Disclaimer: I tell ya 07-Ghost doesn't belong to me~.~
Warning: OOC, OC, Typo, Spoiler, soo oon…
ps: I'm really bad at naming my stories~
Catatan Author: Well, well. Hanya untuk mengetahui langkah-langkah French Kiss (ciuman dengan lidah) aku sampai-sampai meminta bantuan mbah Google. Maklum, aku gax ngerti seluk beluk gituan & tak pernah ingin tahu (teori, okay. Praktek no way!)
.
-ooooOOOOOoooo-
.
…Kapitel 2. Reunion …
.,,,,,,,,,,,, "God, I only wish to see him once again at the last moment of my life."
.
Normal POV
"Prince Schinkel, sudah waktunya bangun," kata Castor berusaha membangunkan buah hati Teito itu sambil menguncang-guncang bahunya dengan lembut. Well, sebenarnya tanpa disuruh Teitopun Castor akan membangunkan Schinkel, karena ia sudah menganggap Schinkel sebagai anaknya sendiri. Schinkel adalah anak yang ceria, optimis, selalu mendahulukan kepentingan orang lain, selalu berusaha menyenangkan hati orang lain, polos, dan banyak lainnya hal-hal positif yang dapat disebutkan, namun author malas mengetik lebih lanjut.
.
"Mmm…?" dengan mengantuk Schinkel menatap Castor melalui mata hijau jadenya yang besar dan bulu matanya yang lentik. "Castol-san?" ia mengenali sosok yang duduk di tepi ranjangnya.
Castor tersenyum, dia seolah-olah melihat ayah anak ini ketika dia masih kecil dulu. "Ya, ini aku. Dan sekarang anda harus mandi, Prince Schinkel. Nanti pangeran dan ayah anda akan pergi ke Kekaisaran Barsburg."
"Ke Balbug dengan papa? Lalu mama?" tanya Schinkel begitu ia mulai terbangun sepenuhnya.
"Itu… nanti coba Prince Schinkel tanyakan sendiri ke ayah anda, ya?" jawab Castor sambil tersenyum pahit. Topik mengenai ibu anak ini bukanlah hal yang ,menyenangkan. Mengingat kondisinya yang kian memburuk. "Nah, ayo cepat mandi!" lanjut Castor berusaha mengalihkan perhatian anak itu sambil mengendongnya.
"Nanti kan Schinkel tayakan ke papa," ujar Schinkel cadel sambil tersenyum lebar. "Castol-san…"
"Ya?"
"Aku ingin 'toss-me-up',"
"Ohh… 'toss-me-up' ya? Ayo!" Castor melempar tinggi Schinkel dari gendongannya, kemudian menangkapnya. Mereka tertawa-tawa. Castor melempar Schinkel lagi, dan kali ini lebih tinggi dan kembali menangkapnya.
"Castor! Apa yang kamu lakukan pada Schinkel-sama!" teriak Lance memasuki ruangan. (dalam plotku, Lance masih hidup. Di kapitel ** ia telah di XXX Verloren*spoiler*).
"Lance-san, kami sedang belmain 'toss-me-up'!" sahut Schinkel dengan antusias.
"Hee… tak kusangka Castor itu ternyata fedofilia," tanggap Lance sambil menyengir kuda.
"Saya hanya mengajak Prince Schinkel bermain, tak lebih tak kurang," sahut Castor dengan datar sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Sudahi basa basinya, biar aku yang memandikan Schinkel-sama," tegas Lance sambil mengulurkan tangannya meminta anak kesayangannya itu (walaupun bukan anak kandungnya juga , sih).
Castor mengabaikannya "Yang Mulia memerintahku untuk memandikannya, bukan kamu,"
"Aku tak pernah dengar Tei.. eh… Yang Mulia menyuruhmu begitu!"
"Memangnya beliau menyuruhku apa-apa perlu kamu dengar juga?"
