Sungmin's Mystery of Life

Interactive Fanfiction

Chapter 2 : "The Symbol"

By Yuya Matsumoto

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Pair: KyuMin and Many more

Warning: Kelanjutan cerita pada FF ini tergantung oleh keikutsertaan Readers. Jadi REVIEW/COMMENT-lah.

Summary: Sungmin adalah seorang yatim piatu yang diasuh oleh seorang haraboji baik hati. Kehidupannya berjalan normal sampai haraboji meninggal. Sungmin dituntut untuk membongkar semua rahasia hidupnya. Apakah itu? RnR please

.

.

\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

.

"Ya! Apa yang kamu lakukan di sini? Bukannya masuk ke kelas. Kamu sudah terlambat dua jam, tahu!", teriak seseorang yang membuatku membatalkan niat untuk membuka pintu itu.

Aku menghadap kepada orang yang berteriak tadi. Shin Jin Ji memelototiku dengan menyeramkan. Seakan-akan ia ingin menelanku hidup-hidup. Aku mengerucutkan bibirku.

"Dasar siswa baru nakal! Aku mencarimu seharian tahu! Menyebalkan", keluhnya sambil menarikku menjauhi pintu itu.

Aku mengikuti kemana pun Shin Jin Ji mengajakku. Pikiranku melayang ke balik pintu itu. Lambang itu? Lambang yang sama persis dengan lambang yang ada di amplop dan ranjang bayiku. Sejauh aku menjelajah sekolah ini (ah bilang saja itu tersesat pakai gaya menjelajah), aku tidak menemukan satu pun lambang seperti itu. Sebenarnya aku bingung. Apa arti lambang itu? Apa hubungannya dengan aku dan semua masa laluku?

"Ini semua gara-gara haraboji. Kenapa meninggalkan teka-teki besar seperti ini? Lagian halmoni nggak sabar banget mau ketemu haraboji. Tunggu aku udah besar dong. Udah punya istri, anak dan cucu-cucu, baru ambil harabojiku", gerutuku pada diriku sendiri.

BRAAAK!

BYUUUR!

JEDUUUG

"ADUUUH, APPO!", teriakku ketika aku dengan bebas jatuh ke dalam selokan.

.

(Mari kita lihat adegan ini dari kacamata Author)

.

Sungmin sedang mengikuti langkah Shin Jin Ji yang mengantarnya berkeliling sekolah. Kepala Sekolah meminta Jin untuk mengantar Sungmin mengenal sekolah ini. Alasan utamanya karena Sungmin tidak jua masuk ke kelas, padahal sudah lewat dua jam mata pelajaran berlangsung. Dengan sangat berat hati dan beban tanggungjawab sebagai ketua asrama, Shin Jin Ji menerima perintah Kepala Sekolah. Bisa dilihat keikhlasan dari Shin Jin Ji yang mengantar Sungmin berkeliling isi sekolah dengan wajah ditekuk dan langkah yang cepat. Sedangkan Sungmin nampaknya tidak peduli dengan semua itu, ia terlalu fokus dengan imajinasinya sendiri.

Saat ini kedua namja yang sedang sibuk dengan jalan pikiran masing-masing itu sudah sampai ke kantin sekolah. Suasana kantin sangat ramai, sudah jam istirahat. Artinya mereka sudah berkeliling hampir tiga jam, namun ini baru seperempat dari isi seluruh sekolah mereka. Wow! Amazing!

"Ini adalah kantin milik sekolah. Kantin ini berbeda dengan kantin milik asrama. Di sini terdapat beberapa peraturan dan tata cara. Kamu bisa… bla… bla…", jelas Jin panjang lebar.

"Ini semua gara-gara haraboji. Kenapa meninggalkan teka-teki besar seperti ini? Lagian halmoni nggak sabar banget mau ketemu haraboji. Tunggu aku udah besar dong. Udah punya istri, anak dan cucu-cucu, baru ambil harabojiku", gerutu Sungmin pada dirinya sendiri.

Tanpa Sungmin sadari, ia melangkah menjauhi langkah Jin. Sungmin bergerak ke arah luar kantin dimana terdapat taman yang cukup luas. Langkah Sungmin semakin mendekati sekerumunan namja yang sedang santai berjalan ke arahnya. Karena Sungmin tidak memperhatikan langkahnya dengan benar, ia hampir saja menabrak seorang namja yang dilihatnya tadi pagi, namun…

BRAAAAK! Sungmin menabrak seorang namja kutu buku yang sedang menikmati bukunya, Tubuh Sungmin oleng. BYUUUUUR! Sungmin terjatuh ke dalam saluran air yang cukup dalam. JEDUUUG! Naasnya lagi kepalanya terbentur patung taman.

"ADUUUH, APPO!", teriak Sungmin ketika ia dengan merasakan kepalanya berdenyut keras dan matanya berkunang-kunang. Poor Min!

Kalau sudut pandang bisa sedikit digeser, kita akan tahu kenapa Sungmin bisa jatuh dengan sangat tidak elit seperti itu. Mari kita replay - Stop!

