa yang telah aku lakukan, hiks.. hiks." Ucapanya sambil terus menangis. Perasaan bersalah terus melintas dipikirannya. "Anak itu, dia sampai rela babak belur hanya untuk memegang janjinya padaku, hiks.. hiks.." semakin dalam ia mengingat nya, semakin deras pula air mata yang keluar dari pelupuk matanya. "Dia bahkan mengorbankan dirinya untuk teman-temannya. Tapi apa yang telah kulakukan? Hiks.. hiks.."
"Kakak kenapa?" Tanya Itachi bingung karena melihat Konan yang tiba-tiba saja menangis begitu dia selesai bercerita.
"Tangan ini…" ucap Konan lirih ambil menatap tangan kanannya yang juga bergetar. "Aku sudah menuduhnya, dan juga menamparnya, hiks.. hiks… Aku… aku…"
Ucapnya semakin sedih dan langsung berlari keaarah kamar Pein.
Ceklek ceklek
"Dikunci dari dalam," pikir Konan karena pintu kamar Pein tidak bisa dibuka. "Pein! Ini kakak, kakak mau minta maaf!" teriak Konan didepan pintu kamar.
"Kakak jahat! Aku benci kakak!" teriak Pein dari dalam kamar.
Deg!
Kalimat tersebut terdengar lebih menyedihkan dari kalimat apapun yang pernah Pein katakan kepadanya.
'Dia benar-benar marah,' batin Konan yang terus menangis sambil menyesali perbuatannya. "Kakak benar-benar menyesal Pein! Maafkan kakak!" teriaknya lagi.
"Aku tidak mau bicara pada kakak lagi!" teriak Pein.
"Kak, sudah mau maghrib, kakak tidak buka puasa?" tanya Itachi dari belakang Konan.
"Kalian duluan saja, tolong pimpin doanya ya Itachi," pinta Konan sambil menyeka air matanya terlebih dahulu.
"Iya," jawab Itachi sambil memperhatikan punggung Konan yang masih menghadap ke pintu kamar. 'Apa yang sebenarnya terjadi?' batinnya bertanya-tanya.
"Tidak apa-apa kalau kau benci sama kakak, tapi keluar dulu Pein, sebentar lagi mau maghrib!" teriak Konan berusaha membujuk Pein.
"….." tidak ada jawaban dari Pein.
"Anak itu benar-benar tidak mau bicara lagi padaku. Tapi… ini semua memang kesalahanku," pikir nya semakin sedih.
"Allahu akbar Allahu akbar.."
Kumandang adzan maghrib menandakan puasa hari terakhir telah selesai.
"Alhamdulillah!" seru anak-anak Akatsuki yanglainnya begitu mendengar suara adzan. Lengkaplah sudah puasa mereka selama satu bulan ini.
"Aduh~ perutku lapar sekali~" keluh Pein sambil mengelus-elus perutnya.
"Itachi, boleh kakak minta tolong sesuatu?" Tanya Konan pada Itachi yang akan memasukan suapan pertamanya kedalam mulut.
"Minta tolong apa kak?" Tanya Itachi yang menghentikan suapan pertamanya.
"Tolong bawakan ini ke Pein ya," jawab Konan sambil menyerahkan sepiring nasi beseta lauk pauknya. "Kalau kakak yang memberikannya pasti dia tidak akan mau membukakan pintunya. Dan…"
"Dan apa kak?" Tanya Itachi sambil menerima piring tersebut.
"Tolong bujuk dia untuk memaafkan kakak," pintanya lagi.
"Hm, iya, aku mengerti." Ucap Itachi paham. "Trus aku makannya kapan kak?" Tanya Itachi sambil mengamati teman-temannya yang lagi enak-enaknya makan.
"Oh.. iya, maaf. Kau makan saja didalam sama Pein."
"Di kamar?" Tanya Itachi ragu. Soalnya selama ini Konan melarang mereka untuk makan dikamar karena bisa mengotori kamar.
"Untuk kali ini saja. Tapi jangan berantakan ya," jawab Konan.
"Tobi juga mau makan dikamar!" teriak Tobi yang nyamber aja kayak bensin.
'Ikut-ikutan aja nih anak,' batin Itachi gondok. "Kau makan disini saja," ucap Itachi pada Tobi.
"Iya betul, kalau kau makan dikamar, bisa berantakan kamar kita. Cara makanmu itu kan masih acak-acakan kayak bebek," ledek Deidara.
"Enak aja, makan Tobi tuh gak kayak bebek kok, tapi kayak itik," sangkal Tobi.
'Bebek sama itik tuh mirip, bodoh,' batin Deidara sweatdrop.
"Pokoknya Tobi mau makan dikamar!" rengeknya nyolot.
'Pengen aku ledakin aja nih anak pake C4,' batin Deidara kesel ngeliat tingkah manja Tobi.
(Sun : Oi oi, gak ada yang bisa ninja-ninjaan di cerita ini, =,=')
"Tobi makan disini saja ya, soalnya kalau kak Konan makan gak ngeliat muka Tobi tuh… kayak ada yang kurang," rayu Konan sambil tersenyum manis.
"Iya deh, Tobi makan disini aja, Tobi kan anak baik,"
Gubrak!
"Tuh anak ngapa bisa langsung berubah begitu kalau dinasehatin sama kak Konan?" pikir Deidara dan Itachi heran.
"Nah Itachi, sekarang kau pergi sana,"
"Iya kak,"
Tok tok tok
"Pein ini aku, Itachi."
"Mau apa? Kalau kau mau membujukku untuk memaafkan kak Konan aku tidak mau," tanya Pein.