"Tapi kamu kan tak ada bukti untuk perkataanmu itu,"
"Perkataanku sudah merupakan bukti yang cukup,"
"Begitu menurutmu, tapi bukan begitu menurutku,"
Singkat kata, akhirnya mereka pergi mencari Teito untuk meminta penjelasan. Castor tetap dengan keras kepala tak mau memindahtangankan anak yang berada dalam gendongannya sehingga mereka turut membawa Schinkel dalam misi 'pencarian Tiashe'. Mereka tak dapat menemukan raja muda itu di mana-mana dan akhirnya mereka pergi ke ruang pribadi permaisuri kerajaan. Semakin mendekati ruangan itu, mereka mendengar bunyi-bunyi yang aneh sehingga akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk mengintip dari pintu yang agak terbuka itu. Di sana ada Teito, Luna, dan bahkan Mikage. Tetapi…
*blush*
Kedua orang dewasa yang mengintip itu merona semerah darah direbus. "Pap—" Castor membekap mulut sang pangeran dan para tukang intip itu pontang panting ke lantai atas di mana kamar Schinkel berada.
"Castol-san, Lance-san, apa yang tadi papa lakukan?" tanya Schinkel angkat suara.
"Lance, ayo jelaskan," perintah Castor masih dengan wajah memerah.
"A, a, aku tidak melihat dengan jelas tadi," bohong Lance yang wajahnya juga memerah.
"Hey, kamu itu adalah ex-bishop, kan. Memangnya seorang bishop boleh berbohong?"
"Justru karena aku adalah ex- bishop jadi aku tak tahu apa itu kan," dalih Lance sok alim.
Castor menarik nafas panjang, "Prince Schinkel, yang tadi ayah anda lakukan pada ibu anda disebut ciuman," dan dalam hati ia menambahkan 'dengan lidah'.
Schinkel menatap Castor lekat-lekat dengan mata hijau jadenya yang indah, "Apakah itu adalah hal yang baik?"
"Tentu saja, Prince Schinkel. Dengan berciuman, itu menandakan bahwa kita sangat menyayangi seseorang," begitu Castor selesai menjelaskan, Schinkel mencium bibir Castor sampai-sampai lelaki berkacamata itu pingsan seketika saking bahagia dan malunya. Well, itu adalah ciuman pertamanya! Lance segera menangkap Schinkel yang jatuh dari gendongan Castor, menyengir.
"Kalau cium adalah hal yang baik, Schinkelkan membelikan ciuman untuk Castol-san, Lance-san, Lab-kun, Ak-kun, papa, dan mama juga!" ujar Schinkel memberikan alasan untuk perbuatannya barusan. Lance dengan senang hati menerima ciuman Schinkel, namun ia agak gusar karena yang mencuri ciuman pertama sang pangeran bukanlah ia melainkan si Castor.
"Nah, ayo Schinkel-sama, kita pergi mandi!"
"Ayo!"
Akhirnya Lance pun memenangkan perebutan kekuasaan dengan Castor yang menyebalkan itu, mumpung Labrador tak nampak batang hidunganya. Kalau penggila tanaman itu ada di situ, palingan ia akan mendukung si Castor.
.
.
.
Roseamanelle Ouka Barsburg POV
"Hakuren," panggilku dengan cemas melihat untuk kesekian kalinya dalam pagi itu ia melamun terus. Tinggal satu jam lagi Teito dan keluarganya tiba di kekaisaranku, namun Hakuren terus muram, bahkan semakin muram seiring berjalannya waktu.
"Ada apa, Ouka-sama?" sahutnya, menatapku dengan mata violetnya yang terlihat sangat kelelahan.
"Panggil aku Ouka, saja. Kita kan, kita kan…"
"Sudah bertunangan," sambung Hakuren.
Wajahku seketika itu juga bersemu merah. "Yah, begitulah… Jadi, apa yang sebenarnya terjadi Hakuren? Aku tahu kamu memikirkan Teito tapi jangan membuatku cemas dengan kelakuanmu,"
"Saya meminta maaf, Ouka. Tapi… aku tidak menghadiri pesta pernikahannya tujuh tahun lalu. Dan aku sudah mendengar kabar bahwa mereka.. er… memiliki seorang putra. Aku merasa tidak enak dengannya. Mungkin dia membenciku karena tidak menghadiri salah satu momen terpenting dalam hidupnya…" sesal Hakuren. Ia tidak menatap ke arahku, menunduk ke arah lantai dingin di bawahnya.
Aku refleks mengecup bibirnya singkat. "Kamu seperti bukan dirimu saja, Hakuren. Kamu tahu kan, Teito takkan membencimu hanya karena hal begitu,"
"Tapi—" aku kembali menciumnya, kali ini lebih lama agar ia berhenti menyesali diri. Aku menjilat bibirnya dan memasukkan lidahku ke dalam mulutnya, menjelahinya dengan agak memaksa.