Sebuah tangan menyentuh pinggang Sungmin, menciptakan gerakan tubuh Sungmin melenceng ke arah yang lain, yaitu siswa kutu buku itu. Ya. Sebuah tangan milik seorang namja yang sedang dengan santai melenggang pergi dari tempat kejadian perkara. Namja itu berjalan dengan wajah damai seakan ia tidak ikut serta dalam kasus ini bersama teman-teman segrup-nya.

.

(Mari kita kembali kepada sudut pandang Sungmin)

.

Kepalaku berdenyut sangat kencang. Pusing dan berkunang-kunang. Aku mendengar suara berisik yang berdengung keras di telingaku. Selanjutnya aku tidak tahu apa yang terjadi, karena aku hanya menemui kegelapan.

.

\(^w^)/~ YuyaLoveSungmin ~\(^0^)9

.

Aku membuka mataku sedikit demi sedikit. Sebuah sinar menelusup masuk ke dalam retina mataku, membuatku sedikit tidak bisa melihat apa yang ada di hadapanku. Aku berusaha bangun dari tidurku. Kepalaku masih terasanya nyeri dan pusing. Aku menyenderkan badanku ke dinding. Ah, sebenarnya apa yang terjadi?

"Kamu sudah sadar?", tanya seorang namja dengan baju Snelli-nya yang putih bersih, duduk di kursi dekat ranjangku ini.

Aku mengangguk lemah. "Saya dimana?", tanyaku sambil memegang pelipisku yang sakit. Aku mengedarkan pandanganku ke setiap sudut ruangan ini. Bau obat-obatan menyeruak ke dalam indera penciumanku. Aku berusaha memfokuskan tenagaku, membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhku.

GREEEEP!

"Hei, apa yang kamu lakukan? Jangan bangun dulu!", ujar orang itu dengan nada memerintah. Ia memeluk tubuhku hingga aku kembali menyender ke dinding. Aku menghirup aroma tubuhnya yang tercium sangat manly. Sensasi geli merasuki tengkukku karena hembusan napasnya di atas bahuku. "Kamu masih terlalu lemah, Kim Sungmin. Aku menyukaimu", lirihnya di telingaku. Aku merasakan sesuatu yang basah mengenai tengkukku.

"Apa-apaan kau? Pervert!", marahku saat ia mulai menjilat tengkukku secara seduktif. Aku mendorong tubuhnya agar dapat menjauh dariku.

Ia memberikan tatapan yang sangat menggoda, seakan ingin menelanjangiku hidup-hidup. Aku berusaha turun dari ranjang ini, namun ia tetap menahanku. Tenaganya lebih besar dariku hingga aku sama sekali tidak bisa berkutik darinya.

"Diamlah. Saat ini kamu berada di UKS. Namaku Kim Jungsi, dokter di sini", jelasnya sambil membuka kancing seragamku. Aku menahan tangannya dengan rasa ketakutan. Apa yang akan dia lakukan padaku? "Tenang saja. Aku hanya akan memeriksamu. Ya sudahlah, kamu buka saja seragammu sendiri", katanya dengan nada kecewa.

Melihat mimik wajahnya tersakiti seperti itu, aku jadi tidak tega. Dia tetap orang yang lebih tua dariku. Aku membuka kancing baju sedada. Ia mengambil stetoskopnya, lalu mendengarkan denyut jantung dan aliran pernapasanku. Tangannya mengelus dadaku. Wajahnya kembali mesum. Aku segera menutup kancing bajuku. Ia menyeringai, membuat bulu kudukku berdiri. Selanjutnya mengukur tekanan darahku dan merapikan perban yang ternyata menghiasi kepalaku. Oh iya, tadi aku kan jatuh di dekat kantin, lalu terbentur sesuatu. Aissh! Kenapa bisa lupa? Untung saja aku tidak amnesia.

"Bagus. Tidak ada yang aneh dengan kondisimu. Hanya sedikit memar dan rasa pusing yang akan melandamu cukup lama", jelas Dokter Kim Jungsi, menyiapkan beberapa obat-obatan untukku. "Minumlah, lalu tidur. Setelah itu kamu baru boleh kembali ke kamarmu di asrama", ujarnya sekali lagi, memberikan obat yang harus aku santap. Aku mengangguk pelan, meminum obatnya, lalu merebahkan diriku kembali. Aku berharap pusing ini sedikit berkurang.

"HUAAHHAHAHAHAHA… BABBO! APA ENAKNYA BERMAIN DENGAN SPIDOL? HUAHAHAHAHAHAHA… Authornya Babbo juga niy!"

Aku sontak terbangun mendengar suara seseorang yang menggelegar di setiap sisi ruang UKS yang luas ini. Aku berusaha bangun, karena nyeri di kepalaku memang sudah berkurang. Aku mengambil bungkusan obat yang tadi telah disiapkan oleh dokter Jungsi, melangkah menuju asal suara. Aku melihat Dokter Jungsi sedang tertawa terbahak-bahak di atas kursi dokter besarnya yang nyaman. Ia tidak menyadari kehadiranku di ruang pribadinya itu. Dokter mesum itu masih sibuk membanting-banting komiknya di atas meja kerjanya. Entah ia sedang membaca apa. Aku tidak peduli. Yang aku inginkan adalah keluar dari klinik mesum ini.