"Sejak kapan nih anak bisa baca pikiran?" pikir Itachi yang jadi bingung mau ngomong apa. Tapi dia gak kehilangan akal, kan uchiha jenius. "Kau mau makan tidak? Kalau tidak mau ya sudah,"
Ckelek cklek
Dengan cepat Pein langsung membuka pintu tersebut, "Mana makanannya?" Tanya nyad engan antusias.
"Eit, tunggu dulu. Aku juga mau makan didalam," tawar Itachi.
"Iya dah gak papa, udah laper banget nih," ucap Pein yang tanpa banyak kompromi langsung menyetujui tawaran Itachi dan membiarkannya masuk kedalam.
'Penyusupan berhasil,' batin Itachi sambil memberikan jempolnya ke Konan.
"Hei Pein, kau masih marah sama kak Konan ya?" Tanya Itachi sambil makan dan juga memperhatikan Pein yang lagi makan kayak orang kesurupan.
"He eh," jawab Pein singkat sambil terus makan. Maklum saja, perutnya terasa sangat lapar setelah bermain bulu tangkis dan dipukuli anak-anak nakal.
"Bulan Ramadhan kan gak boleh marah begitu Pein," ucap Itachi mencoba menasihati.
"Ini kan bukan bulan ramadhan lagi, udah ganti syawal, jadi aku bebas marah dengan siapapun," sangkal Pein. Bener juga tuh anak.
"Kenapa sih kau sampai marah ke kak Konan, dia kan gak sengaja tadi,"
"Kak Konan jahat, sudah kubilang kalau aku tidak berkelahi tapi dia malah tidak percaya, aku kan bukan pembohong," ucap Pein kesal, sambil tetap makan tentunya.
"Hem, yasudah kalau begitu." Ucap Itachi yang sepertinya tidak tau harus bicara apa lagi.
"Aku sudah selesai nih makannya, nih piringnya," ucap Pein sambil menyerahkan piring kosong ke Itachi.
'Kok aku jadi kayak babu sih?' pikir Itachi gondok.
Setelah menyelesaikan makannya, Itachipun keluar dari kamar.
"Ehmm Pein, sampai kapan kau mau marah sama kak Konan?"
"Mungkin selamanya," jawabnya enteng.
"Coba deh kau ingat-ingat lagi kebaikan kak Konan selama ini," ucap Itachi dan keluar dari kamar tersebut.
Setelah Itachi keluar, Pein mulai memikirkan kata-kata Itachi terakhir tadi. Dia mulai mengingat-ingat kebaikan Konan padanya selama ini. Mulai dari merawatnya saat dia sakit, dipanggil dan omeli kepala sekolah gara-gara Pein sering berkelahi di sekolah, dan juga kebaikan-kebaikan lainnya.
"Bagaimana Itachi, berhasil tidak?" Tanya Konan penuh harap.
"Tadi aku sudah berusaha menasihatinya, tapi sepertinya dia masih marah sama kakak," jawab Itachi.
'Benar-benar keras kepala anak itu. Tapi, aku juga sih yang salah,' batin Konan yang merasa bersalah karena telah menampar Pein. "Terima kasih ya Itachi,"
"Iya, sama-sama kak,"
-Sun Setsuna-
Jam 8 malam
"Kau belum jalan takbiran, Zetsu," tanya Konan pada Zetsu yang sedang menonton tv.
"Sebentar lagi kak, nunggu yang lain,"
"Takbiran itu apa Zetsu?" tanya Tobi yang lagi ikut nonton tv disebelah Zetsu.
"Takbiran itu artinya mukul bedug." Jawab Zetsu, ngaco.
"Takbiran itu artinya mengumandangkan takbir, sebagai tanda kebesaran Allah, dan sebagai tanda kemenangan karena kita telah berhasil berpuasa di bulan Ramadhan," jelas Konan. Ini baru bener.
"Bedug itu apa?" Tanya Tobi lagi. Maklum, nih anak kan belum pernah ngeliat yang namanya bedug.
"Bedug itu bentuknya besar, di tengahnya bolong, dan…."
"Kayak donat ya? berarti bisa dimakan dong," sela Tobi yang berpikir kalau bedug itu adalah sebuah makanan. =,='
"Bukan kayak donat! Dengerin dulu kalau orang ngomong," sewot Zetsu yang omongannya disela. "Bedug itu terbuat dari kayu atau tong besi, dan diatasnya ditutup pake kulit sapi atau kambing. Makan tuh bedug, whahaha.. " ejek Zetsu tertawa puas.
"Tobi kan gak tau," ucap Tobi sambil memonyongkan bibirnya karena kesal.
"Oi rame banget nih kayaknya!" ucap Kisame yang baru keluar dari kamar bersama yang lainnya, termasuk Pein. Sepertinya lukanya tidak terlalu parah, hanya ada sedikit bekas lebam yang masih nampak diwajahnya..
"Kalian kok lama banget?" tanya Zetsu pada teman-temannya.
"Biasa, artis kita dandan dulu," jawab Kisame sambil melihat ke Sasori.
"Hehehehe.." yang diliatin cuma ketawa-keteawa gaje. Dasar Sasori genit, takbiran aja pake dandan. Tapi gak papa deh, biar tambah imut, *peyuk-peyuk Sasori*dibantai Sasori FG*
"Tobi ikut ya, Tobi mau ikutan takbiran juga,"
"Kau dirumah saja ya Tobi. Kakak tidak ikut takbiran, jadi tidak bisa jagain kamu," ucap Konan ke Tobi. Tau sendiri kan kalau Tobi ikut, pasti bukannya takbiran tapi malah bercanda, maen sama anak-anak, atu malah jajan makanan yang gak jelas. Dan biasanya cuma Konan yang bisa nyegah tuh anak buat ngelakuin itu semua.