"Bergembiralah, Hakuren. Hari ini sahabat lama kita akan datang," aku berusaha meyakinkannya selepas berciuman sambil menghapus jejak air liur di pinggiran mulutku. (Catatan author: Well, beginilah pergaulan orang dewasa… Ingat sekarang Ouka berusia 24 tahun…)
Hakuren terdiam sejenak, sementara mukanya memerah. "Terima kasih, Ouka. Sekarang aku merasa baikan. Tetapi sekarang waktunya rapat sebelum kedatangan raja baru Kerajaan Raggs! Ayo, kamu adalah seorang kaisar wanita sekarang, mana boleh terlambat!"
Lelaki pujaan hatiku itu menyodorkan tangan kanannya dan aku menerimanya. Beriringan, kami pergi ke ruang rapat yang berada di lantai delapan Hohburg Fortress. Yah, sejak aku menjadi kaisar wanita pertama di kekaisaranku menggantikan ayahku, aku tak memiliki banyak waktu seperti dulu lagi. Setiap hari pekerjaan mulu, untungnya aku masih punya Hakuren yang selalu punya cukup waktu untuk membantuku.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Hakuren, sebaiknya kamu hari ini tak perlu mengawalku di rapat, ya," tukasku , aku ingat. Setiap kali rapat, ayah Hakuren selalu hadir di sana, sehingga Hakuren biasanya dengan wajah enggan pergi ke sebuah rapat terpendek sekalipun. "Kurasa hari ini kamu perlu istirahat."
Hakuren menghentikan langkahnya, tersenyum penuh arti. "Roseamanelle Ouka Barsburg, saya tahu anda mengkhawatirkan saya, tetapi anda memiliki tenggat yang penting kan?"
Aku menatapnya kesal. Kenapa dia gemar sekali memaksakan diri? Tak berpikir panjang, kuseret dia kembali ke kamarnya. "Pokoknya hari ini kamu harus beristirahat!" tegasku padanya. Dan kubanting pintu kamarnya tepat di depan hidungnya. Masih dengan kesal aku berlari-lari kecil menuju ruang yang biasanya dipakai untuk rapat.
Ruang rapat resmi milik Kekaisaran Barsburg adalah sebuah ruangan besar dengan sebuah meja rapat berbentuk 'U' di tengahnya. Dengan tenang, aku berjalan menuju ke kursi khusus untukku dan mulai memimpin rapat singkat itu…
__
.
.
.
Wahrheit Tiashe Raggs (Teito Klein) POV
.
Aku telah menyelesaikan mandiku. Dengan ogah-ogahan, aku mengeringkan badanku kemudian memakai jubah kebesaranku yang baru dicuci. Hmm… segar juga. Setelah selesai menggenakan jubahku, aku pergi untuk mengecek tuntas tidaknya persiapan Luna. Yah, tadi aku telah menyuruh Lilac, salah satu pelayan terpercaya Luna untuk mengepak bawaannya yang pada dasarnya tak begitu banyak. Lilac adalah wanita paruh baya yang telah mengasuh Luna sejak bayi. Dulunya, Lilac bekerja di Hohburg Fortress. Namun begitu mendengar pernikahanku dengan Luna, ia memutuskan untuk bekerja di sini.
"Luna, persiapanmu sudah beres?" sapaku begitu aku memasuki ruangan kamarnya. Luna sedang duduk di tempat tidurnya. Seperti biasa, ruangan itu agak suram. Hanya terdapat sebuah ranjang, sebuah meja, kursi, dan sebuah kamar mandi.
Melihat kedatanganku, mata Luna berbinar-binar bagaikan bulan dan bintang di langit, dan lagi-lagi senyumnya yang manis menghiasi wajahnya. "Sudah," sahutnya singkat. "Hai juga untuk Mikage," sapanya begitu melihat kedatangan Mikage.
Mikage mengikutiku dari belakang seperti biasa apabila aku ingin menjenguk Luna. Dengan penuh semangat,anak itu masuk ke dalam pelukkan Luna. Well, kurasa aku tak punya hak untuk cemburu. Mikage selalu menyukai Luna, bahkan mungkin melebihi rasa sukanya padaku. Nah, poin terakhir ini pantas sekali membuatku cemburu. Namun aku tak berkomentar apa-apa mengenainya karena menurutku itu termasuk cemburu buta.
