Disclamer: Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso
Warning: AU, OOC, Shounen-ai
Tema Pilihan: Pedang, Kematian, Cincin, Kiss, Ruang Kelas
Surprise Theme: Hitam dan Perintah
The Lost Memory
"Aku akan menemuimu, Sebastian." ujar Ciella yang segera pergi meninggalkan rumah Ciel.
Dia menggengam kalung biru yang dipakai Ciel, kalung yang dia miliki juga meski tanpa sepengetahuannya. Ciella yang sekarang mengendalikan tubuh Ciel. Dia berpikir ingin cepat memakainya. Dia memejamkan matanya sambil menggengam kalungnya itu, tentu saja sambil memikirkan sosok kekasihnya itu, Sebastian.
Kalung itu mengeluarkan cahaya biru dengan terang, keberadaan Sebastian berhasil Ciella ketahui. Ciella langsung saja bergegas menemui Sebastian yang sedang berada di taman. Dia tidak sabar untuk menemui kekasihnya secara langsung, sudah 100 tahun mereka tidak bertemusecara langsung. Ciella sangat rindu pada Sebastian.
.
.
.
Sedangkan Ciel terkurung di dunia cermin. Ciella langsung saja memasukkannya tanpa mendengar sedikit pun penjelasan Ciel mengenai Sebastian. Ciel sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, kenapa Ciella sangat memusuhinya? Apa benar Ciella itu adalah dirinya yang lain?
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak tahu apa-apa." gumam Ciel.
Ciel tidak bisa keluar dari dunia cermin. Ciella telah mengurungnya disana, meski cermin ini adalah cermin miliknya tapi Ciella yang memegang kendali untuk membuka jalan keluar. Ciel tidak tahu apa yang menyebabkan Ciella menjadi seperti itu. Apakah ada penyebabnya?
"Sebastian..." gumam Ciel lagi.
Iya, siapa lagi kalau bukan Sebastian yang mengubah Ciella. Ciella bertindak sejauh ini pasti karena keinginannya untuk bertemu dengan Sebastian semakin kuat. Toh, ketika 100 tahun yang lalu mereka berdua adalah pasangan kekasih.
'Apa Sebastian baik-baik saja?' batin Ciel.
Entah kenapa Ciel merasa khawatir. Ia tahu ia tidak berhak ikut campur dalam masalah ini, tapi karena dia sudah terseret sejauh ini mau tidak mau Ciel pun menjadi terlibat di dalamnya. Ciel merasa ada satu sisi di dalam hatinya yang mengingikan Ciella tidak menemui Sebastian.
Sebastian sedang berada di taman yang biasa, ia memperhatikan langit. Tidak ada yang berubah, langit masih bewarna hitam dan salju yang turun pun tetaplah merah. Dia tahu penyebab utama Red Snow ini adalah kekasihnya sendiori, Ciella. Tapi, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Ciella sanggup menggunakan sihir penggabungan sampai sejauh ini. Berarti Ciella semakin bertambah hebat.
"Aku tidak mengerti," gumam Sebastian. "Kenapa keadaan alam berubah sesukanya atas kehendaknya?"
Tapi, sekarang ada sedikit perubahan. Perlahan-lahan salju yang bewarna merah kembali menjadi putih dan langit yang tadinya hitam perlahan menjadi biru. Apa yang terjadi? Sebastian tidak paham atas perubahan Red Snow ini. Mungkinkah Ciella sudah tenang? Tidak mungkin.
"Sebastian..." panggil seseorang.
Sebastian mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, dia langsung menoleh ke asal suara itu dan betapa terkejutnya dia melihat sosok Ciel berdiri di dekat pintu taman. Ciel langsung saja mendekati Sebastian yang masih memandangnya dengan heran.
"Ciel?" gumam Sebastian.
"Iya." Ciel langsung saja mendekati Sebastian dan memeluknya. Sebastian terkejut, tidak mungkin Ciel bisa memeluknya seperti ini. Apa ada orang lain yang menyamar sebagai Ciel?
"Ada apa ini? Tidak seperti biasanya kau memelukku." ujar Sebastian heran.
"Tidak boleh aku memeluk kekasihku sendiri?" tanya Ciel.
