If I Can't Have You

Main Cast: Kim Jongwoon and Kim Ryeowook

Other Cast: Choi Siwon and Henry Lau

Rated: T

Chapter: 5 (last battle #plak)

Akhir dari kisah cinta Yesung dan Wookie. Will be sad ending or happy ending? Chek this out guys!

Happy reading ^.^

If I Can't Have You,

But I Don't Want Anyone Else

Final Battle :p

Preview chapter 3

"Siapa kau?"

"Choi Siwon imnida. Dan kau Kim Yesung kan? Mahasiswa pindahan dari Taiwan. Namja yang membuat kesalahan fatal sampai membuat yeoja yang dicintainya kehilangan nyawa."

Yesung langsung menarik kerah kemeja Siwon. Wajahnya merah karena amarah. Yesung terdiam sebentar melihat wajah Siwon. Ia kembali merasa pernah bertemu dengan Siwon sebelumnya. Tapi ia tak ingat kapan dan di mana.

"Aku sudah tahu namamu. Tapi, siapa kau sebenarnya? Mengapa kau bisa tahu tentangku dan Sunyoung?"

Siwon tersenyum mengejek. "Kau benar-benar ingin tahu siapa diriku? Kau ingin tahu apa hubunganmu dengan Sunyoung?"

Yesung hanya diam. Dirinya sedikit tidak siap mendengar kelanjutan omongan Siwon. Bagaimana pun ia ingin melupakan Sunyoung selamanya. Tapi namja ini tiba-tiba datang dan mengetahui rahasianya, membuatnya harus kembali mengingat tentang seorang Park Sunyoung.

Siwon mendekatkan bibirnya ke arah telinga Yesung lalu berbisik...

"Aku sepupu dari Park Sunyoung."

If I Can't Have You

Chapter 5

NORMAL POV

"Mwo? Sepupu Sunyoung?" Yesung menatap Siwon shock.

Ah Yesung baru ingat sekarang. Siwon adalah namja yang menghadiri pemakaman Sunyoung. Siwon jugalah namja yang memandanginya tajam sesaat setelah pemakaman Sunyoung. Tapi saat itu ia tidak tahu kalau Siwon sebenarnya adalah sepupunya Sunyoung. Dan barulah ia tahu sekarang, setelah 6 bulan kematian Sunyoung.

"Lalu, apa maumu sekarang?" Tanya Yesung lagi dengan nada dingin.

"Ini masalah Kim Ryeowook."

Eh? Kim Ryeowook?

"Pertama, aku ingin bertanya. Apa kau mencintai Ryeowook?" Yesung kembali memandang Siwon shock. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjawab pertanyaan Siwon.

"Ke-kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja tidak! Aku hanya mencintai kekasihku yang sekarang." Benarkah? Apa benar ia hanya mencintai Henry? Ia melupakan fakta bahwa setiap malam ia selalu terbayangi wajah gadis mungil berambut cokelat sebahu itu. Fakta bahwa hatinya terasa sakit saat melihat raut wajah Wookie yang terluka saat melihat dirinya berciuman dengan Henry. Siwon memandangi Yesung dengan tampang tidak yakin. Ia memberikan tatapan tajamnya kepada Yesung.

"Kau yakin?" Tanya Siwon pelan. Sedangkan Yesung hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan Siwon. Ia masih terus memikirkan perasaannya kepada Wookie. Mungkinkah ia mencintai Wookie?

"Kau tahu tadi Wookie pingsan?" Pertanyaan Siwon itu membuat Yesung terkejut. Wookie? Pingsan? "Pingsan?"

Siwon mengangguk. "Aku menemukannya hampir pingsan di depan toilet. Lalu aku membawanya ke ruang kesehatan. Dan kau tahu apa yang terjadi?" Siwon menggantungkan kata-katanya. Sedangkan Yesung memandangnya dengan tatapan ingin tahu.

"Dia mengigau. Dan dia mengigau tentangmu, Kim Yesung. Ia mengigau bagaimana ia masih mencintaimu. Bagaimana sedihnya dia saat kau menjauhinya, menolak cintanya. Ia tak bisa melupakanmu. Ia terlanjur mencintaimu. Bahkan sampai terbawa mimpi. Dan aku berani bertaruh kalau kaulah penyebab dirinya menjadi sakit begini."

Yesung hanya diam mendengar penuturan Siwon. Jadi selama ini Wookie masih mencintainya? Sampai sekarang Wookie masih berharap padanya. Padahal ia sendiri sudah melukai perasaan gadis itu. Sekarang bukan hanya perasaan gadis itu, bahkan ia sudah melukai pertahanan fisik Wookie. Ia tahu bahwa Wookie sakit begini karena dirinya. Kejadian semalam... Ah bodohnya kau Kim Yesung, rutuk Yesung dalam hati. Dan sekarang ia merasa sangat bersalah kepada Wookie.

Beberapa saat keheningan melanda keduanya. Siwon masih setia menunggu komentar Yesung dan Yesung pun merasakan galau yang amat sangat di dalam hatinya. Akhirnya keheningan itupun pecah lalu Yesung pun buka suara.

"Aku tidak kuat jika bersama Wookie. Saat aku memandangnya, saat aku melihat segala hal yang ia lakukan, aku akan teringat dengan Sunyoung. Dan itu membuatku semakin sedih, sakit, dan bersalah. Aku tak kuat jika harus mengingat kenangan tentang Sunyoung. Itu terlalu menyakitkan bagiku."

"Padahal kenangan menyakitkan itu kan kau yang memulainya."

"AKU TAHU!" Bentak Yesung. Ia mulai marah sekarang. Ia tahu bahwa kematian Sunyoung karena dirinya. Ia lah yang dan memang pantas untuk disalahkan. Dulu ia masih bisa menerima kenyataan bahwa keluarga Sunyoung mulai membicarakan peristiwa itu dan menyalahkannya. Tapi sekarang, lama kelamaan, ia muak juga jika ada orang lain yang membicarakan peristiwa itu, bahkan di depannya! Itu sangat menyakitkan.

