Disclamer: Vocaloid belongs to Yamaha

Warning: AU, OOC, Shounen-ai, Humor garing, Male Harem


My Harem?


Hari ini Kaito tidak akan menyerah untuk berusaha mendapatkan hati Len. Setelah strategi sapaan pagi yang gagal itu, ia tidak kehabisan akal. Selama jam pelajaran pikirannya terus terarah pada sosok malaikatnya itu.

Tampaknya sosok Kaito yang tidak memperhatikan pelajaran itu diketahui oleh Ted Kasane-sensei. Dengan ganasnya(?), Ted langsung melempar penghapus papan tulis ke arah Kaito. Kaito yang tadi asyik bermimpi-mimpi indah mengenai Len itu langsung tersadar.

"Kaito Shion! Jangan asyik melamun saja! Perhatikan pelajaran saya!" seru Ted berapi-api(?). Murid-murid yang lain hanya diem aja, takut jadi sasaran berikutnya.

"Eh? Ah, iya..." gumam Kaito sambil mengelus kepalanya. 'Seandainya Len-kun yang melemparku begitu, aku tidak masalah.'

Mungkin Kaito memang sedang dimabuk asmara, bahkan disiksa oleh Len pun ia terima. Sebaiknya kita tinggalkan saja pemuda menyedihkan ini*plak* dan menuju ke kelas Len.

.

.

.

Sedangkan berbeda dengan Len, ia sibuk menyesuaikan diri dengan teman-teman satu kelasnya dan beberapa guru. Tampaknya kehidupan Len di Voca Gakuen ini tidak terlalu buruk juga.

"Ah, Kagamine-kun kalau jam istirahat kamu tidak sibuk tolong bantu saya membawa dokumen ya?" gumam Meiko yang sudah selesai mengajar. Ia akan meninggalkan kelas.

"Iya, Sakine-sensei." ujar Len.

Meiko meninggalkan kelas dan akan digantikan oleh guru yang lain. Beberapa murid ada yang sibuk sendiri, termasuk Len dan Piko. Mereka berdua hanya saling mengobrol sebentar. Tidak lama sang guru telah masuk dan pelajaran kembali dimulai.


Jam istirahat sudah tiba, Len langsung menuju ruang guru untuk menemui Meiko seperti permintaan Meiko tadi. Sesampainya di ruang guru, Len melihat Meiko sedang merapikan beberapa kertas.

"Ah, Kagamine-kun kau sudah datang. Sini." panggil Meiko.

"Iya," Len segera mendekat ke arah Meiko. "Apa ini, sensei?"

"Ini beberapa soal yang akan kukoreksi. Bawakan ke perpustakaan ya?"

"Baik."

Len segera membantu Meiko membawa beberapa soal itu menuju perpustakaan. Sedangkan Kaito dan Mikuo yang sedang berjalan bersama melihat Len dan Meiko. Sudah bisa ditebak pandangan mata Kaito tertuju pada anak berambut pirang itu.

Melihat reaksi Kaito yang terdiam dan sesekali nyengir itu(?) membuat Mikuo merasa ngeri. Mikuo melirik ke arah Kaito yang masih terdiam bagai patung itu. Sesekali Mikuo menyentuh pundak Kaito.

"Ano... Kaito..." panggil Mikuo pelan sambil menyentuh pundak Kaito.

"Ah~ my angel..." gumam Kaito yang masih memperhatikan sosok Len itu.

Mikuo cuma geleng-geleng kepala lihat tingkah Kaito yang terkesan lebay itu. Langsung saja Kaito pergi meninggalkan Mikuo dengan kecepatan cahaya(?) dan sudah berada di samping Len, sedangkan Mikuo kaget melihat di sebelahnya sudah tidak ada siapa-siapa.

"Eh? Kemana Kaito?" gumam Mikuo itu. "Mungkin dia mendekati anak baru itu." Mikuo langsung saja menuju kelasnya.

.

.

.

Kaito segera mengikuti Len dan Meiko yang berjalan bersama menuju perpustakaan. Kaito penasaran kemana malaikatnya itu akan pergi. Ternyata Len dan Meiko masuk ke perpustakaan, Kaito juga ikut masuk tentu menjaga jarak dari mereka.

"Nah, taruh disini saja Kagamine-kun. Terima kasih." ujar Meiko sambil menaruh kertas-kertas yang ia bawa.

"Sama-sama." demikian juga Len menaruh kertas-kertas itu. Ia berpamitan pada Meiko dan segera melirik ke arah rak-rak buku perpustakaan.

