If I Can't Have You

Main cast: (always) Kim Jongwoon and Kim Ryeowook

Chapter: 3/unknown

Rated: T

Mian kalau ceritanya kurang bagus. Author lagi mentok dan kekuragan ide.

But, happy reading ^.^

YESUNG POV

Wookie, Kim Ryeowook. Sedang apa dia? Apa dia masih sakit hati aku tolak tadi? Aish, kau jahat banget Kim Yesung. Walaupun aku sudah pernah nolak yeoja, tapi aku merasa ini sangat jahat. Jahat karena aku tega menolak seorang yeoja manis macam Kim Ryeowook. Aku jadi teringat saat Sunyoung nembak aku. Dia sama malu-malunya seperti Wookie tadi. AISH, KENAPA AKU JADI KEPIKIRAN MEREKA BERDUA SIH? Sial!

"Yesungie, temanmu sudah datang tuh."

Aku menoleh ke arah Kibum ahjumma yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Aku segera bangkit lalu mengikuti Kibum ahjumma turun ke bawah. Ku lihat Henry sudah duduk di kursi ruang tamu. Malam ini aku dan Henry memutuskan untuk melanjutkan tugas Jonghyun songsaengnim di rumah –Changmin ahjusshi dan Kibum ahjumma- yang aku tempati.

"Annyeong Oppa."

"Ne, annyeong Henry. Ayo silahkan masuk." Kataku mengajaknya duduk di hamparan karpet di ruang TV.

"Sebentar ya aku ambil dulu buku-bukunya."

Henry pun mengangguk dan aku langsung naik ke kamarku mengambil tumpukan buku-buku beserta laptopku. Saat turun ke bawah kulihat Kibum ahjumma yang sedang menyajikan berbagai cemilan dan minuman.

"Anggap rumah sendiri aja, Henry-ah."

"Ne ahjumma, kamshamnida."

Aku pun duduk di seberang Henry sambil membuka laptop sementara yeoja itu membuka buku-buku untuk mencari bahan tugas kami.

"Rumahmu di mana, Henry?" Henry yang sedang membaca buku pun menoleh ke arahku. "Di *author males lagi mikirnya*. Enggak jauh kok dari sini." Aku mengangguk walaupun sebenarnya aku gak tau itu di mana *dasar oppa babbo #plak*. Kami pun mulai mengerjakan tugas tersebut. Beberapa kali diselingi dengan obrolan singkat, untuk mengenal satu sama lain. Dia sempat bertanya tentang masa laluku, tapi aku hanya jawab singkat, padat, dan gak jelas *loh*.

"Oppa sudah punya pacar?" Tanyanya sedikit serius.

"Eh pacar? Hm..." aku jadi teringat dengan si Wookie. "Belum, memangnya kenapa? Kau mau jadi pacarku?" Tanyaku balik dan GOTCHA! Wajah Henry langsung memerah.

"A-ani, hanya bertanya."

Aku geli sendiri melihatnya. Walaupun Henry manis, tetap aja Wookie lebih manis.

YA, AKU KEPIKIRAN WOOKIE LAGI KAN?

Aku memandanginya sesaat. Kata Kyuhyun, Henry itu eksis di angkatan kami. Dia cantik, baik, pintar, kaya lagi. Aku berfikir, kalo aku jadian sama dia, mungkin aja aku bisa menjauhi Wookie. Kan kalo aku jadian sama dia otomatis semua perhatianku berpusat kepada yeoja imut ini. Trus aku bisa menjauhi Wookie dan melupakan Sunyoung hehehehe

*author: oppa jahat banget sih! yesung: eh author sinting, yang buat ceritanya siapa sih? author: hehehe mian oppa*. Ok readers, abaikan percakapan tadi.

Jam sudah menunjukan pukul setengah 10 malam. Kami berdua sudah mulai pegal dan capek. Beberapa kali aku melihat Henry menguap. Sepertinya yeoja itu sudah mulai mengatuk.

"Henry."

"Ne, ada apa Oppa?" Tanyanya. Mata sipitnya sudah mulai sayu gara-gara ngantuk.

