Lovely Nightmares
So far: In a spring day morning, Kurapika gets a very shocking surprised, of course, for her birthday
Chapter 4: Celebration from Hell
Kurapika mengatur ritme pernapasannya saat melihat kalender pagi itu, 4 April, ya, tanggal yang agak berkesan mengerikan ketika ia melihatnya, diliriknya ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidurnya yang sudah ia rapikan, gadis itu dapat merasakan getaran ponselnya sendiri dari arahnya, ekor matanya juga menangkap sinar-sinar dari arah benda mungil berwarna putih itu, ia menelan ludahnya sendiri, sambil pelan-pelan menggerakkan tangannya untuk meraih benda itu, bola mata safirnya menampakkan sedikit kegugupan yang sejak tadi sudah menghantuinya.
Ia pun berhasil mengambil ponsel itu dari atas tempat tidurnya, dan dengan satu helaan nafas panjang, gadis kuruta itu membuka satu per satu pesan dan telepon masuk di ponselnya.
Yang pertama adalah sebuah pesan, dan matanya terbelalak kaget saat mengetahui siapa pengirim pesannya, gadis itu nyaris tidak bernafas saat membaca sebuah pesan manis yang memberi selamat ulang tahun padanya, dan tentu saja nama pengirimnya.
Ia keluar dari kamar dan menemukan koridor itu masih gelap dan sepi, gadis itu segera melirik jam tangannya ketika menyadari betapa sepi pagi itu, waktu menunjukkan pukul setengah dua dini hari,
"Wajar saja", gumam gadis muda itu sambil menghela nafas, ia melangkah perlahan menuju ruang dapur, tepatnya sebuah lemari pendingin, dan mengambil sekotak susu disana, dan sebuah gelas ramping di dekat bar yang tergantung, gadis itu lalu duduk disalah satu kursi tinggi didekat bar kecil itu, menuang susu tadi kedalam gelas dan menatapnya lekat-lekat,
dingin, pikirnya sambil melamun.
Kurapika bermaksud mencerna semua kejadian akhir-akhir ini dalam renungannya pagi itu, sebelum matahari terbit dan mengacaukan harinya yang sudah berantakan, dihirupnya udara dingin itu dalam-dalam, ia mendekap tubuhnya sendiri saat menyadari betapa dinginnya pagi itu, lalu pandangan matanya ia arahkan kepada gelas berisi susu tadi, bagian luar gelas itu nampak berembun, menandakan kalau isi dalamnya agak lebih dingin dari ruangan ini.
Gadis muda itu lalu terpikir untuk memanaskan susunya, mungkin bisa sedikit memberinya kehangatan, dan membuat matanya kembali mengantuk.
Keasyikannya menikmati segelas susu hangat tiba-tiba saja terusik oleh suara daun pintu yang terbuka, decitan kayu itu membuat seluruh inderanya bangkit dan ia langsung beranjak menuju pintu masuk, sambil berpikir siapa yang akan masuk ke apartemennya pagi-pagi begini kalau bukan orang jahat?, dan tanpa pikir panjang gadis itu mengeluarkan rantainya, hendak menyergap siapapun yang berani memasuki apartemen mereka.
Dan ketika ia mengarahkan rantai pendulumnya ke pintu, tiba-tiba ia dapat merasakan kalau rantainya ditangkap, dan matanya membulat terkejut ketika menyadari siapa yang baru saja menangkap ujung rantainya.
"Ku..Kuroro..", ujarnya kaget, sedikit terbata-bata dan seketika ia menyadari kebodohannya, dengan membuka identitasnya sendiri dihadapan saudara tirinya yang hendak dikelabuinya itu,
"Hn, sudah kuduga", jawab Kuroro santai sambil melepaskan mata rantai digenggamannya, mungkin ini masih malam, tapi Kurapika bisa melihat bayangan senyum kepuasan diwajah pria itu, ia merasakan dirinya mulai melangkah mundur,
"Kenapa? Takut? Kurapika, atau perlu aku memanggilmu, si pengguna rantai?", ujar Kuroro lagi, kali ini denga aura yang agaknya membuat Kurapika merinding, dingin, dan tajam,
"Me..memangnya siapa yang takut?", balas gadis itu sambil menguatkan hati agar ia tidak tampak lemah, setidaknya tidak didepan pria ini, sorot matanya mulai menajam dan ia bisa merasakan keberanian merasuki dirinya,
"Hmm.. begitu ya, kalau begitu, kenapa kau terus melangkah mundur, kakak?", tanya Kuroro lagi, dengan nada dinginnya yang sangat dibenci Kurapika entah mengapa, seolah-olah orang ini adalah orang yang sama dengan orang yang dulu dibelenggunya, bukan seperti seseorang yang sejauh ini menjadi 'adik' tirinya hanya karena dia lebih muda beberapa bulan dibanding gadis ini, ia pun menghentikan langkahnya dan mengatur nafasnya,
"Lihat, aku tidak mundur lagi? Lalu apa?", gadis itu berkata dengan nada tegas, matanya menampakkan keseriusan dalam kata-katanya, lalu sekali lagi, pemuda itu tersenyum, kecil, tapi tepat sasaran, karena gadis itu hanya terdiam, entah terpesona atau merasa semakin ganjil, yang jelas ia diam tanpa reaksi ditempatnya.