Len segera berjalan ke beberapa rak buku, ia tertarik oleh salah satu buku yang ada di perpustakaan. Ia ingin mengambil buku yang berada di atas, tapi ia tidak mungkin mencapainya. Tiba-tiba ada seseorang yang membantunya, pemuda berambut panjang bewarna ungu.

"Ini." ujar pemuda itu.

"Terima kasih." gumam Len.

Len menatap ke arah pemuda itu, ia hampir saja mengira orang yang menolongnya adalah seorang gadis. Tapi, karena Voca Gakuen adalah sekolah khusus cowok, jadi sudah pasti orang yang ada di hadapan Len adalah seorang pemuda.

"Aku belum pernah melihatmu. Anak baru?" tanya pemuda itu.

"Iya..." jawab Len.

"GAKUPO!" terdengar suara dari dunia lain(?) dan sosok Kaito langsung muncul ke permukaan. Len langsung terkejut melihat sosok Kaito ada di sebelahnya.

"Jangan berisik di perpustakaan, Kaito. Lagipula tumben sekali aku melihatmu disini." ujar pemuda bernama Gakupo.

"Maaf... Habis kamu deket-deket sama Len-kun."

"Len-kun?"

Kaito langsung melirik ke arah Len begitu juga dengan Gakupo. Merasa diperhatikan Len langsung membungkuk untuk memperkenalkan dirinya pada Gakupo.

"Namaku Kagamine Len, kelas 1-2. Salam kenal." ujar Len.

"Oh... Aku Kamui Gakupo, kelas 3-4." ujar Gakupo.

'Ternyata lebih tua dari Kaito-senpai ya?' batin Len.

"Sudah cukup perkenalannya," ujar Kaito yang langsung memeluk Len. Otomatis Len melepaskan pelukan itu. Ia tidak biasa dipeluk seperti itu. "Eh~ kok dilepas, Len-kun?"

"Kaito-senpai, aku tidak biasa seperti itu." gumam Len malu.

"Wah, Kaito. Tampaknya kamu tidak bisa menghilangkan kebiasaanmu itu ya?" ujar Gakupo sambil geleng-geleng kepala kayak mau disco.

"Ah~ Gakupo, kamu sudah lama mengenalku. Jadi... beginilah aku." ujar Kaito santai.

"Di sekolah panggil aku senpai, Kaito."

"Malas~"

Gakupo berusaha sabar menghadapi Kaito. Meski mereka teman sejak kecil, tapi sikap Kaito yang memang sok itu susah dihilangkan. Len yang daritadi memperhatikan mereka berdua terlihat bingung. Kaito menyadari hal itu.

"Ada apa, Len-kun?" tanya Kaito.

"Ah tidak... Kalian berdua akrab ya?" tanya Len.

"Bisa dibilang seperti itu." jawab Gakupo.

"Nah, Gakupo... Aku pergi dulu dan membawa Len-kun~"

"Kaito-senpai, aku masih mau disini."

"Sudahlah Kaito lepaskan, Kagamine-kun tidak mau."

Tidak lama terdengar bunyi bel masuk. Len bersyukur karena setidaknya ia bisa lepas dari Kaito yang terlihat berusaha mendekati dirinya. Kaito melirik ke arah mereka berdua.

"Baiklah, aku duluan," gumam Kaito. "Sampai jumpa, Len-kun." Kaito hanya tersenyum genit ke arah Len. Kalau para gadis yang melihat senyum itu, mungkin mereka bakal berteriak histeris.

Len sedikit terkejut saja melihatnya, sedangkan Gakupo geleng-geleng lagi. Ia hanya berusaha menenangkan Len.

"Begitulah dia. Maklumi saja." ujar Gakupo.

"Iya. Aku duluan, Kamui-senpai." ujar Len dan ia berjalan meninggalkan perpustakaan.

Sedangkan Gakupo hanya tersenyum tipis saja melihat kepergian Len. Entah kenapa terlintas di benaknya, ia ingin melindungi Len dari serangan berbahaya Kaito.

"Lebih baik aku mengawasi mereka berdua." gumam Gakupo.


Akhirnya waktu pulang sekolah tiba, seperti biasa semua murid pulang menuju rumah masing-masing. Kaito pun langsung bergegas ke kelas Len, beruntung Len belum pulang dan Kaito bisa mengajaknya pulang sama-sama.

Iya, ini termasuk strategi sukses (baca: gagal) Kaito untuk mendapatkan hati Len. Entah dengan cara ini apakah Len bisa menerima Kaito, mengingat Kaito terlalu agresif untuk mengejar Len.

