Disclamer: Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso
Warning: AU, OOC, Shounen-ai
The Lost Memory
Pagi hari, siang hari, sore maupun malam tetaplah sama jika salju turun. Tidak ada yang berbeda, hanya sedikit warna langit yang perlahan-lahan berubah warna dan dengan nuansa warna putih yang terus turun dari langit.
Dan muncullah padang salju yang bewarna putih, seputih kapas. Warna yang sangat cantik. Di padang salju itu, ada sosok gadis berambut kelabu panjang yang memakai gaun bewarna biru. Gadis manis yang hanya berada sendiri di padang salju itu.
"Sebastian..." gumam gadis itu.
Tiba-tiba saja sosok gadis itu jatuh tersungkur dan warna salju yang putih itu berubah menjadi merah karena darahnya. Anehnya, hampir sebagian padang salju itu bewarna merah karena darahnya.
Masih terdengar bisikan dari sosok gadis yang sudah tewas itu. Dia terus membisikkan kata-kata 'Aku ingin bertemu denganmu, Sebastian'. Selalu kata-kata itu yang terdengar dan hanya satu-satunya suara yang ada di padang salju itu. Dan sekilas ada sosok pemuda berambut hitam yang memandangnya dari jauh.
.
.
.
"Huwaaa..." terdengar jeritan seorang pemuda berambut kelabu.
Wajahnya dan rambutnya sedikit berantakan. Dia memperhatikan jam wekernya yang telah menunjukkan pukul enam pagi. Pemuda itu langsung bangun dan terdiam sejenak di ranjangnya.
Ia selalu mendapat mimpi yang sama akhir-akhir ini. Mimpi tentang seorang gadis berambut kelabu panjang yang selalu sendiri di padang salju dan tiba-tiba terbunuh. Di saat terakhir dia menginginkan bertemu dengan seseorang yang bernama Sebastian.
"Kenapa aku selalu mimpi seperti itu?" gumam pemuda itu.
"Ciel, waktunya makan..." ujar seorang wanita berambut merah dengan pakaian serba merah miliknya.
"Iya, Madam Red." ujar pemuda itu, Ciel.
Pemuda bernama Ciel itu segera turun dari ranjangnya. Ia langsung menuju kamar mandi, setidaknya dia ingin mandi untuk menyegarkan pikirannya. Setelah selesai mandi dan memakai seragam sekolahnya, dia berjalan menuju ruang makan, disana Madam Red yaitu bibi-nya telah menunggunya.
"Kau lama." ujar Madam Red.
"Tadi aku mandi dulu." jawab Ciel.
"Aku tahu. Sekarang kamu makan saja dulu."
"Baiklah."
Ciel langsung memakan sarapannya. Dia hanya tinggal berdua dengan wanita yang dipanggilnya Madam Red ini. Madam Red atau lebih tepatnya Angelina Durless adalah adik dari ibu Ciel. Mereka tinggal bersama karena kedua orangtua Ciel sudah lama meninggal.
Madam Red memperhatikan Ciel, dulu ketika kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan Ciel masih sangat kecil. Angelina berinisiatif merawat Ciel dan mereka tinggal bersama hingga Ciel berusia 17 tahun.
"Ciel, hari ini kau tetap memakai kalung itu ya?" tanya Madam Red.
"Ah," Ciel memperhatikan kalung yang dia pakai. Seharusnya itu adalah cincin, tapi ia mengenakan cincin itu sebagai kalung. "Iya. Karena ini satu-satunya peninggalan Papa dan Mama."
Madam Red hanya tersenyum tipis saja. Dia tahu kalung itu adalah satu-satunya yang Ciel ingat tentang kedua orangtuanya. Mengingat hal itu rasanya menyedihkan. Mungkin tidak seharusnya dia bertanya tentang hal itu.
Tidak lama Ciel selesai makan, dia segera berdiri dan berjalan menuju pintu depan. Madam Red yang melihatnya langsung mendekatinya dan memberikannya sebuah syal bewarna biru.
"Pakailah, di luar turun salju kan? Pasti dingin." ujar Madam Red.
"Terima kasih, Madam," ujar Ciel. "Aku berangkat dulu."
"Hati-hati..."