Sebastian merasa aneh, suara itu bukanlah suara Ciel. Suara itu lebih halus lagi. Ciella? Sekarang Ciella ada di dalam tubuh Ciel dan mengendalikan tubuh Ciel. Ciella tersenyum manis karena Sebastian berhasil mengingat tentang dirinya.
Sebastian langsung melepaskan pelukan Ciella yang tentu saja jika dilihat dari luar itu Ciel, wajah Ciella kelihatan murung. Sebastian memperhatikan baik-baik sosok yang ada di hadapannya, itu adalah Ciel. Jadi sudah pasti, Ciella mengendalikan tubuh Ciel. Sekarang pertanyaannya, dimana Ciel?
"Apa yang kau lakukan pada Ciel?" tanya Sebastian langsung.
"Kenapa kau selalu peduli dengannya?" tanya Ciella kesal.
"Eh?"
"Iya. Sejak tidak ada aku, kau selalu berada di sisi Ciel. Selalu menemaninya dan tidak pernah memperdulikanku!"
"Aku peduli padamu. Buktinya aku mengikat kontrak dengan Lucifer agar aku bisa bertemu denganmu."
"Tapi nyatanya kau tidak menemuiku, kan? Begitu mengetahui kami adalah orang yang sama, kau tidak melakukan apa-apa."
"Ciella, tunggu dulu..."
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
Wajah Ciella kelihatan sangat sedih, terlihat dari wajahnya yang sendu itu. Sebastian merasa bersalah, dia berusaha menenangkan Ciella dengan menyentuh bahunya.
"Tidak. Aku mencintaimu." ujar Sebastian langsung.
"Lalu? Kenapa kau selalu peduli dengan Ciel?" tanya Ciella.
"Itu karena..."
Sebastian terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Ciella. Benar juga, ia baru memikirkan hal itu. Kenapa ia memperhatikan Ciel? Apakah baginya Ciel adalah orang yang spesial? Bukan, Ciel hanyalah orang yang muncul setelah 100 tahun penantian Sebastian akan Ciella.
Apakah karena Ciel dan Ciella berada dalam tubuh yang sama? Sebastian juga ragu akan hal itu. Tapi, sekarang Ciella ada di hadapannya meski menggunakan tubuh Ciel. Sebastian juga tidak tahu perasaan apa yang dia miliki kepada Ciel.
"Kau jahat..." ujar Ciella lirih.
Sebastian kaget mendengar ucapan Ciella, ia memperhatikan wajah cantik Ciella yang menangis. Tapi, dia leih terkejut lagi melihat bukan air mata yang mengalir dari kelopak matanya melainkan darah. Kenapa Ciella menangis dengan darah?
Tiba-tiba saja langit kembali menjadi hitam dan salju yang turuin kembali menjadi merah. Akhirnya Sebastian tahu, bahwa benar Ciella yang menyebabkan Red Snow itu. Jadi salju menjadi merah karena tangisan Ciella, bukan tangisan biasa melainkan tangisan kepedihan.
"Ciella?" gumam Sebastian.
"Aku terus menunggumu, Sebastian."
"Eh?"
"Aku terus menunggumu selama 100 tahun terakhir. Tapi kau tidak pernah datang!"
Dan salju yang turun menjadi lebih lebat, bahkan hampir saja terjadi badai salju. Jika terjadi badai salju bewarna merah, bisa dipastikan langit seolah-olah tertutupi oleh darah. Sebastian memperhatikan sosok Ciella yang menangis dengan darah itu. Dia tidak habis pikir apa yang terjadi pada Ciella.
"Ternyata Red Snow memang ulahmu." ujar Sebastian pelan.
"Aku tidak peduli! Hidupku hampa tanpamu, Sebastian. Aku ingin kau kembali padaku!" teriak Ciella sedih.
Sebastian tidak tega melihat Ciella yang menangis sampai seperti ini. Apakah selama 100 tahun ini Ciella terus menangisi perpisahannya dengan Sebastian? Sebastian memang sedih berpisah dengan Ciella, tapi ia tidak menyangka Ciella akan bersikap seperti ini.
Sebastian langsung saja memeluk Ciella erat, seolah tidak ingin melepaskannya. Ciella membalas pelukan Sebastian dan mereka berdua hanya terdiam. Sejujurnya Sebastian kecewa dengan sikap Ciella yang seperti ini. Kenapa Ciella harus menyebab terjadinya kejadian seperti Red Snow itu.
