Disclamer: Vocaloid belongs to Yamaha and Crypton Future Media
Warning: AU, OOC, Shounen-ai, Humor garing, Male Harem
My Harem?
Sudah beberapa hari terlewati sejak insiden kekerasan(?) di perpustakaan itu. Sekarang Len harus lebih waspada lagi terhadap Kaito. Benar yang Rin bilang, Kaito adalah pemuda yang pervert. Mengingat ketika Kaito mencium pipi Len, wajah Len langsung saja memerah.
Rin yang sedang membawa sarapan itu melihat tingkah laku sang adik kembarnya di ruang makan. Ia heran kenapa wajah Len memerah. Tapi, karena Rin selalu berpikir jauh ke depan(?), ia berpikir Len mengingat kejadian waktu itu.
"Kyaa... Len-chan, kamu tidak apa-apa? Kamu tidak sakit, kan? Kamu tidak mengingat si pervert itu kan?" tanya Rin berturut-turut.
Len hanya memalingkan wajahnya dari Rin, ia malu jika ketahuan oleh saudara kembarnya. Takut ketahuan kalau ia memikirkan yang aneh-aneh.
"Rin, kita berangkat saja." ajak Len.
"Lho? Kita belum sarapan..." gumam Rin.
"Aku sudah..." Len langsung bangkit dari kursinya dan Rin terkejut melihat Len sudah selesai makan.
"Tunggu aku, Len-chan!" seru Rin sambil makan sarapannya dengan kecepatan kilat(?).
Len menunggu di depan pintu dan akhirnya Rin sudah menyusulnya. Langsung saja Rin menggandeng tangan Len dan mereka berdua berangkat menuju sekolah.
.
.
.
"Akhirnya sampai..." gumam Len ketika ia berada di depan gerbang sekolahnya.
"Iya..." ujar Rin dengan sangat tidak rela.
"Ano... Bisa lepaskan tanganku, Rin?"
"Hmm... Baiklah."
Rin melepas tangan Len dengan sangat terpaksa. Tentu saja, ia tidak mau adik kembarnya terkena sesuatu yang mengerikan di sekolah ini. Mengingat waktu itu Rin melihat adegan tidak senonoh(?) yang dilakukan Kaito.
'Awas kalau aku bertemu dia!' batin Rin berapi-api hingga bisa memasak telor(?).
"Nee, Rin. Kau ke sekolah sana, nanti telat." gumam Len.
"Ah, ok deh. Nanti aku jemput. Bye..."
Ketika Rin sudah meninggalkan Len, Len segera berjalan memasuki sekolahnya. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti karena ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Jujur hal ini membuat Len merinding jadinya.
"Pagi, Len-kun~" sapa orang itu tepat di telinga Len.
Len langusng saja mendorong orang itu, dan orang itu terjatuh dengan tidak elitnya di tanah. Len kaget melihat orang yang membuatnya merinding tadi adalah, seseorang yang dikenalnya.
"Kaito-senpai?" gumam Len dengan wajah merah. "Tidak bisa menyapaku dengan cara yang biasa?"
"Haha... Untukmu, aku harus memberikan sapaan khusus tiap hari." ujar Kaito yang telah bangkit dari kubur, eh dari jatuhnya dan berpose keren.
"Jangan menakuti Kagamine-kun, Kaito." ujar seseorang.
"Ah, Kamui-senpai." ujar Len.
"Gakupo, kau pintar mencari perhatian Len-kun ya?" tuduh Kaito.
"Siapa yang mencari perhatian? Memangnya kamu." ujar Gakupo santai.
"Apa?"
"Sudah, sudah. Kaito-senpai dan Kamui-senpai jangan bertengkar." ujar Len.
"Aku tidak..." ujar Kaito dan Len bersamaan.
Len hanya tertawa kecil saja melihat kekompakan kedua senpai itu. Meski mereka tidak mengakui bahwa mereka kompak, tapi itu semua terlihat ketika mereka bersama. Gakupo melirik ke arah tam jangannya.
"Ah, sudah jam segini. Aku duluan ya, ada pelajaran olahraga," ujar Gakupo. "Kagamine-kun, ikut denganku."
"Apa? Kok gitu?" keluh Kaito.
"Kalau kutinggal kalian berdua, kau pasti bertingkah aneh-aneh, Kaito."
