Naruto © Masashi Kishimoto

.

TO BE YOUR STAR

.

Attention!

This is Gaa x Ino pairing..

Ino sentris, Gajenism, alur cerita gampang ditebak

Don't like, just don't read! Simple as that….

.

******************************** Chapter 2 : I See You **************************

.

Flashback, setahun yang lalu –

Ini ketika Gaara-sama diserang oleh Akatsuki. Waktu itu, aku baru saja dilantik sebagai jounin. Di malam yang senyap itu, tiba-tiba saja keadaan desa Suna langsung riuh ramai ketika mendengar ada ledakan di langit. Aku yang waspada segera berlari ke balkon. Yang kulihat adalah, Gaara-sama sedang bertarung seorang diri di langit, dengan seseorang yang…..sepertinya adalah anggota Akatsuki! Aku harus segera siap siaga!

Serentak seluruh pasukan dikerahkan, tingkat waspada ditingkatkan, dan warga desa segera dievakuasi. Tanda bahaya berbunyi dimana-mana. Aku dan pasukanku hanya bisa melihat mereka bertarung. Tidak! Tidak bisa! Aku tak bisa hanya diam saja!

"Apa yang kalian lakukan! Cepat siaga di posisi kalian!" Perintahku, pada pasukanku.

"Ah, baik!" Jawab pasukanku, lalu dengan sigap mereka mempersiapkan busur.

"TEMBAAAK!" Perintah Kapten Baki dari kejauhan. Serentak busur-busur pun diluncurkan. Tak puas dengan itu, aku pun langsung bergerak.

"Lindungi aku!" teriakku pada pasukanku. Tiga orang pasukanku segera mengawalku untuk ke tempat yang lebih tinggi. Lalu aku perintahkan pasukanku menyudutkan Akatsuki yang mengendarai burung itu. Ketika tiba timing yang tepat, aku pun segera memulai,

"Shintenshin no Jutsu!"

Dan berhasil! Walaupun hanya mengenai pengendaranya dan hanya berlangsung beberapa detik, tapi itu cukup memberikan waktu untuk Gaara-sama untuk memutuskan tangan si Akatsuki itu dengan Sabaku Kyuu-nya.

"Kau berhasil Kazekage-sama!" Teriak para penduduk. Burung si Akatsuki beserta penunggangnya terbang oleng. Tapi ia tidak kalah. Lalu ia mengeluarkan tanah liatnya, dan mengubahnya menjadi bom yang sangat besar. Dan….ia menjatuhkannya ke desa! Gawat! Kekuatanku masih….Uuuugh, sial! Aku menggigit bibir bawahku. Tak ada yang bisa kulakukan selain ini…..

"DO YOUR BEST, KAZEKAGE-SAMA!" Aku berteriak sekeras mungkin sehingga Gaara-sama sempat melirikku sebentar, lalu terfokus kembali pada bom itu. Aku hanya memejamkan mata. Pasrah…. Aku percaya pada Gaara-sama sepenuhnya.

.

DUAAAAAAAARRR!

.

Akhirnya ledakan besar pun terjadi. Semua berlindung. Dan aku mulai membuka mataku. Terlihat pelindung pasir yang snagat besar, melindungi desa ini dari ledakan besar tadi. Mataku terbelalak, belum pernah melihat pelindung pasir sebesar ini. Namun, Akatsuki itu berhasil menjebak Gaara-sama. Ia menyebarkan bom tanah liat berukuran super mini ke dalam pasir Gaara-sama. Dan….bom pun meledakkan Gaara-sama yang sedang di dalam pelindung absolutnya.

"NOOOOOOOO!" Lalu kulihat tubuh Gaara-sama yang terkulai lemas. Pelindung pasirnya mulai rontok. Denga sisa tenaganya, ia berusaha memindahkan pasir besarnya menjauh dari desa agar tidak mengubur berhasil, namun sekarang sisa tenaganya benar-benar habis. Ia terkulai lemas, lalu meluncur jatuh. Tetapi sebelum menyentuh tanah, ia segera ditangkap oleh Akatsuki yang mengendarai burung tadi. Cepat-cepat aku mengikutinya dan menyuruh pasukanku untuk berjaga di desa mengikuti perintah Kapten Baki. Aku hanya mampu mengejarnya sampai ke gerbang utama. Sesampainya di sana, aku dan pasukan lainnya disambut oleh jebakan musuh. Bom meledak di tebing-tebing batu, menyebabkan bebatuan runtuh dan mengubur pasukan yang berada di bawahnya. Aku tak bisa melewatinya. Hanya Kankurou-dono yang bisa melewatinya. Sial! Apa yang bisa kulakukan?

