Fandom: 07-Ghost
xXx
Disclaimer:
07-Ghost belong to Yuki Amemiya & Yukino Ichihara. If only Teito Klein belongs to me….
xXx
Warning: OC, OOC, Typo, Spoiler (great! I hate spoiler. Hate spoiler too? Don't read), soo onn…
.

-oooo0000oooo-

.

Aku sangat tahu, kau telah tiada

Bahwa bahwa kamu tak ada di mana-mana lagi untuk kucari

Bahkan dengan mata kepala ini sendirilah aku menyaksikannya

Kematianmu

Yang juga merupakkan kematianku bagiku

Kini cahayaku telah pupus, musnah

Kau pergi, dan tinggalkan aku sendiri dalam penantian yang sia-sia

Dalam hidup penuh keputusasaan ini

Aku yang hampir selalu menyaksikan kematian orang-orang terpenting bagiku

Tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya

Aku heran…

Mengapa aku selalu lemah begini, ya?

.
.Catatan Author: Well, dengan gaya berbahasa yang mungkin agak bertele-tele atau bahkan sangat bertele-tele ini, kuharap kalian dapat menyukainya. Kalau ada Typo, please review! Aku paling benci Typo sih…
.

*xXxX*…Kapitel 3. The Hohburg Fortress…*xXxX*
"I don't know how to continuing to live on if I know I'll never see you even once again."

.

Aula besar itu kini penuh dengan bangsawan -bangsawan kekaisaran yang datang hanya untuk bertemu langsung dengan raja muda dari Raggs Kingdom yang juga merupakan wadah Eye of Mikhail. Hiruk pikuk dalam aula besar itu sama sekali tak mempengaruhi kegugupan Hakuren yang terus saja melihat arlojinya setiap satu menit sekali. Ia duduk tepat di sebelah Ouka, yang mengenakan pakaian kebesarannya sebagai seorang kaisar wanita Kekaisaran Barsburg. Yah, baru kali ini Hakuren merasa segugup itu seumur hidupnya. Ayahnya juga hadir, namun ia tak peduli karena yang sekarang mengisi pikirannya adalah Teito, Teito, dan Teito.

Seisi aula langsung menjadi hening ketika pintu utama aula besar itu dibuka. Sementara itu, jantung Hakuren berdegup sangat kencang hingga rasanya Ouka dapat mendengarnya juga. Yang pertama masuk adalah Lance dan seorang pria jangkung berambut hitam yang tak dikenalnya, namun saat yang ditunggu-tunggunya memasuki ruangan, Hakuren merasa jantungnya berhenti berdetak. Seisi aula bangun dari tempat duduknya untuk menghormat padanya, King of Raggs, Wahrheit Tiashe Raggs.

Dengan penuh percaya diri, sang raja muda itu berjalan memasuki ruangan, mengenakan jubah resmi kerajaannya yang sepertinya berat sekali. Hakuren terpana, ia tak habis pikir bagaimana mungkin bocah menggemaskan yang dulunya ia sering panggil 'cebol' itu kini lebih tinggi dari Lance? Bahkan dengan satu kalimat, Teito sekarang tumbuh menjadi pria yang jangkung, titik.

Saat Teito mengalihkan pandangan matanya ke arah Ouka, ia melihat Hakuren yang tengah duduk di sampingnya. Bahkan dari kejauhan, Ouka dan Hakuren dapat melihat kilatan terkejut dalam mata hijau jadenya yang besar, namun segera ia mengendalikan dirinya dan kembali ke ekspresinya yang tadi, penuh kepercayaan diri dan agak angkuh.

"Terima kasih atas sambutan anda sekalian. Saya rasa anda sekalian telah mengetahui tujuan kedatangan kami namun izinkan saya menjelaskannya," mulai Teito dengan Bahasa Barburg yang nyaris tanpa cela dan formal. "Kami datang untuk mengadakan Pakta Perdamaian antara Raggs Kingdom sebagai salah satu kerajaan terkuat dan Barsburg Empire sebagai salah satu kekaisaran terkuat. Silahkan dipertimbangkan."

Derai tepukkan tangan membahana dalam aula besar Hohburg Fortress itu. Segera setelah situasi kembali tenang, Ouka mengangkat suara. "Kami sangat tersanjung atas kesediaan anda datang kemari, saudara Wahrheit Tiashe Raggs. Mulai besok akan diadakan pertemuan-pertemuan untuk membahas mengenai Pakta Perdamaian yang anda sebutkan barusan. Hari ini anda sekalian tentunya perlu beristirahat setelah perjalanan panjang, bukan?"

"Terima kasih banyak," sahut Teito masih dalam bahasa yang formal sembari agak membungkukkan badannya memberi hormat.

"Dengan ini kita akhiri acara penyambutan kali ini yang cukup singkat. Kami meminta maaf apabila ada yang tidak berkenan di hati," tukas Ouka untuk mengakhiri penyambutan yang bagi Hakuren memang terlalu pendek.
*…*…*…*…*
End of The Normal POV
.