Gakupo langsung saja menggengam tangan mungil Len dan membawanya pergi bersamanya. Sedangkan Kaito yang melihat mereka berdua hanya bisa nangis darah(?) menerima kenyataan pahit ini.
"Huwaa... Len-kun..." rengek Kaito.
Kaito, dimana harga dirimu sebagai seorang pemuda yang disukai gadis dan juga pria? Masa menangis hanya karena hal seperti itu? Tampaknya, Kaito menyadari harga dirinya dan mulai bertingkah keren (baca: sok keren) itu lagi.
"Huh, bagaimana pun caranya, Len-kun akan jatuh ke pelukanku. Wahaha..." Kaito mulai ketawa layaknya pahlawan bertopeng lagi dan membuat teman-teman lain sweatdrop melihatnya.
Len sudah sampai di kelasnya yang diantar oleh Gakupo. Sekarang sudah waktunya belajar, Len mengikuti pelajaran dengan serius begitu juga teman-teman yang lain. Akhirnya pelajaran jam pertama sudah selesai.
Len dan teman-teman lain langsung ke ruang ganti, karena setelah ini ada pelajaran olahraga. Saat ganti baju Len menyadari satu hal, pelajaran pertama tadi Gakupo juga olahraga. Mungkin ia bisa bertemu Gakupo di lapangan.
.
.
.
Akhirnya murid-murid kelas 1-2 segera menuju lapangan olahraga. Benar saja, para senpai kelas 3-4 masih berolahraga. Len memperhatikan bahwa para senpai sedang bermain basket. Ia melihat Gakupo sedang bermain dan berhasil mencetak point.
"Wah... Keren..." gumam Len.
"Kamui-senpai jago olahraga sih. Wajar saja ia bisa." ujar Piko.
"Begitu ya?"
Gakupo sudah selesai bermain, ia dan teman-temannya segera membawa bola untuk disimpan kembali. Tanpa sengaja ia melihat Len, ia hanya tersenyum kecil ke arahnLen. Len yang melihatnya hanya melambaikan tangan saja. Lalu Gakupo menuju gudang penyimpanan perlatan olahraga.
"Wah, Len-kun kau kenal dengan Kamui Gakupo-senpai ya?" tanya Piko.
"Dibilang kenal ya, lumayan. Aku sering bertemu dengannya di perpustakaan." jawab Len.
"Wah, hebat. Gakupo-senpai itu susah didekati lho..."
"Iya... Apalagi para kouhai seperti kita. Ia jarang sekali bicara." tambah teman yang lain.
"Begitu ya..."
Ketika mereka asyik membicarakan tentang Gakupo, orangnya telah muncul. Dia memegang pundak Len dan hanya tersenyum kecil.
"Halo, Kagamine-kun." sapa Gakupo.
"Hai, Kamui-senpai," balas Len. "Sudah selesai olahraga?"
"Iya... Aku duluan ke kelas ya. Ah ya, kutunggu kau di tempat biasa."
Lalu Gakupo berjalan meninggalkan Len, Len hanya tersenyum kecil saja. Mendengar ucapan Gakupo tadi, teman-teman Len menjadi heboh sendiri. Kebanyakan dari mereka membuat kesimpulan seenaknya.
"Len-kun, kau janjian dengan Gakupo-senpai?" tanya salah satu teman.
"Wah... Ada apa ini? Jangan-jangan... kamu ketularan Kaito-senpai ya?" gumam teman yang lain dengan ekspresi layaknya dapat emas(?).
"Enak aja! Aku masih normal!" seru Len sedikit tidak terima. "Aku akan menemui Kamui-senpai untuk mengembalikan buku kok. Itu saja."
"Oh begitu..." ujar teman-teman serempak kayak paduan suara.
"Kamui Gakupo-senpai termasuk orang yang populer, Len-kun. Wajar saja banyak yang ingin dekat dengannya." ujar Piko.
"Dia termasuk orang kedua yang populer." ujar teman yang lain.
"Kedua? Berarti ada ketiga begitu?" tanya Len.
"Iya. Yang pertama Kaito-senpai, kedua Gakupo-senpai, ketiga Hiyama-senpai dan keempat adalah Hatsune-senpai." jawab Piko.
"Wah... Kau tahu saja."
"Hehe... Iya, karena mereka berempatlah andalan sekolah jika ada festival."
"Andalan untuk apa?"