"Ryeowook adalah Ryeowook, Sunyoung adalah Sunyoung. Mereka berbeda. Walaupun wajah mereka mirip, tapi tetap saja mereka berbeda orang dan kepribadian. Kalau kau mencintai Wookie, cintailah dia sebagai seorang Kim Ryeowook, bukan sebagai seseorang yang mirip Park Sunyoung. Aku yakin kau mencintai Wookie. Tapi rasa cintamu bukan kepada the real Kim Ryewook, tapi cintamu kepada seseorang yang mirip Park Sunyoung. Dan itu salah, Kim Yesung."

Yesung semakin galau. Siwon memang benar, ia memang mencintai Wookie... mungkin. Tapi rasa cintanya bukan kepada Wookie yang sebenarnya, melainkan cinta kepada orang yang mirip dengan mantan kekasihnya. Iya tahu ini salah... Ia tahu ini sangat menyakitkan bagi Wookie dan mungkin juga bagi Henry. Ia mulai meragukan keputusannya dulu untuk menjauhi Wookie dan pacaran dengan Henry.

Angin sore semakin berhembus kencang. Matahari mulai beranjak ke ufuk barat. Siwon mengecek arlojinya.

"Sudahlah, kau pikirkan lagi bagaimana jadinya. Aku pulang dulu." Katanya sambil menepuk pundak Yesung pelan. Ia pun berjalan pelan meninggalkan halaman belakang kampus.

"Tunggu." Siwon yang sudah berjarak 3 meter dari Yesung pun berhenti.

"Kenapa kau mengatakan semua ini kepadaku? Mengapa kau sangat memperhatikan Wookie?" Tanyanya agak pelan namun masih bisa didengar Siwon.

Yang ditanya pun hanya menghela nafas. "Karena aku tidak mau melihat orang yang aku cintai harus kembali sakit hati. Apalagi disakiti oleh orang yang dicintainya. Sudah terlalu dalam luka yang aku torehkan untuknya. Sudah terlalu berat kesedihan yang harus dipikulnya. Ku mohon, jangan tambah lagi luka di hatinya itu. Jangan buat ia sedih lagi hanya karena kau."

Beberapa bulan kemudian...

HENRY POV

Aku menghela nafas. Entah kenapa rasanya pelajaran Jonghyun songsaengnim hari ini sangat membosankan. Sudah membosakan, Jonghyun songsaengnim tiba-tiba berubah jadi galak lagi. Ke mana Jonghyun songsaengnim yang tampan, keren, dan beruara emas itu? *Henry lebay*. Menyebalkan sekali! Aku pun menoleh ke arah namja yang duduk tiga barisan di samping kiriku. Dia sedang sibuk dan serius mencatat segala materi yang Jonghyun songsaengnim tulis. Aish, bagiku itu sangat membosankan. Sepertinya aku butuh refreshing hari ini. Ah ya! Aku pun segera mengambil handphone-ku dan cepat-cepat mengetik sebuah sms.

'Oppa, nanti kita jalan-jalan yuk. Aku bosen nih.'

Aku pun melirik ke arah Yesung. Beberapa detik kemudian, aku melihatnya terkejut karena handphone yang berada di kolong mejanya bergetar. Ia pun segera mengambil handphone-nya dan membalas smsku. Beberapa detik kemudian, handphone-ku bergetar.

'Mianhae, jeongmal mianhae chagiya. Tapi hari ini aku disuruh Changmin ahjusshi untuk pulang cepat. Maybe next time ok?'

Aku sedikit kecewa membaca balasannya. Aku melirik ke arahnya lagi dan dia memasang tampang menyesal. Aku pun hanya membalas dengan senyuman.

'Ok Oppa, next time you must ask me out ok?'

Send. Setelah sms-nya masuk ke hp-nya Yesung, ia langsung mengacungkan jempolnya ke arahku dan mengedip. Aish, tampan sekali. Beruntung sekali aku mendapat kekasih setampan dan sepinar dia. Aku tidak akan rela untuk ngelepasin Yesung ke yeoja lain nih #digampar zhoumi. Ok Henry Lau, sekarang fokus ke pelajaran Jonghyun songsaengnim. Bertahanlah 20 menit lagi.

00000000000000

"Oppa emang disuruh ngapain sama Changmin ahjusshi?" Tanyaku saat jam kuliah berakhir. Yesung yang sedang sibuk membereskan buku-bukunya langsung menoleh ke arahku. "Bantu bersihin rumah. Soalnya keluarganya Changmin ahjusshi mau ke rumah."

Aku hanya mengangguk. "Mianhae Henry, lain kali saja ya kita jalan-jalannya?" Aku kembali mengangguk. Yesung pun tersenyum lalu mencium bibirku, tapi hanya sebentar. Aku sedikit kecewa *author: Henry minta cium ama Mimi koala aja gih. Henry: Gak mau ah thor, entar ada tambahan adegan NC-annya lagi. Mimi-ge kan mesum. Author: *ketawa gaje*

"Bye Henry. Hati-hati di jalan." Ia pun membelai rambutku pelan lalu langsung berjalan cepat keluar kelas.

Huh, sekarang ngapain ya? Pulang ke rumah gak ada orang. Mau jalan-jalan, tapi sama siapa?

"Henry!"

Aku pun berbalik dan mendapati Key berlari ke arahku. "Kau belum pulang?" Tanyanya lalu berjalan di sampingku. "Males pulang. Lagian gak ada siapa-siapa di rumah. Mau jalan-jalan tapi gak ada temennya." Jawabku sambil memandag tampang kesal. "Gak kencan sama Yesung? Biasanya kau suka jalan-jalan sama Yesung."

"Dia udah pulang duluan. Disuruh pulang cepet sama ahjusshi-nya."