Ciel segera pamit kepada bibinya dan berangkat ke sekolah. Ia langsung saja memakai syal yang diberikan Madam tadi. Memang benar, cuaca di luar sangat dingin. Ciel terus melangkahkan kakinya menuju sekolahnya.
Sementara di tempat yang sedikit jauh, tapi cukup untuk melihat keseluruhan jalanan di London. Ada seorang pemuda berambut hitam dengan pakaian serba hitamnya. Dia mengawasi gerak-gerik Ciel.
"Akhirnya aku menemukanmu." gumam pemuda itu.
Ciel telah sampai di sekolahnya, SMA St. White. Dia melangkahkan kakinya menuju kelasnya, kelas 2-1 dan langsung saja dia duduk di bangkunya. Hari ini sama saja baginya, sekolah ataupun tidak dia masih merasa ada yang kurang.
"Ciel..." panggil seorang gadis berambut gelombang pirang yang berada di samping Ciel.
"Ah, Elizabeth." ujar Ciel.
"Panggil Lizzie saja. Aku kan sudah memintamu memanggilku begitu." ujar Elizabeth sedikit cemberut.
"Iya. Maaf, Lizzie."
"Hehe..."
Wajah Elizabeth langsung saja terlihat cerah. Dia memang gadis yang murah senyum kepada siapapun. Tapi, Elizabeth selalu memandang Ciel. Dia menyukai Ciel dari dulu ketika mereka pertama kali bertemu di upacara penerimaan murid baru.
"Ah, Ciel. Pulang sekolah nanti kamu ada acara? Mau pergi bersama denganku dan teman-teman?" tanya Elizabeth.
"Maaf, nanti aku mau langsung pulang." tolak Ciel.
"Oh begitu. Sayang sekali," gumam Elizabeth. "Lain kali ikut ya?"
"Iya."
.
.
.
Selama pelajaran Ciel memperhatikan dengan seksama. Dia memang murid yang pintar, disukai banyak gadis dan para guru. Kehidupan Ciel yang terlihat biasa, tapi teman-temannya tidak mengetahui masa lalu Ciel. Ciel sendiri mungkin juga tidak menyadarinya. Ia hanya menjalani hidupnya biasa saja.
Sementara di dekat SMA St. White itu ada sosok pemuda berambut hitam yang sedang berdiri di dekat gerbang sekolah. Kalau saja dia bersikap misterius, ia bisa ditangkap. Tapi, karena wajahnya yang terlalu tampan itu membuat para gadis yang melintasi sekolah itu sesekali melirik ke arahnya.
"Aku yakin dia ada disini." ujar pemuda itu.
'Kau yakin?' tanya sebuah suara yang hanya bisa didengar pemuda itu.
"Aku yakin. Aku sudah menunggunya selama 100 tahun terakhir. Dan tidak salah, sekarang dia ada disini."
'Kau terlalu percaya diri, Sebastian.'
"Aku sangat yakin, Lucifer. Cincin ini adalah buktinya."
Pemuda itu, Sebastian memperhatikan cincin yang dia kenakan di jari manis kanannya. Dia masih ingat kejadian 100 tahun yang lalu. Awal ketika kehidupannya berubah, dimana kekasihnya dibunuh dihadapannya.
"Aku menaruh sihir di cincin itu. Ketika aku memikirkannya," gumam Sebastian sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba saja cincinnya bersinar, memperlihatkan cahaya biru yang indah. "Cahaya biru cincin itu semakin menyala dan sinarnya sangat terang. Berarti dia ada di dekat sini."
'Baiklah. Setidaknya aku memenuhi kontrakmu.'
Waktu pulang sekolah sudah tiba. Sekarang sudah hampir pukul dua siang, tapi karena musim dingin tidak ada bedanya pagi hari ataupun siang hari. Semuanya sama diantara tumpukan salju yang perlahan-lahan turun.
Murid-murid langsung keluar dari kelas dan berjalan pulang, termasuk Ciel. Sebastian yang menunggu itu karena sama sekali tidak memiliki petunjuk tentang kekasihnya masih tetap berdiam diri di dekat gerbang sekolah. Para siswi St. White langsung saja mendekati Sebastian.
"Ah, kakak tampan sekali," ujar gadis-gadis itu. "Sedang menunggu siapa?"