.

.

Kankurou-dono, kembali ke desa keesokan harinya dalam keadaan luka parah. Tak ada yang bisa mengobati lukanya, bahkan Chiyo-baasama juga sampai kewalahan. Tetapi untunglah, ada shinobi medis dari Konoha yang berhasil mengobatinya. Lalu, aku memutuskan untuk mengejar Gaara-sama, menyusul pasukan shinobi Konoha yang lebih dulu berangkat.

Aku ikut dalam pasukan penyelamatan Gaara-sama, namun syukurlah, setibanya di sana Gaara-sama telah selamat. Nyawanya kembali berkat Chiyo-baasama, yang menggunakan Tensei no Jutsu. Gaara-sama yang saat itu sedang dikerubuti para gadis, berdiri menghadapi Chiyo yang telah wafat.

"Semuanya, berdoa untuk Chiyo," perintahnya. Dan kami pun mengheningkan cipta untuk Chiyo. Kami lalu kembali ke desa. Sesampainya di desa, kami disambut oleh para penduduk desa. Sebelum masuk, Gaara-sama mempersilakan jenazah Chiyo untuk masuk lebih dulu.

Keesokan harinya, aku termenung di atas gedung tinggi yang mempunyai visi yang bagus ke kantor Kazekage. Aku melihat Gaara-sama sedang mengobrol dengan shinobi Konoha. Setelah semuanya pergi, tinggalah Gaara-sama yang masih terdiam di kantornya. Sejak itu, aku terus memandanginya dari kejauhan. Sejak itu pula, aku menganggap Gaara-sama adalah pahlawan yang luar biasa. Aku menyimpan rasa kagumku yang lama kelamaan rasa kagum ini berubah menjadi prasaan lain. Prasaan hangat yang tak pernah kurasakan.

End of Flashback –

.

.

.

Sampai saat ini pun aku masih melihatnya dari kejauhan. Siang dan malam, aku sempatkan untuk sekedar melihatnya, sebentar pun taka pa. Dengan melihatnya saja, itu sudah cukup untuk menumbuhkan semangatku. Aku sadar bahwa jarak kami terlalu jauh, dalam hal apapun. Ia pun selalu dikelilingi para gadis. Namun, seringkali ia tak memperdulikan mereka. Setelah Kapten Baki mengusir mereka, Gaara-sama melanjutkan pekerjaannya. Di kantornya, ia tiba-tiba menyadari kehadiranku. Ia melirik ke arahku tanpa bergerak yang sontak membuatku salah tingkah. Aku hanya membalas tatapannya, mata jade-nya yang indah, seakan menyiratkan sesuatu yang dalam. Karena keadaan semakin canggung, aku pergi dari atas gedung itu, dengan wajah yang sangat memerah.

.

Gaara POV

Hhh…dia datang lagi. That Yamanaka girl. Selalu datang dan mengawasiku. Sebenarnya mau apa dia? Sejak lama, sebenarnya aku sudah tahu kalau dia selalu memandangiku aneh. Setiap kumembalas tatapannya, wajahnya selalu memerah lalu dia pergi. Kubiarkan sajalah, aku tak begitu peduli. Tepatnya…aku tak begitu mengerti.

Sampai akhirnya rasa penasaran terus menyeruak dalam diriku. Diam-diam aku mengamatinya juga. Dan aku mengamati matanya. Dia…. she's same as me. Sendirian. Bingung, dan merindukan kasih sayang dari orang lain. Dia sangat berbeda dengan gadis-gadis yang selalu mengerubutiku. Aku ingat, dialah yang menggunakan Shintenshi no Jutsu sewaktu aku melawan Deidara dari Akatsuki tempo itu. Aku melihat dia….sama denganku.

Hari demi hari pun tetap begitu. Sehingga pada suatu hari, ia sudah lama tak meliahtku dari spot favoritnya. Aku berdiri memandangi jendela, ke arah biasa ia memandangiku. Sampai lama ku di sana, ia tak kunjung datang juga. Ah, kupikir ia sedang menjalankan misi.

Eh, sejak kapan aku jadi memikirkan dia?

Hingga tujuh hari kemudian, akhirnya aku merasakan kehadirannya lagi. Ia berada di tempat biasa, sedang memandangi matahari terbenam. Ia menyadari kehadiranku. Langsung kususul dia.

End of Gaara POV

.

Ino POV

Ahh…dua minggu sudah aku meninggalkan Suna untuk emnjalankan misi. Aku kangen… Sudah lama tidak bertemu Gaara-sama. Ah, siapa sih aku? Tidak mungkin Gaara-sama seperti itu juga padaku! Berhentilah bermimpi, Ino!