.

.

.
Wahrheit Tiashe Raggs (Teito Klein) POV
.

.

Sejak acara pembukaan tadi; aku, Luna, dan Schinkel terus menetap di kamar karena tak ada yang dapat dikerjakan. Sementara kedua orang terkasihku tertidur, aku mengevaluasi jadwalku selama dua minggu ke depan dan membayangkan kesibukkan Castor dan Lab selama aku keluar. Mmm… sudah lama aku tak bersantai-santai begini. Yah, walau biasanya aku sibuk, aku mencintai pekerjaanku dan entah sejak kapan aku jadi kecanduan bekerja. Hanya dengan bersantai seharian sudah cukup menyiksaku dalam kebosanan.

Aku bangun dari kursi kerjaku dan menuju ke arah Luna dan Schinkel yang tengah tertidur. Kuamati wajah tidur keduanya. Schinkel, dengan rambut kecokelatan warisan dariku membuatnya kelihatan sangat mirip denganku. Senyum mengembang di wajahnya yang imut dan polos, entah apa yang tengah ia mimpikan. Bulu matanya yang panjang dan lentik bergetar ketika kubelai rambutnya yang lembut itu. Mmm… perasaan hangat mengaliri kalbuku, inikah yang disebut sebagai perasaan sebagai seorang ayah?

Luna sendiri tengah memeluk tubuh Schinkel yang tertidur dengan damai. Rambut keperakkannya yang panjang dan bergelombang menggelitik perasaan siapa saja yang melihatnya untuk menyentuhnya, termasuk aku. Senyum damai menghiasi wajah malaikatku yang membuatnya kelihatan sangat manis yang juga membuat jantungku berdebar sedikit lebih cepat. Aku membungkuk ke arahnya, mendekatkan mukaku ke miliknya. Dapat kulihat bulu matanya yang panjang dan lentik yang telah ia wariskan ke Schinkel kami (bulu mataku tidak lentik), dan dapat kurasakan hangatnya embusan nafasnya di wajahku.

"Aku mencintaimu, Carnellia Lunatique Raggs," bisikku di telinganya. Well, entah bagaimana ceritanya wajahku terasa panas dan kembali bersemu merah. Aku betul-betul bodoh. Kulakukan sendiri, aku yang malu sendiri. Laki-laki macam apa itu?

Dengan tiba-tiba Ouka muncul di ambang pintu, tepat pada saat yang 'sangat tidak tepat'.Ketika aku membungkuk ke arah wajah Ouka. OMG, pasti dia mengiraku hendak mencium Luna! Dengan segera aku menarik wajahku dari Luna, dan berbicara dengan nada biasa, berharap ia tidak mendengar bisikkanku pada Luna tadi. "Ah, Ouka. Kamu datang juga."

"Haha. Maaf mengganggu pada saat yang sangat tidak tepat," tanggap Ouka. Ia tidak melihat ke arahku, melainkan ke arah Luna dan Schinkel yang sedang tertidur.

Mukaku masih saja memerah. "Astaga, Ouka. Aku, aku barusan tidak bermaksud menciumnya. Aku hanya mau melihat sebentar wajah tidurnya! Kalau ciuman kan bisa dilakukan kapanpun saat Luna terjaga dan—" dan aku berhenti di tengah kalimatku, menyadari bahwa aku telah mengatakan hal yang bodoh. Mukamu semakin memerah. "Si, silahkan duduk di kursi kosong ini."

Ouka tertawa hambar. "Kalian seperti sepasang suami istri yang baru menikah saja. Well, aku sudah menduganya dari ekspresi Luna tujuh tahun lalu, saat ia mengatakan padaku bahwa ia akan menikah denganmu. Belum pernah kulihat ia sebahagia itu." Ujar Ouka sambil mendudukkan dirinya ke atas kursi yang ditunjukku.

"Sepertinya kamu ada masalah. Mau coba kamu ceritakan?" tanyaku melihat ekspresi suram di di wajahnya. Nah, aku tak bermaksud mengganggu privasi seorang wanita, tapi mungkin ada baiknya bertanya daripada pura-pura tak tahu. Aku mengamatinya, dan menemukan bahwa matanya sangat mirip dengan milik Luna, violet yang indah. Tapi kali ini aku sama sekali tidak berdebar-debar atau semacamnya, entah kenapa. Awalnya kukira aku fetish iris mata violet, tapi kayaknya tidak juga. Aku hanya berdebar-debar begitu melihat sepasang bola mata wanita itu. Hanya dia seorang.

"Ini mengenai pertunanganku dengan Hakuren," mulai Ouka tanpa basa basi.

Aku hanya membelalakkan mataku dan memasang muka tak percaya. "A, kamu bertunangan dengan Hakuren, Hakuren Oak?"