"Eh? Tidak kok." ujar Sebastian sambil tersenyum manis. Membuat para siswi kegirangan.
Sementara para siswi sedang mengelilingi Sebastian, tiba-tiba saja sosok Ciel melewati mereka. Tapi, baik mereka berdua sama sekali tidak menyadari kehadiran satu sama lain. Tiba-tiba saja cincin Sebastian bersinar terang, perhatian para siswi tertuju ke arah cincin yang Sebastian pakai.
"Ah, cincin milik kakak indah ya?" tanya para siswi itu.
"Maaf ya, aku harus pergi." ujar Sebastian sambil sedikit berlari meninggalkan para siswi itu. Mereka hanya bisa terdiam menatap kepergian Sebastian.
Sedangkan Sebastian mulai mengejar sosok Ciel yang berada di depannya. Tapi, tiba-tiba Sebastian menghentikan langkahnya. Apakah benar sosok yang dia kejar ini adalah Ciella? Ciella yang dulu dengan sekarang berbeda.
'Apakah dia benar-benar Ciella?' batin Sebastian.
Ia kembali mengejar Ciel dan menangkap tangan Ciel. Otomatis Ciel menoleh ke arahnya dan menatap Sebastian bingung. Kenapa ada pemuda asing yang tiba-tiba menggengam tangannya?
"Ada apa?" tanya Ciel langsung.
'Sebastian...' tiba-tiba saja Ciel mendengar suara seseorang dalam pikirannya.
Wajah Ciel lantas berubah, dia kaget mendengar suara itu. Dia melepaskan genggaman tanga Sebastian dan sedikit menjauh darinya. Sebastian yang kaget atas reaksi Ciel itu berusaha mendekatinya.
"Maaf ya, kalau aku menakutimu." ujar Sebastian.
"Kamu memang menakutiku. Apa yang kau mau?" tanya Ciel.
'Aku ingin kau memelukku.' terdengar suara itu lagi. Ciel langsung menutup kedua telinganya. Sebastian bingung melihat sikap Ciel.
"Jangan bicara lagi..." gumam Ciel.
Sebastian melihat kalung Ciel yang bersinar, sama seperti cincin-nya. Dia mendekati Ciel dan menyentuh kalung Ciel. Ciel terkejut melihat apa yang Sebastian lakukan, dia langsung menepis tangan Sebastian dan berlari darinya.
"Tunggu!" panggil Sebastian.
Tapi, Ciel tidak mendengar. Dia terus berlari, entah kenapa dia ingin berlari. Sebastian tetap mengejarnya dari belakang. Dia ingin memastikan satu hal, benarkah pemuda itu adalah Ciella?
'Kau melarikan diri.' terdengar suara itu lagi.
Ciel tidak mengerti kenapa dia mendengar suara itu. Suara siapa itu? Tapi, kalau Ciel pikir pelan-pelan, suara itu adalah suara gadis yang ada dalam mimpinya. Kenapa dia bisa mendengar suara gadis itu?
Ciel terus berlari dan dia tidak melihat jalan. Dia langsung melintasi jalan raya tanpa melihat kiri-kanan. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil, Ciel menoleh ke asal suara itu. Dia terkejut bahwa jarak dirinya dan mobil itu hampir dekat. Mungkin dia akan mati.
Tapi, Ciel tidak merasakan apa-apa. Tiba-tiba saja tubuhnya dipeluk seseorang dan dibawa pergi dari tempat itu. Ciel selamat, dia tidak jadi ditabrak. Sekarang dia berada di sisi jalan lain bersama dengan Sebastian.
"Ah, terima kasih telah menolongku." ujar Ciel.
"Sama-sama," ujar Sebastian. "Untung aku tepat waktu, kalau tidak..."
"Kalau tidak?"
"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya."
"Eh?"
Ciel memperhatikan wajah Sebastian dengan heran. Kehilangan untuk kedua kalinya? Apa maksudnya? Memangnya siapa Ciel bagi Sebastian? Yang Ciel tahu, pemuda berambut hitam yang ada di dekatnya ini adalah orang asing.
"Mungkin kau salah menganggapku dengan orang lain. Permisi." ujar Ciel dan dia langsung pergi dari hadapan Sebastian.
