Lovely Nightmares


Sixth: Kurapika's bodyguard comrades has gone to her school because Neon, her boss, wants to enroll there in hopes of getting closer to Kuroro, and Kurapika was asked for help, will she be able to handle it? her double-life as Nostrad's hired bodyguard and as a normal school girl?


Chapter 6: Heaven? or Hell Games? It's secret..


"Baiklah, kelas hari ini sudah selesai", ujar Pak Basho di depan kelas, Kurapika berusaha menutupi wajahnya dari guru itu sejak awal mulai kelas,

kenapa dia bisa jadi guru sih?, gerutunya sebal lantaran khawatir identitasnya terbongkar,

"Oh ya-", tiba-tiba Pak Basho mengangkat telunjuknya, membuat murid-murid Akademi Stargate menghentikan aktifitas berberes tas mereka,

"Lusa kalian akan melakukan trip ke perkemahan digunung sana-", ia menunjuk sebuah gunung di selembar poster yang baru saja ditempelnya di whiteboard,

"Pak, itu gunung apa?", tanya salah seorang siswa perempuan bernama Emily, Pak Basho hanya menaruh tangan di dagunya, melakukan gestur berpikir,

"Hn, pertanyaan bagus, itu adalah Gunung...rahasia", ucapnya yang direspon dengan kekecewaan seisi kelas,

"Nah, mari kita lanjutkan. Kalian dihimbau untuk hanya membawa satu tas selama perjalanan karena kita akan mendaki dahulu sebelum mencapai tempat kemah", Pak Basho melepas poster itu dan berjalan keluar, seakan memberi isyarat pada murid-murid untuk keluar, tapi tiba-tiba dia masuk lagi, dan membuat murid-murid yang nyaris menghambur keluar itu kembali ke kursinya masing-masing,

"Aku hampir saja lupa-", ia berkata tanpa mengubris pandangan para muridnya,

"Trip kali ini akan diikuti oleh seluruh kelas A, yang artinya kalian akan bersama dengan anak-anak tingkat 1, 3, dan 4", ia mengakhiri pembicaraannya dengan santai dan bergegas menuju ruang guru,

"Bah, tadi itu menegangkan sekali Senritsu!", keluhnya pada rekan sekerjanya, Senritsu, yang kebetulan hanya mendapat tugas menjadi guru musik tingkat satu,

"Hmm...begitulah remaja", Senritsu tersenyum manis pada Basho, berusaha menenangkan pria bertubuh besar itu,

"Bagaimana? Kau sudah bisa menghubungi Kurapika?", tanya Basho hendak mengganti topik pembicaraan,

"Belum, mungkin dia masih berada di Rukusu", sahut Senritsu pelan, meski secara naluriah ia menampik ucapan itu dalam hati,

perasaanku mengatakan Kurapika sudah berada disini lebih dulu, pikirnya.


"Papa, Neon mau sekolah di Akademi Stargaaaaate!", pinta Neon sambil merajuk pada sang ayah, Light Nostrad,

"Iya, tapi papa kan harus yakin sekolah itu aman buat Neon", Light mencoba merayu putrinya agar tidak terus menerus memaksanya untuk segera mendaftarkannya ke Akademi Stargate, tapi sepertinya tekad Neon sudah bulat dan ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali menuruti permintaan putri semata wayangnya ini,

"Memangnya, kenapa Neon ingin sekali sekolah di Akademi Stargate? Bukankah ada sekolah lain, seperti...sekolah Putri St. Cathleeya misalnya?", Light mencoba menawarkan sebuah sekolah pada Neon, tapi Neon hanya menatapnya dengan wajah cemberut,

"Habis, Neon dapat berita dari Lizzy kalau Kuroro-kun ada di Stargate, Papa..yaa bersama April sih", kata Neon tanpa membiarkan kalimat terakhirnya terlontar dari bibirnya,

"Memangnya, siapa sih 'Kuroro-kun' ini?", tanya Light Nostrad dengan nada sedikit menggoda Neon,

"Kuroro itu...gebetan Neon, Papa", tegas Neon, yang disusul dengan derai tawa dari sang papa,

"Hahaha..Neon..memangnya berapa usia Kuroro ini?", tanya Light lagi, ia tidak menyangka putrinya sudah kenal kata 'gebetan' segala,

"Uh-huh Papa, pokoknya Neon mau sekolah di Akademi Stargate, kelas A titik!", seru Neon keras, ia langsung berbalik dan meninggalkan papanya, menuju kamarnya.

Keesokkan paginya, gadis itu sudah tersenyum penuh arti ketika melihat bayangannya sendiri di cermin,

"Lihat saja nanti, aku pasti akan merebut Kuroro dari April-san!", ia bersorak menyemangati dirinya sendiri, sambil tersipu-sipu membayangkan Kuroro-nya nanti.