"Kau punya orang yang di suka?" Tanyaku langsung. Beberapa saat yeoja itu hanya diam. Dia menundukan wajahnya. Tapi aku bisa melihat rona merah kembali timbul di pipi tembemnya.

"Ne, aku punya orang yang di suka. Memangnya kenapa, Oppa?"

"Ani. Aku ingin tanya, kalau aku nembak kamu, kamu mau nerima gak?" *ditembak? Mati dong :p #digebukin yesung*

GOTCHA UNTUK YANG KEDUA KALINYA! *apa sih si Oppa*. Henry langsung blushing lagi. "Eh? Aku...aku..." Aku hanya tersenyum melihat Henry yang gugup menjawab pertanyaanku.

"Saranghae, Henry Lau." Henry diam sambil menatapku tak percaya.

"Oppa, oppa yakin?"

"Aku yakin 100%. Aku mencintaimu." Jawabku langsung. Beberapa saat dia diam dan akhirnya...

"Ne, saranghae Oppa. Aku mau jadi pacarmu." Aku tersenyum senang. Ne, Henry, sekarang kau bantu aku untuk melupakan Kim Ryeowook dan Park Sunyoung ya. *si Oppa evil banget*

RYEOWOOK POV

Aku pergi ke kampus dengan perasaan kacau. Semalaman aku menangis sampai tidak tidur *ya elah ditolak doang nangis #digetok wookie*. Pelajaran pun tidak ada satupun yang masuk ke otak. Beberapa kali aku ditegur oleh songsaengnim karena melamun. Saat istirahat, aku memilih untuk duduk di halaman kampus. Aku tidak peduli walaupun perutku meraung-raung minta diisi.

"Wookie, gwaenchana?" Tiba-tiba Hyukkie datang dan duduk di sebelahku. Aku menoleh ke arah Hyukkie lalu mulai terisak. Seakan mengerti apa yang terjadi, Hyukkie lalu memelukku dan mengusap punggungku pelan.

"Ne, kau ditolak ya?" aku hanya bisa mengangguk. "Dia, dia nolaknya..." Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, aku kembali terisak. Sakit mengingat kejadian kemaren. Hyukkie hanya diam sambil terus mengelus punggungku lembut.

"Annyeong Wookie, gwaenchana?" Ku dengar suara Minnie yang terdengar cemas. Aku hanya diam. "Dia ditolak Yesung oppa." Jawab Hyukkie pelan.

"Mwo? Yesung? Kau menyukainya, noona?" Kini ku dengar suara Kyuhyun.

"Ne, Kyu. Wookie suka sama Yesung. Kemaren dia nembak Yesung, tapi ditolak." Terang Minnie. Kini ia ikut-ikutan mengusap punggungku.

"Turut berduka cita Wookie noona AWW..." Kyuhyun mengerang kesakitan karena dipukul Minnie.

"Gak ada yang meninggal Kyu." Jawab Hyukkie ikut-ikutan kesel.

Aku pun melepas pelukan Hyukkie. Kini 3 pasang mata sedang memperhatikanku. "Kau terlihat aneh, Wookie." Kata Minnie namun aku hanya diam.

"Ne Wookie noona. Sudah jangan pikirkan Yesung oppa lagi. Dia, dia sudah ada yang punya sekarang." Aku mendongak memandang Kyuhyun bingung, begitupula dengan kedua sahabatku.

"Yesung hyung... jadian sama Henry Lau."

JLEB! Rasanya hatiku ditusuk ribuan pisau. Sakit sekali. Jadi, setelah –atau mungkin sesudah- aku nembak Yesung oppa, dia jadian sama Henry Lau itu? Omo, sakit sekali aku mendengarnya. Aku kembali terisak. Hyukkie pun langsung memelukku lagi.

"Wookie, kalau seperti itu, mendingan kau lupakan Yesung. Daripada kau harus merasakan sakit lagi." Kata Minnie sambil mengusap rambutku.

"Iya, biarkan Yesung Oppa bahagia sama Henry eonni." Kini giliran Hyukkie yang berkomentar.