'Kau tidak mengejarnya?' tanya Lucifer, suara yang bisa didengar oleh Sebastian.
"Mungkin dia akan marah jika aku mengejarnya." ujar Sebastian.
Tapi, Sebastian masih sangat penasaran tentang Ciel. Sebastian mengikuti Ciel, tentu menjaga jarak agar Ciel tidak tahu. Setelah Ciel sampai di rumah, dia hanya memperhatikan rumah Ciel dengan seksama.
"Dia tinggal disini ya?" gumam Sebastian.
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Sebastian pastikan. Mulai dari kalung yang Ciel miliki dan sosoknya yang mirip dengan kekasihnya itu. Mungkinkah Ciel memang Ciella? Sebastian belum bisa memastikan hal itu.
"Aku akan memastikannya nanti." gumam Sebastian.
Malam telah tiba, Ciel masih terdiam di kamarnya. Dia memikirkan apa yang terjadi dari tadi siang. Bertemu dengan pemuda misterius yang bilang takut kehilangan dirinya. Memangnya siapa pemuda itu?
"Siapa sebenarnya dia?" gumam Ciel heran. Dia berjalan mendekati cermin besar yang ada di kamarnya. Ia memperhatikan cermin itu baik-baik, tiba-tiba saja sekilas Ciel melihat sosok seorang gadis.
'Ciel.' panggil gadis itu.
Ciel merasa heran, tiba-tiba ia mendengar suara seseorang. Ia memperhatikan cermin itu lagi dan terlihat sosok gadis berambut kelabu panjang dengan gaun birunya. Badan Ciel gemetaran melihat sosok gadis itu.
'Kau tidak perlu takut. Aku adalah dirimu.' ujar Ciella.
"Kau adalah aku?" tanya Ciel.
'Iya. Aku hanya ingin menemuinya.'
"Siapa dia itu?"
'Sebastian.'
Ciel terdiam, lagi-lagi dia mendengar nama itu. Siapa Sebastian? Apa ada hubungannya dengan pemuda berambut hitam misterius yang menolongnya tadi? Ciel mendekati cerminnya itu, dia melihat raut wajah gadis itu yang terlihat sedih.
'Aku sudah menunggunya selama 100 tahun ini.' ujarnya.
"Selama itu?" tanya Ciel.
'Cintaku selalu untuknya.'
Ciel tidak bisa berkata apa-apa mengenai ucapan gadis itu, Ciella. Dia menyentuh cermin miliknya dan memperhatikan wajah Ciella yang datar tapi terlihat sendu itu. Ciella menatap ke arah Ciel dan tersenyum.
'Kau sudah bertemu dengan Sebastian. Aku ingin menemuinya.' ujar Ciella.
"Sebastian? Pemuda tadi?" tanya Ciel.
'Iya.'
Ciel terdiam, tiba-tiba saja sosok Ciella menghilang. Ciel masih tidak mengerti apa yang terjadi. Yang ia tahu mungkin sosok gadis yang ia lihat di cermin tadi adalah orang yang sangat menyayangi Sebastian, kekasihnya mungkin. Tapi, kalau memang seperti itu kenapa Sebastian masih hidup?
'Gadis itu bilang dia menunggu selama 100 tahun.' batin Ciel.
Daripada memikirkan hal yang aneh, Ciel langsung saja tidur. Rasanya lelah sekali hari ini. Dia ingin mengistirahatkan pikirannya. Mungkin saja semua hal yang dia alami tadi siang itu hanyalah mimpi belaka.
.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Tiba-tiba saja jendela kamar Ciel terbuka, angin musim dingin masuk dan membuat suasana terasa dingin. Setidaknya Ciel sudah tertidur dengan nyenyak dan ia tidak memperhatikan jendela kamarnya yang tiba-tiba terbuka.
Sosok Sebastian muncul dari balik jendela kamar Ciel. Dia langsung saja masuk ke kamar Ciel melalui jendela kamar Ciel. Dia memperhatikan sosok Ciel yang sedang tertidur dengan lelapnya. Sebastian mendekati Ciel dan hanya tersenyum melihatnya.
"Wajah tidurnya semanis Ciella." gumam Sebastian.
