I'm back Minna-sama! I'm truly sorry for my long hiatus, due to my computer that has some trouble since it's been stolen last September, haha,
but now it's already come back to me wuh, I'm so glad, anyway, thanks for everyone who read and more to those who kindly reviewed this one of my fic, I'm terribly appreciate that *cried*
Okay, that much of my babbling, thank you for your attention Minna-sama, I hope you like this chappie too, like the way I do during the writing this.
Proudly present, Enjoy...
Lovely Nightmares
Previously: the crowds cheers and gave applause to the drama play, but then one voice crashed the air of the play, "Let's fight, Kuroro Lucilfer", said the man with blonde hair that fall to his shoulder, his red eyes glowed in rage.
Chapter 10: Destiny to Repeat
Kuroro segera membuang pedang propertinya dan mengambil pisau benz dari sakunya, begitu pula dengan pria berambut pirang yang berdiri cukup jauh dari panggung tersebut, iapun mempersiapkan senjatanya yang diacungkannya kepada pria itu, para penonton yang menyaksikan persiapan pertempuran itu terlihat panik dan bergegas meninggalkan auditorium itu, terkecuali beberapa pemain utama dan orang-orang dibalik layar, ya, sebut saja mereka Gon, Killua, Leorio, Senritsu, Basho, dan Neon.
"Menjauh dari gadisku, Danchou Laba-laba", ujarnya geram, Kuroro hanya tersenyum kecil menanggapinya,
"Kenapa? Kau tidak bisa kesini dan mengambilnya", ejek pria itu datar, tentu saja kalimat itu sukses membuat emosi Kurapika yang berdiri didekat Kuroro sejak tadi naik seketika, ia pun mengangkat tangannya dan memukul kepala pria berambut hitam itu, keras.
"Tarik kembali ucapanmu, bodoh", desisnya tajam, mata merahnya menatap Kuroro dengan penuh amarah, Kuroro hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu,
"Atau apa?", tanyanya santai, jelas saja Kurapika semakin jengkel dibuatnya,
"Atau aku benar-benar akan pergi kesana", jawab gadis itu, masih dengan mata merahnya yang berkilat penuh dendam,
"Baiklah, maaf kalau aku menyinggungmu, sayang", sahut Kuroro dengan nada yang dibuat-buat, gadis itu diam meski ia sebenarnya masih belum benar-benar damai,
"Ya, kau kumaafkan", katanya sambil berlalu.
"Tunggu, siapa kau sebenarnya?", tanya Leorio yang sejak tadi terus memperhatikan adegan ancam-mengancam itu,
"Akan kujelaskan nanti", balas Kurapika kesal, ia berjalan terus menuju belakang layar, hendak mengganti pakaiannya yang masih berupa gaun putih dengan sedikit efek darah untuk perannya sebagai Kiara barusan.
"Tadi itu…jangan-jangan Kurapika?", tanya Gon polos, yang langsung disikut oleh Killua,
"Jangan keras-keras, bahaya Gon", ujarnya. Sementara Senritsu hanya tersenyum mendengar mereka berdua.
Sementara hunter cs plus Neon tengah memperdebatkan perkara apakah tadi itu Kurapika atau bukan, kedua pria yang sedang bertarung yang tak lain adalah Kuroro dan Haruki itu, masih melanjutkan pertarungan mereka, yah, meskipun secara skill Haruki masih kalah telak dari Danchou Laba-laba itu, tapi putra mahkota Kuruta itu masih sangat bersikeras untuk bertarung dengan pemuda berambut hitam itu,
"Sepertinya ruangan ini terlalu sempit, bagaimana kalau kita keluar saja, Haruki?", kata Kuroro datar, yang langsung membuat hunter cs plus Neon mengendarkan mata mereka ke segala penjuru ruang auditorium yang tadi menjadi tempat drama mereka berlangsung, mata mereka pun terbelalak menyadari betapa ruangan yang semula tertata rapi itu kini telah berubah menjadi tumpukan batu yang berasal dari langit-langit,
"Tadi ada gempa ya?", tanya Gon polos, yang lain hanya memasang wajah bingung, tidak tahu harus berekspresi bagaimana lagi.