Aku beringsut-ingsut mendekatinya dan duduk di sisi ranjangnya seperti biasa. "Apa kamu yang tak apa-apa? Hari ini kamu terlihat agak pucat,"
"Aku baik-baik saja, cuma belum minum obat, kok,"
"Bisa minum sendiri?" tanyaku lembut. Saat mataku bertemu lagi dengan matanya, jantungku lagi-lagi berdebar-debar lebih keras dari biasa.
"Mmm… nggak. Aku mau 'yang biasa', ya?" sahutnya dengan manja sambil mengelus-elus Fyuulong yang berada di pangkuannya.
"Tapi, Luna…" aku berhenti di tengah-tengah kalimatku,entah alasan apalagi yang mau kusebut-sebut. Well, bukannya aku benci 'yang biasa', tapi gimanapun juga itu…
"Tapi apa, Tiashe?" tanyanya dengan polos atau pura-pura polos. Aku menatapnya dengan curiga kalau dia sedang berusaha mempermainkanku. "Kamu gak mau?"
"Bu, bu, bukan itu, tapi…"
"Tapi kalau kamu menciumku kamu selalu memerah dan merasa malu setengah mati?" tebaknya sambil meringis. Ah… lagi-lagi senyum itu.
Tepat. Kenapa ya, dia selalu bisa menebakku dengan tepat? Apa aku orang yang sebegitu mudahnya dibaca? "Bu,bukan begitu, tahu. Tapi kalau kamu tak minum obatnya sendiri,nanti kan jadi manja," dalihku. Mukaku mulai bersemu merah.
"He… apa salahnya aku bermanja-manja dengan cowok yang aku cintai? Atau aku minta bantuan Castor saja, ya? Atau Labrador?" tuh, kan. Dia memang sangat gemar menggodaku.
"Ya,sudah. Ayo, kemarikan bibirmu!" aku terjebak lagi dalam permainannya. Huh… kumasukkan obat-obat dan air ke dalam mulutku, kemudian kutempelkan bibirku dengan lembut ke bibirnya. Dan seperti biasa lagi kuminumkan obat-obat itu dan airnya ke dalam mulutnya, menunggu ia menelan obatnya hingga habis.
Tapi kali ini dia tak langsung menelan obatnya. Dia membiarkan obatnya di mulutnya, hingga rasa pahit menjalar ke mulutku juga. Well, aku mulai panik karena tak mungkin aku meminum obat yang khusus untuk penyakitnya itu. Jadi aku membuang semua air ludahku yang terasa pahit ke dalam mulutnya, dan ia menelannya.
"Hei, kamu itu jorok tahu," komentarku pada kelakuannya barusan. Mulutku masih terasa agak pahit, dan aku tak begitu menyukainya. Dari dulu aku membenci rasa pahit. Huff… Lagi-lagi mukaku memerah.
"Apanya? Bukannya aku menelan air ludahmu karena kamu benci rasa pahit?" sahutnya sambil nyengir.
"Te… terima kasih," entah kenapa aku selalu dipermainkan wanita pujaan hatiku yang satu ini. Well, terserahlah. Apa kalian penah dengar laki-laki yang sedang jatuh cinta adalah budak wanita? Kira-kira begitulah aku sekarang.
"Hei, hei. Wajahmu memerah lagi, ya? Kayak orang baru ciuman pertama saja," ujarnya sambil memeluk Mikage. Untungnya Mikage sekaraang wujudnya Fyuulong, kalau tidak sudah kutendang dia. Entahlah, kadang-kadang aku menjadi sangat pecemburu…
Aku terdiam. Perkataannya ada benarnya juga, sih. Bagiku, setiap ciuman, setiap tatap mata, pelukan, desahan, senyum, setiap sentuhan seolah adalah yang pertama kalinya bagiku.
"Oh, ya. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Tadi waktu kamu meminumkan obatnya padaku, Castor, Lance, dan Schinkel mengintip, lho. Mungkin ada baiknya kamu sekarang kamu mencari Schinkel."