Ketika Kaito melihat sosok Len keluar dari kelas, ia hanya menyapanya saja dan tersenyum manis. Pokoknya penampilannya dibuat semenarik mungkin.

"Hai, Len-kun." sapa Kaito.

"Kaito-senpai? Kenapa ada disini?" tanya Len bingung.

Kaito berjalan mendekati Len dan hanya tersenyum saja. Jujur Len merasa harus meningkatkan kewaspadaannya jika hanya berdua dengan Kaito. Ia takut kalau Kaito berbuat macam-macam padanya.

"Apa kau ada waktu sepulang sekolah?" tanya Kaito.

"Memangnya kenapa?" tanya Len balik.

"Aku ingin mengajakmu pergi sama-sama. Kau mau?"

"Ano... Tampaknya tidak bisa."

"Kenapa?"

"Rin-chan selalu menjemputku."

"Siapa dia? Gadis yang waktu kulihat itu memelukmu ya?"

"Iya. Dia saudara kembarku."

Kaito hanya terdiam saja, setidaknya ia bersyukur gadis yang memeluk Len itu adalah saudara kembarnya. Kalau dilihat-lihat Kaito baru sadar bahwa gadis itu dan Len adalah saudara kembar.

"Setidaknya kita jalan bersama sampai di depan gerbang, kau mau?" tanya Kaito.

"Baiklah..." gumam Len.

Mereka berdua berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Kaito melirik ke arah Len, untung dia bisa menahan diri kalau tidak Len berada dalam bahaya. Setelah mereka berdua di depan gerbang, benar saja sosok Rin sudah ada disana.

"Len-chan~ aku menunggumu~" ujar Rin sambil langsung berlari ke arah Len dan memeluknya.

"Aduh~ sakit kan, Rin." keluh Len.

"Hehe..," Rin memperhatikan sosok Kaito. Matanya seolah memiliki sensor(?) untuk melihat siapa pemuda yang berniat jahat pada Len. Rin langsung saja berdiri di hadapan Len dan menutupi Len dari pandangan Kaito. "Pervert!"

Satu kata dari Rin itu seolah-olah menusuk jantung Kaito. Buktinya Kaito sampai shock dibilang seperti itu. Len hanya menggelengkan kepalanya melihat Rin bicara seperti itu.

"Rin, jangan ngomong yang aneh-aneh," ujar Len kepada Rin. "Maaf Kaito-senpai, jangan terlalu dimasukkan ke hati."

Len bisa melihat wajah Kaito yang masih shock itu, mungkin nyawanya melayang dulu entah kemana. Rin malah tidak mendengarkan perkataan Len, ia menatap tajam ke arah Kaito.

"Terlihat sekali wajah mesum milikmu itu ingin melakukan yang aneh-aneh pada Len-chan," tuduh Rin lagi. "Aku ingatkan padamu, Len-chan milikku!" Rin langsung saja memeluk Len dan ia langsung menarik Len menjauh dari sosok Kaito.

Sementara itu, Kaito sudah kembali ke asalnya(?). Dia memperhatikan sosok Len dan Rin yang menjauh darinya. Ia masih ingat tuduhan Rin padanya, sebenarnya tuduhan Rin itu benar tapi tidak mungkin ia mengakuinya.

"Huh... Gadis yang keras kepala." gumam Kaito.


Hari ini berjalan seperti biasa, belajar dan belajar. Semua murid ingin istirahat sejenak dari kegiatan belajar mereka. Akhirnya keinginan mereka dikabulkan, bel istirahat berbunyi. Semua murid bergegas menuju kantin.

Len hanya memakan bekal buatan Rin di kelasnya, ditemani oleh Piko dan teman-teman yang lain. Teman-teman yang lain iri melihat bekal Len yang selalu terlihat istimewa dari hari ke hari.

"Wah~ bekalmu kelihatan enak, Len-kun." ujar Piko.

"Ah, terima kasih." gumam Len.

"Pacarmu yang membuatnya ya?" celetuk teman mereka.

Len langsung kaget mendengar ucapan temannya, ia langsung saja menyanggahnya. Tentu saja, dengan sikap Rin yang sangat brother complex itu bagaimana Len bisa memiliki seorang gadis sebagai kekasihnya?

"Bukan, saudara kembarku yang membuatnya." ujar Len.

"Kau punya saudara kembar?" tanya Piko.

"Iya."