Key mangut-mangut mendengar jawabanku. "Ya sudah kebetulan juga! Aku, Onew, Taemin, Minho, Jaejoong, dan Yunho mau jalan-jalan ke Lotte World. Mau ikut?" Aku pun langsung mengangguk semangat.

"Ikut ikut!"

"Ne kajja kita temui yang lain."

NORMAL POV

Tiga orang mahasiswa dan empat orang mahasiswi fakultas arsitektur SJ University sedang makan-makan di sebuah restoran. Mereka baru saja menghabiskan sore yang menyenangkan di Lotte World yang tidak terlalu jauh dari restoran tempat mereka makan sekarang. Tujuh mahasiswa dan mahasiswi ini memang berasal dari keluarga yang mampu, jadi tak heran jika mereka memilih sebuah restoran yang cukup mewah.

"Untung aja besok gak ada tugas yang musti dikerjain." Kata seorang yeoja berambut blonde seperti jamur sambil bersandar kepada namjachingu-nya yang tinggi semampai.

"Hah, tapi besok ada pelajaran Jonghyun songsaengnim lagi, aku penasaran kenapa dia jadi bad mood gitu tadi." Jawab seorang namja bermata sipit dengan pipi seperti tofu.

"Lagi ada masalah kali sama pacarnya."

"Huh, sok tau kamu Yun."

"Yee, kan 'kali' Min. Aku juga gak tahu."

"Please deh jangan berantem di tempat rame kayak gini."

"Yunho duluan tuh!" Seru namja yang tinggi semampai tadi.

"Enak aja. Minho aja yang sewot." Balas namja yang satunya lagi.

"YUNHO! MINHO!" Seru dua yeoja –Kim Jaejoong dan Lee Taemin- yang merupakan yeojachingu dari Jung Yunho dan Choi Minho, dua namja lebay yang lagi adu mulut tadi. Dua namja yang diteriakin tadi langsung diam tapi berlanjut dengan memberikan deathglare satu sama lain.

"Aish kalian ini kekanak-kanakan banget sih." Kata seorang yeoja imut berpipi seperti mochi dengan ekspresi datar. Lalu ia melirik pasangan Onkey yang sedang bermesraan di meja sebelahnya. Ia iri melihat kemesraa pasangan itu, sementara dirinya harus sendirian tanpa sang kekasih. Yesung harus membalas ini semua, pikirnya.

"Ah iya Ry, ku lihat akhir-akhir ini kau jadi jarang jalan bareng ama Yesung. Lagi ada masalah ya?" Tanya Jaejoong sambil memandang sang yeoja berpipi mochi tadi. Lima pasang mata yang lain langsung memandang ke arah yeoja bernama Henry tadi dengan tatapan penasaran.

"Masa sih? Biasa aja tuh." Lalu ia terdiam. Memang sih, akhir-akhir ini ia dan Yesung jarang jalan bareng. Dulu pasti Yesung selalu ngajaknya jalan-jalan, walaupun sekedar makan es krim bareng di taman dekat rumahnya. Tapi, dan Henry baru menyadarinya, kalau beberapa minggu ini ia dan Yesung mulai jarang jalan bareng. Setiap ia ngajak Yesung kencan, pasti namja itu menolak. Tapi Henry tak terlalu memusingkan masalah itu.

"Tapi, bukannya aku nakut-nakutin kamu loh Ry, siapa tahu maaf ya, Yesung 'main' di belakang kamu."

Perkataan Jaejoong itu membuat mata sipit Henry membulat. Yesung selingkuh di belakangnya? Mungkin saja sih. Tapi Henry tahu, Yesung itu bukan tipe playboy seperti pacarnya Jaejoong ataupun Taemin itu #author ditendang Yunho dan Minho. Tapi kemungkinan itu pasti ada, walaupun Henry tidak terlalu mempercayainya.

Beberapa saat kemudian makanan pesanan mereka pun datang. Yunho dan Minho mulai rusuh lagi dalam memperebutkan makanan. Sekarang ditambah Onew yang ribut minta porsi ayamnya dibanyakin #dasar chickenholic. Semua teman mereka tertawa melihat tingkah ketiga bocah aneh #plak itu. Begitu pula dengan Henry, membuat ia melupakan perkataan Jaejoong tadi.

000000000000000

Pukul setengah 7 malam barulah acara makan-makan tujuh mahasiswa itu berakhir. "Kalian semua, aku pulang duluan ya. Bye." Pamit Henry kepada enam temannya. "Iya Henry, hati-hati ya di jalan." Setelah melambai, Henry pun mulai berjalan menyusuri jalanan kecil menuju Lotte World. Ia akan dijemput oleh supirnya di depan Lotte World.

Henry mengecek arlojinya. Pukul 7 malam, sudah lebih dari 10 menit ia menunggu supirnya yang tak kunjung datang. Ah macet kali ya, pikir yeoja tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke deretan toko-toko di seberang jalan. Pandangannya tertuju ke sebuah toko es krim di ujung jalan. Tiba-tiba ia tergiur untuk mencoba es krim yang berada di toko tersebut sambil menunggu supirnya datang. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan ke arah toko es krim itu.

"Selamat malam gadis manis, mau pesan rasa apa?" Tanya seorang pelayan saat Henry mendekati meja kasir.

"Hm..." Henry sibuk melihat-lihat daftar menu dan matanya tertuju kepada semangkok es krim vanilla kesukaannya.

"Aku pesan yang ini." Katanya sambil menunjuk gambar es krim yang diinginkannya. Pelayan itu pun segera menyiapkan pesanan Henry dan kembali dalam waktu 3 menit. Setelah membayar pesanannya, Henry pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko. Ia tengah mencari kursi kosong yang dapat ia duduki. Lalu pandangannya terhenti saat melihat sosok namja yang dikenalnya. Namja itu tengah duduk bersama seorag yeoja yang tidak ia kenal. Dengan penasaran Henry mendekati mereka berdua.