"Heee? Aku pergi dulu, Luna. Dagh! Mikage di sini dengan Luna, ya!" aku memberikannya ciuman kilat dan dengan buru-buru pergi ke kamar Schinkel. Namun di sana hanya ada Labrador dan Castor. Castor sendiri sepertinya tertidur atau pingsan.
"Lab, di mana Schinkel?" tanyaku dengan terburu-buru sambil menjelajahi setiap mili dari kamar itu dengan mataku, berharap melihat Schinkel sedang bersembunyi atau apapun.
"Schinkel-sama? Ah… dia sedang mandi dengan Lance. Memangnya ada apa, Yang Mulia?" jawab Labrador dengan tenang sambil menghirup tehnya.
"Ada urusan yang maha penting. Dagh, Lab. Makasih juga!" dengan buru-buru aku pergi ke kamar mandi Schinkel yang cukup besar, begitu aku memasuki ruangan…
Byuur
Jubah kebesaranku basah oleh semburan air yang pas mengarah ke arahku. Well, well. Schinkel tengah bermain air dengan Lance dan aku masuk pada saat yang sangat tidak tepat.
"Ah, papa!"
"Maafkan aku Yang Mulia, kami tak sengaja,"
"Lance, tadi kalian ada melihatku di kamar Luna?" tanyaku langsung tanpa basa basi. Yah, kalau jubahku ini sih, aku masih punya banyak cadangan.
"Tentu saja ada. Kami melihat kalian berci—" kubekap mulutnya dan kuseret Lance keluar dari situ.
"Tunggu sebentar, ya. Schinkel!"
"Ya, papa!"
Begitu kami sampai di tempat yang aman dari jangkauan telinga Schinkel, langsung kuberondong dia dengan pertanyaan:
"Apakah Schinkel melihatnya juga?"
"Ya."
Sudah kuduga. "Lalu apa katanya?"
"Dia bertanya apa yang kalian lakukan dan Castor bilang itu adalah ciuman."
Aku mulai berkeringat dingin. "Lalu…?"
"Schinkel bertanya apakah ciuman adalah hal yang bagus atau tidak. Jadi Castor bilang berciuman adalah hal yang bagus karena dengan berciuman, itu mengartikan kita sangat meyukai seseorang, dan…" Lance berhenti sebentar untuk menarik nafas panjang. "Schinkel mencium Castor di bibirnya, juga di bibirku. Dia bilang dia akan mencium semua orang yang disayanginya."
Prakk
Dinding di sebelahnya hancur karena Zaiphonku, namun aku tak peduli. "Bilang ke Castor: 'Sudah cukup bagimu untuk mencuri keperawanan bibir Schinkel, tak boleh lebih!' itu saja. Dagh!"
.
.
End of Wahrheit Tiashe Raggs POV
.
.
.
Normal POV
.
Gegap gempita dan desas desus mulai menyeruak di seluruh Kekaisaran Barsburg mendengar akan adanya kunjungan resmi wadah Eye of Mikhail, King of Raggs ke Kekaisaran Barsburg untuk membuat pakta perdamaian antara Raggs Kingdom dengan Barsburg Empire. Namun seluruh orang dalam Hohburg Fortress tahu bahwa yang paling cemas akan kedatangan King of Raggs bukanlah sang kaisar wanita, Roseamanelle Ouka Barsburg. Melainkan Hakuren Oak, mantan tutornya dulu. Mereka tahu mengenai bagaimana King of Raggs dan Hakuren menjadi teman sekamar saat ujian Bishop, dan bahwa bagi Hakuren, Wahrheit Tiashe Raggs adalah teman terbaiknya.
Hakuren membaca sebuah koran terbitan terbaru mengenai kedatangan Teito hari ini sebagai berita paling ekslusif. Di sana terpampang wajah Teito yang sekarang, pada usianya yang ke-24. Well, banyak sekali yang berubah dari anak itu, wajahnya, posturnya, semuanya. Hanya matanya yang masih saja ekspresif seperti dulu walau sudah agak menyipit. Wajahnya juga tampak lebih tegar dan bijaksana. Dalam foto itu, Teito mengenakan kacamata yang dapat membuat semua fans perempuannya mati terharu, dan juga memakai jubah resminya sebagai seorang raja dengan lambang kerajaannya. Kini Teito menjadi mirip sekali dengan ayah kandungnya, Weldeschtein Krom Raggs, seperti yang Hakuren tahu dari foto-foto lama. Padahal terakhir ia bertemu dengan anak itu, Teito hanyalah seorang yang tengah bersedih atas meninggalnya sahabat terbaiknya… Sejak kapan ya, dia menjadi seperti ini?