"Annyeong, dokter!", panggilku dengan suara lembut, takut mengusik kesenangannya. Tidak ada jawaban. Toh suaraku pasti terendam oleh teriakan hebohnya itu.

Aku menggebrak mejanya, benar-benar sudah tidak tahan melihat kelakuannya. Dokter Jungsi kaget setengah mati, hampir saja jatuh dari singgasananya. Ia membanting komiknya ke atas meja, merapikan duduknya. Aku melihat cover komik yang baru saja dibacanya. Dua orang namja sedang berpelukan dengan mesra. Judul komik itu adalah Marker Was Not A Pleasant. Sepertinya itu komik YAOI, sama seperti komik-komik milik Sungjin di kamar.

"Aku pergi dulu, dokter. Kamsahamnida atas semuanya", ujarku sambil membungkukkan badanku dengan hormat.

"Ne, cheonmanayo", jawabnya sambil berdiri dari duduknya. Wibawa sebagai dokter mesum kembali melekat pada wajahnya. Ia mengantarku hingga pintu depan klinik.

"Hati-hatilah, Minnie. Kamu nggak akan hidup tenang di sini. Selamat mencari kebenaran", ucap dokter itu dengan pelan, namun masih bisa kucerna baik-baik setiap katanya.

BRAAAAAK! Pintu klinik tertutup dengan rapat. Aku memandang suasana luar klinik. Terpampang jelas bangunan-bangunan megah dengan taman-taman indah dan lorong-lorong yang menyertainya. Aku terbengong melihat ke kanan dan kiriku. Aku harus kemana? Bodohnya! Aku tidak tahu jalan kembali ke asrama, tadi aku tidak memperhatikan penjelasan Shin Jin Ji.

"Ya! Dokter Jungsi, aku tidak tahu arah asrama!", teriakku di depan pintu. Aku menggedor pintu dengan keras, takut si dokter sudah sibuk dengan ruang kerjanya yang jauh di dalam klinik.

Sebuah kertas keluar dari balik celah bawah pintu klinik. Aku segera mengambil kertas itu sebelum hilang terbawa angin. Sebuah denah dengan tulisan yang sulit terbaca. Huaaa… Kok ke asrama aja sejauh itu? Atau gambarnya yang aneh, jadi tidak terbaca jelas. Sudahlah, lebih baik ikuti saja daripada tersesat lebih parah lagi.

BRAAAK!

Aku berjalan gontai, menapaki tiga buah anak tangga ke atas ranjangku. Aku menjatuhkan tubuhku di atas ranjang. Lelah sekali!

"Mwo? What's wrong?", tanya Sungjin yang sekarang mengalihkan dirinya dari komik favoritnya.

Ia melangkahkan kakinya ke atas, meninggalkan ranjangnya di bawah. Tatapan matanya aneh melihat perban di kepalaku. Ia memegang pelipisku yang terluka dengan kasar. Aku meringis. Sungjin membulatkan matanya, lalu ia tertawa terbahak-bahak. Hei, apa yang lucu?

"Dasar Babbo!", ledeknya sambil menempeleng kepalaku. Tidak sopan! "Hari pertama kamu sudah membuat gempaaaar seluruh sekolah. Hahahaha… Kamu eksis banget sekarang!", tawanya sambil memegangi perutnya.

Aku mengerucutkan bibirku. Aku pikir dia merasa simpati padaku, ternyata aku salah besar. Dasar namja menyebalkan. Park Sungjin, Aku akan membalasmu! Aku meninggalkan Sungjin yang masih asyik menertawai aku.

"Heh, Sungjin! Apakah kamu tahu tentang sesuatu di sekolah ini?", tanyaku serius. Aku sedang duduk di meja belajarku.

"Tidak sopan! Panggil aku hyung!", pintanya dengan nada bossy. Aku memandangnya malas. Memang kurang ajar namja satu ini. Menyebalkan!

"Ah, sudahlah. Itu tidak penting", jawabku malas. Aku membuka beberapa buku, mencoba untuk belajar.

"Dasar namja aneh!", katanya sebal. Ia turun dari singgasanaku, kembali berkutat dengan komik YAOI-nya.

Kalau dipikir-pikir tadi aku jatuh ke selokan, tapi kok bajuku nggak bau atau pun kotor. Jangan-jangan! Aku sudah membayangkan hal-hal yadong yang dilakukan oleh dokter mesum itu. Oh tidak! Tidak! Tidak! Aku pasti masih perjaka. Toh bagian belakang aman. Aku memegang bokongku dan tidak merasakan nyeri apapun. Syukurlah! Yang pasti besok aku harus mencari tahu tentang sekolah ini. Fight oh!

.

\(^w^)/~ YuyaLoveSungmin ~\(^0^)9

.