"Walaupun noona tidak bisa bersama Yesung hyung, tapi noona harus bahagia melihat orang yang noona sayangi bahagia sama orang lain." Kini giliran si Kyuhyun yang berkomentar. Hey, tumben dia bisa ngomong kayak gitu. Biasanya kan dia Cuma bisa ngegombal buat si Minnie doang :p . Aku menggeleng.

"Bagaimana *hiks* aku bisa *hiks* melupakannya *hiks* kalau setiap haru *hiks* aku bertemu dan memikirkannya?" Tanyaku di sela-sela isakan. Minnie membelai rambutku pelan.

"Kau harus bisa menerima takdir ini, Wookie. Kau bisa bahagia kok dengan melihat yesung Oppa bahagia dengan yeoja lain."

"Pasti Tuhan sudah menetapkan takdirmu." Kata Hyukkie sok religius #plak

"Ayolah Wookie, di mana Wookie-ku yang selalu kuat dan tegar dalam menghadapi permasalahan cinta? Di mana Wookie-ku yang tidak akan menangis hanya karena cintanya ditolak oleh seorang namja?

Perkataan Minnie, Hyukkie, dan Kyuhyun memang ada benarnya. Tuhan memang berkehendak lain. Tapi mungkinkah aku bisa melupakan namja itu? Mungkinkah aku bisa merelakan Yesung oppa bahagia dengan Henry di saat aku benar-benar ingin memilikinya? Walaupun aku ingin terus kuat dan tegar, tapi tetap saja aku merasa berat untuk melupakan dan merelakan Yesung Oppa.

YESUNG POV

"Annyeong Oppa. Maaf membuatmu menunggu."

Aku menoleh dan mendapati Henry sudah berdiri di sebelahku. Cantik dan manis. Bibir merahnya terlihat sangat kissable.

"Annyeong Henry chagi. Ah gwaencahana, aku juga baru datang kok." Jawabku lalu menggandeng tangannya masuk ke dalam sebuah restoran.

Malam ini kami kencan untuk yang pertama kalinya. Aku mengajak Henry makan malam di sebuah restoran yang direkomendasikan Changmin ahjusshi yang berada di pusat kota Seoul. Restoran simple namun berkesan romantis. Kami mengambil tempat duduk di dekat jendela, sehingga kami bisa melihat pemandangan kota Seoul yang indah.

"Selamat datang, mau pesan apa?" Seorang pelayan datang sambil menyodorkan daftar menu kepada kami. Aku segera melihat-lihat daftar menu, memilih makanan yang menurutku enak.

" Tenderloin steak dan iced lemon tea. Kau mau pesan apa chagiya?"

"Hm... spaghetti bolognaise dan vanilla milkshake."

Pelayan tersebut mencatat pesanan kami. "Ne, silahkan ditunggu."

"Kau cantik sekali malam ini."

Ucapanku sukses membuat pipi tembem yang seperti mochi itu dihiasi rona merah. Bibirnya melengkung membuat senyuman paling manis.

"Gomawo Oppa, malam ini Oppa juga tampan kok. Keren." Aku tertawa kecil mendengar ucapan Henry.

Kami mengobrol singkat sambil menunggu pesanan datang. Setelah 5 hari pacaran dengannya, aku makin mengenalnya. Henry adalah yeoja mungil cantik yang bersifat manja dan kadang kekanak-kanakan. Tapi di sisi lain, ia bisa menjadi seseorang yang sangat lembut dan sopan. Ia juga baik hati, tidak sombong dan rajin menabung (?). Aku tak akan rela melepaskan yeoja seimut dan sebaik Henry. Aku suka melihat caranya tertawa, tersenyum dan memandangku melalui mata sipitnya. Beberapa menit kemudian pesanan kami datang.

"Hm... spaghetti ini enak sekali Oppa."

"Jinjja?" Ia mengangguk.

"Kau harus mencobanya. Ayo buka mulutmu. Aaaaa..."

Aku tersenyum lalu membuka mulutku, bersiap menerima makanan dari Henry. Aku langsung melahap spaghetti tersebut. Hm... lumayan enak juga.

