Lovely Nightmares


So far: due to the mixture between guilt and curiousity, Kurapika decided to go with the woman, but she never aware of a fact, that she'll gonna have the most miserable life..


Chapter 2: Can it be more worse?


"Kemarilah", wanita itu tersenyum simpul pada gadis muda yang mengikuti tidak jauh darinya, gestur tangannya menyuruh gadis itu mendekat kearahnya, kuruta muda itu hanya melengos dan mengikuti arah yang ditunjukkan wanita itu, mimik kekesalan nampak jelas mewarnai wajah manisnya,

"Memangnya kita mau kemana sih?", keluhnya sambil terus melangkah kearah perempuan pirang yang berjalan didepannya itu,

"Kita sudah sampai, sayang", jawab perempuan itu sambil mengarahkan telunjuknya pada sebuah pesawat pribadi yang diparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang,

"Kau..maksudku, kita akan naik itu?", tanya Kurapika penuh selidik, kemungkinan yang ada sekarang adalah bahwa perempuan itu akan membawanya cukup jauh,

"Tentu saja, sudah kubilang kan, kita akan pulang ke Stargate", sahutnya dengan nada yang menurut Kurapika terlalu cerah, ia mulai meragukan kevalidan pengakuan wanita ini beberapa saat sebelumnya.


~Flashback~

"Putriku, kukira aku tak akan menemukanmu saat aku tahu kalau...tempat ini dibantai", ujarnya sendu, responku saat itu hanya termangu mendengar pengakuannya,

"Putrimu? Maksudmu kau adalah ibuku?", tanya gadis muda itu dengan nada curiga, ia sedikit tidak yakin, mengingat penampilan wanita ini yang sangat tidak meyakinkan, rambut pirang yang ditata elegan dan pakaiannya yang tampak mewah, jelas sekali kalau ia bukan tipe pejuang yang dapat bertahan dikehidupan kuruta pada masanya,

"Tentu saja, oh Tuhan, apa ayahmu tidak bilang apa-apa soal aku? Keterlaluan sekali dia!", ujarnya dengan suara yang terdengar cukup kesal, mendengar perkataan buruk tentang ayahnya, Kurapika sontak merasa kesal dan segera membelanya,

"Berhenti bicara buruk soal ayahku!", bentak gadis itu keras, mata dan wajahnya sama-sama menunjukkan emosi yang meluap dari dalam batinnya,

"Maaf, maaf, tapi biar kuberitahu satu hal padamu, dia tidak sebaik yang kau kira", balas wanita itu dengan nada serius yang terdengar meyakinkan,

"Dia yang mengusirku dari sini dan tidak mengizinkanku bertemu denganmu selama bertahun-tahun", keluh perempuan itu pada gadis muda yang terpaku mendengarnya, ia sedikitpun tidak tahu tentang hal-hal semacam ini, dan tentu saja ini membuat ia mulai meragukan hal yang selama ini ia percayai, yaitu bahwa ayahnya adalah ayah yang terbaik yang selalu mencintai dirinya, maka kenapa beliau tidak mengizinkan ibunya menemui dirinya, dan mengesankan seolah-olah wanita itu meninggalkan dirinya?, pikiran-pikiran itu menyusup kedalam benak gadis muda ini sehingga ia menjadi begitu pusing dibuatnya,

"Aku akan menceritakan semua padamu nanti, tapi sekarang aku ingin kau ikut bersamaku, ya?", tanya wanita itu tiba-tiba, yang mengejutkan Kurapika dan fakta yang berputar-putar dikepalanya, iapun mengiyakan saja ajakan wanita itu, bagaimanapun untuk bisa mencerna cerita semacam ini, ia harus tahu dulu duduk perkara yang sebenarnya.

