Lovely Nightmares
Fifth: Kurapika had to stand upon her own feelings for her step brother whose happened to make use of her, but, is it?
Chapter 5: Brother and Sister? For Real?
"Bodoh",
"Siapa yang bodoh?",
"Kau",
"Menyebalkan",
kedua kakak-beradik itu masih duduk di depan televisi dengan ekspresi yang tidak jauh berbeda.
Gadis pirang bernama Kurapika duduk disisi kiri sofa dengan bibir yang mengerucut dan tatapan sebal, ditangannya terdapat sebuah mug kosong dengan sedikit bekas-bekas coklat panas, disampingnya duduk seorang laki-laki berambut hitam dengan senyum datarnya, matanya tidak lepas dari televisi meski sesekali ia melirik kearah gadis pirang disampingnya itu.
"Masih marah?", tanya pria itu sambil menampakkan senyum boyishnya yang terkesan jahil, gadis itu menghela nafas dan mengerutkan alisnya sambil memejamkan mata,
"Menurutmu?", desisnya tajam, nada suaranya masih terdengar penuh emosi dan wajah manisnya masih mengencang,
"Sesukamu saja", balas pria itu santai sambil beranjak dari sofa,
"Ya, lagipula kau tidak akan peduli kan?", tanya gadis itu, masih dengan nada marah yang tampak sangat jelas,
"Jadi kau ingin aku peduli?", sahutnya,
"Ha-ah! Pergi sana!", bentak gadis pirang itu, kali ini ia yang beranjak dan berjalan cepat menuju kamar tidurnya,
"Selamat tidur, Putri", gadis itu tidak menyahut, hanya melengos kesal dan masuk kedalam kamar, tentu lengkap dengan adegan banting pintunya,
"Benar-benar!", gerutunya ketika ia membantingkan tubuhnya keatas kasur.
Kurapika memaksa memejamkan matanya saat bayangan-bayangan adegan beberapa menit sebelumnya kembali berputar dikepalanya, sungguh menjengkelkan.
"Ka..kau..menipuku?", tanya gadis itu kelu, matanya menatap Kuroro buram karena air sedikit menggenang disana, tawa kecil tiba-tiba saja terdengar dari lawan bicaranya,
"Kau harus melihat wajahmu", Kuroro menyahut santai sambil menyerahkan ponselnya kearah Kurapika, mata gadis itu membulat saat melihat gambar yang ada disana, seorang gadis pirang dengan mata biru yang nyaris memerah, dan ekspresi setengah marah setengah nyaris menangis yang membuatnya nampak sangat konyol,
"I..ini..", Kurapika berkata tidak percaya,
"Itu kau yang barusan, bodoh", balas pria itu santai, ia mempertahankan gestur coolness-nya sambil tersenyum bangga,
"Kau mengerjaiku!", seru gadis muda itu, pria itu menggangguk dan menarik kembali ponselnya sebelum diraih oleh gadis pirang didepannya,
"Berikan!", seru gadis itu kesal, ia jadi terlihat sangat kekanakan dengan meminta dengan cara begitu,
"Hmm..tidak", balas Kuroro dengan nada santai yang mengesankan kemenangan,
"Kuroro berikan!", sekali lagi Kurapika berseru lantang, ia benar-benar merasa malu saat ini,
"Bagaimana jika dunia..ah bukan, bagaimana jika Laba-laba tahu seperti inilah si pengguna rantai sebenarnya, kekanakan", Kuroro menaruh ponselnya disakunya, senyum kemenangan menghiasi wajahnya, Kurapika semakin merasa kesal dibuatnya,
"Ya, aku memang kekanakan, lalu apa?", gadis itu meraih sebuah bantal kecil dari sofa, hendak melemparnya ke wajah pria bermata onyx itu,
"Duduklah, sini", Kuroro tiba-tiba saja sudah duduk disofa dan menggerakkan tangannya untuk menyuruh Kurapika duduk disampingnya, meski dengan wajah cemberut dan perasaan kesal setengah mati, gadis itu tetap duduk dan bersegera meneguk coklat panasnya yang sudah agak dingin, sampai habis dalam satu tegukan, lalu keduanya diam hingga beberapa saat kemudian.
Gadis itu membenamkan kepalanya ke bantal di kamarnya,
"Hu-uh!", gerutunya kali ini, ia merasa sangat dipermainkan, seharian ini.