Sebastian memperhatikan wajah Ciel, rasanya menenangkan hatinya. Dia duduk di dekat ranjang Ciel dan memperhatikan lagi wajah Ciel. Dia melihat kalung yang Ciel kenakan, ada cincin disana. Cincin yang sama seperti miliknya. Ia yakin, Ciel adalah Ciella. Mereka orang yang sama.
"Aku sudah menunggu selama 100 tahun untuk bertemu denganmu, Ciella," gumam Sebastian sambil menyentuh pipi Ciel. "Ah, mungkin namamu juga bukan Ciella."
Sebastian terus memperhatikan wajah Ciel. Wajah Ciel itu sama seperti Ciella, terlalu mirip. Sebastian mendekatkan wajahnya ke wajah Ciel dan mencium bibirnya. Entah kenapa Sebastian melakukan hal itu, tapi yang pasti sekarang ia sedang menciumnya.
Tidak lama Sebastian melepaskan ciumannya. Rasanya lebih hangat daripada Ciella yang dulu. Sebastia merasa ciumannya tadi sama seperti ketika ia mencium Ciella. Mungkin, mereka memang satu.
"Aku akan menjagamu, Ciella." ujar Sebastian sambil mengecup kening Ciel.
Dan dia langsung saja pergi dari kamar Ciel melalui jendela kamar. Meski ia tidak bisa seterusnya berada di sisi Ciel, mungkin dia akan selalu mengawasinya. Atau mungkin dia ingin mencoba mengawasinya langsung.
Pagi hari telah tiba, Ciel terbangun dari tidurnya. Tapi, dia sedikit heran kenapa jendela kamarnya sedikit terbuka. Dia langsung menutup jendelanya dan segera bersiap-siap menuju sekolahnya.
"Ciel, kamu sudah bangun?" tanya Madam Red.
"Ah iya, aku berangkat dulu ya?" ujar Ciel.
"Tidak makan dulu?"
"Aku sudah bawa bekal."
Ciel langsung saja bergegas menuju sekolah. Sebentar lagi jam masuk, dia tidak ingin dirinya terlambat. Ciel langsung saja keluar dari rumah dan betapa terkejutnya dia melihat sosok pemuda berambut hitam, Sebastian yang sedang berdiri di dekat rumahnya.
"Kenapa kau disini?" tanya Ciel.
"Aku ingin bertemu denganmu," jawab Sebastian. "Hmm... Namamu?"
"Hah? Kukira kau tahu namaku. Dasar aneh..." ujar Ciel sambil tertawa kecil.
Entah kenapa Sebastian jadi ingat ketika pertama kali ia bertemu dengan Ciella. Ketika ia menanyakan hal yang sama Ciella, juga tertawa. Mungkin ini hal yang membuat Ciella menyukai Sebastian.
"Aku Sebatian." ujar Sebastian.
"Ciel." jawab Ciel.
Sebastian terdiam, namanya juga mirip dengan Ciella. Tidak salah lagi Ciel memang Ciella. Tapi, sekarang kekasihnya adalah seorang pemuda. Tidak mungkin ia bisa melaksanakan keinginannya 100 tahun yang lalu.
"Kau kenapa?" tanya Ciel.
"Ah tidak. Apakah aku bisa melindungimu, Ciel?" tanya Sebastian.
"Hah? Memangnya untuk apa kau melakukan hal merepotkan begitu?"
Sebastian menggengam tangan Ciel, dia memperhatikan wajah Ciel dan tersenyum manis. Mungkin para gadis akan menjerit jika melihat senyum Sebastian ini. Tapi, senyum Sebastian tidak berlaku untuk Ciel.
"Karena kau orang yang penting, Ciel." ujar Sebastian.
"Heh. Merepotkan..." keluh Ciel sambil melepaskan tangannya dan berjalan meninggalkan Sebastian.
Sebastian hanya tersenyum saja melihat Ciel yang berjalan meninggalkannya. Sebastian tahu mungkin pertemuannya dengan Ciel adalah takdir, jawaban atas penantiannya selama 100 tahun terakhir.
'Suatu hari nanti aku akan melaksanakan janji yang dulu.' batin Sebastian.
TBC
A/N: Update!^^
Aku harus cepat nih, nanti keburu deadline-nya malah belum kelar.
Ditunggu reviewnya...^^