"Menarik perhatian para gadis untuk datang ke sini saat festival."
"Oh begitu..."
"Hei, kalian malah ngobrol saja! Pelajaran dimulai!" ujar guru olahraga, Megurine Luki.
"Iya..."
Dan akhirnya murid-murid kelas 1-2 memulai pelajaran olahraga yang diajarkan oleh Luki. Sebenarnya saudara kembar Luki, Luka juga bekerja sebagai guru tapi sebagai guru IPA. Berbeda dengan Luki yang suka kegiatan fisik seperti olahraga.
Daripada aku mulai ngelantur dengan menceritakan sejarah(?) duo Megurine, lebih baik segera lanjut saja cerita ini ke istirahat siang.
Akhirnya waktu istirahat siang tiba. Semua murid menikmati istirahat siang dengan makan di kantin atau di kelas dengan bekal masing-masing. Tentu saja, Len memakan bekal yang dibuatkan oleh Rin.
Setelah selesai memakan bekalnya, Len segera bangkit dari kursinya dan menuju perpustakaan. Ia membawa sebuah buku yang beberapa hari lalu ia pinjam. Tampaknya tidak ada Kaito, hingga Len bebas ke perpustakaan.
.
.
.
"Permisi..." ujar Len.
"Kagamine-kun, akhirnya kau datang." ujar Gakupo.
"Iya, Kamui-senpai. Aku ingin mengembalikan buku ini."
"Apa kau ingin meminjam lagi?"
"Tidak..."
"Oh begitu. Kalau mau istirahat sebentar atau melihat-lihat juga boleh."
"Terima kasih."
Len hanya melihat-lihat buku saja, karena ia bingung ingin meminjam buku apa. Rasanya suasana perpustakaan saat sepi*memang harus begitu*. Mengingat beberapa hari lalu sangat ramai, Len jadi tertawa kecil saja.
"Wah, Kagamine-kun... Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Gakupo yang tiba-tiba berada di sebelah Len.
"Eh? Kamui-senpai... Tidak kok..." jawab Len gugup. Ternyata Gakupo ada bakat juga muncul tiba-tiba kayak setan*plak*.
Gakupo memperhatikan wajah Len, entah kenapa terbesit di pikirannya kalau Len itu sangat manis. Tapi, buru-buru Gakupo hilangkan pikiran seperti itu. Ia tidak ingin pikirannya teracuni karena Kaito.
"Ada apa, senpai? Daritadi liatin aku terus?" tanya Len.*GR juga, Len-chan*
"Ah, tidak ada apa-apa kok." jawab Gakupo malu(?).
Len hanya memperhatikan wajah Gakupo dan tersenyum manis. Jujur, Gakupo merasa sedikit ada yang berbeda. Jantungnya sedikit berdetak kencang karena senyum Len.
'Sadarlah, Gakupo! Kau bukan seorang gay seperti Kaito!' batin Gakupo sambil memukul-mukul kepalanya ke rak buku(?). Len yang melihatnya hanya sweatdrop di tempat.
"Kenapa, senpai?" tanya Len.
"Ah, tidak apa-apa..." ujar Gakupo dengan darah(?) di kepalanya.
Melihat tingkah Gakupo yang sedikit aneh itu, Len hanya berusaha yakin bahwa Gakupo baik-baik saja. Tapi, tanpa mereka sadari ada sosok seseorang yang memandang mereka berdua dengan derai air mata.
"Huwaa... Len-kun~" tangis orang itu.
Sudah tahu siapa kan orang gaje itu*plak*. Karena cerita ini tidak terlalu berhubungan dengannya kita tinggalkan saja ia dulu.
Kembali dengan Gakupo yang mulai menggalau(?). Dia bingung kenapa jantungnya berdetak kencang jika melihat Len, apa yang terjadi? Mungkinkah sang cupid telah menembakkan panah asmara padanya*halah*.
"Kamui-senpai, aku harus ke kelas." ujar Len.
Tapi, sebelum Len pergi Gakupo malah memeluknya dari belakang. Len sedikit terkejut dengan tingkah Gakupo, jantungnya berdetak lebih kencang. Kenapa? Ketika Kaito memeluknya ia tidak merasakan hal seperti ini.
"Ano... Kamui-senpai?" gumam Len dengan wajah mulai memerah.