Sejak dini hari ketika Kuroro tiba-tiba saja memberinya kalung dengan ekspresi seolah mengajak bertarung, lalu ketika mereka menghabiskan waktu bersama dan ia bertingkah bagai gentleman yang nyaris membuatnya terpesona, kemudian tadi saat ia mengerjainya dengan berpura-pura mempermainkan perasaannya sebagai manusia.
Kurapika mengusap-usap matanya sambil meraba tempat tidurnya, pandangannya langsung beralih ke jam meja didekatnya,
"He-eh? Sudah jam segini?", pekiknya saat menyadari kalau jarum jam itu menunjukkan pukul delapan, dan tanggalan dibawahnya bertuliskan, Sunday, April 5th.
Ia kembali mengusap matanya dan mengangkat tubuhnya dari atas tempat tidur, kemudian merenggangkannya dan bergegas menuju ruang makan,
"Selamat pagi Kurapika, bagaimana tidurmu?", tanya ibunya sambil menaruh selembar daging asap diatas roti panggang dan menutupnya dengan roti yang satu lagi sebelum menyerahkannya pada Kurapika,
"Kau pulang jam berapa semalam, bu?", tanya Kurapika polos sambil memakan rotinya, matanya menyorot tajam pada sesosok pria yang duduk disampingnya,
"Hn, aku sampai sekitar pukul sebelas, tapi kata Kuroro kau sudah tidur dan aku lihat kau lelah sekali, jadi kuputuskan kalau hadiah untukmu akan kuserahkan pagi ini", balas wanita itu, tentu dengan senyumnya yang khas,
"Oh, begitu", sahut gadis kuruta itu sambil tetap melahap sandwichnya,
"Ya, jadi ini, ambilah hadiahmu", ia meyerahkan sebuah kotak berukuran cukup besar
"Terima kasih", ucap gadis itu sambil menerima kotak itu dengan tangannya,
"Boleh kubuka?", ia bertanya polos,
"Tentu", balasnya.
Kurapika pun menggerakkan tangannya hendak membuka kotak itu, dan terkejut mendapati isinya, sebuah gaun berwarna biru lembut dengan model lolita-victorian, terlipat rapi lengkap dengan sebuah tiara dan sepasang sarung tangan berwarna senada,
"I..ibu..", Kurapika berujar bingung,
"Pakailah, malam ini akan diadakan pesta dansa diballroom, aku ingin kalian hadir berdua...sebagai kakak-adik", ujar sang ibu, matanya sedikit berbinar senang, Kurapika hanya bisa menelan ludah sambil membayangkan acara malam nanti.
Sore, nampak seorang gadis muda berambut pirang tengah berusaha membiasakan dirinya berjalan dengan mengenakan sepatu high heels setinggi delapan centi.
Gadis itu masih mengenakan kaus putih berbahan katun dan celana jeans berwarna gelap dengan model boot cut, rambut pirangnya diikat model ekor kuda sederhana,
"Hmm...sepertinya kau sudah mulai terbiasa, baiklah, sekarang kita akan latihan berdansa", terdengar suara seorang wanita dibelakangnya, dengan hati-hati gadis itu berjalan menuju tempat wanita itu dan seorang pria muda disampingnya, pria itu kemudian membuka tangannya, yang disambut oleh gadis pirang itu, dengan halus.
Keduanya lalu latihan berdansa sekitar beberapa menit,
"Tidak kusangka", ujar pria itu dengan nada kasual,
"Apa?", sahut si gadis ketus,
"Kau mengenakan sepatu tinggi dan kau masih lebih pendek", cemoohnya sambil tersenyum,
"Diam saja kau", balas gadis itu dengan nada yang lebih ketus.
Seusai latihan dansa keduanya lalu berpisah, gadis itu digiring ibunya ke kamar tidurnya, dan setelah sukses mengenakan gaunnya, wanita itu kemudian mendandani putri tunggalnya,
"Kurapika, jika suatu saat nanti hubunganmu dan Kuroro tidak berjalan sebagaimana seharusnya, aku ingin kau segera memberitahuku", kata wanita itu saat prosesi dandan telah selesai,
"Apa maksudmu?", tanya Kurapika bingung,
"Kau akan tahu nanti", balasnya.
Kurapika memandangi sosok putri dalam cermin itu, ya, seorang putri dengan tiara dikepalanya, rambutnya hanya ditata sederhana dengan kepangan yang dilingkarkan disekitar kepalanya, wajahnya dirias manis dengan make-up natural dan lipstick peach pink, kalung pemberian Kuroro masih melingkar di lehernya, dan gaunnya yang indah menjuntai sampai bawah, menutupi kakinya dan sepasang high heels berwarna perak disana.