"Yesung?"

Namja yang ternyata kekasihnya itu pun langsung menoleh ke arahnya, begitu pula dengan yeoja itu.

"Hen-henry?"

Yeoja itu yang langsung mengerti keadaan langsung berdiri. "Mianhae eonni. Aku hanya teman Yesung oppa. Tidak ada maksud apa-apa. Mianhae, aku pulang dulu." Henry dan Yesung menatap kepergian yeoja itu. Lalu keduanya berpandangan. "Henry chagi, aku bisa jelaskan dulu."

Henry berusaha untuk mengatur emosinya. Ia tak mau meledak marah dulu. "Ne, jelaskanlah. Aku akan mendengarkan."

"Ia hanya teman pacarnya Kyuhyun. Tadi aku sedang membeli es krim untuk acaranya Changmin ahjusshi nanti. Lalu aku bertemu dengannya. Kami hanya mengobrol kok. Tidak ada maksud lain." Jawab Yesung sungguh-sungguh. Henry hanya tersenyum lemah mendengar penuturan Yesung.

"Gwaenchana, aku hanya terkejut. Oppa, jangan pernah tinggalkan aku, ne?" Kata Henry sambil memeluk Yesung erat. Entah kenapa untuk saat ini ia tidak ingin kehilangan Yesung, mengingat hubungan mereka yang sedikit renggang.

Sedangkan Yesung hanya bisa bergumam dan membelai punggung Henry pelan. Ia tak berani untuk berkata 'ya' karena ia tak yakin kalau ia masih bisa mempertahakan hubungannya dengan Henry.

RYEOWOOK POV

Pagi hari yang cukup cerah. Semoga menjadi hari yang cukup cerah juga bagiku. Aku pun melangkahkan kaki menuju kelasku di lantai 2.

"Kim Ryeowook. Ke sini sebentar."

Aku menoleh dan mendapati guru piket menggerakkan tangannya memberi isyarat kepadaku untuk mendekat. Aku pun dengan ragu mendekati guru piket tersebut. Setelah sampai di meja piket, beliau langsung memberiku sebuah amplop.

"Kau mahasiswi semester 3 kan? Tolong berikan ini kepada Henry Lau, kelas arsitektur 4-A. Kelasnya dengan kelasmu satu lantai kan?"

Aku pun mengambil amplop tersebut. Kelas 4-A ya? Hm... berarti kelasnya Kyuhyun dan Yesung Oppa dong? Dan Henry Lau? Sebentar, Henry Lau... omo! Dia kan pacarnya Yesung Oppa. Aish bagaimana ini? Aku takut dia masih marah gara-gara kejadian di toko es krim seminggu yang lalu.

" Eottokhae? Bisa bantu aku?"

Aku pun mengangguk pelan lalu tersenyum. "Ne songsaengnim. Akan saya antarkan ke kelasnya Henry sunbae."

"Ne, gomawo Ryeowook-ah."

Aku pun melangkahkan kakiku pelan menaiki tangga menuju lantai 2. Kali ini aku harus menaiki tangga yang berbeda dari biasanya. Aku kan harus melewati koridor kelas 4. Aish, aku takut nih. Gimana kalau dia sinis kepadaku ya? Padahalkan aku dan Yesung Oppa hanya tak sengaja bertemu. Mungkin Yesung Oppa sudah memberitahunya kali ya? Atau jangan-jangan mereka putus hanya gara-gara masalah itu? Ah ya sudah deh nanti sekalian minta maaf juga.

Sesampainya di depan kelas arsitektur 4-A, aku menyembulkan kepalaku ke dalam kelas tersebut. Malu juga kalau harus ke kelas senior sendirian.

"Cari siapa?" Seorang yeoja bermata tajam bagaikan kucing tiba-tiba menepuk pundakku. Aku terkejut dan langsung menegakkan badan.

"Eh, ini hm... aku cari Henry Lau." Jawabku buru-buru.

"Oh Henry, sebentar ya. YA HENRY LAU ADA YANG MENCARIMU NIH." Aku pun mengikuti arah pandang yeoja tersebut dan melihat Henry eonni sedang dirangkul mesra oleh Yesung Oppa. Aish, aku cemburu. Sudahlah Wookie, kata Sungmin dan Hyukkie kan kau harus bahagia melihat Yesung Oppa bahagia dengan yeoja pilihannya.

Henry pun menoleh bingung dan menghampiriku dan yeoja di sebelahku. Saat melihatku, Henry eonni tersenyum manis. Aish, cantik sekali.

"Ya ada apa?"

"I-ini tadi guru piket menyuruhku untuk memberikannya kepada sunbae." Jawabku sambil memberikan amplop putih yang aku pegang. Henry mengambilnya lalu melihatnya sekilas.

"Ne, gomawo hm..."

"Ryeowook. Kim Ryeowook."

"Ah ne gomawo Ryeowook-sshi. Aku Henry Lau, senang berkenalan denganmu." Jawabnya sambil tersenyum. Aku pun membalas senyuman seniorku itu.

"Sun-sunbae, ada yang ingin aku sampaikan." Henry langsung menatapku penasaran.

"Ne, ada apa Ryeowook-sshi?"

"Tentang seminggu yang lalu. Saat sunbae melihatku dengan Yesung Oppa di toko es krim. Maaf aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya tak sengaja bertemu dengan Yesung Oppa waktu itu." Tiba-tiba mataku menangkap Yesung Oppa yang memandang ke arah kami berdua. Ia lalu tersenyum kepadaku. Sebuah senyuman tulus. Wajahku terasa hangat. Senyumannya sangat manis dan membuatku melayang. Aish Kim Ryewook down to earth!

"Ah yang itu. Tidak apa-apa kok. Aku sudah paham. Yesung sudah menceritakannya kepadaku. Tak usah khawatir Ryeowook-sshi. Tak perlu meminta maaf."

