Lovely Nightmares


Now on: First night on her new home, Kurapika was surprised to know that Kuroro was on being her 'sibling', but yet, later she realizes that destiny has its own plays on her days, which somehow...irritates her.


Chapter 3: First Day(?)


Kurapika tertunduk dalam diam pada acara makan malam hari itu, matanya masih sibuk berpendar kearah pria yang duduk di dekatnya itu, Kuroro Lucilfer, bola mata safirnya lalu berputar kearah sebaliknya, menyoroti seorang wanita dewasa yang duduk dihadapan keduanya,

"Selamat makan", ucap wanita itu sebelum menggerakan tangannya untuk memotong steak dihadapannya, kedua anak itu pun serentak mengikutinya, meski masih sibuk berandai-andai mengenai hubungan Kuroro dengan ibunya, namun Kurapika tetap mempertahankan ketenangan gesturnya agar Kuroro tidak curiga, bagaimanapun ia pasti akan sangat malu kalau sampai identitasnya sebagai seorang (mantan) pria yang dahulu dengan tegasnya menyatakan kalau ia adalah seorang laki-laki, dan bukan perempuan seperti yang diduga oleh pria berambut hitam disampingnya,

dan aku akan menahan malu seumur hidup jika ia mengetahui bahwa sekarang ini dirinya tengah duduk bersama seorang yang dulu menyandera dirinya, pikir Kurapika kesal.

Usai acara makan malam itu, wanita baya itu tetap menyuruh keduanya duduk,

"Nah, Kuroro, ini putriku, Kurapika", ia tersenyum manis pada gadis muda itu, memberinya isyarat mata seolah-olah ia tahu putrinya sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya,

"Ehm, namaku Kurapika", gadis itu mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan dirinya dengan suara yang agak disamarkan (baca: ditinggikan), Kuroro, tanpa diduganya, menyambut uluran tangan itu dan berkata,

"Aku Kuroro Lucilfer", ujarnya dengan nada yang agak terdengar ramah ditelinga Kurapika, ia sedikit bergidik mendengarnya,

sejak kapan orang semacam ini bisa bertingkah seramah ini?, pikirnya ketus, tapi ia sedikit menyunggingkan senyum ramahnya pada pria bermata onyx yang amat dibencinya itu,

"Hm, berhubung kamu lahir dibulan April...Kurapika, mulai hari ini kau adalah kakaknya", ucap wanita itu ringan, dan sudah pasti membuat mata Kurapika terbelalak tak percaya,

Aapa? Pria ini seumuran denganku?, ia mengerjapkan mata dan menggelengkan kepalanya cepat,

"Ah iya, besok kan kalian harus sekolah, tidur sana!", seru perempuan itu lagi, kedua orang itu pun segera bangkit dari kursi mereka masing-masing dan berjalan kearah dapur sambil membawa piring kotor mereka,

"Sini, mana punyamu?", ujar Kuroro tiba-tiba, Kurapika agak sedikit shock mendengarnya,

"Kau bereskan meja makan saja", sambungnya dengan nada santai, Kurapika nyaris mematung tak yakin dengan kejadian seharian ini, namun ia buru-buru menguasai dirinya dan segera kembali ke ruang makan, disana nampak sosok ibunya tengah berjalan kearah ruang televisi dengan sebuah botol ditangannya,

"Mama...", sapanya ragu-ragu, ia mulai melangkah perlahan menuju ketempat ibunya, wanita itu menoleh mendengar suaranya,

"Hn, Kurapika rupanya, ada apa sayang?", tanya wanita itu lembut, Kurapika berhenti sejenak untuk merapikan meja makan tempat mereka baru saja makan malam, dan sedikit mengelapnya, lalu ia melangkah malu-malu kearah wanita itu,

"Ibu, aku akan berada dikamar jika kau membutuhkanku", tiba-tiba suara gentle Kuroro menyapa dari arah dekat koridor menuju ruang kamar mereka,

"Ya, selamat malam sayang", balas wanita itu manis, lalu pandangannya tertuju pada anak gadisnya yang masih tertegun disana,

"Duduklah didekatku sini", ia berkata dalam senyuman, matanya agak terlihat mabuk menurut Kurapika, dan jika dugaannya benar, maka botol ditangannya itu pastilah botol bir atau semacamnya, tapi sesuatu yang mengganggu pikirannya telah membuat gadis pirang ini menepis perjalanan pikirannya mengenai alkohol ini, ia lalu menemukan dirinya telah duduk di sofa yang sama dengan ibunya, sofa itu empuk, tapi juga sedikit keras, lalu ia menghela nafas sebelum tiba pada topiknya,

"Ibu, aku butuh penjelasan..", ujarnya ragu, nada suaranya nampak sedikit bergetar namun ia masih sanggup meyakinkan dirinya,

"Hm, ini akan memakan waktu", sahut wanita itu mantap meski sorot matanya tampak sedikit mabuk,

"Ini belum terlalu larut", balas Kurapika penasaran, ia semakin ingin tahu siapa Kuroro ini bagi ibunya,

"Baiklah", ujar wanita itu memulai narasinya,

"Kuroro itu adalah anak bawaan dari mantan suamiku, aku sendiri yang memintanya tinggal denganku, ayahnya sangat dingin namun...memikat", ujar wanita itu genit, sedikit melantur di bagian akhirnya, Kurapika mengerutkan alisnya,

"Jadi..kau menikah lagi dengan seorang pria, lalu kalian bercerai dan kau mem..",