"Ya, memangnya kamu belum tahu soal ini, Teito? Kurasa hal ini sudah lama diekspos di media massa," tanya Ouka balik menatapku juga dengan tatapan tak percaya.

"He… aku sibuk sekali, tahu. Sampai-sampai tak ada waktu untuk bersantai-santai seperti sekarang, apalagi untuk mendengar berita-berita terkini. Berita kalau bumi tiba-tiba mengelilingi bulan toh tak ada hubungannya dengan pekerjaanku. Lagipula, memangnya ada masalah apa kamu dengan wajah musang itu?" sahutku jujur.

"Oh, ya…" gumam Ouka tak jelas. Ekspresinya semakin muram. "Sebenarnya masalahnya sepele saja. Selama ini hanya aku sendiri yang mengatakan bahwa aku menyukainya, aku yang memulai ciuman, aku yang mengajaknya menikah. Hakuren menerima tawaran pernikahanku, namun ia tak pernah bilang kalau dia mencintaiku sekalipun,"

Aku berpikir sejenak. "Ouka, kurasa Hakuren memang menyukaimu. Aku sudah lama mengenalnya. Aku tahu ia bukanlah jenis orang yang senang memaksakan dirinya," komentarku dengan serius. "Kurasa ia tak mengatakan dia mencintaimu bukan karena itu, tapi kamu tahukan, Hakuren adalah orang yang tak terbiasa dengan wanita. Justru kamu yang harus membimbing bocah itu soal beginian , tahu."

Tiba-tiba saja airmata Ouka jatuh dari pelupuk matanya di hadapanku. "Terima kasih, Teito," ujarnya sambil tersenyum dan buru-buru menghapus airmatanya.

Aku kebingungan melihatnya menangis dan aku sama sekali tak tahu cara menanggani wanita yang menangis. Well, Luna sudah lain cerita. Apabila ia menangis di depanku atau aku menemukannya diam-diam menangis di malam hari, aku aku memeluknya dan mencoba untuk menghiburnya. Tapi ini Ouka, jadi tak mungkinkan aku memeluknya.

"Ke, kenapa Ouka? Ada yang sakit? Atau omonganku keterlaluan?" tanyaku dengan cemas.

"Oya, aku… aku sangat bahagia mendengar kalau Hakuren tidak membenciku ku dan—" Ouka berhenti sejenak, menghapus airmatanya. "Terima kasih, Teito. Aku merasa semua bebanku terangkat semua. Mungkin ada bagusnya aku bicara dengan Hakuren nanti."

Aku membiarkan Ouka menyandar di dadaku (Aku sudah jauh lebih tinggi dari Ouka. Cihuy!). Dan kami terus bertahan pada posisi itu hingga dari sudut mataku, aku menyaksikan bagimana Luna terbangun dan melihat kami dalam situasi yang, kuulangi yang memalukan untuk orang yang telah beristri dan beranak.

Ya ampun, mereka bersaudara itu gemar sekali sih, muncul pada saat yang tidak tepat? Aku merasa sangat ingin menggantung diri di sana dan saat itu juga. Tapi kulihat dari ekspresi Luna, sepertinya ia tidak marah atau sejenisnya. Dan tiba-tiba aku merasakan hantaman keras telak dipipiku.

"Astaga, Ouka. Apa yang Tiashe lakukan sampai kamu menangis begini?" dengan cemas Luna mengamati wajah adik tirinya dari dekat. Lagi-lagi aku tak dipedulikan. Well, kali ini tak mungkin aku cemburu dengan Ouka, kan?

"Luna-oneechan! Tidak, tidak apa-apa kok, cuma—" Luna menempelkan jarinya ke bibir Ouka, mengisyaratkan agar adiknya diam. Luna berbalik ke arahku, dan dengan tiba-tiba pula mencium bibirku.

"Tiashe-chan, sekarang kami mau melakukan pembicaraan antar hati wanita yang kurasa kamu tak mengerti. Kamu keluar dulu ya, sayang?" pintanya sambil menatapku lekat-lekat dengan mata violetnya yang lagi-lagi sukses membuatku berdebar-debar. "Tak apa, Schinkel kita masih tertidur, kok."

"A, aku, aku pergi dulu!" dengan wajah memerah aku meninggalkan kamar, meninggalkan kedua wanita itu sendirian. Tanpa mempedulikan Mikage yang dengan cemas memanggilku, aku bersembunyi di sebuah pojok berharap tak ada yang menemukanku. Barusan Luna mencium bibirku! Bibirku! Bibirku!

Dalam kesunyian, aku dapat mendengar suara yang terus saja mengiang dalam kepalaku, dan aku kenal dengan baik suara itu. "Ada apa, Mikhail?"

"Master, saya tahu ini adalah permintaan yang kurang ajar. Tapi bisakah Master membiarkanku keluar sebentar? Saya perlu berbicara dengan Raphael bodoh itu." Pinta Mikhail dengan hati-hati, seolah takut menyinggungku. Hmm… baru pertama kalinya Mikhail meminta sesuatu padaku, jadi tak mungkin aku menolaknya.