"J-jjinja? Henry tersenyum lalu mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu saya ke kelas dulu. Permisi sunbae." Kataku lalu membungkuk dan segera pergi dari kelas tersebut. Syukurlah kalau Henry tidak marah kepadaku.

00000000000

" Ya kalian berdua! Kenapa kalian makan duluan?" Seruku kepada dua sahabatku yang sedang sibuk memakan habis makan siang mereka. Hampir setengah dari isi piring mereka sudah habis.

"Lagian kau lama banget sih datengnya. Kita kan udah keburu laper." Jawab Hyukkie lalu memakan kembali makan siangnya. Aku pun duduk di sebelah Minnie dan di depan Hyukkie.

"Kau ke mana sih? Lama banget?"

"Itu tuh si Sooman habis ngadain tes mendadak di kelasku."

"Wah seru dong. Kalau Sooman ngadain tes mendadak kan kelas serasa kayak neraka." Kami bertiga pun tertawa mendengar perkataan Minnie.

"Iya lah, mana soalnya susah-susah lagi. Ih dasar dosen aneh #plak."

Minnie dan Hyukkie kembali tertawa. Beberapa saat hening sementara kami bertiga sibuk dengan makanan masing-masing.

"Oh iya Wookie, boleh aku tanya sesuatu?" Tiba-tiba Minnie buka suara. Aku menoleh ke arahnya lalu mengangkat alisku. "Ne, ada apa?" Minnie lalu menoleh ke arah Hyukkie dan aku melihat yeoja enerjik yang mirip monyet #plak itu mengangguk ke arah Minnie.

"Begini, apa kau masih ada rasa sama Yesung Oppa?" Aku mengernyitkan dahi ke arah dua sahabatku itu. Tumben sekali mereka nanya kayak begini.

"Hm... masih gak ya? Emang mau tau banget?" Godaku kepada Minnie. Minnie memandangku kesal dan memproutkan bibirnya. Aku tertawa geli melihat ekspresi muka Minnie yang lucu.

"Sebenarnya, dari awal bertemu sampai sekarang pun aku masih cinta sama Yesung Oppa, sampai kapan pun deh. Walaupun dia sudah punya pacar, tapi tetap saja aku tidak bisa melupakannya. He likes and addict for me." *cielah Wookie :p

"Walaupun waktu itu ia menolakmu dan memilih Henry sunbae sebagai pacarnya?"

"Di tolak ataupun di terima itu bukan masalah lagi bagiku. Yang menjadi masalah sekarang adalah aku sedih saat dia menjauhiku. Padahal kan dia tahu betapa aku mencintainya. Memang awalnya aku sedih, tapi yah mau bagaimana lagi?"

"Kenapa kau begitu mencintainya?" Kini giliran Hyukkie yang bertanya.

"Entah. Yesung Oppa bagaikan oksigen yang setiap saat aku butuhkan. Dia bagaikan memori indah yang akan terus ada di ingatanku, tidak akan bisa kulupakan. Aku sangat mencintainya. Sangat walaupun ia menolak cintaku."

Tiba-tiba seorang yeoja berlari dari toilet. Sempat kulihat ia melirik ke arahku. Jangan-jangan... Henry sunbae mendengar perkataanku tadi.

"Henry! Di sini."

Aku menoleh ke arah teman-temanku yang sudah duduk berkelompok di salah satu meja cafetaria. Aku pun segera menghampiri mereka dan duduk di sebelah Jaejoong.

"Yesung mana?" Tanya Key setelah aku duduk.

"Kan dia ditahan sama Jonghyun Songsaengnim."

"Oh iya."

Tadi saat aku dan Yesung mau ke cafetaria, Jonghyun songsaengnim memanggilnya. Akhirnya dengan berat hati aku harus pergi ke cafetaria sendiri soalnya kata Jonghyun songsaengnim dia bakal ngobrol lama sama Yesung. Aish apaan sih yang akan diomongin? Sepenting itu kah?

"Bagaimana hubunganmu dengan Yesung? Sudah mulai membaik?" Tanya Jaejoong.

"Hey kau berkata seperti aku baru saja bertengkar dengannya."

Jaejoong terkekeh pelan. "Ok maksudku, apakah kau sudah sering kencan lagi dengan Yesung?" Aku berpikir sejenak lalu mengangguk. "Sabtu dan Minggu kemaren kami pergi kencan kok." Jaejoong tersenyum mendengar jawabanku. "Syukurlah kalau begitu." Aku hanya mengangguk membenarkan jawabannya.

0000000000

"Begini, apa kau masih ada rasa dengan Yesung Oppa?"

Mendengar nama Yesung disebut aku langsung menghentikan langkahku dan menoleh. Tiga orang mahasiswi–sepertinya baru semester 3- sedang mengobrol dan diantara mereka ada Kim Ryeowook, yeoja tadi pagi yang mengantarkan amplop untukku. Dia juga yeoja yang waktu itu bersama Yesung di toko es krim. Penasaran, aku pun bersembunyi di balik tembok dekat toilet, namun aku masih bisa mendengar obrolan mereka.

"Hm... masih gak ya? Emang mau tau banget?" Kim Ryewook menyeringai jahil kepada temannya yang duduk di sebelahnya. Oh ya kalau gak salah kan itu pacarnya Kyuhyun, Lee Sungmin.

"Sebenarnya, dari awal bertemu sampai sekarang pun aku masih cinta sama Yesung Oppa, sampai kapan pun deh. Walaupun dia sudah punya pacar, tapi tetap saja aku tidak bisa melupakannya. He likes and addict for me." WHAT? Ja-jadi... Kim Ryeowook mencintai Yesung?

"Walaupun waktu itu ia menolakmu dan memilih Henry sunbae sebagai pacarnya?"

"Di tolak ataupun di terima itu bukan masalah lagi bagiku. Yang menjadi masalah sekarang adalah aku sedih saat dia menjauhiku. Padahal kan dia tahu betapa aku mencintainya. Memang awalnya aku sedih, tapi yah mau bagaimana lagi?"