Ditempat lain, tepatnya diruang ganti, terlihat seorang gadis pirang tengah mengepang rambut panjangnya, sebuah gaun putih bernoda merah tergeletak tak beraturan disampingnya, sementara gadis itu saat ini sedang memakai kaus berlengan panjang dengan motif garis-garis berwarna biru, ia juga mengenakan celana training sekolahnya yang panjangnya hanya sebatas lutut saja, lengkap dengan sepasang sneakers berwarna putih yang berkesan sporty.
Gadis itu telah memasang wajah dengan mata yang seakan-akan berkata "Awas saja kalau nanti terjadi kerusuhan, akan kubunuh kalian", tepat saat ia tengah mengikat bagian bawah kepangannya, setelah siap iapun segera berlari kembali menuju ruang auditorium barusan, yang tentu saja langsung membuatnya emosi seketika, apalagi melihat keadaannya saat ini, namun kemarahannya tiba-tiba terusik oleh teriakan seseorang yang ditujukan kepadanya,
"Kurapika!", teriak Gon yang sukses membuat Kurapika menoleh,
"Go..n.", Kurapika hampir saja berujar, menyadari kebodohannya, Kurapika buru-buru menoleh balik dan berlari, mencoba mencari kedua petarung yang sudah tidak lagi berada disini itu.
"Jadi Kiara itu Kurapika?", tanya Leorio, ia nampak masih sangat bingung,
"Pantas saja tadi aku melihat matanya memerah, kukira efek darimana, tahunya…", Leorio tidak melanjutkan ucapannya karena mendengar umpatan Neon,
"Ukh dasar bodyguard sialan! Bilang saja mau merebut Kuroro-kun! Pakai bilang namanya April segala lagi! Hu-uh! Dasar Kurapika sialan! Tukang ambil kesempatan saja!" , gerutu Neon yang sontak membuat Gon cs jadi kebingungan,
Kurapika…Kuroro…mereka harus menjelaskan semuanya nanti!, pikir ketiganya sepakat sambil saling lirik satu sama lain, kemudian ketiganya saling mengangguk.
Ditempat lain, entah apa namanya, terlihat dua pemuda yang terbilang sama-sama kuat bersiap dengan kuda-kuda masing-masing, namun keadaan yang satu masih lebih baik dari yang lainnya, ya, kondisi Kuroro saat ini terbilang sangat tidak mengkhawatirkan, ditubuhnya hanya terlihat beberapa goresan yang tidak terlihat berbahaya, tapi tidak begitu dengan Haruki, ia sudah berdarah disana sini dan nyaris tidak bisa berdiri tegak,
"Harus kuakui, kau kuat juga", puji Kuroro dengan nada mengejek,
"Heh, aku terima pujian itu", balas Haruki setengah besar kepala,
"Memujimu? Tidak, aku baru mau bilang kalau gadis itu lebih kuat dari ini, dan lebih cerdas", kata Kuroro lagi, yang tentu membuat Haruki jadi emosi,
"Maksudmu Kurapika, heh, kau menghinaku, jelas-jelas dia-",
"Apa? Jelas-jelas aku apa?", tiba-tiba saja Kurapika sudah berada disana, disudut lain tempat pertarungan mereka, wajahnya terlihat geram,
"Kurapika, apa kau bermaksud mengkhianati klan?", tanya Haruki mencoba mengalihkan perhatian, namun tampaknya tidak berhasil,
"Itu tidak menjawab pertanyaanku, sekarang, jelaskan dulu maksud kata-katamu barusan?", bentak gadis itu sambil mengacungkan rantai pendulumnya, karena ia belum ingin menggunakan 'Emperor Time'nya, jadi pendulum saja dulu.
Kuroro hanya mengamati saja dulu tingkah kekasihnya itu, habis, mau bagamana lagi kan, gadis itu sudah terlanjur marah, ya, biarkan saja dulu,
lumayan buat istirahat, pikir pemuda bermata onyx itu, sambil menyandarkan tubuhnya ke salah satu pagar kecil ditempat itu yang masih bertahan sejak awal pertarungan mereka tadi.