"Tentu, kenapa tidak? Tapi bukan sekarang, Mikhail. Tunggu saja."

"Terima kasih banyak. Master tak perlu khawatir, Master tetaplah orang yang paling saya cintai."

Ya, aku sangat tahu itu.
.

,

Hakuren Oak POV
.

.You are the sunshine which is illuminating my path to the light.

.

.
Dengan gelisah aku mondar-mandir dalam kamar tidur pribadiku usai acara penyambutan yang singkat barusan sambil menggigit-gigit sebuah candied apple. Sedang memilih: Lebih baik aku langsung menemui dan menyapa Teito seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya atau menunggu besok saja. Kini Ouka entah ke mana sehingga aku tak bisa berkonsultasi dengannya mengenai hal ini.

Aku menghela nafas panjang, kutepuk kedua belah pipiku dengan keras, tak peduli rasa sakit yang kutimbulkan. "Apa yang terjadi pada kepercayaan dirimu, Hakuren Oak dari keluarga bangsawan yang terkenal itu?" bisikku pada diriku sendiri. Dan aku kembali bergeming, menatap bayangan diriku dalam kaca cermin. Kamarku kedap suara sehingga kamarku selalu tenang. Dan baru kali ini aku menyukai kenyataan ini. Setelah berpikir cukup lama, aku akhirnya memutuskan. Dengan langkah berat aku menuju kamar tamu tempat Teito sekeluarga berada sekarang. Memilih alternatif pertama.

Well, untuk tamu dari Raggs, kami telah menyiapkan sembilan buah kamar tamu. Satu untuk Teito sekeluarga, dan delapan lainnya untuk pengawal kerajaan. Tetapi karena Ouka telah menunjukkan padaku kamar Teito beberapa hari sebelumnya, jadi aku dapat langsung mengenali kamar yang dipakainya, dengan pintu yang berukir lambang Kekaisaran Barburg dan pinggiran yang penuh ukir-ukiran khusus untuk tamu penting.

Dalam perjalananku menuju kamar Teito, aku merasa melihat sesuatu di pojok tergelap di Hohburg Fortress. Dengan was-was aku mengendap-endap ke arahnya, dan melongok ke dalamnya. "GYA!"

"Gya!" sebuah teriakan yang sangat tiba-tiba hampir saja membuat jantungku copot saat itu juga. Kemudian aku menyadari apa yang berada di sana. "Ya, ampun. Kamu membuatku ketakutan tadi! Lebih dari itu, apa yang kamu lakukan di sini, Wahrheit Tiashe Raggs?" tanyaku tanpa berhasil menyembunyikan nada keheranan dalam suaraku.

"Haha, cuma masalah kecil, kok," jawabnya masih sambil memeluk lututnya tanpa melihat ke arahku sedikitpun. Menatap lantai dingin di bawahnya.

Dengan agak kesal, kutarik anak itu keluar dari persembunyiaanya. Sampai di lorong yang cukup lebar, kugenggam kedua belah tangannya erat-erat. "Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu ada makan teratur? Lihat! Ada lingkar hitam di bawah matamu. Bukannya aku sudah bilang kamu harus tidur cukup?" aku memberondongnya dengan pertanyaan. Entah bagaimana kegelisahanku pupus sudah hanya dengan melihat anak itu tak pernah berubah. Masih saja kekanak-kanakan.

"Hei, hei. Kamu tak berubah bahkan setelah delapan tahun kita tak bertemu, Hakuren. Daripada itu, kudengar kamu sedang ada masalah cinta, ya?" tanyanya point to the point tanpa mempedulikan pertanyaan-pertanyaanku.

Wajahku agak memerah. "Kenapa tiba-tiba?" tanyaku balik dengan kikuk. Aku melihat ke dalam mata hijau jadenya yang sangat kurindukan, yang selalu muncul dalam mimpiku sejak aku berpisah dengannya delapan tahun lalu. Well, matanya memang semakin penuh percaya diri dan tegar. Namun aku dapat melihat bocah enam belas tahun yang sama seperti dengan dulu di dalamnya.

"Oh, ya. Ouka tadi menceritakannya padaku."

"I, itu… ahh… sudahlah. Daripada itu, bukannya delapan tahun lalu kamu sudah berjanji akan menceritakan semuanya padaku? Semuanya," ujarku mengalihkan pembicaraan.

"Yah, baiklah. Tapi ini bukan tempat yang cocok untuk bercerita banyak," sahut Teito dengan ragu-ragu sambil mengamati sekeliling kami. "Di kamarku saja, yuk. Itupun kalau Ouka dan Luna sudah selesai dengan pembicaraan mereka."

Mendengar nama Ouka disebutkan, jantungku berdebar kencang. Jadi Ouka ada di tempat yang sekarang kutuju? Huff… jadi tak keruan rasanya.
.

,

Normal POV
.*.*.*.*.*.*.*.*

.