"Hwee! Pokonya Tobi mau ikut! Tobi mau ikut!" rengeknya sambil guling-guling dilantai.
"Hadeuh, mulai lagi deh. Itachi, kau mau menjaga Tobi tidakk sambil takbiran?" Tanya Konan ke Itachi.
"Aku tidak mau," jawab Itachi.
"Sasori, kau mau tidak?" Tanya Konan ke Sasori.
"Masa udah cakep-cakep begini malah disuruh jagain anak kecil, ckckckck" jawab Sasori bernarsis ria.
"Kau Kisame?"
"Ogah,"
"Deidara?"
"Gak mau un,"
"Hidan?"
"No way," sok inggris
"Zetsu?"
"…" geleng-geleng.
"Kakuzu?"
"Wani piro? fufufu.." jawab Kakuzu dan membuat Konan menyesal telah bertanya kepadanya.
"Pein?"
"…." Mengacungkan kepalan tangannya ke Tobi. Masih gak mau bicara.
"Tuh kan, gak ada yang bisa ngejagain Tobi, Tobi takbiran dirumah sama kakak saja ya?"
"Tapi Tobi minta gendong ya," pintanya pada Konan.
"Dasar anak manja," batin para Akatsuki yang lain. Ngiri? Entahlah.
"Tapi sebentar saja ya?"
"Iya dah ga papa," jawabnya senang.
"Ayo berangkat teman-teman!" komando Pein ke yang lainnya.
"YA!"
.
.
.
Jam 9 malam
"Hua! Hua! Hua!" jerit tangis Deidara terdengar memecah keheningan suasana panti. Baru satu jam pergi kemasjid untuk takbiran tapi dia sudah pulang lagi dengan ditemani Sasori.
"Kok kalian sudah pulang? Pake nangis juga lagi si Dei," tanya Konan bingung dan menghampiri keduanya.
"Tangan ku un, hua hua hua…" jawab Deidara sambil menunjukan tangan kanannya yang berdarah.
"Ya ampun Deidara, tanganmu kenapa itu?" Tanya Konan cemas.
"Hua.. hua.. hua…" yang ditanya masih saja menangis.
"Begini kak," Sasori mulai buka suara sebagai perwakilan mulut deidara yang lagi sibuk mengangis. "Tadi Deidara salah lempar."
"Salah lempar apanya?" Tanya Konan bingung.
"Itu kak, Waktu yang lain sedang takbiran di masjid, aku dan Deidara kan main petasan. bukannya ngelempar petasannya, Dei malah ngelempar korek nya, trus petasannya meledak deh ditangannya,"
"Dasar bandel! Bukannya takbiran malah main petasan, rasain!" marah Konan sambil ngejewer Deidara.
"Maaf un, hua hua hua.."
"Sudah, jangan menangis. Sasori, kau ambilkan air hangat, lap bersih, dan peralatan P3K," perintah Konan ke Sasori.
"Iya kak," jawab Sasori lalu mengambil semua peralatan yang diminta Konan.
"Ini kak," tampak Sasori sedang menyerahkan peralatan-peralat tersebut ke Konan.
"Kemarikan tanganmu, biar kakak obati," pinta Konan ke Deidara. Deidara pun mengulurkan tangan kanannya yang berdarah, lalu Konan mulai membersihkannya perlahan-lahan dengan menggunakan lap yang telah di celupkan kedalam air hangat yang diberi sedikit alkohol.
"Aduh! Aduh! Pelan-pelan kak, perih un!" ringis Deidara begitu lap tersebut menyentuh permukaan telapak tangannya yang terkena ledakan petasan.
"Mangkanya jangan nakal. Sabar, sedikit lagi,"
Setelah dibersihkan, lalu tangan Deidara mulai diberikan obat merah dan ditutup dengan perban.
"Sudah selesai, kau tidur saja sana," perintah Konan pada Deidara.
"Eh Dei, tanganmu lucu dah dibungkus begitu, jadi kayak lontong, hahaha.." ledek Sasori sambil tertawa geli.
"Sakit tauk un," ucap Deidara manyu.
"Salah sendiri bandel," ucap Konan kembali memarahi Deidara. Tapi tetap saja dia mengobatinya.
"Iya kak, maaf,"
"Sasori, kau kembali kemasjid ya, dan bilang sama yang lain untuk tidak bermain petasan,"
"Iya kak," jawab Sasori dan kembali meneruskan takbiran di masjid bersama yang lainnya,
.
.
.
Pagi hari. Jam 5.00
Tampak 9 orang anak laki-laki sedang bersiap-siap untuk melaksanakan sholat idul fitri. Mereka semua mengenakan baju yang bagus hasil pemberian Minato Namikaze, sang pemilik panti asuhan terebut.
Pein, dia mengenakan celana panjang berwarna hitam dan baju koko berwarna orange, sama seperti warna rambutnya yang dibiarkan terlihat karena tidak mengenakan peci.
Kemudian Itachi, dia mengenakan celana panjang berwarna hitam, baju koko tanpa kancing berwarna abu-abu, dan peci berwana hitam yang menutupi rambut hitamnya.
Zetsu, dia menggunakan sarung bermotif garis–garis, baju koko berwarna hijau, dan kopiah berwarna putih.
Kisame, dia mengenakan sarung dan baju koko berwarna biru, dan kopiah berwarna biru juga. 'I love blue,' batinnya.
Sasori, dia mengenkanan celana panjang berwarna hitam dan baju koko berwarna merah, tanpa menggunakan kopiah.
Lalu ada Deidara yang mengenakan celana panjang berwarna hitam dan baju koko berawarna kuning tanpa kopiah juga.