Detik berikutnya Kurapika tiba-tiba saja tidak melihat Kuroro dihadapannya, peluh mengalir dari dahinya dan gadis itu menutup matanya, meskipun ia tahu benar Kuroro sedang tidak bisa menggunakan kekuatannya, tapi tetap saja, aura dari pria itu mampu membuat dirinya merasakan ketakutan yang lebih seperti teror dibanding serangan langsung.
Pikiran Kurapika tiba-tiba terusik saat ia merasakan sesuatu yang dingin menjalari lehernya, panik, gadis itu mencoba membuka matanya pelan-pelan, dengan masih merasakan sesuatu yang dingin itu disekitar lehernya.
Setelah dirasakan sesuatu yang dingin itu terhenti dan menggantung di lehernya, gadis itu memberanikan diri untuk meraba bagian dekat lehernya tersebut, dan jemarinya meraba sesuatu yang terikat sampai belakang lehernya, sebuah kalung, dengan batu yang tidak kalah dinginnya menggantung sebagai liontinnya,
"Ka..kalung?", gadis itu berujar ragu, masih dengan usaha kerasnya untuk sekadar mengatur nafas dan denyut jantungnya, ia merasa sangat berdebar -debar saat ini,
"Selamat ulang tahun, kakak", bisik Kuroro pelan, tepat didekat telinganya, Kurapika bisa merasakan wajahnya menghangat dan ia nyaris tidak bisa berkata-kata,
"Te..terima kasih-", sahutnya pelan,
"Ta..tapi kenapa?", ia bertanya dengan nada penasaran, sebelum memutar tumitnya sehingga mata mereka bertemu, dalam jarak yang sangat dekat, sampai-sampai keduanya mungkin bisa mendengar hela nafas masing-masing,
"Hmm..mungkin karena sebelumnya aku tidak tahu kalau kau adalah si pengguna rantai, lagipula-", Kuroro tidak melanjutkan kalimatnya, hanya terdiam,
"Lagipula?", Kurapika berujar penasaran, semakin penasaran dengan tingkah pria yang satu ini,
dia ini pengidap kepribadian ganda ya?, pikirnya sambil menatap penuh kebingungan tepat pada kedua bola mata onyx milik Kuroro Lucilfer,
"Sudahlah, sampai nanti", ujar Kuroro singkat sebelum ia beranjak menuju kamarnya, Kurapika semakin bisa merasakan wajahnya yang memerah, ia tidak paham dengan semua ini, tidak satupun masuk kedalam logika akal sehatnya,
tunggu, kalung ini bukan curian kan?, tiba-tiba sebuah pertanyaan merasuki pikirannya, dan sejenak Kurapika hanya bisa jatuh terduduk ditempatnya berdiri tadi.
4 April tahun ini jatuh pada hari sabtu, dan tentu Kurapika jadi tidak tahu mau senang atau tidak sejak kejadian dini hari tadi, dan Kuroro dengan mudahnya bertingkah seakan-akan tidak terjadi apa-apa tadi, membuat Kurapika semakin menyakini kalau saudara tirinya itu mengidap kepribadian ganda.
Kurapika terus memperhatikan liontin kalung barunya, sebuah batu berwarna biru bening membentuk sebuah kupu-kupu, dengan rantai kalung berwarna perak, yang ia duga mungkin memang perak atau platina, ataukah ini moisanite?, dia tidak ambil pusing, tapi dirinya masih saja mengganggap ini aneh, aneh kan?.
"Kurapika, sebenarnya mama ingin sekali merayakan ulang tahunmu bersama-sama, tapi ada panggilan pekerjaan, jadi, kalian rayakan berdua saja ya? Hmm, Kuroro bagaimana kalau kau ajak saudarimu berkeliling kota? Dia kan baru saja datang, dan jangan lupa, aku sudah memesankan restoran untuk kalian makan siang dan malam, jadi kalian tidak perlu mencari-cari lagi, oke?", ujar wanita itu sambil bergegas menghabiskan sarapannya dan melesat menuju pintu apartemen, meninggalkan keduanya dalam kecanggungan dengan masing-masing.
