Special Holiday. The Memories of 17th New Year
.

.

Happy Eve of New Year!
.

.
Flashback
.

"Tiashe, Tiashe. Besok adalah tahun baru, lho!" kata Luna dengan ceria. Ia sedang merajut sambil bersiul-siul di apartemen yang mereka bertiga tinggali dalam jangka waktu yang cukup panjang. Well, mereka terpaksa menunda sebentar perjalanan mereka untuk menyembunyikan diri dari pengejar sejak distrik enam. "Distrik tiga ini sepi sekali, ya, padahal sudah mau tahun baru!"

"Lalu kenapa dengan tahun baru?" ujar Teito dengan datar dan dingin. Ia tak pernah mengerti keasyikkan perayaan-perayaan semacam itu. Menurutnya, perayaan hanyalah pemborosan uang untuk hal-hal yang tak ada gunanya. Dilanjutkan kesibukkannya membaca sebuah buku sejarah peperangan Raggs.

"Artinya seminggu lagi aku ulang tahun yang kedelapan belas," sahut Luna dengan penuh semangat. "Ngomong-ngomong, ke mana lagi Frau itu? Aku sudah mencarinya seharian!"

"Ahh… palingan bishop mesum itu lagi ada kerjaan lagi. Biasa…" jawab Teito dengan asal-asalan. Luna belum tahu bahwa Frau adalah Zehel, sehingga ia juga tak mung kin tahu kerjaan Frau sehari-hari,yang berupa ' Berburu Kor'. "Karena seminggu lagi kamu ulang tahun, lalu apa yang kamu inginkan, Luna?"

"Apa yang ingin Tiashe berikan padaku, itulah yang aku inginkan."

"Aku tak tahu apa yang aku ingin berikan padamu sebelum kamu mengatakannya."

"Serius nih, Tiashe?" sahut Luna sambil menyengir. Sepertinya otaknya yang penuh dengan akal bulus berjalan lagi kayak biasa, kuulangi. Kayak Biasa.

"Tentu, Kenapa tidak?"

"Kalau begitu, ciuman," ujar Luna dengan serius sambil menatap lekat-lekat cowok yang ditaksirnya itu. Entahlah, walaupun sepertinya Teito tak mempedulikannya, tetapi bagaimanapun juga Luna menginginkan Teito menyukainya sebagai seorang wanita setidaknya sedikit saja.

"Hah?" dengan penuh keheranan Teito menatap balik gadis muda yang telah berhenti merajut itu. Iris hijau jadenya bentrok dengan iris violet di sana. Dan lagi-lagi jantung Luna berdebar-debar makin kencang tanpa sepengetahuan Teito.

"Aku ingin ciuman di bibir," tegas Luna.

"Hei, hei. Gadis kecil tak boleh ciuman di bibir sebelum dewasa, kan? Lagipula mana mungkin aku mencium bibirmu," tukas Teito tanpa menyadari ekspresi terluka di wajah Luna.

"Kalau begitu, terserah Tiashe saja deh!" Luna mengambil langkah panjang menyeberangi ruangan menuju pintu kamar. Teito menahannya dengan menggenggam erat-erat pergelangan tangan Luna. "Mau ke mana kamu itu, Luna? Sekarang telah larut malam dan sangatlah bersalju," ujar Teito heran melihat tingkah sahabat perempuannya yang semakin aneh saja akhir-akhir ini.

"Aku mau pulang," sahut Luna dingin sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Teito. Namun Teito takkan membiarkannya pulang begitu saja dalam cuaca begini.

"Ck, dasar," keluh Teito sambil menarik Luna ke dekatnya, dan menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu dengan agak kasar. Mereka bertahan dalam posisi itu sangaaat lama, sampai Luna menjauh sedikit dari Teito, melepaskan ciuman itu.

"Apa yang kamu lakukan, Tiashe mesum," ujar Luna sambil menggosok-gosok bibirnya dengan punggung tangan. Wajahnya sangat memerah sekarang.

"Hee… aku menciummu. Jadi jangan pergi, please?" bujuk Teito. Ia agak memerah juga.

Luna kembali menatap Teito dengan ekspresinya yang terluka. "Aku tak butuh ciuman bibir tanpa cinta dari seorang kekasih. Memangnya kamu suka aku sebagai seorang kekasih, Tiashe?"

"Aku… aku tidak tahu…" sahut Teito dengan ragu-ragu. Ia tak berani menatap balik gadis yang dilukainya itu. Well, Teito sudah lama tahu bahwa Luna naksir padanya. Tapi...

"Kalau begitu, ayo berciuman lagi," lanjut Luna sambil mendekatkan wajahnya pada milik Teito.