Aku memasuki kelas yang akan menjadi saksi hidupku selanjutnya. Semua siswa di kelas ini adalah namja. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang asyik membaca komik, berbincang, menulis sesuatu yang tidak jelas, tidur, bahkan ada yang asyik 'mojok'. Sepertinya aku harus bisa beradaptasi dengan semua tingkah mereka yang sedikit berbeda dengan sekolahku yang dulu. Aku mencari meja yang sekiranya kosong, namun kelihatannya terisi semua. Setelah mencari sekeliling kelas, aku menemukan meja yang kosong di pojok belakang samping jendela. Bagus, aku suka posisi seperti ini.

"Annyeong", sapa seorang namja dengan kacamata besar dan seragam yang dikancing hingga atas kerah. Aku yakin dia salah satu kutu buku karena ia membawa buku yang cukup besar.

Aku tersenyum. "Ne, annyeong", sapaku ramah.

"Dyn imnida", ujarnya memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangannya setelah membetulkan letak kacamatanya yang miring. Ia meletakkan bukunya di atas mejaku. "Kamu anak baru ya di sini? Kenapa pindah saat kelas tiga seperti ini? Kan udah mau lulus", tanyanya panjang lebar.

"Hahahaha… Iya, ya! Kenapa ya?", tanyaku pada diri sendiri. Sebenarnya aku malas menceritakan semuanya pada namja ini. Belum tentu ia dapat dipercaya penuh.

Seorang seonsaengnim masuk ke dalam kelas. Ia memulai pelajarannya hari ini. Semangat, Sungmin! Kamu hanya perlu menyelesaikan satu tahun di sekolah ini dengan baik. Tanpa harus menjalani hubungan jauh dengan para siswa atau pun orang-orang di sini, lalu aku pergi dari sekolah membosankan ini. Namja semua! Bisa-bisa aku gila.

"Sst… Sungmin", panggil seseorang saat aku sibuk mencatat tulisan seonsaengnim di papan tulis.

Aku mencari asal suara itu, melihat ke kanan dan kiriku. Seorang namja sedang menunduk sambil menaruh telapak tangannya di sisi pipinya, berharap seonsaengnim tidak melihat ia yang berbicara. Aku mengerutkan dahi. Ada apa dia memanggilku di saat pelajaran begini?

Bukan jawaban yang kudapat, ia justru menyeringai ke arahku. Huh! Dasar namja aneh!

TUUUK! Sebuah gumpalan kertas mendarat di atas mejaku. Aku tahu pasti ini dari namja itu. Tanpa berpikir lagi, aku membuka kertas itu. Sebuah kertas berisi kartun yang agak mengejek. Kartun seorang namja sedang memegang buku dan marker dengan beberapa coret-coretan aneh. Jelas ini adalah kartun yang melecehkan seseorang, tapi siapa ya dan kenapa ia memberikannya padaku?

"Ehem… Apa yang kau lakukan Kim Sungmin?", tanya Seonsaengnim yang sudah berdiri di samping mejaku dengan wajah tegang.

"Aku hanya sedang melihat ini, Pak", jawabku jujur. Aku memberikan kertas itu kepada seonsaengnim.

Wajah seonsaengnim semakin murka setelah melihat kertas itu. "Apa maksudnya ini, Kim?", tanya seonsaengnim meremas kertas itu menjadi kecil.

"Aku tidak mengerti. Tadi Dyn melemparkan kertas itu kepadaku seonsaengnim", jujurku. Seonsaengnim segera melemparkan death glare kepada Dyn yang duduk di seberangku. Dyn yang ditatap seperti itu hanya memberikan tampang innocent seakan tidak mengerti pada apa yang aku ucapkan.

"Jangan memberikan alasan tidak penting. Sekarang kamu keluar kelas. Berdiri di koridor dengan satu kaki terangkat dan tangan di kedua telingamu. Baru hari pertama saja kamu sudah membuat ulah, entah selanjutnya bagaimana. Ayo cepat!", perintah seonsaengnim memberi hukuman. Ini pertama kalinya seumur hidupku diberi hukuman tak terhormat oleh seorang guru.

Saat aku berjalan melewati meja Dyn, ia menjulurkan lidahnya dengan seringai di pipinya. Sial! Aku dikerjai. Awas saja kau, Dyn!

Bagus! Aku harus dihukum selama pelajaran hingga jam pulang sekolah berdentang. Seonsaengnim juga tetap memintaku mencatat pelajaran dari luar kelas, jika catatannya kurang sesuai harapannya, aku akan ditambah hukumannya. Bahkan selama istirahat, aku diharuskan tetap berdiri di koridor, menjadi tontonan semua siswa yang lewat. Matilah aku! Beberapa hari di sini sudah mendapat siksaan seperti ini. Bisakah aku melewati satu tahun dengan tenang?

Untung saja ada Ming Lee, Ketua Kedisplinan, yang masih mempunyai hati. Ia juga teman sekelasku. Seonsaengnim memintanya untuk menjagaku agar tidak mangkir dari hukuman ini. Walau statusnya sebagai Ketua Kedisiplinan, ia masih mau diam-diam memberikan aku minuman dan catatannya dari pelajaran sebelumnya. Ming Lee sangat membantuku. Syukurlah terima kasih Tuhan.

"Hei, apa yang kau lakukan disini namja baru?", tanya seseorang saat aku secara diam-diam mulai mencatat buku Ming Lee karena aku tertinggal mencatat materi sebelumnya.