Lalu Tobi yang mengenakanan baju gamis berwarna putih dan kopiah berwana putih cerah, membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Jadi pengen meluk nih anak. :')
Kakuzu, dia mengenkan celana panjang berwarna hitam, baju koko berwarna abu-abu dan peci warna hitam.
Berikutnya ada Hidan. Dia menggunakan sarung bewrmotif kotak-kotak, baju koko berwarna putih, dan sebuah sorban yang dililitkan kekepalanya,
"Oi Dan, gayamu keren banget tuh, kayak penceramah yang sering muncul di tv dah. Kayak AA jimmy," komentar Kisame.
"Kau salah Kisame, kalau Aa jimmy itu kan cuma mirip-miripan nya aj, dia itu mah vokalisnya team lo." Sangkal Zetsu.
"Terus siapa dong?"
"Yang bener tuh A-A Lim," jawab Zetsu sok tau.
"AA Lim?" tanya Kisame bingung. 'Kok kayak nama tukang ager di sekolahan ya?'
"Yang bener tuh AA gym, tau," jawab Hidan.
"Oh.." suara Zetsu dan Kisame meng oh..
"Hidan kok bisa berubah kayak gitu ya?" bisik Deidara ke Sasori.
"Entahlah, mungkin kepalanya ketiban mangga waktu semedinya kemarin," jawab Sasori ngasal. Mungkinkah?
"Pantas tidak menurut kalian?" tanya Konan yang baru keluar dari kamarnya disela-sela kehebohan anak-anak Akatsuki yang lain tentang pakaian yang dikenakan Hidan.
Konan mengenakan baju muslimah berwarna putih, mulai dari bawah hingga ujung kepalanya. Yup, dia mengenakan kerudung.
"Wah, kakak cantik sekali," puji Itachi.
"Iya kak, cantik un," tambah Deidara.
"Kayak bidadari," puji Sasori juga.
"Benarkah?" tanyanya lagi dengan wajah memerah dan mendapat anggukan dari semuanya, kecuali Pein yang masih terus menatapnya tanpa berkedip.
"Kau kenapa Pein? Apa ada yang aneh?" tanya Konan yang menyadari tatapan Pein.
"Huh," dia hanya membuang muka, tapi tampak semburat merah masih tersisa di pipinya. What the maksud?
"Sasori, Deidara, kemana kopiah kalian? Kenapa tidak dipakai?" Tanya Konan.
"Gak keren kak," jawab Sasori sambil mengibas-ngibaskan rambutnya kayak iklan sampo anti ketombe.
"Betul un, rambut kami yang bagus ini jadi gak keliatan un," tambah Deidara sambil mengibaskan poni nya. Dua orang anak narsis kembali berulah.
"Pakai kopiah kalian atau…" ucap Konan menahan perkataannya dan menuju keadapur. "Atau kakak akan gunduli kepala kalian kayak upin-ipin," ucapnya sambil menunjukan gunting yang tadi di ambilnya dari dapur.
Kedua anak tersebut mulai membayangkan kalau rambutnya digunduli. Sasori botak abis, dan Deidara hanya menyisakan seujung rambut pirangnya.
"JANGAN!" teriak keduanya dan berlari kekamar untuk mengmbil kopiah mereka.
"Nah, begitu kan lebih bagus, fufufufu.." ucap Konan tersenyum puas ketika keduanya sudah memakai kopiah.
"Kakak curang, kenapa Pein gak disuruh pakai kopiah juga?" rungut Sasori.
"Rambut kalian itu menutupi dahi dan bisa membuat sholat kalian tidak sah. Kalau Pein itu rambutnya berdiri dan tidak menutupi dahi, jadi tidak apa-apa," ucap Konan menjelaskan.
.
.
.
.
Sepulang sholat 'Ied.
"Hah~ lama banget sih ceramahnya," kesal Pein pada Haji Sarutobi, khotib sekaligus imam di masjid tadi.
"Namanya juga ceramah Pein, kalau yang singkat itu namanya kultum," ucap Hidan menjelaskan.
"Kalian masih ingat tidak isi ceramahnya?" tanya Pein ke yang lain.
"Aku tidak ingat sama sekali, soalnya tadi aku tertidur, hehehe.." jawab Kakuzu innocent dan bikin yang lain sweatdrop.
"Kalau tidak salah isinya bahwa orang-orang yang telah menjalankan ibadah puasa, maka ia seperti bayi yang baru lahir," jawab Itachi yang sepertinya cukup menyimak ceramah tadi.
"Seperti bayi?" pikir Pein yang mulai membayangkan kalau dirinya kembali menjadi bayi, tanpa gigi, dan kepala yang polos alias botak. "AKU TIDAK TIDAK MAU JADI BAYI!" teriaknya heboh.
"Berisik!" teriak Konan yang baru datang bersama nenek Chiyo dan Tobi. (note: Tobi sholatnya bareng sama Konan) "Ada ap sih? Kok teriak seperti itu?" tanya Konan ke Pein.
"…" Pein cuma diem.
"Itu kak, tadi kan kata pak haji Sarutobi, kalau kita telah selesai berpuasa, maka kita akan kembali seperti bayi. Dan sepertinya Pein tidak mau jadi bayi lagi,"
"Bukan seperti itu maksudnya," ucap Konan swetdrop.
"Terus seperti apa kak?" tanya Kisame dan yang lainnya yang juga sempat berpikir sama seperti Pein.
"Menjadi seperti bayi itu, artinya kita kembali suci lagi. Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan kita menjadi seperti bayi yang belum punya dosa, begitu."
"Oh…" sahut mereka semua.
"Kita makan yuk, dah laper nih," ucap Kakuzu dan membuat yang lainnya langsung menuju meja makan.
"Wah! Ada Ketupat! Opor ayam! Semur ikan bandeng juga ada!" teriak Pein dengan mata berbinar-binar.