"Basho! Kenapa bisa ada kemah segala sih?", teriak Neon sesampainya mereka di kediaman keluarga Nostrad,

"Ya, mau bagaimana lagi Nona, habis itu sudah program sekolah, mana mungkin saya yang guru pengganti bisa menggantinya seenaknya", ujar Basho pasrah menghadapi Nona muda nya ini,

andai saja Kurapika disini, biar dia saja yang menghadapi Nona, bisiknya dalam hati.


Sementara itu di apartemen milik wanita berambut pirang itu, kedua anaknya nyaris tidak bertegur sapa sepanjang makan malam, wanita bermata hijau itu semakin larut dalam rasa penasaran dan gerah dengan kesunyian diantara kedua anaknya itu,

"Baiklah, jadi siapa yang mau mulai menjelaskan?", ia menatap kedua putra-putrinya itu dengan sorot mata keibuan, keduanya tidak merespon, hanya mematung seperti boneka bicara yang kehabisan baterai,

"Aku selesai", ujar keduanya nyaris bersamaan ketika makanan mereka telah habis, mereka lalu mengangkat piring kotor mereka masing-masing dan berjalan beriringan menuju dapur, hendak menaruh piring itu di mesin cuci piring seperti biasa, lalu keduanya kembali ke meja makan dan menatap balik pada ibu mereka, lama, sebelum gadis pirang itu menghela nafas dan seakan bersiap untuk berujar,

"Bu, tidak ada masalah kok", ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pelan menuju koridor yang menuju kamar tidurnya,

"Selamat malam", ucapnya sebelum menutup pintu kamarnya tanpa dibanting,

"Baiklah, selamat malam Ibu", Kuroro segera menyusul saudarinya menuju kamarnya sendiri, wanita itu terduduk heran,

"Aku harus menanyai mereka satu-satu", ujarnya.

Pagi di hari selasa, satu hari sebelum kemah, nampak seorang gadis pirang sedang geram menatapi pesan singkat di ponselnya, ia menutup matanya sambil menghirup nafas dalam-dalam, kemudian ia mengigit bibir bawahnya gemas,

"Apa-apaan ini?", keluhnya ketika ia membanting ponselnya ke tempat tidur, sebuah pesan singkat tertera dilayarnya,


Kurapika, cepatlah kembali,

Tuan Nostrad ingin kau menjaga putrinya di sekolah barunya,

Akademi Stargate.

Sender: Senritsu


Kurapika membanting tubuhnya di kasur yang sudah jadi kesayangannya itu, pikirannya kalut membayangkan Neon akan berada dikelasnya paling tidak selama satu tahun kedepan, kesal? Pastinya.

Sebab hari-harinya yang sudah damai tidak akan sama lagi, dan kalau Neon berada dikelasnya, ia akan segera tahu kalau April adalah Kurapika, dan ia tidak bisa lagi mengelabui Basho yang tertipu dengan kelihaiannya mengklaim dirinya sendiri sebagai perempuan, dan berbohong kalau tidak mungkin seorang perempuan bisa menjadi laki-laki, dengan teori gender dan hemafrodit dan teman-temannya.

Kurapika menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda, lengkap dengan dekorasi awan-awan dan burung-burung, juga matahari pagi, seakan-akan langit-langit kamarnya adalah lukisan pemandangan langit pagi.

Iapun bangkit dari tempat tidurnya dan segera merapikan pakaiannya sebelum bergegas keluar kamar,

"Ibu sudah berangkat?", tanyanya pada seseorang yang juga telah mengenakan seragamnya dengan rapi, Kuroro.

"Sudah", balas pria itu datar, gadis itu segera mengambil sarapannya dan duduk disamping pria itu,

"Apa Ibu masih menanyakannya?", ujar gadis itu sambil melahap puree kentang yang merupakan sarapan pagi itu,

"Tentu saja", pria itu berujar singkat,

"Lalu?", ia melirik Kuroro dengan mata polosnya yang membulat,

"Menurutmu?", Kuroro menoleh pada Kurapika, dingin.

"Kau memang saudaraku yang paling baik!", seru Kurapika sambil tersenyum pada Kuroro,

"Apa?", ia menatap Kuroro dengan pandangan bertanya-tanya,

"Mana bayarannya?", Kuroro merapikan bekas makannya sambil beranjak dari kursinya,

"Terima kasih", Kurapika mengecup pipi saudara tirinya itu lembut, singkat, lalu ia mengambil kedua piring bekas makan itu dan berjalan menuju dapur,

"Aku akan menunggumu di lobi", ujar Kuroro sambil meraba bekas kecupan gadis itu,

"Ya!", serunya dari balik pintu. Kurapika menaruh kedua piring makan itu sambil kembali mengingat kejadian di elevator dua minggu yang lalu, sehabis pesta dansa sehari setelah ulang tahunnya,

"Aku...tidak pernah memandangmu sebagai saudaraku..", Kurapika menatap bola mata onyx milik Kuroro yang seakan memiliki kekuatan magis yang mampu menghisapnya kedalam sana, ia tidak mampu lagi berkedip kali ini, hanya terus memandang kedalam mata yang terus menghisapnya itu, Kuroro tidak berkata apapun, hanya menatapnya dalam, dan gadis itu merasakan sesuatu tercekat ditenggorokannya,