"Kenapa kau begitu mencintainya?" Giliran yeoja di depan Kim Ryeowook yang bertanya.

"Entah. Yesung Oppa bagaikan oksigen yang setiap saat aku butuhkan. Dia bagaikan memori indah yang akan terus ada di ingatanku, tidak akan bisa kulupakan. Aku sangat mencintainya. Sangat walaupun ia menolak cintaku."

Jantungku berdegup keras. Pikiranku dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Segera aku berlari mencari seorang namja bernama Kim Yesung.

NORMAL POV

"Kau masih setia dengan Henry Lau, eh?" Seorang namja berbadan tinggi tegap berkata kepada seniornya yang sedang menyendiri di halaman belakang kampus. Sudah 7 bulan berlalu sejak ia memberitahukan namja di sebelahnya itu kalau ia adalah sepupu dari mantan pacar sang namja yang meninggal.

Kim Yesung menoleh dan mendapati Choi Siwon sedang menatapnya datar.

"Itu sama saja kau sudah melukai hati dua orang yeoja tak bersalah sejak 7 bulan yang lalu."

Yesung menghela nafas. Ini sangat sulit dan membingungkan baginya.

"Apa kau benar-benar mencintai Henry?"

Yesung hanya diam. Tak mampu menjawab pertanyaan Siwon.

"Tak bisa menjawab? Bagaimana dengan Wookie? Apa kau MASIH mencintainya?" Ucap Siwon sambil memberikan tekanan pada kata masih. Yesung jadi galau sendiri. Otaknya benar-benar bingung, perasaannya kacau.

"Kau mau menjaga rahasia ini?" Siwon menoleh ke arah Yesung dengan tatapan bingung. "Rahasia apa?" Tanya Siwon balik. "Aku baru menyadarinya. Aku memang mencintai Kim Ryeowook sejak pertemuan pertama kami dan sampai sekarang. Dan aku hanya menjadikan Henry Lau sebagai pelarian."

"Hiks...Hiks..."

Yesung dan Siwon langsung menoleh ke arah sumber isakan dan seketika... mata Yesung membulat kaget.

YESUNG POV

"Kau mau menjaga rahasia ini?" Siwon menoleh ke arahku dengan tatapan bingung. "Rahasia apa?" Tanya Siwon balik. "Aku baru menyadarinya. Aku memang mencintai Kim Ryeowook sejak pertemuan pertama kami dan sampai sekarang. Dan aku hanya menjadikan Henry Lau sebagai pelarian." Jawabku akhirnya.

"Hiks...Hiks..."

Aku dan Siwon langsung menoleh ke arah sumber isakan. Mataku langsung membulat saat melihat Henry berdiri tak jauh dari kami. Air mata mulai berjatuhan dari mata sipitnya. Aku panik.

"Saatnya Kim Yesung. Ambil keputusanmu." Bisik Siwon lalu pergi meninggalkan kami berdua. Henry hendak pergi namun tangannya langsung aku tahan. Aku butuh bicara dengannya.

"Henry Lau, dengarkan aku dulu. Kau salah paham." Eh? Salah paham? Kenapa aku jadi ngomong begini?

"Kau bohong! Kau bohong tentang perasaanmu." Teriaknya histeris. Aku berusaha untuk memeluknya, namun ia segera menghindar. Aku memandangi wajahnya yang sudah basah karena air mata.

"Mainhae Henry."

"Cium aku! Kalau kau benar mencintaiku, cium aku." Aku pun terkejut mendengar permintaannya. Mampus aku! Bagaimana ini?

Aku memang mencintai Kim Ryeowook sejak pertemuan pertama kami dan sampai sekarang.

Aku langsung melepas peganganku pada tubuhnya. Kalau aku menciumnya, sama saja aku kembali membohongi perasaanku. Sama saja aku kembali menyakiti hati Henry dan Wookie secara tidak langsung.

Itu sama saja kau sudah melukai hati dua orang yeoja tak bersalah sejak 7 bulan yang lalu.

"Mi-mianhae Henry. Aku tidak bisa."

Tanpa kusangka, Henry tersenyum. WHAT? DIA TERSENYUM? Tapi bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum kecewa, sakit, dan lega.

"A-aku sudah me-menduganya. Ka-kau pasti me-memang mencintai gadis itu. Ki-kim Ryeowook. Di-dia memang se-sempurna bagimu." *kenapa Henry jadi gagap begini?

Aku terdiam mendengar pernyataan Henry. Aku semakin bersalah kepada Henry. Aku sudah membohongi gadis secantik dan sebaiknya. Aku memang benar-benar keterlaluan.

"Be-berarti mulai sekarang kita pu-putus. Gomawo sudah memberikan 7 bulan yang indah, walaupun ini hanya kepura-puraanmu. Selamat tinggal."

RYEOWOOK POV

Aku segera berlari menyurusi koridor, mencari-cari keberadaan Henry sunbae. Sampai akhirnya aku tiba di halaman belakang kampus. Aku mendapati Henry sunbae, Yesung Oppa, dan Siwon tengah berada di sana. Tiba-tiba Siwon menepuk pundak Yesung lalu meninggalkan sepasang kekasih itu. Siwon melihatku, lalu menghampiriku.

"Tunggulah kebahagiaanmu. Ia pasti akan datang. Ia pasti akan memilih yang terbaik." Bisiknya lalu mencium pipiku sekilas. Aku langsung menoleh ke arahnya namun ia sudah beranjak menjauh. Sepersekian detik pikiranku kosong. Sampai...

"Cium aku! Kalau kau benar mencintaiku, cium aku!" Aku membeku mendengar teriakan Henry. Aku mempersiapkan diriku untuk melihat kelanjutan drama scene Yenry ini #plak. Namun moment moment saat Yesung mencium Henry pun tak kunjung terjadi *wookie maunya ya -_-

Tiba-tiba Henry berbalik. Bisa kulihat wajahnya sembab karena menangis. Aku memandanginya dari jauh. Tanpa disangka ia melihatku lalu menghampiriku. Ia langsung memelukku. Ia terisak keras di pundakku.