"Aku memenangkan anaknya", potong sang ibu cepat, benak Kurapika agak kurang bisa menerima kompleksitas cerita ini, tapi rasa penasaran semakin menghantui dirinya untuk tahu apakah ibunya tahu sesuatu tentang 'pembantaian' suku Kuruta,

"Pria itu sangat memikat, tapi ia tinggal di Ryuuseigai, dan aku berpikir tak masalah karena kami saling mencintai, dan lagi ia butuh seseorang untuk mendidik putranya setelah kematian ibunya ketika anak itu masih kecil, tujuh tahun-", tambah sang ibu, Kurapika sedikit merasa prihatin pada...tunggu dulu, ia baru saja berempati pada orang yang mengetuai laba-laba dalam serangan mereka ke daerah Rukusu, heh, yang benar saja, ia sudah sangat mengutuki dirinya sendiri hanya gara-gara cerita melankolis tuturan ibunya barusan,

"Lalu kemudian ia mengajak anak itu bepergian sebentar, tanpa aku tentunya, dan saat mereka kembali anak itu terlihat menunduk dengan baju yang basah oleh darah, aku sangat kaget tentunya, langsung kudekap anak itu dan kutanyai, apa yang sudah ayahmu lakukan, tapi ia menggeleng dan berkata kalau dia sudah berhasil membuat ayahnya bangga, dan ia tersenyum", ia melanjutkan narasinya dengan jelas namun sulit dicerna,

"Kira-kira...kapan itu?", tanya Kurapika penuh selidik, ia merasa sesuatu didalam hatinya telah menyuruhnya menanyakan hal tersebut,

"Hmmm...sekitar...lima tahun yang lalu", balas ibunya polos, yang sontak membuat Kurapika bangkit dari tempat duduknya,

"Ibu, hari sudah larut, mungkin kau bisa menceritakannya lagi esok hari", ujar Kurapika terburu-buru sambil membalikkan badannya, tanpa sadar airmata menetes dipipinya, entah kenapa ia merasa sangat sakit malam itu.


Pagi menjelang di apartemen mewah itu, seorang gadis nampak tengah mengenakan seragam sekolah hari itu, untuk pertama kalinya, dan ia terlihat sangat bingung ketika menata rambutnya yang panjang,

"Ukh..", keluhnya kesal, lalu iapun setuju dengan pikirannya sendiri untuk mengepang rambut panjangnya, tapi tidak jadi karena ia tidak suka melihat dirinya terlihat seperti seorang remaja manis yang terlalu 'girly', iapun membiarkan saja rambutnya terurai, hanya disampirkan di bahu kirinya, lalu gadis itu menoleh pada jam di dindingnya dengan mata yang membulat,

"Sudah jam segini?", pekiknya pelan namun terdengar kaget luar basa.

Gadis itu lalu mengambil tasnya dan bergegas menuju ruang makan, disana, ia masih melihat 'saudara' tirinya tengah meminum sesuatu dari mug yang berukuran sedang, dan sepiring sandwich terlihat membisu diatas sebuah piring yang terletak disamping piring kosong dihadapannya,

"Pagi", sapa gadis muda itu tenang,

"Hn", sahut pria itu datar,

"Ibu sudah berangkat lebih dulu", lanjut pria berambut hitam itu seakan sudah tahu kalau gadis ini akan menanyainya perihal tersebut,

"Ya", balas gadis itu sama datar,

"Hei-", ia berujar lagi, berusaha mencairkan suasana diantara mereka,

"Hm?", pria itu meletakkan mugnya dan membersihkan sekitar mulutnya dengan sapu tangan yang ada diatas meja,

"Tidak jadi", Kurapika berujar singkat, menyadari kebodohannya untuk beramah-tamah dengan musuh besarnya ini meski si musuh ini tidak mengenalnya,

"Kalau sarapanmu sudah habis, bagaimana kalau kita berangkat?", tanya Kuroro singkat,

"Baiklah", sahut Kurapika dengan nada ter'dingin' yang ia bisa, ia sudah memutuskan untuk bertingkah tidak seramah itu kepada pemuda disampingnya, dan keputusannya telah bulat.


Kelas 2-A, kelas yang sama, sungguh menyesakkan.

Ya, Kurapika mendapatkan kelas yang sama dengan pria yang dihindarinya, Kuroro.

Sungguh mengesalkan, pikirnya, bagaimana tidak, mereka tinggal seatap, makan bersebelahan, duduk dimobil yang sama, dan akan berada dikelas yang sama selama setahun ini, Kurapika mengutuk sebal pada nasib yang membawanya.

"Namaku Kurapika, mohon bantuannya", ujar Kurapika di depan kelas, mungkin ini masih semester satu, tapi jelas mereka sudah duduk dibangku kelas dua sma dan perkenalan semacam ini hanya terjadi pada mereka yang baru masuk, seperti dirinya.

"Nah, kau boleh duduk disamping Lucilfer", kata sang guru yang terdengar panas ditelinga Kurapika,

apa lagi ini?, gerutunya dalam pikirannya, tentu saja sambil melangkah menuju tempat duduknya, dengan adanya hari ini ia merasa yakin takdir sedang mempermainkannya, dengan permainan yang sangat dibencinya, permainan yang menyulut amarah dan dendam yang sekian lama telah ditelannya dalam kepahitan.


Next: In a spring morning, a little time after the school year begin, Kurapika gets a shocking message from her dearest friends and comrades..."Happy Birthday"


Author's Note: what do you think about this one minna? and how should I made her birthday like? please lend me any ideas through the reviews, I really begging you all for it.. T^T