Haruki mungkin sudah mengamati Kuroro yang tengah beristirahat sementara dirinya didesak oleh gadis muda yang seharusnya berada disisinya saat ini, sial, pikir pria berambut pirang itu,
"Haruki! Kau tidak mendengarku?", tanya Kurapika lagi, nada suaranya terdengar mengancam, tentu saja karena ia sedang kesal sekali, sebab tadi Haruki seolah mau mengatakan kalau dirinya lemah, ya, setidaknya begitulah yang sampai dipikiran logisnya sebagai kelanjutan kata-kata Haruki,
cih, terpaksa, Haruki pun menggunakan nen nya untuk membuat path, ya lalu ia masuk path itu dan menghilang,
"Kita lanjutkan lain waktu, Lucilfer", katanya sesaat sebelum hilang,
"Pecundang", kata Kuroro sambil mempersiapkan teleportasinya, kalau saja Kurapika tidak menutup bukunya,
"Sudah, biarkan saja", katanya dengan kepala tertunduk, entah kesal atau sedih, Kuroro pun tidak tahu.
Kurapika dan Kuroro akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekolah dan mengambil barang-barang mereka yang tertinggal, tapi sesampainya mereka disana, ternyata mereka berdua telah ditunggu oleh segerombolan manusia, yang tidak lain adalah Gon, Killua, Leorio, Senritsu, Neon, dan Basho, yang siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggantung dikepala mereka masing-masing, Kurapika hanya menghela nafas pendek,
"Jelaskan", kata Neon, dengan nada kesal,
"Eh..itu..", kata Kurapika bingung, ia tidak tahu harus memulai darimana pembicaraan ini, melihat Kurapika yang sepertinya lelah secara emosi, Kuroro pun memutuskan untuk angkat bicara,
"Kalau kalian memang penasaran, ikutlah dengan kami", ia berujar tenang, Kurapika hanya diam saja membiarkan Kuroro bicara sesukanya, ia sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menjelaskan apapun, setidaknya tidak saat ini.
Maka rombongan itu pun berangkat menuju apartemen milik ibunya Kurapika itu, sesampainya mereka disana, beruntung sang ibu belum pulang, jadi mereka bisa menjelaskan semuanya.
"Oh, jadi begitu", ujar Gon, ia hanya mengangguk-angguk, yang lain seperti belum puas,
"Tapi kenapa kau tidak bilang pada kami kalau kau itu perempuan, Kurapika?", tanya Gon lagi,
"Maaf ya, tadinya aku mau mengatakannya pada kalian secepatnya setelah urusan ini selesai, tapi..", Kurapika tertunduk lesu, ia sepertinya merasa bersalah,
"Ukh! Tidak adil! Kurapika, kutantang kau untuk bertarung secara sehat!", kata Neon tiba-tiba,
"Maksudmu?", tanya Kurapika (pura-pura) tak mengerti,
"Alah, jangan berlagak pilon, kau tahu maksudku kan?", kata Neon lagi, kali ini Kurapika hanya tersenyum simpul,
"Baiklah, coba saja", katanya tenang, yang lain sepertinya tidak mengerti kecuali Senritsu yang juga tersenyum geli.
"Kurapika", tiba-tiba saja sebuah suara membuat Kurapika menoleh, dan dalam waktu singkat sebuah kecupan dihadiahkan kepada gadis itu, tepat dibibirnya, dari seorang pria bernama Leorio, yang langsung membuat semua orang diruangan itu terkejut, tidak terkecuali Kuroro dan tentunya Kurapika sendiri, pemuda Lucilfer itu langsung mengeluarkan Bandit Secret-nya (buku nen-nya red.), sementara tangan kanan Kurapika sendiri sudah terbalut rantai dengan pendulum yang menjuntai kebawah,
"Apa-apaan ini? Leorio!", bentak gadis pirang itu sambil mendorong tubuh temannya ,
"Memangnya…hanya Neon saja yang bisa menantang", kata pria itu datar.
Next: Troubles alerts! Oh, my my, can this newly couple handle everyone who wants each of them, are they bounded enough to held on each on...
End Words, Review please, I'm begging you all..
Sincerely,
Kaoru