"Wah enaknya~"

Sementara mereka sibuk mengobrol dan memakan bekal masing-masing, Len sudah selesai makan. Ia langsung berdiri dan bilang ke teman-temannya ingin ke perpustakaan.

Ia berjalan menuju ke perpustakaan dengan santai, tapi ia tidak tahu ada seseorang yang mengikutinya. Sudah dipastikan itu Kaito, ia melirik ke arah Len pergi. Begitu tahu itu perpustakaan langsung saja Kaito ke sana.

.

.

.

Sesampainya di perpustakaan, Len langsung memilih buku yang ingin ia baca. Tiba-tiba ia bertemu dengan Gakupo yang kebetulan juga sedang memilih buku. Len langsung saja memberi salam kepada Gakupo.

"Selamat siang, Kamui-senpai." ujar Len.

"Siang..." balas Gakupo. "Kau rajin ke perpustakaan ya?"

"Buku-buku disini sangat bagus."

"Hehe... Aku sarankan kau membaca ini, ini juga bagus." Gakupo memberikan sebuah buku tentang sejarah kerajaan Inggris kepada Len.

"Terima kasih." Len menerima buku itu dan segera ke bangku terdekat untuk membacanya. Sementara Gakupo melihat buku yang ia cari, ketika dapat ia langsung mendekati Len yang sedang duduk di pojok perpustakaan.

"Boleh aku duduk disini?" tanya Gakupo.

"Tentu."

Sedangkan Kaito yang melihat kedekatan mereka berdua itu merasa kesal, terlihat aura-aura cemburu(?) di dekat Kaito. Ia takut Gakupo juga akan menyukai Len dan mengambilnya.

Kaito langsung saja mendekati mereka berdua. Ia duduk di hadapan Len dan Len yang tadi asyik membaca melihat sosok Kaito yang ada di hadapannya.

"Ah, Kaito-senpai. Selamat siang." sapa Len.

"Siang Len-kun," balas Kaito. "Kau rajin kesini ya?"

"Iya..." ujar Len.

"Memangnya kamu, kesini kalau ada maunya." tambah Gakupo.

"Eh? Tidak kok..." sanggah Kaito.

"Benarkah?" tanya Len.

"Iya. Kedatangan Kaito di perpustakaan itu dalam satu tahun bisa dihitung dengan jari. Makanya kalau dia kesulitan belajar selalu konsultasi denganku."

"Iya deh, murid teladan."

"Hehe... Ternyata Kaito-senpai seperti itu..."

Melihat tawa Len yang manis itu, jantung Kaito berdetak kencang. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi, langsung saja ia bangun dari kursinya dan memeluk Lend ari belakang. Len sangat terkejut melihatnya, begitu juga dengan Gakupo.

"Se... Senpai..." gumam Len malu dengan wajah memerah.

"Kenapa Len-kun? Kamu manis kalau begitu." goda Kaito. Sedangkan Gakupo hanya menggelengkan kepala melihat Kaito mulai merayu Len lagi.

"Kaito, jangan begitu di perpustakaan." ujar Gakupo.

"Kena-" belum sempat Kaito menyelesaikan ucapannya, terdengar suara seorang gadis yang cukup kencang.

"LEN-CHANN!" seru gadis itu sampai suaranya terdengar ke belahan dunia yang lain(?).

Semua orang yang ada di perpustakaan berusaha mencari asal suara itu, mereka terkejut melihat asal suara itu dari pohon yang ada di luar dan lebih parahnya lagi ada sosok gadis berambut pirang disana.

"EH? Rin?"Len kaget melihat sosok Rin berada di atas pohon seperti itu. "Kenapa kamu disitu?"

"Len-chan! Aku tidak akan membiarkannya macam-macam padamu!" seru Rin dan ia langsung saja melompat ke perpustakaan lewat jendela yang terbuka.

Orang-orang terkejut melihat Rin seperti itu. Mungkin kalau ingin melindungi orang yang disayangi hal yang mustahil bisa saja terjadi(?). Rin melihat Kaito memeluk Len, langsung saja ia mendekati Kaito dan menatapnya tajam seperti kemarin.

"Sudah kuduga. Dasar pervert!" seru Rin sambil menunjuk ke arah Kaito.

"Santai, gadis kecil." ujar Kaito yang malah makin memperat pelukannya pada Len.

"Ih~ Lepaskan Len-chan~" Rin langsung menarik-narik baju Kaito dari belakang.

"Hei, kalian jangan ribut!" seru penjaga perpustakaan dan mereka langsung terdiam.

"Makanya jangan menarik perhatian." tambah Gakupo.

