Disclamer: Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso

Warning: AU, OOC, Shounen-ai

Tema Pilihan: Pedang, Kematian, Cincin, Kiss, Ruang Kelas

Surprise Theme: Hitam dan Perintah


The Lost Memory


Beberapa hari terakhir ini Sebastian selalu mengawasi Ciel, dia selalu berada di samping Ciel. Tentu saja dia ingin berada di sisi kekasihnya setelah 100 tahun berpisah. Tapi, sosok Ciel sekarang berbeda dengan Ciella.

"Ciel..." panggil Sebastian.

"Ada apa?" tanya Ciel.

"Kau benar-benar melupakanku ya?"

"Makanya aku tanya. Apa aku ada hubungannya denganmu?"

Sebastian hanya tersenyum saja, tentu Ciel yang sekarang tidak mengetahui apa pun tentang dirinya. Satu-satunya bukti bahwa jiwa Ciella ada pada Ciel adalah kalung itu, lebih tepatnya cincin yang dijadikan kalung itu.

"Darimana kau dapat cincin itu?" tanya Sebastian.

"Ini? Madam bilang ini peninggalan milik kedua orangtuaku." jawab Ciel.

Sebastian memperhatikan kalung Ciel baik-baik, dia mendekatkan wajahnya untuk memperhatikan dengan seksama kalung itu. Ciel sedikit risih dengan Sebastian, ia malah mendorong Sebastian.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Ciel kesal.

"Lho? Aku hanya mengecek kalungmu." jawab Sebastian enteng.

"Huh..."

Ciel langsung saja pergi meninggalkan Sebastian sendiri. Untuk apa dia mengurusi pemuda yang tidak jelas asal usulnya seperti Sebastian. Sebastian hanya tersenyum saja melihat Ciel yang menjauh darinya.

'Tidak apa terus seperti ini, Sebastian?' tanya Lucifer.

"Tidak apa. Perlahan dia akan mengingatnya." jawab Sebastian.


Hari sudah malam, Ciel pulang ke rumah. Karena ia lelah diikuti Sebastian masuk ke kamarnya dan memperhatikan cerminnya. Disana ia melihat bayangan seorang gadis berambut kelabu panjang dengan gaun birunya, Ciella.

"Kau..." gumam Ciel.

Tapi sosok Ciella hanya berwajah datar, dia tersenyum tipis ke arah Ciel dan tiba-tiba menghilang. Ciel bingung, dia memperhatikan cuaca di luar. Lagi-lagi salju turun, entah kenapa Ciel merasa ada satu sisi di hatinya yang merasa sedih ketika melihat salju turun.

Ia memperhatikan jam wekernya yang telah menunjukkan pukul delapan malam. Ciel langsung saja mengganti seragamnya dengan baju tidur. Ia menuju ranjangnya dan memperhatikan salju sejenak.

"Lebih baik aku tidur." gumam Ciel dan ia mulai tidur.

Tapi, tanpa Ciel sadari dalam tidurnya ada hal buruk yang perlahan-lahan terjadi. Sosok Ciella muncul lagi di dalam cermin itu. Ia memperhatikan Ciel yang sedang tidur. Wajahnya itu terlihat sendu/

'Sebastian.' panggil Ciella.

Perlahan-lahan air mata mengalir dari wajah cantik Ciella. Awalnya, karena sekarang air mata Ciella itu berubah warna menjadi merah layaknya darah. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih itu.

'Aku sangat merindukanmu.' gumam Ciella.

.

.

.

Sebastian yang sedang duduk manis di dekat taman hanya terdiam saja. Dia memperhatikan salju yang perlahan-lahan turun, salju yang seputih kapas. Layaknya cintanya kepada Ciella, putih dan suci.

Tapi Sebastian memperhatikan ada yang aneh dari salju yang turun. Ada warna yang berbeda dari salju-salju yang lain, yaitu merah. Sebastian bangkit dari bangku taman dan melihat salju bewarna merah itu.

"Merah?" gumamnya heran.


Keesokan paginya Ciel langsung bangun, tumben ia bangun cepat. Ia langsung saja mandi dan bergegas menuju sekolahnya. Ketika ia menuju ruang makan dia tidak melihat sosok Madam Red yang biasanya menyiapkan sarapan.

"Dimana Madam?" tanya Ciel.