"Aku menyukaimu..", ia berbisik pelan, sambil mengatur ritme nafasnya yang semakin terasa cepat,

"Aku tahu", sahut Kuroro sambil mengecup bibir gadis muda itu dengan lembut, singkat. Kurapika bisa merasakan airmatanya mengalir di pipinya, tapi ia masih terus mengarahkan pandangannya kepada kedua bola mata berwarna onyx tersebut, iapun menutup kedua matanya dan memeluk pria itu, erat, erat sekali, seakan-akan ia akan jatuh jika tidak berpegangan,

"Aku sudah tidak peduli, betapa aku akan mengkhianati Kuruta, berapa banyak darah mereka yang telah mengalir karenamu..aku tidak peduli", isak gadis muda itu, Kuroro hanya membalas pelukannya erat,

"Aku tahu", ia berujar pelan,

"Tapi, hapus dulu airmatamu, kumohon", satu kalimat terlontar dari pria itu yang dengan sukses membuat pipi gadis itu bersemu merah,

"Ya..", ia tersenyum sambil menghapus airmatanya.

Ketika mereka sampai di apartemen, sebuah catatan tertempel di pintu lemari pendingin di dekat bar,

"Jadi Ibu ada panggilan kerjaan?", gadis itu menuang jus ke dalam dua buah gelas ramping,

"Begitulah", sahut pria itu sambil melepaskan blazernya,

"Oh ya, Kurapika?", ujarnya sambil duduk di sofa dan memainkan remote televisi, hendak mencari acara menarik yang mungkin sedang diputar,

"Hn?", sahut gadis pirang itu sambil membawa nampan berisi dua gelas jus dan dua piring kue coklat itu,

"Soal yang tadi..kau cemburu ya?", tanya Kuroro yang sontak membuat alis Kurapika berkerut, tapi ia berhasil menutupinya,

"Tidak", sahut gadis itu dengan menahan malu, Kuroro tidak merespon dan keduanya terdiam selama beberapa menit,

"Baiklah, aku cemburu, puas?", Kurapika menaruh minuman dan makanan yang dibawanya diatas meja, lalu ia duduk disamping Kuroro,

"Tidak, hanya sedikit kecewa", sahutnya lembut,

"Kenapa?", Kurapika berujar penasaran,

"Karena..aku sudah membuat gadisku cemburu", ia melanjutkan, Kurapika tersendak mendengarnya,

"Kenapa begitu?", tanya Kurapika lagi, raut wajahnya menunjukkan kebingungannya,

"Karena aku menyukaimu",

"Ingat siapa yang bicara duluan", balas Kurapika,

"Kenapa?", kali ini giliran Kuroro yang bertanya,

"Aku sudah membantai sukumu, membunuh Ayahmu, dan juga menyerangmu, lalu kenapa kau malah mengatakan hal itu, aku justru menduga kau akan berkata kalau kau membenciku", ujar Kuroro agak panjang lebar, tapi Kurapika hanya tersenyum mendengarnya,

"Entahlah, aku juga tidak tahu, seharusnya aku memang membencimu, sangat, tapi entah kenapa aku justru merasa sakit setiap aku berpikir demikian", ia menenggak jusnya, lalu memakan kuenya,

"Soal Ibu..aku ingin memberitahunya suatu hari nanti", kata Kurapika sambil menyandarkan kepalanya dibahu Kuroro,

"Terserah kau saja, Putri", sahut pria itu,

"Berhenti memanggilku begitu, aku bukan putri tahu!", Kurapika kembali merapikan posisi duduknya dan memandang sebal pada Kuroro, acara tv yang sedang tayang pun terabaikan, Kuroro hanya tersenyum tipis melihat kelakuan gadis muda yang sekarang resmi menjadi kekasihnya itu, sebenarnya dalam hati ia geli melihat perubahan mood gadis itu yang sangat cepat, baru saja ia terlihat sebal, detik berikutnya ia berubah manis, lalu kemudian marah, dan apa.., ia juga tidak tahu.


Sejak saat itu keduanya memutuskan untuk tidak bersikap aneh-aneh kalau Ibu mereka sedang tidak bekerja, dan banyak hal berjalan lancar setelahnya.

Jujur saja, berita keinginan Neon untuk pindah ke kelas mereka akan menghancurkan kedamaian yang telah ada, mungkin sampai porak-poranda, tapi jelas tujuannya pasti hanya satu : Kuroro.


Next: School trip? forest? camp? love rivals? disguised comrades? secret identity? could this newbie couple handle it all?


Author's Note: I'm baaack minna-cama! this is more to close to the climax, maybe the climax will be place on the trip? well, it's just a maybe...

as always I'm very flattered with all the reviews, but I certainly hope you guys will review this chappie too

sorry that I can't reply one by one of the review, but trust me, I read them all before I write this one

last but not least, I kinda need your critic and suggestions for the next chappie

Cheers,

Kaoru