Sebastian tidak ingin para shinigami memburu Ciella dan menghabisinya. Itu akan terasa berat bagi Sebastian. Tapi, Sebastian juga tidak ingin tubuh Ciel yang Ciella gunakan ini tersakiti. Tentu saja, Ciel tidak terlibat dalam masalah ini.
"Wah... Pasangan disana keliahatan sangat mesra." ujar sesorang.
Sebastian dan Ciella melepaskan pelukan mereka, mereka melihat siapa yang berbicara itu. Dan munculah kedua shinigami beberapa hari lalu, yaitu Grell dan Ronald. Mereka berdua menghampiri Sebastian dan Ciella.
"Ah! Sebas-chan bersama dengan pemuda itu? Tidak!" jerit Grell.
"Grell-senpai sangat suka pada pemuda itu ya?" tanya Ronald.
"Tentu saja. Dia sangat tampan," jawab Grell sambil memandang Sebastian dengan tatapan nafsunya. "Tapi karena ada perintah untuk menghabisinya, aku akan membunuhnya dan menjadikan dia milikku!"
Grell langsung saja mengeluarkan death scythe miliknya dan menyerang Sebastian, tetapi Sebastian berhasil menghindarinya. Sebastian memeluk tubuh Ciel agar tidak terluka. Tentu karena jiwa Ciella yang menguasai tubuh itu, dia merasa senang seperti dilindungi sungguhan oleh Sebastian.
"Sebastian..." gumam Ciella.
"Mundur, Ciella. Aku yang akan melawan mereka." ujar Sebastian sambil membaca mantradan muncullah pedang dari samping celananya.
Ciella mundur dan melihat kekasihnya yang sedang bersiap untuk menghadapi Ronald dan Grell. Ciella berdoa agar Sebastian baik-baik saja, dia percaya pada Sebastian. Tapi, rasa khawatir tetap saja menyelimuti benaknya. Dia ingin bisa berguna bagi Sebastian.
"Aku akan membantu!" seru Ciella yang mendekati Sebastian.
"Jangan! Kau adalah target mereka. Sebaiknya mundur," ujar Sebastian. "Apalagi kau menggunakan tubuh Ciel, nanti tubuh itu terluka."
'DEG'
Lagi-lagi, perasaan iri itu menguasai Ciella. Sebastian kembali menunjukkan kepeduliannya kepada Ciel, dengan tidak ingin melukai tubuh Ciel. Ciella merasa kesal, lagi-lagi nama Ciel yang harus dia dengar. Apa tidak ada yang lain?
Dia merasa Sebastian terlalu memperhatikan Ciel daripada dirinya. Seolah-olah dirinya hanya sebuah kenangan yang tidak harus diingat lagi, dan Sebastian menemukan pengganti diri Ciella melalui Ciel. Ciella sangat kesal memikirkan hal itu.
Ciella merasa sangat sedih, darah kembali mengalir dari kelopak matanya. Dan tentu saja langit menjadi hitam dan salju merah itu muncul kembali. Sebastian merasa tindakan Ciella itu tindakan yang bodoh. Layaknya menggali kuburan sendiri, para shinigami itu menemukan bukti nyata dan mereka akan menyeret Ciella secepatnya.
"Jadi... Pemuda itu adalah Ciella Phantomhive?" tanya Ronald.
"Lebih tepatnya jiwa Ciella Phantomhive yang sedang mengendalikan tubuh itu." tambah Grell.
"Ciella?" gumam Sebastian.
Ciella menatap Sebastian dengan sendu, darah masih mengalir dari kelopak matanya. "Kau tidak tahu betapa sakitnya diriku ketika kau mengatakan hal itu."
Sebastian, Ronald dan Grell hanya terdiam melihat reaksi Ciella. Ciella mengeluarkan cahaya biru dari kedua tagannya dan menyerang Ronald juga Grell.
"Kau mengajak perang?" tanya Grell. "Kuterima tantanganmu itu!"