"Bagaimana, enak kan?" Aku pun hanya mengangguk masih sibuk mengunyah makanan tersebut.

Lalu Henry menyedot (?) vanilla milkshakenya. Dan entah kenapa bisa ada noda milkshake tersebut yang menempel pada bibir merahnya. Tanganku terulur menyentuh bibirnya lalu menyeka noda milkshake tersebut. Bisa ku lihat mukanya kembali memerah, sungguh manis. Tanganku pun turun menyentuh dagunya. Aku pun mendekat, berusaha untuk mengeliminasi jarak wajah kami berdua. Karena aku sudah duduk di sebelahnya, jadi tak sulit bagiku untuk mendekatinya. Aku bisa merasakan wajahku diterpa hangatnya nafas Henry.

Bibir kami pun akhirnya bertemu. Bisa dibilang ini adalah ciuman pertama kami sejak berpacaran. Aku melumat bibirnya lembut. Tangannya pun melepas pegangan tanganku pada dagunya. Sebagai gantinya, ia menggenggam tanganku dan aku pun membalas genggaman tangannya. Kebutuhan akan oksigen membuat kami melepaskan ciuman tersebut.

Saat aku beranjak menjauh, tak sengaja aku menangkap pemadangan yang sangat... mengejutkan. Kim Ryeowook berdiri di seberang jalan sambil memandang ke arahku dan Henry dengan tatapan sedih dan terkejut. Kami sempat berpandangan sampai ia beranjak pergi. Dan entah kenapa aku merasakan perasaan aneh pada dadaku. Seperti rasa bersalah yang dalam. Bersalah? Hey, apa salahku kalau aku ingin mencium kekasihku? Tapi, bukan hanya perasaan bersalah saja yang aku rasakan.

Ada perasaan lain, yang sangat rumit untuk dijelaskan.

NORMAL POV

Yesung menyusuri jalan menuju sebuah halte yang tak jauh dari restoran tempat ia makan malam bersama Henry tadi. Tak perlu lama baginya untuk menunggu bus datang. Bus hanya diisi beberapa orang. Maklum, jam sudah menunjukan pukul setengah 9 malam. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya ia sampai di halte dekat rumah ahjusshi-nya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang tengah duduk di halte tersebut.

"Wookie?"

Dengan tergesa Yesung menghampiri Wookie dan duduk di sebelah gadis tersebut. Bisa ia lihat wajah gadis itu sayu. Bibir merahnya pucat. Tubuhnya bergetar menggigil kedinginan.

"Wookie, gwaenchana?" Tanya Yesung sambil menangkup wajah Wookie dengan kedua tangannya.

Dingin, wajahnya sangat dingin. Pipinya sembab dan mata Wookie memerah, seperti habis menangis. Ia bisa mencium bau alkohol dari nafas yeoja itu. Yesung menyadari ada 3 botol bir kosong di sebelah Wookie.

"Kau mabuk, eh?" Tapi Wookie hanya diam. Matanya memandang Yesung kosong. Entah mengapa Yesung merasa sakit melihat keadaan yang seperti ini.

"Di-dingin..." Bisik Wookie dan ia pun langsung tak sadarkan diri.

Yesung panik. Dengan sigap Yesung langsung melepas jaketnya lalu menyelubungi tubuh mungil Wookie. Yesung pun menggendong tubuh Wookie pulang ke rumah gadis itu. Perlu waktu lama baginya untuk membawa Wookie pulang, walaupun ia sudah berlari dengan kencang.

Sesampainya di rumah Wookie, ia langsung menekan bel berkali-kali. Hingga seorang yeoja pun membukakan pintu.

"Aigooo Wookie!" Yeoja itu histeris saat melihat Wookie yang tak sadarkan diri dalam gendongan Yesung. Ia segera mengajak Yesung masuk lalu menurunkan Wookie di sofa ruang keluarga.

"Mianhae ahjumma. Saya menemukan Wookie di halte tadi. Tiba-tiba ia tak sadarkan diri."

Heechul memandang Yesung penasaran. "Kamu siapa?"