Ia melihat ada secarik kertas di meja makan. Ciel mendekati meja makan dan melihat kertas itu, ternyata kertas dari Madam yang isinya bahwa ia pulang malam dan menyuruh Ciel untuk menghangatkan makanan yang sudah ia masak.

Ciel melakukan seperti yang ditulis di kertas itu. Madam memasak stew, Ciel hanya perlu menghangatkannya dan memakan sarapannya. Rasanya sepi hanya makan sendiri saja, tiba-tiba terlintas sosok Sebastian di benaknya.

'Kenapa aku memikirkan orang itu?' batin Ciel sambil menggelengkan kepalanya.

Ciel merasa ada yang aneh dengan pemuda yang tiba-tiba berada di dekatnya, Sebastian. Sebastian terlalu misterius baginya. Seperti bertanya apakah dia ingat tentang Sebastian atau memperhatikan kalungnya. Apa ada hal khusus?

"Sebenarnya siapa kau?" gumam Ciel.

Setelah selesai makan, Ciel langsung berangkat ke sekolah. Dan benar saja, Sebastian sudah menunggunya di depan gerbang rumahnya. Sebastian hanya tersenyum saja dan melambaikan tangannya pada Ciel.

"Pagi, Ciel." sapa Sebastian.

"Pagi," ujar Ciel datar. "Apa kau tidak punya kerjaan lain sehingga datang kesini tiap pagi?"

"Ahaha... Aku pernah bilang akan selalu di sampingmu."

"Aku tidak butuh!"

Ciel langsung saja berangkat menuju sekolah dengan berjalan kaki, Sebastian juga menyusulnya dan langkah mereka telah sejajar. Sebastian melihat wajah Ciel yang sedikit memerah, mungkin karena hawa di luar dingin.

Sebastian langsung saja menggengam tangan Ciel, wajah Ciel sekarang tambah memerah. Ia memperhatikan Sebastian yang tampaknya hanya tersenyum seperti biasa. Ciel ingin melepaskan genggaman tangan Sebastian, tapi Sebastian makin erat menggengam tangan Ciel.

"Hei, kenapa kau?" tanya Ciel.

"Kau kedinginan, kan?" tanya Sebastian. "Genggam tanganku saja. Hangat kan?"

"Huh!"

Tapi Ciel tidak melepaskan genggaman tangan Sebastian. Dia membiarkan Sebastian menggengam tangannya. Tangan Sebastian memang hangat, entah kenapa Ciel merasa seperti pernah disentuh oleh tangan ini.

Tidak lama mereka telah sampai di sekolah Ciel, Ciel melepas genggaman tangan Sebastian. Sebastian hanya tersenyum ke arah Ciel.

"Di sekolah belajar yang rajin ya?" ujar Sebastian.

"Tanpa kau beritahupun, aku juga tahu!" ujar Ciel yang langsung saja masuk ke sekolahnya.

Sebastian memperhatikan sosok Ciel yang perlahan menghilang. Sekarang wajahnya terlihat serius, dia memperhatikan salju yang turun. Warnanya masih putih seperti salju biasa. Tapi, entah kenapa Sebastian merasa ada yang aneh.

'Ada yang tidak beres.' batin Sebastian.

.

.

.

Sedangkan di kelas 2-1, Ciel hanya sibuk membaca bukunya saja. Karena Mr. Thompson, guru yang mengajar di jam pertama tidak masuk mereka harus belajar sendiri. Tapi, namanya juga para murid. Ketika jam kosong, kebanyakan dari mereka malah asyik bermain-main.

"Ciel..." sapa Elizabeth.

"Ada apa?" tanya Ciel.

"Kau tidak mau bergabung dengan yang lain?"

"Ah tidak, terima kasih."

"Baiklah."

Elizabeth meninggalkan Ciel yang sedang asyik membaca buku. Bukannya Ciel tertutup, hanya saja dia sedikit malas bergabung dengan teman-teman yang lain. Dia merasa lebih tenang jika membaca buku, daripada mengobrol hal yang tidak jelas.

Tiba-tiba saja kepala Ciel terasa pusing, Ciel merasa mungkin dia kelelahan. Tapi, tidak lama pandangannya menjadi gelap dan dia langsung pingsan hingga buku yang dipegangnya terjatuh di lantai. Teman-teman yang melihatnya kaget, karena wajah Ciel yang tiba-tiba terlihat pucat.