Benar saja, Kuroro benar-benar mengajaknya jalan-jalan, tapi paruh pertama perjalanan pemuda itu malah membawa Kurapika ke suatu toko,
"Wah, pasangan yang serasi ya?", tiba-tiba terdengar suara dibelakang mereka, ternyata itu adalah para pramuniaga yang tengah bercengkrama, awalnya Kurapika hendak menghiraukan saja, toh ia agak merasa wajar jika orang-orang salah mengira mereka, bagaimanapun usia mereka sebenarnya sepantaran, dan mereka sama sekali tidak mirip satu sama lain, jadi, terserahlah orang mau bicara apa.
Kurapika agaknya merasa ia ingin bersikap sedikit ramah pada Kuroro hari ini, setidaknya hari ini, karena pria itu telah menghadiahkan sebuah kalung dan tetap memberikannya meski ia telah mengetahui bahwa ia adalah si pengguna rantai,
"Ehm, permisi, pacarku sedang berulang tahun, tapi dia tidak suka berdandan, apa kalian bisa membantuku memperbaiki penampilannya?", tiba-tiba saja Kurapika mendengar suara yang amat dikenalnya berbicara, ya, Kuroro,
"Eh? Baiklah, ayo kesini nona", salah satu pegawai toko itu menarik tangan Kurapika yang langsung berbalik kearah Kuroro dengan sorot tajamnya, sementara Kuroro hanya tersenyum jahil dan memberi isyarat mata yang seakan berkata,
"Selamat menikmati", pada Kurapika yang kesal setengah mati,
seharusnya aku sudah tahu, dia tidak mungkin sebaik itu, gerutu Kurapika menyesali keputusannya untuk bersikap baik sepanjang hari ini.
Gadis pirang itu nyaris pangling pada bayangannya sendiri dicermin, seorang gadis muda dengan rambut pirang ikal dan sebuah kepangan yang dibuat menyerupai sebuah bando dikepalanya, wajahnya diberi make-up natural saja, tidak lagi kelihatan pucat.
Ia memakai sebuah blus tanpa lengan berwarna biru pastel dengan v-neck dan dalaman kamisol berwarna oranye susu, dan rok selutut yang senada dengan kamisolnya dan bermotif bunga-bunga dibagian bawahnya, lalu sneakersnya diganti dengan sepasang sepatu hak tinggi sekitar tujuh centi berwarna biru pastel (yang semua diduganya merupakan pilihan Kuroro dengan maksud mengerjai dirinya) dan tentu saja sebuah handbag yang senada dengan kalungnya.
Ia melirik tajam pada Kuroro yang tengah membayar belanjaan itu,
"Apa maksudmu dengan 'pacarku'?", tanya Kurapika ketus ketika mereka keluar dari toko yang ternyata one-stop shopping tersebut, Kuroro hanya tertawa kecil,
"Kalau aku bilang kau itu kakakku, mereka akan bertanya maca-macam kan?, lagipula kalau seperti ini kau lebih enak diajak jalan-jalan dibandingkan dengan sebelumnya", ujarnya dengan nada mengejek, yang tentu saja membuat Kurapika kesal,
"Aku bukan pajangan", kata gadis itu kesal,
"Aku tahu", sahut pria itu yang sekali lagi sukses membuat wajahnya memerah malu.