Mata Hakuren membelalak ketika dilihatnya foto permaisuri Teito, eh… Tiashe. Wanita itu, Carnellia Lunatique Barsburg bagaikan pinang dibelah dua dengan Ouka. Dengan rambut keperakkannya yang panjang dan bergelombang, mata violetnya yang sendu dan indah, dan senyumnya yang khas. Bedanya, wanita yang berada dalam foto ini agak lebih kurus. Ia memiliki mata yang kelelahan dan sedih, dan senyumnya… er… lebih menawan.
Hakuren melanjutkan membaca dan menemukan bahwa Carnellia Lunatique Barsburg adalah putri dari seorang selir dengan kaisar pendahulu. Ia setahun lebih tua dari Ouka. Namun karena badannya yang sering sakit-sakitan dan kelahiran Ouka , Carnellia kehilangan semua hak warisnya. Pada usianya yang ketujuh belas tahun, ia kabur dari rumah dan tak pernah diketahui kabar keberadaannya hingga tujuh tahun lalu saat ia pulang hanya untuk mengonfirmasikan pernikahannya dengan King of Raggs yang baru, Wahrheit Tiashe Raggs. Walaupun ditanya bagaimana mereka bisa bertemu, sang raja muda hanya tersenyum malu-malu dan bergeming.
Menarik. Hakuren heran bagaimana bisa anak itu tertarik pada seorang wanita, bagaimana pertemuan pertama mereka, atau bagaimana Teito tahu soal cara membuat bayi (hihihihihi). Ngomong-ngomong soal bayi, Hakuren telah membolak balik artikel itu lebih dari tigapuluh menit, tetapi tak satupun yang menampakkan foto anak tunggal Teito, Weldeschtein Schinkel Raggs. Sepertinya Teito melarang foto putra tunggalnya diekspos ke media massa.
Hakuren menghentikan aktivitasnya begitu ia mendengar suara pesawat terbang mendarat dari kejauhan. Kapal terbang itu adalah pesawat induk yang sangat besar dan megah, dengan lambang Kerajaan Raggs di masing-masing sisinya. Di masing-masing sisi pesawat induk itu dikawal setidaknya lima pesawat tempur yang berlambang Kerajaan Raggs pula. Dengan itu Hakuren sangat mengerti, Teito telah tiba!
Dengan terburu-buru Hakuren mengenakan seragamnya, dan keluar dari kamarnya untuk mencari Ouka. Dia tahu akan diadakan penyambutan formal, namun ia belum jelas mengenai lokasi penyambutannya. Segera ia menemukan orang yang dimaksud, dengan rambut keperakkannya, Ouka sangat mudah dikenali. "Ouka! Teito sudah tiba!"
"Tentu aku sudah tahu! Dari tadi aku mencarimu ke mana-mana, ternyata di sini kamu. Yuk!" Ouka menarik pergelangan tangan Hakuren, dan Hakuren mengikutinya. "Penyambutannya di aula besar," lanjut Ouka seolah menjawab pikiran Hakuren.
.
.
.
--
"Mama, lihat! Ada bayak bunga di sana!" dengan gembira Schinkel menunjuk-tunjuk ke ladang bunga jauh di bawah mereka. Well, sekarang mereka berada dalam kapal terbang induk milik kemiliteran Raggs yang tengah menuju Kekaisaran Barsburg, tanah kelahiran Luna. Luna melihat ke arah yang ditunjuk Schinkel. Dari balik kaca jendela, ia dapat melihat ribuan bunga bertaburan di bawahnya,seperti bintang-bintang di langit. Ia kenal dengan baik ladang bunga itu, itu adalah ladang bunga di belakang bangunan Hohburg Fortress.
"Indah, ya," tanggap Luna sambil tersenyum damai. Sejak ia berada dalam kapal terbang itu, Schinkel terus menerus menempel padanya seolah tak mau lepas.