~Flashback end~


Keduanya lalu memasuki kabin pesawat pribadi yang mewah itu, didalamnya terdapat dua buah sofa berukuran sedang dan sebuah meja kopi yang memisahkan keduanya,

"Nah, sebelum kita memulai perjalanan, ada baiknya kau beristirahat sejenak", ujar wanita itu lembut, lalu tiba-tiba dari arah belakang kabin datang seorang wanita muda lainnya, ia berpakaian seperti wanita karier dengan senyum manis terukir diwajahnya, wanita ini membawa nampan berisi sebuah teko dan dua buah cangkir, ia lalu menaruh kedua cangkir itu diatas meja kopi dan hendak menuangkan isi teko tersebut kedalamnya,

"Mary", tiba-tiba perempuan pirang yang mengaku sebagai ibunya itu memanggil sebuah nama, wanita muda yang merasa terpanggil itu lalu menghentikan aktivitasnya,

"Ya, Nyonya?", sahutnya halus, Kurapika bisa mendengar nada keseganan dalam ucapannya,

"Sebaiknya kau ganti minumannya dengan coklat panas saja, putriku lebih menyukainya", ujar perempuan itu pelan,

"Baik, Nyonya", sahut perempuan itu sambil membawa nampan tadi kembali ke pantry, Kurapika dan(orang yang mungkin saja) ibunya itu kemudian duduk di sofa itu,

"Kenapa, kau bisa tahu?", tanya Kurapika polos, setahunya hanya sedikit orang yang tahu soal kesukaannya pada coklat, karena ia memang anak yang jarang menampakkan ketidaksukaannya akan segala sesuatu, apapun yang diberikan padanya pasti akan diterimanya dengan manis, meski itu adalah kopi pahit yang sangat dibencinya,

"Hm, tentu saja, aku kan ibumu", sahut wanita itu manis, ia menatap putrinya dengan mata nanar, dibelainya wajah pucat putrinya itu,

"Ke..kenapa kau dan ayah berpisah, bu?", tanya Kurapika sendu, matanya nyaris berair ketika ia mengucapkan kalimat itu, tapi ia tahu ia harus menguatkan dirinya,

"Karena...ia tidak bisa menerima keinginanku untuk membawamu ke Stargate dahulu, ia ingin kau tumbuh sebagai seorang Kuruta, sedang aku menginginkanmu untuk bisa melihat dunia diluar Kuruta dan menjadi siapapun yang kau inginkan", jawab sang ibu dengan nada sendu yang diyakini Kurapika sebagai luapan kerinduan keibuannya, ia tak mungkin menyangkal denyut hatinya yang terasa sakit melihat ibunya seperti ini, saat-saat dalam pesawat itu kemudian menjadi momen yang menyentuh kedua ibu dan anak itu secara emosi, dan keduanya membiarkan diri mereka tenggelam begitu saja didalamnya.


"Akh, sudah jam segini! Kurapika, mama berangkat kerja dulu ya, jangan bukakan pintu untuk siapapun, karena saudaramu sudah punya kunci sayang, bye!", seru sang ibu sambil buru-buru keluar dari pintu apartemen, baru saja mereka sampai beberapa menit yang lalu, ia sudah pergi dan meninggalkan gadis itu terpaku sendirian.

Perasaan lelah kemudian membuat Kurapika memutuskan untuk mandi, ia pun membasuh dirinya, dan membiarkan segala kepenatan itu lepas dari pikirannya, seusai mandi ia mengenakan kimono handuk putih miliknya dan berjalan ke ruang tengah karena mendengar suara kunci dibuka, tanda bahwa 'saudara'nya telah datang, dengan handuk yang yang melingkar di bahunya dan kimono handuk yang menutupi tubuhnya, setidaknya ia ingin menyambut baik 'saudara'nya ini.

"Tadaima", suara laki-laki terdengar dari arah pintu, iapun menyahut,

"Okaeri", dari dalam, dilihatnya pria itu berambut hitam dan sedikit menunduk karena tengah mengganti sepatunya dengan sandal rumah,

sepertinya aku pernah melihatnya..., pikir Kurapika beberapa saat sebelum pria itu bangkit dan membalik ke arah dirinya sehingga mata mereka bertemu,

"Ka..kau..", Kurapika tak bisa menyembunyikan kekagetannya melihat siapa yang disebut ibunya sebagai 'saudara'nya,

Kuroro Lucilfer...


Up Next: "Mother, I need an explanation?", asked the girl eagerly in secret, "Sweetie, it's already so late, you'd better go sleep now, I explain everything after school tomorrow, okay?", replied the woman tiredly, "What..? School?"...


A/n: sorry if this chapter was a little bit too fast, I make it up soon .;;

but I was too eager to publish this chapter up, so here it is

Happy reading and don't forget to review

Cheers,

Kaoru