"Sebentar saja. Tidak ada yang melihat." bisik Gakupo dengan nada menggoda.
Wajah Len langsung saja tambah merah, dia bingung kenapa Gakupo memeluknya seperti itu. Tapi, ia merasa nyaman dalam pelukan Gakupo. Tidak ada paksaan dalam memeluknya. Tiba-tiba ada seseorang yang langsung menarik Len dari Gakupo.
"Kaito!" seru Gakupo.
"Kaito-senpai?" gumam Len.
Kaito memandang Len dan Gakupo bergantian. Ia merasa cemburu melihat mereka berdua berpelukan mesra seperti tadi. Kaito memandangtajam ke arah Gakupo.
"Gakupo, kukira kau tidak seperti itu!" seru Kaito.
"Memangnya aku kayak kamu." ujar Gakupo.
"Kamu juga menyukai Len-kun, kan?"
Mendengar ucapan Kaito itu, wajah Len memerah. Ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu. Gakupo menyukainya? Benarkah? Di satu sisi Len tidak keberatan dengan hal itu. Tapi, kalau Rin tahu ia dalam bahaya.
"Aku permisi!" seru Len sambil berlari dan meninggalkan perpustakaan.
"Len-kun..." panggil Kaito, tapi Len tidak menoleh ke arahnya.
"Dia pergi..." gumam Gakupo.
"Meski kita teman, tapi aku tidak akan menyerahkan Len-kun padamu!" seru Kaito.
"Aku tidak peduli." ujar Gakupo.
"Bohong. Kau juga menyukainya. Baiklah, kita bersaing."
"Bersaing?"
"Dua minggu lagi festival dan kita akan bersaing dalam menarik perhatian para pengunjung. Yang paling banyak boleh memiliki Len-kun."
Gakupo hanya tersenyum saja, ia merasa Kaito sedikit kekanak-kanakkan. Makanya, dari kecil Kaito selalu berusaha bersaing dengannya. Melihat senyum Gakupo itu, Kaito merasa sedikit diremehkan.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Kaito.
"Kau memustuskan seenakmu, Kaito. Sama saja seperti kita kecil," jawab Gakupo. "Len-kun bukan barang yang bisa kita ambil sesukanya."
Mendengar Gakupo memanggil Len dengan panggilan "Len-kun", membuat Kaito geram sendiri. Kaito masih saja memandang kesal ke arah Gakupo.
"Awas kau! Aku akan mengalahkanmu!" seru Kaito dan ia berjalan meninggalkan perpustakaan.
Gakupo hanya tertawa kecil saja melihat tingkah Kaito yang masih seperti anak kecil itu. Ia langsung membereskan beberapa buku. Tapi, ia terdiam. Entah kenapa ia menyanggupi persaingan dari Kaito. Bukannya itu sama saja mengakui bahwa ia menyukai Len.
'Ah... Tidak! Kumohon, aku bukan gay!' jerit batin Gakupo sambil kembali memukulkan kepalanya di rak buku(?).
Ok, kita tinggalkan pemuda galau(?) itu yang asyik memukul kepalanya ke rak buku, dan pemuda childish yang dengan seenaknya mengumumkan perang untuk mendapatkan hati sang pujaan hati.
Len sudah berada di kelas, ia memperhatikan keadaan kelas yang sedikit ramai dari biasanya. Banyak teman-teman yang ramai membicarakan berbagai macam hal.
"Ada apa, ramai sekali?" tanya Len.
"Kami akan mempersiapkan sesuatu untuk festival." ujar Piko.
"Festival? Secepat itu ya?"
"Iya..."
"Kita akan mengadakan apa?"
"Seperti biasa, butler cafe."
"Eh?"
"Lagipula keempat idola Voca Gakuen juga sudah menarik perhatian para gadis. Mereka pasti akan datang."
"Begitu ya?"
Len mengangguk saja mendengar penjelasan Piko, mungkin Voca Gakuen ini lebih mengutamakan sang idola sekolah untuk menarik perhatian para gadis sebagai pengunjung festival.
"Ok. Kita akan menyiapkan semuanya selama dua minggu ini." ujar sang ketua kelas.
"Iya!" seru murid kelas 1-2.
TBC
A/N: Akhirnya bisa update setelah sekian lama. Mungkin humor-nya kurang kerasa. Semoga masih ada yang mau membacanya dan jangan lupa review ya...^^