Gadis itu kemudian berjalan keluar dan mendapati seorang pria tengah menantinya dengan kemeja putih dan dasi, dilengkapi dengan vest dan blazer tentunya, dengan warna biru gelap.
Rambutnya diturunkan dengan poni menutupi dahi dan sebuah tanda dikepalanya, (model: Kuroro waktu awal pembentukan Ryodan versi Flashbacknya Pakunoda) sebuah bunga berwarna putih tersemat di saku blazernya.
Keduanya lalu memasuki elevator yang mengarahkan mereka langsung ke tempat acara.
Sambil mengapit tangan masing-masing keduanya melangkah menuju acara pesta dengan semua mata nyaris tertuju pada mereka, sebagian berdecak kagum bagai melihat sepasang malaikat baru saja turun dari langit dan berjalan dipesta itu.
Acara pesta dansa malam itu berlangsung tenang dengan alunan musik orkestra yang manis.
Kurapika membiarkan Kuroro membimbingnya sepanjang acara dansa, ia berpegangan pada bahu Kuroro dan membiarkan pria itu merangkul pinggangnya, tangan mereka yang lain saling berpegangan, meski berbatas sarung tangan, namun Kurapika bisa merasakan kehangatan ditangannya, dan rasa aman dalam pandangan matanya, seakan pria itu tidak akan membiarkan dirinya jatuh, dan terus membimbingnya dengan lembut dalam dansa malam itu.
Usai dansa itu keduanya masih berjalan bersama, menuju meja bundar tempat mereka akan makan malam.
Mereka duduk bersebelahan, dan tiba-tiba saja sebuah suara memecah keheningan diantara mereka,
"Kuroro? Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu, apalagi disini", ujar seorang gadis muda berambut pink yang langsung mengambil posisi disamping mereka yang memang masih kosong,
"Hmm..sungguh kebetulan yang tidak disangka ya, Neon", ujar Kuroro dalam senyuman mautnya yang membuat Neon nyaris meleleh, Kurapika memandangi keduanya dengan cemas, di satu sisi ia takut identitasnya terbongkar dihadapan Nona-nya, dan disisi lain, ia sedikit merasa kesal dengan keakraban keduanya,
"Eh, siapa gadis ini? Pacarmu ya?", tanya Neon straight to the point, Kurapika tentu saja tidak bisa diam saja dan membiarkan Kuroro membocorkan identitasnya, ia segera memutar otaknya untuk mencari nama samaran,
"Ehm, namaku April, senang berkenalan denganmu, Nona Nostrad", ujarnya dengan suara yang di-lady-like-kan,
"Oh, senang berkenalan denganmu juga, April, kau bisa memanggilku Neon-", sahut Neon polos,
"Hmm..apa dimana kau kenal dengan Kuroro?", lanjut Neon tenang, Kurapika bisa melihat sorot mata jahil dari Kuroro yang ditujukan padanya,
"Kami sudah menjalin hubungan selama satu tahun terakhir ini", ujar Kuroro mantap, sambil merangkul bahu Kurapika yang langsung menujukan death glare-nya pada Kuroro,
"Ya, begitulah", ia tersenyum palsu pada Neon, yang tampaknya percaya begitu saja,
"Ahaha..begitu rupanya", Neon berujar polos,
"Aku datang kesini bersama ayahku, hehe, kuharap suatu hari nanti aku bisa seperti kalian", sambung gadis itu.
"Apalagi maksudmu kali ini?", seru Kurapika seusai acara ketika mereka sampai di dalam elevator, Kuroro tersenyum singkat sambil berbalik pada Kurapika, hingga mereka saling berhadapan, ia menaruh tangannya didagu Kurapika, membuat gadis itu sedikit panik,
"Kau tahu?", ujar Kuroro dalam jarak yang sangat dekat, sangat dekat sampai-sampai Kurapika bisa merasakan hela nafasnya,
"A..apa?", Kurapika berujar sambil mundur ketika sadar punggungnya rapat dengan dinding elevator tersebut,
"Aku...tidak pernah memandangmu sebagai saudaraku.."
Next on: Kurapika *reads "How to react upon a sudden confession" book*
Author's Note: how's this Minna-sama? I'd like to hear your opinion if you don't mind, review needed! also, I feel terrible that I can't reply all the review, but know this, I'm very honored to hear such a review, it pleased me...
Happy Reading!
Kaoru
ps: since I'm confused between to reject or to accept for the next chapter, let's have a vote with saying, REJECT or ACCEPT in your review, please don't check another reviewer during the calculation, I'll count your vote before Friday, December 9th at 9 am