Grell menyerang Ciella dengan death scythe miliknya itu, tapi Ciella berhasil menghindarinya. Sebastian khawatir melihat pertarungan antara Ciella dan Grell. Tentu saja, Ciella sama sekali tidak memiliki kemampuan bertarung. Apalagi sekarang Ciella menghadapi pertarungan sungguhan dengan shinigami. Ciella seperti menggali kuburannya sendiri.
Sebastian memikirkan tubuh Ciel yang digunakan Ciella itu. Bagaimana jika tubuh manusia itu terluka? Tidak mungkin Ciel yang akan merasakan sakit karena pertarungan Ciella itu. Jika Ciella kalah pasti kedua shinigami itu akan menahan Ciella dan memusnahkan tubuh Ciel. Sebastian tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Baiklah, lawanmu adalah aku!" seru Ronald yang menyerang Sebastian dengan death scythe miliknya.
Sebastian langsung saja menghindar, tentu saja dia sudah bisa memperkirakan serangan dari Ronald itu. Mereka masing-masing bertarung dengan tujun mereka sendiri. Tidak ada seorang pun yang ingin kalah.
Sebastian yang bertarung dengan Ronald merasa bahwa Ronald hanya mengganggunya saja. Dioa ingin secepatnya membawa Ciella pergi dari tempat ini. Tapi, Ronald cukup membuat Sebastian kewalahan. Mungkin kemapuan Ronald sudah sedikit meningkat.
"Kau memperhatikannya? Jangan lengah saat bertarung!" ujar Ronald yang kembali menyerang Sebastian.
Sebastian langsung menghindari serangan Ronald dan menatapnya tajam. "Aku tidak lengah."
Sebastian langsung saja menghunuskan pedangnya kepada Ronald, cukup membuat Ronlad terluka karena ia tidak memperkirakan serangan Sebastian. Darah mengalir dari bahu Ronald karena Sebastian menusuknya tepat di bagian itu.
'Aku harus membawanya pergi.' batin Sebastian.
.
.
.
Sedangkan pertarungan antara Grell dan Ciella masih terus berlangsung. Tapi, karena Ciella hanya bisa menggunakan sihir penggabung dia sedikit kelelahan menghadapi pertarungan seperti ini. Tentu saja sihirnya itu hanya untuk pertahanan, bukan untuk menyerang.
Red Snow adalah bukti nyata yang tidak akan Grell lepaskan begitu saja. Ciella Phantomhive adalah dalang di balik Red Snow ini. Dan Grell akan menghabisinya hingga Red Snow benar-benar berhenti.
"Matilah kau!" seru Grell sambil menyerang Ciella dengan death scythe miliknya itu.
Wajah Ciella panik, ia tidak tahu harus berbuat apa. Death scythe itu hampir mendekatinya dan bahkan bisa membunuh tubuh manusia ini dan memaksa jiwanya untuk kembali. Ciella tidak bisa menghindari serangan itu.
'Apa ini akhirnya?' batin Ciella sambil menutup mata.
Tapi, nyatanya tidak. Sebastian datang menolong Ciella dan menghalangi serangan Grell. Baik Grell dan Ciella terkejut melihat kemunculan Sebastian diantara mereka.
"Aih, Sebas-chan. Kamu kemari karena merindukanku, ya?" ujar Grell dengan nada genitnya.
"Tentu saja untuk," Sebastian menggantungkan ucapannya itu dan menggengam tangan Ciella dan membawanya pergi. "Pergi dari sini."
"APA?"
Mereka berdua berhasil kabur dari Ronald dan Grell. Ronald hanya menggelengkan kepala saja dan berusaha menahan sakit karena luka-nya, sedangkan Grell hanya cemberut melihat Sebastian pergi.
"Grell-senpai, mereka kabur lho." ujar Ronald.
"Menyebalkan!" keluh Grell.
"Susah juga menyuruh kalian berdua untuk mengerjakan perintah ketua." tiba-tiba terdengar suara, mereka berdua menoleh dan terkejut melihat William yang sedang memperhatikan mereka.
"William?" ujar mereka bersamaan.
"Kamu suka muncul tiba-tiba, Willi." ujar Grell.
"Tampaknya aku harus turun tangan kali ini." gumam William.
Sebastian berhasil membawa Ciella pergi dari taman itu. Ciella merasa senang bisa bergandengan tangan dengan Sebastian lagi setelah sekian lama mereka tidak melakukannya.