"Ciel, kau tidak apa-apa?" tanya Elizabeth.

Tapi, Ciel tidak bisa menjawab. Teman-teman sekelas Ciel yang lain berusaha membangunkannya tapi tidak bisa, Ciel tidak sadar juga.

.

.

.

'Kau merebutnya!' terdengar sebuah suara.

Ciel membuka kelopak matanya, dan dia terkejut melihat sosok gadis berambut kelabu panjang yang ada di hadapannya. Dia ingin lari, tapi tidak bisa. Gadis itu, Ciella telah mengikatnya dengan tali.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Ciel.

'Pertanyaan bagus. Aku ingin kau menjauh darinya.'

"Apa?"

'Kubilang, menjauh darinya! Kau berani memasuki kehidupan kami.'

"Tapi, aku..."

Ciel tidak melanjutkan ucapannya. Dia melihat ekspresi gadis itu yang berubah sendu, seolah-olah sinar di matanya telah hilang. Dia menangis, air mata mengalir dari wajahnya. Tapi, Ciel kaget karena air mata gadis itu adalah darah.

Ciel melihat sekeliling, dia berada di lautan darah. Salju yang turun juga bewarna merah, langit juga bewarna hitam. Seolah-olah tempat Ciel berada sekarang sangat berbeda dengan ruang kelasnya tadi.

"Tidak! Apa yang terjadi?" teriak Ciel.

.

.

.

"Huwaa!" teriak Ciel bangun.

Teman-teman sekelas Ciel terkejut mendengar teriakan Ciel yang seperti itu. Mereka menatap Ciel dengan heran. Demikian juga Ciel, dia melihat sekelilingnya. Dia berada di kelas. Dia menghela nafas saja.

"Kau baik-baik saja?" tanya teman sekelas yang lain.

"Aku tidak apa-apa." jawab Ciel.

Ciel masih ingat apa yang terjadi, mungkin itu adalah suatu pertanda. Suatu hari di musim salju dimana langit menjadi hitam dan salju yang turun bewarna merah. Tapi, Ciel berusaha meyakinkan dirinya. Tidak mungkin ada salju bewarna merah, bukan?


Satu hari ini Ciel tidak terlalu memperhatikan pelajaran yang ada. Dia masih memikirkan sesuatu yang ia lihat tadi. Mimpi ya? Rasanya sulit ia mempercayai hal seperti itu, tapi ia merasa akan terjadi hal buruk.

Sore ini, jam lima sore langit masih bewarna oranye. Salju yang turun juga masih bewarna putih. Semuanya masih normal, tidak ada keanehan apapun. Mungkin itu hanya mimpi belaka.

"Hai, Ciel." terdengar suara seseorang. Ciel langsung menoleh dan orang yang memanggilnya tadi adalah Sebastian.

"Sebastian..." gumam Ciel.

"Ayo kita pulang."

"Huh, kau seperti pengasuhku saja. Mengantar-jemput aku juga."

"Karena aku ingin selalu bersama denganmu."

Wajah Ciel langsung memerah, dia tidak berani memperhatikan sosok Sebastian. Sebastian hanya tersenyum saja dan ia kembali menggengam tangan Ciel. Ciel juga tidak bisa menolak, entah kenapa ia merasa senang dan jantungnya berdetak dengan cepat.


Malam telah tiba, sekarang sudah pukul sembilan. Ciel berada di kamar dan memperhatikan langit yang masih menurunkan salju. Ciri khas musim dingin, salju terus menerus turun. Untung saja tidak terjadi badai salju atau tumpukan salju yang mengganggu pekerjaan.

Ciel memperhatikan cermin miliknya, biasanya dia melihat sosok gadis berambut kelabu itu. Tapi, tidak hari ini. Mungkinkah gadis itu tidak akan menghantuinya lagi? Tapi, bukankah gadis itu pernah bilang bahwa dia dan Ciel adalah satu.

"Ah, aku bingung..." gumam Ciel.

Dia langsung saja tidur untuk menenangkan pikirannya. Iya, mungkin ini lebih baik daripada dia terus memikirkan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu jawabannya apa. Semuanya masih serba misterius.

.

.

.