.

"Apa yang Luna-oneechan lakukan pada Teito sampai-sampai ia keluar begitu?" tanya Ouka dengan keheranan melihat tingkah sejoli yang *cough*mesra*cough* itu. Mereka berdua kini duduk berdampingan di ranjang Luna, di dekat Schinkel yang masih saja tertidur.

"Bukan apa-apa, cuma hukuman biasa," jawab Luna dengan seringai di wajahnya sambil menjilat bibirnya. Mmm… hangatnya bibir Teito masih menyisa di bibirnya. "Kamu kelihatan sedang ada masalah."

Oh, ya. Ouka ingat bahwa kakak tirinya menangkap basah ia dan Teito melakukan 'hal itu'. "Apa… Luna-oneechan tidak cemburu?" tanya Ouka dengan hati-hati, tak mengacuhkan kalimat terakhir kakaknya itu.

Luna tersenyum lembut. "Mungkin iya, mungkin tidak."

"Apa maksudnya?"

"Well, aku bukannya senang melihat cara ia memperlakukan wanita lain. Ia selalu begitu, namun aku tahu ia tak mungkin mengkhianatiku karena dia mencintaiku."

Ouka menatap mata kakak tirinya yang berwarna senada dengan miliknya, violet yang sendu dan indah. Heran rasanya melihat bagaimana pasangan itu begitu mempercayai satu sama lain. "Hee… percaya diri sekali," tanggapnya dengan suram, mengingat hubungannya dengan Hakuren yang bermasalah.

"Kenyataan, bukan? Aku mencintainya, dia mencintaiku," jawab Luna tanpa ragu-ragu masih tersenyum lembut.

"Oh ya, soal Teito. Tadi waktu aku memasuki kamar kalian, aku…" Ouka berhenti sebentar untuk melihat ekspresi Luna. Namun Luna hanya bergeming, menunggu adiknya melanjutkan. "Aku melihat Teito duduk di sini, menatap wajah tertidurmu dengan gimana gitu…"

Ekspresi Luna berubah menjadi ekspresinya yang selalu ia tunjukkan saat mereka membicarakan Teito. Well, tak dapat diragukan lagi itu adalah ekspresi wanita yang tengah jatuh cinta. "Haha, memang begitulah Tiashe-chan," komentar Luna. "Mau menceritakan masalahmu padaku, Roseamanelle Ouka Barsburg?" lanjutnya mengubah kembali ke topik semula.

Ouka terhenyak sebentar, kemudian ia menarik nafas panjang dan mulai mengisahkan masalah hubungannya dengan Hakuren, yang merupakan alasan mengapa Teito membiarkannya menyandar di dadanya tadi. Luna hanya diam mendengarkan, mengamati bagaimana ekspresi Ouka yang terluka begitu ia menceritakannya. Jelas bahwa Ouka sangat, sangat mencintai pria yang bernama Hakuren itu.

"He… Ouka juga berjuang dengan kisah cintanya sendiri ya," komentar Luna usai mendengar kisah yang Ouka barusan tuturkan. "Wanita bukanlah seorang wanita apabila ia tidak memperjuangkan kisah cintanya. Ouka harus berjanji pada neechan akan berjuang hingga saat terakhir, ya?" lanjut Luna menyemangati Ouka masih dengan tersenyum. Senang rasanya bertemu kembali dengan saudara yang telah tujuh tahun tak ditemuinya. Terakhir mereka bertemupun sangatlah singkat dan dalam situasi yang formal.

"Mmm… Ouka berjanji pada Luna-oneechan takkan menyerah sampai saat yang terakhir," janji Ouka sambil tersenyum lebar. "Oya, ada satu hal yang sangat membuatku penasaran. Sebenarnya bagaimana sih, oneechan bisa bertemu dengan Teito sampai kalian saling jatuh cinta begitu?"

"Oh, itu sih sudah cerita lama yang manis-manis pahit. Well, sejujurnya Tiashe tak banyak berubah sejak pertama kalinya kami bertemu, hanya saja kematian Frau membuatnya sangat, yah… sangat terluka hingga sekarang," mulai Luna. Nah, bagi pembaca cowok-cowok sekalian yang belum terbiasa dengan kebiasaan cewek, beginilah biasanya percakapan para cewek itu, penuh perasaan dan intim. Jadi tak ada yang perlu diherankan, gitu.

"Hah? Jadi kalian pernah bertemu sekali sewaktu kecil dulu?" tanggap Ouka penuh keheranan mendengar kisah Luna yang bahkan belum mencapai separuhnya.

"Ya, waktu ia berusia tiga tahun dan aku berusia empat tahun. Tak seberapa lama sebelum Tiashe diberitakan telah meninggal akibat kecerobohan tutornya. Kata Tiashe sih, kalian dulu pernah bertemu waktu kecil. Tapi dia tak bilang kapan dan di mana."