"Kita berhenti." ujar Ciella.
"Kau capek?" tanya Sebastian.
"Tidak. Aku hanya merasa senang, sudah lama kita tidak seperti ini."
Sebasatian hanya tersenyum melihat Ciella. Tapi karena teringat akan Red Snow Sebastian kembali terdiam. Dia melepaskan genggaman tangannya dan menatap Ciella.
"Kenapa kau melakukan hal itu?" tanya Sebastian.
"Apa?" tanya Ciella.
"Para shinigami bilang kamu adalah penyebab Red Snow dan kamu juga mengendalikan tubuh Ciel seenaknya. Aku percaya padamu, tapi melihatmu bersikap seperti ini. Ciella, maafkan aku..."
"Seenaknya? Aku hanya ingin bertemu denganmu."
"Tapi bukan begini caranya, kan?"
"Lalu apa? Kau tidak tahu penderitaanku selama 100 tahun terakhir. Kamu sama sekali tidak tahu!"
Suasana menjadi hening, tidak ada seorang pun yang memulai pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Sungguh, Sebastian sangat kecewa pada Ciella. Apakah penantiannya selama 100 tahun ini juga sia-sia?
"Selama 100 tahun terakhir ini aku merasa hancur karena kesepain tanpamu. Aku bahkan tidak tahu kenapa harus mengalami hal ini." gumam Ciella.
"Ciella, tapi cara yang kau pakai salah." ujar Sebastian.
"Lalu? Dengan cara apa? Apa sekarang kau benar-benar membenciku"
Sebastian terdiam mendengar Ciella. Ia juga bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah benar-benar ia mencintai Ciella atau tidak? Karena sekarang hidup Sebastian lebih bewarna jika bersama dengan Ciel. Ia sudah menyukai Ciel, meski tahu cinta mereka itu terlarang.
"Maaf, aku tidak bisa bersama denganmu." ujar Sebastian.
"Eh?" tanya Ciella.
"Aku menyukai Ciel dan perasaanku padamu, mungkin sudah hilang."
Mendengar hal itu membuat jantung Ciell sangat sakit, bagai ditusuk pisau dari berbagai macam sisi. Seolah-olah mendengar kata-kata Sebastian bisa membuatnya tewas seketika.
"Sekarang, bawa aku menemui Ciel." pinta Sebastian.
"Kau kira bisa memerintahku?" ujar Ciella kesal.
Lagi-lagi darah keluar dari kelopak mata Ciella, gadis ini sudah lelah menangis. Semua air matanya telah mengering dan darah yang menggantikan tangisannya. Lalu, dia ditolak oleh kekasihnya sendiri membuat dirinya bertamah hancur. Apakah cinta mereka selama ini hanya ilusi belaka?
"Kau keterlaluan!" seru Ciella. "Jika aku bisa mengembalikan waktu, aku pasti akan memaksamu nebhadi milikku lagi."
"Dulu aku mencintaimu, tapi sekarang kau berubah." gumam Sebastian.
"Semua orang berubah, begitu juga aku!"
Ciella mengeluarkan cahaya biru dan menyerang Sebastian. Ciella kaget, kenapa ia menyerang Sebastian. Sekarang Sebastian tidak akan kembali lagi padanya. Ciella bingung apa yang harus dilakukannya. Ia langsung saja berlari menuju rumah Ciel, Sebastian menyusulnya.
"Tunggu!" panggil Sebastian.
Tapi Ciella tidak menoleh ke arahnya. Ia terlalu takut untuk mendengar amarah Sebastian. Ia tahu Sebastian akan membencinya. Kenapa? Mereka tidak seperti yang dulu lagi. Seolah-olah kenangan mereka sudah direbut dan terlupakan oleh waktu.
Ciella langsung masuk ke kamarnya dan menatap cermin di hadapannya, cermin dimana dia menyekap Ciel di dalam. Sebastian mendobrak pintu itu dan melihat sosok Ciella yang sedang berdiri di dekat cermin. Sebastian mendekatinya dan memperhatikan wajah Ciella. Ia menangis lagi.
"Katakan padaku, Sebastian." gumam Ciella.
Sebastian hanya diam, ia tidak mengerti maksud perkataan Ciella yang sedikit ambigu itu. Semuanya tidak terlalu jelas untuk dipahami.