Aku menggelengkan kepalaku. Dan baru kusadari bahwa sekarang matahari sedang terbenam. Indah sekali! Apalagi jika dipandang dari sini, spot favoritku dekat kantor Kazekage. Seandainya saja dia bersamaku…. Spontan aku melihat ke arah jendela kantor Kazekage.

Ah, itu dia!

Gaara-sama…tetap berkharisma seperti biasa. Lalu, ada semilir angin membuai kulitku. Aku memejamkan mata, menikmatinya. Saat ku membuka kembali mataku, aku terkejut karena Gaara-sama sudah tak ada di kantornya. Tiba-tiba ada suara laki-laki yang sendu dari belakangku. Suara yang sangat kurindukan.

"Melihat matahari terbenam, eh?" Kata suara laki-laki di belakangku. Aku menoleh ke belakang, dan laki-laki itu adalah….

"Kazekage-sama!" Aku sungguh terkejut. Ia berdiri di dekatku, memandangiku. Apakah ini genjutsu? "Kai!" teriakku. Namun tak ada yang terjadi.

"Ini bukan genjutsu," katanya, ia tetap mengenakan jubah Kazekage dan berdiri dengan tegap.

Aku berdiri menghadapnya, yang beberapa senti lebih tinggi dariku, "Maafkan aku, aku kira…."

"Aku sudah tahu," selanya. Aku terdiam. Ia melanjutkan lagi, "Aku sudah tahu. Kau selalu mengamatiku dari sini. Kau….Yamanaka Ino, kan? Kenapa kau melakukan ini?"

"Umm…err…maafkan aku, Kazekage-sama. Se-seperti yang Anda ketahui, aku selalu sendirian. Jika aku melihat Anda…aku merasa ada yang menemani," jawabku, gemetar malu. Sunyi, hanya terdengar gemerisik angin, "Tetapi kalau ini membuat Anda terganggu aku…"

"Tidak apa-apa," selanya lagi.

Aku terdiam. Jantungku berdetak tak karuan. Llau ia berjalan mendekatiku sehingga jarak kami hanya satu meter. Ia melanjutkan bicara lagi, "Yamanaka-san, terima kasih untuk yang waktu itu."

"Umm. untuk apa?"

Matanya memandang ke bawah, "Waktu dulu, sewaktu aku melawan Akatsuki, kau menggunakan Shintenshin, kan? Serta teriakkanmu…"

Hening lagi. Aku ingat waktu itu, aku berteriak 'Do your best' padanya. "Ah, tapi itu sudah lama sekali, kan, Kazekage-sama?" Aku masih tertunduk tak berani menatap matanya.

"Gaara," katanya, dengan suaranya yang berat dan dalam. Aku mendongak tak percaya. "Gaara Sabaku, itu namaku. Panggil saja aku Gaara," lanjutnya.

"Eh, baik…Ga-Gaara-kun," wajahku langsung bersemu merah, tapi kuusahakan untuk tetap tersenyum padanya. Aku yakin ia belum pernah disenyumi seperti ini.

Aku melanjutkan, "Gaara-kun, sebaiknya kau kembali sebelum semuanya mencarimu."

"Aku tahu," jawabnya. Ia berbalik. "Kau….jangan pernah bosan di sini, eh, Yamanaka-san," lalu ia mengejapkan matanya, dan menghilang dibalik kepulan asap. Tahu-tahu, dia sudah berada di kantornya. Aku melihat sedikit sudut simpul di ujung bibirnya namun sangat tipis. Lalu ia beranjak dari ruangannya. Sekarang matahari telah berganti denga bulan. Memancarkan prasaanku yang sendu dan bahagia.

End of Ino POV

.

Gaara POV

Aku menatapnya sebentar dari kantorku. Bibirku tersenyum sendiri. Aku tak menyangka bahwa mengucapkan 'terima kasih' saja akan sesulit ini.

End of Gaara POV

.

Ino POV

Seja saat itu, kami menjadi sering bertemu. Ia sering menyuruhku untuk membawakan dokumen ke kantornya. Terkadang ia menahanku. Ia menjadi sering bicara padaku, kali ini lebih terbuka. Sedikit demi sedikit, di balik sikapnya yang dingin, aku mulai memahaminya. Aku merasa bahwa jarak di antara kami mulai menipis. Aku benar-benar melihat dia….hangat.

Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan misi. Ketika aku berkemas, aku merasakan kehadiran seseorang di jendelaku.

"Siapa?" Teriakku.

"Ini aku," jawab suara itu. Lalu aku membuka jendela, dan sontak terkejut.