"Kim Yesung imnida. Saya salah satu teman Wookie di kampus."

"Mahasiswa baru?" Yesung pun mengangguk.

"Ah ne. Jeongmal gomawo Yesung-sshi. Andai saja kamu tidak menemukan Wookie, mungkin ia sudah mati kedinginan." Kata Heechul sambil tersenyum kepada Yesung.

"Cheonmanayo, ahjumma. Kalau begitu, saya permisi dulu. Maaf mengganggu malam-malam."

"Ne. Ah, ini jaketmu kan?" Tanya Heechul sambil menyodorkan jaket Yesung. Ia pun segera mengambil jaketnya lalu membungkuk.

"Saya pulang dulu ahjumma."

"Ne, sekali lagi gomawo ya Yesung-sshi."

"Ne ahjumma. Selamat malam."

Yesung pun melangkah keluar dari rumah keluarga Kim. Ia menyentuh dadanya. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Ia sedih melihat keadaan Wookie tadi. Yesung berani bertaruh kalau Wookie seperti itu karena dirinya. Ia tahu Wookie masih mencintainya, mungkin sangat mencintainya. Tapi ia malah menolaknya dan memilih untuk menjauhinya, hanya karena ingin melupakan mantan kekasihnya. Yesung merasa bersalah kepada Wookie. Dan perasaan aneh yang ia rasakan saat di restoran tadi pun kembali dirasakan. Perasaan yang sangat rumit untuk dijelaskan. Apa mungkin aku memang mencintainya? Batinnya dalam hati.

RYEOWOOK POV

Ku rasakan sentuhan lembut pada pipiku. Aku menggeliat dan perlahan membuka mataku. Kepalaku terasa berat. Bayangan kejadian semalam kembali teringat. Aku menghela nafas panjang. Bisa dibilang aku cemburu, sedih, sakit, kecewa. Walaupun sudah 6 hari –hampir seminggu- cintaku ditolak Yesung oppa, tapi tetap saja aku tak bisa melepaska pikiranku kepada namja yang sudah benar-benar mencuri hatiku ini *cielah bahasanya*. Aku sangat mencintai Yesung oppa.

"Wookie chagi, kau sudah bangun?"

Aku menoleh dan melihat eomma masuk ke kamarku. Beliau duduk di pinggir tempat tidurku lalu mengelus rambutku lembut. Tapi rasanya berbeda saat Yesung oppa membelai rambutku.

"Kenapa semalam kau kabur? Eomma khawatir."

"Mianhae eomma."

"Untung ada Yesung yang mengantarmu."

Yesung? Aku kembali mengingat-ingat. Seingatku, semalam aku beli soju lalu duduk di halte dekat rumah lalu aku tidak ingat apa-apa. Ah aku mabuk semalam.

"Yesung? Kim Yesung maksud eomma?" eomma pun mengangguk.

"Katanya kau pingsan di halte, lalu ia menggendongmu sampai rumah."

"Kau mabuk, chagiya?"

Aku hanya diam mendengar jawaban eomma. Lalu aku melihat ke arah jam weker di sebelah tenpat tidurku.

"Omo sudah jam 7! Aku harus mandi dulu." Kataku panik lalu buru-buru turun dari kasur.

"Kau tidak usah kuliah saja dulu. Badanmu hangat, kau mabuk kan semalam?" Kata eomma sambil menahan tanganku.

"Ani eomma. Hari ini ada tes. Aku harus masuk. Aku gak mau harus ujian susulan." Jawabku lalu langsung buru-buru masuk ke kamar mandi.

000000000000

Shit! Kepalaku makin berat dan pusing. Sabar Wookie, tinggal beberapa soal lagi dan kau akan selesai. Aku kembali memandang lembaran soal di depanku. Aku pun kembali mengerjakan soal-soal tersebut, berusaha menahan rasa sakit di kepalaku.