"Eh Pein, air liur mu mau jatuh ke makanan tuh," ucap Zetsu sambil menjauhkan Pein dari meja makan.
"Eh, sorry," ucap nya sambil menyeka air liurnya. "Sekarang waktunya kita!"
"MAKAN!" sahut yang lain dengan semangat.
"Eit! Tunggu dulu!" teriak Konan dan menghentikan gerakan mereka. "Apa kalian tidak melupakan sesuatu?"
"Apa ya?" pikir mereka.
"Berdoa ya, un?" tebak Deidara.
"Iya. Tapi ada hal lain yang harus dilakukan sebelumnya," jawab Konan.
"Cuci tangan?" tebak Kisame.
"Sebelumnya lagi."
"Ganti baju?" tebak Zetsu.
"Betul, tapi ada lagi yang lebih penting. Kalian tidak boleh makan sebelum melakukannya."
"Apa ya?"
"Cepet pikirin, dah laper nih,"
"Iya iya, ini aku juga lagi mikir,"
2 menit.
3 menit
5 bulan, *plak*
5 menit telah berlalu tapi mereka belum menemukan jawabannya.
"MAAF-MAAFAN!" teriak Konan yang udah gak sabaran.
"Oh…" lagi-lagi mereka ber 'oh' kayak paduan suara.
'Dasar! Baru ngeliat makanan aja udah langsung lupa!' batin Konan geregetan.
Pein and the genk pun turun dari meja makan dan menghampiri nenek Chiyo.
"Aku minta maaf ya, nek," ucap Sasori sambil mencium tangan nenek Chiyo.
"Aku juga ya nek," ucap Pein
"Selamat idul fitri ya nek, maafin aku ya,"
"Aku juga minta maaf nek,"
"Maafin aku juga ya nek," begitulah seterusnya sampai kesembilan anak tersebut selesai meminta maaf sama nenek Chiyo dan kembali ke meja makan.
"Ehem," terdengar suara kayak orang batuk dari mulut Konan.
"Kakak kenapa kak, sakit tenggorokan?" tanya Kisame watados.
Konan pun langsung menjulurkan tangannya.
"Kayaknya kak Konan mau kalau kita juga minta maaf ke dia dah," bisik Sasori ke Deidara.
"Kyaknya begitu dah un, kita kan suka bikin dia kesel un,"
"Tobi minta maaf kak!" teriak Tobi mendahului yang lainnya untuk minta maaf.
"Aku juga minta maaf ya kak,"
"Maafin aku ya kak,"
"Iya, kakak juga minta maaf sama kalian," balas Konan.
begitulah seterusnya sampai kedelapan orang anak tersebut semuanya meminta maaf sama Konan, lalu meminta maaf kesesama mereka, dan kembali ke meja makan.
(Readers : Delapan? Kurang satu dong?)
Yup, sepertinya si kepala orange alias Pein masih tetep bertahan di meja makan. Dia gak turun bersama anak-anak yang lain untuk minta maaf ke Konan.
'Sepertinya dia masih marah,' batin Konan sedih dan kembali mengingat saat dia menampar Pein.
"Kakak kenapa kak?" tanya Tobi yang melihat raut sedih diwajah Konan.
"Eh? Tidak apa-apa kok, Tobi ikut makan sama mereka ya," jawabanya sambil tersenyum, sebuah senyum palsu tentunya.
"Iya," jawabnya menurut.
"Jangan lupa untuk mengganti pakaian, cuci tangan, dan berdoa sebelum makan," nasihat Konan ke anak-anak asuhnya.
"Iya kak!" jawab mereka bersamaan.
.
.
.
.
"Kenyang!" teriak Pein sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dia selesai makan paling pertama. Emang paling cepet nih anak soal makan.
"Bukan kenyang, tapi Alhamdulillah," sela pak ustad kita, Hidan.
"Iya iya, alhamdulillah yah, hahaha.." ucap Pein sambil menirukan gaya bicaranya Syahrini.
"Alhamdulillah gak boleh buat main-main,"
"He? Siapa yang main-main?"
"Itu, pake ketawa-ketawa segala,"
"Astagfirullah," ucap Pein sambil menutup mulutnya, sadar.
"Udah pada selesai kan makannya?" tanya Konan.
"Sudah kak,"
"Sekarang pakai baju kalian yang tadi, kita akan maaf-maafan keliling kampung,"
"Buat apa kak? Mereka kan bukan keluarga kita, saudara juga bukan," tanya Sasori.
"Minta maaf itu bukan cuma sama keluarga atau saudara saja, tapi juga sama teman-teman, orang-orang yang kita kenal, atau orang-orang yang kita punya salah ke mereka."
"Emangnya kita pernah buat salah sama siapa?" tanya Kisame (sok) suci.
"Kisame, kau pernah mengambil ikan di tambak milik tuan Tobirama kan?" Tanya Konan untuk mengingatkan Kisame.
"Oh, yang waktu itu ya. Iitu sebenernya ikan yang dulu aku lepaskan di tambaknya dan sudah berkembang biak kak, jadi aku ambil lagi," jawab Kisame.
"Mana ada ikan berkembang biak dalam waktu semalaman!" teriak Konan emosi.
"Eh? Masa sih?" tanyanya watados.
"Ughhh!" geregetan Konan sama Kisame yang suka masang muka watados ini.
"Tambak Ikannya tuan Tobirama kan banyak kak, hampir satu kampung ini milik dia semua, masa aku ambil tiga ekor aja tidak boleh?"
"Tetap saja itu tidak boleh! Dan kau bilang tadi tiga ekor? Yang benar itu itu sepuluh ekor tau!"