"Ya, memang pernah,sih…" gumam Ouka tak jelas. Dia sangat mengerti pertemuan mana yang dimaksud Teito, yaitu saat Perang Raggs. Mereka berhadapan sebagai musuh, perang antara Mikhail dan Raphael juga. Well, sebenarnya saat itu Raphael terkena pencucian otak sehingga ia menyerang Mikhail, sahabat terbaiknya.

Ouka terus melanjutkan ceritanya hingga pertemuan mereka delapan tahun lalu. Tetapi ia sama sekali tak menyebut-sebut Pandora Box atau Land of Seele. Ketika ceritanya hampir mencapai klimaksnya, saat Frau terbunuh, pintu kamar terbuka kemudian Teito dan Hakuren masuk tanda diundang. Ouka melompat dari tempat duduknya melihat kedatangan Hakuren dan jantungnya berdebar-debar kencang (dasar orang yang lagi jatuh cinta). Mendengar hiruk pikuk di sekitarnya, Schinkel terbangun. Ia menatap nanar orang-orang yang di sekelilingnya dengan matanya yang mengantuk.

"Papa, mama. Siapa meleka ini?" ujar Schinkel tiba-tiba sambil menatap kedua pendatang baru itu dengan penuh keheranan. Melihat Schinkel terbangun, Teito langsung menyeberangi ruangan, memeluk Schinkel dan menyelipkan buah hatinya itu ke dalam gendongannya. Sementara Hakuren masih saja di ambang pintu, tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Schinkel akhirrnya bangun juga, ya. Lihat, ini Bibi Ouka, dan itu Paman Hakuren. Ayo salaman," ujar Teito dalam Bahasa Raggs non-formal sambil melepaskan gendongannya, membiarkan Schinkel menyalami Ouka dan Hakuren. "Oh, ya. Paman Hakuren dan Bibi Ouka adalah Orang Barsburg."

"Hai, Paman Hakulen, nama saya Weldeschtein Schinkel Raggs. Senang beltemu dengan anda," tukas Schinkel dalam Bahasa Barsburg resmi dengan ceria setelah ia melupakan kantuknya tadi sambil menyalami Hakuren. Saat mata keduanya bertemu, Hakuren agak terkejut sedikit. Iris mata Schinkel yang berwarna hijau jade dan rambutnya yang kecokelatan membuatnya sangat mirip dengan Teito, terlebih senyumnya yang juga khas Teito. Selain itu, tatapan mata Schinkel menunjukan bahwa ia adalah anak berintelektual tinggi dan penuh percaya diri.

"Senang bertemu dengan anda juga, Schinkel-sama," sahut Hakuren juga dengan formal. Well, sepertinya anak itu diajarkan Bahasa Barsburg dan juga Bahasa Raggs yang sangat formal, sebagaimana layaknya anak yang diasuh dalam lingkungan kerajaan. Hakuren menoleh ke arah Teito yang tengah menatap penuh bangga ke arah anak kesayangannya itu. Menyadari Hakuren menoleh ke arahnya, Teito mengedipkan sebelah matanya pada Hakuren dan Hakuren membalasnya dengan senyuman.

"Telima kasih bayak," Schinkel melepaskan jabatan tangannya dan kini menuju ke arah Ouka.

"Salam kenal, Bibi Ouka. Nama saya Weldeschtein Schinkel Raggs. Senang beltemu anda," tukas Schinkel sambil menyalami Ouka dan menyium punggung tangannya.

"Aiih, senang bertemu anda juga, Schinkel-sama. Anda lucu sekali! Aku baru tahu Teito dan Luna bisa membuat yang selucu ini! Aku juga mau punya satu, ah…" tambah Ouka dalam Bahasa Barburg. Ouka dengan penuh semangat meraih bocah itu ke dalam pelukannya, tak menyadari Hakuren yang tengah bersemu merah di belakangnya mendengar penuturan tunangannya itu. "Apa kabar?" lanjut Ouka dalam Bahasa Raggs.

Schinkel menatap lekat-lekat wajah Ouka dari dekat dengan mata hijau jadenya yang besar (seperti biasa). "Schinkel sangaaat baik hali ini," sahut Schinkel masih dalam Bahasa Barsburg, namun tidak seformal tadinya. "Bibi Ouka milip mama."

"Hei, kenapa anakmu cuma bisa bilang 'r' saat dia bilang Raggs?" bisik Hakuren pada Teito.

"Oh, ya. Tentu saja setelah 'latihan yang keras' itu."

Hakuren agak merinding mendengar nada suara Teito begitu ia menyahutnya. "Latihan yang keras itu?" diulanginya perkataan Teito sambil mengerutkan keningnya.

"Kalau tak salah tadi aku telah berjanji akan menceritakan semuanya, kan? Kalau begitu kurasa sekarang waktunya," gumam Teito kemudian tanpa mempedulikan perkataan Hakuren. Kemudian ia menggambil Schinkel dari gendongan Ouka. "Nah, sekarang Schinkel bermain dengan mama di luar, ya?" ujar Teito pada Schinkel dengan nada serius.