Rin melirik ke arah Gakupo, entah kenapa ia merasa tertarik. Langsung saja ia mendekati sosok Gakupo dan mengulurkan tangan padanya.

"Namaku Kagamine Rin, saudara kembar Len-chan. Salam kenal." ujar Rin manis.

"I... iya..." gumam Gakupo heran.

Kaito terkejut melihat perubahan ekspresi Rin yang langsung malu-malu jika melihat Gakupo. Kaito kembali memeluk Len dan benar saja Rin langsung mengamuk.

"Hei, aku lengah sedikit kau kembali berulah!" seru Rin yang ingin menarik Kaito dari Len.

"Kalian berdua, diam!" penjaga perpustakaan memberi peringatan lagi.

"Rin, kenapa kamu ada disini?" tanya Len.

"OSIS sekolahku ada perlu dengan OSIS disini, makanya aku disini. Aku ingin mencarimu dan ketika merasakan sinyal aneh aku langsung saja naik pohon itu." jawab Rin.

Kaito, Gakupo dan Len heran mendengar penjelasan Rin. Awalnya masuk akal, tapi setelahnya patut dipertanyakan. Tampaknya Rin memang memiliki sinyal untuk mendeteksi pemuda pervert seperti Kaito*plak*.

"Pokoknya lepaskan Len-chan!" seru Rin lagi.

"Tidak akan~" ujar Kaito.

Gakupo bisa melihat bumbu rempah-rempah eh maksudnya bumbu permusuhan diantara Kaito dan Rin. Padahal mereka tidak saling kenal. Langsung saja Gakupo melepaskan Rin dari Kaito, demikian juga Gakupo melepaskan Kaito yang memeluk Len.

"Kalian berdua jangan seperti itu. Memalukan." ujar Gakupo.

Kaito dan Rin hanya terdiam saja, mereka melirik satu sama lain. Tapi Rin masih terlihat kesal, ia langsung mendekati Len dan memeluknya.

"Pokoknya tidak akan kuserahkan Len-chan padamu!" seru Rin sambil menunjuk ke arah Kaito.

Kaito merasa sedikit tertantang, ia memperhatikan Rin sambil menyeringai. Tampaknya otak pervert-nya berjalan ketika melihat Len yang hanya diam saja.

"Oh ya? Lalu apa yang kau lakukan jika aku melakukan ini pada Len-kun." ujar Kaito masih dengan seringainya itu.

"Eh?" Rin bingung apa yang Kaito bicarakan.

Tapi semuanya terjawab ketika Kaito mendekati Len dan tiba-tiba mencium pipi Len. Sontak semua orang yang melihatnya termasuk Gakupo, Rin dan Len kaget. Wajah Len langsung saja memerah.

"Kyaaa! Len-chan, kamu tidak murni(?) lagi." Rin hampir ingin nangis darah(?) melihat Kaito mencium pipi Len.

"Kaito-senpai!" seru Len marah, tapi ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Kaito hanya senyam-senyum gaje aja karena setidaknya ia berhasil mencium pipi Len. Orang-orang yang ada di perpustakaan sedikit shock, tapi mereka tidak terlalu memusingkannya. Toh, gosip Kaito adalah seorang gay memang benar dan hal itu lumrah saja di sekolah ini.

Gakupo melirik ke arah Kaito yang masih senyam-senyum gaje itu. Ia memang tidak bisa melakukan apa-apa untuk tindakan teman sejak kecilnya itu yang memang suka kelewatan.

"Hei, kau membuat mereka histeris." ujar Gakupo.

"Ah~ pipi Len-kun saja lembut seperti itu, apalagi bibirnya." ujar Kaito dengan khayalannya.

Gakupo sedikit sweatdrop liat tingkah Kaito yang makin menjadi-jadi itu. Sedangkan Rin memandang Kaito dengan tatapan membunuh(?).

"Kau cari mati ya?" seru Rin dengan aura membunuh miliknya.

"He? Gadis kecil ini berisik sekali." gumam Kaito.

Dan setidaknya perpustakaan yang selalu sepi, hari ini menjadi ramai dengan acara kejar-kejaran ala India(?) antara Kaito dan Rin. Rin benar-benar ingin menghabisi Kaito karenaa telah mencium Len, sedangkan Kaito menikmati anugerah(?) terindah itu.

TBC

A/N: Gomen telat update, cari ide sedikit susah. Kayaknya humornya juga kurang kerasa deh.

Semoga aja masih ada yang mau baca fic ini.

Kalau sudah baca, jangan lupa review ya?^^