"Ah, Gaara-kun! Kenapa kau ada di sini?" kataku.

Lalu ia melompat masuk ke kamarku, "Tak apa. Aku hanya ingin melihat keadaanmu," jawabnya.

"He?" Aku bingung. Lalu tertawa kecil.

"Ada apa?" tanyanya, dengan nada bingung.

"Hihihi…tak apa. Baru kali ini aku melihatmu begitu khawatir," kataku sambil tersenyum, "Tapi terima kasih."

Aku melihat bola matanya melebar sekilas, wajahnya agak bersemu merah, "Oke, sudah waktunyaAku pergi," kataku, "Eh…err…sampai nanti," lanjutku lagi. Ketika aku baru saja hendak melompat, ada pasir yang menahan kakiku. Gaara berdiri di belakangku, lalu ia berbisik padaku, dan memelukku dari belakang. Tangannya yang hangat menyeruak dari belakang ketiakku. Sungguh hangat.

Jika terjadi apa-apa dalam misi, hubungi aku. Aku akan langsung datang," lalu ia menyerahkan sekantong kecil berisi pasir, "Kau hanya perlu mengalirkan chakramu ke pasir itu. Nanti, aku akan menyusulmu," lanjutnya.

Aku hanya terdiam. Rasa nyaman ini mencegahku untuk pergi dari pelukannya saat ini, namun misi adalah misi. Lalu ia berbisik lagi, "Come home to me safely, Ino-chan."

Aku memejakan mata, menggenggam tangannya yang mantap memelukku, "Baiklah. Wish me luck." Lalu, ia melepaskan pelukannya. Ia berubah menjadi bulir-bulir pasir. Rupanya, itu hanyalah Suni bunshin, jurus bunshin asli milik Gaara seorang. Dan kau pun meninggalkan kamarku.

End of Ino POV

.

Gaara POV

Kumembuka mataku. Aku sedang berada di ruanganku. Bunshin-ku telah menyelesaikan tugasnya. Entah apa yang kulakukan tadi. Tubuhku bergerak begitu saja. Ada rasa penyesalan dan merengek ala anak kecil kalau aku tak mau melepaskannya, aku tak mau ia perhi dari sisiku. Tapi bagaimana lagi? Aku hanya bisa menerawang ke atas. Membiarkan jantungku berdebar cepat tak terkendali. Prasaan yang belum pernah kurasakan. Agak berbeda dari prasaan yang sebelumnya.

"Ino-chan, kuharap kau tak apa-apa."

.

.

.

Seminggu kemudian…

Belum ada kabar dari dirinya. Aku tetap mengerjakan tugasku sebagai Kazekage. Kadang aku jalan-jalan berkeliling desa, mengecek keadaan penduduk, menengok akademi, mensidak keadaan shinobi desaku, dan lain-lain. Aku senang melihat desaku, dan aku senang bahwa aku telah diterima penduduk desa dengan baik. Aku…mencintai desa ini. Walaupun jujur saja, aku tak pandai mengekspresikannya.

Hhh.. mencintai, ya?

Menjelang matahari terbenam, aku ke tempat favoritnya. Memang indah melihat langit dari sini. Anginnya, cahayanya….aku merasakan keberadaannya. Kenapa….kenapa aku sangat merindukannya sehingga terasa perih tak terkira seperti ini?

Setelah matahari tenggelam, aku kembali ke kantorku. Aku duduk, dan bersiap untuk mengecek dokumenku. Sewaktu aku mengangkat gelasku tiba-tiba *krak!*, gelasku retak. Apakah ini…..Dan tak lama, ada penerjemah kode datang padaku dengan nafas tersengal-sengal.

"Kazekage-sama! Anda harus melihat ini," katanya, terburu-buru menyerahkan gulungan. Aku membacanya, dan langsung bersiap.

"Siapkan 2 tim inti untuk bersiap. Kita akan berangkat ke Kuil Suna. Siapkan juga tim back up untuk berjaga, dan perketat penjagaan di gerbang utama dan belakang!" perintahku.

"Baik, Kazekage-sama!" Lalu ia menghilang.

Cih…Tak kusangka kelompok Akatsuki kembali menyerang Kuil Suna.

Ino-chan, hang in there…..

.

.

.

To be continued

Thanks for reading until now ya, minna!

Next, we'll see you on the battlefield. Rescue the (Princess) Ino! Mhehehehe…

Gimana chap ini?

Bertele-tele kah? Baguskah?

Hohoho, mendingan langsung aja klik tombol REVIEW di bawah ini, ya!

See you next chap!

*** suzanessa ***