"Kenapa? Schinkel masih mau main dengan Bibi Ouka," protes Schinkel sambil membalas pandangan mata Teito.

"Hari ini mama mau mengajak Schinkel bermain ke ladang bunga. Lain kali Schinkel ke sana dengan Bibi Ouka, ya?" pinta Teito sambil mengecup pipi Schinkel dengan lembut.

Schinkel mengganguk-anguk penuh semangat. Ia turun dari gendongan ayahnya dan menarik-tarik tangan ibunya. "Ayo, mama! Kita ke padang bunga!"

"Luna, sekarang aku mau menceritakan banyak hal pada baik Hakuren maupun Ouka. Tolong jaga Schinkel ya?" ujar Teito pada Luna sambil mengelus-elus rambut Luna dengan sayang.

"Tentu saja, apapun akan kulakukan untuk cowok kesayanganku," sahut Luna sambil tersenyum manis. Dipeluknya Schinkel dan dimasukkan ke dalam gendongannya. "Ayo kita ke ladang bunga!" ajak Luna pada anak satu-satunya yang tersayang.

Wajah Teito bersemu merah. "Kalau begitu, apapun juga akan kulakukan demi kamu, demi Schinkel juga," tukas Teito kemudian, mencium ujung rambut Luna. "Kalian adalah orang terpenting bagiku."

"Bagus kalau begitu," tanggap Luna sambil berjalan menuju pintu, membawa Schinkel dalam gendongannya. "Tadi aku sudah minum obat, jadi tak usah khawatir, cowokku tersayang!" sambungnya.

"Schinkel jaga mama, ya!" seru Teito sambil melambai-lambai pada Schinkel, memandangi punggung keduanya yang menjauh dan lenyap di balik pintu.

"Ya, papa! Schinkel akan menjaga mama!" seru Schinkel balik dari kejauhan.

Teito masih saja diam bergeming, menatap kepergian mereka sambil tersenyum-senyum sendiri. "Woii, orang yang tengah dimabuk cinta!" seru Hakuren dengan agak kesal pada Teito melihat bagaimana 'tingkah mesra' sahabat terbaiknya itu.

"Ah, ya, ya. Maaf aku terbawa suasana," sahut Teito setelah kembali dari lamunannya. "Luna 'ku' manis, kan?"

"Tentu manis, dong! Iya gak, Hakuren?" sahut Ouka antusias mendengar saudara tiri kebanggaannya dipuji-puji.

"Aku tidak mengerti apa yang kalian maksud dengan 'manis' itu," sahut Hakuren dengan sebal karena Teito tidak langsung menceritakan yang ingin ia dengar saat itu juga.

"He… lalu apakah menurutmu Ouka 'mu' itu manis?" goda Teito sambil mendudukkan dirinya di sebuah sofa.

Wajah Hakuren memerah lagi. "I, itu…" ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Ouka meminta bantuan. Namun Ouka hanya menatapnya lekat-lekat, menunggu jawaban keluar dari mulut Hakuren. "Tentu saja Ouka 'ku' manis!" kali ini keduanya bersemu merah. Teito hanya tertawa kecil melihat pasangan 'malu-malu kucing' di hadapannya itu. "Jadi sekarang ingat janjimu menceritakan segalanya?" lanjut Hakuren mengalihkan pembicaraan.

"Ya, ya. Tentu aku ingat!" ujar Teito. "Well, mari kita mulai ceritanya saat aku masih seumuran Schinkel… Kurasa kalian bisa membayangkan aku waktu seusia itu, kan? Aku sangat mirip dengan Schinkel."

"Schinkel yang mirip denganmu," potong Ouka.

"Jadi singkatnya ibuku adalah seorang selir ayahku yang bernama Millea. Sebenarnya ibukulah yang ayahku, Weldeschtein Krom Raggs cintai. Namun karena perbedaan status sosial, pernikahan mereka tak pernah disetujui secara resmi sehingga terpaksa ibuku menjadi selir ayahku."

"Mille?" ulang Ouka dengan keheranan. "Maksudmu Millea Lynnanne?"

Teito mengerutkan keningnya. "Benar, itu nama lengkap ibuku. Dari mana kamu mengenalnya, Ouka?"

"Ya, benar! Pasti dia! Millea Lynnanne ibumu dulunya adalah tutorku yang paling aku sayangi," tukas Ouka dengan penuh keyakinan. "Dalam kastil sebesar ini, hanya dia sendiri yang memperlakukanku sebagai seorang anak, bukan sebagai seorang putri kerajaan. Well, ia selalu memanggil nama kecilku, Ouka tanpa tambahan tetek bengek seperti 'hime' atau sejenisnya."