"Katakan kenapa air mataku tidak berhenti jika memikirkanmu?"
Ciella kembali menangis dengan darah yang mengalir dari kelopak matanya, sungguh menyedihkan. Sebastian memperhatikan kekasihnya itu dan memeluknya.
"Jangan tanya aku." ujar Sebastian.
"Tapi, kaulah jawaban dari kegelisahanku! Katakan padaku kapan lagi aku bisa menemuimu?"
Sebastian terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan Ciella. Yang ada di pikirannya saat ini adalah menemukan Ciel. Sebastian menyentuh cermin itu dan berusaha memanggil Ciel.
"Ciel, kau disana? Keluarlah!" panggil Sebastian.
"Apa?" gumam Ciella.
"Ciel, aku mohon keluar. Aku mencintaimu!"
Ciella kesal mendengarnya, dia bermaksud menghancurkan cermin itu. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara Ciel. Suara yang berontak ingin keluar.
"Hentikan!" teriak Ciella.
'Lepaskan aku! Aku akan keluar.' seru Ciel.
"Kau berisik sekali!"
Tanpa sengaja Ciella menyentuh cermin itu, dan jiwa Ciel keluar dari cermin dan masuk ke tubuhnya. Ciella tidak bisa menahan desakan Ciel untuk keluar dari tubuhnya. Ciella keluar dari tubuh Ciel dengan wujudnya yang sama seperti 100 tahun lalu, tepat sebelum kematiannya.
"Ciel? Ciella?" gumam Sebastian.
"Kau tidak mengerti, Sebastian!" seru Ciella. "Aku terus memanggil namamu hingga suaraku habis, air mataku kering. Beruntung karena Ciel, aku bisa mendapatkan sedikit kemampuanku."
"Lalu kau memanfaatkanku?" tanya Ciel.
"Kau tahu, kan?" ujar Ciella. "Kalau begitu lawanlah aku."
Ciella kembali menangis dengan darah, Red Snow semaki menjadi-jadi. Ciel tidak bisa mundur, dia memutuskan untuk bertarung dengan Ciella, dirinya sendiri. Tapi, dia tidak tahu harus melakukan apa. Sebastian juga tidak bisa mencegahnya, mungkin dengan hal ini Ciella bisa tenang.
Ciella mengeluarkan sihirnya, cahya biru dari tangannya. Ciel hanya bisa menghindar, tentu saja karena Ciel sama sekali tidak bisa sihir. Keadaan kamar Ciel juga sudah sangat kacau. Sebastian memperhatikan mereka hingga dia bingung kenapa kedua orang itu saling bertarung.
"Kau akan mjenyesal, Ciel!" seru Ciella.
Baru saja ketika Ciel merasa tidak bisa menghindari serangan Ciella, ia memejamkan mata dan hanya membaca doa. Tiba-tiba saja tubuh Ciella merasa lemas. Ciella jatuh tersungkur dan di tangannya sudah ada rantai yang mengikatnya.
"Apa-apaan ini?" tanya Ciella.
"Eh? Aku tidak tahu." ujar Ciel.
"Ah, Ciel. Kau seperti seorang exorcist saja." ujar Sebastian.
"Eh? Aku?"
"Iya. Bukan hanya kau, aku sedikit merasa kesakitan. Mungkin Lucifer terkena efeknya juga."
Ciella memandang sinis ke arah Ciel yang tampaknya tidak tahu dengan kemampuannya itu. Ia ingin menyerang tapi semakin Ciel membaca doa-doa, semakin lemas tubuh Ciella.
"Izinkan aku bicara sebentar." ujar Ciella.
"Iya." ujar Ciel.
Ciella melirik ke arah Sebastian dan tersenyum tipis, air matanya yang terdiri dari darah itu juga berhenti. Sekarang Ciella tidak bisa menangis meski ia ingin menangis. Ia telah kehilangan semuanya, hidupnya, cintanya, harga dirinya, dan juga kedudukannya.
"Aku ingat kenangan kita, Sebastian," bisik Ciella. "Semuanya terasa jelas di ingatanku."
"Benarkah?" tanya Sebastian.
"Iya. Aku tahu kenapa aku terus menangisimu, aku terlalu mencintaimu. Aku harus membunuh diriku yang egois ini."