Sekarang sudah pukul 11 malam, perlahan-lahan salju yang turun bewarna merah. Kali ini lebih banyak dari yang kemarin, hingga kalau diperhatikan seperti lautan darah. Sebastian yang hanya memperhatikan hal ini benar-benar merasa ada yang tidak beres.

'Ada apa ini?' batin Sebastian.

Tiba-tiba Sebastian merasa ada seseorang yang mendekatinya, ia merasa ada sebuah serangan yang muncul. Sebastian langsung menghindarinya, ia membaca sebuah mantra dan ia mengeluarkan pedang yang ia simpan di samping celananya.

"Ternyata benar, kau adalah orang yang dibicarakan itu." ujar seorang pemuda berambut hitam yang memakai kacamata. Ia membawa sebuah death scythe yang berbentuk seperti alat pencabut rumput.

"Siapa kau?" tanya Sebastian.

"Aku? William T. Spears, seorang shinigami." jawab William.

"Shinigami? Ada urusan apa?"

"Kau harus bertanggung jawab atas yang kau lakukan, Sebastian Michaelis."

"Aku?"

"Kau adalah penyebab terjadinya Red Snow ini."

"Red Snow?"

William membenarkan posisi kacamatanya, dia memperhatikan wajah Sebastian dengan serius. Tiba-tiba ia langsung menyerang Sebastian, Sebastian mempertahankan diri dengan pedangnya itu.

"Kau belum menjawab pertanyaanku." ujar Sebastian yang masih berusaha mempertahankan dirinya dari serangan William.

"Kau juga menyadarinya, salju telah berubah menjadi merah dan langit menjadi hitam." ujar William yang kembali menyerang Sebastian.

"Lalu? Apa hubungannya Red Snow denganku?"

"Semuanya berasal dari kekasihmu, Ciella Phantomhive."

Sebastian langsung terdiam. Apa katanya? Ciella penyebab dari Red Snow ini? Kalau Ciella penyebabnya berarti berhubungan dengan Ciel juga. Sebastian tidak mengerti, ia menyerang William dengan mengayunkan pedangnya. Tapi, William mampu menghindarinya dan kembali menyerang Sebastian.

Mereka berdua tidak mengalah, mereka masih menyerang satu sama lain. William langsung berhenti menyerang Sebastian. Ia mengeluarkan buku miliknya dan membuka halaman demi halaman. Sebastian hanya terdiam melihatnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Sebastian.

"Ciella Phantomhive, meninggal ketika berumur 20 tahun pada tahun 1792. Penyebab kematian, dibunuh oleh Vincent Phantomhive yang adalah ayahnya sendiri." ujar William.

"Kenapa kau?"

"Aku adalah shinigami. Catatan semua orang yang meninggal tertulis di death book milikku."

"Lalu? Apa hubungan antara Ciella dan Red Snow yang kau sebutkan itu?"

"Seharusnya jiwa Ciella Phantomhive sudah tenang. Tapi, pada tahun 1875 ada yang aneh. Jiwanya perlahan-lahan menghilang dan akhirnya kami tidak bisa menemukannya. Lalu aku mendengar bahwa ada manusia yang namanya tidak tertulis di death book selama 100 tahun. Manusia itu adalah kau, Sebastian Michaelis. Manusia yang mengikat kontrak dengan iblis, Lucifer"

Sebastian langsung terdiam. Semua yang dikatakan oleh William itu benar, seolah-olah dia melihat tabir masa lalunya yang terbuka. Di hadapan shinigami ini, Sebastian tidak bisa berkata apa-apa. Tapi, ia tetap menggengam pedangnya kuat. Menunjukkan bahwa ia masih siap untuk bertarung.

"Lalu? Apa kau akan menangkap Ciella?" tanya Sebastian.

"Tentu. Ini perintah dari ketua shinigami. Aku harus menurutinya." ujar William yang kembali menyerang Sebastian.

Sebastian berhasil menghindarinya dan ia mengayunkan pedangnya ke arah William. Entah kenapa, kemampuan Sebastian perlahan-lahan menurun. Mungkin karena sudah lama sekali dia tidak bertarung.

"Tapi, jangan sakiti Ciella!" seru Sebastian.

"Itu tidak mungkin." ujar William.

Mereka berdua kembali bertarung dan salju merah itu tetap saja turun. Perlahan-lahan tumpukan salju yang biasanya bewarna merah sekarang sudah bewarna merah. Bagaikan lautan darah.