"Mi-mianhae Ryeowook. Aku sudah mengambil orang yang kau cintai. Aku sudah melukai perasaanmu. Aku sudah menjadi penghalang bagi dirimu untuk mencintai Yesung. Mianhae."

Aku hanya bisa diam mendengar perkataan Henry. Aku merasa bersalah juga jadinya.

"Sunbae tidak perlu meminta maaf. Tidak ada yang perlu disalahkan." Kataku akhirnya. Henry melepas pelukanku lalu memegang tanganku.

"Berjanjilah padaku. Kau harus bahagia dengan Yesung. Carilah kebahagiaanmu dengannya. Kalian saling mencintai dan aku yakin kalian juga akan berakhir bahagia."

MWO? Aku dan Yesung Oppa saling mencintai? Mustahil!

"A-aku memang mencintainya sunbae, ta-tapi Yesung Oppa tidak mungkin mencintaiku." Henry menggeleng.

"Dia mencintaimu, sangat. Baiklah, aku kembali dulu ke kelas. Semoga kau bahagia dengan Yesung."

Yesung Oppa mencintaiku?

Sebulan kemudian...

YESUNG POV

Sial hujan. Bisa- bisa flu lagi nih. Percuma dong ke dokter kalo pulang-pulang kehujanan juga. Mau cari tempat berteduh juga di mana? Halte bisa juga masih jauh. Ah sudahlah pasrah pulang hujan-hujanan. Aduh, kepalaku makin pusing lagi. Efek masih flu nih. Ya Tuhan, kau tega sekali menghujani hamba-Mu yang sedang sakit ini. Kalau aku pingsan bagaimana? #derita lo

BRUUKK... Tiba-tiba aku menbrak seseorang. Akibat dari pusing yang amat sangat ini membuatku tak konsen berjalan dan akhirnya menabrak seseorang yang tak bersalah ini.

"Aduh."

Eh kok aku kenal ya suaranya? Segera aku menunduk dan mendapati Wookie terduduk di bawahku. Tubuhnya basah kuyup. Sebuah payung tergeletak terbuka beberapa senti darinya.

"Eh Wookie?"

"Yesung Oppa?"

Aku langsung mengulurkan tangaku membantunya berdiri. "Kau habis dari mana malam-malam begini? Hujan-hujanan lagi. Kalau kau sakit bagaimana?" Wookie hanya diam sambil memandangiku bingung.

"Oppa sendiri habis dari mana?"

"Dari dokter."

"Eh? Oppa sakit apa?"

"Flu. Dan sialnya sekarang kehujanan. Gak sembuh-sembuh ini mah." Jawabku bete. Lalu dengan terburu-buru Wookie mengambil payungnya lalu menaungiku dengan payungnya. Karena ukuran payung yang terlalu kecil, hanya mampu menaungiku sedangkan Wookie masih kehujanan sambil memegangi payungnya.

"Oppa kan sedang sakit. Jangan hujan-hujanan dulu. Nanti tambah sakit." Katanya lembut. Aku bergetar mendengar suara indahnya. Aku memandangi wajahnya yang hanya berjarak 15 senti dari wajahku. Tiba-tiba ia mendekat dan

CHU...

Aku sedikit kecewa karena ia hanya mencium pipiku. Kan ku kira dia mau mencium bibirku #week Oppa maunya :p

Aku membuka mataku lalu menangkap rona merah di pipinya. Dia benar-benar malu sekarang. "Mi-mianhae. Aku pulang dulu. Selamat malam Yesung Oppa." Dan ia pun berlari meninggalkanku. Aku masih membeku karena ciumannya tadi.

"YA KIM RYEOWOOK! PAYUNGMU BAGAIMANA?"

"BESOK SAJA OPPA BALIKIN DI KAMPUS. PAY PAY."

Aish dasar Kim Ryeowook. Benar-benar mirip sekali dengan Sunyoung. Ah hey chagiya, apa kau bahagia di alam sana? Apa kau masih ingat denganku? Kau merestuiku kan kalau aku jadian dengan Kim Ryeowook?

Ne Oppa, aku senang akhirnya kau bisa bahagia...

RYEOWOOK POV

"Mwo? Beasiswa ke Amerika?"

Taeyeon songsaengnim hanya mengangguk. Beliau menyodorkan selembar kertas kepadaku. Tertulis bahwa aku, Kim Ryeowook, mendapatkan beasiswa untuk belajar di New York University. Astaga aku tidak percaya! Ini bagaimana mimpi bagiku.

"Bagaimana Ryeowook-ah? Kau bersedia?"

"Sa-saya harus bertanya dulu kepada orang tua saja, songsaengnim."

Taeyeon songsaengnim tersenyum. "Ne, pertimbangkan lah dulu. Aku harap orangtuamu mengizinkan. Ini kesempatanmu sekali seumur hidup."

Aku mengangguk mengerti. Lalu aku pamit pulang. Beasiswa kuliah di NYU? Omo! Aku tak sabar ingin segera sampai rumah.

0000000000000

"Omo Kim Ryeowook! Eomma bangga sekali denganmu. Kau memang anak eomma yang paling pintar." Seru eomma setelah membaca surat yang kuberikan. Beliau memelukku bahagia dan aku pun balas memeluknya.

"Ne eomma. Eomma mengizinkan kan?"

Eomma-ku yang paling cantik sedunia ini pun tersenyum. "Ini kesempatanmu dan eomma tidak ingin kau menyia-nyiakannya. Benar kan Hannie?" Tanya eomma sambil menoleh ke arah appa. Appa pun mengangguk. "Ne chagiya. Kalau kau bersedia untuk belajar di Amerika, eomma dan appa juga mengizinkan." Aku tersenyum bahagia. "Gomawo eomma, appa. Saranghae."