"Itu sebuah pengakuan yang sangat meyakinkan, Ciella Phantomhive." tiba-tiba saja William sudah ada dikamar Ciel. Beserta Ronald dan Grell yang memperhatikan mereka bertiga.
"Sejak kapan para shinigami?" tanya Sebastian.
"Aku mengikuti kalian," ujar William. "Ketika saatnya tiba, aku akan muncul dan membawa Ciella Phantomhive. Tampaknya aku tidak perlu memaksamu untuk ikut bersama kami."
"Iya." gumam Ciella.
Grell mendekati Ciella dan memperhatikan tangan Ciella yang ada rantainya. Dia sedikit terkejut, tapi sekarang tidak. Dia menarik Ciella untuk ikut bersamanya, Ronald juga membantunya. William memandang sekilas ke arah Sebastian dan Ciel dan pergi menghilang bersama Ronald, Grell dan Ciella.
"Semuanya berakhir?" tanya Ciel.
"Iya. Sudah selesai." jawab Sebastian.
"Syukurlah."
Tiba-tiba saja Sebastian memeluk Ciel, Ciel terkejut dengan pelukan Sebastian. Wajahnya memerah dan jantungnya berdetak kencang. Sebastian tetap saja memeluknya dengan erat, seolah tidak ingin kehilangan Ciel.
"Sebastian." panggil Ciel.
"Apa?" tanya Sebastian.
"Bisa tolong lepaskan aku?"
"Baiklah."
Sebastian memperhatikan Ciel, dia menggengam tangan Ciel dan menaruhnya tepat di dadanya. Membuat jantung Ciel kembali berdetak kencang.
"Tolong, usir Lucifer juga. Perjanjian kami batal." ujar Sebastian.
"Lucifer?" tanya Ciel.
"Aku mengikat kontrak dengannya. Kurasa sekarang kontrak kami tidak ada gunanya lagi."
'Itu keputusanmu, Sebastian. Baiklah, melihat kalian para manusia membuatku puas.' ujar Lucifer.
Ciel membacakan doa kepada Sebastian dan tidak lamasosok Lucifer pergi. Tidak ada yang berubah dari Sebastian, masih sama seperti yang tadi. Hanya saja sekarang tidak ada ilis di dalam tubuhnya dan Sebastian kembali menjadi manusia.
"Dia sudah pergi. Aku tidak mendengar suaranya lagi." ujar Sebastian.
"Benarkah? Syukurlah." ujar Ciel lega sambil tersenyum.
Sebastian senang melihat senyum Ciel, sudah lama ia tidak melihatnya. Tiba-tiba saja ia mendekatkan wajahnya pada Ciel dan mencium bibir Ciel. Ciel terkejut, dia ingin mendorong Sebastian tapi Sebastian menggengam tangannya dan tetap mencium Ciel.
"Mhmm..." Ciel tidak bisa lepas dari ciuman Sebastian kali ini.
Merasa cukup, Sebastian melepaskan ciumannya dan memperhatikan wajah Ciel yang sudah sangat memerah. Sebastian mengecup kening Ciel dan tersenyum ke arahnya.
"Aku mencintaimu, Ciel." ujar Sebastian.
"Eh? Tiba-tiba..." gumam Ciel malu.
"Maukah kau menggantikan Ciella?"
"Menggantikan? Aku bukan dipandang sebagai Ciel?"
"Bukan begitu. Aku..."
Melihat Sebastian yang gelagapan menjawab pertanyaan Ciel, membuat Ciel ingin tertawa melihatnya. Ciel mencium bibir Sebastian kilat dan menatapnya sambil tersenyum.
"Iya. Aku juga menyukaimu." gumam Ciel.
Dan semuanya kembali seperti biasa, tidak ada lagi kejadian dimana salju menjadi merah dan langit menjadi hitam. Semuanya tampak normal di London ini. Dan tentu saja Sebastian menjadikan Ciel sebagai kekasihnya dan mencintainya sepenuh hati.
The End
A/N: AKhirnya tamat juga.
Maaf kalau alurnya teralu cepat atau ceritanya sedikit tidak nyambung. Tapi aku berusaha sebisaku.
Ditunggu reviewnya dan sampai jumpa di fic lainnya...^^