"Eh? Masasih? Kok aku lupa ya?" tanyanya watados (lagi)
"Untung aku gak pernah buat salah un, haha," ucap Deidara dengan pedenya.
"Apa? Gak salah ngomong tuh? Kau, Sasori, sama Pein, kalian pernah mencuri mangga di kebunnya tuan Hashirama, kan?"
"Eh Dei, kau bilang-bilang sama kak Konan ya?" bisik Sasori ke Deidara.
"Eh? Enggak kok un. Pein kali tuh yang bilang,"
"Enak aja,"
"Udah, jangan bisik-bisik. Tuan Hashirama sendiri yang menceritakannya. Untung dia baik, jadi dia memaafkan kalian."
"Eh Dei, Sas, lain kali kita ambil yang banyak ya rambutannya, sepertinya tuan Hashirma itu mudah memaafkan, hihhi," tawa Pein cengengesan.
"Apa kau bilang Pein?" tanya Konan sambil memberikan deathglare ke Pein.
"Bukan apa-apa kok, kak," jawab Pein.
Konan: "Sun, tadi beneran Pein yang ngomong tuh?"
Sun : "Iye,"
Konan : "Berarti dia udah maafin aku ya?" *seneng*
Sun : "Cuma keceplosan kali,"
'Aku keceplosan,' batin Pein sambil menutup mulutnya.
Sun : "Tuh kan bener,"
Konan : *pundung*
Back to the story
"Kak, Kalau sudah di maafkan, berarti sudah selesai kan?" tanya Itachi
"Setidaknya kita meminta maaf supaya Tuan Hashirama yakin Kalau kita bener-benar menyesali perbuatan kita dan tidak mengulanginya lagi."
"Oh….." paduan suara satu bunyi kembali terdengar di ruangan terebut.
"Nah, kalau begitu ayo kita berangkat," ucap Konan yang sudah pegel memberikan penjelasan ke anak-anak asuhnya tersebut.
"Tobi gak ikutan ya kak, Tobi dirumah aja," ucap Tobi manja.
"Lho, emangnya Tobi kenapa?"
"Kaki Tobi pegel kak," jawab Tobi pura-pura pegel sambil menunjuk-nunjuk kaki kecilnya.
"Yah, sayang sekali, padahal biasanya banyak permen lho di rumah-rumah yang akan kita kunjungi," ucap Konan (pura-pura) menyesal.
"Tobi ikut deh, sepertinya kaki Tobi udah gak pegel lagi," ucapnya sambil loncat-loncat untuk membuktikan kalau kakinya udah gak pegel.
'Dasar, mudah sekali anak itu di bujuk, ckckck,' batin Kakuzu yang udah siap-siap mau masuk ke kamar.
"Kakuzu, kau mau kemana? Gak ikut?" Tanya Konan.
"Tidak, aku mau tidur saja, ngantuk kak, hoaam.." jawabnya sambil pura-pura mengantuk.
"Ya sudah, ayo kita berangkat, kita tinggalkan saja Kakuzu," ajak Konan ke yang lainnya minus kakazu. "Mungkin dia lupa kalau setiap anak yang datang berkunjung itu akan dibagikan uang,"
"Jadi, kita mau kerumah siapa dulu?" Tanya Kakuzu yang tiba-tiba udah berada di depan pintu depan.
Gubrak!
'Dasar maruk,'
'Matre,'
'Serakah,'
'Dasar otak udang, eh otak uang,' Batin anak-anak Akatsuki yang lainnya.
"Katanya ngantuk~?"sindir Pein sambil menyenggol Kakuzu.
"Kau kayak gak tau aja, aku ini kan suka bercanda, hahaha," jawabnya bokis.
Merekapun pergi keliling kampung untuk bermaaf-maafan, dan mencari uang kayak si Kakuzu, atau mengincar permen kayak Tobi.
.
"Eh, Kakuzu mana?" Tanya Konan yang memimpin rombongan anak-anak tersebut ke yang lainnya.
"Gak tau kak, dari tadi juga begitu, ilang-muncul-ilang-mucul. Nanti juga muncul lagi," jawab Sasori.
"Begitu ya, ya sudahlah," ucap Konan dan memutuskan untuk melanjutkan maaf-maafan ke rumah selanjutnya.
Setelah selesai keliling kampung, anak-anak tersebut berkumpul diruang tengah, membentuk sebuah lingkaran dan menghitung uang yang mereka dapatkan.
"Kalian dapat berapa?" Tanya Pein ke yang lainnya.
"Aku dapat 100.000," jawab Itachi.
"Aku juga 100.000," jawab Hidan.
"Aku juga sama un,"
"Aku juga,"
Begitu seterusnya sampai kesemua anak menyebutkan uang yan mereka dapatkan, kecualli Kakuzu.
"Hei Kakuzu, kau dapat berapa?" Tanya Sasori penasaran.
"Aku….."
"Berapa?" Tanya yang lainnya sambil menatap curiga kearah Kakuzu.
"Aku dapat 200.000," jawab Kakuzu yang merasa terdesak.
"Ha? Kok bisa?" Tanya Hidan heran.
"Itu kan dua kali dari uang yang aku dapat, bagaimana caranya?" tanya Kisame ngiri.
"Itu karena…." Kakuzu menggantungkan kalimatnya.
"Karena kau memasuki rumah yang kita singgahi dua kali, bukan begitu Kakuzu?" jawab dan Tanya Zetsu ke Kakuzu.
"Darimana kau tahu Zetsu?" Tanya Kakuzu heran.
'Ternyata betul begitu caranya.' Batin anak-anak Akatsuki yang lain.
"Pantas saja dari tadi kau menghilang terus, ternyata kau kembali kerumah yang telah di kunjungi ya. Dasar rakus."