Acara jalan-jalan itu berlangsung nyaris bisu kalau saja Kurapika tidak mengingat apa yang sejak pagi mengusik pikirannya,
"Hei, Kuroro-", gadis itu membuka pembicaraan mereka ketika makan siang,
"Ya", sahutnya singkat dengan nada suara yang terkesan hangat dalam pendengarannya,
"Kenapa kau memberiku kalung ini? Dan...kau tidak mencurinya dari seseorang kan?", tanya Kurapika kelu, sebenarnya ia tadi sempat bermaksud untuk menyimpan sendiri pertanyaan yang terakhir itu, tapi apa boleh buat, sudah terlanjur terucap, tidak mungkin ditarik lagi,
"Kenapa? Memangnya salah jika aku memberi saudaraku hadiah ulang tahun? Lagipula.. kuberitahu kau satu hal, benda itu adalah benda pertama yang tidak kudapatkan dengan merampok", sahut Kuroro datar, tapi lagi-lagi membuat Kurapika merasa wajahnya menghangat,
"Oh", balasnya singkat, sambil tersenyum yang menit berikutnya ia pertanyakan alasan senyumannya itu,
dia...mengganggapku saudaranya.., gumam gadis itu dalam pikirannya, ketika mereka tengah berjalan usai makan siang itu, tapi lalu ia sedikit terusik dalam pikiran itu,
"Kau..mengganggapku saudaramu?", tanya Kurapika pelan, setengah menyesal, pelan-pelan ia mengarahkan pandangannya pada pria itu,
"Kau memang pengguna rantai, bagi Laba-laba, tapi kau adalah saudara tiriku, dan kedua hal itu adalah sangat berbeda", jawab Kuroro tenang,
"Apa maksudmu? Aku..tidak begitu mengerti", tanya gadis itu lagi, tapi kali ini tidak langsung dijawab seperti sebelumnya, Kurapika menghela nafas, mencoba kembali menata pikirannya yang terasa berkabut,
"Kurasa sebaiknya kita batalkan saja makan malam diluarnya", ujar Kuroro tiba-tiba, Kurapika lalu mengarahkan pandangannya kelangit, mendung, mungkinkah itu alasannya?, tapi ia tidak berniat mendebat pria itu, hanya menggangguk pelan dan membiarkan pemuda itu menggandeng tangannya, menuju area tempat mereka memarkir mobil mereka terakhir.
Apartemen itu tidak sedingin tadi pagi, meski diluar sedang hujan deras dan kedua kakak-beradik tanpa hubungan darah itu tengah duduk di sofa di ruang televisi, tanpa tegur sapa.
"Kurapika, kau tahu apa arti keluarga bagi seorang kriminal?", ujar Kuroro membuka topik mereka yang tadi sempat terhenti,
"Tidak, aku tidak mengerti", ujar gadis itu sambil beranjak dari sofa dan berjalan menuju bar kecil itu dan membuat dua cangkir minuman, lalu kembali ke sofa setelah menaruh kedua cangkir itu diatas meja,
"Terima kasih", ujar Kuroro sambil mengambil salah satu cangkir yang ditaruh dihadapannya,
"Sama-sama", sahut gadis itu ramah,
"Bagi seorang kriminal, keluarga memiliki arti yang sangat penting, karena itu, biasanya mereka menyembunyikannya", Kuroro menaruh kembali cangkir itu setelah meneguk isinya beberapa teguk,
"Lalu?", Kurapika yang semakin bingung bertanya dengan polos, ia sama sekali sadar bahwa dirinya tidak bisa lagi membenci Kuroro, setidaknya tidak sebenci sebelumnya, sejak tadi pagi,
"Kau sekarang adalah bagian dari keluarga, dan aku tidak mungkin membunuhmu karena alasan itu", sambung pria itu dengan nada suara yang menurut Kurapika menyiratkan kehangatan, kehangatan yang asing,
"Dan sebagai saudaramu, aku ingin kau tidak lagi mengurusi Laba-laba-", ujarnya lagi, Kurapika bisa merasakan nada serius dalam kata-katanya itu,
"Karena jika terjadi sesuatu...aku tidak bisa melindungimu", Kuroro seakan memberikan tanda titik pada kalimat terakhir itu, Kurapika nyaris merasa bersalah, tidak, ia memang sudah merasa bersalah saat ini, pria ini benar-benar mengganggapnya sebagai saudara,
"Kuroro.. aku bisa melepaskan perjanjian bersyarat itu-", gadis muda itu tiba-tiba berujar sedikit parau, ia dapat merasakan matanya sedikit berair,
"Dan kurasa aku akan melepaskannya, darimu", lanjut gadis itu, ia memanggil rantainya, dan keduanya hening, hanya suara gerakan rantai-rantai Kurapika yang terdengar memenuhi ruangan itu selama beberapa menit,
"Sudah, kau sudah tidak lagi terikat Judgement Chain lagi", Kurapika berujar sendu, dengan kepala tertunduk karena lelah, sehingga ia tidak melihat senyuman aneh diwajah Kuroro,
"Aku tidak menyangka, pengguna rantai ternyata naif dan emosional", suara Kuroro tiba-tiba saja terdengar menyakitkan ditelinga gadis yang memandang pria itu dengan mata berair,
"Kau..menipuku.."
Next on: Kurapika had to stand upon her own to decides her own feelings for her step brother whose happened to make used of her
Author's Note: thanks a lot for those who had reviewed so far, I'm terribly appreciate that, so here's the continuation of the story, I'm hoping to hear more about your opinions so, don't forget to review this time, okay? sorry if this chapter sounds too long, some of the readers had asked me for it.
Happy Reading
Kaoru