Bagai tertangkap basah mencuri, aku gugup dan salah tingkah saat Kim Jungsi, dokter sekolah, menyapaku. Aku memasang wajah kesalku jika melihat tampang mesum dan aura yadong dari tubuhnya itu. "Aku sedang dihukum", jawabku pelan.

"APA? DIHUKUM? HAHAHAHAHA", teriak dokter Jungsi dengan suaranya yang menggelegar di seluruh koridor. Ia tertawa terbahak-bahak sampai aku bisa melihatnya memegang perut karena kesakitan. Aku sudah bosan dengan kelakuan aneh namja di depanku ini. Daripada sibuk menanggapinya, lebih baik aku fokus mengerjakan hukuman.

"YA! Apa-apaan kau, Jungsi! Berisik sekali", omel Seonsaengnim yang keluar dari kelas untuk menegur dokter mesum itu.

Dokter itu hanya tersenyum cengengesan. Ia menggaruk tengkuknya yang kurasa tidak gatal. "Hahaha… Mianhae, ahjussi. Lihatlah apa yang kau lakukan, namja ini begitu pucat. Lebih baik dia dibawa ke klinik saja. Aku takut dia pingsan. Kemarin kan dia baru saja kecelakaan"

"Mwo?", kaget sang guru. Aku tidak tahu nama guru ini karena sedaritadi gurunya telah berganti beberapa kali dan ini hari pertamaku sekolah. "Ya. Ya. Kau bawa saja dia. Biar nanti aku jelaskan pada Young bahwa siswanya tidak enak badan dan memintanya mencabut semua hukuman", kata seonsaengnim dengan sangat lembut. Jelas dari mimik wajahnya bahwa ia khawatir padaku.

Kim Jungsi menarik lenganku, memaksa aku berdiri. Aku hanya terdiam menerima perlakuannya. Ia menyeretku pergi dari pandangan seonsaengnim yang sudah memasuki kelas. "Ayo cepat ikut", ujar dokter Jungsi dengan seringainya. Aku terpaksa mengikuti langkah kakinya.

Sesampainya di klinik yang letaknya sangat jauh dari kelas itu, aku melihat seorang namja memberikan seringai khas miliknya. Namja menyebalkan yang menyebabkan aku terhukum seperti ini. Selain namja itu, masih ada Ming Lee dan seorang namja lagi. Apa sih sebenarnya yang mereka lakukan di sini? Ramai sekali.

"Hai, Min-ah!", sapa namja menyebalkan bernama Dyn itu. Aku hanya tersenyum kecil. Itu pun terpaksa. Ia mendekat padaku, lalu membungkukkan badannya.

"Mianhae", ujarnya meminta maaf. Terpancar rasa bersalah dalam matanya. Aku tersenyum sambil mengangguk menandakan bahwa aku sudah memaafkannya.

Aku mengedarkan mataku kepada empat orang namja yang asyik memelototiku seperti serigala itu. Jangan bilang aku terjebak dalam situasi buruk lagi. Oh God! Belum berakhirkah penderitaanku ini?

"Selamat datang di Lunar Under Class Klub, singkatnya LUCK. Keberuntungan. Jadi kamu termasuk orang yang beruntung karena sudah masuk ke dalam Klub ini", jelas dokter Kim Jungsi dengan wajah sumringahnya. "Mari perkenalkan diri, guys!", lanjutnya dengan heboh. "AKU! AKU! Aku dahulu", usulnya seakan ada yang akan menginterupsi perkataannya.

"Annyeong! Watashi wa Kim Jungsi imnida. Dozo Bangapta!", kata dokter Jungsi dengan wajah sok imutnya dan bahasanya yang berantakan. Aku benar kan kalau aku menyatakan bahwa otak dokter ini rusak.

PLAAAK! Sebuah jitakan berhasil mendarat di atas jidat dokter mesum itu.

"Mian, Min-ah! Jungsi memang tidak beres", cibir Dyn yang langsung mendapat death glare dari dokter Jungsi. Tanpa mempedulikan death glare yang sama sekali tidak menakutkan itu, Dyn melanjutkan sesi perkenalan. "Kamu pasti sudah tahu kalau aku ini Dyn. Lengkapnya Cho Dyn. Aku bersaudara dengan Ming Lee. Jadi kami adalah duo saudara Cho"

"Bangapta", sapa Ming Lee saat Dyn menyebutkan namanya. "Yang di sebelahku ini adalah Park Hyun Young, anggota termuda di klub ini", jelas Ming Lee sambil menunjuk namja terakhir yang tadi belum kukenal itu.

Namja itu berdiri, mendekat kepadaku. Ia merapatkan tubuhnya padaku, menghembuskan napasnya di sela tengkuk dan telingaku. "Annyeong. Kamu akan menjadi mainan termanis yang aku miliki", bisiknya di telingaku dengan sedikit desahan yang membuatku merinding. Ia mendorong tubuhku hingga terjebak olehnya dan dinding. SLERRP! Ia menjilat tengkukku, lalu tangannya mulai bergerilya di sekitar tubuhku. Ah apa-apaan dia?