"Oya, mama. Apakah sekalang kita ada di Balbug?" tanya Schinkel dengan polos sambil menatap ibunya lekat-lekat dengan mata hijau jadenya yang besar. Entah mengapa Luna merasa damai bersama Schinkel. Well, Schinkel memang mirip dengan Teito, namun Schinkel bukanlah pengganti Teito walaupun keduanya adalah pria yang paling dicintainya sedunia. Teito adalah kekasih hatinya, dan Schinkel adalah darah dagingnya yang dilahirkan empat tahun lalu bersama dengan kekasih hatinya.
"Ya, sayang. Kita sudah hampir tiba di tempat tujuan kita, Barsburg Empire," sahut Luna sambil mengecup kening buah hatinya itu. "Mama sayang deh, sama Schinkel."
"Schinkel juga cayang mama!" sahut Schinkel dan kemudian mencium bibir Luna. "Castol-san bilang, belciuman itu altinya kita cayang pada olang itu,"
Luna mencubit hidung Schinkel, "Schinkel, kita cuma mencium bibir orang yang paliing kita sayangi."
"Mama… tak suka Schinkel cium?" bola matanya masih saja menatap Luna lekat-lekat.
"Mama suka Schinkel cium kok," jawab Luna bijak. "Tapi sebenarnya ada banyak sekali cara untuk menunjukkan kita menyayangi orang, lhoo…"
"Apa saja?"
"Contohnya seperti berpelukan."tepat ketika Luna mengatakannya, pesawat itu mulai mendarat.
"Kalau begitu, ayo berpelukkan," Luna memeluk Schinkel di pangkuannya. Mmm… hangat. Ia dapat merasakan suhu tubuhnya, detak jantungnya.
--
Aula besar itu kini penuh dengan bangsawan -bangsawan kekaisaran yang datang hanya untuk bertemu langsung dengan raja muda dari Raggs Kingdom yang juga merupakan wadah Eye of Mikhail. Hiruk pikuk dalam aula besar itu sama sekali tak mempengaruhi kegugupan Hakuren yang terus saja melihat arlojinya setiap satu menit sekali. Ia duduk tepat di sebelah Ouka, yang mengenakan pakaian kebesarannya sebagai seorang kaisar wanita Kekaisaran Barsburg. Yah, baru kali ini Hakuren merasa segugup itu seumur hidupnya. Ayahnya juga hadir, namun ia tak peduli karena yang sekarang mengisi pikirannya adalah Teito, Teito, dan Teito.
Seisi aula langsung menjadi hening ketika pintu utama aula besar itu dibuka. Sementara itu, jantung Hakuren berdegup sangat kencang hingga rasanya Ouka dapat mendengarnya juga. Yang pertama masuk adalah Lance dan seorang pria jangkung berambut hitam yang tak dikenalnya, namun saat yang ditunggu-tunggunya memasuki ruangan, Hakuren merasa jantungnya berhenti berdetak. Seisi aula bangun dari tempat duduknya untuk menghormat padanya, King of Raggs, Wahrheit Tiashe Raggs.
to be continued….
.
.
.
.
.
Teito: Nah, nah. Kenapa kamu suka sekali menulisku berciuman? Dengan lidah lagi! *blush*
Author: Terserah aku dong, ceritaku pula. Nasibmu lah…
Teito: Tapi kan aku yang jadi tokohnya kan! Ganti gak! Ganti!
Author: Ohh, maksud loe… Kamu gak mau ciuman dengan Luna tapi dengan Frau?
Teito: Itukan tak mungkin! Mana aku mau sama bishop mesum tak tahu malu kayak gitu!
Author: Yauda, kalo kamu maksa, aku ganti dengan Miroku-sama saja , deh!
Teito: Itu… itu… iya, iya! Dengan Luna saja, please! (mana aku mau berciuman dengan tua bangka itu)
Miroku: Ehh…? Kenapa gak mau? Padahal kan bagus kalau… kalau aku bisa ciuman dengan Teito… Muach!
Teito: No…!
.
.
Uwaah, chapter dua ribuan kali lebih sulit dari chapter satu!Bisa gila rasanya…
Aku sudah menyiapkan akhir dari cerita ini sih, tapi entahlah sampai chapter berapa. Gak janji lho…!
Cih, untungnya selesai juga. Sorry, kebanyakan percakapan…..
Salam manis, author….
.
Review or not review. That is the question.