"Tapi—"

"Pejamkan matamu," perintah Luna tanpa mempedulikan protes dari Teito. Teito menuruti permintaan si gadis itu. Tak lama kemudian ia dapat merasakan hembusan nafas Luna yang dekat, dekat sekali dengan wajahnya. Dan kemudian mereka berciuman lagi. Dari jarak sedekat itu, Teito dapat merasakan debaran jantung Luna, hangat tubuhnya, semuanya.

"Kuharap suatu hari nanti Tiashe dapat menyukaiku sebagai seorang wanita," bisik Luna pada Teito begitu mereka selesai berciuman.

"Aku juga."

"A, apa maksudmu?"
.

.-oooo0000oooo-

A week later…

"Frau! Hari ini aku membuatkanmu sebuah sarung tangan," kata Luna sambil menyodorkan sebuah sarung tangan hitam kelam berbahan dasar wol pada Frau. "Gimana? Baguskan? Hari ini ulang tahunku lhoo…"

"Hee… bukannya justru orang yang berulang tahun yang menerima hadiah? Kok malah sebaliknya, sih?" ujar Teito melihat kejadian barusan. Well, sekarang mereka berada di distrik dua yang juga sedang musim dingin. Namun karena penginapan tempat mereka berada sekarang hangat sekali temperaturnya, mereka tak perlu mengecap dinginnya suhu di luar sana.

"Hadiahku untuk seorang nona kecil yang bernama Luna tentunya adalah ciuman yang—" sebelum Frau dapat menyelesaikan kalimatnya, dua buah tendangan tepat mendarat di mukanya.

"Apa yang kau katakan bishop mesum!" hardik Teito. Frau menggosok-gosok jidatnya kesakitan. Ditelitinya kelakuan anak-anak muda yang sekarang berada di bawah tanggung jawabnya. Entah mengapa, sejak seminggu lalu keduanya bertingkah aneh-aneh terus satu sama lain. Yah, Frau belum tahu mengenai ciuman mereka sehari sebelum tahun baru itu.

"Oh ya, karena hari ini adalah ulang tahun Luna, jadi ini hadiahmu dariku!" ujar Teito malu-malu kemudian sambil menyodorkan sebuah tas kertas. Luna menerimanya dan langsung membukanya. Mata Luna membelalak takjub dan Frau bersiul kagum melihat isi tas kertas itu. Sebuah gaun yang disulam dengan benang-benang keperakkan, dengan renda-renda yang manis dengan sebuah pita besar di bagian atasnya. Begitu gaun itu diterpa cahaya lampu, gaun itu berkilauan dengan indahnya laksana cahaya bulan.

"Wah, barang mahal nih," puji Frau sambil mengacak-acak rambut Teito. "Daripada itu, dari mana kamu tahu hari ulang tahun Luna? Terus dari mana kamu mendapat uang untuk membeli gaun semahal itu?" lanjutnya sambil menatap Teito dengan mimik curiga.

"Bukan urusanmu kan, bishop mesum!" tukas Teito sambil memalingkan wajahnya yang memerah. Nah, kan. Dugaan Frau ternyata tak salah. Teito memang menyukai Luna sebagai seorang wanita! Frau tersenyum-senyum sendiri menyadari perasaan Teito pada Luna.

"Kalau soal tanggal ulang tahunku sih, aku yang kasih tau Tiashe," ujar Luna menjawab pertanyaan Frau. "Aku memang tak tahu dari mana kamu mendapat uang untuk membelinya, tapi terima kasih banyak, ya!" kata Luna sambil tersenyum manis pada kedua lelaki di hadapannya, terlebih Teito dan memasukkan mahakarya itu kembali ke tas kertas tempatnya semula.

"Hei, itukan curang! Masakan Luna-chan kasih tahu cebol ini tanggal ulang tahunnya tapi tak kasih aku tahu!" protes Frau.

"Jangan panggil aku cebol, mesum!"

"Sudahlah! Pokoknya sekarang aku beri Luna-chan ciuman yang ku janjikan ta—"

Dhuak

"Gya! Apa-apaan sih, sialan satu ini?"

Tanpa Teito sadari, sejak saat itulah api asmara mulai bersemi dalam hatinya. Ini adalah cerita bagaimana Teito sampai jatuh cinta pada Luna yang nama gadisnya adalah Carnellia Lunatique Barburg. Pada tahun itu juga, di usia ketujuh belas tahun atau tepatnya hampir delapan belas tahun, Teito atau Wahrheit Tiashe Raggs yang telah membangkitkan Kerajaan Raggs menikahi Luna sehingga nama keluarga Luna mengikuti milik Teito, yaitu Lunatique Raggs adalah satu-satunya wanita yang pernah dinikahi Teito sehingga Teito tidak memiliki selir seorangpun.
Ps: Pernikahan Wahrheit Tiashe Raggs dengan Carnellia Lunatique Barsburg berlangsung pada tanggal 31 Desember, tepat setahun setelah ciuman pertama mereka (xixixixixi)

.
Special Holiday```````````````-Fin-

Catatan Author: Happy New Year!