GREEP! Tubuh Hyun Young menjauh dariku. Seseorang telah menyelamatkanku dari terkaman namja manis yang berpikiran yadong itu. Dadaku naik-turun karena masih berusaha mengatur napas setelah peristiwa mengagetkan itu. Aku masuk ke dalam mulut serigala kali ini. Huaaa… Mereka sungguh mengerikan.

Ming Lee, namja yang telah menyelamatkan aku dari Hyun Young, telah menarik namja itu menjauh dari ruangan ini. Entah hukuman apa yang akan diberikan Ming Lee kepada namja itu. Aku tidak peduli, yang penting aku selamat. Dokter Jungsi menepuk bahuku. Ia menyeringai, sedangkan Dyn hanya menatap pasrah kepada bayangan dua namja tadi.

"Sabar ya, Sungmin. Kamu akan tahu bagaimana kelakuan para siswa di sini. Hyun Young hanya memiliki sedikit masalah dengan Seme-nya, Ming Lee. Dia tidak akan benar-benar menyerangmu, jika dia tidak benar-benar haus. Hahahaha", jelas dokter Jungsi yang diakhiri dengan gelak tawa mengerikannya. Dokter Jungsi kembali melangkah ke arah singgasananya.

Dyn menggeleng pelan. "Ya! Ming Lee jangan bermain kasar pada Hyun Young!", teriak Dyn kepada sepupunya yang sudah menghilang di balik pintu sebuah ruang rawat di klinik itu. "Hei, Sungmin-ah! Berhati-hatilah di sini. Jangan mudah percaya kepada orang lain, kecuali kami", lanjutnya sambil menyeringai.

Sepertinya semua orang di sekolah ini senang sekali menyeringai. Keputusan untuk pindah ke sekolah ini adalah keputusan yang salah. Kalau bukan amanat Haraboji untuk memecahkan misteri hidupku, aku tidak akan mau masuk ke sekolah aneh ini. Tunggu dulu! Tadi dokter Jungsi bilang soal Seme, berarti ada Uke. Itu artinya… Sekolah ini berisi namja YAOI? TIDAAAAK!

.

\(^w^)/~ YuyaLoveSungmin ~\(^0^)9

.

Dokter Jungsi sedang asyik membaca komik YAOI-nya. Dyn sedang membaca buku 'Cara Ampuh Dan Paling Mengerikan Untuk Menaklukkan Seseorang'. Aku merinding membaca judul bukunya dan tatapan penuh ambisi dari wajah Dyn. Sedangkan Ming Lee dan Hyun Young asyik dengan kemesraan mereka berdua. Hanya aku sendiri yang terasingkan oleh mereka. Haduuuh!

"Ngomong-ngomong, kenapa kalian membentuk Klub di sekolah ini? Apakah ini Klub ilegal?", interupsiku kepada empat orang namja yang sedang asyik pada dunianya itu.

Seketika dalam hitungan detik yang bersamaan, ke empat pasang mata itu mengalihkan dunianya kepadaku. Mereka memberikan tatapan masing-masing yang tidak dapat aku artikan sendiri. Tatapan yang menyatakan bahwa aku menanyakan hal yang salah.

"Ya, klub ini ilegal. Asal kamu tahu kami tidak berperan sebagai protagonis semua, tapi beberapa dari kami adalah antagonis yang sengaja akan menghancurkan kehidupanmu, Sungmin-ssi", jelas Hyun Young dengan nada suaranya yang dalam dan penuh dengan ancaman.

"Yup! Kalau kamu penasaran, kamu bisa bertanya kepada Yuya-ssi sang pencipta dunia kami ini. Ia yang mengatur segala yang ada di sini. Jujur kami juga heran dan muak kenapa kami harus dipersatukan seperti ini, apalagi membantu namja aneh sepertimu. Itu tidak masuk akal", jelas Dyn. Ia menaruh bukunya di atas meja, sekaligus meletakkan kacamatanya dan mengurut tulang hidungnya. Sepertinya ia sudah terlalu lelah membaca.

"Setuju! Seorang bangsawan Cho harus turun tangan membantu dirimu. Cih, siapa kamu hingga kami harus mau merelakan waktu untukmu? Jangan jadi manusia congkak, Sungmin-ssi! Kami hanya terpaksa. Dengar itu", jelas Ming Lee kali ini. Suaranya ketus membuat aku menelan ludah secara paksa.

"Hei! Hei! Hei! Jangan terlalu serius seperti itu bung! Yuya-ssi akan marah jika mengetahui kelakuan kita. Kalian tahu kan kalau dia terlalu sayang kepada kita, sehingga sengaja mempersatukan kita yang sudah dianggap keluarganya dalam satu klub seperti ini. Lagipula hati-hati dengan perkataan kalian, jika Yuya-ssi mendengarnya tamat riwayat kita", ujar dokter Jungsi menengahi kami. Tatapan dan aura mengerikan dari ketiga namja itu berubah menjadi aura yang sedikit menenangkan. Tidak seperti tadi, aku merasa sangat terancam karena sikap mereka.