NORMAL POV

Seorang yeoja mungil berambut cokelat sebahu menengadah menadang langit siang yang mendung dari atap SJ University. Angin dingin menerpa wajah manisnya. Rambut cokelatnya menari-nari mengikuti tiupan angin. Kampus sudah sepi karena jam kuliah sudah berakhir dari satu setengah jam yang lalu. Setelah mengurus surat kepindahannya tadi, ia memilih untuk bergalau sejenak di atap kampus.

"Hey, Wookie."

Gadis bernama Wookie itu menoleh dan melihat sang pujaan hati berjalan mendekatinya.. Wookie tersenyum melihat namja itu.

"Nih, ku kembalikan. Gomawo ya." Kata namja itu sambil menyodorkan sebuah payung.

Wookie mengangguk lalu mengambil payung tersebut. Ia kembali memutar tubuhnya menghadap balkon atap kampus. Beberapa saat hening.

"Wookie, ada yang ingin aku tanyakan."

Wookie menoleh ke arah namja di sebelahnya. Ia tersenyum manis dan menanti namja itu untuk menanyakan sesuatu.

"Apa kau masih mencintaiku?"

Wookie sedikit terkejut mendengar pertanyaan sang namja. Ia pun menghela nafas lalu memandang namja di sebelahnya dalam, penuh cinta.

"Oppa, sampai kapanpun aku tetap mencintai Oppa. Walaupun Oppa pernah menolak cintaku, menjauhi, sampai melukai hatiku, Oppa akan terus ada di hatiku. Oppa harus tahu betapa cintanya aku padamu. Aku tidak bisa melupakanmu, walaupun teman-temanku terus memintaku untuk melupakanmu. I can't forget you. I can't stand mad at you for everything."

Kim Yesung terhenyak atas jawaban Wookie. Ia masih tak menyangka bahwa gadis ini masih bisa mencintainya, setelah banyak hal jahat yang ia lakukan. Wookie benar-benar mencintainya dengan tulus.

"Berarti aku bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi namjachingu-mu dong?"

Namun Wookie tersenyum lemah. Ia memandang Yesung tak yakin. "Entahlah Oppa, aku bingung."

"Bingung kenapa?"

"Aku, aku mendapat beasiswa ke Amerika. Kalau kita jadian sekarang, berarti kita harus berhubungan jarak jauh. Dan aku tidak suka berhubungan jarak jauh seperti itu."

"Siapa bilang kita akan berhubungan jarak jauh?"

Wookie menoleh ke arah Yesung. Bingung.

"Aku juga dapet beasiswa ke NYU juga tau." Wookie membulatkan matanya tak percaya.

"J-jinjja?" Yesung mengangguk mantap. Dan Wookie, ia langsung berteriak kegirangan lalu memeluk Yesung erat.

"Jadi kau mau kan jadi..." Perkataan Yesung terpotong karena Wookie sudah mencium bibirnya. Walaupun awalnya Yesung terkejut karena ciuman yang tiba-tiba, ia pun membalas ciuman Wookie. Ciuman mereka terhenti saat hujan turun tiba-tiba. Keduanya kembali basah kuyup. Wookie lalu melingkarkan tangannya di leher Yesung sementara Yesung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Wookie.

"Aku mau jadi yeojachingu-mu. Asalkan Oppa tidak akan menjauhiku lagi."

"Ne Kim Ryeowook. Aku berjanji tidak akan menjauhimu lagi. Saranghae."

"Nado Saranghae." Dan mereka pun melanjutka kegiatan berciuman tadi yang sempat tertunda. Ciuman yang begitu manis, sangat memabukan bagi keduanya. Yesung melumat bibir Wookie lembut dan dalam, seolah-olah tak akan rela untuk melepaskan yeoja manis itu untuk kedua kalinya.

If I Can't Have You, But I Don't Want Anyone Else

Epilog

"Oppa, boleh aku tanya sesuatu?"

Yesung yang sedang memakai sabuk pengamannya langsung menoleh ke arah Wookie. Kini mereka sedang berada di pesawat menuju New York.

"Ne chagiyaku sayang?"

Wookie langsung blushing. "Hm... kenapa waktu itu Oppa menjauhiku?" Yesung terdiam sejenak, memasang tampang befikir. "Hm... itu tidak terlalu penting. Hanya masa laluku saja. Tak perlu diingat lagi."

"Tapi..."

"My chagiya Kim Ryeowook, sekarang ini hanya ada aku dan kamu. Kita sama-sama meraih impian kita, jangan melihat dan mengingat yang sudah lalu. Suatu saat nanti pun kau akan mengetahuinya."

Wookie hendak protes namun tidak jadi karena Yesung sudah mengecup bibirnya.

"Ne, arraseo."

"Arraseo. Saranghae Wookie." Bisik Yesung pelan lalu merangkul Wookie, membawanya ke dalam pelukannya."

"Nado saranghae Yesung."

Yesung tersenyum. Untuk saat ini, biarkan ia untuk melupakan masa lalunya. Untuk saat ini, biarkan ia menikmati dunia bersama Wookie.

-THE END-

Huwaaaa... akhirnya selesai juga ff ini. Bagaimana? Seru gak? Bagus gak? Mianhae ya kalo kurang bagus, maklum ini ff pertama author hehehe. Terima kasih untuk readers yang sudah setia membaca ff ini dari awal sampe akhir.

Karena berhubung sudah pukul setengah 11 malam, author gak mau banyak bacot dan kayaknya author sudah terlalu lelah untuk membalas review readers. Mianhae ya readers yang sudah mereview tapi gak dibales. But author mau special thanks aja deh buat ryeocloud, Eternal Clouds, yoyol, Cloudsoms114 yang sudah mereview chapter 4. Gomawo yaaaa ditunggu review untuk chapter 5-nya *hahaha author kok maksud ya?*