"Tapi Ouka. Itu tak mungkin! Usia kita sama jadi apabila yang kamu katakan itu benar, artinya itu setelah pernikahannya dengan ayahku dan kelahiranku," sangkal Teito sambil mengamati Ouka, apakah ia sedang bercanda atau tidak. Hakuren hanya berdiam diri, mendengarkan penuturan Teito dan Ouka, memilah-milah informasi. "Memangnya kapan ia menjadi tutormu?"

"Saat aku berusia dua tahun setengah."

"Nah, kamu tak mungkin mengingat segala sesuatu pada usia semudah itu, kan."

"Kalau begitu kamu tak percaya, ayo kita lihat kamar informasi."

"Ayo!" Teito mengiyakannya tanpa berpikir panjang. "Tapi Ouka, kalau begitukan sama saja dengan menyelinap!" protes Teito begitu akal sehatnya berjalan sebagaimana mestinya.

"Aku ini sang kaisar wanita yang terhormat itu, Roseamanelle Ouka Barsburg. Ada masalah?"

"Ya ampun, Roseamanelle Ouka Barsburg yang terhormat. Aku ini sekarang raja dari Raggs Kingdom, Wahrheit Tiashe Raggs. Mana boleh seenaknya masuk ke kamar informasi kerajaan atau kekaisaran orang lain, kan?" tegas Teito bertahan pada pendapatnya. Well, kamar informasi adalah sebuah ruangan yang sangat penting yang berisi informasi-informasi sebuah kerajaan. Baik yang telah umum hingga yang paling rahasia sekalipun.

"Bagus kalau kamu lebih senang aku panggil Wahrheit Tiashe Raggs," kata Ouka dengan sengit. "Nah, sekarang Raja Raggs yang terhormat, saya selaku Roseamanelle Ouka Barburg mengizinkan anda untuk mengunjungi kamar informasi milik Kekaisaran Barsburg."

"Menurut kode etik yang benar, hal seperti ini sama sekali tak diperbolehkan."

"Wahrheit Tiashe Raggs, lupakan kode etik bangsatmu itu!" sahut Ouka mulai kesal melihat kekeras kepalaan temannya yang satu ini sambil menepuk meja di hadapannya dengan keras sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.

"Ouka! Kamu tak seharusnya tak mengatakan hal seperti itu. Ingat bagaimanapun juga, kamu adalah kaisar wanita dari—"

"Diam Hakuren," Hakuren belum pernah mendengar nada suara Ouka sedingin itu. Ia terdiam. "Teito Klein, kamu adalah sahabatku, bahkan jauh sebelum kamu menjadi seorang raja dan sebelum aku dinobatkan menjadi seorang kaisar. Lupakan hal tidak berguna itu, memangnya kamu ingin menggadaikan persahabatanmu hanya karena status idiot semacam itu?"

Teito terdiam. Apa yang dikatakan Ouka memang sepenuhnya benar, bahkan ia lupa menyebutkan bahwa sekarang ini Teito adalah calon kakak iparnya. "Hei, hei. Bahasamu kasar sekali Ouka-hime. Kalau begitu ayo kita pergi ke kamar informasimu itu," akhirnya Teito menyetujui usulan Ouka sambil meninggalkan keempukan sofanya.

"Bagus, itu baru Teito. Yuk, Hakuren!"
.

.

.

End of Normal POV
To be continued…

Catatan author: Demi bantal! Kenapa kapitel tiga ini suliiiitt banget, sih? Astaga, aku hampir saja kebut-kebutan di akhirannya. Yah, kuharap kalian menyukainya.
.

.
Chibi Tiashe: Lilac-chan! Terima kasih ceritanya. Aku baru tahu nanti besar aku akan punya istri dan anak selucu itu. (*hug*)

Author: Aww… Tiashe-chan ini. Apapun akan kulakukan untukmu, cayang. I luph you full!

Chibi Tiashe: Mmm… kalau begitu, bisa tolong bikin istriku lebih cantik lagi?

Author: Siip, bos!

Chibi Tiashe: Terus, Lilac-chan. Btw, apa itu ciuman dengan lidah sih?

Author: Aiii… mau tau aja, Tiashe-chan ini..

Chibi Tiashe: Ayolahh….. (*puppy eyes*)

Author: Iya, iya. Tiashe-chan ini… Ciuman dengan lidah adalah ciuman yang—"

Fia Kreuz: (*punch*) Demi Tiashe! Apa yang kau lakukan pada Tiashe 'ku'? Dasar perempuan sialan!

Author: Hei, Fia Kreuz datang juga. Bahasamu kasar sekali, deh. Iya, kan Tiashe-chan?

Chibi Tiashe: Betul itu, paman kasar sekali.

Fia Kreuz: Pangeran, aku… aku sangat minta maaf. (*bow*)

Chibi Tiashe: Tiashe maafkan paman. Tapi ada syaratnya, Paman harus jelaskan apa itu ciuman dengan lidah atau kalau tidak Tiashe tak akan pernah maafkan paman!

Fia Kreuz: Eeeeehhhh…..? (*dilemma*)
.

Review or not review. That is the question.