"Jadi sebenarnya nyawaku terancam disini?", tanyaku dengan suara bergetar.

"Siapa yang bilang seperti itu? Adakah dari mereka yang menakut-nakutimu, Kim Sungmin?", tanya seseorang yang sudah duduk di sampingku.

Dirinya sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa bersamaku. Tatapannya tajam mendikte setiap mata yang ada di dalam ruangan ini kecuali mataku. Aku tidak tahu sejak kapan yeoja ini berada di sampingku, mungkin aku tadi terlalu sibuk dengan lamunanku hingga tidak menyadari keberadaannya.

"Tolong jawab aku, Sungmin-ssi. Siapa yang berani menakutimu?", tanya yeoja itu lagi sambil menatap mataku lembut.

Bisa kurasakan aura menyeramkan di ruangan ini. Aura ketakutan kepada sosok yang berada di sebelahku ini. Siapakah dia sebenarnya? Aku menelan ludahku, tak dapat menjawab pertanyaan yeoja itu. Aku hanya takut mengatakan hal yang akan menambah buruk keadaanku.

"Jangan takut, Sungmin. Namaku Lee Yeomin Ha. Bangapseumnida", ujarnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

"Kim Sungmin imnida", jawabku. Aku tersenyum saat merasakan kelembutan pada sosok yeoja ini.

Ia berdiri di tengah kami berlima. Semua mata menatap sosok itu dengan teliti. Aku yakin yeoja ini adalah orang penting di sini.

"Dengar ya, saengdeul semua. Kita tidak punya banyak waktu. Kalian sudah tahu tugas masing-masing dan jangan sampai karena kecerobohan dan keegoisan kalian, rencana kita gagal. Aku tidak menerima penolakan apalagi kegagalan. Kalian paham kan?", ucap Yeomin Ha dengan tegas.

"Ne, Arraso!", jawab mereka berempat dengan lantang dan penuh kepercayadirian.

"Selamat datang di klub ini, Sungmin-ssi! Selamat memecahkan misteri di sini. Kami berlima akan sedia membantumu", ucapnya kepadaku dengan senyum dan raut wajah berbeda dari yang sebelumnya.

"Berenam dong, Noona!", interupsi dokter Jungsi dengan wajah manyunnya.

"Iya deh berenam! Kamu memang tidak bisa melupakan kekasihmu yang pelupa itu. Entah dia ada dimana dan aku tidak peduli itu", ujar Yeomin Ha ketus.

"Oh ya, Sungmin-ah. Jangan memanggil dia dokter Jungsi, itu terlalu menggelikan di telinga kami. Panggil saja Jungsi. Toh usianya tidak terlalu jauh dari kita, hanya nampak seperti kakek tua renta saja. Hahahahaha", cibir Dyn yang langsung dikejar oleh dokter Jungsi karena telah menghinanya.

Suasana di ruangan ini telah mencair. Aku sempat mengobrol sebentar dengan Yeomin Ha noona yang ternyata sangat pengertian dan lembut itu. Hyun Young dan Ming Lee beberapa kali mendapat teguran dari noona, terlihat kalau mereka terlalu dimanja dan diperhatikan. Aku merindukan Haraboji yang dulu memanjakan aku seperti itu. Haraboji yang selalu menanyakan aku sudah makan atau belum, dan selalu mengingatkanku untuk menjaga kesehatan.

BRAAAK! Suara pintu terbanting dari arah luar klinik. Dyn yang masih sibuk kejar-kejaran dengan Jungsi, akhirnya duduk dengan tertib. Hyun Young dan Ming Lee terdiam di tempatnya masing-masing. Yeomin Ha noona tersenyum tipis. Sedangkan Jungsi bergetar hebat dalam diamnya.

"Ya! Kim Jungsi! Aku dengar kamu selingkuh dengan seorang namja, siswa baru di sekolah. Benarkah itu?", bentak seorang yeoja manis saat memasuki ruangan ini. Yeoja itu langsung memarahi Jungsi yang masih membatu di tempatnya.

"A… Ani… Aniyo, chagiya! Itu… ti-tidak benar sama sekali", jawab Jungsi terbata-bata. Terlihat sekali dari wajahnya bahwa ia cemas dan gugup. Oh inikah kekasih Jungsi yang tadi sempat dibicarakan tadi? Seorang yeoja mungil yang sangat manis dan fashionable ini mau dengan seorang Kim Jungsi, dokter mesum sekolah kami? Hah, dunia memang aneh!

DUUUG! Dyn yang duduk disampingku, menyikut perutku. "Ssst… Jangan berpikiran seperti itu. Mereka saling mencintai dan Jungsi sangat sayang kepadanya", bisik Dyn menjelaskan.

Aku terbelalak mendengar perkataan Dyn. Aku memandang pertengkaran kecil sepasang kekasih yang sepertinya lupa atau tidak sadar bahwa ada kami di sini. 'Aku pikir Jungsi sama-sama penyuka sesama seperti yang lain. Ternyata dia normal. Aku tidak percaya'. Batinku masih mempertanyakan.