00000000000

"Wookie gwaenchana?" Tanya Minnie terlihat khawatir. "Gwaencahanyo Minnie." Jawabku berusaha untuk tenang, padahal kepalaku masih terasa pusing. "Kau sakit? Kau terlihat pucat tahu." Jawab Hyukkie sambil meraba keningku. "Kau cukup panas. Mau ku antar ke ruang kesehatan?" Tanyanya yang disambut gelengan dariku. "Kau yakin, Wookie?" Taya Minnie lagi. "Ne, tenang saja Minnie, Hyukkie. Aku tidak apa-apa. Mungkin gara-gara semalam aku kurang tidur." Jawabku berusaha menenangkan kedua sahabatku.

"Aku duluan ya ke kelas. Mau belajar lagi." Kataku sambil bangkit dari kursi kantin.

"Ne, hati-hati."

Aku pun melangkahkan kakiku menaiki tangga menuju kelasku di lantai 2. Kepalaku makin terasa berat. Saat sampai di lantai 2, ku lihat Yesung oppa sedang berdiri di depan kelasnya. Aku pun memutuskan untuk menghampirinya, bermaksud mengucapkan terima kasih karena ia sudah mengantarku pulang semalam.

Tapi langkahku langsung terhenti. Henry eonni tiba-tiba keluar dari kelasnya lalu memeluk Yesung oppa dari belakang. Beberapa saat mereka berbicara lalu Yesung oppa langsung berbalik dan mencium bibir Henry eonni. Aku terpaku di tempatku melihat adegan ciuman Yenry untuk yang ke 2 kalinya. Ku rasakan kepalaku makin terasa berat dan pusing hebat melanda kepalaku (?). Aku pun mulai merasa mual. Dengan tergesa aku berlari ke toilet perempuan yang untungnya tak jauh dari tempatku berdiri tadi.

Sesampainya di toilet, aku langsung memuntahkan semua isi perutku. Setelah muntah, aku merasa sedikit baikan, namun kepalaku masih berdenyut. Pandanganku mulai kabur. Aku pun berusaha untuk keluar dari toilet. Tanganku bertumpu pada dinding, menahanku agar tidak terjatuh. tapi kepalaku semakin sakit dan berat. Benar-benar sakit. Aku pun terjatuh. Namun sebuah lengan langsung menahanku sebelum aku menyentuh lantai. Aku tak tahu siapa dia karena tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

SIWON POV

"Aku ke kelas duluan ya. Mau belajar dulu."

"Tumben kau belajar, Won. Biasanya kalo ulangan nyontek mulu ke si Onew." Goda Minho, salah satu temanku.

"Aish, aku kan mau pinter juga Min. Gak mau nyontek mulu. Lagian jawabannya si Onew kan belum tentu benar." Jawabanku sukses membuat Minho tertawa dan Onew pun langsung menatapku dengan deathglarenya.

"Sudah bagus aku mau ngasih jawaban."

"Ah ne, gomawo Onew-ah. Tapi kali ini aku mau mengerjakan ulanganku secara jujur. Sudahlah aku duluan ya, bye."

Aku pun menaiki tangga menuju lantai 2 dengan santai. Beberapa kali aku disapa oleh beberapa yeoja. Aku hanya bersikap acuh tak acuh, lagian, peduli apa aku dengan mereka? Tumben, koridor lantai 2 cukup sepi. Hanya ada beberapa anak yang di luar. Aku pun kembali melangkah menuju kelasku.

Saat mau melewati toilet perempuan, aku melihat seorang yeoja yang keluar dengan langkah sempoyongan. Tiba-tiba yeoja itu terjatuh dan aku langsung menangkap tubuhnya sebelum menyentuh lantai. Aku baru sadar kalau dia adalah Wookie. Matanya terpejam, sepertinya ia pingsan. Aku pun langsung menggendong tubuhnya menuju ruang kesehatan di lantai satu.

Aku membaringkannya di salah satu tempat tidur. Nafasnya memburu. Keringat mengalir membasahi wajah manisnya. Bibirnya pucat, kulitnya sedikit memerah. Terlihat sangat rapuh. Aku pun menyeka rambut yang menghalangi dahinya. Ku kecup dahinya perlahan. Aku pun memandangi wajahnya.