"Hehe.."
"Kakak dapat berapa?" Tanya Tobi ke Konan yang baru datang dari dapur. Dia langsung mengedarkan pandangnnya pada anaka-anak asuhnya yang sedang memegang uang hasil keliling tadi.
"Uang lebaran ya? Kakak tidak dapat, kan kakak sudah besar," jawab Konan sambil tersenyum. 'Padahal aku kan juga mau, huhuhu,' batinnya menangis. Oalah, ternyata~.
Mendengar kak Konan tidak dapat, anak-anak yang lain langsung menatap horror ke Kakuzu, dan uang yang didapatnya. Seolah berkata, 'berikan setengahnya ke kak Konan,'. Kakuzu yang mengerti masud tatapan mereka langsung menghampiri Konan.
"Ini kak," ucapnya sambil menyerahkan 100.000 rupiah miliknya ke Konan.
"Apa ini?" tanyanya
"Ini untuk kakak,"
"Bener nih untuk kakak? Kau sudah cukup?"
"Sudah kak,"
" Ikhlas gak nih?" Tanya Konan ragu.
Kakuzu langsung melihat kebelakang dan didapatinya tatapan mata yang seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup. "I-iklhas kak," jawabnya setengah hati.
"Wah, terimakasih ya Kakuzu, kau baik sekali," ucap Konan senang begitu menerima uang dari Kakuzu.
'Uang ku~,' batin Kakuzu menangis. Ckckck poor you kakuzu.
"Kalian mau pakai untuk apa uang-uang tersebut?" Tanya Konan ke anak-anak asuhnya.
"Aku mau beli robat-robotan," jawab Sasori.
"Aku mau beli ikan hias," jawab Kisame.
"Aku mau beli komik baru," jawab Itachi.
"Aku mau beli permen yang banyak!" teriak Tobi bersemangat.
"Untuk apa kau beli permen lagi, kau kan sudah dapat banyak permen tadi?" Tanya Zetsu sambil menunjuk kantong baju Tobi yang penuh dengan permen-permen yang diambilnya dari setiap rumah yang tadi di datangi.
"Aku mau beli permen untuk bekal sekolahku selama satu tahun kedepan, hihihihi.." jawabnya polos. "Kalau kau Zetsu?" tanyanya balik.
"Aku mau beli bibit pohon mangga, supaya tidak ada lagi diantara kita yang mencuri di kebun tuan Hashirama," jawab Zetsu dan bikin Pein, Sasori, dan Deidara tertunduk malu. Sungguh tujuan yang mulia.
"Kalau aku mau beli petasan un," ucap Deidara.
"Tidak boleh!" teriak Konan marah. "Liat tuh tangan udah kayak mumi, masih mau beli juga, hah?"
"Sedikit saja deh un~," pinta nya.
"Tidak boleh,"
"Kalau kembang api?" tanyanya.
"Tidak boleh,"
"Petasan kentut?"
"Eh, petasan kentut? Kayak apa tuh?" Tanya Konan yang memang tidak terlalu tahu tentang macam-macam petasan, apalagi yang namanya aneh kayak begitu.
"Tidak meledak kok un, paling-paling cuma bau un,"
'Bau?' batin Konan merinding. "Tidak boleh,"
"Trus aku beli apa dong un?" Tanya Deidara cemberut.
"Jangan beli yang berhubungan dengan petasan, berbahaya dan mubadzir,"
"Beli ayam lagi?"
"Nah, itu lebih baik, kan tahun depan bisa dipotong, trus dimakan deh, hehe.." jawab Pein.
"Kau sih makan nya doang un, gak mau bantu pelihara un," rutuk Deidara.
"Iya deh, nanti aku bantu pelihara,"
"Hah~ iya deh un," jawab Deidara yang akhirnya memutuskan untuk membeli ayam.
"Kalau kau Hidan, mau kau gunakan untuk apa uangmu?" Tanya Pein.
"Kalau aku mau beli Iqra aja deh, aku mau belajar mengaji dari sekarang,"
"Subhanallah," ucap Konan bangga.
'Bener-bener udah tobat nih anak,' batin Pein. "kalau kau Kakuzu?"
"Aku akan tabung semuanya,"
"Wow!" seru anak-anak yang lain.
"Kalian juga, jangan dihabiskan semuanya, sisakan untuk ditabung," ucap Konan menasihati.
"Iya!" jawab mereka minus Pein.
"kalau Kakak uangnya mau buat beli apa?" Tanya Kisame.
"Kakak mau beli baju baru, soalnya ada baju kakak yang bolong waktu disetrika kemarin hehehe.."
"Kalau kau Pein, uangnya untuk apa?" tany Konan berusaha untuk mengajak Pein berbicara padanya.
"…." Sepertinya tidak berhasil karena Pein tidak menjawabnya.
"Pein, ditanya sama kak Konan tuh," senggol Sasori yang ada disampingnya.
"Sudah dulu ya, aku mau istirahat. Badanku masih pegel-pegel," ucapnya sambil menggerak-gerakkan bahunya dan meninggalkan tempat tersebut.
.
.
.
.
malam
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pelan dari depan pintu kamar Konan.
"Masuk, tidak di kunci," jawab Konan yang saat ini sedang membaca buku seperti yang biasa dia lakukan sebelum tidur. 'Mungkin itu Tobi yang lagi gak bisa tidur,' batinnya.
Setelah mendapat izin dari si pemilik kamar, orang itu pun masuk kedalamnya.
"Kak," Panggil orang itu pelan. Konan yang sangat familiar dengan suara tersebut segera menghentikan kegiatan membacanya.
'Pein,' batin Konan menyebut nama anak itu yang ternyata adalah pein. Seulas senyum terukir dibibirnya karena mnegetahui anak tersebut sudah mau berbicar dengannya. "Ada apa Pein?" tanyanya.