"Kim Jungsi memang namja normal, walau ia sangat menyukai komik atau film YAOI, bahkan ia sendiri menulis cerita-cerita NC YAOI. Contoh bukunya Just A Piano, Banana dan masih banyak lagi. Hanya seorang Kim Hyo Chan yang dapat menaklukkan hatinya. Percaya deh", jelas Dyn kembali seakan ia mendengar kegundahan hatiku.

Aku hanya membulatkan bibirku seolah mengerti atas semua penjelasannya. Sesungguhnya aku tidak terlalu peduli dengan hubungan mereka. Asal aku tidak ikut menjadi seorang YAOI. Oh, itu tidak mungkin! Aku harap jangan sampai aku mati. Euw, menggelikan!

"Ehem! Kim Hyo Chan! Sudah cukupkah bualanmu itu? Kau sangat mengganggu, tahu? Berisik! Diam kau di sana!", ucap Yeomin Ha noona kepada kekasih Jungsi itu. Jelas terlihat rasa ketidaksukaannya kepada yeoja satu itu. Hyo Chan terdiam, duduk ke tempat yang ditunjuk. "Kau juga Jungsi. Kau begitu mencintai yeoja-mu itu hingga selalu mengacuhkan noona. Hah! Kalian menyebalkan"

"Yah. Noona jangan ngambek dong. Senang sekali ngambek sih. Lagian kan noona sudah merestui hubungan mereka. Sekarang jangan cemburu seperti itu", bela Ming Lee.

"Tau ah", jawab Yeomin Ha noona ketus. Ia memalingkan wajahnya, mengerucutkan bibirnya sehingga pipinya terlihat semakin chubby. Benar-benar menggemaskan.

"Ah, noona memang tukang ngambek. Malas!", ketus Hyun Young.

"Sudah diamkan saja noona ini. Nanti juga baikan sendiri. Dia nggak akan betah ngambek sama kita kok", ujar Dyn menengahi. "Oh iya, Min-ah! Apa yang sejak kemarin ingin kau tanyakan? Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu kan sekarang", tebak Dyn.

Sontak semua mata tertuju padaku. Yeomin noona ikut memberikan perhatiannya kepadaku. Aku menelan ludahku kecut. "Apa kalian tahu tentang simbol di depan sebuah pintu? Aku tidak tahu ruangan apa itu dan dimana karena saat itu aku sedang tersesat"

Mereka saling pandang. "Simbol apa maksudmu? Setahu kami tidak ada simbol apapun di sekolah ini", tanya Ming Lee yang diikuti anggukan setuju yang lainnya.

"Sebuah simbol dengan sayap hitam rusak di sisinya. Ah aku bingung menjelaskannya"

Yeomin noona memberikan secarik kertas dan pensil kepadaku. "Bisa kau gambarkan untuk kami", usulnya.

"Ya! Noona pikir semua orang bisa menggambar seperti noona", bantah Jungsi sebelum aku mengatakan yang sejujurnya.

"Ya! Bisa saja kan. Aku hanya memberi usul. Jangan membuatku kesal, Kim Jungsi", bela Yeomin noona karena tidak suka dituduh yang tidak-tidak.

"Noona dan Jungsi jangan berkelahi seperti itu. Lebih baik kita tanya kepada Sungmin-ssi", ujar Hyun Young menengahi. Aku menggelengkan kepala. "Hmm… Apa kamu masih ingat letak ruangan itu?". Aku menggeleng kembali.

"Pupus sudah. Apa kau tidak memiliki petunjuk apa pun?", tanya Hyo chan yang akhirnya angkat bicara.

"Ada", jawabku singkat.

Semua orang dalam ruangan ini yang tadinya terlihat lesu, kini matanya memancarkan sebuah harapan yang besar. Mereka tersenyum senang, menunggu jawabanku selanjutnya. Ya. Mereka menanti pemecahan misteri selanjutnya dalam hidupku ini.

.

\(^w^)/~ TBC ~\(^0^)9

.


Pertanyaannya: Dimanakah Sungmin mendapatkan jawaban atas simbol itu?

A. Perpustakaan sekolah

B. Rumah Sungmin

Ayo tebak… Apakah LUCK itu? Misi mereka apa? Sebenarnya mereka itu siapa?


PERATURANNYA:

1. Yuya kasih waktu 1 minggu untuk Polling jawaban yang akan dipilih.

2. Minimal review yg diperlukan adalah 20 readers. Kurang dari itu, aku nggak akan melanjutkan, karena disini membernya banyak kan. Aku anggap nggak ada yang berminat.

3. Format Review:

Review tentang cerita (Boleh Kritik atau Saran)

Jawaban (HARUS PILIH SALAH SATU JAWABAN, NGGAK ADA AMBIGU ATAU BINGUNG)

Tebakan adegan selanjutnya dari readers

Kalau nggak menggunakan Format ini (Nggak milih jawaban atau pun bingung dan nggak kasih comment), maka dianggap tidak memberikan review. So I don't count it.

Sekian dari Yuya. Jangan sampai salah pilih jawaban ya! Dimohon kerjasama semua readers. AKTIF ya!

Gomapseumnida!

TERBIT YANG SELANJUTNYA TANGGAL 13 JANUARI 2011.