Wajahnya, wajahnya sangat mirip dengan Sunyoung.

Dan aku berani bertaruh kalau si Yesung itu selalu teringat dengan Sunyoung saat memandang Wookie, sama halnya denganku. Wajah mereka benar-benar mirip, hanya berbeda di model rambut saja. Sedih dan sakit mengingat kalau Sunyoung sudah tak ada lagi. Padahal dulu ia selalu melindungi Sunyoung, tak akan membiarkan seorang pun melukainya, apalagi sampai merenggut nyawanya.

"Engghh..."

Ku lihat Wookie menggeliat. Namun matanya masih terpejam.

"Ye-yesung Oppa..."

"Wookie." Bisikku sambil menyentuh pipinya.

"Sa-saranghae, jeongmal saranghae Yesung Oppa."

Aku terperanjat mendengar igauan Wookie. Jadi, ia mencintai Yesung? Astaga! Ku lihat ia kembali menggeliat.

"Oppa, kenapa kau menjauhiku? Kenapa kau menolak cintaku? aku sangat mencintaimu, Oppa."

Aku diam. Terkejut mendengar igauan Wookie. Aku pun memanggilnya lagi, namun Wookie hanya diam.

"Oppa, aku sedih kau menjauhi. Aku tak bisa melupakanmu. Saranghae Oppa."

Aku pun merasa kasihan dengan Wookie. Sepertinya Yesung sudah membuatnya sakit hati. Kembali aku melihat ke arah Wookie yang masih menggeliat tak nyaman.

"Wookie, Siwon?"

Aku menoleh dan mendapat salah satu sahabat Wookie, Lee Hyukjae berdiri di pintu ruang kesehatan. Ia segera berlari menghampiri ranjang Wookie.

"Apa yang terjadi Siwon?"

"Mollayo Hyukjae. Aku menemukannya hampir pingsan di depan toilet."

Hyukjae diam sambil menyentuh wajah Wookie.

"Apa yang terjadi? Kenapa ia sampai begini?"

"Aku juga tak tahu. Dari tadi pagi dia sudah begini. Sepertinya ia sedang sakit. Tapi aku tak tahu ia kenapa." Jawab Hyukjae sambil memandangku.

"Kau baliklah ke kelasmu. Biar aku yang menjaga Wookie. Gomawo sudah menemaninya, Siwon." Aku mengangguk lalu berjalan keluar dari ruang kesehatan. Pulang kuliah nanti, aku harus menemui Yesung.

NORMAL POV

Setelah bel berbunyi, Siwon langsung berjalan keluar kelasnya menuju kelas Yesung. Ia berharap semoga Yesung belum pulang. Sesaat ia melihat Yesung yang sedang beranjak keluar kelasnya dengan seorang yeoja. Siwon mempercepat langkahnya.

"Permisi Yesung hyung."

Dua orang itu membalikan badan ke arahnya. Yesung pun terkejut melihat Siwon. Bagaimana pun ia masih ingat bahwa Siwon adalah orang yang dulu pernah memukulnya.

"Ya, ada apa?"

"Maaf, bisa aku berbicara dengan hyung?"

Yesung terlihat bingung lalu menatap yeoja di sebelahnya.

"Apa lama?" Tanya Yesung menatap Siwon ragu.

"Mungkin agak sedikit lama." Yesung menghela nafas lalu berbicara ke yeoja di sebelahnya. "Kalau lama, kau pulang saja duluan, chagi." Siwon terkejut. Chagi? Jangan-jangan ini yeojachingu-nya Yesung, pikirnya dalam hati.

"Tidak apa, aku akan menunggu Oppa." Jawab yeoja itu lalu melangkah menjauhi dua namja itu. "Ne, sekarang kau mau ngomong apa?"

"Bisa kita bicara di halaman belakang?"

00000000000

Halaman SJ University tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang belajar bersama, atau hanya sekedar mengobrol. Sementara itu dua namja berdiri di dekat sebuah pohon yang cukup rindang.