"A-a-aku….. mi…min…..minta.." ucap Pein sambil menunduk dengan kata yang terbata-bata.
"Minta apa? Uang?" tanya Konan bingung mencoba meneruskan kata yang ada dipikiran anak didepannya ini.
"Bukan, tapi aku min… minta.. ma… ma.." ucapnya masih terbata-bata.
"Ma apa? Makan? Mainan?" Tanya Konan yang msih mencoba menebaknya.
"Bukan, tapi aku minta…. Maaf," ucap Pein pelan pada kata terakhirnya dengan wajah tetap tertunduk. Ini adalah kata 'maaf' pertama dalam hidupnya.
"….."
"Aku minta maaf kak. Maafkan atas kenakalanku selama ini, juga karena kemarin aku bilang kakak itu jahat dan benci sama kakak. Aku-"
Sebelum Pein meneruskan kata-katanya, dengan cepat Konan langsung memeluk tubuh anak itu dengan erat.
"Pein, hiks.. hiks.." panggil Konan sambil menangis dan terus memeluk tubuh Pein.
"Kakak,"
"Maafin kakak Pein, hiks.. hiks… kakak sudah berbuat salah padamu, kakak minta maaf, hiks.. hiks.." ucap gadis tersebut sambil terus menangis dan semakin mengeratkan pelukannya pada Pein.
Perlahan-lahan, perasaan haru Konan mulai meresap kedalam hati Pein dan membuat matanya ikut mengeluarkan cairan bening bernama air mata. Air mata yang bahkan tidak pernah dikeluarkannya walaupun dipukuli oleh anak-anak nakal sampai babak belur sekalipun. Air mata yang hanya keluar di hari ini, Hari kemenangan, Idul fitri.
FIN
Dibalik layar.
Sun : "Alhamdulillah sun ucapin karena masih diberi kesempatan karena bisa menyelesaikan fic ini tepat pada waktunya. Hal ini tidak akan bisa terjadi kalau lebarannya jadi hari selasa, soalnya kemaren masih belum selesai diketik, hehehe.. terimakasih juga sun ucapain buat semua reder yang udah baca fic ini, apalgi yang ngeriview, xp. Mohon maaf jika selama ini ada kata-kata sun yang kurang berkenan, dan juga karena sering telat update, hihi..
Untuk fic ini sendiri, jujur, setiap mengingat adegan pas Konan nangis itu sun jadi beneran pengen nangis, hiks.. hiks.."
Reader: "Dasar cengeng, kau kan cowok"
Sun: "Sedih tau ngebayanginnya, hiks.. dan, siapa bilang cowok gak boleh nangis? Cowok juga manusia *minjem kata-katanya om candil dari band serious*"
Kakuzu: "Aku juga sedih,"
Sun : "Ternyata perasaanmu juga lembut ya, Kakuzu,"
Kakuzu : "Uang-uangku~" *nagis gaje*
Sun : "Ternyata, =.='"
Pein : "Awas ya kalau bilang-bilang sama yang lain tentang kejadian tadi, aku shinra tensei kau," *ngancem*
Sun : "Oi, dsini kau itu cuma anak kecil biasa, chibi Pein~."
Pein : "Kalau begitu aku mau jadi anak gede!"
Sun : "Pilh mana, jadi anak gede tapi dinistain *nunjuk fic Akatsuki yang laen,* apa jadi chibi tapi aman? *smirk*"
Pein : "I-ya dah," *nyerah*
Tobi : "Tobi anak baik Tobi anak baik punya banyak permen," *nebar-nebar permen,*
Konan : "Tobi, jangan lupa sikat gigi nanti ya,"
Deidara : "Tanganku masih perih un," *nangis gaje,*
Sun : "Tenang aja Dei, banyak reader yang mau ngerawat tangan kamu tuh," *dorong Dei kedepan reader*
Deidara FG: "Kyaa! Dei-chan! Dei-kun!" *berebutan Deidara,*
Kisame : "Aduh! Aduh! Tanganku sakit juga nih!" *pura-pura*
Deidara FG : "Pergi kau dari sini" *nendang Kisame ke kolam ikan*
Hidan : "Wahai Kisame, janganlah kau berdusta, segeralah bertobat,"
Itachi : "Aku banyak muncul di chapter ini," *senyum cool(kas)*
Sun : "Iya, soalnya banyak reader yang minta. Dan di chapter naruto terbaru Itachi nii juga sering muncul."
Itachi : "Bagus,"
Sun : "Mulai dah gayanya sok tua," =,= "
Zetsu : "Gak tau mau ngomong apa, lanjut aja deh,"
Sasori : "Tampannya aku,"
Sun : inner : halah, malah narsis, =,=' "Sasori main sama sun aja yuk, kita nonton gundam bareng-bareng,"
Sasori : "Boleh deh,"
Akhir kata, sun dan seluruh character dalam chibi Akatsuki mengucapakan,
"SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI! MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN!"
Pein : "Dah semuanya!" *lambai-lamabai tangan*
Itachi : "Sampai ketemu lagi!"
Tobi : "Tobi anak baik! Tobi anak baik!"
Deidara : "Tobi! Jangan menghalangi wajahku di kamera un!"
Sasori : "Aku juga gak keliatan nih!"
Konan : "Hei, jangan pada berebut!"
Zetsu : "…"
Kakuzu : "Ngookk ngokk" *udah tidur*
Hidan : "Astagfirullah,"
Kisame : "Siapa saja! Tolong keluarkan aku dari kolam!"
Sun : "Bagi siapapun yang merasa terhibur, harap review!" *ngeluarin kisame dari kolam*