William menghentikan serangannya. Dia menatap Sebastian dengan tatapan sedikit merendahkan dan membenarkan posisi kacamatanya. Sebastian menatap William dengan tatapan kesal.

"Tampaknya aku harus menyimpan tenagaku untuk menghadapi Ciella Phantomhive." ujar William datar.

"Kau akan melawannya?" tanya Sebastian.

"Tentu. Untuk menghentikan Red Snow ini. Aku akan menghabisi Ciella Phantomhive dan tubuh yang digunakan oleh gadis itu."

William langsung saja pergi meninggalkan Sebastian, Sebastian ingin memanggilnya tapi sosok William telah menghilang. Sebastian memperhatikan langit yang bewarna hitam, meski hari sudah malam tapi warna hitam langit lebih pekat dari yang biasa. Ditambah lagi salju merah yang terus turun.

"Ciella? Apa benar yang dikatakan shinigami tadi?" gumam Sebastian.

.

.

.

Di sebuah padang salju yang putih bersih, ada sosok gadis berambut kelabu panjang yang sedang duduk termenung. Wajahnya terlihat sendu, daritadi ia hanya menangis saja. Tapi, air mata gadis itu bewarna merah.

"Sebastian," isak gadis itu. "Aku ingin bertemu denganmu."

Seiring derasnya tangisan gadis itu, Ciella membuat sekelilingnya menjadi berubah. Warna salju menjadi merah dan langit menjadi hitam pekat. Tangisan Ciella terus terdengar, tapi tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

"Aku terperangkap di dunia cermin," gumam Ciella. "Dan kau tidak tahu? Kau terlalu menghabiskan waktumu dengannya!"

Ciella terus saja menangis. Sekarang sekelilingnya benar-benar terlihat seperti lautan darah, warna yang sangat kontras dengan Ciella. Tapi, Ciella tidak peduli. Dia masih menangis dan tangisannya itu tidak bisa berhenti.


Pagi hari telah tiba, Ciel perlahan membuka kelopak matanya dan bangun dari tidurnya. Ia memperhatikan jendela kamarnya, betapa terkejutnya ia melihat warna merah mendominasi di luar sana.

"Apa yang terjadi?" ujar Ciel bingung.

Ciel langsung saja bergegas menemui Madam Red yang ada di ruang makan, untung saja Madam Red belum pergi sehingga Ciel bisa bicara dengannya. Tapi, wajah Madam terlihat bingung melihat ekpresi Ciel.

"Kau kenapa?" tanya Madam Red.

"Ah, Madam. Di luar..." gumam Ciel.

"Iya. Salju yang turun tidaklah putih lagi, melainkan merah layaknya darah."

Ciel terkejut mendengarnya. Salju yang turun bewarna merah. Kenapa? Sepertinya ia pernah melihat salju yang bewarna merah itu. Ciel teringat, ia melihatnya ketika ia pingsan dan dia bertemu dengan dirinya yang lain, Ciella.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ciel.

"Aku juga tidak tahu," jawab Madam Red. "Tapi, kalau begini terus bukankah suasananya terlihat menakutkan?"

Ciel langsung menuju pintu depan dan membukanya. Benar, semuanya menjadi warna merah. Tumpukan salju putih yang menghiasai pohon di dekat rumahnya, sekarang menjadi merah. Begitu pula dengan jalanan yang biasanya diselimuti salju putih, menjadi merah. Semua sudut menjadi merah.

"Apa ini?" gumam Ciel.

"Kau muncul juga, Ciel." ujar Sebastian yang seperti biasa ada di depan pagar rumahnya.

"Sebastian? Kau tahu sesuatu tentang hal ini?"

"Kurang lebih."

Ciel masih saja merasa shock. Dia buru-buru kembali ke rumahnya, tampaknya dia akan bersiap-siap menuju sekolahnya. Sekitar 20 menit Sebastian berdiri di dekat pagar rumah Ciel, akhirnya Ciel muncul kembali.

"Aku ingin melihat keadaan teman-teman yang lain." jawab Ciel.

"Mungkin kau bisa tahan keinginanmu itu."

"Eh?"

"Aku ingin membicarakan hal yang serius denganmu."

TBC

A/N: Fiuh, chap 3 sudah ada.

Ditunggu review-nya ya?^^