"Jadi apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan?" Tanya salah satu namja yang terlihat lebih tua dari namja yang satu lagi. Yang ditanya hanya menghela nafas lalu memandang namja di sebelahnya. "Kau tahu siapa diriku?" Tanyanya. Namja yang lebih tua itu diam. "Kau kan yang menghajarku waktu itu." Jawab namja yang bernama Yesung itu. Namja satu lagi yang bernama Siwon terkekeh pelan. "Kau memang bodoh ya, seperti yang dikatakan Sunyoung."

Yesung terkejut. Sunyoung? Yesung menatap Siwon bingung.

"Sunyoung?"

"Ne, Park Sunyoung, kau mengenalnya kan? Ah tentu saja kau mengenalnya, kau kan mantan pacarnya." Jawab Siwon santai.

Yesung hanya diam. Bagaimana namja ini tahu kalau dia matan pacar Sunyoung? Seingatnya ia tak pernah memberitahu teman-teman barunya di Korea tentang Sunyoung. Kenapa namja ini bisa tahu?

"Mengapa? Kau terkejut karena aku tahu tentangmu dan Sunyoung?"

"Siapa kau?"

"Choi Siwon imnida. Dan kau Kim Yesung kan? Mahasiswa pindahan dari Taiwan. Namja yang membuat kesalahan fatal sampai membuat yeoja yang dicintainya kehilangan nyawa."

Yesung langsung menarik kerah kemeja Siwon. Wajahnya merah karena amarah. Yesung terdiam sebentar melihat wajah Siwon. Ia kembali merasa pernah bertemu dengan Siwon sebelumnya. Tapi ia tak ingat kapan dan di mana.

"Aku sudah tahu namamu. Tapi, siapa kau sebenarnya? Mengapa kau bisa tahu tentangku dan Sunyoung?"

Siwon tersenyum mengejek. "Kau benar-benar ingin tahu siapa diriku? Kau ingin tahu apa hubunganmu dengan Sunyoung?"

Yesung hanya diam. Dirinya sedikit tidak siap mendengar kelanjutan omongan Siwon. Bagaimana pun ia ingin melupakan Sunyoung selamanya. Tapi namja ini tiba-tiba datang dan mengetahui rahasianya, membuatnya harus kembali mengingat tentang seorang Park Sunyoung.

Siwon mendekatkan bibirnya ke arah telinga Yesung lalu berbisik...

"Aku sepupu dari Park Sunyoung."

-TBC-

Update chapter. Huh, kayaknya ceritanya makin ribet, rumit, gak jelas, dan aneh ya? Jeongmal mianhae-ya readers kalo ceritanya kurang memuaskan (?).

Ya sudahlah, yang penting readers jadi tau kan kelanjutan cerita Yewook couple ini? Kayaknya update selanjutnya lumayan seru deh. Author udah janji kan mau ngasih flashback-an masa lalunya Yesung? Pasti pada penasaran dong... harus penasaran! *ini maksa -_-*

Maaf ya readers update-nya agak lama. Soalnya Liu Cuma dapet jatah 3 hari buat buka laptop dan Liu juga lagi mentok ide nih. Ok deh, tanpa banyak bacot lagi, Liu jawab review-an dulu yaaa...

Shin Hyu Ra: Aigooo teganya sekali dirimu Hyura! *meluk Wookie eonni*. Untuk saat ini batinnya Wookie eonni dulu ya yang di sakiti *dibunuh wookie*. Entar dibikin yang kecelakaan dalam kesempatan yang lain (?). ngomong-ngomong... wookie ganti kelamin yah? Kok kamu panggil eonni? *abaikan. Gomawo sudah direview ^.^

Eternal Clouds: Iyaaa, Siwon tuh ternyata sepupunya Sunyoung. Tenang kok abis ini chapter 4 kan? Semoga makin penasaran hehehe. FF-nya bakal Liu lanjutin kok. Gomawo sudah mereview untuk kedua kalinya ^.^

Kyumin Saranghae: Gomawo sudah menunggu dan meriview ^.^ yap Siwon tahu soalnya kan Siwon sepupunya Sunyoung. Chap 4 tentang flashback-nya Yesung. Tunggu ya kelanjutannya.